March 28, 2014

Cerita Tentang Ibu


Subuh dini hari. Tiba-tiba saja aku terbangun saat mendengar suara panci bergemuruh di dapur. Aku menduga ibu telah bangun dan memulai aktivitasnya membuat aneka macam kue yang akan di jajakan di pasar sebentar siang. Berkali-kali beliau menahan kantuk sambil menguap namun tidak menyurutan sedikitpun tekadnya untuk terus beraktivtas di subuh yang dingin. Aku hanya mengintip dari balik selimutku sambil kuperhatikan swajahnya yang sendu dan di setiap momen seperti itu, aku menitikkan air mata. Membayangkan bagaimana tulusnya pengorbanan ibu dalam menghidupi keenam anaknya membantu penghasilan bapak dari kebun yang pas-pasan.

Di pagi yang masih basah oleh embun. Aku memandangi ibu yang sudah berkemas menuju pasar. Beliau berdiri di pinggir jalan menunggu ojek langganannya. Dengan tiga bakul berisi kue apem, dodol dan baje. Di panggulnya salah satu wajan berisi kue. Aku perih melihat ibu harus bekerja keras saat itu namun selalu saja ketika kutanya, beliau mengatakan bahwa hidup seperti ini sangat menyenangkan ketika dinikmati nak, tidak ada yang berat saat kita menikmati hidup. Ah, ibu ternyata seorang yang bijak. Dugaanku keliru tentangnya. Melihat pekerjaannya yang berat ternyata tidak seberat yang kulihat karena hatinya tetap ridha.

Senin senja yang menua. Ibu pulang dari pasar dengan nafas yang tersengal-sengal. kulihat raut wajah yang begitu penat terpancar dari mukanya.” Dagangan ibu laris?” tanyaku senja itu. “tidak nak.” Jawabnya dengan sendu. Perasaanku begitu terharu melihat perjuangannya hari ini yang tidak mendapatkan hasil. Aneka kue yang sedari tadi malam mulai dipersiapkan hingga harus tertidur menjelang subuh dan berangkat pasar di pagi yang buta kemudian kembali senja hari namun hasilnya nihil. Tidak separuh dari dagangan ibu kali ini yang laris.

Senin malam berikutnya, sekali lagi kutanya ibu, kutanyakan barang dagangannya siang tadi. “agak sepi nak, sekarang musim rambutan jadi pelanggan ibu banyak yang membeli rambutan.” Jawaban yang amat lirih namun tetap saja ibu tidak mengeluh, baginya berdagang hanyalah tentang seni kehidupan tanpa pertimbangan untung rugi. Baginya bekerja adalah ibadah dan keuntungan yang paling besar adalah ridha Tuhan. Begitulah ibu selalu memaknai setiap harinya dengan kesyukuran tanpa merasa kurang sedikitpun. Hatinya lapang untuk semua dan ibu telah berdamai dengan hidupnya.

Aku selalu bersyukur terlahir dari Rahim ibu yang tabah, tegar dan mengajarkan aku tentang hidup dengan gerak tubuhnya.

tetaplah sehat ibu. tetaplah beraktivitas. dan berbahagialah dengan semua keadaan hidup.

Jojoran 3/61
28’3’14

2 comments:

Mugniar said...

Barakallah semoga beliau senantiasa diberi kesehatan

SERENITY said...

Aaamiin Ya Rabb.. di kmpungku itu kak 2 kali ji pasar. hari senin dan kamis.