Subuh
dini hari. Tiba-tiba saja aku terbangun saat mendengar suara panci bergemuruh
di dapur. Aku menduga ibu telah bangun dan memulai aktivitasnya membuat aneka
macam kue yang akan di jajakan di pasar sebentar siang. Berkali-kali beliau
menahan kantuk sambil menguap namun tidak menyurutan sedikitpun tekadnya untuk
terus beraktivtas di subuh yang dingin. Aku hanya mengintip dari balik
selimutku sambil kuperhatikan swajahnya yang sendu dan di setiap momen seperti
itu, aku menitikkan air mata. Membayangkan bagaimana tulusnya pengorbanan ibu
dalam menghidupi keenam anaknya membantu penghasilan bapak dari kebun yang
pas-pasan.
Di pagi
yang masih basah oleh embun. Aku memandangi ibu yang sudah berkemas menuju
pasar. Beliau berdiri di pinggir jalan menunggu ojek langganannya. Dengan tiga
bakul berisi kue apem, dodol dan baje. Di panggulnya salah satu wajan berisi
kue. Aku perih melihat ibu harus bekerja keras saat itu namun selalu saja
ketika kutanya, beliau mengatakan bahwa hidup seperti ini sangat menyenangkan
ketika dinikmati nak, tidak ada yang berat saat kita menikmati hidup. Ah, ibu
ternyata seorang yang bijak. Dugaanku keliru tentangnya. Melihat pekerjaannya
yang berat ternyata tidak seberat yang kulihat karena hatinya tetap ridha.
Senin
senja yang menua. Ibu pulang dari pasar dengan nafas yang tersengal-sengal.
kulihat raut wajah yang begitu penat terpancar dari mukanya.” Dagangan ibu
laris?” tanyaku senja itu. “tidak nak.” Jawabnya dengan sendu. Perasaanku
begitu terharu melihat perjuangannya hari ini yang tidak mendapatkan hasil.
Aneka kue yang sedari tadi malam mulai dipersiapkan hingga harus tertidur
menjelang subuh dan berangkat pasar di pagi yang buta kemudian kembali senja
hari namun hasilnya nihil. Tidak separuh dari dagangan ibu kali ini yang laris.
Senin
malam berikutnya, sekali lagi kutanya ibu, kutanyakan barang dagangannya siang
tadi. “agak sepi nak, sekarang musim rambutan jadi pelanggan ibu banyak yang
membeli rambutan.” Jawaban yang amat lirih namun tetap saja ibu tidak mengeluh,
baginya berdagang hanyalah tentang seni kehidupan tanpa pertimbangan untung
rugi. Baginya bekerja adalah ibadah dan keuntungan yang paling besar adalah
ridha Tuhan. Begitulah ibu selalu memaknai setiap harinya dengan kesyukuran
tanpa merasa kurang sedikitpun. Hatinya lapang untuk semua dan ibu telah
berdamai dengan hidupnya.
Aku selalu
bersyukur terlahir dari Rahim ibu yang tabah, tegar dan mengajarkan aku tentang
hidup dengan gerak tubuhnya.
tetaplah sehat ibu. tetaplah beraktivitas. dan berbahagialah dengan semua keadaan hidup.
Jojoran 3/61
28’3’14
2 comments:
Barakallah semoga beliau senantiasa diberi kesehatan
Aaamiin Ya Rabb.. di kmpungku itu kak 2 kali ji pasar. hari senin dan kamis.
Post a Comment