Innalillahi
wa inna ilaihi rojiun...!!!
Hidup terus berganti dan merotasi dirinya begitupun semua makhluk yang
hidup di dalamnya. Ketika sudah menjadi makhluk yang bernyawa maka salah satu
konsekuensi pasti yang tidak bisa dipungkiri adalah kematian itu sendiri entah
dengan cara bagaimana makhluk bernyawa menjemput kematiannya namun satu yang
mutlak akan terjadi adalah kematian itu sendiri. Selalu kita diingatkan tentang
kehidupan yang fana melalui kematian demi kematian di sekitar kita tinggal
bagaimana menyikapi kematian tersebut dengan memperbaiki diri di sisa hidup
yang mungkin amat sangat pendek.
Baru saja aku dihubungi dari kampung bahwa salah satu tanteku yang memang
sudah lama sakit telah berpulang ke rahmatullah. Nama lengkapnya Badariah dan
sering kami panggil tanta bada. Mungkin wajar
karena beliau sudah begitu lama sakit namun harus kusadari bahwa keluarga
tanteku itu sangat dekat dengan kehidupanku. Rumahnya langsung berhadapan
dengan rumah kami di kampung dan satu hal bahwa rumahnya sudah seperti rumah
kedua bagi aku dan saudara-saudaraku bahkan beliau lah yang merawat adikku yang
sekarang sedang di Kalimantan saat ibuku harus diopname karena melahirkan Caesar.
Tidak untuk menyambungkan peristiwa yang kualami namun sejak semalam, aku
sama sekali tidak bisa memejamkan mataku bahkan menjelang pukul 02.00, mataku
tidak kunjung terpejam sedangkan mungkin sudah beberapa kali aku bolak balik ke
kamar kecil. Aku hanya baring dengan perasaan nelangsa entah apa yang kupikir. Baru
menjelang pukul 03.00 mataku terpejam namun mungkin hanya sekitar 2 jam lamanya
aku tidur karena tepat jam 05.00 aku sudah bangun. Setelah itu aku selalu
berusaha untuk memejamkan mata namun tidak berhasil meski kurasa aku begitu
mengantuk hingga akhirnya tadi aku dengar kabar duka itu.
Aku melayangkan kembali memoriku mengingat semua kenangan selama beliau
hidup. Rumahnya sudah kuanggap rumahku sendiri bahkan ketika dulu aku pulang
sekolah namun ibuku belum sempat masak nasi dan perutku sudah tidak bisa
kompromi maka pelarianku adalah rumahnya mencari nasi. Sampai saat ini ketika
aku dan saudara-saudaraku ingin minum es maka tanpa harus merasa sungkan aku ke
rumahnya karena mereka memiliki kulkas. Dulu juga saat masih kecil karena tidak
ada TV di rumah sedangkan di rumah beliau ada tv maka setiap saat aku bisa
menonton semauku. Kalau ada rumah kedua maka rumahnya adalah rumah kedua
bagiku.
Seingatku saat beliau masih sehat, shalat jamaahnya di masjid hampir
tidak terputus saat tidak sibuk bahkan setiap habis maghrib, kudengar suara
merdunya melantunkan ayat suci Al-Qur’an bahkan beliau juga pernah menjadi guru
ngajiku. Pernah juga sekali waktu aku belajar bahasa inggris kemudian salah
mengartikan tiba-tiba saja beliau membenarkan padahal saat itu aku belum sadar
kalau beliau ternyata bisa bahasa inggris.
Beliau pula yang memberikan namaku. Di episode sebelumnya, aku menulis
tentang diriku dan asal usul pemberian namaku dan beliau lah orang yang memberiku
nama. Ceritanya beliau sedang membaca artikel dan secara tidak sengaja membaca
artikel tentang salah satu professor dari IAIN Makassar yang bernama
Minhajuddin lantas beliau mengusulkan nama tersebut untukku yang kebelutan baru
tiba di dunia. Aku tahu cerita itu dari kakak perempuanku.
![]() |
| source : http://puterablog1malaysia.blogspot.com/2012/03/lupa-akan-kematian.html |
Di akhir tulisan ini, aku akan memanjatkan doa-doa untuknya.
v Al-Fatihah kulantunkan untukmu tante
v Ya Allah, lapangkanlah kuburnya, terimalah
semua amalan baiknya dan ampunilah semua dosa-dosanya
v Tempatkanlah beliau di sisiMu yang
paling baik
v Berkahilah beliau
Aaamiiin Ya Rabbal Alamin…!!!
Jojoran 3/61
6'3'14
13.00
Jojoran 3/61
6'3'14
13.00

No comments:
Post a Comment