March 6, 2014

kematian adalah saudara kembar kehidupan



Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...!!!

Hidup terus berganti dan merotasi dirinya begitupun semua makhluk yang hidup di dalamnya. Ketika sudah menjadi makhluk yang bernyawa maka salah satu konsekuensi pasti yang tidak bisa dipungkiri adalah kematian itu sendiri entah dengan cara bagaimana makhluk bernyawa menjemput kematiannya namun satu yang mutlak akan terjadi adalah kematian itu sendiri. Selalu kita diingatkan tentang kehidupan yang fana melalui kematian demi kematian di sekitar kita tinggal bagaimana menyikapi kematian tersebut dengan memperbaiki diri di sisa hidup yang mungkin amat sangat pendek.

Baru saja aku dihubungi dari kampung bahwa salah satu tanteku yang memang sudah lama sakit telah berpulang ke rahmatullah. Nama lengkapnya Badariah dan sering kami panggil tanta bada.  Mungkin wajar karena beliau sudah begitu lama sakit namun harus kusadari bahwa keluarga tanteku itu sangat dekat dengan kehidupanku. Rumahnya langsung berhadapan dengan rumah kami di kampung dan satu hal bahwa rumahnya sudah seperti rumah kedua bagi aku dan saudara-saudaraku bahkan beliau lah yang merawat adikku yang sekarang sedang di Kalimantan saat ibuku harus diopname karena melahirkan Caesar.

Tidak untuk menyambungkan peristiwa yang kualami namun sejak semalam, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku bahkan menjelang pukul 02.00, mataku tidak kunjung terpejam sedangkan mungkin sudah beberapa kali aku bolak balik ke kamar kecil. Aku hanya baring dengan perasaan nelangsa entah apa yang kupikir. Baru menjelang pukul 03.00 mataku terpejam namun mungkin hanya sekitar 2 jam lamanya aku tidur karena tepat jam 05.00 aku sudah bangun. Setelah itu aku selalu berusaha untuk memejamkan mata namun tidak berhasil meski kurasa aku begitu mengantuk hingga akhirnya tadi aku dengar kabar duka itu.

Aku melayangkan kembali memoriku mengingat semua kenangan selama beliau hidup. Rumahnya sudah kuanggap rumahku sendiri bahkan ketika dulu aku pulang sekolah namun ibuku belum sempat masak nasi dan perutku sudah tidak bisa kompromi maka pelarianku adalah rumahnya mencari nasi. Sampai saat ini ketika aku dan saudara-saudaraku ingin minum es maka tanpa harus merasa sungkan aku ke rumahnya karena mereka memiliki kulkas. Dulu juga saat masih kecil karena tidak ada TV di rumah sedangkan di rumah beliau ada tv maka setiap saat aku bisa menonton semauku. Kalau ada rumah kedua maka rumahnya adalah rumah kedua bagiku.

Seingatku saat beliau masih sehat, shalat jamaahnya di masjid hampir tidak terputus saat tidak sibuk bahkan setiap habis maghrib, kudengar suara merdunya melantunkan ayat suci Al-Qur’an bahkan beliau juga pernah menjadi guru ngajiku. Pernah juga sekali waktu aku belajar bahasa inggris kemudian salah mengartikan tiba-tiba saja beliau membenarkan padahal saat itu aku belum sadar kalau beliau ternyata bisa bahasa inggris.

Beliau pula yang memberikan namaku. Di episode sebelumnya, aku menulis tentang diriku dan asal usul pemberian namaku dan beliau lah orang yang memberiku nama. Ceritanya beliau sedang membaca artikel dan secara tidak sengaja membaca artikel tentang salah satu professor dari IAIN Makassar yang bernama Minhajuddin lantas beliau mengusulkan nama tersebut untukku yang kebelutan baru tiba di dunia. Aku tahu cerita itu dari kakak perempuanku.

source : http://puterablog1malaysia.blogspot.com/2012/03/lupa-akan-kematian.html


Di akhir tulisan ini, aku akan memanjatkan doa-doa untuknya.
v  Al-Fatihah kulantunkan untukmu tante
v  Ya Allah, lapangkanlah kuburnya, terimalah semua amalan baiknya dan ampunilah semua dosa-dosanya
v  Tempatkanlah beliau di sisiMu yang paling baik
v  Berkahilah beliau
Aaamiiin Ya Rabbal Alamin…!!!

Jojoran 3/61
6'3'14
13.00

No comments: