March 8, 2014

novel Zara Zettira


Di dua novel Zara Zettira yang sudah kubaca ( Samsara dan juga cerita dalam keheningan ). terlihat jelas sekali bahwa si pengarang Zara Zettira benar-benar konsisten menyelipkan nilai spritualis yang sangat kental  dengan aroma kejawennya di novel-novelnya tersebut. ini hampir-hampir mirip dengan novel Tere Liye “Rembulan Tenggelam di wajahMu”. Namun Zara Zettira meramu novelnya agak lebih moderat dibandingkan Tere Liye. bahwa pada novel tere liye tersebut, nilai-nilai islami sangat kental dalam mengupas misteri dan teka-teki kehidupan yang dijalani dalam aroma sufistik dan menganggap bahwa semua misteri akan ada jawabannya bahkan di penghujung cerita Nampak seperti nabi Khidir yang datang memberikan jawaban atas semua misteri kehidupan yang dialami oleh si ray sang pemeran utamanya sedangkan Zara Zettira dalam dua novelnya tersebut  terlihat begitu membiarkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk kepercayaan terhadap Sang Khalik tanpa tendensi agama manapun meski dalam dua novelnya tersebut dia kerap menulis bahwa dirinya adalah seorang muslim. Namun belakangan kusadari bahwa nilai mistis yang diangkat oleh Zara Zettira sangat kental beraroma kejawen.
Nampaknya zara zettira memang memiliki ketertarikan di dunia spritualis nan sufistik  namun semangat sufistik dalam beberapa novelnya benar-benar dibungkus oleh aura kejawen. Namun di sisi lain bahwa  Zara Zettira membebaskan pembacanya untuk mencari jalan sendiri bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhannya entah itu meditasi ala budha atau dengan cara apapun.

cerita dalam keheningan
Aku juga amat sangat tertarik dengan kehidupan seperti sufistik. Kehidupan itu harusnya dipahami sebagai sebuah hal yang sangat bermakna dalam artian bahwa semua yang hadir melengkapi semesta ini pasti punya tujuan dan peran masing-masing, tak satupun ciptaan dari Sang Khalik yang sia-sia. Ini yang pertama sekali harus dipahami supaya kita secara pribadi tidak pernah menyesali keberadaan kita di dunia bagaimanapun kondisinya.

Racikan Zara Zettira setidaknya dalam dua novelnya yang sudah kubaca sangat menghargai tentang kehidupan. Bukan sekedar menjalani rutinitas hidup sehari-hari yang akan berujung pada kematian namun lebih dari itu kita sebagai makhluk yang berakal dan berhati nurani harus tahu kenapa dan untuk apa kita di dunia ini. Jawaban-jawaban tersebut ada pada Pemilik kehidupan ini dan jika kita ingin mengetahui jawaban kehidupan kita, harusnya langsung bertanya kepada Si Empunya jawaban. Mengajukan pertanyaan itu tidak gampang karena banyak pra kondisi yang harusnya dilalui sebelum Dia memberikan jawaban kepada kita. Salah satunya bahwa semua hal yang diperintahkan harus ditaati dan semua larangan harus dihindari dengan begitu hati kita akan lebih mudah berinteraksi dengan Sang Pemilik Jawaban. Seorang manusia yang sudah mengetahui peran dan tujuannya maka dia sudah menjadi manusia sebenarnya dan dalam menjalani kehidupannya senantiasa diarahkan oleh scenario yang tertulis di langit. Begitulah seharusnya kita menjalani hidup di dunia.

 
Samsara

Minggu malam yang mendung nan sepi
Jojoran 3/61
8’3’14

No comments: