Di dua novel Zara Zettira yang sudah kubaca ( Samsara dan juga
cerita dalam keheningan ). terlihat jelas sekali bahwa si pengarang Zara Zettira
benar-benar konsisten menyelipkan nilai spritualis yang sangat kental dengan aroma kejawennya di novel-novelnya
tersebut. ini hampir-hampir mirip dengan novel Tere Liye “Rembulan Tenggelam di
wajahMu”. Namun Zara Zettira meramu novelnya agak lebih moderat dibandingkan
Tere Liye. bahwa pada novel tere liye tersebut, nilai-nilai islami sangat
kental dalam mengupas misteri dan teka-teki kehidupan yang dijalani dalam aroma
sufistik dan menganggap bahwa semua misteri akan ada jawabannya bahkan di
penghujung cerita Nampak seperti nabi Khidir yang datang memberikan jawaban
atas semua misteri kehidupan yang dialami oleh si ray sang pemeran utamanya
sedangkan Zara Zettira dalam dua novelnya tersebut terlihat begitu membiarkan nilai-nilai
tersebut dalam bentuk kepercayaan terhadap Sang Khalik tanpa tendensi agama
manapun meski dalam dua novelnya tersebut dia kerap menulis bahwa dirinya
adalah seorang muslim. Namun belakangan kusadari bahwa nilai mistis yang
diangkat oleh Zara Zettira sangat kental beraroma kejawen.
Nampaknya zara zettira memang memiliki ketertarikan di dunia
spritualis nan sufistik namun semangat
sufistik dalam beberapa novelnya benar-benar dibungkus oleh aura kejawen. Namun
di sisi lain bahwa Zara Zettira membebaskan
pembacanya untuk mencari jalan sendiri bagaimana mendekatkan diri kepada
Tuhannya entah itu meditasi ala budha atau dengan cara apapun.
![]() |
| cerita dalam keheningan |
Aku juga amat sangat tertarik dengan kehidupan seperti sufistik. Kehidupan
itu harusnya dipahami sebagai sebuah hal yang sangat bermakna dalam artian
bahwa semua yang hadir melengkapi semesta ini pasti punya tujuan dan peran
masing-masing, tak satupun ciptaan dari Sang Khalik yang sia-sia. Ini yang
pertama sekali harus dipahami supaya kita secara pribadi tidak pernah menyesali
keberadaan kita di dunia bagaimanapun kondisinya.
Racikan Zara Zettira setidaknya dalam dua novelnya yang sudah
kubaca sangat menghargai tentang kehidupan. Bukan sekedar menjalani rutinitas
hidup sehari-hari yang akan berujung pada kematian namun lebih dari itu kita
sebagai makhluk yang berakal dan berhati nurani harus tahu kenapa dan untuk apa
kita di dunia ini. Jawaban-jawaban tersebut ada pada Pemilik kehidupan ini dan
jika kita ingin mengetahui jawaban kehidupan kita, harusnya langsung bertanya
kepada Si Empunya jawaban. Mengajukan pertanyaan itu tidak gampang karena banyak
pra kondisi yang harusnya dilalui sebelum Dia memberikan jawaban kepada kita. Salah
satunya bahwa semua hal yang diperintahkan harus ditaati dan semua larangan
harus dihindari dengan begitu hati kita akan lebih mudah berinteraksi dengan
Sang Pemilik Jawaban. Seorang manusia yang sudah mengetahui peran dan tujuannya
maka dia sudah menjadi manusia sebenarnya dan dalam menjalani kehidupannya
senantiasa diarahkan oleh scenario yang tertulis di langit. Begitulah seharusnya
kita menjalani hidup di dunia.
Minggu malam yang mendung nan sepi
Jojoran 3/61
8’3’14


No comments:
Post a Comment