Hari raya Qurban kembali datang menjumpai. Sebuah penanda bahwa tepat setahun lamanya saya tidak pulang kampung. Sebuah kenyataan yang ironi karena saya tidak pernah selama ini tidak pulang menengok masa laluku. namun harus bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk memendam rasa rindu. kondisi yang tidak menentu membuat semuanya terhambat, rencana-rencana yang sudah disusun dimentahkan oleh keadaan. Lebaran Idul Adha kali ini harus dijalani di kota perantauan yang meskipun sangat ramai namun tetap saja jiwaku merasa kesepian dan kosong.
Subuh hari tepat di saat semua masjid dekat rumah bersahut-sahutan mengumandangkan takbir, saya sudah terjaga, duduk di kursi depan sambil memperbaiki napas yang belum pulih dari mimpi. takbir bergema yang membuat jiwaku terbang ke beberapa tahun yang lalu di mana perasaan tenang menghinggapi setiap kali suasana lebaran menjelang, namun kali ini sepertinya semua terasa hambar. jiwaku yang terlalu lelah dengan urusan duniawi seakan tidak mampu menemukan ketenangan dalam takbir-takbir yang sedari malam sudah berkumandang.
Setelah selesai menunaikan salat subuh dan mandi. saya memilih pakaian putih yang merupakan baju lebaranku tiga atau empat tahun yang lalu namun masih terlihat baru karena jarang saya gunakan. Saya dan isteri berboncengan ke arah musala untuk menunaikan salat ied. Kami memang memilih untuk salat ied di musala mengingat jamaahnya tidak terlalu padat dan jarak antar jamaah masih diberlakukan sehingga tidak harus berdesak-desakan.
sekitar 15 menit setelah kami tiba di musala tersebut, salat kemudian dimulai dengan terbit. butuh waktu 40 menit di musala tersebut termasuk mendengarkan ceramah. Kami kemudian pulang melewati jalan yang terdapat masjid besar disampingnya. ternyata jalanan tersebut ditutup karena jamaahnya memenuhi jalanan dan ceramah di masjid tersebut belum selesai. terpaksa kami harus menunggu.
Saat tiba di rumah, suasana lebaran tidak saya jumpai. berbeda halnya di kampung ketika momen lebaran yang penuh dengan makanan dan keluarga yang sedang bercengkerama, namun kali ini, semua itu tidak tersaji di depanku. namun tak apalah, memang situasi kehidupan saya sudah berubah dan tidak seperti saat masih di kampung.
Satu-satunya momen yang membuat suasana lebaran kali ini sedikit terasa adalah tadi saat ikut membantu di pemotongan qurban. bau amis darah qurban dan daging segar membangunkan jiwa saya bahwa benar kali ini adalah lebaran idul Adha. setelah itu, semua kembali menjadi normal. saya pulang ke rumah, duduk di ruang depan menghabiskan waktu bermain hp kemudian tidur dan mencicipi apa yang bisa dimakan. membunuh waktu dalam kesia-siaan sambil terus mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu kemudian tidak menyadari masa sekarang. sebuah ritme hidup yang membuat saya jauh dari diri saya sendiri.
Saya sedih pada banyak hal terutama pada diri saya yang tidak mampu sedikit berkeras kepada diriku sendiri yang selalu berencana tanpa tindakan, terlalu banyak angan yang menggelayut di pikiranku yang membuat diriku jauh dari apa yang sedang kujalani.
Saya jauh dari diriku...!