July 31, 2020

Idul Adha 1441 H

Hari raya Qurban kembali datang menjumpai. Sebuah penanda bahwa tepat setahun lamanya saya tidak pulang kampung. Sebuah kenyataan yang ironi karena saya tidak pernah selama ini tidak pulang menengok masa laluku. namun harus bagaimana lagi, keadaan memaksaku untuk memendam rasa rindu. kondisi yang tidak menentu membuat semuanya terhambat, rencana-rencana yang sudah disusun dimentahkan oleh keadaan. Lebaran Idul Adha kali ini harus dijalani di kota perantauan yang meskipun sangat ramai namun tetap saja jiwaku merasa kesepian dan kosong.

Subuh hari tepat di saat semua masjid dekat rumah bersahut-sahutan mengumandangkan takbir, saya sudah terjaga, duduk di kursi depan sambil memperbaiki napas yang belum pulih dari mimpi. takbir bergema yang membuat jiwaku terbang ke beberapa tahun yang lalu di mana perasaan tenang menghinggapi setiap kali suasana lebaran menjelang, namun kali ini sepertinya semua terasa hambar. jiwaku yang terlalu lelah dengan urusan duniawi seakan tidak mampu menemukan ketenangan dalam takbir-takbir yang sedari malam sudah berkumandang.

Setelah selesai menunaikan salat subuh dan mandi. saya memilih pakaian putih yang merupakan baju lebaranku tiga atau empat tahun yang lalu namun masih terlihat baru karena jarang saya gunakan. Saya dan isteri berboncengan ke arah musala untuk menunaikan salat ied. Kami memang memilih untuk salat ied di musala mengingat jamaahnya tidak terlalu padat dan jarak antar jamaah masih diberlakukan sehingga tidak harus berdesak-desakan.

sekitar 15 menit setelah kami tiba di musala tersebut, salat kemudian dimulai dengan terbit. butuh waktu 40 menit di musala tersebut termasuk mendengarkan ceramah. Kami kemudian pulang melewati jalan yang terdapat masjid besar disampingnya. ternyata jalanan tersebut ditutup karena jamaahnya memenuhi jalanan dan ceramah di masjid tersebut belum selesai. terpaksa kami harus menunggu. 

Saat tiba di rumah, suasana lebaran tidak saya jumpai. berbeda halnya di kampung ketika momen lebaran yang penuh dengan makanan dan keluarga yang sedang bercengkerama, namun kali ini, semua itu tidak tersaji di depanku. namun tak apalah, memang situasi kehidupan saya sudah berubah dan tidak seperti saat masih di kampung.

Satu-satunya momen yang membuat suasana lebaran kali ini sedikit terasa adalah tadi saat ikut membantu di pemotongan qurban. bau amis darah qurban dan daging segar membangunkan jiwa saya bahwa benar kali ini adalah lebaran idul Adha. setelah itu, semua kembali menjadi normal. saya pulang ke rumah, duduk di ruang depan menghabiskan waktu bermain hp kemudian tidur dan mencicipi apa yang bisa dimakan. membunuh waktu dalam kesia-siaan sambil terus mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu kemudian tidak menyadari masa sekarang. sebuah ritme hidup yang membuat saya jauh dari diri saya sendiri.

Saya sedih pada banyak hal terutama pada diri saya yang tidak mampu sedikit berkeras kepada diriku sendiri yang selalu berencana tanpa tindakan, terlalu banyak angan yang menggelayut di pikiranku yang membuat diriku jauh dari apa yang sedang kujalani. 

Saya jauh dari diriku...!


Merayakan 10 tahun

#RenunganJuli yang sudah saya buat selama 31 hari sebenarnya adalah sebuah usaha untuk merayakan blog ini yang bisa bertahan sampai 10 tahun lamanya meskipun dengan tulisan-tulisan yang kadang hanya curhatan menggelikan nan memalukan. namun demikian, usaha untuk tetap meninggalkan jejak hidup dalam sebuah tulisan sehingga bisa abadi dan dijadikan bahan untuk melihat masa lalu yang sudah terlewati.

Di bulan Juli ini pula, banyak sekali tulisan di blog ini yang saya edit karena menurut saya sangat ridiculous dan tidak pantas lagi untuk saya tayangkan di masa sekarang. beberapa diantaranya adalah tulisan curhat yang menjijikkan dan juga tulisan tentang orang-orang yang terlalu vulgar saya tuliskan baik itu identitasnya maupun segala macam aktivitasnya.

Hari ini sudah menjadi akhir di Juli tahun ini dan saya sudah berusaha keras dalam bulan ini untuk menulis setiap hari meski terkadang tertunda namun demikian, saya tetap harus menunaikan target yang sudah saya buat di awal bulan. sebuah usaha untuk membuktikan kepada diri bahwa saya tidak semalas dengan apa yang ada di pikiranku. 

Semua tulisan di bulan ini yang mungkin konyol atau juga terlalu cengeng namun tak apalah karena tulisan-tulisan di bulan ini memang sebagai sebuah usaha untuk kembali membangkitkan gairah dalam diri saya sudah menulis yang lebih baik.

July 30, 2020

Bersyukur

Satu hal yang hilang dari diri saya adalah rasa syukur yang semakin redup. Saya jarang mendapati diriku mengucap terima kasih atas apa yang sudah saya dapatkan baik secara lisan maupun dalam hati saya dan hal tersebut yang seringkali membuat jiwa saya tidak tenang sama sekali. rasa syukur yang tidak pernah muncul dalam diri saya menjadi pertanda bahwa begitu banyak angan-angan yang menutupi nurani saya untuk sekedar bersyukur atas nikmat yang saya peroleh.

Cerita tentang kesyukuran sebenarnya selalu terpampang di depan kehidupan saya yang seharusnya menjadi pelajaran bagi saya bahwa hidup tidak sekedar mengejar angan-angan namun harus tetap bersyukur atas apa yang sudah dimiliki. Tadi saat penjual kue langganan anak saya ke rumah, dia diberikan ketupat dan opor ayam oleh mertua saya. menurut cerita mertua saya bahwa dia begitu senang dan berkali-kali mengucap syukur karena kebetulan hari ini dia tidak memasak di rumah. sebuah sikap bersyukur yang menampar saya karena dengan mudahnya dia mensyukuri sedikitpun yang diterima sedangkan saya yang mungkin jauh menerima begitu banyak hal, tidak mampu mengucapkan hal tersebut. Saya yang masih digaji sekian juta per bulan, tidak pernah sama sekali mengucap hal yang sama.

Satu hal yang paling saya rasakan dari tingginya angan-angan dan kurangnya rasa syukur dalam diri saya adalah diri saya yang semakin tidak tenang karena cemas akan masa depanku yang berarti bahwa saya tidak mennsyukuri apa yang sudah saya miliki.

Pelajaran lain tentang bersyukur saya dapatkan dari percakapan ringan Gus Baha dan Quraish Shihab yang ditayangkan di youtube. Gus Baha menerangkan bahwa orang-orang di pasar mendapat 5 ribu sudah mengucap syukur. cerita lain dari beliau ketika gurunya tidur di kamar yang memiliki beberapa kamar kemudian bergumam, kenapa saya harus memiliki banyak kamar sedangkan saya sudah bahagia tidur di kamar ini. kurang lebih seperti itulah. pelajaran tentang rasa syukur yang begitu banyak namun sangat sulit menumbuhkan dalam diri saya.

July 29, 2020

Harapan Akhir Tahun

Salah satu harapan terbesar saya di akhir tahun ini adalah bisa mudik ke kampung. libur lebaran idul fitri yang reschedule ke akhir tahun akibat pandemi Covid membuat libur di akhir tahun menjadi lumayan panjang, sekitar dua minggu. jika kondisi membaik kemungkinan saya mudik ke kampung sekitar 20 hari. sebuah momen langkah yang belum pernah saya dapatkan selama ini dengan libur selama itu.

Itulah kenapa saya berharap bahwa keadaan pandemi ini segera membaik atau minimal tidak menjadi lebih buruk. jika kondisi seperti ini masih terus terjadi sampai akhir tahun, maka bayang-bayang mudik bisa saja gagal karena proses transportasi yang bakalan lebih susah, harus mengurus berbagai macam kelengkapan berkas yang jika tidak dipenuhi maka kemungkinan terburuk tidak diperbolehkan melakukan perjalanan antar kota.

belum ada tanda-tanda kondisi saat ini akan segera membaik. statistik yang ditampilkan di media-media masih sangat tinggi bahkan terus menunjukkan kenaikan grafik. aturan-aturan ketat di ruang publik pun masih belum dilonggarkan dan berbagai aturan lain yang tentunya akan mengambat banyak rencana. jika demikian, akhir tahun akan menjadi rencana gagal, namun semoga tidak.

Selama merantau sejak 8 tahun silam, saya tidak pernah melewatkan rutinitas mudik setiap tahun paling tidak sekali setahun. terdengar sedikit berlebihan karena banyak perantau yang bisa bertahun-tahun tidak pernah mudik namun bagi saya, mudik adalah semacam isi ulang energi dalam diri untuk memulihkan jiwa yang sudah kosong dihantam kerasnya kehidupan di perantauan.  kampung menjadi sumber energi meski seringkali hanya dijadikan sebagai pelarian namun paling tidak, kampung selalu menerima saya setiap kali ingin lari dari kehidupan kota, dan semoga,,,

Semesta bisa mengamini doa saya. di akhir tahun ini bisa mudik ke kampung.

July 28, 2020

Masalah

Hidup adalah perjalanan dari masalah yang satu ke masalah yang lain. tidak ada manusia yang masih bernafas, yang lepas dari sebuah masalah, siapapun itu. Hanya saja tingkat masalah mereka yang berbeda. tidak ada masalah yang berat namun juga tidak ada masalah yang ringan. hal yang menentukan adalah kedewasaan seorang manusia menghadapi masalah mereka masing-masing. mungkin inilah yang dimaksud dalam Al-Qur'an bahwa "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Saya terlalu picik saat belum menikah kemudian berpikir bahwa setelah menikah, kemungkinan masalah saya akan menjadi sedikit lebih ringan, ternyata tidak. masalah yang datang bertubi-tubi membuat saya seringkali kelimpungan. ternyata masalah tidak menjadi lebih mudah namun sebaliknya semakin berat namun kita harus lebih kuat dari masalah itu sendiri. "What doesn't kill you, will makes you stronger." selalu saja kutipan Nietzche tersebut masih relevan dengan kehidupan sekarang bahkan sampai kapan pun. orang yang tidak kalah oleh masalah mereka akan semakin kuat dan semakin siap dalam menghadapi masalah demi masalah yang akan menyerang di hari-hari berikutnya. selama jantung masih berdenyut maka masalah akan tetap ada. iya masalah adalah sebuah keniscayaan dalam hidup.

Saat mengamati berbagai periode masalah yang saya lewati, satu hal yang saya pelajari adalah ketika bertemu masalah, jangan pernah membelakanginya kemudian menjauh karena masalah tersebut tidak akan pernah sirna jika dihindari. satu hal yang menurutku terbaik adalah menghadapi masalah kemudian melakukan hal yang terbaik, setelah itu, semesta akan menuntun langkah kita melewati masalah tersebut.

Masalah itu terbagai dalah dua kotak besar. ada masalah yang diluar jangkauan kita dan ada masalah yang terjadi karena ulah kita sendiri. masalah datang di luar kemampuan kita adalah bencana dan hal-hal yang sifatnya alamiah. sedangkan masalah yang datang karena polah kita yang tidak mengukur diri misalnya kita dililit hutang karena tidak mempertimbangkan secara rasional ketika hendak berutang. semua masalah tersebut harus dihadapi untuk diselesaikan.


July 27, 2020

Teman Kuliah

Sudah hampir setahun saya kuliah di kampus Parmad. kuliah dengan situasi yang sangat berbeda karena saya mengambil kelas sabtu otomatis hanya sekali dalam seminggu. sebuah kondisi yang menurut saya tidak terlalu ideal karena kuliah bukan hanya sebagai sebuah rutinitas dalam kelas semata. kuliah seharusnya memberikan ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan siapa saja dan banyak hal. kondisi perkuliahan saya semakin diperparah dengan pandemi Covid-19 yang merebak di awal semester dua, alhasil saya harus mengikuti kuliah online dan intensitas interaksi dengan kampus semakin berkurang.

Kondisi seperti ini membuat banyak hal hilang dari perkuliahan pada umumnya. satu hal yang paling saya rasakan adalah kedekatan dengan teman kuliah yang tidak begitu akrab, meski ada beberapa diantara mereka yang mulai akrab namun kuliah dengan mayoritas pegawai kantoran membuat suasana perkuliahan sangat tidak mengasyikkan bahkan hampa. tidak bisa disalahkan karena mereka mempunyai banyak urusan selain kuliah misalnya tugas kantor atau kehidupan keluarga bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Saya yang berada diantara mereka pun akhirnya ikut dalam arus perkuliahan yang monoton. datang ke kampus, masuk kelas, sedikit beretorika kemudian istirahat dan menunggu kelas berikutnya dan sore hari pulang ke rumah. rutinitas perkuliahan yang tidak seperti dalam bayangan saya namun tetap harus saya jalani karena kondisinya memang sudah berbeda.

Sebenarnya saya sangat berhasrat bertemu dengan teman kuliah yang gandrung akan ilmu dan suka berdiskusi untuk sekedar menambah isi kepala namun nampaknya, sampai pada tahun pertama berlalu, sama sekali belum ada teman kuliah yang seperti dalam bayangan saya. tidak ada yang benar-benar menyukai diskusi tentang konsentrasi kuliah yang sedang dijalani. mayoritas hanya menjadi apa adanya seperti pelajar pada umumnya. bukan, bukan saya merasa haus pengetahuan atau apalah namun lebih karena saya menyesali masa lalu saya yang banyak terbuang dengan main-main sehingga saya membutuhkan relasi yang serius dalam mengejar pengetahuan, namun nampaknya belum ada seperti dalam bayangan saya. 

Entahlah mungkin saya yang belum pantas menemukan teman yang seperti itu. saya harus memantaskan diri terlebih dulu.

July 26, 2020

Hal-Hal Sepele

Kemarin sore saat berolahraga di taman Dadap Merah. tiba-tiba melintas 4 orang dengan pakaian rapi. sangat mencolok dari pengunjung taman karena rata-rata orang yang ke taman tersebut berniat olaharaga. sepersekian detik, saya tidak terlalu memperhatikannya sampai pada saat mereka melintas di pos satpam, salah satu dari mereka, seorang cewek dengan dandanan rapi, bersitegang dengan tukang parkir taman. entah apa yang dipermasalahkan namun yang pasti si cewek mengomel dengan kata-kata yang tidak pantas sambil berlalu sedangkan tukang parkir dengan muka memerah, terus saja meneriakinya. akhirnya mereka menjadi tontotan bagi semua orang di sekitar taman.

Tadi pagi saat kembali berolahraga, saat hendak pulang dan menuju parkiran, saya menyodorkan uang parkir ke pemuda yang bersitegang dengan si cewek sehari sebelumnya. saya iseng menanyakan apa yang membuatnya begitu murka dengan cewek yang berdandan rapi kemarin sore.

Si Tukang parkir menjelaskan dengan detail bahwa sebenarnya si cewek tersebut berniat foto prewed di taman kemudian disarankan oleh si tukang parkir untuk meminta izin kepada pihak kelurahan karena regulasinya seperti itu. si cewek ternyata tidak terima bahkan dia sepertinya menantang si tukang parkir.

Begitulah, hidup di kota ini seakan terlalu berat. manusia-manusianya dihantam dengan berlipat masalah secara sporadis yang membuat urat-urat mereka tegang setiap saat. seringkali saya menemukan masalah yang sebenarnya sangat sederhana namun selalu diselesaikan dengan urat leher yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Saya pun tidak mengingkari bahwa dalam beberapa kali momen, saya menjadi sangat temperamental, entah karena memang bawaan atau kota ini ikut menyeret saya dalam budaya adu urat leher. momen yang paling membuatku tidak bersabar ketika berada di jalan raya. saat ada kendaraan yang menghalangi jalan saya atau mungkin sedikit mengganggu saya maka dengan serta merta, saya merasa tergangggu tanpa berusaha untuk berusaha. saya benar-benar sudah tenggelam dalam budaya kota ini. budaya yang tidak melihat manusia lain sebagai bagian dari dirinya.

July 25, 2020

Keluarga

Tadi malam saya menelepon Ibu saya sebagai rutinitas ba'da maghrib. seperti biasa bercerita apa saja yang sedang terjadi di kampung dan menanyakan kabar tentang keluarga nun jauh di sana. Ibu bercerita tentang rumah saudara yang baru saja dibangun kembali dan diresmikan siang hari sebagai bentuk sukur dengan mengundang para tetangga untuk makan siang, dan berbagai cerita tentang pola cucu-cucunya yang ada di rumah.

Salah satu cerita sentimentil semalam adalah saudara sepupu yang berumur 40an tahun, diceraikan oleh isterinya karena dia menderita sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja. saudara sepupu saya tersebut akhirnya dirawat oleh adik perempuannya yang juga sudah berkeluarga. sebuah relasi hubungan suami isteri yang akhirnya harus kandas karena persoalan salah satu diantara mereka sakit. saya pun tidak sedang menjustifikasi siapa yang salah namun dari cerita yang saya dengar, saudara sepupu saya tersebut sempat dirawat oleh isterinya namun dalam rentang waktu setahun atau dua tahun, isterinya sudah menyerah dan akhirnya menyatakan kepada para iparnya bahwa dia sudah tidak kuat dan berniat untuk mengembalikan suaminya ke keluarga.

Satu pelajaran dari percakapan semalam bahwa apapun yang terjadai dalam perjalanan hidup kita, maka keluarga inti tetap akan menjadi pelarian akhir jika terjadi apa-apa. sejauh apapun langkah kaki kita melangkah dan dari kalangan manapun pasangan yang kita pilih namun pada akhirnya, ketika ada masalah pelik yang kita hadapi, whatever the kind of it, keluarga inti tetap yang akan menjadi benteng pertahanan bahkan seringkali kita harus kembali ke keluarga seperti halnya kasus saudara sepupu saya yang mengalami sakit stroke namun isterinya tidak mau merawat sehingga yang terjadi adalah dia akhirnya dirawat oleh adiknya sendiri.

Ibuku mengamini kesimpulanku tersebut dengan suara lirih. saya bisa merasakan bagaimana ibuku begitu menghawatirkan anak-anaknya jika saja sesuatu yang buruk terjadi.

July 24, 2020

Pengingat Waktu

Salah satu pengingat waktu yang paling mujarab adalah kematian orang yang dikenal atau paling tidak pernah berinteraksi dengan kita meski terkadang hanya beberapa waktu. kematian membuat kita berpikir bahwa waktu benar-benar tidak bisa ditarik ulur dan akan terus berlalu sampai pada titik yang entah sampai kapan.

Mengingat waktu dengan cara memperhatikan diri secara fisik sangat tidak efisien karena seringkali manusia selalu merasa sehat dan muda. manusia tidak pernah merasa menua entah karena sikap denial bahwa mereka fana atau bisa juga karena mereka ingin tetap menikmati waktu dengan cara mereka sendiri. 

Manusia memang mempunyai cara masing-masing dalam merayakan hidup namun tetap harus diingat bahwa merayakan hidup dengan menelan habis waktu untuk hal yang sifatnya sia-sia, akan menempatkan manusia suatu saat dalam penyelesan, bahkan untuk manusia yang sudah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya pun tetap akan merasa menyesal di suatu momen. 

Pagi ini saya mendengar lagi seorang yang saya kenal, sudah menggenapkan waktunya di bumi ini. beliau mangkat menuju keabadian yang sempurna dengan meninggalkan jejak yang baik. bagaimana tidak, mereka yang pernah beriteraksi dengan beliau, bersaksi bahwa beliau orang baik dan tidak pernah mengalami pengalaman yang kurang baik selama berinteraksi dengannya. saya pun yang pernah beriteraksi dengannya hanya sekitar dua bulan, juga menemui tebaran kebaikan yang disemai untuk orang-orang di dekatnya. 

Begitulah hidup, bagai memakan sambal pedas. ketika sedang mengunyah dan menikmatinya, tidak ada perasaan pedas yang menempel di lidah karena pikiran fokus pada sensasinya namun ketika kunyahan terakhir, bibir mulai merasakan panas, perut mulai beraksi dan akhirnya lidah bereaksi.

Masing-masing dari kita hanya sedang berjalan menggenapkan waktu yang diamanatkan kepada kita. entah sampai kapan namun itulah rahasia semesta. makanya dalam beberapa petuah sucir, kita hanya dianjutkan untuk melakukan hal-hal baik dalam rangka mengisi waktu yang dijalani.

July 23, 2020

Kurir Ekspedisi

Beberapa jam yang lalu seusai shalat Jum'at (27/7/2020) seorang kurir salah satu ekspedisi masuk ke gang rumah kami. tebakan saya dia akan mengantarkan pesanan namun dugaan saya meleset, dia menanyakan apakah ada paket yang tercecer di sekitar depan rumah kami. memang di pagi hari, dia datang mengantar paket di tetangga. saya kemudian berpikir bagaimana jika dia tidak menemukan paket yang merupakan tanggung jawabnya. 

Berbagai dugaan-dugaan buruk muncul di kepalaku. apakah dia akan dipecat? disuruh ganti rugi berkali lipat dari harga paket? atau sanksi lain yang tentunya tidak mengenakkan baginya apatahlagi di masa yang lumayan sulit seperti sekarang ini. risiko pekerjaan yang harus ditanggung dan terjadi tanpa diduga yang terkadang membuat kita berpikir, kenapa harus terjadi sedangkan di sisi lain, sudah berusaha secara maksimal.

Entahlah, namun semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi yang tidak bersahabat.

July 22, 2020

Doa

Saya sedang merenungi tentang hakekat doa. kenapa doa terucap yang tak terlalu diinginkan dan kadang spontan seringkali terkabul sedangkan doa yang benar-benar dipanjatkan sepenuh hati, terkadang literally tidak terpenuhi. 

Mungkin dari kita pernah berpikir bahwa hal-hal buruk yang tiba-tiba terbersit dalam pikiran kita seringkali diamini oleh semesta sedangkan beribu bait doa yang dipanjatkan dalam keheningan, seringkali meleset, meskipun dalam keyakinan agama yang saya anut bahwa semua doa terkabul meskipun dalam bentuk yang berbeda namun maksud saya di sini adalah doa yang terkabul sesuai dengan yang dipanjatkan. 

Rahasia semesta memang selalu menyisakan misteri yang manusia sendiri harus membuka tabirnya. jika tidak demikian, maka hidup ini akan semakin membosankan. itulah mengapa mungkin sebagian orang menganjurkan kita untuk tidak menyisakan ruang sedikitpun di otak kita untuk pikiran-pikiran dan energi negatif karena semesta akan mewujudkannya. 

Dulu, dulu sekali. saya pernah membaca buku yang judulnya the secret. sebuah buku tentang segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita berasal dari pikiran-pikiran kita maka buku tersebut menganjurkan jika menginginkan sesuatu maka pikirkan hal-hal tersebut dan tanamkan dalam pikiranmu sehingga suatu saat akan terwujud. 

Saya pribadi mengambil sikap yang tidak terlalu sepakat meskipun di beberapa bagian hidup saya, benar adanya bahwa ketika saya serius memikirkan sesuatu yang saya ingini maka terkadang terwujud namun ada juga potongan-potongan hidup saya yang sudah saya curahkan perhatian atas apa yang saya inginkan namun nyatanya nihil.

Saya berada pada posisi bahwa memang ada beberapa hal yang tidak terwujud dan ada yang bisa diwujudkan namun buka berarti hal tersebut membuat saya menjadi seorang fatalis.

July 21, 2020

Olahraga

Seminggu yang lalu, saya menyadari bahwa berat badan saya sudah tidak normal, hampir mencapai 75 kg. Saya memutuskan untuk olahraga dan mengurangi porsi makanan. sebuah usaha untuk tetap sehat di tengah kondisi kesehatan global yang sedang tidak menentu akibat pandemi yang tidak kunjung reda. olahraga dan menjaga pola makan adalah salah satu ikhtiar untuk tetap stay fit. olahraga yang masih memungkinkan untuk saya jalani sebatas jogging, push up, dan gerakan-gerakan lain yang tidak membutuhkan orang lain seperti olahraga beregu. 

Dulu, jenis olahraga yang benar-benar saya anggap olahraga adalah olahraga yang beregu khususnya sepakbola. bahkan dulu, saya tidak terlalu suka untuk melakukan olahraga yang hanya bergerak sendiri. jogging adalah salah satu olahraga yang paling membosankan menurut saya dan sama sekali tidak ada gairahnya. 

Kondisi sosial saya yang berubah 180 derajat, memaksa saya untuk mengikuti alur olahraga mainstream di kota ini. ikut jogging bersama rombongan kaum urban setiap sabtu dan minggu adalah satu satunya alternatif untuk tetap berkeringat selain di rumah melakukan push up. 

Kita memang harus work out dalam segala ha yang diinginkan tidak terkecuali untuk tetap berkeringat sehingga proses alamiah dalam tubuh tetap terjaga dan makanan-makanan yang setiap hari dimasukkan ke dalam tubuh tidak tertimbun menjadi penyakit.

July 20, 2020

Mudik

Lumayan menyiksa keadaan di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang. saya sebagai perantau dari kampung yang sudah terlalu jauh melangkah dan harus menyimpan rindu selama setahun untuk menengok masa depan, harus terhalangi oleh pandemi yang entah sampai kapan. 

Lebaran idul fitri kemarin di bulan Mei, saya seharusnya mudik menengok serpihan masa lalu di kampung dan melepaskan semua sisa rindu yang tertimbun di ubun-ubun sambil menyerap energi kampung yang selalu menyisakan untuk perantau tanggung seperti saya, namun apa daya, semua sirna dengan keadaan yang tiba-tiba muncul tak diundang. rindu yang sudah disimpan rapi selama setahun semakin membuncah dan melepaskan energi negatif dalam kehidupan sehingga setiap hal yang dilakukan menjadi tidak maksimal. rutinitas mudik tahunan akhirnya batal dan hanya jiwa yang terbang jauh membawa beribu serpihan rindu yang tak pernah tuntas. 

Di pertengahan tahun ini, data pandemi ini tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan segera berakhir. meski demikian, masyarakat seakan sudah jenuh tinggal di rumah dengan berbagai alasan dan salah satu alasan yang mendominasi adalah faktor ekonomi. mereka harus keluar demi sesuap nasi karena tinggal di rumah dalam waktu yang tak menentu adalah sebuah hal yang tidak menyelesaikan masalah. ekonomi mikro sampai yang makro hancur berantakan. semua elemen masyarakat mengalami dampak dari pandemi ini dengan berbagai tingkat keparahan. 

Saya pribadi, meski tidak mengalami penurunan pendapatan dibandingkan sebelum pandemi ini, namun tetap saja bahwa tinggal di rumah bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. berbagai kebosanan menyerang sampai akhirnya harus memutar otak untuk mengantisipasi jika suatu waktu, kantor tempat saya bekerja juga memberlakukan pemotongan gaji. 

Selain mengkhawatirkan masalah pendapatan, saya juga sedang menimbang untuk tetap mudik di akhir tahun ini mengingat hari libur lebaran dipindahkan ke akhir tahun. meski demikian, saya juga masih tetap melihat perkembangan kondisi ini yang tidak benar-benar selesai. namun apa daya, rindu harus disalurkan dengan pulang kampung.

Dan semoga semesta mengamini rencana saya mudik di akhir tahun ini

July 19, 2020

Tulisan Lama

Selama pandemi ini, saya bersih-bersih blog dan menemukan begitu banyak tulisan lama di blog ini yang sangat menggelikan bahkan tidak membawa pesan apa-apa. blog ini sudah saya kreasi tepat 10 tahun yang lalu dan awalnya saya ingin memenuhinya dengan tulisan tulisan mengenai fenomena internasional. 

Setelah tidak berafiliasi dengan dunia akademik, saya kemudian membanting arah menjadikan blog ini sebagai tulisan-tulisan refleksi, namun entah kenapa di 5 atau 6 tahun yang lalu, blog ini saya penuhi dengan puisi-puisi menjijikkan. saya bahkan tidak sudi membacanya namun juga tidak menghapus karena saya jadikan sebagai histori untuk mengenang betapa saya tidak pernah berhasil menulis dengan baik.

July 18, 2020

Menyudahi Kebiasaan Buruk

Begitu sulitnya menyudahi kebiasaan buruk atau hal yang sia-sia seperti mengorek kuping dan menyia-nyiakan waktu dengan menonton youtube atau sekedar menghabiskan kuota internet dengan memelototi media sosial. saya tidak mengerti kenapa saya begitu rapuh di depan hal-hal remeh yang sering saya lakukan, namun mungkin ini adalah bukti bahwa kebiasaan yang terulang terus menerus akan menjadi habit yang susah dilepaskan dari hidup. 

Saya menyadari bahwa begitu banyak pekerjaan yang menunggu saya dan harus segera saya tuntaskan namun saya selalu terjatuh dalam absurditas yang melenakan. setiap kali ingin melakukan sesuatu, saya mengkompromikan diriku untuk sekedar membuka media sosial atau sekedar menonton youtube dengan alasan hanya beberapa menit namun sekian menit berlalu, saya sudah menyadari bahwa berjam-jam waktu sudah terbuang dalam kesia-siaan.

Rak buku saya dipenuhi dengan buku-buku yang saya beli untuk menambah kapasitas keilmuan saya sebagai salah seorang Mahasiswa namun selalu tidak berhasil saya tuntaskan. beberapa buku yang seharusnya sudah saya baca, masih tersusun rapi di rak sedangkan waktu terus berlari dan tugas akhir kuliah sudah menanti. sampai pada akhirnya nanti, saya baru menyadari bahwa saya menjebak diri saya sendiri dalam sebuah pemenuhan nafsu kepalsuan. memandangi media sosial dan berangan-angan yang tinggi tanpa melakukan tindakan nyata, setelah itu kosong.

Oh Tuhan. semoga saya bisa mengalahkan diri sendiri yang selalu ingin membuka youtube ketika berniat membaca buku atau keinginan memandangi sosial media ketika akan beranjak mengerjakan tugas. jika pada tahapan ini saya bisa menang maka saya yakin langkah-langkah selanjutnya akan semakin ringan.

July 17, 2020

Jangan Sok Tahu

Catatan ini saya sadur dari kajian ust. Fahruddin Faiz bahwa menjadi manusia itu jangan sok tahu. Jika tidak mengerti akan sesuatu maka katakan saya tidak tahu. Semua pesan yang menohok saya karena harus diakui bahwa saya dan mungkin banyak orang, selalu tidak ingin dikatakan tidak tahu jika ditanya sesuatu dan terkadang kita berusaha menjawab apa yang sebenarnya tidak diketahui sehingga kita jatuh dalam istilah yang sering disebut "sok tahu." 

Ust Fahruddin Faiz menuturkan kisah tentang Buya Hamka yang mengangkat sebuah cerita tentang Imam Malik bahwa pernah ada seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang 20 masalah yang butuh penyelesaian secara ijtihad. 

Masalah yang dapat dijawab oleh Imam Malik cuma 3 masalah dan yang 17 masalah dijawab oleh Beliau bahwa "saya belum tahu." Meskipun demikian, orang tetap memandang Imam Malik sebagai Mujtahid. Jadi diantara integritas seorang ulama, seorang Ilmuwan itu adalah kejujuran. 

Meskipun Mujtahid, meskipun ulama besar kalau mereka tidak tahu pasti bilang tidak tahu, jangan ngarang. Tidak perlu khawatir, jika memang tidak tahu maka jawablah bahwa saya tidak tahu. Masyarakat tidak akan hilang penghormatannya justru semakin mulia karena orang tahu kita jujur. Kita tidak akan kehilangan integritas dengan kejujuran. Ulama zaman dulu sangat tawaddu. Bicara apa saja diakhiri "wallahu alam bissawab." 

Itu pelaran Imam Malik yang dikutip oleh Buya Hamka.

Kisah tersebut di atas sangat relevan dengan kondisi sekarang khususnya diri saya sendiri. Seberapa sering saya ketika ditanya, selalu berusaha untuk menjawab bahkan ketika saya sendiri sama sekali tidak yakin bahwa masalah tersebut saya pahami. Ada rasa dalam diri semacam keinginan dianggap tahu segalanya yang sebenarnya hal tersebut adalah jebakan. 

Mungkin perasaan ini pula yang membuat saya terkadang tidak konsentrasi dalam mempelajari sebuah ilmu karena dorongan ingin menunjukkan bahwa saya tahu sebuah masalah. 

Apatahlagi saat ini saya sedang kuliah, tentunya rasa ingin dianggap pintar terlalu kuat dari dalam diri sehingga jika tidak bisa mengalahkan diri atas perasaan tersebut maka ketika saya belajar tentang suatu hal, maka yang muncul pertama dalam diri bahwa saya bisa menjawab ketika ditanya dosen kemudian orang lain menganggap saya pintar. Sebuah perasaan konyol yang harusnya saya eliminasi dari dalam diri saya sebagai seorang Pelajar. 

Tentunya, untuk menepis hal-hal semacam itu, langkah pertama adalah berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memotong pembicaraan orang lain. Ketika disuruh menanggapi, maka tanggapilah hal-hal yang memang dipahami. jangan menanggapi hal yang orang lain tidak menginginkannya.

begitulah kira-kira untuk belajar menjadi tidak sok tahu.

July 16, 2020

Relasi

Ada sebuah pola relasi yang saya pelajari selama ini. sebuah relasi sosial yang menurut saya seharusnya bisa saya terapkan dalam kehidupan untuk menjalani hidup lebih ringan dan tidak terbebani oleh pikiran-pikiran yang memberatkan. sebuah relasi pertemanan yang tidak sehat harus ditinggalkan dan dibiarkan menguap untuk membuat hati tetap terjaga. 

Jadi begini, di masa kuliah beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai beberapa teman yang menurut saya sekedar teman namun diantara beberapa teman saya tersebut, adalah salah seorang teman yang menurut saya tidak terlalu suka berteman dengan saya. bukan tanpa alasan, karena di beberapa momen, dia tidak pernah menanggapi saya bahkan sekeras apapun saya mencoba untuk berinteraksi dengannya, dia tidak bergeming bahkan 2 tahun setelah kami tamat dan bertemu lagi di sebuah tempat, perlakuannya terhadap saya masih tetap saya. setiap kali saya mencoba untuk membuka percakapan, sama sekali tidak ada reaksi. akhirnya sejak saat itu, saya memutuskan untuk memilih tidak mencoba mengakrabinya dan sampai sekarang, hampir 8 tahun kami tidak bertemu, saya merasa tidak pernah bisa membuatnya merasa nyaman berbicara dengan saya. hingga akhirnya saya sudah melupakan relasi pertemanan seperti itu. 

Entah sejak kapan, setiap kali saya bertemu dan berinteraksi dengan seseorang yang memiliki pola yang sama, saya sudah mulai terbiasa untuk tidak memikirkan terlalu jauh dan bahkan menganggap hal tersebut lumrah. jika ada orang yang nampaknya tidak nyaman beriteraksi dengan saya maka saya tidak pernah lagi berusaha untuk mengakrabinya bahkan sebaliknya, saya memilih untuk tidak memikirkannya. saya selalu berpikir bahwa ada suatu masa ketika kita akan lepas dari interaksi semacam itu. 

Dulu, saya mungkin seorang yang sangat perasa dan jika ada orang yang nampaknya tidak menyukai kehadiran saya, hal yang pertama muncul dalam pikiran saya bahwa apa yang salah dalam diri saya padahal menurut saya bahwa dalam pola interaksi sosial, adalah hal yang lazim ketika seseorang tidak suka berinteraksi dengan salah satu orang karena berbagai alasan dan hal tersebut seharusnya tidak menjadi sebuah masalah besar karena masih banyak orang lain yang mau berinteraksi secara karib dengan kita. 

Begitulah kira-kira apa yang saya pelajari dari pola interaksi selama ini dan nampaknya saya tidak harus menjadi orang yang disukai oleh semua orang yang berinteraksi dengan saya karena pasti ada orang mengenal saya tidak suka terhadap saya dengan berbagai alasan yang tidak perlu saya ketahui

July 15, 2020

Penjual Mainan

Cerita ini dituturkan oleh mertua saya tadi malam. sebuah cerita tentang kejadian yang menurut saya begitu sangat ironi dan menyedihkan. kerasnya hidup di Jakarta benar-benar membuat banyak orang kehilanga arah dan welas kasih, bahkan bukan hanya untuk yang berbeda kelas namun bahkan dengan sesama kelas bawah, mereka saling menikam yang seharusnya saling menggenggam tangan untuk menguatkan hidup.

Cerita ini persis terjadi di samping kami dan tepat diperlihatkan di hadapan. ada seorang penjual mainan yang sering lewat di sekitar gang tempat kami tinggal. dia menjual berbagai aneka mainan murahan. penjual semacam itu sangat mudah dijumpai di ibu kota. berbekal gerobang yang dipenuhi dengan mainan dan benda-benda sederhana yang terkadang tidak dijual di swalayan. sangat mudah mengidentifikasi ketika penjual tersebut lewat karena dia membunyikan suara yang khas. setiap kali dia lewat, anak saya sudah hapal dan selalu merengek minta dibelikan mainan. menurut saya tidak jadi soal karena toh mainan yang dia jual bukan mainan mahal bahkan ada yang cuma harga dua ribu.

Kemarin saat dia lewat, mertua dan anak saya menghampirinya. seperti biasa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, sekitar lima ribu. setelah melakukan transaksi, kemudian si penjual curhat tentang kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. dia dimarahi oleh tetangga kami jika berjualan lagi di sekitar gang tempat tinggal kami karena cucu si tetangga kami selalu menangis minta dibelikan mainan. si penjual bercerita dengn lirih sambil mengatakan bahwa saya kan cuma menjual.

Mendengar cerita tersebut yang diceritakan kembali mertua saya, lumayan agak sedih. hidup begitu kerasnya di Ibu kota sampai harus melarang seseorang menjual untuk mencari nafkah. si tetangga kami seharusnya punya kedaulatan untuk memberitahu cucunya bahwa jangan terlalu sering membeli mainan ataupun jika mau, dia membelikan yang harga dua ribu sekedar membantu penjual mainan tersebut. namun apa daya, si tetangga kami yang seorang bapak paruh baya, memilih melakukan tindakan yang menurutku mendegradasi hubungan antar sesama. dia memarahi penjual mainan lewat di sekitaran rumahnya. 

Saya bukan orang yang bermoral-moral amat namun menurut pandangan saya bahwa dengan terang-terangan melarang orang lain berjualan untuk mencari nafkah keluarganya adalah sebuah tindakan yang amoral. seharusnya para penjual keliling seperti itu diapresiasi karena mau berusaha keras mencari nafkah dengan jalan yang benar apatahlagi saya perkirakan bahwa untungnya tidak terlalu besar. bayangkan jika mainan yang hanya seharga tiga ribu, berapa selisih untung yang dia ambil. jauh lebih banyak penghasilan para tukang parkir yang setiap motor harus membayar dua ribu tanpa ada modal selain modal kursi untuk duduk di parkiran dan modal rompi orange.

Satu hal yang paling menyedihkan saya adalah si bapak tetangga kami yang memarahi penjual pun bukan orang terlalu kaya bahkan mungkin hampir sederajat secara ekonomi dengan mayoritas penduduk yang tinggal di gang kami. jika rasa kasih pun tidak dimiliki, lalu apa yang harus ditawarkan dan dibanggakan.

Entahlah, mungkin hidup memang harus seperti ini untuk mengajarkan kita mana yang harus diikuti dan mana yang sebaiknya dicampakkan di tempat sampah. 

July 14, 2020

Status Sosial dan Fenomena Sepeda

Di masa saya bocah, sepeda adalah kemewahan tersendiri namun meskipun saya sadari bahwa zaman di kampung saya saat itu, sepeda adalah strata terbawah dalam kepemilikan kendaraan dalam masyarakat, namun memiliki sepeda sudah menjadi kemewahan tersendiri bagi saya yang terlahir dengan saudara enam orang dan dari orang tua yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuh primer dan sekunder sedangkan kebutuhan tersier jarang dimasukkan dalam list kebutuhan.

Saya ingat keluarga kami pernah memiliki speda merek BMX tapi seingat saya bahwa sepeda itu tidak dibelikan oleh orang tua namun diberikan secara percuma oleh saudara lain. Saya dan kakak saya yang beda umur 2 tahun dengan saya yang sering menggunakan sepeda tersebut. paling sering digunakan untuk mengantar beras yang akan digiling dan dibikin kue oleh ibu saya. jadi intinya bahwa sepeda saya tersebut bukan untuk bersenang-senang namun difungsikan untuk alat bekerja.

Beberapa tahun kemudian, Sepeda dikomodifikasi oleh para Pengusaha menjadi trend kalangan atas. meskipun trend sepeda sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya namun mencapai puncaknya ketika wabah Covid-19 menyerang. fenomena bersepeda menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat urban untuk meningkatkan imun dari serangan virus, namun yang terlihat di mata saya bukan tujuan berolahraganya tetapi bagaimana para Perusahaan sepeda berhasil mengkontruksi paradigma masyarakat untuk beralih ke gaya hidup sepeda alhasil, Perusahaan sepeda mendapat keuntungan yang tak terkira.

melihat fenomena sepeda yang semakin menjamur di masa pandemi saat ini, saya menyadari bahwa status sepeda tidak lagi berada pada strata paling bawah bahkan ada sepeda yang lebih mahal dari 1 unit mobil Agya maupun Ayla. untuk ukuran sepeda yang umum, butuh duit dengan digit jutaan untuk bisa membeli sepeda di saat sekarang. salah seorang teman kantor saya beberapa hari lalu menjual sepedanya seharga 8 jutaan yang sebelumnya dia membeli sepeda tersebut sebelum booming sekitar 4 jutaan. 

Kemudian apa yang harus dipelajari dari fenomena seperti ini? bahwasanya masyarakat begitu mudahnya digiring dalam sebuah trend yang biasanya diinisiasi oleh para Pengusaha besar dengan menggandalkan media-media untuk mempromosikan sesuatu dengan tampilan yang berbeda dengan hakekatnya, misalnya bersepada ditampilkan sebagai usaha untuk menjaga tubuh tetap kuat dan sehat meski pada akhirnya bahwa mereka tetap berusaha mengeruk keuntungan yang besar dari trend yang sedang menjamur. toh selain bersepada, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat badan tetap berkeringat. 

Saya tidak sedang mendegradasi orang-orang yang memang hobi bersepeda namun lebih pada beberapa kalangan yang pada akhirnya mengeluarkan dana yang begitu besar hanya untuk menjadi terlihat keren dengan bersepeda.

July 13, 2020

Kuliah Online

Wabah Covid-19 sungguh menerjang sebuah sisi kehidupan manusia tanpa tersisa satu pun. tidak ada ruang yang disisakan dari dampak virus ini. salah satu bidang kehidupan yang terdampak adalah bidang pendidikan. pola interaksi pendidikan yang selama ini dilakukan dalam ruang-ruang kelas akhirnya harus dialihkan menjadi kuliah online. sebuah sistem perkuliahan yang sejak beberapa tahun sebelumnya sudah diterapkan oleh Universitas Terbuka (UT). Kebijakan tersebut ditempuh sebagai salah satu cara untuk menghambat penyebaran virus yang semakin massif. 

Di awal-awal pandemi Covid-19, semua pelajar dari berbagai tingkatan mafhum akan kebijakan tersebut karena menyadari betapa berbahayanya jika membiarkan virus ini menyebar secara luas. masalah kemudian muncul setelah berjalan empat bulan, sikap kritis Pelajar khususnya Mahasiswa mulai mengemuka dengan menganalisa bahwa kuliah online menyisakan berbagai hal yang harus dikritisi. bukan kebijakan kuliah online yang masih berlangsung namun lebih pada apa yang harus dikeluarkan oleh anak didik dan feedback yang didapatkan dari pihak kampus. 

Beberapa Mahasiswa di berbagai kampus kemudian melancarkan aksi menyuarkan pendapat. mereka menuntut pihak kampus memotong biaya SPP dengan berbagai alasan, misalnya ekonomi yang sedang hancur, biaya kampus yang efisien dari sisi pendanaan operasional karena ruang-ruang kelas tidak difungsikan, dan berbagai alasan-alasan lain yang sangat rasional.

Namun apa respon dari pihak kampus?

Salah satu kampus di Jakarta Selatan bahkan melakukan tindakan represif terhadap Mahasiswanya yang melakukan aksi menyalurkan pendapat. beberapa diantaranya diskors bahkan yang lebih parah, ada sebagian yang di DO. sebuah tindakan kampus yang menandakan bahwa mereka tidak menghargai apa yang disebut penyaluran pendapat, lagian alasan-alasan Mahasiswa tersebut sangat rasional dan pantas untuk dipertimbangkan. 

Di kampus saya sendiri yang berada di bilangan Gatot Subroto, saya belum mendengar kabar jika ada aksi serupa menuntu pihak kampus untuk menurunkan biaya SPP namun satu hal yang saya tahu bahwa salah satu kawan saya yang sudah tidak aktif bekerja sejak Pandemi ini, mengajukan keringanan biaya SPP ke pihak kampus dan pengajuannya tersebut diakseptasi oleh pihak kampus dengan menghapuskan biaya SPP selama tiga kali cicilan. angka yang lumayan signifikan untuk kondisi sekarang ini. 

Saya sendiri berpendapat bahwa Pemerintah dalam hal ini seharusnya mempertimbangkan suara-suara sumbang dari Mahasiswa untuk memangkas biaya SPP karena secara rasional, pengeluaran Kampus untuk biaya operasional, menjadi sangat efisien di masa pandemi karena tidak ada pertemuan di kelas sehingga otomatis, biaya listrik berkurang, tidak ada penggunaan AC dan berbagai fasilitas lainnya di kampus yang hanya digunakan ketika ada interaksi di kelas. 

Hal lain yang tersisa dari kuliah online adalah metodenya yang sangat tidak efektif menurutku. jangankan para Mahasiswa, para tenaga pengajar pun banyak yang belum siap dengan metode kuliah online. presentasi seadanya, menanyakan apakah ada tanggapan kemudian mengakhiri kuliah dengan tugas. metode yang mungkin akan mereduksi banyak hal.

Hal yang terpenting adalah ada sesuatu yang tidak bisa tergantikan dari interaksi langsung di kelas. manusia adalah makhluk sosial yang tidak hanya puas beriteraksi via benda-benda teknologi namun mereka akan memenuhi hasratnya sebagai makhluk sosial ketika saling bertatapan, saling bersalaman dan beriteraksi secara langsung.

July 12, 2020

Tulus

Saya random menonton youtube di setiap waktu senggang yang saya punya. saya sadari bahwa kebiasaan tersebut tidak berdampak baik terhadap peningkatan kapasitas diri saya. alih-alih belajar untuk mengisi masa senggang, saya malah asik menonton youtube dan menghabiskan bergiga-giga paket data saya.

Di sela-sela menonton youtube, saya mendapati sedikit pelajaran yang menurut pengamatan saya sesuai dengan apa yang saya lihat. jadi salah seorang publik figur diwawancarai kisah hidupnya yang berasal dari 0. dia seorang tukang bersih jalanan kemudian pindah menjadi OB di sebuah kantor media dan jalan hidup membawanya menjadi publik figur. dari kisahnya tersebut, dia menceritakan bagaimana dia tulus menjalani semua pekerjaan yang mungkin sebagian masyarakat menganggap bahwa pekerjaan tersebut untuk kaum proletar. ketulusan lah yang memperkuat takdirnya menggapai hal-hal baik yang sekarang berada di tangannya. ketulusan yang dapat diartikan juga sebagai keikhlasan dalam menjalani hidup seringkali mempertemukan kita dengan hal-hal baik. ketulusan dalam hal ini bahwa menjalani profesi dengan hati yang senang tanpa berkeluh kesah.

Saya pribadi sedang dalam masa yang bisa dianggap demotivasi. saya terlalu sering mengeluh tentang pekerjaan saya sekarang padahal di awal-awal bekerja, saya mampu mengatasinya dengan mengatakan bahwa ini pilihan sadar saya dan saya sendiri yang memilih untuk mendaftar kemudian memutuskan bekerja di sini, lalu kenapa kemudian saya harus menghabiskan energi saya dengan berkeluh kesah tak berujung. Sampai kapan saya harus mengeluhkan apa yang saya pilih sebagai sebuah pilihan sadar. 

Saya sedang berusaha untuk mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab ini semua. mungkinkah perasaan pride terhadap diri yang terlalu tinggi atau mungkin juga keinginan-keinginan yang tidak tercapai sehingga begitu sulitnya berdamai dengan diri dalam masa seperti ini. bahkan jika terlepas dari lingkaran pekerjaan ini dengan perasaan insecure pun berarti saya telah gagal dalam satu momen hidup. seharusnya ketika berpisah dari satu potongan hidup seharusnya dengan hati yang senang bukan semacam pelarian karena tidak mampu berdamai dengan apa yang sedang dihadapi.

benar-benar hidup yang membingungkan.

July 11, 2020

Wabah Covid-19

wabah virus ini yang tak kunjung berakhir membuat sebagian orang frustrasi bahkan saya sendiri dalam beberapa momen bersikap pesimis dan frustrasi. bayangan akan rencana-rencana ke depan seakan tiba-tiba buram tak berbentuk apatahlagi tidak ada yang bisa memprediksi kapan wabah ini berakhir. sebuah kondisi di mana semua orang tidak mampu berjalan dengan keinginan mereka sendiri.

Saya teringat kembali ajaran agama saya bahwa di masa ketika dunia sebentar lagi akan musnah, akan banyak fenomena yang membuat manusia tidak mengenal dirinya dan bingung mau mengikut yang mana. semua manusia menjadi sangat bingung tentang apa yang terjadi, mana yang benar dan harus bersikap seperti apa.

Saya tidak sedang berpendapat bahwa fenomena sekarang adalah tanda kiamat namun setidaknya bahwa gambaran bagaimana manusia-manusia yang tidak mengenal dirinya akan menjadi bimbang dan bingung apa yang harus dilakukan. manusia yang tujuannya berhenti pada hal-hal material akan sangat frustrasi karena semua nampak tidak jelas saat ini.

11 Juli 2020

July 10, 2020

Hidup di Jakarta

Entah beberapa tahun yang lalu, sebagai seorang bocah yang belum mengerti apa-apa secara hakekat dan menilai sesuatu yang kasat mata, saya pernah memimpikan hidup di Jakarta atau minimal di kota besar. sebuah impian yang nampaknya menghantui mayoritas bocah di kampung karena pengaruh TV yang sangat kuat. kemewahan-kemewahan yang ditampilkan di media menjerumuskan sebagian dari pemuda desa untuk rela berpindah ke kota dengan apa yang disebut sebagai kehidupan yang layak, meski pada akhirnya saat sudah tiba di kota, mereka dan termasuk saya, menyadari bahwa kehidupan kota bukanlah sebuah surga yang selalu ditampilkan di TV namun tidak lebih dari sebuah zona antah berantah yang buas. 

Saya tidak sedang menjustifikasi bahwa kehidupan di kota khususnya di Jakarta adalah sebuah dosa namun saya hanya merefleksikan apa yang saya rasakan selama sekian tahun menetap di ibu kota. 

Di kota ini, segala macam tersaji di depan hidung kita. tidak ada yang luput satu pun. di sini malaikat bertebaran di mana-mana namun juga setan-setan mengisi setiap ruang kosong. jika ingin menjadi orang yang sabar maka cobalah hidup di Jakarta dan sekalipun jangan mengeluh atas semua hal yang tidak disukai di kota ini. seseorang yang ingin mencoba menguji kesyukurannya maka datanglah di kota ini dan rasakan sendiri seperti apa seharusnya kita bersyukur. 

Orang yang ingin menghabiskan hidupnya dengan tenang, di pagi hari bisa menikmati udara segar sambil bercengkerama dengan alam, di siang hari beristirahat dengan tenang dan di sore hari merasakan desiran angin yang sepoi-sepoi dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan sedikit polusi maka saya sarankan untuk tidak mencoba-coba ke Jakarta karena kondisi tersebut tidak bakalan ada di kota ini. 

Kota ini adalah arena bertarung. bertarung dengan diri dan saling mengalahkan segala nafsu yang meronta melihat dinamika kehidupan kota ini. nafsu ingin mewah dengan tawaran kemewahan setiap detik di setiap kedipan mata, nafsu seksual dengan makhluk-makhluk yang dipermak tanpa noda sedikit pun baik yang jantan maupun yang betina dan nafsu apapun dengan godaan yang begitu besar. 

Pada akhirnya, saya kemudian menghel nafas panjang. menyadari bahwa semesta telah menakdirkan saya di kota ini dengan kehidupan yang ironi. saya harus ke kantor pagi hari kemudian pulang ke rumah menjelang maghrib. sabtu dan minggu dihabiskan dengan tidur atau sesekali liburan di mall yang memamerkan kemewahan. saat bertemu tetangga, hanya saling senyum dan jarang bercerita. hakekat kemanusiaan sepertinya sudah tercerabut satu persatu. 

Ingatan saya kembali ke masa lalu di kampung. semua hari di kampung saling kenal dan hidup bersama. jika saya tidak punya makanan, saya bisa numpang makan di tetangga, hidup dihabiskan dengan bersenda gurau dan kesepian seakan tidak ada. mungkin benar lirik lagu Dewa, 
"di dalam keramaian aku masih merasa sepi"

Saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah, menjadi sangat ironi. saya menangis namun tidak meneteskan air mata. jiwaku gersang. 

Apakah hidup seperti ini yang kucari? 

entahlah...!!!


10 Juli 2020

July 9, 2020

Buku Bekas

Membeli buku adalah salah satu kegemaranku meskipun saya sadari bahwa dari sekian buku yang saya beli, beberapa diantara hanya terdampar rapi di rak buku dalam waktu lama dan biasanya saya baca ketika pikiran sedang tenang. 

Kebiasaan membeli buku saat ini menjadi menjadi sebuah ajang balas dendam terhadap masa lalu saya di mana ada momen-momen ketika saya menginginkan beberapa buku yang tidak bisa saya beli karena masalah keuangan. ketika saya sudah bisa memperoleh uang sendiri, saya sepertinya ingin menunjukkan pada diriku bahwa sekarnag saya bisa membeli buku apa saja yang saya senangi meskipun saya terkadang menyadari bahwa libido membacaku tidak sekuat dulu. 

Sangat paradoks bukan? ketika dulu saya masih gemar membaca, saya tidak bisa dengan bebasnya membeli buku sehingga terkadang tidak tersalurkan namun saat ini, ketika saya bisa menyisihkan uang untuk membeli buku apa saja, minat membaca saya yang mulai mengalami degradasi yang massif. dunia memang absurd, kata Camus.

Minggu lalu saya membeli buku bekas di kawasan blok M. ini kali pertama saya ke blok M melakukan pencarian buku ketika tiga bulan berdiam diri di rumah karena Covid-19 yang tak kunjung minggat. saya menyenangi belanja di basement Blok M karena selain bukunya murah, terkadang menemukan buku-buku langka, namun tetap harus tekun karena buku-buku tersebut ditumpuk tak beraturan. 

Meskipun buku-buku di blok M murah, tetap aja menyimpan masalah karena mayoritas buku tersebut bajakan dan saya sadar bahwa buku bajakan merupakan pencurian hak cipta namun di sisi lain, buku-buku bajakan tersebut menghidupi banyak pedagang buku. butuh diskusi lebih lanjut tentang masalah ini. hal lain adalah buku asli namun merupakan buku-buku yang illegal karena terkadang merupakan koleksi perpustakaan.

Kemarin saat memilih buku, saya melihat buku agak tipis namun menarik perhatianku karena berkaitan dengan kuliah saya. pada saat penjual menawarkan bukti tersebut kepada saya, sudah terbersit kecurigaan melihat buku tersebut sedikit usang dan ada bekas copotan cap di lipatan bawah buku tersebut. saya tidak sempat membukanya karena adzan ashar sudah berkumandang dan si penjual sudah gelisah ingin segera ke musala. melihat gelagatnya, saya segera membayar buku tersebut.

benar saja, beberapa hari setelah buku tersebut akhirnya saya baca, saya menemukan stempel perpustakaan salah satu kampus swasta di kawasan Lenteng Agung. saya amat yakin bahwa buku tersebut merupakan koleksi kampus namun saya tidak berani menduga bagaimana bisa buku tersebut bisa sampai di lapakan blok M.

Saya belum tahu hukumnya membeli buku yang seperti itu dan apakah ilmunya bisa diserap

9 Juli 2020

July 8, 2020

Makanan

Sudah menjadi kebiasaan di kantor Isteri saya bahwa ketika mereka lembur sampai malam, biasanya akan disiapkan makan malam beserta makanan pelengkap lainnya entah kue, buah-buahan atau apapun. hal yang sama kemarin malam ketika saya menjemput isteri saya. sesaat sebelum naik ke motor, dia memberitahu bahwa ada dua nasi kotak dan kemungkinan yang satu tidak dimakan karena mama sudah makan. biasanya jika seperti itu, kami memberikan ke siapa saja yang kami temui di jalan yang kami anggap layak dan biasanya para orang tua sepuh yang mendorong gerobak.

entah apa yang dipikiran saya saat itu, saya jawab bahwa bawa saja ke rumah dan besok saya mau bawa ke kantor sebagai bekal. biasanya kalau seperti itu, tidak bakalan menjadi rezeki.

Esok hari, makanan tersebut dipanasi di ricecooker beserta lauknya. saya masukkan ke tempat makan sebagai bekal makan siang di kantor. 

Seharian di kantor, ada hidangan cemilan sehingga perut saya tidak terasa lapar sampai siang. akhirnya saya tidak menyentuh makanan tersebut sampai sore. menjelang pulang, saya membuka bekal tersebut karena merasa bersalah jika tidak dimakan meskipun dengan perut yang tidak terlalu lapar. dugaanku benar, nasinya sudah keras dan sudah tidak enak dikonsumsi. akhirnya saya hanya memakan lauknya dan nasinya berakhir di tempat sampah. 

Saya sering mengalami hal-hal seperti itu bahwa dalam berbagai kondisi, jika keinginan yang mendominasi maka hasilnya tidak sesuai harapan. kasus di atas contohnya, saya sudah kenyang namun tetap saja pikiranku ingin memakan makanan yang seharusnya bukan rezekiku. 

8 Juli 2020

July 7, 2020

Meluangkan Waktu untuk Hal yang Diprioritaskan

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah video yang lumayan menarik perhatianku, meski sebenarnya begitu banyak video yang menginsprirasi namun sebatas dalam niatku, video yang menceritakan tentang bagaimana seorang karyawan kantoran yang memiliki tekad untuk mengejar apa yang dia sukai dan menjadi prioritasnya. meskipun masih bekerja sebagai seorang karyawan, dia memutuskan untuk meluangkan waktu 1-2 jam setiap malam sepulang dari kantor untuk mengerjakan hal yang menyenangkan baginya. hal tersebut dijalani dalam rentang waktu yang lama dan tetap menjaga konsistensinya. 

Pada akhirnya, dia sampai pada satu titik di mana apa yang dia senangi dan menjadi prioritasnya sudah bisa dijadikan sumber penghasilan. dia kemudian memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan immerse dirinya dalam bidang tersebut. meskipun pada awalnya, dia masih menyimpan kekhawatiran-kekhawatiran namun tetap dijalani dan menjadi sebuah kesenangan yang juga menghidupinya. sebuah bukti bahwa konsistensi dalam suatu hal menjadi kunci bagi keberhasilan. 

Kenapa video tersebut menarik perhatian saya? 

Satu hal yang pasti bahwa saya dan mungkin sebagian besar karyawan, memiliki sesuatu yang menyenangkan hati dan menjadi prioritas namun tetap bertahan sebagai seorang karyawan karena 1 hal, pertimbangan tentang uang khususnya mereka yang sudah berkeluarga seperti saya. 

Banyak karyawan yang ingin keluar dari rutinitas yang menjemukan untuk menemukan diri mereka namun tidak pernah berhasil karena kekhawatiran tentang kekurangan uang selalu menghantui, sehingga video di atas menjadi inspirasi yang cukup sahih bagaimana keluar dari rutinitas yang sebenarnya tidak menarik perhatian kita namun tetap dijalani karena masalah perut. 

Luangkan waktu sejam dua jam sepulang kantor untuk melalukan apa saja yang menjadi kesenangan kita yang bisa diprioritaskan sebagai karya di masa depan sambil tetap bekerja sebelum benar-benar yakin bahwa hal tersebut sudah bisa menjadi pegangan..

kuncinya ada pada satu kata "konsisten"

7 Juli 2020

July 6, 2020

Kompromi terhadap Idealisme

Di awal menjadi karyawan di kantor sekarang, saya membangun beberapa idealisme mengenai irisan kepentingan kantor dengan kepentingan pribadi. sebuah sikap yang saya mulai cicil sejak dulu dan diperkuat dengan lingkaran pertemanan saya di Makassar yang lumayan idealis untuk hal-hal yang prinsipil. sebenarnya pelajaran-pelajaran yang semacam itu sudah diajarkan oleh orang tua saya sejak kecil namun terkadang atau bahkan seringkali terlupa jika tidak dikuatkan dengan tekad yang bulat. ada banyak faktor yang membuat pelajaran-pelajaran semacam itu luntur, salah duanya adalah lingkungan pertemanan dan kebutuhan hidup. 

Prinsip sederhana yang coba saya bangun adalah tidak mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak saya. contoh sederhananya di kantor adalah tidak menggunakan barang-barang kantor untuk kepentingan pribadi dalam bentuk apapun itu, atau tidak menggunakan jam kantor untuk hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan kantor. sebenarnya amat sangat sulit untuk batasan-batasan ini karena selalu ada waktu senggang dalam jam kantor meski sering dilakukan pembenaran bahwa terkadang juga ada jam di luar kantor yang digunakan untuk pekerjaan kantor ketika ada pekerjaan-pekerjaan yang mendesak.

Di beberapa kesempatan, saya menjumpai teman kantor yang melakukan sesuatu hal yang menurutku di luar batas idealismeku misalnya print sesuatu yang merupakan kepentingan pribadinya, download vidio untuk anak ataupun untuk dia tonton dan beberapa potongan-potongan tindakan yang menurutku tidak seharusnya. sesuatu yang juga terkadang saya lakukan untuk kesenangan saya. hal sepele yang saya sadari ketika orang lain yang melakukan namun abai ketika saya sendiri yang menjadi pelakunya. mungkin seperti pribahasa klise bahwa gajah di depan mata tidak terlihat namun semut di seberang nampak.

Sebenarnya mungkin hal yang sepele lagian pengandaian-pengandaian seperti itu sering muncul dalam pertanyaan psikotes saat tes kerja namun menurut saya bahwa seringkali kita melupakan hal yang seperti itu.

saya akhirnya beberapa kali kompromi terhadap hal yang di luar batas idealismeku. saya juga sadar bahwa banyak hal yang menurutku tidak seharusnya saya lakukan di kantor namun jebol dengan berbagai pembenaran salah satunya karena sudah jenuh dengan pekerjaan yang sama ditambah lagi dengan pimpinan yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah bahkan hanya melakukan penekanan-penekanan dengan pekerjaan rutinitas dan tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari pekerjaan itu sendiri, akhirnya hanya menjadi rutinitas harian dan tidak pernah ada dialog dalam pengembangan diri. 

Salah satu horor paling menakutkan dalam sebuah pekerjaan rutinitas ketika di dalam pekerjaan itu sudah tidak ada lagi proses pengembangan diri bagi siapa pun. tidak ada dialog atau pun diskusi yang tercipta baik antar atasan dan bawahan maupun sesama jenjang jabatan, yang terjadi hanya instruksi yang satu arah dengan dalih bahwa kita bawahan dan kita harus patuh karena kita digaji sebagai bawahan tanpa mempertimbangankan sisi kemanusiaan yang butuh didengarkan atau ada sisi yang butuh pengembangan diri. 

Ketika hal semacam ini yang terjadi, maka ujungnya adalah demotivasi atau bahkan di level stress paling akut, mengajukan resign. 

Kompromi-kompromi kecil terhadap kehidupan perkantoran mempertimbangkan banyak hal yang butuh penalaran lebih jauh. idealisme adalah sesuatu yang mewah namun terkadang tergadaikan oleh hal-hal yang menjadi pelampiasan seseorang. idealisme tidak berdiri sendiri namun diiringi dengan banyak hal di lingkaran sekitarnya. idealisme yang tertanam kuat tanpa dipengaruhi oleh faktor X adalah idealisme sejatinya sedangkan yang masih terpengaruh oleh variabel-variabel lain adalah idealisme yang masih rapuh,

dan saya masih dalam kategori idealisme yang rapuh.

6 Juli 2020

July 5, 2020

Jualan Teman

Dalam beberapa kali kesempatan saat ditawari jualan oleh teman yang sedang mencoba membuka usaha, entah itu makanan, usaha baju atau usaha apapun, saya selalu berusaha untuk membeli meskipun tidak dalam jumlah banyak. saya tidak terlalu memusingkan motif saya membeli namun paling tidak, saya memberi semangat kepada mereka untuk mengembangkan usahanya.

bukan pula ingin membanggakan diri bahwa saya telah membantu teman namun lebih pada perasaan yang sama. maksudnya bahwa saya juga sedang berada pada posisi yang sedang meraba apa yang harus saya lakukan untuk usaha sampingan yang membutuhkan kreatifitas bukan melulu mengharapkan gaji bulanan. juga bahwa usaha baju online yang sudah beberapa tahun belakang ini dirintis oleh isterinya saya pun pada awalnya ditawarkan ke teman-temannya.

selain itu, saya juga berusaha untuk memantapkan hati bahwa jika teman bahagia maka saya juga harus ikut berbahagia. hati kita sebagai manusia seringkali diisi oleh perasaan iri  bahwa ketika melihat teman sedang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri, seringkali muncul dalam hati kita untuk mencoba mematahkan semangatnya dal bentuk apapun, dan itu yang saya tidak inginkan.

5 Juli 2020

July 4, 2020

Korek Kuping

Kebiasaan kecil apa dalam hidupmu sehari-hari yang kau sadari bahwa hal tersebut tidak baik bagi kesehatanmu namun kau tidak pernah berhasil untuk menghindarinya?
kalau saya yang ditanya demikian, tidak terlalu lama berpikir untuk menjawab,

"mengorek kuping"

Ya, mengorek-ngorek kuping menjadi kebiasaan sampingan yang disenangi oleh bahkan semua orang. ketika kuping mulai gatal dan tidak terpuaskan jika hanya mengoreknya dengan jari kelingking atau jari telunjuk, maka kita akan mulai mencari media apa saja yang bisa digunakan untuk menusuk kuping dan memutar seperti mengaduk kopi, entah searah jarum jam maupun berlawanan dengan jarum jam. saya hakkul yakin bahwa tidak cukup untuk memenuhi nafsu mengorek kuping hanya dengan 1 kali korekan. saya yang notabene adalah penganut mazhab mengorek kuping dengan gulungan kertas bahkan bisa menghabiskan 4-5 gulungan kertas sebelum sensasinya terpuaskan. seseorang yang sudah dalam tahap kencanduan tidak akan pernah puas mengorek kuping sebelum ada rasa nyeri di dalam gendang telingan.

kebiasaan yang sampai sekarang tidak mampu saya hentikan yang anehnya bahwa setiap kali saya mengorek kuping saya dengan gulungan kertas - bahkan bukan dengan cotton buds - saya selalu menyadari bahwa saya sedang menzalimi diri saya sendiri dan selalu berjanji bahwa tidak akan mengulanginya, namun ternyata, menghentikan kebiasaan mengorek kuping itu lebih sulit dari pada menahan boker ketika sedang mengendarai motor. entah kenapa, saya malah tidak suka mengorek kuping dengan cotton buds, mungkin karena trauma di awal-awal kebiasaan mengorek kuping ketika beberapa kali kapas di ujung cotton buds tertinggal di dalam kupingku.

Saya selalu gagal menghentikan kebiasaan buruk tersebut karena sensasi geli-geli enak ketika gulungan kertas mengenai gendang telinga yang hampir menyamai sensasi orgasme, apatahlagi ketika cairan bening yang kemudian menempel di gulungan kertas yang baunya membuat candu - entah kenapa orang menyenangi bau mereka (cairan telinga, bau cantengan) namun tidak pernah suka mencium bau dari orang lain.

Entah sudah berapa kali kuping saya bengkak dan sakitnya naujubillah ketika keseringan dikorek-korek dan setiap kali hal tersebut terjadi. tidur pun sangat tidak menyenangkan karena bagian kuping yang sakit tidak bisa ditindih bahkan setiap saat kuping berdenging dan menimbulkan rasa sakit di sekujur kepala. saya selalu bersumpah untuk meninggalkan kebiasaan yang serupa mengkonsumsi narkoba. ketika kuping saya bengkak, butuh 4 hari untuk sembuh. anehnya setelah sembuh, ada begitu banyak cairan yang menggumpal yang mungkin sisa dari bengkak dan saya kembali menyenangi sensasi baunya. bau ini seperti mantan yang tidak pernah sirna dari pikiran.

Saya mencoba mengingat lagi sejak kapan kebiasaan jahannam yang mengasikkan ini mulai saya gemari.
Juli 2020, saya berniat untuk meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

July 3, 2020

Main Handphone

Mungkin ini ada kaitannya dengan renungan sebelumnya tentang wasting time namun lebih spesifik. sesuatu yang menurut saya terkadang sudah keterlaluan yang selalu diniatkan untuk dibatasi namun tetap saja kembali seperti pola sebelumnya. setelah melalukan, sadar kemudian berjanji akan membatasi namun momen berikutnya berulang lagi, main dalam waktu yang lama, sadar kemudian berjanji lagi dalam hati. entah seberapa sering saya mengingkari ikrar saya terhadap diri saya sendiri. 

Kebiasaan itu adalah memegang hp. entah berapa jam dalam sehari saya menghabiskan waktu memelototi layar HP. saya baru berhenti ketika mata saya sudah lelah dan lebih parahnya lagi, saya tidak tahu tujuannya, kenapa saya menghabiskan berjam-jam hanya untuk benda kecil tersebut dan anehnya, setiap kali ada dorongan untuk itu, saya tidak kuasa melawannya. saya menghabiskan waktu menonton youtube dan sesekali berselancar di media sosial. sebuah kebiasaan toxic yang anehnya saya selalu tidak kuasa melawannya. 

Beberapa kali saya mencoba tips untuk menghentikan kebiasaan tersebut seperti mematikan paket data atau pernah juga ketika paket data saya sudah habis, saya sengaja tidak mengisinya dalam jangka beberapa waktu, namun apa? it doesn't works at all. 

Sampai akhirnya saya menyadari bahwa tujuan saya sudah melenceng dengan waktu yang terbuang percuma. jika untuk sebuah pembelajaran, kadang saya tidak menyesal namun realitanya bahwa saya hanya menghabiskan tontonan-tontonan yang tidak berfaedah sama sekali, youtube prank, lucu-lucuan dan komedi-komedi yang sering saya tonton berkali-kali. 

Pada akhirnya, semua ini tidak boleh berlanjut terus menerus sampai usia saya dimakan waktu. saya harus sekuat tenaga untuk kemudian memantapkan hati bagaimana fokus pada tujuan hidup. jika kecanduan terhadap benda kecil saja saya sudah kalah, bagaimana saya bisa menang dalam pertarungan lebih besar. 

Saya mengkhawatirkan diri saya yang sudah dalam tahap meratapi masa lalu tanpa menyadari bahwa saya masih hidup sampai sekarang. saya menyesali banyak hal yang menurut saya terbuang percuma sedangkan pada dasarnya saya masih bisa perbaiki dari sekarang. saya membenci diri saya yang sangat kurang berjuang dalam mencari ilmu namun sebenarnya saya bisa memulai dari sekarang meski dengan kondisi berbeda, dan ratapan-ratapan lainnya yang tidak perlu yang hanya semakin memojokkan saya dalam penyesalan yang sia-sia

3 Juli 2020

July 2, 2020

Tentang Waktu

sebenarnya sudah sangat klise untuk mengatakan bahwa "gunakan waktumu sebaik-baiknya karena waktu laksana busur panah yang melesat tak terkendali dan tiba-tiba kita akan sadar sudah berada di ruang yang sudah sangat jauh terbawa waktu, kemudian kita menyesali apa yang sudah terlewat"

iya sangat klise mendengar hal seperti itu karena setelah momen perenungan berlalu, saya kembali ke rutinitas menunda - nunda dan membuang waktu secara percuma.

hingga kemarin, saya menyadari bahwa staf baru yang direkrut kantorku dengan posisi yang sama denganku ternyata selisih 11 tahun lebih muda denganku. sebuah tamparan yang lebih keras bahwa harta berupa waktu yang selama ini kupunya, tercecer tak bersisa. jika saya bandingkan dengan rekan kerja yang seumuran denganku di kantor, mayoritas mereka telah menduduki jabatan yang berarti bahwa sebelumnya, mereka menggunakan waktu untuk menambah kapasitas diri mereka sedangkan saya hanyalah seorang pelamun bodoh yang terdampar di pinggir laut memandangi semua orang sudah berlayar ke tengah samudera.

saya kemudian mengingat ingat, kemana semua waktuku terbuang. saya melempar kenangan ke beberapa tahun silam. ketika tamat SMA, saya menganggur setahun tanpa melakuka  sesuatu yang berarti sehingga waktu saya setahun terbuang. tahun berikutnya saya kuliah selama empat tahun. anggaplah saya menggunakan waktu empat tahun itu meskipun dalam proses perjalanan kuliah saya, banyak sekali waktu yang hanya berlalu. kemudian setelah kuliah, saya menganggur dua tahun tanpa mengerti ke mana arah yang harus kujejak. sudah total 3 tahun terbuang percuma. 

Saya kemudian memutuskan merantau dan bekerja di Perusahaan. dua perusahaan saya lewati sebelum memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang sekarang. kurang 3 bulan lagi saya genap 6 tahun di perusahaan ini. lumayan panjang dengan kondisi yang tidak terlalu berubah. 6 tahun terakhir saya jalani dengan rutinitas yang sama. senin sampai jumat berangkat kantor jam 7, di perjalanan sejam kemudian pulang kantor jam 5, tiba di rumah ketika Maghrib berlalu. sabtu minggu saya habiskan random, kadang tidur sesekali keluyuran. 

Waktu saya habis dalam rutinitas tersebut tanpa ada prioritas ke depan, atau paling tidak, saya menyisihkan beberapa jam dalam seminggu untuk memperdalam ilmu kearifan. 

Saat ini saya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. saya menetapkan prioritas untuk bergelut di bidang akademisi setelah menyelesaikan pendidikan meski kadang pesimis dengan usia yang sudah tidak muda lagi namun baru memulai tetapi tak apalah

Semoga Semesta menakdirkan saya dalam impian yang sesuai dengan misi saya dihadirkan di bumi ini.

2 Juli 2020

July 1, 2020

Jalanan Jakarta

Saya sudah terlalu sering menulis tentang dinamika di jalanan Jakarta. sebuah fenomena yang menurut saya menjadi gambaran betapa manusia mempertontonkan dirinya bahkan termasuk saya. kalimat yang beberapa tahun saya katakan bahwa jika ingin menguji kesabaranmu pada level berapa maka hiduplah di jalanan Jakarta dan rasakan sensasinya. jika dalam sebulan atau beberapa bulan, kau mendapati dirimu mampu memaklumi dan bersabar atas semua yang terjadi di jalan Ibu kota ini maka kau termasuk orang yang sabar. saya yang sudah 6 tahun lalu lalang di jalanan Ibu kota dengan kendaraan motor, tidak sepenuhnya mampu menahan diri atas apa yang saya saksikan meskipun di beberapa kesempatan mungkin saya juga yang masuk dalam kubangan ketidakaturan tersebut misal menerobos lampu merah atau masuk jalur Busway.

Dua hari yang lalu, saya berangkat bersama isteri ke kantor seperti biasanya. setelah menurunkan isteri di bilangan Rasuna Said, saya putar balik ke arah Kebayoran baru. sebelum masuk ke terowongan Kuningan Timur, saya mengambil jalur kanan supaya memudahkan saya untuk mengambil jalur terowongan dan tidak menghalangi kendaraan yang akan mengambil jalur ke Gatot Subroto. sepersekian detik, saya merasa ada yang aneh karena bunyi klakson mobil di belakang saya beberapa kali terdengar, saya tidak bergeming karena merasa tidak ada yang salah dengan jalur yang saya lewati, kemudian saya disalip oleh mobil Yaris yang hendak belok kiri. saat tepat di samping saya, si sopir memperlambat laju mobilnya sambil mendongak ke arah saya dengan mimik muka yang kesal. saya berpikir keras apa yang salah dengan jalur yang saya lewati. saya memutuskan untuk melaju tanpa merespon si pengendara mobil.  

Tadi saat berangkat ke kantor, saat melintas di warung buncit yang lampu merah penyeberangan, seorang ibu sudah memencet lampu merah kemudian menyebang namun pemandangan yang saya lihat adalah kendaraan tidak peduli sama sekali, mereka mungkin berpikir bahwa lampu merah hanya di persimpangan itupun masih sering diterobos. 

Jalanan Jakarta memang menawarkan banyak hal dan satu yang pasti tentang bagaimana kita menguji kesabaran.

1 Juli 2020