January 31, 2023

In English (31)

After writing  in bahasa for a month, I'm going to write my daily life in english during next month in February. Writing in english is one of my effort to make it habit because I have to do it in supporting my academic writing.

January 30, 2023

Penelitian (30)

Setelah menyelesaikan tugas sampai setengah 2 subuh, tugas lain sudah menanti. Saya harus menyelesaikan proposal penelitian untuk disubmit. Lumayan menguras energi namun saya menikmatinya karena beberapa faktor, selain karena sesuai dengan apa yang saya impikan, juga karena saya sudah bisa fokus pada pekerjaan ini. Tidak ragu atas apa yang harus saya kerjakan.

Saya sedang menyusun sebuah proyeksi masa depan. Semacam step untuk menggapai setiap tangga yang harus saya kerjakan untuk sampai pada satu tujuan yang memang sudah saya impikan. Namun terlepas dari itu semua, saya sudah berikrar bahwa ini semua hanya cara menjalani hidup dan tujuan utama yang saya ingin gapai adalah bagaimana mendapat ridhaNya.

Saya ingat tahun lalu ketika masih berada di perusahaan sebelumnya, saya memimpikan bidang pekerjaan yang sekarang saya jalani maka seharusnya saya lebih banyak bersyukur dengan cara berusaha secara maksimal untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya.

Hidup itu adalah perjuangan karena setiap fase yang dijalani membutuhkan kerja keras dan komitmen yang kuat. Hidup bukan sebuah tujuan karena jika hidup merupakan tujuan maka manusia akan berhenti untuk bergerak. Ketika kita memimpikan sesuatu maka harus dipahami bahwa saat tiba di sebuah kondisi yang kita impikan maka persiapkan diri dengan segala kemampuan untuk menjalani kondisi yang kita impikan sebab tentu kondisi tersebut membutuhkan perjuangan.

Misalnya seseorang bercita-cita menjadi Tentara, maka tentu ketika mereka sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang Tentara, maka butuh energi yang lebih untuk menjalani apa yang mereka cita-citakan. Menjadi tentara bukan tujuan akhir namun sebuah proses perjuangan.

Jadi apa sebenarnya tujuan kita?

Tentunya dunia ini bukan tujuan namun perjuangan untuk mengisinya dengan nilai-nilai yang kita pahami dan berbeda-beda setiap manusia yang menjalaninya. Ada yang berjuang untuk keluarga, ada yang berjuang untuk masyarakat, dan berbagai perjuangan lain yang sangat kontekstual dengan kehidupan masing-masing pribadi yang menjalaninya.

Bagi umat yang mempercayai suatu agama, tentu tujuannya adalah kehidupan setelah dunia ini dan itu merupakan kehidupan kekal di mana manusia menikmati jerih payahnya di dunia ini.

#30 2023

January 29, 2023

Baraya (29)

Perjalanan kembali ke kota tempat bekerja selalu berat. Ada rasa yang susah diungkapkan untuk harus meninggalkan keluarga seminggu ke depan. Meskipun tetap saja pulang di weekend, tetap saja bahwa jiwa serasa melayang.

Rasa seperti ini sudah pernah saya rasakan sejak mulai meninggalkan rumah saat tamat SMA dan kuliah di kota. Setiap kali mudik selalu menyenangkan karena kembali ke rumah namun ketika waktunya kembali ke kota, rasanya begitu berat meninggalkan orang tua. Rasa seperti itu kembali muncul sejak saya bekerja di kota lain dan harus terpisah dari anak istri.

Saya kembali ke kota tempat bekerja, menggunakan jasa travel langganan. Hanya ada tiga penumpang di atas mobil sehingga memungkinkan bagi saya untuk tidur di kursi belakang sambil selonjoran. Saya menghabiskan perjalanan dengan tidur sampai menjelang tempat tujuan.

Seperti biasa, perjalanan kami lancar sampai tujuan meskipun tetap harus berdoa karena saya tiba di kota tujuan tepat jam 12 malam sedangkan saya masih harus menumpang ojek online menuju kos dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Perjalanan berat tersebut seringkali saya hapus dengan komitmen bahwa saya memilih pilihan ini dengan sadar tanpa paksaan dari siapa pun. Pilihan ini untuk mengisi hidup yang menurut saya sesuai dengan ide dan nilai yang saya percayai. Maka dengan ini, tidak seharusnya halangan ini menghilangkan niat awal saya karena sejatinya, setiap apa yang diusahakan memiliki tantangannya masing-masing. Tidak ada yang mudah untuk setiap pekerjaan yang harus dijalani.

#29 2023

January 28, 2023

Diskusi (28)

Saya selalu menghabiskan malam minggu dengan rutinitas diskusi dengan beberapa teman melalui media zoom. Diskusi ini semacam relaksasi setelah bekerja 5 hari dan tidak memberikan ruang bagi diri untuk merefleksikan apa yang dijalani.

Malam ini, kami banyak membahas tentang tema psikologi. Tema yang pada dasarnya tidak terlalu saya kuasai namun karena diskusinya tidak formal sehingga setiap dari kami bebas mengutarakan apa saja yang ada di kepala.

Ketika saya diberi kesempatan memberikan argumen tentang tema malam ini, saya membahas tentang diri saya yang saya alami selama ini. Perasaan yang benar-benar saya rasakan bahkan sampai pada titik ini. Fase di mana seharusnya sudah bisa menata hati namun saya masih bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.

Kenapa saya di sini? apakah sudah benar yang saya lakukan? apakah saya terlalu ambisi sehingga hati terasa kosong? Dan serangkaian pertanyaan yang sifatnya privasi menyeruak di kepalaku. 

Sepuluh tahun terakhir, saya benar-benar bergulat dengan diri sendiri. Semacam mempertanyakan makna hidup yang kujalani dan membenci banyak hal termasuk perasaan ingin membuktikan diri kepada dunia. Lalu setelah semua tercapai, kembali menjadi kosong dan hati terasa hampa.


#28 2023

January 27, 2023

Baraya (27)

Travel ini sudah saya akrabi sejak dua minggu lalu dan kemungkinan untuk beberapa bulan ke depan, saya akan semakin akrab dengan travel ini. Pulang ke rumah jumat sore kemudian berangkat lagi di minggu malam. Tentunya ini sebuah pilihan sadar yang sudah saya perkiraan sebelumnya. Saya sebisa mungkin tidak akan menyesali apa yang sudah saya putuskan sendiri.

Setelah seharian menghabiskan energi karena hari ini penutupan diklat sekaligus peer teaching, waktunya untuk pulang ke rumah. Sejak pagi, saya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menjalani tes yang menurut saya cukup menyita energi. 

Tes saya berlangsung dengan baik dan lancar meskipun menurut saya bahwa masih banyak kekurangan yang seharusnya saya perbaiki. Ada poin-poin penting yang masih terlewatkan namun setidaknya saya sudah mencobanya.

Di perjalanan sepanjang tol di dalam mobil travel, saya kemudian mendengarkan kembali rekaman saya yang memang sengaja saya rekam sebagai bahan evaluasi atas kekurangan yang masih saya alami. Benar saya bahwa menurut pendengaran saya, ada hal-hal yang ke depannya akan saya evaluasi sendiri.

***

Oh iya, travel ini selalu menjadi pilihan saya untuk pulang rumah karena sewa yang murah dibandingkan dengan kereta api. Selain itu, pool travel ini sangat dekat dengan rumah saya sehingga saya tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah ketika turun dari travel.

Saya tiba di rumah lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena beberapa saat sebelum memasuki Jakarta, hujan cukup deras sehingga jalanan tidak terlalu padat. Untungnya saat tiba di pemberhentian travel, hujan sudah reda sehingga saya bisa dengan nyaman memesan ojek online tanpa harus memakai jas hujan.

#Baraya 

#27 2023

January 26, 2023

Burnout (26)

Hari ini menjadi momen yang cukup melelahkan. Bagaimana tidak, sejak setengah delapan pagi, saya sudah menatap laptop dalam rangka mengikuti materi diklat via zoom. Siang hari istirahat sejam kemudian dilanjutkan sampai setengah 5 sore.

Sebenarnya materi sudah selesai di sore hari namun karena ada tugas yang harus diselesaikan esok hari, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk mengerjakan tugas di kampus. Jam menunjukkan setengah sepuluh malam namun tak kunjung kelar. Bukannya menunda namun lebih karena saya belum memahami tugas yang diberikan.

Saya memutuskan izin pulang sedangkan dua teman saya masih bertahan menyelesaikan tugas sampai setengah sebelas malam. Cukup melelahkan namun karena ini pilihan profesi yang saya putuskan maka saya tidak boleh mundur sampai pada batas maksimal kemampuan saya.

Sesampai di kos, saya rencana melanjutkan untuk mengerjakan tugas namun ternyata badan sudah tidak berkompromi.

***

Setiap kali ingin mengeluh atas tantangan yang saya hadapi, saya selalu mengingat kembali niat saya memilih tempat ini untuk berkarir dan alasan saya kenapa mundur dari perusahaan sebelumnya. Klise mungkin namun begitulah adanya, ada nilai yang saya pegang dan sedikit tidak sesuai dengan pekerjaan saya sebelumnya sehingga memutuskan untuk pindah meskipun sudah lama dan gaji yang sudah stabil.

Saya sedang berusaha membangun karakter diri untuk tidak terlalu terburu-buru dengan semua yang ada di depan. Tidak terseret dalam kegelisahan atas ambisi yang tak terkejar. Saya ingin tetap bekerja maksimal dengan tujuan yang sudah saya tetapkan bahwa akan istiqomah di jalan yang mudah-mudahan diridhai oleh Allah.

#26 2023

January 25, 2023

Academic Environment (25)

Long time before decide to resign from my previous workplace then move to the other place, I ensure myself that every single workplace has a unique things. But I had to leave it because something reason that I can't write out here. but anyway it didn't relate with my colleagues or boss but come from my bottom heart.

Whatsover, now I'm a part of academic field. It mean that I should be a astonishing lecturer eventhough there are so many  things that I have to learn to be a master in my subject and I'm sure that I can engage with my new routine.

Regadless of my duty, I'm really surprised when I realize that this workplace environment is so unconducive. I always imagine that academic field is a place that all the people being a good man and create a enjoyable place.

I find a dark side of the academic field. It's not like what I imagine before about that field.

#25 2023

January 24, 2023

Pekerti (24)

Seminggu ini, saya mengikuti diklat pekerti. Salah satu proses yang harus saya lalui untuk memastikan bahwa keputusan saya pindah di bidang ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sebagaimana diklat pada umumnya, tentunya berbagai materi dan tugas harus saya jalani dan kerjakan namun pada hari terakhir diklat, akan ada proses pengajaran untuk memastikan bahwa peserta sudah menjalani diklat dengan baik.

Malam ini, saya masih menimbang materi apa yang harus saya bawakan karena tentunya ini menjadi ujian tersendiri. Pada dasarnya ada solusi jitu yaitu membawakan penelitian saya yang sudah beberapa kali saya uji di depan publik dan tentunya ini akan memudahkan saya, namun saya berpikir jika materi tersebut yang saya bawakan, maka tidak ada progres dalam diri saya yang bisa saya ukur.

Saya sedang berusaha untuk menyelaraskan materi yang akan saya bawakan dengan materi yang nantinya benar-benar menjadi tanggung jawab saya. Selain sebagai sebuah proses untuk menguji kemampuan saya pada materi lain, juga sebagai ajang untuk mengasah keterampilan saya nantinya jika harus bertanggung jawab dalam membawakan materi tersebut di lapangan.

Semoga saja hari terakhir, mungkin jum'at, bisa saya jalani dengan baik dan benar dan tidak meninggalkan kesan yang kurang terampil. Tentunya kekhawatiran itu ada di sudut hati paling dalam karena saya belum benar-benar terjun di dalamnya namun sudah harus melalui diklat yang biasanya ditujukan untuk para senior yang berkecimpung terlebih dulu.

#24 2023

January 23, 2023

Rumus Kehidupan (23)

Kemarin, saya menghadiri acara keluarga besar dari istri yang akan mengadakan pernikahan. Tidak hanya satu namun sekaligus dua dari saudari sepupu istri saya yang rencananya akan melangsungkan pernikahan di tahun ini. 

Acara kemarin baru dalam tahap perkenalan keluarga dan penentuan tanggal lamaran. Sebuah acara yang seharusnya normal saja bagi sebagian orang. Semua orang sudah menyadari bahwa proses pernikahan di Indonesia melalui proses perjalanan yang panjang dan menghabiskan banyak biaya.

Namun demikian, saya tetap kaget mendengar pembicaraan antara keluarga besar istri sesaat setelah acara perkenalan keluarga. Mulai dari acara lamaran dengan segala tetek bengek dan estimasi biaya yang di luar prediksi saya, kemudian acara inti dengan berbagai embel-embel dan biaya yang lebih besar lagi.

Pada dasarnya, wajar saja karena keluarga besar istri termasuk kelas menengah ke atas yang cukup mapan dengan berbagai investasi yang tersebar baik yang mendatangkan passive income maupun investasi lain dalam bentuk tanah. Selain itu, mereka hanya mempunyai dua anak sehingga tidak terlalu memusingkan biaya pendidikan anaknya.

Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan rumus kehidupan yang menurut saya tidak bisa dikalkulasikan dengan akal pikiran. Bukan tentang pengeluaran biaya nikah yang besar namun tentang kondisi keluarga besar istri yang cukup mapan dan semua anaknya tidak neko-neko sedangkan mertua saya satu-satunya dari keempat saudaranya yang dari segi finansial, cukup jauh gap nya.

#23 2023

January 22, 2023

Insecure (22)

Beberapa tahun terakhir ketika menyadari bahwa saya sudah terlalu lama terpaku pada satu bidang pekerjaan, terkadang timbul perasaan inferior di dalam diri. Melihat orang yang lebih muda sudah mencapai posisi tertentu sedangkan saya stagnan pada posisi yang sama selama hampir sembilan tahun. Saya tidak bisa memastikan bahwa apakah itu sebuah kegagalan atau diri saya yang terlalu banyak pertimbangan.

Setelah pindah bidang dan memulai dari awal, perasaan itu semakin kuat karena mentor saya di tempat baru selisih umurnya hampir delapan tahun di bawah saya. Sebuah perasaan yang dalam kadar tertentu masih manusiawi karena semua orang menginginkan progres dalam setiap fase kehidupan termasuk juga karir. Jika hati tidak ditata dengan baik, perasaan inferior itu bisa merusak dan semakin menenggelamkan diri.

Namun kemudian, saya menyadari bahwa hidup bukan semacam lomba lari. Masing-masing orang mempunyai kecepatan yang berbeda dalam menjalankan fungsinya di dunia ini. Tidak harus menengok ke samping untuk menjatuhkan semangat diri karena semakin itu dilakukan, maka progres akan semakin jauh.

Kemudian apa yang perlu dilakukan?

Fokus pada tujuan diri sendiri. Melihat ke depan apa yang akan dicapai dan menjalankan setiap prosesnya tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, jangan sesekali mundur ketika menemui halangan dan rintangan karena hidup itu itu sendiri merupakan fase dari satu rintangan ke rintangan yang lain. Tidak ada yang mudah dalam hidup ini selain ketika kita sudah mati. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa pun sudah merupakan sebuah rintangan.

Saat ini, rintangan saya adalah menjalani proses menjadi seorang tenaga pendidik yang baik. Pengalaman yang minim dalam bidang ini tentunya semakin menambah rintangan yang harus saya selesaikan apatahlagi akan berhadapan dengan manusia yang tentunya mempunyai kepribadian yang berbeda.

#22 2023

January 21, 2023

Anak Sakit (21)

Salah satu kekhawatiran terbesar meninggalkan rumah dan bekerja di luar kota adalah ketika anak sakit dan butuh sosok seorang ayah, minimal ada di sampingnya untuk menghiburnya. Biasanya kecemasan serupa juga dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkan di rumah.

Kekhawatiran tersebut menjadi kenyataan. Setelah dua minggu lamanya mulai bekerja di kota lain, untuk pertama kalinya anak saya sakit demam. Sejak dulu dia sering demam namun karena saya ada di rumah jadi saya bisa melihat setiap perkembangannya. Kali ini saya jauh dan hanya mengontrol kondisinya melalui kabar dari ibunya.

Esok hari, demamnya bahkan mencapai 40 derajat celcius, cukup tinggi untuk ukuran anak-anak bahkan untuk ukuran suhu badan segitu, terkadang anak-anak seperti menggigil dan mengigau. Dia pernah mengalami demam yang cukup tinggi dan hampir pingsan di rumah sakit.


#21 2023

January 20, 2023

Kuliah (20)

Sejak memutuskan untuk menenggelamkan diri di dunia pendidikan dan berharap bisa menuntaskan karir di dunia pendidikan. Saya kemudian menyusun beberapa strategi yang akan saya jalani untuk mematangkan diri dan bisa berkontribusi di dunia pendidikan. 

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa keputusan untuk menenggelamkan diri di pendidikan bukan perkara mudah karena butuh adaptasi dan effort yang besar. Pengalaman bekerja di korporasi bisa menjadi modal untuk melanjutkan karir di pendidikan namun tidak semua hal bisa diterapkan. Memang ada beberapa hal dari pengalaman bekerja di korporasi yang bisa digunakan di bidang pendidikan misalnya profesionalitas, namun terdapat beberapa hal yang tentunya tidak sinkron.

Meninggalkan dunia industri dengan gaji bulanan yang sudah settle kemudian pindah ke dunia pendidikan dengan gaji yang hanya sekitar sepertiga dari gaji di korporasi, menjadi tantangan tersendiri. Ada semacam penataan hati ketika melihat angka di slip gaji yang jauh berkurang, namun demikian, saya harus meyakinkan hati bahwa niat pindah bukan gaji tetapi membawa nilai hidup untuk ketenangan diri.

***

Jika di dunia industri, saya tidak dituntut untuk melanjutkan kuliah, namun ketika memutuskan di dunia pendidikan, sebuah keharusan untuk sekolah lagi di tingkat selanjutnya. Menjadi akademisi artinya bahwa siap untuk menghabiskan sebagian besar waktu untuk belajar dan mengembangkan diri dalam berbagai hal. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pendidikan di negeri ini tidak dijalankan apa adanya namun harus ada nilai lebih.

Saya berharap dan berdoa kepada Sang Maha, semoga saja di tahun kedua, ketika sudah memahami pola dan proses di bidang ini, saya bisa melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya di salah satu kampus di luar negeri. Semoga keputusan ini mendatangkan kebaikan untuk anak istri, tidak malah sebaliknya.

Saya berdoa semoga semangat ini tidak luntur di tengah jalan dan tidak cepat angkat tangan ketika menemui tantangan termasuk persoalan finansial. Tidak bisa dipungkiri bahwa saya butuh dukungan finansial untuk menyelaraskan kehidupan keluarga dan profesi saya namun saya juga meyakini bahwa uang bukan soal hitung-hitungan, tetapi Semesta punya cara tersendiri untuk mencukupkan kebutuhan kita akan uang.

Kuliah lagi tentunya akan menjadi fase kehidupan selanjutnya di dua atau tiga tahun mendatang. Jika sebelumnya saya kadang ragu melanjutkan kuliah karena khawatir akan tanggung jawab namun saat ini, saya menyadari bahwa kuliah setinggi apa pun atau tidak kuliah sama sekali, manusia akan tetap memiliki tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan. 

Kuncinya terletak pada kesungguhan kita sebagai manusia untuk melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita masing-masing.

#20 2023

January 19, 2023

Menjaga Lisan (19)

Salah satu petaka paling berbahaya ketika manusia tidak mampu menjaga lisan. Ucapan yang terlontar biasa berbekas dalam waktu yang lama bagi orang yang mendengarnya. Maka alangkah bijak ketika setiap apa yang diucapkan bisa ditakar dengan matang dan tidak membuat orang lain terluka atas setiap lisan yang terucap.

Bukan, ini bukan tentang isu kritikan cak Nun terhadap presiden yang sedang trending di twitter. Sama sekali bukan.

Tulisan ini murni sebagai pengingat bagi diri pribadi karena tadi ketika di kampus, ada beberapa kalimat dan pertanyaan kepada kolega seharusnya tidak perlu kutanyakan. Apalagi aku sedang berintis tangga karir di tempat ini dan sedang berada di pijakan awal. Jika terlalu mencampuri hal-hal non teknis yang tidak ada hubungannya dengan perjalanan karirku, maka nantinya akan menjadi batu sandungan yang seharusnya tidak terjadi.

Seiring dengan umur yang semakin menua, aku mulai menata semua apa yang harus aku ucapkan. Bukan tentang benar atau tidak namun tentang apakah itu baik untuk orang lain. Menakar semua hal yang harus saya ucapkan apalagi untuk diucapkan.

Aku mempunyai begitu banyak waktu luang untuk berbicara dengan diriku karena sedang menyepi sendiri di kos. Praktis senin sampai jum'at merupakan hari-hari kesendirian dan seharusnya bisa saya manfaatkan untuk lebih banyak merefleksikan hidup.

Kesendirian tidak selalu mendatangkan hasil refleksi dalam hidup seseorang, namun terkadang kesepian itu menelurkan sebuah perasaan bebas untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan merusak diri. 

Kesendirian dan kesepian sebenarnya dua hal yang berbeda. Kesendirian sifatnya lebih pada keadaan seseorang di ruang dan waktu tanpa ada orang lain di sampingnya sedangkan kesepian itu urusannya dengan hati. Bisa saja orang berada dalam kesendirian namun tidak kesepian karena hatinya sibuk untuk menakar diri dan hidupnya bahkan sibuk bercengkerama dengan Tuhannya. 

Seseorang yang berada di dalam keramaian bisa saja kesepian jika hatinya kosong dan tidak tahu tujuannya.

Maka selama berada dalam kesendirian, saya mencoba untuk melihat jauh ke dalam diri saya, apa sebenarnya yang harus saya tuju di dunia ini agar hidup lebih bermakna. Dalam artian tidak harus sesuatu yang luar biasa di mata manusia namun lebih pada kemanfaatannya.

Menjaga lisan adalah satu satu refleksi termasuk juga langkah awal untuk menentukan arah ke depan. Lisan seringkali menjadi batu sandungan jika tidak dijinakkan.


#19 2023

January 18, 2023

Beli Motor (18)

Setelah sepuluh tahun bekerja di perusahaan, akhirnya untuk pertama kalinya saya membeli sepeda motor dan itupun motor bekas dengan harga yang super duper murah. Saya terkesan pelit karena tidak membeli motor selama sepuluh tahun bekerja namun karena belum menjadi kebutuhan sehingga saya memutuskan untuk tidak membeli motor.

Saat menjadi staf marketing di sebuah perusahaan penerbit, perusahaan menyediakan motor sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk membeli motor. Kemudian ketika pindah bekerja di Jakarta, kos saya sangat dekat dengan kantor alhasil saya tidak tertarik membeli motor. Itulah sebabnya kenapa selama sepuluh tahun bekerja, saya tidak pernah membeli motor.

Tibalah akhirnya saya pindah kerja di kota kembang. Tempat kerja saya terletak di tiga tempat meskipun jarak satu dengan yang lain tidak terlalu jauh namun tidak memungkinkan dijangkau dengan jalan kaki. Alhasil sejak minggu pertama di sini, saya sudah berniat untuk membeli motor bekas sebagai sarana mobilitas di kota ini.

Tentu saja saya mengandalkan aplikasi jual beli barang bekas untuk mencari motor yang sesuai dengan budget. Lebih dari sepuluh akun yang saya kirimi pesan untuk menanyakan motor yang diiklankan di aplikasi. Sebagian besar merespon pesan yang saya kirim namun hanya ada dua yang langsung saya cek kendaraannya.

Kemarin sore, saya janjian dengan salah seorang yang bekerja di transmart. Dia off jam tujuh malam sehingga saya yang datang ke lokasi tempat kerjanya. Motornya masih cukup mulus dan fisiknya juga tidak banyak yang tergores. Orangnya cukup bersahabat dan benar-benar ingin menjual motornya, namun ketika mengetahui pajaknya off empat tahun dan saya harus membayar pajak beserta dendanya sebesar satu juta enam ratus ribu, maka saya langsung mengurungkan niat untuk membeli motor tersebut.

Malam hari, saya kemudian chat dengan salah seorang ibu yang mengiklankan motornya di aplikasi. Setelah beberapa saat melihat foto motornya, saya tertarik dan kemudian berangkat ke lokasi mengecek kendaraan secara langsung. 

Saya menggunakan jasa ojek online menuju lokasi yang disepakati. Setiba di titik lokasi, ternyata saya salah mengetik titik tujuan di aplikasi ojek online. Titik lokasi bukan lokasi yang diberikan oleh si ibu. akhirnya semalam saya gagal mengecek langsung kendaraannya.

Esok harinya, saya kembali janjian dengan ibu di rumahnya untuk melihat motornya. Jarak kos ke lokasi sekitar enam km. Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah ibu karena patokannya tepat berada di depan taman bbws.

setelah melihat fisik kendaraan yang mulus, saya langsung tertarik. Saya masih mengamati setiap detailnya termasuk mengecek mesin dan surat-suratnya. Singkat cerita, kami deal di angka empat juta tujuh ratus lima puluh ribu. Harga yang menurut saya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan beberapa kendaraan yang diiklankan di aplikasi.

Akhirnya setelah sekian lama, saya membeli motor dari uang sendiri, meskipun motor bekas namun setidaknya saya berharap motor tersebut bisa menjadi alat bagi saya untuk memudahkan setiap aktivitas saya di kota ini.

Satu hal yang mengganjal karena plat motor B sedangkan saya berada di plat D. Bukan rahasia umum bahwa ada rivalitas yang sangat kental antara plat B dan plat D di bidang sepakbola bahkan sejarah rivalitas kedua kota tersebut cukup kelam. Beberapa tahun lalu, ada fans dari plat B yang meninggal dikeroyok di kota ini, bahkan sering kali kendaraan plat B dirazia di kota ini, itu yang menjadi satu-satunya kekhawatiranku menggunakan motor plat B di kota ini.

Semoga tidak terjadi apa-apa

#18 2023

January 17, 2023

Keadaan tak Menyenangkan (17)

Semalam saya balik dari Jakarta ke kota ini. Saya sengaja memesan travel yang berangkat agak malam karena beberapa hal, selain karena pool travel yang dekat dari rumah juga karena di malam hari, lalu lintas sudah tidak terlalu ramai.

Perkiraanku untuk tiba di kota ini tidak meleset, butuh waktu hanya sekitar tiga jam. Saya masih harus memesan ojek online dari tempat pemberhentian travel ke kos, mungkin jaraknya sekitar empat km, artinya bahwa hanya butuh waktu kira-kira lima belas menit untuk sampai di kos jika tidak macet. Tentunya kemungkinan macet sangat kecil karena jam sudah menunjukkan angka dua belas malam.

Dalam beberapa kali kesempatan menggunakan ojek online di kota ini, saya selalu menemui driver yang cukup bersahabat dan tidak ada permasalahan. Mereka cukup ramah jika dibandingkan dengan driver ojek online di Jakarta yang terkadang menampakkan muka datar.

Semalam saya menjumpai driver yang kurang bersahabat. Entah mungkin dia sudah capek atau seperti apa namun menurut saya, dia memberikan kesan yang tidak terlalu baik. Pertama kali saya menjumpai kesan kurang hangat yang ditunjukkan tukang ojek online selama seminggu menggunakan jasa ojek online di kota ini.

Perjalanan lancar saat dia menjemput saya di SPBU menuju kos saya yang terletak di daerah Batununggal. Setiba di lokasi, dia bertanya mengenai jalan menuju kos saya, berhubung karena saya belum benar-benar hapal jalanan, saya mencoba mengingat-ingat patokan jalan menuju kos. Ketika dia mengetahui bahwa saja bukan orang asli di sini, raut mukanya berubah.

Saya tidak tahu persis kenapa sikapnya berubah karena kami tidak kesulitan untuk sampai di depan kompleks kos. Saat turun dari motor, dia sedikit komplain atas titik lokasi yang saya klik di aplikasi. Akhirnya saya menunjukkan bahwa lokasi yang saya pilih di aplikasi sudah sesuai dengan lokasi kos. Saya bahkan menunjukkan nama jalan yang tertulis di pinggir jalan. Dia langsung pamit pergi ketika saya hendak menunjukkan nama jalan.

Setiba di kos, saya berpikir bahwa selalu saja ada orang atau ada hal yang mungkin tidak berkenan di hati. Saya harus siap untuk semua kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi termasuk interaksi dengan orang lain yang mungkin saja tidak berjalan dengan baik. Saya hanya ingin memastikan bahwa sikap saya tidak menzalimi orang lain.

Di manapun kita berada, semesta akan selalu memberikan kita dua keadaan yang berbeda. Sikap kita hanya bagaimana menyikapi keadaan yang mungkin saja terjadi di luar kontrol diri kita. 

Jangan jumawa ketika berada di atas dan jangan berkecil hati ketika sedang berada di bawah.

 

 #17 2023

January 16, 2023

Senin (16)

Tidak salah jika banyak orang beranggapan bahwa bekerja itu capek namun lebih melelahkan ketika tidak bekerja. 

Hari ini, biasanya saya sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat ke kantor. Namun kali ini saya tidak melakukan apa-apa, hanya mengantar istri saya ke kantor kemudian kembali ke rumah dan tidak sepanjang hari. Begitu mengerikannya jika tidak ada kegiatan yang harus dilakukan.

Hari ini memang menjadi senin pertama saya sudah tidak bekerja di kantor lama. Sebuah kondisi yang cukup membuat diri saya baik fisik maupun psikis untuk beradaptasi dengan hal baru. Sembilan tahun menjalani proses yang sama di kantor sebelumnya tentunya menimbulkan semacam gerak mekanis di diri saya, namun semuanya berubah setelah memutuskan untuk keluar dari perusahaan.

Sebenarnya saya hanya pindah tempat kerja namun berhubung pekerjaan baru yang saya jalani berbeda dengan perusahaan yang sebelumnya maka tentunya banyak hal yang kemudian harus saya pelajari untuk tetap survive.

Jika sebelumnya saya sudah cukup memahami pekerjaan yang harus saya lakukan namun di tempat kerja yang baru, semua serba dari awal, bahkan membutuhkan energi dan effort yang lebih untuk belajar karena selain hal-hal administratif, saya juga harus menghadapi orang lain, artinya bahwa jika saya tidak berhasil memahami bidang saya maka tentunya akan tidak tersampaikan dengan baik.

#16 2023

January 15, 2023

Amal (15)

Hari jum'at kemarin merupakan jum'at terakhir saya tercatat sebagai karyawan di kantor yang sudah saya tempati sejak 9 tahun lalu. Ada banyak hal ingin saya tulis tentang kenangan di kantor tersebut namun pada akhirnya tidak semua harus saya sampaikan. Ada memori yang sebaiknya disimpan sendiri jika tidak bermanfaat untuk diceritakan.

Saya memutuskan untuk salat jum'at di masjid belakang. Mayoritas teman kantor salat jum'at di masjid DT yang jaraknya lumayan jauh dari kantor, namun beberapa bulan terakhir, saya lebih sering salat di masjid belakang. Selain karena jaraknya dekat akses jalannya juga tidak terlalu ramai dengan kendaraan.

Khutbah Jum'at membawa kisah tentang seorang pencari ilmu dari kaum Quraish yang memiliki cukup banyak kitab, bahkan dia memiliki berpeti-peti kitab namun tetap saja tidak puas akan ilmu yang diperolehnya.

Dari kisah tersebut, khatib menjelaskan lebih lanjut mengenai ilmu menjadi tidak bermanfaat karena tiga hal:

  • Cinta dunia. Ketika seorang pencari ilmu terlalu cinta dunia maka kemungkinan ilmu yang dimilikinya tidak akan bermanfaat bagi orang lain. Itulah sebabnya ketika kita menjumpai seseorang yang memiliki keluasan ilmu namun karena orientasinya cinta dunia maka seringkali ilmunya tidak bermanfaat.

  • Berteman dengan setan. Sederhananya bahwa orang yang berteman dengan setan adalah orang yang keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh agama.

  • Zalim kepada orang lain. Banyak hal yang berkaitan dengan tindakan zalim kepada orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Itulah kenapa kita sebaiknya memperbanyak minta maaf kepada orang lain karena bisa saja kita merasa tidak menzalimi orang lain namun atau ucapan dan tindakan kita yang tidak berkenan di hati orang lain.

Saya selalu percaya bahwa apa yang kita dapatkan dari sebuah majelis biasanya berkaitan dengan apa yang sedang kita jalani. Saya sedang dalam proses mencari ilmu dan menyebarkan ilmu sehingga dari khutbah tersebut, saya bisa mengambil pelajaran bahwa untuk menghindari ilmu saya yang mungkin saja tidak bermanfaat maka saya harus menghindari tidak hal yang dijelaskan oleh khatib.

#15 2023

January 14, 2023

Coaching (14)

Saya akhirnya menjalani salah satu proses di kampus ini yaitu coaching dengan ka prodi pada hari kamis. Sebenarnya bukan pada teknis coaching namun lebih pada pengenalan berbagai hal tentang teknis maupun non teknis yang harus saya jalani selama proses menjadi bagian di kampus ini.

Ada begitu banyak tetek bengek administrasi yang tentunya tidak bisa saya pelajari sekaligus. Butuh waktu untuk memahami satu persatu dengan cara learning by doing. Tahapan yang sudah saya perkirakan sebelumnya bahwa tidak ada proses yang mudah namun di satu sisi juga tidak ada yang sulit, semua tergantung bagaimana menjalani proses dengan mindful untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Ada 14 file yang harus saya persiapkan sebelum kelas dimulai. Sebuah proses persiapan yang cukup banyak mengingat saya sama sekali masih baru dalam bidang ini. Dokumen tersebut sudah harus selesai dalam jangka waktu tertentu untuk memperlancar pembelajaran.

Saya cukup kaget karena selain tim yang masih minim, saya langsung dipercaya untuk mengerjakan hal-hal yang masih baru. Ada berbagai banyak kekhawatiran yang menggelayut di pikiranku namun selalu saya yakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri tanpa paksakan orang lain makanya saya harus bertanggung jawab atas apa yang sudah saya putuskan.


#14 2023

January 13, 2023

Tujuan (13)

Baru genap tiga hari saya beraktivitas di tempat yang baru dengan bidang yang sama sekali masih baru. Semua hal-hal idealis di kepala saya seketika mulai tenggelam dengan proses yang akan saya lalui. Salah satu tantangan terbesar adalah latar belakang pendidikan saya yang tidak persis sama dengan jurusan tempat saya bernaung. 

Hal ini sangat mengganggu proses adaptasi saya apalagi di hari pertama, saya sudah diberikan bocoran bahwa akan mengampu bidang tentang ekonomi. Sebuah bidang yang tentunya tidak asing namun bukan spesialisasi saya yang lebih pada bidang politik. Berkali-kali saya memastikan diri bahwa saya bisa melewatinya namun setiap kali membaca beberapa bahan terkait subjek yang harus saya kerjakan, terbayang kesulitan karena teori dasarnya pun saya tidak kuasai.

Pada dasarnya, masih ada keterkaitan antara spesialisasi saya dengan bidang yang sekarang diamanahkan kepada saya namun lebih banyak ketidaksesuaiannya. Entahlah mungkin karena saya terlalu terburu-buru untuk memutuskan mengambil kesempatan ini. Namun di sisi lain, jika saya mengabaikannya maka tentunya saya khawatir kesempatan kedua tidak akan menghampiri lagi.

Kemudian apa yang menguatkan saya untuk menjalani proses yang sedang saya jalani meskipun nampaknya cukup berat? Tentunya ada pada kata "niat."

Saya memiliki beberapa alasan sehingga memilih untuk putar haluan dari pekerjaan sebelumnya ke bidang yang sekarang saya geluti meskipun masih sangat baru. Namun alasan utama adalah sebuah nilai yang saya yakini. Life values itulah yang kemudian akan selalu menguatkan saya setiap kali saya merasa tidak bisa dan ingin mundur.

Saya sudah menguatkan hati bahwa apapun tantangannya, saya harus menerobos saya pada kemampuan maksimal saya karena jika saya balik arah, konsekuensinya cukup berat, saya hanya akan ngendon di rumah sedangkan isteri saya yang memikul beban. Saya sama sekali tidak mau hal tersebut terjadi karena tulang belulang isteri saya sudah cukup lelah secara fisik maupun psikis menemani hidup saya. Minimal saya punya sedikit andil untuk menyenangkan hatinya dengan melihat saya tetap berdiri di tempat ini dengan segala beban yang ada.

Kembali lagi ke niat bahwa tujuan saya bekerja adalah bagaimana fokus pada tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kualitas diri termasuk nilai ibadah. Saya sedang berusaha untuk mengukur diri dari setiap hal yang saya lakukan termasuk pada hal-hal terkecil apalagi jenis pekerjaan yang harus saya tekuni selama hidup.

Saya meyakinkan diri bahwa bidang yang saya jalani sekarang bisa membawa saya ke arah yang lebih baik dan tidak ragu atas setiap apa yang saya dapat dari sini sepanjang saya benar-benar melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

#13 2023

January 12, 2023

Rapat (12)

Hari ini, pertama kalinya saya ikut rapat fakultas yang membuka cakrawala berpikir saya bahwa bekerja di tempat dan bidang apapun pada dasarnya sama saja. Saya sudah menyadari hal tersebut sebelum memutuskan untuk pindah kerja, namun keputusan tetap saya ambil bukan karena menghindari pekerjaan sebelumnya namun berkali-kali saya sampaikan bahwa ada nilai yang coba saya perjuangkan. 

Jika seandainya pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran saya, maka setidaknya saya tidak mati penasaran karena sudah menjalani dan masuk di dalamnya. Namun jika sesuai dengan target yang saya impikan, maka apa yang saya kerjakan mengarahkan saya pada hidup yang saya jalani dengan tenang.

Rapat fakultas membahas tentang segala hal teknis bukan hanya tentang kegiatan belajar mengajar namun juga tentang faktor pendukung. Ada begitu banyak deadline yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, sehingga tentunya akan menyita waktu para pengajar untuk melakukan penelitian yang berkualitas.

Saya baru menyadari bahwa keluhan sebagian besar tenaga pengajar tentang banyaknya tugas administrasi, benar adanya. Mereka seringkali terdistraksi namun melakukan penelitian yang berkualitas karena tugas tambahan yang tidak ada habisnya. Tentunya ada yang tetap survive dengan keadaan seperti itu namun sebagian besar menyerah dan hanya sekadar mengikuti pola yang ada.

Bayangan saya di dunia akademisi adalah adanya iklim dialektika yang berlangsung terus menerus untuk melahirkan berbagai karya demi kemanusiaan dalam bidang apapun, namun ternyata mereka yang seharusnya melahirkan ide-ide segar ternyata sudah tidak punya energi karena kehabisan bensin mengerjakan tugas administrasi.

Saya menyadari bahwa apa yang akan saya lalui tidak lebih mudah dari proses yang saya lalui di perusahaan sebelumnya. Bayang-bayang tentang dunia yang penuh dengan dialektika samar-samar meredup diganti dengan kesibukan mengurusi semua persoalan administrasi dan teknik lainnya yang hanya bersifat pendukung dalam dunia pendidikan.

Hambatan terakhir mungkin seperti yang dikeluhkan sebagian orang yang berkecimpung di dalam bidang ini bahwa finansial tidak terlalu besar sebagaimana kita bekerja di korporasi. Namun begitulah konsekuensi dari semua pilihan sehingga saya selalu meyakinkan diri bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan materi khususnya uang. Ada nilai yang tidak bisa terbeli dengan uang dan itu sangat besar implikasinya terhadap hidup seseorang jika digadaikan begitu saja. Namun kembali ke masing-masing pribadi. Semua orang punya prioritas hidup  yang tidak bisa saling diperbandingkan. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya hanya dengan menilai hal-hal yang empirik.

Saya mencoba untuk meraba strategi apa yang harus saya gunakan untuk tetap produktif ke depannya tanpa mengabaikan tugas tambahan.

#12 2023

January 11, 2023

Tinggal di Kos (11)

Setelah sekian lama sekitar 8 tahun yang lalu, terakhir kalinya saya tinggal di kos di daerah Jakarta Timur. Tahun ini, kemungkinan saya akan merasakan suasana kos di kota lain. Sebuah siklus kehidupan yang berulang. Jika bedanya dulu saya masih bujang dan harus tinggal di kos, sekarang saya sudah punya keluarga dan terpaksa tinggal di kos karena bekerja di kota yang berbeda dengan keluarga.

Cukup berat untuk ukuran saya dengan kondisi sekarang untuk memulai hal yang baru bahkan dengan pendapatan yang tidak sebesar sebelumnya namun saya paham bahwa ini konsekuensi dan saya keputusan ini saya ambil secara pribadi tanpa ada paksaan sama sekali dari siapa pun.

Perkara mencari kos semacam mencari jodoh, terkadang bagus namun tidak jodoh. Seringkali sudah diincar dalam waktu lama tetapi tidak berjodoh namun kadangkala hanya sekali liat dan langsung cocok.

Untuk sementara, kos yang saya sewa tempati saat ini cukup layak untuk ukuran saya sebagai pemula di kota ini. Letak kos tepat berada di belakang kampus sehingga tidak butuh waktu untuk berangkat ke kampus. Bangunan kos masih baru namun hanya terdapat empat kamar. Hal tersebut karena bangunan tersebut hanya merupakan sisi luar dari rumah sang pemilik yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal, alhasil, si pemilik memutuskan untuk merenovasi sebagai rumah kos.

Awalnya ibu kos agak berat menerima saya karena kos tersebut ditujukan untuk perempuan. Ibu kos berpandangan bahwa alangkah baiknya untuk perempuan saja karena risiko lebih kecil apalagi dia jarang di rumah karena masih bekerja di salah satu instansi pemerintah. Namun setelah saya menjelaskan bahwa aktivitas saya di kampus dan sudah berkeluarga, maka dengan sedikit berat hati, si ibu kos menerima saya menempati kamar nomor dua.

Ibu kos sangat ketat sebelum menerima saya. Awalnya saya hanya berkomunikasi lewat telepon namun dia tidak mau menerima saya jika tidak bertemu langsung. Akhirnya saya harus menunggu sore hari karena dia biasanya pulang kantor jam 4 sore. Setelah bertemu, banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang disampaikan kepada saya. Salah satunya adalah mewanti-wanti saya untuk tidak membawa perempuan ke kamar.

Setelah semalam tidur di kos, saya cukup merasa aman dengan berbagai kondisi yang ada. Lingkungannya cukup aman dan tidak berisik. Kondisi bangunannya cukup bersih karena masih baru dan hawanya tidak panas sehingga di malam hari, saya tidak harus menggunakan kipas angin.

#11 2023

January 10, 2023

Anak Saya Sudah Mengerti (10)

Pagi tadi sekitar jam sepuluh, tiba-tiba saja istri saya mengirimi sebuah pesan yang berhasil meruntuhkan pertahanan diri saya sebagai seorang pejuang LDR. Pesan singkat melalui wa yang mengiris lubuk hati terdalam. Istri saya mengirimi pesan dengan redaksi seperti ini:

"Damar teko omah iso omong aq setiap tahu motor ingat papa."

Hati saya runtuh dan bulir-bulir air di sudut mata berhamburan. Perih rasanya menyadari bahwa anak saya satu-satunya ternyata sudah mendemonstrasikan perasaannya tentang ketidakberadaan saya di rumah. Memang sejak dia lahir sampai di saat umurnya yang sudah menginjak lebih dari enam tahun, saya tidak pernah meninggalkannya terlalu lama. Maksimal seminggu dalam sebulan ketika saya sedang ada tugas audit di luar kota.

Namun kali ini, saya benar-benar pergi untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan saya tinggal di kota yang berbeda. Meskipun saya masih bisa pulang setiap weekend karena jarak kota tempat saya tinggal hanya sekitar 3 jam, namun tetap saja bahwa ada sesuatu yang hilang. Dia sudah terbiasa menyambut saya setiap kali pulang kantor dan sekarang tidak bisa lagi dia lakukan setiap sore menjelang malam.

Saya menyadari bahwa saya terlalu mengabaikan perasaannya. Saya tidak mencoba untuk mengerti apa yang dia rasakan selama saya harus pergi di minggu sore dan baru pulang ke rumah di malam sabtu. Mungkin saya adalah seorang ayah yang egois karena mementingkan karir namun apa daya, pilihan sudah ditetapkan dan harus dijalani karena mudharatnya lebih besar jika saya meninggalkan pekerjaan dan harus di rumah tanpa ada kegiatan apa-apa.

Saya terlalu menggampangkan persoalan LDR karena melihat teman-teman saya banyak yang LDR bahkan mereka tidak sempat pulang seminggu sekali karena jarak yang cukup jauh dan biaya yang mahal. Ternyata jauh dari anak bukan persoalan mudah yang bisa dinarasikan dalam sebuah komitmen dan tidak semudah ketika diucapkan. Jauh dari anak merupakan pekerjaan berhari-hari untuk menguatkan hati dan perasaan mendalam atas kerinduan terhadap seorang anak.

Ada banyak cerita tentang seorang ayah yang jauh dari anak istri namun di lain sisi, ada juga cerita tentang seorang ayah yang memutuskan untuk bekerja apa saja untuk tetap bersama dengan anak istri. Cerita kedua datang dari teman saya yang memilih sikap untuk tidak akan pernah jauh dari anak istrinya. Dia akan memutuskan untuk resign dari perusahaan jika seandainya dia dimutasi keluar kota yang mengharuskan tinggal jauh dari anak istrinya.

Saya mengapresiasi sikapnya yang mampu menjaga komitmen untuk tetap dekat dengan anak istrinya sementara saya memutuskan untuk bekerja di kota lain karena tidak ingin membebani istri saya sebagai pencari nafkah.

Hidup adalah jalan sunyi masing-masing manusia dengan segala dinamikanya. Saya yakin bahwa semua manusia punya strategi hidup masing-masing dengan segala pertimbangannya, saya pun demikian. Salah satu pertimbangan terbesar saya dalam menjalani hidup adalah menjaga apa yang masuk ke dalam perut. Saya sekuat tenaga untuk menjaga kebersihan nafkah yang akan kami makan sekeluarga sekalipun harus jauh dari anak istri.

Ini baru permulaan dan saya sudah mengeluarkan energi yang cukup besar untuk menahan rindu saya terhadap anak. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa ke depannya karena perjuangan baru saja dimulai.

Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana awal.

#10 2023

January 9, 2023

A Day in My Life (9)

Hari saya akan memulai hari yang baru. Subuh dini hari, saya sudah bangun dan menenangkan diri sambil merapalkan berbagai doa semoga Sang Maha menemani dan memampukan saya melewati semua proses hari ini. Salah satu fungsi doa ada untuk meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan baik-baik saja.

Selepas subuh, saya melanjutkan tidur karena badan masih terasa penat. Saya baru terjaga sekitar pukul tujuh kurang 10 menit. Ada pesan wa dari isteri memastikan bahwa apakah saya sudah memberitahukan pihak kampus bahwa saya sudah di kota ini.

Berhubung karena saya belum memberitahukan pihak SDI, saya kemudian mengirimi kabag SDI pesan via wa bahwa saya sudah di lokasi. Pihak SDI menyampaikan bahwa jam sembilan saya melapor ke kampus I.

Berhubung penginapan ke kampus tidak terlalu jauh, maka saya memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati suasana baru. Hanya butuh sekitar 7 menit untuk tiba di kampus. Setelah menunggu beberapa saat, saya bertemu dengan bagian SDI dan menandatangani kontrak. Setelah itu saya diperkenalkan dengan semua staf administrasi di rektorat kemudian selanjutnya diantar ke kampus 2.

Di kampus 2 ini terdapat beberapa ruang kelas dan juga ruang untuk staf pendidik. Saya hanya menemui satpam kampus karena perkuliahan sedang libur. Ruangan saya di lantai 3 dan rekan yang lain belum ada yang masuk. Beberapa menit setelah menunggu di ruangan, salah seorang rekan datang dan ruangannya persis di samping saya.

Saya kemudian ditelepon oleh pimpinan fakultas dan diarahkan ke kampus 3 untuk perkenalan. Jaraknya tidak terlalu jauh namun tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Saya menumpang mobil ibu rektor yang juga akan berkunjung ke kampus 3. 

Setiba di sana, saya melihat kampus yang hanya 1 bangunan dan berada di dalam kompleks perumahan. Saya bertemu dengan dekan yang sedang duduk di bawah kemudian diajak mengobrol seputar pekerjaan.

Salah satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah beberapa subjek benar-benar tidak sama persis dengan latar belakang pendidikanku. Saya mulai berpikir, strategi apa yang harus kugunakan untuk tetap survive karena saya sudah memilih untuk di sini dan tidak ada jalan lagi untuk pindah. Artinya bahwa apapun harus saya lakukan untuk membuktikan kapasitas diri saya dalam bidang yang akan saya tekuni.

Bukan untuk mencoba memaksakan diri namun lebih pada sebuah adaptasi di dunia yang baru. Dunia yang saya pilih untuk fase hidup selanjutnya. Bidang ini merupakan pilihan sadar saya dari berbagai macam pilihan yang ada maka dari itu, saya pantang untuk mundur hanya karena mendapat tantangan.

 #9 2023

January 8, 2023

Mulai Dari Titik O (8)

Sampailah akhirnya di kota ini seorang ini untuk memulai hal-hal baru, meninggalkan keluarga di rumah dan mengikhlaskan diri untuk kembali menjadi anak kos demi sebuah harapan yang berusaha untuk diwujudkan. Berat memang namun saya rasa hidup seharusnya seperti itu, memicu percikan yang tak terduga sehingga kita selalu berharap pada Sang Maha Segala.

Saya tiba di kota ini tadi sore sekitar setengah lima dengan menggunakan mode transportasi kereta. Kepala saya lumayan pusing karena tempat duduk saya berlawanan arah. Saya seringkali pusing jika naik kereta yang tempat duduknya menghadap berlawanan dengan laju kereta. 

Saya kemudian menggunakan transportasi online menuju penginapan yang sudah saya booking secara online sehari sebelumnya. Penginapan tersebut tidak terlalu jauh dari kampus. Kondisi penginapan sangat standar karena sesuai dengan harganya yang lumayan murah. Tidak ada air mineral maupun pemanas air di kamar. Saya harus ke warung jika ingin menikmati secangkir kopi.

Besok pagi saya sudah memulai aktivitas yang baru. Bidang yang benar-benar baru bagi saya dan menyisakan kekhawatiran dalam pikiran. Apakah saya mampu menjalani proses yang tentunya penuh dengan tantangan yang tentunya tidak ringan. Salah satu kekhawatiran yang memenuhi kepala saya bahwa apakah saya bisa mengajar dengan baik sedangkan pengalaman mengajar saya hanya ketika ikut menjadi tutor beberapa kali sebuah program english day beberapa tahun yang lalu.

Selain itu, jurusan ini tidak persis sama dengan latar belakang pendidikan saya. Tentunya juga akan cukup menyulitkan karena harus memulai dari awal. Kenapa saya mendaftar di kampus ini jika tidak sesuai dengan jurusan saya? Alasan pragmatisnya karena pihak kampus menerima lulusan dari jurusan saya.

Momen awal yang seringkali menentukan dalam setiap peristiwa yang selanjutnya akan dilalui jadi saya pikir bahwa besok adalah penentuan apakah langkah saya akan mulus untuk hari ke depannya. Meskipun mungkin masih dalam proses perkenalan namun setidaknya bahwa saya harus menampilkan kesan pertama, bukan untuk pencitraan namun lebih pada sebuah penerimaan di tempat yang baru.

saya punya rencana jangka panjang jika proses yang akan saya jalani berjalan dengan baik. Saya rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya maksimal dua tahun untuk meniti karir dan menegaskan otoritas keilmuan saya di bidang yang saya tekuni. Tentunya tidak mudah karena banyak proses administrasi yang harus dijalani, namun saya harus merencakan dari awal sehingga waktu tidak terbuang dengan sia-sia mengingat usia saya sudah tidak muda lagi untuk memulai bidang yang baru.

Lihat bagaimana prosesnya besok. Semoga berjalan dengan lancar.

 #8 2023

January 7, 2023

Sehari Menjelang Keberangkatan (7)

Saya benar-benar akan meninggalkan rumah untuk waktu "mungkin" lama. Perasaan seperti ini terakhir saya rasakan ketika tamat SMA dan akan melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi. Ketika itu, ada rasa berat untuk meninggalkan rumah bukan hanya dalam artian bangunan, namun rumah dalam arti sebenarnya yaitu orang tua dan keluarga lain. Saya kira mayoritas orang yang akan merantau mengalami perasaan seperti yang saya rasakan.

Kali ini, momen seperti itu kembali berulang dengan konteks yang sedikit berbeda. Jika dulu saya sebagai anak yang harus meninggalkan orang tua, maka situasinya sekarang berbalik, saya sebagai seorang ayah harus meninggalkan putra saya yang baru berumur enam tahun. Paling cepat saya balik seminggu sekali sehingga momen ini menjadi salah satu momen tersulit dalam hidup saya sejak menikah.

Hari ini saya manfaatkan untuk menghabiskan waktu dengan anak isteri dengan makan di luar. Merayakan momen yang sebentar lagi akan tiba. Momen di mana kami harus berpisah selama seminggu dan hanya memungkinkan bertemu di akhir pekan atau bahkan mungkin bisa jadi sekali dalam dua minggu.

#7 2023

January 6, 2023

Pisah Sambut (6)

Setelah dua bulan lamanya memikirkan momen ini, akhirnya tiba juga dengan segala perasaan yang campur aduk. Hari ini benar-benar menjadi hari terakhir di tempat yang sudah mewadahi aktualisasi saya selama hampir 9 tahun. Cukup lama rasanya berada di tempat ini di mana ada banyak sekali pengalaman yang tentunya tidak bisa saya lupakan begitu saja.

Ada pernyataan yang cukup unik dari pimpinan saya saat memberikan pesan dan kesan. Pernyataan yang mungkin dianggap klise dalam ada yang menurut saya luput dari pernyataan tersebut. Pimpinan menyatakan dengan retoris bahwa "jika memang tidak ada masalah dan sudah senang dengan pekerjaan sekarang, kenapa harus resign?"

Memang hal yang lumrah ketika seseorang resign kemudian ditanya kesan terhadap suasana selama di pekerjaan sebelumnya, tentunya mereka akan mengatakan kesan yang baik karena bagaimana pun, perusahaan telah menjadi salah satu dari cerita hidup yang tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Resign dan kesan yang baik adalah persoalan berbeda. Setiap orang resign punya alasan yang tentunya itu tergantung terhadap prefensi pribadi. Ada yang resign karena gaji, lokasi kerja, bahkan nilai hidup yang diyakini. Begitulah lika-liku orang yang resign dengan berbagai alasannya, maka logikanya sedikit keliru ketika orang memberikan kesan yang baik terhadap perusahaan sebelumnya kemudian ditanya kenapa resign jika tidak ada masalah dan sudah senang di tempat sebelumnya.

Balik lagi ke cerita saya tentang hari terakhir menjadi bagian dari perusahaan ini. Saya menjumpai begitu banyak orang baik di perusahaan ini dengan berbagai ceritanya. Saya yang berasal dari kota nun jauh di sana dengan segala perbedaannya, selalu merasa inferior karena merasa berbeda namun orang-orang ini menerima saya dengan apa adanya. 

Salah satu persoalan yang sampai sekarang membuat saya merasa inferior adalah dialek yang tidak bisa saya samarkan. Saya tidak tahu pasti kenapa saya sangat sulit untuk sekedar menyamarkan dialek saya yang sangat kental. Namun ternyata perbedaan itu tidak menjadi persoalan berarti karena saya tetap diterima dengan baik.


#6 2023

January 5, 2023

Divorce (5)

Saya masih kaget mendengar cerita perceraian salah seorang teman lama yang berdomisili di Kota asal. Saya mengenalnya dengan cukup baik dan lumayan dekat sehingga saya tahu bagaimana kepribadiannya. Saya pun mengenal isterinya karena sebelumnya kami tergabung dalam sebuah organisasi. Keduanya dikenal sebagai orang baik yang kemudian menikah dan memiliki anak-anak yang lucu. 

Ternyata mereka sudah berpisah cukup lama, bahkan sebelum pandemi. Saya merasa bersalah karena dalam beberapa kali kesempatan saat teleponan, saya tidak sempat menanyakan kabar anak isterinya. Saya baru mengetahui kabar perpisahannya dari salah seorang teman yang lain.

Pada dasarnya, perceraian adalah hal yang seringkali terjadi dalam sebuah relasi pernikahan dengan berbagai alasan. Setiap orang punya strateginya untuk berdamai dengan relasi pernikahannya namun ada yang berhasil tetapi ada juga yang gagal dan berakhir perceraian.

Saya sendiri masih dalam proses berjuang untuk menjalani rumah tangga. Sebuah perjuangan abadi sampai pada titik akhir karena masalah akan selalu saja menghantui. Untuk saat ini, mungkin masalah ekonomi yang menjadi salah satu isu yang cukup signifikan dalam pernikahan saya meskipun masih dalam batas wajar. Apalagi bulan ini saya memutuskan untuk pindah kerja yang belum jelas bagaimana kondisinya dengan gaji yang tentunya turun dari gaji sebelumnya di perusahaan yang lama.

Hidup memang sangat misterius. Sesuatu yang terlihat tidak selalu sebagaimana adanya. Ada sisi yang tidak bisa dilihat dari setiap manusia. Mereka menyimpan banyak misteri tentang hidup ini. Maka benar adanya bahwa setiap manusia mempunyai masalahnya masing-masing. Kita tidak bisa menempatkan diri kita pada posisi orang lain dan itulah juga kita tidak boleh iri terhadap keberhasilan orang lain dan tidak merendahkan kegagalan orang lain.

Tetapi apapun itu, hidup terus berjalan dan kita dipaksa untuk tetap ikut dalam perjalanan itu. Apapun alasannya dan seberat apapun masalahnya, hidup terus mengalir dan menyeret semua orang di dalamnya.

I am still shocked to hear the divorce story of my friend who lives in our hometown. I know him well enough and close enough that I know what his personalities is like. I also know his wife because long time before, we joined in the same organization. Both of them are known as good people who later married and had cute children.

Turns out they had been apart for quite some time, even before the pandemic. I feel guilty because on several interaction when I called, I didn't have time to ask him what about his wife and children. I just found out the news of his separation from one of my other friends.

Basically, divorce is something that often happens in a marriage relationship for various reasons. Everyone has their own strategy for making peace with their marriage relationship, but some are successful but some fail and end in divorce.

I myself still in the process of struggling to live the household. An eternal struggle to the end because problems will always haunt. For now, maybe the financial aspect is one of the significant issues in my marriage even though it's still within reasonable limits. Moreover, this month I decided to resign from my previous job and start career in the new place where it is still mysterious how the conditions especially about the salary. The real fact about the salary that I will take home pay of course, less than the previous company.

Life is indeed very mysterious. Something that is seen is not always what it is. There is a side that cannot be seen from every human being. They keep many mysteries about this life. So it is true that every human being has their own problems. We cannot put ourselves in other people's positions and that is also why we must not be jealous of other people's successes and not despise other people's failures.

But whatever it is, life goes on and we are forced to stay along for the ride. Whatever the reason and no matter how serious the problem, life continues to flow and drags everyone in it.

 #5 2023

January 4, 2023

Kantin Kampus (4)

Hari ini saya memutuskan untuk mengambil cuti karena sisa jatah cuti tahunan masih sekitar lima belas hari. Sebenarnya saya memutuskan cuti karena ada janji dengan teman kuliah yang akan mengajukan jadwal sidang. Dia teman yang lumayan banyak membantu ketika saya menghadapi ujian akhir sehingga salah satu bentuk balas budi saya adalah menemaninya menghadap dosen pembimbing.

Selain itu, saya juga janjian dengan seorang teman dari pulau yang sama. Saya belum pernah bertatap muka dengannya karena interaksi kami selama ini melalui diskusi buku online. Dia salah satu anggota organisasi yang dulunya saya pernah menjadi ketua harian namun dia bergabung setelah satu sudah merantau, alhasil kami belum sempat bertatap muka.

Saya berangkat ke kampus setelah menikmati segelas kopi hitam dan beberapa potong kue. Selayaknya kebiasaan di pagi hari, saya lumayan sulit beraktivitas jika belum menyeruput segelas kopi hitam. Saya tiba di kampus lebih dulu karena teman saya masih harus mengurus dokumen untuk urusan sidang. 

Perpustakaan adalah spot paling asik untuk membunuh waktu di kampus jika tidak ada kegiatan. Selain bisa menikmati aneka buku, juga bisa menenangkan diri karena suasana perpustakaan pada umumnya hening. Semua pengunjung larut dalam samudera ide yang tertara dalam setiap lembaran buku.

Ternyata saya menunggu cukup lama karena teman saya baru tiba dua jam kemudian. Kami memutuskan untuk mengobrol di kantin samping fakultas. Obrolan kami tenggelam dalam suara obrolan mahasiswa lain yang sedang bercengkerama di kampus karena sedang jam istirahat. Kami bertiga karena salah seorang teman yang juga sudah wisuda, datang memberikan motivasi. 

Saya selalu menikmati suasana di kampus bahkan sejak kuliah di kampus terdahulu. Entah kenapa setiap berada di lingkungan kampus, ada perasaan bahagia dan tenang memandang semua sudut kampus  baik gerembolan mahasiswa maupun gedung-gedung kampus, entah itu perpustakaan, ruang kelas, fakultas bahkan kantin sekalipun.

Butuh waktu sekitar sejam kemudian dosen pembimbing teman saya muncul di kantin. Dia disuruh menunggu sampai selesai makan siang. Setelah agak lama menunggu, kami menyusulnya ke ruang fakultas, ternyata dia sedang bercengkerama dengan koleganya. Teman saya disuruh masuk ruangan kemudian saya juga pamit karena sudah janjian dengan teman lain yang dari kampung.

Saya menembus hujan deras menuju cikini karena sudah terlanjur janjian dengan teman yang dari kampung dan dia sudah menunggu di sana. Hujan yang cukup deras memaksaku mencopot sepatu supaya tidak basah. Tas kecil saya simpan di dalam baju karena berhubungan saya hanya punya jas hujan plastik tanpa celana.

Setiba di cikini, saya mengiriminya pesan melalui wa untuk janjian di perpustakaan. Meskipun kami belum pernah bertemu langsung namun tidak ada perasaan canggung karena kami sudah terbiasa mengobrol via zoom.

Ada banyak hal yang kami perbincangkan termasuk pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang remeh namun saya baru mengetahui dari ceritanya bahwa salah satu teman karib saya di kota asal, ternyata sudah cerai dengan isterinya empat tahun lalu. Dia cerai tidak lama setelah anak bungsunya lahir. 

Saya benar-benar kaget mendengar beritanya karena sepengetahuan saya, dia salah seorang kawan yang sangat baik dan rendah hati meskipun dikenal sebagai salah satu orang yang cerdas. Saya ingat sepuluh tahun lalu ketika anak sulungnya lahir, dia sedang berada di luar negeri bahkan kelahiran anaknya saya abadikan di blog ini.

Mendengar cerita perceraian teman saya, sejurus kemudian muncul berbagai kesimpulan di kepala saya bahwa memang hidup tidak bisa diukur secara kalkulatif pada setiap orang. Semua orang punya persoalan masing-masing. Ada orang yang mampu menyimpan masalahnya namun ada pula orang yang sangat ekspresif ketika punya masalah. Hidup adalah pertarungan masing-masing manusia untuk mencapai garis finis. Kita tidak bisa memaksakan standar kita dengan kehidupan orang lain.

#4 2023

January 3, 2023

Sentimental (3)

This week is going to be one of the most sentimental weeks of my life. How could be, early next week, I will start my new job as lecturer and move to the other cities which require me to be away from my wife and child. A condition that was previously unimaginable would leave my son, who was going through his childhood. I can only go home on weekend.

This decision must have gone through careful and long consideration. The decision I made with the consent of my wife for the sake of a dream and a better possible future. There is no result of life that is not fought for and no struggle that does not result in at least some.

This afternoon while at the office, my wife sent me a photo of my son who was at school. His innocent face is able to make my heart touched because imagining that soon I can only kiss him once a week. It very a sentimental moment. I came in to rest room and started crying.

These challenges did not make me down but on the contrary, strengthened my desire to be even more active for them. It's a cliché to say that but that's how it is, they are the reason to survive in the hustle and bustle of this city, in the crazy world.

While on the motorbike from my office to home, my wife confirmed that she intended to move to a city that was a little quieter. He named two cities that he thought were pretty peaceful and they weren't cities I would be going to any minute. This means that I must have a big picture for the future to make my dreams come true, at least I have tried.

Arriving home, I found my son who was crying for some reason. I took him out to buy ice cream. I really want to leave a good impression before I leave him for another city.

I ask him a more times to know what his thinking about my decision. He said okay give me a permission move to another city for the future. He is trying to understand my decision even I don't really know that he understand what will happen or not in the next.

#3 2023

January 2, 2023

Senin Terakhir (2)

Hari ini adalah senin terakhir saya berkantor ini perusahaan ini. Ada perasaan sentimental yang merasuk di relung jiwaku. Perasaan yang menurut saya lazim terjadi pada semua orang yang akan meninggalkan sebuah tempat yang sudah lama ditinggali. Rasa haru yang saya rasakan tentunya bukan semacam penyesalan karena keputusan ini sudah saya pikirkan secara matang dan dengan pertimbangan yang prinsipil. Hanya sekadar rasa yang tersisa pada kebiasaan yang sudah dijalani bertahun-tahun.

Pagi ini seperti biasa, saya dan isteri berangkat berboncengan. Saya terus memikirkan momen yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan. Di sepanjang jalan, saya mengamati semua detail yang saya lewati. Menghirup aroma sudah tidak lagi segar karena sedari subuh sudah dicemari oleh kendaraan. 

Pagi ini tidak terlalu padat sebagaimana hari senin pada umumnya. Mungkin karena sebagian karyawan masih mengambil cuti awal tahun dan juga anak sekolah belum masuk. Jalan yang tidak terlalu padat membuat perjalanan kali ini cukup lancar meskipun di beberapa titik, terdapat kemacetan karena jalanan yang sedang diperbaiki.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kantor isteri. Mengantarnya sampai di parkiran kemudian saya melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya sedikit mengalami hambatan ketika tiba di jalan Tendean. Entah karena saya terlalu di tengah jalan dengan laju yang pelan, sebuah motor dari belakang menggedor gas yang menandakan bahwa jalanannya terhalangi oleh laju kendaraan saya yang pelan.
 
Saya sedikit terpengaruh dan mengamatinya dari belakang, namun kemudian saya sadar dan seketika mengingat cerita Buya Hamka saat beliau dipenjara. Di pengantar buku Tasawuf Modern, Buya Hamka menceritakan kisahnya di penjara yang dibentak oleh aparat dan dituduh menjual negara ini ke Malaysia. Hatinya mendidih namun kemudian beliau sadar bahwa dengan kemarahannya yang tak terkendali, hanya akan membuat aparat menang dan dirinya kalah. Jika beliau menyerang aparat karena emosi, maka aparat mempunyai alasan untuk membunuhnya kemudian menyebarkan berita bahwa Buya Hamka ditembak karena berniat melarikan diri. Buya Hamka kemudian mengendalikan emosinya.

Cerita buya Hamka menjadi pegangan saya ketika dalam situasi marah. Pengendalian emosi cukup penting untuk mengalahkan diri dalam rangka memenangkan pertarungan yang lebih besar.

saya tiba di kantor dengan selamat. Sesampai di kantor, saya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Saya berniat untuk merapikan semua pekerjaan seminggu ini sebelum meninggalkan perusahaan ini. Saya akan merampungkan setiap detail pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab saya.

Saat waktu azan dhuhur, saya memutuskan untuk salat di masjid. Ketika sedang dalam perjalanan ke masjid, saya berpapasan dengan satpam kompleks yang sedang memegang handphone. Secara tidak sengaja, tangannya menyenggol pinggangku sehingga handphonenya jatuh. Saya melihat dia memungut hp nya sambil saya sampaikan permintaan maaf. Mungkin dia juga merasa bersalah karena ketika berpapasan, dia sedang menengok ke arah yang berbeda.

Sepulang dari masjid, isteri saya menyampaikan bahwa dia diberikan uang dinas sebesar 2 juta. Saya bersepakat dengan isteri agar uang itu tidak diterima dan disumbangkan ke masjid karena pada saat kegiatan di Bandung, isteri saya sedang sakit dan tidak mengikuti kegiatan namun namanya sudah terlanjut dalam daftar pegawai yang berangkat.

Kami tidak memungkiri butuh uang namun minimal kami bisa mengukur mana yang bukan merupakan hak milik. Apalah artinya uang 2 juta jika bukan hak sehingga akan merusak prinsip yang sudah dipegang dengan kuat.

#2 2023

January 1, 2023

First Step (1)

I woke up in early morning exactly 02.30. I went to pick up my mother-in-law. She arrived from village by train and get off at senen. There was something trouble because of rain so that the train came late. 

I had to wait about an hour before the train came. The time for the dawn prayer was approaching when my mother-in-laws got off the station, so we decided to took a pray before going home. Shortly before finishing the prayer, it rained quite heavily, forcing us to wait a while on the mosque's porch. Several train passengers who had just arrived were seen taking a rest in the mosque.

It's about 15 minutes passed, we decided to go home because the rain started to let up even though there was still a drizzle that was quite wet. There was a raincoat on the motorbike seat but because there was only one so my mother-in-law wore it while I was wearing a jacket made of thick material so that it held the rain water pretty well if it was just a drizzle.

The chilly dawn wind blows to the bone with the weather that is cold because of the drizzle that doesn't stop. Along the way, I put close attention to see if there were any potholes because the roads were quite slippery, especially because I was riding with my mother-in-law who are so old already. Several times it was hit by water splashes from speeding vehicles.

It took about an hour to get home. The distance from the house to Senen Station is quite far. The distance is one hour in quiet conditions, for example at night, but if it is during the day when the roads are busy, it is likely that the distance can take about 2 hours.

When I got home, I decided to continue sleeping because it was still raining. In my opinion, the most pleasant sleep is in the morning when it is raining. Such as like romantic condition that accompanies and makes sleep more soundly. I woke up about two hours later to continue drinking my coffee with some slices of toast.

At noon, we went out to deliver packages as well as buy the food for lunch. When passing through the road in front of the Ragunan Zoo, We can see vehicles waiting in line for quite a long time, maybe because today is the last day of school holidays, that's why most of the parents took their children spending time in public sphere like Ragunan. Some views that attract attention are seen passing by parents carrying their children or holding their hands towards the entrance to Ragunan.

The first day of the year, there is nothing special other than repeating the routines of the previous days. The euphoria of humans celebrating the new year is over with all the stories then returning to normal thinking about each strategy to continue life. There are many who write down their resolutions this year even though in the end, humans just need to survive and live life happily. Dreams are just tomorrow that hasn't happened yet so it becomes a mystery that shouldn't ruin today's happiness.

I myself have high hopes for this year. Unlike previous years, this year has become a momentum to determine my steps forward because at the beginning of the year, I decided to change jobs that required greater attention and effort. Of course there are two possibilities, whether I succeed or fail to live it.

That's why at this New Year's moment, I full attention keep my finger up for a prayer by bowing my head with hope, the Almighty accompanies my steps and strengthens me through the process that I will go through. The process is still a mystery because it is really a new thing for my life journey.

That's it, I can only try my best and will see the results a few months later.


#1 2023