Tepatnya kemarin, subuh dini hari aku sudah main internet menghabiskan pagiku sesaat setelah menunaikan shalat subuh. Tidak jelas apa yang harus dikerjakan memaksaku membuka youtube sekadar untuk membunuh waktu karena memang akhir-akhir ini aku lebih senang membuka youtube saat main internet dari pada membuka akun media sosialku atau pun membaca artikel.
Entah kenapa saat menonton di youtube, aku menonton tayangan penyerangan salah satu ormas agama terhadap warung namun itu bukan intinya, kebiasaanku saat menonton youtube juga sering membaca komentar-komentar tentang tayangan di youtube dan saat membaca salah satu komentar, ada yang mengkritisi Islam khususnya ibadah Haji. Komentar tersebut kurang lebih mengatakan bahwa haji adalah warisan budaya kaum pagan yang berlari mengelilingi ka'bah kemudian mencium hajar aswad dan komentar inilah yang kemudian menjadi cerita saya hari kemarin.
Pagi-pagi saat berangkat kerja, aku sudah menyiapkan semua. Mengendarai motor bututku seperti biasanya kemudian memutari kota ini, sialnya saat mengendarai motor, komentar yang di youtube tadi masih terngiang di kepalaku dan terjadilah diskusi dalam diriku apa iya ibadah Haji itu warisan kaum pagan?
Diskusi dalam diriku tersebut terus berlanjut sementara aku terus saja mengendarai motorku. Sampai lah aku di pertigaan dekat alun-alun yang kemudian menjadi pelajaran buatku hari ini. Tepat di pertigaan itu, aku melaju dengan kecepatan rata-rata dan dari arah yang berlawanan. Sebuah mobil angkot warna kuning pun melaju dengan cepat, sedikit saja aku hampir menabraknya. Sejenak setelah itu, diskusi dalam diriku buyar dan aku kemudian mengatur nafasku yang lumayan kaget.
Aku pun tersadar bahwa mempertanyakan hal yang sudah jelas kepastiannya dari Sang Pencipta membuatku ditegur dengan cara yang halus namun aku bersyukur bahwa aku ditegur dengan cara seperti itu dan sesaat setelah itu, aku mengakhiri perdebatan dalam diriku tentang Haji tersebut.
Aku sadar bahwa keyakinan itu tidak harus rasional karena hal yang rasional hanyalah indrawi sedangkan keyakinan lebih dari itu. Akal kadang memang tak puas tentang apa yang hati yakini namun itu bukan parameter untuk mencari kebenaran apa yang diyakini hati sebab hati mempunyai sesuatu yang lebih dalam menuntut kita mengarungi samudera kehidupan.
Pelajaran kemarin hari.