August 28, 2013

Tentang Menanyakan

Tepatnya kemarin, subuh dini hari aku sudah main internet menghabiskan pagiku sesaat setelah menunaikan shalat subuh. Tidak jelas apa yang harus dikerjakan memaksaku membuka youtube sekadar untuk membunuh waktu karena memang akhir-akhir ini aku lebih senang membuka youtube saat main internet dari pada membuka akun media sosialku atau pun membaca artikel. 

Entah kenapa saat menonton di youtube, aku menonton tayangan penyerangan salah satu ormas agama terhadap warung namun itu bukan intinya, kebiasaanku saat menonton youtube juga sering membaca komentar-komentar tentang tayangan di youtube dan saat membaca salah satu komentar, ada yang mengkritisi Islam khususnya ibadah Haji. Komentar tersebut kurang lebih mengatakan bahwa haji adalah warisan budaya kaum pagan yang berlari mengelilingi ka'bah kemudian mencium hajar aswad dan komentar inilah yang kemudian menjadi cerita saya hari kemarin.

Pagi-pagi saat berangkat kerja, aku sudah menyiapkan semua. Mengendarai motor bututku seperti biasanya kemudian memutari kota ini, sialnya saat mengendarai motor, komentar yang di youtube tadi masih terngiang di kepalaku dan terjadilah diskusi dalam diriku apa iya ibadah Haji itu warisan kaum pagan?

Diskusi dalam diriku tersebut terus berlanjut sementara aku terus saja mengendarai motorku. Sampai lah aku di pertigaan dekat alun-alun yang kemudian menjadi pelajaran buatku hari ini. Tepat di pertigaan itu, aku melaju dengan kecepatan rata-rata dan dari arah yang berlawanan. Sebuah mobil angkot warna kuning pun melaju dengan cepat, sedikit saja aku hampir menabraknya. Sejenak setelah itu, diskusi dalam diriku buyar dan aku kemudian mengatur nafasku yang lumayan kaget.

Aku pun tersadar bahwa mempertanyakan hal yang sudah jelas kepastiannya dari Sang Pencipta membuatku ditegur dengan cara yang halus namun aku bersyukur bahwa aku ditegur dengan cara seperti itu dan sesaat setelah itu, aku mengakhiri perdebatan dalam diriku tentang Haji tersebut.

Aku sadar bahwa keyakinan itu tidak harus rasional karena hal yang rasional hanyalah indrawi sedangkan keyakinan lebih dari itu. Akal kadang memang tak puas tentang apa yang hati yakini namun itu bukan parameter untuk mencari kebenaran apa yang diyakini hati sebab hati mempunyai sesuatu yang lebih dalam menuntut kita mengarungi samudera kehidupan.

Pelajaran kemarin hari.

August 25, 2013

Minggu Ini Lagi

Seperti hari minggu sebelumnya, hari minggu ini layaknya pengulangan minggu yang lalu. Setelah beraktivitas selama enam hari, minggu menjadi hari malas buatku, hanya terkurung di kontrakan yang sekaligus menjadi kantorku selama hampir tujuh bulan lamanya. Tidak ada yang istimewa bahkan keluar rumah pun jarang. Sesekali menonton TV setelah bosan menonton youtube dan kemudian tertidur lagi. 

Aku selalu berharap mendapat inspirasi di setiap mingggunya namun harapan itu selalu saja menguap di sore hari dan kembali menjadi sia-sia setelah senin datang karena aku harus kembali bergelut dengan aktivitas kerjaku yang membutuhkan mobilitas tinggi bahkan menulis yang seringkali mengusir rasa penatku pun akhir-akhir ini jarang kulakukan, benar-benar kemalasan dan kepenatan menyerangku.

Sejak merasa tidak sesuai dengan pekerjaan yang sedang kujalani, aku terkadang diam diri di hari minggu untuk mencari solusi. Sebelumnya aku mau menulis tentang ketidaksesuaianku dengan pekerjaanku sekarang bukan karena aku asal-asalan bukan pula karena aku menginginkan hasil yang instan dan juga pukan karena persoalan aku tidak tahan tekanan kerja namun hal dasar yang membuatku tidak sesuai dengan pekerjaan sekarang adalah masalah prinsip, prinsip yang selama ini aku genggam erat-erat seakan dibenturkan dengan sistem kerja yang membenarkan apa yang tidak dibenarkan oleh prinsipku namun aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh dan secara detail prinsip apa yang kumaksud. 

Kembali ke hari minggu ini bahwa sejak merasa prinsipku dikebiri di pekerjaan ini, setiap minggunya aku berusaha berpikir keras untuk memecahkan masalahku. Perlu juga aku tulis bahwa aku belum memutuskan resign karena masih ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan dan jika aku egois dan meningggalkan tanggung jawabku maka aku merasa pengecut terhadap orang yang kelak menggantikanku karena harus menyelesaikan tugasku yang harusnya aku selesaikan sendiri. Kondisi ini rasanya terjebak dalam situasi yang sangat membingungkan bahkan sering membunuh kreatifitasku.

Produktifitasku dalam menulis pun menurun drastis, semua hal yang ingin kutulis menguap begitu saja dan tak keluar sebagai barisan kata-kata. Kadang kuteriak di sudut rumah ini, kadang pula kudiam terpaku di samping kamar yang jarang sekali kubersihkan bahkan seringkali bercanda dengan rekan di sini namun pada dasarnya hatiku memberontak untuk mencari hal yang sesuai dengan dirinya. Semua hal yang aku usahakan belum jua memberiku inspirasi apa yang harus kulakukan untuk mengenal diriku dan mengetahui misi hidupku yang kelak akan kupertanggungjawabkan di hadapan Rabbku.

August 19, 2013

Tangismu

The first time I saw you cried. Really makes me feeling bad. you was crying in front me at the night and don't you know that when you cried, it's hurt me.definetely hurt me my sweety. I ever promise to myself that I don;t wanna see you sad but it's failed. Being someone who love you. I also ever promises to your mom that I'm gonna holds you in our every single time. today, you text me that the night is a really hard night for us.

Tangismu malam itu membuat malam ikut menangis bahkan saat fajar mulai menampakkan matanya untuk menggantikan malam yang penat mengiringimu, malam itu masih terlihat berkaca-kaca menyisakaan sedihmu yang tercurah malam itu, bahkan seakan tak rela meninggalkanmu di peraduanmu sendiri sambil memeluk bantal bulu yang menurutmu sangat engkau sayangi sebagai pengganti malam ketika dia jauh di kota lain.

Pagi itu tangismu mulai mereda seiring dengan cerahnya mentari pagi yang menanjak memberikan sinarnya kepada seluruh semesta. tangismu bahkan benar-benar telah reda senja ini. Tak ada lagi sisa-sisa air mata semalam, air mata yang hampir saja membuatku harus menghabiskan malam keduaku di kota surabaya seandainya saja engkau tidak memaksaku untuk pulang ke kotaku di persimpangan jalan yang menjadi pembatasan provinsi.

Right now, everthing going right, no more sorrow in your face and I gonna see you like this forever. I'm gonna holds you in my arms wherever I fly even out of your city. do you still remember all of our planning inside of the garden when we told manythings to twilight? you and me being two in one like a couple of dove flying in above us. freedom for everything and the world just like for them, you and me gonna break the world, making dream come true everything we want and becoming the world as our home forever.

malam dan pagi
seperti engkau dan aku
malam menjadi dirimu
menjelma dalam jiwamu
karena malam menyejukkan
dan begitupun engkau
selalu menyejukkan buatku
malam memberi kedamaian
dan kaupun selalu menghadirkan itu
dalam setiap hariku

aku seperti apgi
yang kadang panas
kadang pula dingin
bahkan sering tak mengertimu
dan membuatmu menangis
namun engkau tetap tabah
terpaku di sampingku
menyambutku dalam setiap suasana hatiku
tanpa ada tanya darimu

tahukah engkau apa arti setiap tanya?
karena dia hanya meragukan
namun itu benar-benar bukan dirimu
dirimu adalah diam, tenang dan mendamaikanku
selalu lah seperti ini

August 16, 2013

Pagi yang Menjawab

Malam itu, mungkin malam  yang menjemukan buatku juga buatmu, malam yang membuat perasaan kita  berkecamuk, entah itu senang, bahagia bahkan merasa sangat menyesali. Itu gambaran yang sering kita ceritakan pada pagi tentang malam kita saat itu, bukan hanya engkau namun aku juga. Malam yang membuat kita menikmati dinginnya semilir angin dengan sejuta rasa yang tidak abadi. Aku mencumbumu lebih dari mencumbu angin yang sering  menggodaku, aku memelukmu lebih dari memeluk malam yang gelap tanpa kehadiran bintang yang menerangi.

Entah hanya ingin mencoba ataupun karena suatu hal yang membuat pagi harus menyesali malam yang berlalu, seperti para pemabuk yang menyesali dirinya saat mabuk namun terulang saat kembali disuguhi berbagai jenis minuman.

Pagi ini benar-benar menampar kami berdua, menampar sampai terasa sakitnya di lubuk hati terdalam. Bagaimana tidak, janji-janji untuk menjalani malam dengan benar tak dapat kami patuhi, semua janji yang terikrar dari mulut kami hanyalah bayolan semu hingga saat pagi mengingatkan tentang khiilaf kami, barulah tersadar dan mula kembali menyusun janji untuk malam yang lebiih baik.

Kami terlah berjanji lagi bahwa saat kebersamaan kami di hari lain maka akn berjalan dengan aturan yang benar dan saling belajar serta saling mengingatkan, kami tidak ingin menjadi seperti berbagai jenis pasangan merpati yang terbang berduan dengan mesranya tanpa ada lagi aturan yang mengikat karena itu hanyalah nafsu.

Nafsu memang menyenangkan saat sedang dilakukan namun dia akan menjadi penyesalan yang begitu amat sangat ketika sudah dilakukan dan tiada terkira bahagianya sepasang angsa yang mampu menahan nafsunya sebelum fajar mengizinkan mereka melakukan itu.