May 29, 2022

Kematian #3

Dua hari yang lalu tepatnya di hari Jum'at, Buya Syafii berpulang. Saya mengira bahwa berpulangnya Buya adalah berita kepulangan terakhir yang akan saya dengar di bulan Mei, namun ternyata kematian yang dianggap sangat dekat dengan manusia, benar adanya. Tadi sore sepulang dari Bogor saat masih di kereta, saya dikabari bahwa salah satu ipar mertua saya meninggal. Pagi hari saat di kereta menuju Bogor, saya sudah dikabari bahwa almarhumah sedang dirawat di ICU.

Saya tidak terlalu dekat dengan almarhumah namun setidaknya, intensitas pertemuan kami cukup sering beberapa tahun belakang. Setiap pertemuan arisan keluarga, alm yang selalu menanyakan kabar saya maupun kabar orang tua saya. sebagai salah satu orang yang masuk sebagai keluarga baru, tentunya perhatian-perhatian kecil seperti nanya kabar sangat berarti bagi saya apatahlagi mereka adalah keluarga besar yang secara ekonomi semuanya mapan.  Sekali waktu entah di tahun 2017 atau 2018, saya pernah nginap di rumahnya dan merayakan idul adha. setidaknya saya tidak merasa kesepian di tanah rantau.

Kepulangan seringkali menyedihkan bagi yang ditinggalkan. Alm meninggal tepat ketika anak bungsunya akan mengikuti ujian sekolah keesokan harinya. Apatahlagi anaknya masih SMA yang tentunya masih membutuhkan sosok ibu yang sering membelainya. Anaknya menunda ikut ujian sekolah dan ikut dalam prosesi pemakaman ibunya bahkan saat dimasukkan di liang lahat, dia ikut monopang mayat ibunya.

Sejatinya bahwa tidak pernah ada orang yang siap menerima kepulangan orang tersayang namun ditinggalkan saat masa remaja tentunya meninggalkan sedih yang cukup dalam ketika kita masih membutuhkan bahu seorang ibu untuk bersandar setiap kali lelah dihempas kenyataan hidup yang seringkali tidak menguntungkan. Ibu adalah seorang penopang kehidupan yang mampu memikul anak-anaknya betapa pun beratnya hari-hari yang dilalui.

Saat pemakamannya, saya baru tahu bahwa bapaknya berasal dari sebuah kabupaten yang dekat dengan kampungku. salah satu adiknya menceritakan bahwa bapak mereka berasal dari sebuah dari yang sangat dengan dekat kampung saya. Saat mereka masih kecil, mereka sering diajak mudik ke sana oleh bapaknya. Saya juga lupa menanyakan apakah mereka masih punya sanak keluarga di sana.

29 Mei 2022

May 27, 2022

Kematian #2

Pagi kemarin sebagaimana biasanya, saya duduk di depan komputer sebelum memulai rutinitas kantor sambil memegang hp dan melihat satu persatu update status wa teman-teman. setelah beberapa status teman terlewati, samar-samar saya melihat status teman kampus yang mengcapture tulisan twitter, setelah saya baca dengan seksama, hati saya langsung terkesiap. dia mengupdate status tentang wafatnya mantan ketua Muhammadiyah sekaligus seorang bapak bangsa yang terkenal dengan kesederhanaannya, Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif

Perlahan serasa ada butiran air yang mengalir dari sudut mata saya. Saya terisak dalam diam mendengar wafatnya salah satu tokoh yang akhir-akhir ini saya ikut perjalanan hidupnya, seingat saya ketika kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, beliau mengeluarkan statement yang intinya menganggap bahwa Ahok tidak sedang melakukan penistaan agama. kelompok keagamaan yang tidak sepakat dengan pandangan beliau kemudian melancarkan berbagai cacian yang saya sendiri tidak mampu membaca maupun mendengarkan bahkan yang lebih sedih karena beberapa teman saya di kantor pun melakukan hal yang sama.

Bagaimana rasanya mendengar seorang figur Buya Syafii yang dicaci setiap hari oleh teman yang harus ketemu tiap harinya. Saat itu saya sama sekali tidak berarguman bahkan cenderung diam sekalipun diam saya juga dianggap sebagai partisipan yang tidak pro terhadap mereka. Teman-teman saya yang dulu ikut merisak Buya Syafii tidak pernah benar-benar menjadi teman ideologi saya, bahkan hanya sekedarnya sebagai teman biasa untuk menyambung silaturrahim. 

Begitulah caci maki yang diterima oleh Buya Syafii karena berpendapat sesuai kapasitas keilmuannya sedangkan orang-orang yang mencaci pun mungkin sama sekali tidak konsisten dalam mencari landasan ilmu untuk sekedar menyanggah apa yang disampaikan oleh Buya.

Seiring berjalannya waktu, kasus tersebut kemudian mereda dan sorotan terhadap Buya Syafii perlahan ikut mereda namun demikian, Buya Syafii tetaplah menjadi seorang panutan. Beberapa kali dia diberitakan naik KRL tanpa dibantu oleh siapapun, mengendarai sepeda ontel, dan rutinitas harian beliau yang sama sekali jauh dari kebiasaan manusia yang mempunyai privilege sedangkan kita ketahui bahwa sebagai mantan pemimpin tertinggi Muhammadiyah, tentunya beliau bisa mendapatkan kemudahan dalam hal apapun, namun beliau memilih untuk menjadi manusia pada umumnya dan mencampakkan semua privilege yang bisa diperoleh.

Saya tidak terlalu banyak membaca karya beliau namun satu buku karangan beliau yang sangat berkesan adalah buku yang berjudul "Krisis Arab dan Masa Depan Islam." selain karena tentunya buku tersebuat memberikan pengetahuan tentang pertanyaan orang-orang tentang geopolitik Timur Tengah, buku tersebut juga menjadi rujukan primer saya dalam menyusun tugas akhir tahun lalu. Salah satu argumen beliau dalam bukunya yang saya kutip dalam tugas akhir saya adalah;

"Ada tiga bentuk malapetaka yang pernah dan sedang menimpa dunia Arab; perang saudara, serbuan pasukan luar dan gabungan antara keduanya"

Beberapa tahun belakang, saya seringkali mengkhawatirkan jika para bapak bangsa sudah berpulang. ada kekhawatiran yang tersimpan di benak saya bahwa akan muncul banyak orang yang merisak kedamaian karena tidak ada lagi figur yang disegani. Tokoh yang masih tersisa di benak saya seperti Prof Quraish Shihab, Gus Mus, Cak Nun dan mungkin adalah tokoh bapak bangsa lain yang tidak saya ikuti perjalanan hidupnya.

Buya Syafii telah berpulang, kesahajaan yang bernama Buya telah pergi meninggalkan serpihan memori bagi semua orang. Tidak terlihat lagi seorang mantan pimpinan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang naik KRL sendirian, naik ontel dan rutinitas harian yang umum dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada lagi tokoh besar yang tetap mengajar pada tingkat S1 sementara professor lain gengsi untuk melakukannya. Buya pulang di hari Jum'at yang umumnya dikenal sebagai hari baik oleh umat Islam.

Demikianlah kematian yang tentu saja menghampiri siapa pun. Kematian yang tentunya bukan sebagai sebuah kepunahan namun sebuah perjalanan pulang setelah bergelut dengan duniawi yang melenakan.

27 Mei 2022 

May 20, 2022

Kematian #1

Hari kamis tanggal 19 Mei, kantor mengadakan acara halal bihalal di salah satu hotel di bilangan blok M yang diikuti seluruh karyawan yang ada di wilayah jabodetabek. Kegiatan seperti ini tentunya sangat dinantikan karena sudah 2 kali tidak pernah terlaksana akibat pandemi. Biasanya pada kegiatan halal bihalal, semacam reuni bagi kolega yang sudah lama tidak bertemu yang dulunya pernah satu kantor namun kemudian dimutasi. 

Saya termasuk orang yang suka acara seperti ini karena nantinya akan bertemu dengan rekan yang pernah satu kantor. Cerita masa lalu biasanya memang sering menjadi sesuatu yang menarik karena membayangkan diri yang dulu dan perjalanan karir yang sudah dilewati.

Acara dimulai jam setengah 12 siang namun kami baru berangkat ke hotel setelah salat dhuhur karena jarak dari kantor ke hotel hanya sekitar 10 menit dengan kendaraan. Pertimbangan yang lain bahwa akan repot salat di hotel karena tentunya ramai oleh karyawan.

Acara belum dimulai ketika kami tiba di hotel tempat acara dilaksanakan. Beberapa karyawan bercengkerama dengan kawan lama, ada juga yang sedang makan siang sambil menunggu acara dimulai. saya dan beberapa teman yang tiba agak telat kemudian langsung menuju tempat makan untuk menunaikan makan siang. tempat makan sudah tidak terlalu ramai karena sebagian karyawan sudah makan terlebih dulu.

Saya mengambil makanan dan makan di ruangan sambil memandang karyawan dengan berbagai aktivitas, sebagian besar karyawan saya kenal, selain karena memang saya auditor yang tentunya sering beriteraksi dengan semua karyawan, saya juga pernah ditempatkan di salah satu kantor di wilayah jakarta timur sehingga saya mengenal dengan baik semua karyawan di kantor cabang tersebut yang aktif sekitar tahun 2015.

Salah satu karyawan yang tentunya saya akrabi adalah kepala cabang yang sudah dimutasi di daerah jakarta selatan. Beliau adalah pimpinan pertama yang menerima saya di Perusahaan ini. Saya satu tim dengannya dalam waktu singkat hanya sekitar setahun namun menurutku cukup berkesan. 

Saat di acara halal bihalal, saya tidak sempat menyalaminya karena beliau duduk paling belakang sedangkan saya berada di tengah, apatahlagi pada saat acara, banyak manager yang datang dan tentunya beliau sibuk bercengkerama dengan koleganya. Saya hanya melihatnya dari jauh dengan peci hitam motif kuning. Beliau tersenyum dengan khas.

Acara selesai tepat waktu sekitar setengah 4 sore. Saya langsung pulang ke rumah setelah acara setelah sebelumnya menjemput isteri di kantornya.

Malam hari karena penat dengan aktivitas seharian, saya tidur agak cepat. Saya memutus jaringan internet handphone supaya tidak terganggu dengan berbagai notifikasi. saya bangun dinihari namun hp tetap saya matikan. Saya menjalani rutinitas sebagaimana mestinya.

Menjelang berangkat ke kantor, saya menyalakan internet hp. puluhan wa masuk di grup kantor dan beberapa teman memasang status duka cita. Saya coba buka satu persatu. dada saya berdebar ketika melihat status teman bahwa mantan bos saya yang masih saya lihat kemarin siang, sudah kembali. Satu hal yang terlintas dalam kepala saya bahwa mungkin saya beliau kecelakaan namun perkiraan saya ternyata meleset. Beliau meninggal karena serangan jantung.

Jadi cerita, ketika selesai acara halal bihalal kemarin siang, beliau langsung pulang ke kantor. beliau menonton sepakbola di tv kantor sebelum pulang ke rumah. sehabis maghrib, beliau pulang namun sesampai di bilangan antasari, kemungkinan beliau merasa tidak enak sehingga mobilnya diparkir di pinggir jalan lalu memesan taxi ke RS Fatmawati. beberapa jam kemudian, ajal menjemput. pihak rumah sakit menelepon ke kantor karena beliau membawa ID card. Proses kematian yang cukup cepat dan satu hal bahwa dia sama sekali tidak merepotkan orang lain, bahkan keluarganya pun belum mengetahui sebelum meninggal.

Saya mengenal beliau sebagai seorang yang tidak pernah mau merepotkan orang. selama menjadi bawahannya, saya tidak pernah mendengar beliau absen karena sakit. beliau tidak manja untuk banyak hal dan tidak pernah mau merepotkan orang lain. 

Mungkin benar bahwa kematian seseorang tersebut ditentukan oleh kebiasaannya selama hidup. sebagaimana yang beliau jalani selama ini.

Hidup memang sangat singkat. kita sama sekali tidak pernah mengerti apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian. satu hal yang pasti bahwa kita hanya bisa mengontrol apa yang harus kita lakukan saat ini. masa depan adalah sebuah misteri yang sangat gelap.

Dia menulis di status WA nya yang masih terpasang sampai saat ajal menjemput dengan kalimat "berbuat baik ajalah. apapun tantangannya. Ya Allah, matikanlah aku jika sudah tidak berguna untukMu dan sesama"

Selamat jalan. semoga keselamatan selalu menaungi perjalananmu, beh.

20 Mei 2022