June 30, 2015

Malas

aku memungut rasa yang tak ingin bergerak
mendiamkan hati dalam bisu
tak jua tangan menyapu karya
aku malas saat ini

kalau saja hanya satu yang bersemangat
itu karena juni ada di penghujung
menanti hujan yang sesekali turun di bulan juli

Pulogadung
300615

Tarawih #13

Kali ini saya tarawih di mesjid nurul jami Rawamangun. Mesjid ini memang mungkin menjadi pilihan terbaik dari tiga mesjid yang ada di dekat kosku karena dari ketiga mesjid tersebut, satu-satunya mesjid yang mengadakan ceramah agama setelah shalat isya pun jumlah rakaat tarawihnya 8.

Ceramah malam ini tidak jauh berbeda dengan ceramah malam sebelumnya. Membahas masalah keislaman yang skriptualis dan mengkritik beberapa hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan kaidah Islam.

Dia menekankan ceramahnya pada ayat "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam" kemudian penceramah mengulas  lebih jauh bahwa orang yang mencari jalan diluar Islam adalah orang yang sesat.

Kritikannya terhadap beberapa wacana kekinian misalnya tentang isu penghilangan kolom agama di ktp kemudian tentang pernyataan bahwa kita yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa.

Di titik masalah toleransi dan menghormati sesama, saya sendiri punya pandangan yang entah benar ataupun keliru bahwa dalam toleransi seharusnya yang pertama dilakukan adalah kita menghormati orang lain dan tidak mesti untuk meminta dihormati ataupun dihargai dari orang lain jadi fokusnya ada di diri kita ke orang lain. Dalam kasus puasa, malah kita yang berpuasa seringkali meminta mereka yang tidak berpuasa menghormati kita, tidak makanlah di depan kita, tidak minumlah, kalau seperti itu maka menurut saya, harusnya dibalik. Tidak usah risih jika ada orang yang memang tidak berpuasa toh puasa adalah ibadah privasi huhungan personal dengan Tuhannya.

Entah kenapa mayoritas ceramah tarweh yang kudengar selalu saja berputar pada masalah perbedaan dan parahnya karena para penceramah lebih menonjolkan perbedaan tersebut daripada menjunjung toleransi.

Ada lagi ceramah habis shalat Ashar yang kudengar di mesjid pendurenan dekat RS Mata "Aini." niatan awalnya memang baik karena menceritakan tentang idola, bagaimana bisa generasi Islam lebih mengenal para pemain sepakbola daripada pejuang Islam, mengenal Baik Leonel Messi daripada Umar bin Abdul Aziz. di titik itu mungkin saya sepakat meski akar masalahnya bukan sepenuhnya karena salah generasi namun karena pendidikan yang diberikan oleh generasi sebelumnya.
penceramah tersebut kemudian melanjutkan dengan ulasan tentang menjadi hafizs Al-Qur'an namun di tengah ceramahnya, dia dengan nada menyindir mengatakan bahwa berharap suatu saat nanti calon presiden diberikan syarat hapal 30 Juz dan dengan suara pelan dan seakan berbisik mengatakan bahwa " maksudnya supaya Jokowi tidak terpilih lagi."

Saya tahu pasti kalimat penceramah tersebut ditujukan untuk menyindir keislaman jokowi bahkan dengan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penceramah yakin Jokowi tidak hapal Al-Qur'an. setelah kalimat tersebut, saya lalu beranjak keluar dari Jamaah.

Saya sebenarnya bukanlah Die Hardnya Jokowi namun satu hal yang ingin saya katakan bahwa Jokowi telah memenangkan suara rakyat dari sistem pemilihan yang telah kita sepakati terlepas dari beberapa orang yang tidak memilih namun toh kenyataannya Jokowi telah menjadi pemimpin Indonesia. kalaupun kita kemudian mengkritiknya maka seharusnya yang dikritik adalah kinerja dengan data yang akurat bukan pada masalah kepribadian bahkan hal yang bersifat privasi.

entahlah
Mesjid Nurul Jami Rawamangun
13 Ramadhan 1436 H

June 28, 2015

Tarawih #12

Lagi-lagi saya tarawih di mesjid Al-Ishlah pendurenan. Keputusan untuk sering melaksanakan tarawih di mesjid ini karena raka'atnya 8 dan tidak terlalu lama. Hehe

Penceramah malam ini memulai ceramahnya dengan analogi tentang kendaraan.

Dari sedikit yang kudengar bahwa Penceramah menjelaskan tentang ketaqwaan. sebenarnya isi ceramah mudah dipahami cuma karena tidak tersistematis jadinya saya bingung mau menulis apa.

Selebihnya, saya kurang bisa menangkap inti ceramah karena intonasi Penceramah yang nampaknya klimaks dari awal.

Mesjid Al-Ishlah pendurenan
12 Ramadhan 1436 H

June 27, 2015

Tarawih #11

Saya tarweh di mesjid Al-Ishlah pendurenan. Tidak seperti beberapa hari lalu namun tarweh kali ini tidak seramai beberapa hari lalu

Ceramah agama dilaksanakan setelah shalat tarweh sebelum witir. Tidak terlalu jelas ide-ide ceramah yang saya dengarkan karena mungkin speakernya yang bermasalah. Saya hanya mendengar samar-samar tentang puasa dan tentang persatuan umat Islam.

Nampaknya sang penceramah menyesalkan tentang umat Islam dalam jumlah banyak namun tidak bisa bersatu dalam ukhuwah.

Mesjid Al-Ishlah Pendurenan
11 Ramadhan 1436 

June 26, 2015

Tarawih #10

Puasa hari ini lumayan menguji kesabaran. Pulang kerja, ada buka bersama kantor se-Jabodetabek di gedung Polres Jakarta Selaran

Ceramah hari ini di mesjid Polres jaksel membahas tentang shalat tarawih. Penceramah memulai ceramahnya dengan pertanyaan retorika "shalat tarawih capek ga.?"

Shalat tidak capek ketika kita khusyuk. Ketika jiwa raga sudah menyatu maka shalat akan menyenangkan.  Sesuatu yang dijelaskan lumayan mengena di hati.

Dia mencontohkan kisah Nabi Yusuf. Sejarah Nabi Yusuf dan ketampanannya. Teman zulaikha yang diundang ke rumahnya saat melihat Nabi Yusuf bahkan sampai teriris tangannya dan tidak merasa sakitnya karena terpesona dengan ketampanan Nabi Yusuf.

Kisah tersebut diangkat oleh Penceramah untuk mencontohkan bagaimana sesuatu tidak terasa ketika hati dipenuhi kesenangan.



Mesjid Polres Jakarta Selatan
10 Ramadhan 1436 H

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat kali ini tentang cara meraih kenikmatan di dunia dan akherat. ada 3 cara meraih hal tersebut yang pertama adalah banyak bersedekah, kemudian bertaqwa kepada Allah SWT dan yang terakhir adalah meyakini kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT.

Ulasan tentang sedekah bahwa sedekah tersebut bisa mengobati penyakit. memang secara logika tidak akan mampu menjelaskan bagaimana sedekah tersebut menyembuhkan penyakit namun kita sedang tidak berbicara mengenai logika manusia karena kita sedang berada dalam kuasa Tuhan dimana semua tidak bisa dirasionalkan. sedekah pula bisa mencegah dari musibah maka dengan begitu perbanyaklah sedekah.

Meski dalam pembahasan yang lebih luas pun, sedekah harus dijelaskan secara komprehensif karena tidak sekedar memberi maka itu akan bermanfaat bagi orang lain. mungkin secara pribadi, saya masih percaya bahwa sedekah paling baik terlebih dahulu kepada keluarga terutama orang tua. juga kepada para handai tauladan yang membutuhkan. kemudian kepada orang yang benar-benar membutuhkan seperti orang papa yang sudah berusaha sekuat tenaga mencari rejeki namun tetap tidak mencukupi. menurut saya pribadi bahwa pengemis ataupun pengamen yang masih kuat secara fisik berada di urutan terakhir mendapatkan sedekah.

ah, terlalu idealis aku ini
padahal jarang sedekah
maluuu sama diri sendiri

Pulogadung, 260615

Tarawih #9

Saya tarawih di masjid samping pasar rawamangun yang kedua kali. Masjid tersebut ada 2 lantai dimana lantai atas dipergunakan oleh anak-anak dan lantai bawah oleh orang dewasa. shalat tarweh di mesjid tersebut serasa seperti di kampung karena setelah shalat isya kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama lalu kemudian shalat tarweh dengan model 4 4, hal yang berbeda saya dapatkan ketika tarweh di mesjid yang lain. ada 3 mesjid di dekat kosku dan dua mesjid lainnya tidak ada ceramah agama setelah shalat Isya namun langsung dilanjutkan dengan tarweh 20 Rakaat.

Ceramah tarweh malam ini dibawakan oleh seorang ustads yang masih muda. umurnya masih 30an tahun. dia membahas tentang bagaimana cara meningkatkan imam kita. hal yang diuraikan adalah meningkatkan imam dengan kembali kepada Al-Qur'an. mempelajarinya dan kemudian mengamalkannya. dari selingan ceramahnya, saya menduga bahwa si Ustads tidak sepakat dengan membaca Al-Qur'an dengan langgam jawa. pada potongan ceramahnya mengatakan bahwa salah satu cara tidak menghormati Al-Qur'an karena ada sebagian orang yang membaca tidak sesuai dengan tuntunan. perdebatan membaca Al-Qur'an dengan langgam jawa memang tidak ada habisnya. 

Saya tidak pernah berani ikut-ikutan membahasnya karena ilmu yang sama sekali tidak ada namun setidaknya saya sudah pernah menelepon kak Sudirman, satu dari 2 orang referensi saya masalah agama selain kak Hamzah, kak sudirman mengatakan bahwa selama tajwid dan harakatnya tidak salah maka melagukan Al-Qur'an dengan langgam jawa bukanlah hal yang keliru kemudian Kak Sudirman juga menegaskan pada niat seseorang yang membaca, jika niat karena Allah maka sama sekali itu tidak dilarang.

Secara umum, ceramah tarweh malam ini menjelaskan berbagai hal yang mungkin bisa kita temui di buku bacaan keagamaan. sang ustads mengajak jamaah untuk mempelajari Al-Qur'an. Dia mencontohkan bahwa dia pernah mengajar seorang yang umurnya sudah 75 tahun yang sama sekali tidak bisa baca Al-Qur'an sampai pada akhirnya bisa menghapal 2 juz. Sang ustads juga menyentil para masyarakat urban yang rela membayar mahal untuk guru privat untuk anaknya seperti musik, matematika dan pelajaran lain namun untuk membayar guru ngaji mereka enggan

begitulah kira-kira ceramah tarweh malam ini
Mesjid Nur Jami' Rawamangun
9 Ramadhan 1436 H

June 24, 2015

Tarawih #8

Setelah berbuka puasa di pelataran indomaret pendurenan. Saya beranjak makan ayam penyet dan tarweh di mesjid Al Islah.
Di mesjid ini lain dari yang biasanya karena setelah shalat Isya dilanjutkan dengan shalat tarweh 8 rakaat kemudian ceramah agama .
Isi ceramah lumayan sepakat karena sang penceramah mengatakan bahwa anak-anak tidak masalah ribut yang penting tidak mengganggu dan itu adalah keberkahan. Secara garis besar masih membahas tentang puasa. "Barangsiapa yang datang bulan ramadhan namun dosa-dosanya tidak diampuni maka dia merugi.
Keutamaan orang-orang yang berpuasa.
Amalan yang dilakukan di bulan ramadhan jauh lebih besar ganjarannya daripada di luar bulan ramadhan.
Jadikan bulan ramadhan sebagai syahrul Qura'an.
Penceramah mengulas tentang sebuah ajaran namun tidak jelas aliran yg dimaksud.


Mesjid Al-Islah Pendurenan
8 Ramadhan 1436 H

Tarawih #7

saya shalat tarweh di mushalah dekat kos. tidak ada ceramah agama setelah shalat isya, langsung dilanjutkan dengan shalat tarweh

June 22, 2015

Tarawih #6

Ramadhan berjalan tanpa henti sedikitpun. bagai kedipan mata, sudah memasuki langkah keenam. kita terus saja melongo menyaksikan momen ramadhan yang berlalu begitu saja tanpa ada hal baik sebagai pengisinya.

Ini adalah malam keenam. aku tarweh di mesjid Nur jami' samping terminal Rawamangun. lumayan jauh sebenarnya dari kosku karena setidaknya ada 2 mesjid yang dekat dari kosku namun aku sudah berniat untuk menjelajah mesjid satu persatu.

Di mesjid ini, seperti mesjid lainnya. ada ceramah tarweh setelah shalat Isya dan sebelum tarweh. ceramah tadi dibawakan oleh bapak Djufri MA. dia adalah seorang dosen meski tidak secara gamblang menjelaskan dimana dia mengajar.

Judul ceramahnya "Macam-macam Hati". menurut ceramahnya bahwa ada 3 macam hati manusia antara lain Hati yang sehat, hati yang sakit dan hati yang mati. pada awal ceramahnya, aku sudah tidak terlalu bersemangat karena dia mencoba mengupas agama lain. menurutnya bahwa agama Yahudi memiliki 2 tuhan yaitu tuhan Allah dan tuhan uzair. sang penceramah juga dengan menggenaralisasikan bahwa orang yahudi kaya namun pelit sehingga ada anekdot bahwq orang yang pelit akan disebut orang yahudi.

Dia juga dengan sinisnya mengupas bahwa nasrani mempunyai 3 tuhan. tuhan Alah, Yesus kristus dan Roh kudus.

Dalam pemaparan ceramahnya, dia terlihat mencoba melucu meski selera humornya tidak mampu membuatku senyum karena memang hal yang dijadikan lelucon tidak pada tempatny.

Dalam sebuah kesempatan, dengan model dialog dia menanyakan kepada seluruh jamaah, dimanakah Tuhan? tidak ada yang menjawab kemudian dia dengan sebuah dalil diperkuat bahwa Allah bersemayam di Arsy.

Di sela- sela ceramahnya, dia mengkritik wacana yang ingin menghilangkan kolom agama di ktp. dengan contoh kasus yang menurutku sangat dangkal. dia mencontohkan bahwa ketika orang mau menikah dan di ktpnya tidak ada kolom agama maka orang tersebut bisa saja bilang sembarang saat ditanya agamanya apa.

Selalu saja ada sudut pandang yang berbeda dari setiap fenomena.

Mesjid nur Jami' Rawamangun
6 Ramadhan 1436 H

Tarawih #5

Seperti malam kemarin, saya masih tetap melaksanakan tarweh di mesjid kemarin, mesjid Al-bayyinah.
Gebyar Ramadhan
Ustadz Misbaqul Munir

Sabda Rasulullah SAW "semua ummatku masuk syurga kecuali yang sombong."
Sang Penceramah kemudian bercerita tentang pemerintahan Umar yang mengirim Tulang ke Gubernur Mesir, Amar bin Ash karena sang Gubernur menggusur rumah pemukiman orang Yahudi untuk didirikan mesjid.

5 Ramadhan 1436 H
Mesjid Al Bayyinah
Jln Setiabudi

Tarawih #4

Kali ini saya terdampar di mesjid Al Bayyinah setiabudi di samping RS mata bunda Aini. entah kenapa sejak pertama kali ke mesjid ini beberapa bulan lalu, saja langsung menyukai suasananya yang menurut saya hampir menyerupai dengan mesjid-mesjid di kampung karena masih banyak pohon di sekitarnya dan juga tidak terlalu dekat dengan jalan protokol.

Suasana yang lain pun karena masih banyak bocah-bocah yang ikut tarweh dengan riang gembira. saya selalu menyukai mesjid yang banyak anak-anaknya dengan celoteh mereka yang membuat saya seakan kembali ke masa kecil. saya pun amat sangat tidak sepakat dengan orang yang menganggap dirinya ustadz namun ketika ada anak kecil yang ribut di mesjid, mereka dengan sok sucinya memarahi bahkan mengatakan celoteh anak kecil mengganggu kekhusyukan shalat berjamaah. biarkanlah kalau saya yang salah namun begitulah yang ada dipikiran saya bahwa biarkan anak-anak ke mesjid dan ribut di sana sambil berlari dan sesekali mengikuti gerakan orang shalat karena sejatinya anak-anak memang dunia bermain toh mereka akan tetap mengenang masa itu ketika sudah baliqh dan berpikir benar salah.

Ceramah kali ini diisi oleh seorang dari daerah tangerang. dia mengawali ceramahnya dengan retorika umum saat mengucapkan salam kemudian tidak ada yang menjawab dan mengulangi salam akhirnya jamaah membalas salam dengan serempak.

Ustadnya sedikit gokil jadi tidak membosankan, lumayan komunikatif meski isi ceramahnya sebenarnya amat mainstream. temanya masih seputar Puasa. menurutnya jangan omongin orang untuk menghormati Ramadhan. kemudian penceramah mengingatkan tentang pesan Rasulullah supaya memperbanyak Mengingat kesalahan. kalau mau sehat, banyak berlaku baik dan bersedekah, mengagungkan Asma Allah.

Hal yang mungkin sedikit membuatku risih adalah ketika di akhir ceramah, sang Ustadz menggiring jamaah kemudian meminta sumbangan bagi Mesjid yang sedang dibangun di tangerang kemudian sang Teman Ustads yang duduk di samping berdiri dan menggunakan sorbannya mengelilingi Jamaahn meminta sumbangan. saya tidak ingin berpikir negatif namun dengan cara seperti itu mungkin tidak terlalu tepat dalam menggalang dana meski disadari bahwa saat Ramadhan seperti ini, sangat gampang mengumpulkan dana dari Jamaah.

yobenlah, ojo kepo. haha
4 Ramadhan 1436 H
Mesjid Al Bayyinah
Jln Setiabudi

Tarawih #3

Ramadhan selalu menghadirkan sensasi yang menggembirakan bagi saya karena ada beberapa serpihan kenangan yang selalu menghadirkan rasa tenang ketika momen Ramadhan tiba. beberapa Ramadhan terakhir, saya selalu suka berkeliling mencari tempat tarweh yang baru dan kebiasaan tersebut sampai sekarang.

Di Ramadhan ketiga, saya memilih mesjid Istiqlal sebagai pelabuhan melebur dalam orang dengan berbagai aktivitas di Mesjid ini. ada yang pulang kerja dan mampir buka puasa, ada yang datang dengan tujuan berdagang dan berbagai manusia lainnya selalu tumpah ruah di mesjid ini ketika Ramadhan. tidak mengherankan memang karena Mesjid tersebut terbesar di negeri ini.

Saya sudah tahu rutinitas tarweh disini karena tahun lalu, saya beberapa kali tarweh di mesjid ini. setelah shalat Isya, biasanya diisi pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an kemudian setelah itu dilanjutkan dengan ceramah agama. tarweh dilaksanakan dengan 2 2 dan ada dua gelombang. ada yang tarweh delapan dan ada yang 20 rakaat. sistemnya yang tarweh delapan rakaat menyelesaikan witirnya dan yang 20 rakaat mundur sejenak ke belakang menunggu jamaah yang tarweh 8 selesai witir kemudian melanjutkan tarweh sampai 20 rakaat.
 
Kebiasaan saya adalah menulis ceramah agama. ceramah agama malam ini seperti biasanya. sang Penceramah menjelaskan tentang hakekat puasa adalah menahan diri. Kita diwajibkan memerangi nafsu syahwat. Ramadhan adalah membakar dan mengasah. puasa memiliki implikasi kemanusiaan. Puasa adalah ibadah rahasia yaitu antara manusia dan Tuhannya. hadist Qudsi mengatakan bahwa " semua amal anak adam untuk dirinya kecuali puasa" Ibadah selain puasa bisa dikoreksi langsung sedangkan puasa tetap rahasia, tidak boleh pamer saat sedang berpuasa. puasa menahan diri daripada maksiat, menempa jiwa melalui latihan fisik puasa harus memiliki dampak sosial.

Penceramah lebih mirip dengan pembacaan khutbah dengan terlalu berfokus pada konsep yang ada ditangannya. Jamaah yang mendengarkan pun tidak terlalu antusias karena penceramah kurang komunikatif ataupun menghidupkan suasana.
itu saja tentang ceramah malam ini.

Oh yah, Ramadhan tahun lalu di mesjid ini, saya kecopetan Hanphone BB jadi Para Jamaah yang berniat melaksanakan shalat tarweh di mesjid Istiqlal supaya tidak perlu membawa HP ataupun kalau terpaksa agar supaya berhati-hati dengan barang bawaan

Masjid Istiqlal
3 Ramadhan 1436 H

Tentang Insaf dan Hidayah

Cerita tentang seorang yang insyaf seringkali kita baca, dengar dari cerita orang lain atau bahkan melihat sendiri di sekitar kita tentang orang yang dulunya adalah pelaku maksiat namun tiba-tiba insyaf dan berubah 180 derajat. Orang yang insyaf karena mendapat Hidayah dari Allah SWT.

Anugerah hidayah adalah sesuatu yang tak terkira nilainya karena membawa kita kepada kebaikan. Ketika berbicara masalah Hidayah, maka hal yang kita percayai selama ini adalah hidayah tersebut otoritas Allah SWT. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang akan mendapatkan Hidayah tersebut. terkadang orang yang berkelimpangan dosa namun di kemudian hari mendapat hidayah dan berubah menjadi orang baik. Ada pula dalam sejarah tentang seorang pelacur yang kemudian dijamin masuk syurga karena memberi minum anjing yang kehausan.

Hidayah memang adalah rahasia Allah namun ada benang merah yang kusimpulkan dari setiap cerita orang yang mendapat hidayah bahwa meskipun seseorang tersebut menggunung dosanya selama dia tidak bangga akan dosa itu dan dalam hatinya tetap merasa berdosa maka dia kemungkinan akan mendapat hidayah suatu saat nanti.

Beda halnya ketika orang bergumul dalam dosa namun dalam hatinya dia merasa bangga akan dosa yang diperbuatnya maka yakinlah Tuhan tahu hati setiap hambanya.

Begitulah menurutku hakekat hidayah tersebut. dia datang kepada orang yang tepat. Orang yang tetap berusaha menata hatinya menyatu dengan Rabbnya meski di permulaan, dia larut dalam kedzaliman, orang yang menikmati kedzaliman dirinya dan bahkan menyombongkan dirinya dengan perbuatan maksiat menandakan bahwa kedzaliman tersebut merasuk sampai kedalam hatinya.

Mencuri misalnya mempunyai dua sisi yang berbeda meski secara zahir hal tersebut tetaplah mencuri. orang yang kelaparan kemudian mencuri demi kebutuhan perutnya tidaklah sama dengan orang yang menjadikan mencuri sebagai profesinya namun dimata kita, tetaplah mencuri itu salah. wts yang terjerat dalam lubang hitam karena masalah ekonomi tidaklah sama dengan wts yang menikmati profesinya tersebut karena bermewah-mewahan dan menikmatinya.

Hati selalu saja tidak berbohong. bahkan aku berpandangan bahwa " hati yang menangis karena Allah saat bergelimpangan maksiat lebih mulia daripada hati yang menyombongkan kepada manusia ketaatannya kepada Rabb.

Ada satu petuah kuno di kampungku yang masih kuingat sampai sekarang "Tuhan mangkita penawa tangngia batang kale." secara sederhana bisa diartikan bahwa Tuhan melihat aktivitas dan niat dalam hati bukan aktivitas diri yang terlihat karena pada intinya, hatilah yang menentukan.

Hidayah memang otoritas Tuhan namun percayalah bahwa dengan menjaga hati dan selalu menata hati adalah jalan menuju hidayah tersebut. jangan sampai membiarkan hati dalam keadaan sakit atau mati karena hati yang demikian sudah tidak berfungsi lagi.

Pulogadung
4 Ramadhan 1436 H

June 19, 2015

Khutbah Jum'at

Ini adalah jumat pertama di Bulan Ramadhan. tidak banyak yang berubah meski hanya dari perbedaan jalanan yang agak sepi dan warung pinggir jalan tutup selain itu, semua berjalan apa adanya. karyawan masuk seperti biasa meski ada pengurangan jam kerja 1-2 jam.

Barusan saya melaksanakan shalat jumat di mesjid kompleks. tidak seperti jumat kemarin dimana saya agak lambat tiba di mesjid, tadi saya sudah tiba di mesjid sebelum adzan dikumandangkan. alhasil saya bisa mendengarkan secara penuh khutbah jumat kali ini meskipun isi khutbah jumat yang datar-datar saja dan membahas isi khutbah secara tekstual.

Islam adalah salah satu agama yang paling benar di muka bumi ini. memilih jalan selain Islam berarti mengundang amarah Tuhan. Islam datang ketika orang memilih menjadi atheis atau bahkan memiliki banyak Tuhan sehingga pada saat itu, Islam datang dengan kebenarannya.

"ada sekelompok orang dalam Islam yang memilih untuk puasa terus menerus, beribadah tanpa tidur dan memutuskan tidak menikah karena khawatir isteri mereka akan mengalihkan perhatian mereka dari Tuhan. ketika berita ini sampai kepada Rasulullah SAW, Beliau berkata bahwa Saya adalah manusia yang paling takut kepada Allah namun saya masih makan, masih menyempatkan tidur bahkan memiliki beberapa Isteri"

Itu adalah sebagian dari isi khutbah jumat tadi yang masih segar diingatan saya. entah bagaimana mengutarakan hal yang tidak saya sepakati dari ceramah tersebut namun memang ketika kita membuka dalil-dalil mainstream Islam maka hal-hal seperti itu adalah hal yang umum dan sesuatu yang tidak diperdebatkan lagi meski terkadang saya sering terganggu dengan hal seperti itu karena sejatinya banyak faktor lain yang mungkin saja gugur dengan dalil tersebut diatas.

Cotoh sederhana saja bahwa manusia yang tinggal jauh dari peradaban Islam dan tidak pernah mengenal Islam namun dia secara manusiawi tetap berkelakuan baik meski tidak pernah mengikrarkan dirinya sebagai muslim karena tidak pernah bersentuhan dengan Islam. apakah dia termasuk dalam golongan orang yang kemudian akan di azab?

Contoh lain mengenai cerita tentang seseorang yang memilih tidak menikah karena tidak mau cintanya terhadap Rabbnya terbagi. kisah ini berasal dari Sufi wanita Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah. Rabi'ah dilahirkan di kota Basrah, Irak, sekitar abad ke delapan tahun 713 - 717 masehi. sumber.

Rabiah memilih untuk tidak menikah demi kecintaannya kepada Rabb. Beliau terkenal dengan Syair-syair cinta yang ditujukan kepada Sang Khalik.
“Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Syair diatas menunjukkan betapa cintanya Rabiah kepada Rabbnya dan alam semesta sudah tidak meragukan lagi ketebalan cinta yang dimiliki bahkan hatinya sudah tidak tersisa lagi selain dari cintanya kepada Rabb.

Ketika alasan seperti itu yang menyebabkan seseorang memilih untuk tidak menikah, apakah kita dengan sok taunya akan menjustifikasi mereka sebagai manusia yang tidak mengikuti ajaran Islam dengan sempurna?
WallahuAlam Bissawab

Pulogadung
190615

Tarawih #2

Puasa pertama berjalan lancar. tidak ada hal yang terlalu menarik diceritakan karena rutinitas kantor yang berjalan seperti biasanya hanya saja jam pulang kantor yang dipercepat. Jika pada hari biasa kantor masih ramai pada pukul 16:00 WIB namun hari pertama puasa, jam segitu kantor sudah lengang, mau tak mau, aku pun beranjak pulang meski jarak kantor ke kos hanya sekitar 10 menit ditempuh dengan jalan kaki.

Aku tiba di kos sebelum setengah lima. Tidak tahu harus berbuat apa meski sadar bahwa harusnya waktu luangkan itu dipergunakan untuk tadarrus namun aku lebih memilih menyetel radio dari Hp. Tidak terara ternyata aku ketiduran dan bangun 3 menit sebelum buka. alhasil aku hanya berbuka puasa dengan sebotol soft drink.

Aku memilih tarweh di mesjid Mashum dekat kos. di hari kedua tarweh, Mesjid tersebut masih lumayan ramai oleh Jamaah. Setelah shalat Isya, dilanjutkan dengan shalat tarweh secara berjamaah. Ternyata di mesjid tersebut tidak diselingi oleh ceramah tarweh sehingga tidak ada yang bisa aku ceritakan kali ini tentang ceramah tarweh. setelah rakaat kedelapan, tarweh masih dilanjutkan sampai rakaat ke 20 dan aku memilih pulang karena memang niatku dari kos tarweh 8 rakaat.

Di mesjid ini memang hanya menjadwalkan beberapa kali ceramah selama Ramadhan.

Ah, tidak ada yang menarik untuk diceritakan hari ini
mesjid Mashum
2 Ramadhan 1436 H

June 17, 2015

Tarawih #1

Saya memutuskan untuk melalui Tarweh Ramadhan pertama di bilangan blok M.alasanku sederhana karena suasana Mesjid blok M sangat sejuk dan damai. alasan lain mungkin karena beberapa malam tarweh di tahun kemarin kulalui di mesjid tersebut bahkan saat kesendirianku di malam hari raya idul fitri kuhabiskan di mesjid tersebut sambil meresapi betapa hampanya diri yang terkurung dalam kesendirian di saat harusnya momen tersebut dijadikan ajang kumpul bersama dengan keluarga.

Ceramah tarweh malam ini tentang Sejarah puasa dan hakekat puasa. si Penceramah menguaraikan bagaimana awal puasa yang dijalani oleh umat Islam dengan sangat berat karena pada saat itu, umat Islam masih dalam serba kekurangan. di masa awal-awal diwajibkannya Ramadhan pun ditandai dengan persaudaraan yang erat antara kaum anshar dan kaum Muhajirin.

Tidak banyak yang bisa kutuliskan ulang tentang ceramah malam tadi namun pada umumnya bahwa isi ceramah adalah flashback tentang puasa itu sendiri dan siapa saja yang diwajibkan berpuasa.


ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا Ø§Ù„َّذِينَ Ø¢Ù…َÙ†ُوا Ùƒُتِبَ Ø¹َÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ Ø§Ù„صِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ Ø¹َÙ„َÙ‰ Ø§Ù„َّذِينَ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ ØªَتَّÙ‚ُونَ



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana 
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” 
(QS. Al Baqarah: 183)

Menurut saya, potongan ayat tersebut diatas menjadi inti ceramah semalam meski elaborasi yang lebih panjang tentunya.

Hal lain dari suasana Tarweh pertama semalam adalah mesjid yang dipenuhi oleh jamaah yang membludak. seperti suasana di awal Ramadhan ketika jamaah bahkan harus antri masuk ke dalam mesjid.

Mesjid Al-Azhar salah satu mesjid favorit shalat tarweh bagi  masyarakat ibukota selain mesjid Istiqlal. ada rasa sejuk yang mengalir dari dalam diri ketika shalat di mesjid tersebut atau mungkin juga karena suasananya yang masih rimbun oleh pepohonan di area parkiran meski beberapa bulan yang lalu, ada pohon yang ditebang dan mengurangi kesejukan mesjid

Mesjid Al-Azhar
1 Ramadhan 1436 H

Sisa Percakapan Dengan Bapak (Lagi)

paling tidak seminggu sekali saya menelepon Bapak di kampung. sekedar menanyakan kabarnya dan keluarga lainnya. seringkali ketika menelepon bapak, banyak sempalan cerita yang sayang sekali kalau tidak saya uraikan. sekedar untuk mengingat-ingat hikmah pembicaraan dengan Bapak meski terkadang seringkali kami berselisih pendapat untuk sebuah kasus.

Pembicaraan kami sebenarnya tidak pernah mengarah ke hal yang amat serius meski beberapa kali saya menangkapi pernyataannya yang menurutku tidak sesuai dengan idealisme abal-abal yang masih kurangkul misalnya pernyataannya tentang petani. Menurut saya bahwa hal-hal seperti itu penting untuk saya tanggapi

Bapak memang terkenal orang keras dan tak pernah kompromi namun ada lagi hal yang yang tidak kusepakati dengan apa yang ada di kepalanya. Misalnya saja ketika menjalin silaturrahim, bapak terkadang mengkorelasikannya dengan peluang kerja yang ada dari orang. Beberapa kali saya mendiskusikan hal tersebut bahwa menggantungkan nasib kepada orang lain adalah sesuatu yang keliru karena pada akhirnya ketika jalan tersebut yang akan ditempuh dalam mencari rejeki "pekerjaan" maka akibatnya hanya 2, ketika orang tersebut mampu membantu kita mendapatkan pekerjaan maka kita akan selalu merasa berutang budi dan tidak jarang yang malah menjadi ekor orang tersebut, hal kedua jika dia tidak mampu membantu kita maka kita pada akhirnya akan sakit hati dan terkadang antipati terhadap orang tersebut.

Ada sebuah cerita nyata di kampungku tentang seorang polisi yang pangkatnya sudah masuk dalam jajaran tinggi, saya lupa apa jabatannya. Dia terkenal bisa meloloskan orang-orang di kampungku masuk polisi sehingga tidak heran, banyak sekali orang yang bertandang ke rumahnya apatahlagi orang tua yang punya anak laki-laki yang digadang-gadang bisa dititipkan untuk menjadi seorang polisi. itu dulu saat saya masih bocah. dia benar-benar menjadi idola bahkan ketika beliau mudik maka bisa dipastikan rumahnya akan ramai. saya harus mengakui bahwa bapak juga sering silaturrahim karena memang abang saya yang sulung saat itu berniat mendaftar polisi. alhasil ketika tamat SMA, abang saya benar-benar mendaftar polisi dan sang polisi tadi yang jadi bumpernya. meski 3 kali mengikuti seleksi masuk polisi, abangnya tidak lulus dan yang mungkin menjadi ironis baginya karena pada kesempatan terakhir mendaftar, abang saya jatuh pada tes terakhir.

sejak saat itu, Bapak maupun abang saya sudah tidak terlalu akrab dengan polisi tadi. memang sebelumnya, banyak orang di kampungku yang "berhasil" lulus karena dibackingi oleh Bapak polisi tersebut namun ada insiden yang membuat dia tidak punya lagi power. tepat saat abangku mendaftar untuk terakhir kalinya, ad orang yang membocorkan kepada instansi kepolisian bahwa dia bisa meloloskan calon polisi alhasil pada saat itu, semua calon polisi yang berasal dari kabupaten kami tidak lulus dan termasuk abang saya yang jatuh di tes terakhir. entah isu itu benar atau tidak namun begitulah cerita yang beredar luas, pada saat itu, saya sudah duduk di bangku SMP.

saya tidak tahu persis perasaan Bapak kenapa pada saat abang saya tidak lulus, dia begitu menjaga jarak dari polisi tersebut. cerita Bapak kemudian berlanjut semalam. katanya bapak Polisi tersebut yang sudah lanjut usia dan terserang maaf "Stroke" sempat mudik minggu lalu. tidak ada satupun warga di kampung saya yang menjenguknya padahal dulu saat masih aktif sebagai polisi dan punya power di Polda, dia selalu dikunjungi ketika mudik.

Bapak bercerita bahwa si Polisi tersebut mengatakan bahwa " saya masih bisa kok meloloskan orang masuk Polisi" entah apa yang ada dipikiran pak polisi tersebut namun menurut Bapak bahwa ada perasaan lirih dari pernyataannya tersebut karena jarang sekali orang yang menjenguknya tidak seperti saat dia masih punya kekuasaan.

sempalan-sempalan cerita dari bapak semakin menyadarkanku bahwa dunia ini memang tempatnya mayoritas orang yang melihat apa yang nampak. mereka menginkan duniawi dan akan berlalu seketika ketika duniawi sudah tidak di tangan. pun mengingatkanku bahwa roda hidup selalu saja akan berputar entah putarannya lambat ataupun cepat namun begitulah hakekat hidup. satu hal yang harus dipegang teguh adalah semua yang dilakukan seharusnya karena berasal dari nurani terdalam bukan karena ada sesuatu yang diinginkan. menjalin silaturrahim haruslah murni karena niat yang suci bukan karena ingin dekat dan mendapatkan manfaat dari silaturrahim tersebut

ah, sudah dulu
160615

June 16, 2015

Marhaban ya Ramadan

Sudah tak berbilang kali aku menulis tentang waktu bahkan dalam beberapa tulisanku yang bahkan tidak berhubungan dengan waktu pun sering kusisipkan kata itu. Aku memang selalu memperhatikan perjalanan waktu yang seakan tidak pernah letih melangkah dan terus melangkah bahkan sering terkesan waktu berlari begitu cepat. Aku terkadang tak percaya bahwa usiaku sudah menginjak umur yang matang dimana serasa baru kemarin aku bermain layangan ataupun bermain lumpur.

Tiba pada saat ini, di gerbang Ramadhan 1436 H, seakan baru sebulan berlalu aku menjalani Ramadhan tahun di Cilandak namun ternyata kali ini ramadan sudah datang menyapa. Perjalanan waktu yang begitu amat cepatnya benar-benar membuatku terkesima bahwa tidak ada tempat bagi orang yang berleha-leha tanpa bergerak mengikuti alur kehidupan. berjalan adalah solusi paling sempurna dalam mengikuti permainan waktu dan sesekali meneduh ketika penat menghampiri namun jangan biarkan malas mendera karena kita akan tergerus oleh aliran waktu

Durasi setahun yang aku lalui layaknya hanya sekilas pandangan mata. aku tidak sempat mudik lebaran tahun lalu karena masalah ekonomi. Masih segar diingatanku saat shalat ied di masjid Istiqlal. Di tengah riuh kegembiraan manusia yang merayakan kemenangan, aku bahkan menitikkan air mata dengan berbagai alasan. Sepi dalam keramaian karena jauh dari orang yang diakrabi mungkin pula nista yang sudah bergunung membuatku tak tahu harus bagaimana mengakuinya di hadapan Sang Ilahi.

Setahun berjalan, kedzaliman masih aku ulangi meski beberapa kali aku mengikrarkan diri untuk bertobat. Benarlah sebuah pernyataan yang kira-kira seperti ini bahwa lebih baik menghindari maksiat karena ketika sudah terjebak di dalamnya, terkadang membutuhkan kerja keras untuk lepas darinya bahkan seringkali manusia gagal lepas dari cengkraman maksiat.

Hal yang berbeda setahun ini adalah kesibukanku yang harus menjalani rutinitas di kantor bumida rawamangun. Aku kemudian bergumul dengan kesibukan mingguan kemudian menghabiskan waktu berjalan-jalan saat weekend. Suatu bentuk kesyukuran karena tidak mempunyai aktivitas terkadang membunuh gairah kreativitas.

Esok ramadan kembali. Selalu saja ketika momen tersebut tiba, maka memori masa lalu menyeruak di kepalaku tentang semua kenangan di kampung. Ramadan memang selalu menghadirkan kehangatan karena kita akan melewati beberapa rutinitas bersama-sama entah dengan keluarga maupun dengan teman-teman. mulai sahur, shalat subuh di mesjid yang dipenuhi khalayak, jalan-jalan pagi dan saat petang menjelang, aneka jajanan ta'jil dijual di pinggir jalan, buka bersama yang ramai diadakan dimana-mana sampai tarweh bareng.

Di usia yang sudah tidak lagi muda, aku berusaha untuk memaknai Ramadhan bukan sekedar bernostalgia dengan masa kecil yang penuh kesan namun lebih dari semua itu, aku berusaha untuk merefresh ulang semua hal yang telah berjalan setahun sebelumnya. Ramadhan selalu mengingatkan aku bahwa usia selalu bertambah dan umur berkurang.

Sebentar lagi Ramadhan tiba
Marhaban Ya Ramadhan
170615

June 15, 2015

Di Pintu Gerbang Ramadan

Cahaya berpendar dalam dinding nurani yang roboh akan ingin nafsu yang membara, seakan memaksa keluar dan meluluhlantahkan sisasisa iman yang tersisa
selaksa aib terus saja tersembur dari mulut busa
entah sesuatu yang disengaja ataupun asa yang mulai bergeser dari porosnya
kita tenggelam dalam nafas yang saling mengadu dengan mata yang menahan perasaan di ubunubun

aku seakan tersesat di setiap helaan nafasmu yang membuat nafasku menyatu
sisa farfummu menyeretku dalam kelam yang tak berujung
aku mengadah
namun seperti pekat yang terlihat tak mampu berkata apaapa
aku hanya bisa pasrah dengan desahan malam
semakin menenggelamkanku dalam kabut dosa

aku berdiri
merapikan lengan bajumu yang terkoyak
di setiap percikan bau mulut kita yang melekat di lengan baju

ah, aku tak kuasa dengan tangis alam menghampiri
hujatan semesta membuatku semakin merasa seperti pendosa tak berhati
ingin kuakhiri hajat ini
inginku membersihkan noda malam
namun tak jua ada energi
aku menangis
meski seringkali kesadaranku berucap bahwa itu tangisan palsu
karena esok akan berulang lagi

dalam sepi
tertulis doa ini Tuhan
Sembuhkanlah luka nurani ini

di pintu gerbang Ramadhan
1501615

Cerita Ironi Tentang Petani

Cerita tentang Petani selalu saja tidak bosan untuk diuraikan. Saya menulis tulisan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tulisan Kak Yusran tentang Malu Aku Jadi Petani Indonesia namun murni pengalaman pribadiku dan percakapan-percakapan ringan dengan bapakku yang seorang petani tulen. Aku bahkan merasa akulah Asep sebenarnya dalam tulisan Kak Yusran dan itu fakta terjadi di kehidupanku bahkan diriku sendiri.

Sebelum mengurai ceritaku dengan bapak mengenai perbincangan masalah Petani, saya ingin bercerita tentang kampung halamanku yang berada jauh di bagian utara Sulawesi Selatan berbatasan langsung dengan Kabupaten Toraja. Kontur kampungku berbukit-bukit dan disitulah penduduk di kampungku bercocok tanam dari jaman dulu. meskipun ada sawah namun hanya berpetak-petak tidak seperti hamparan sawah yang amat luas di daerah bugis seperti pinrang.

Masyarakat di kampungku menggantungkan hidupnya dari hasil bertani dan sawah meski tidak bisa dikatakan berlebihan namun saya pun tidak pernah menemui masyarakat di kampungku yang tergolong miskin karena setidaknya mereka masih bisa makan sehari 3 kali bahkan masih tersisa untuk biaya membeli keperluan lain dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ada cerita tentang kampungku yang membuat termasyhur sampai di daerah lain. Dulu entah tepatnya tahun berapa, kampungku terkenal dengan kampung jujur dan bebas dari pencurian, bayangkan saja ketika ada mangga ataupun kelapa jatuh dari pohonnya maka tidak ada seorang pun Masyarakat yang akan mengambilnya selain pemiliknya. Cerita lain adalah tidak pernah terjadi pencurian ataupun tindak kejahatan lainnya. memang dulu religiusitas di kampung sangat tinggi.

Kembali ke masalah petani. Saya tidak tahu pasti berawal dari mana, pola kehidupan di kampungku berubah bahkan sampai pada paradigma bahwa profesi sebagai petani adalah profesi yang berada di strata paling bawah dibandingkan dengan profesi lain seperti pedagang apatahlagi PNS. Masyarakat di kampungku sudah merubah isi kepalanya tentang sebuah pekerjaan bahkan sekolah selalu saja dikorelasikan dengan pekerjaan. Saya berkali-kali mendengar cerita sinis dari masyarakat tentang beberapa pemuda yang sudah menyelesaikan pendidikan sampai pada tingkat sarjana namun akhirnya kembali ke kampung dan bekerja sebagai petani, masyarakat di kampungku menganggap hal tersebut seperti aib yang memalukan.

Sampailah saya pada perbincangan tentang petani dengan bapakku. Berkali-kali ketika berbicara melalui telepon, saya selalu merasa tidak enak ketika bapakku seakan tidak mensyukuri pekerjaannnya sebagai petani. "nak, kalian harus meningkat dari orang tua, kami jadi petani dan jangan menjadi petani lagi seperti saya." Begitu berkali-kali pernyataan dari bapakku. secara tersirat bapakku seperti tidak mensyukuri pekerjaan sebagai petani dan dia seperti masyarakat pada umumnya di kampungku yang menganggap bahwa menjadi petani berarti memilih menjadi bagian strata paling bahwa dalam kehidupan bermasyarakat. dia bahkan berkali-kali menekankan bahwa kami sudah disekolahkan sampai sarjana sehingga harus bekerja kantoran.

Seringkali terdengar sangat keras ketika saya melancarkan protes kepada bapakku bahwa petani mungkin pekerjaan yang lebih bersih dari hal yang syubhat. Saya pun mengatakan bahwa menjadi petani bukan aib dan tidakkah kita memikirkan masa-masa yang lalu bahwa dari bertani lah kita bertumbuh dan tidak pernah sekalipun kita kelaparan.

Masyarakat di kampungku mayoritas berpikiran bahwa bekerja kantoran adalah sebenar-benarnya pekerjaan. mengenakan pakaian rapi, rambut disisir, berangkat jam 7 dan pulang jam 5 bagi mereka adalah pekerjaan ideal dan jauh lebih baik dari pekerjaan bersenjata cangkul, pakaian apa adanya dan berangkat jam berapa saja kemudian pulang berkubang lumpur. Entahlah apa yang sedang terjadi dalam pergeseran paradigma namun kesimpulanku bahwa itu terletak di dalam hati. ketika kita melakukan demi diri dan tulus bahkan hal tersebut bukan menjadi masalah namun beda halnya ketika kita sudah pada tingkat melihat sesuatu bukan pada esensinya bahkan terkadang fokusnya pada duniawi dan ingin dianggap berhasil oleh orang sekitar maka semua yang dianggap baik adalah yang kasat mata.

Saya pribadi memang dari dulu bekerja sambilan sebagai petani sejak masih SD sampai SMA dan sekarang saya tidak pernah menyesali kehidupan tersebut bahkan malah merindukannya. memang dulu sesekali terlintas pikiran bahwa bekerja kantoran masih lebih baik namun seiring seringnya mengamati banyak hal ternyata saya keliru.

Cara pandang orang tua seringkali berpengaruh terhadap perkembangan anak. Ketika distimulasi sesuai keinginan orang tuanya maka outputnya akan menjadi seperti paradigma orang tua yang berlanjut terus menerus atau sebaliknya akan menjadi pribadi yang menentang segala hal.

Kembali lagi bahwa profesi Petani sama sekali bukan profesi yang paling bawah dalam strata masyarakat bahkan profesi ini sangat vital dalam mata rantai kelangsungan hidup manusia. Namun ketika semua sudah menganggap bertani adalah pekerjaan yang memalukan maka tinggal menunggu waktu ada titik dalam mata rantai keberlangsungan hidup manusia yang terputus dan itu akan membuat kehidupan akan berhenti.

150615

Cerita Yang Tersisa dari Arisan

Saya menilai diriku adalah pribadi yang mungkin selalu berubah dari beberapa hal. Terkadang saya suka berkumpul dan mengunjungi keluarga ataupun kenalan namun seringkali pula saya merasa hanya ingin sendiri dan berdiam diri namun terlepas dari semua itu, saya adalah orang yang tidak ingin memutus silaturrahim dan alasan itu yang membuatku tetap memelihara persaudaraan maupun pertemanan dalam batasan-batasan tertentu.

Berkenalan dengan win dan menjalin relasi lebih dari sekedar pertemanan otomatis membuat saya berkenalan dengan keluarga besarnya. Realita tersebut tidak bisa dipungkiri dan saya harus pandai menempatkan diri di saat tertentu misalnya saja ada acara keluarga. keluarga besar tentunya tidak memiliki isi kepala yang sama sehingga terkadang kita harus memahami satu persatu Acara keluarga yang rutin dilakukan adalah arisan. Sejak setahun yang lalu, saya sudah ikut arisan dengan keluarga besar win meski harus saya akui bahwa status sosial masih saja menggangguku dan bahkan seringkali perasaan minder yang tidak bisa dihindari menghinggapiku dalam setiap sesi pertemuan keluarga. Entahlah meski seringkali saya camkan dalam hati bahwa strata sosial tidak mungkin membunuhku dalam setiap kondisi yang paling pahit pun namun hati tetaplah berkata lain, perasaan seperti itu akan selalu ada sampai mungkin saja bisa berdamai dengan diri. 

Kemarin, arisan keluarga yang ketiga kalinya saya hadiri di rumah pak en. Sehari sebelumnya memang mama eni sudah bbm mengabari acara arisan tersebut. Meski sudah berkali-kali ikut namun tetap saja perasaan saya belum bisa enjoy saat berada di tengah-tengah mereka. Saya bahkan diam seribu bahasa ketika tidak ditanya apatahlagi mereka khususnya yang sudah mak-mak selalu saja membicarakan kuliah, kerja dan apa saja mengenai hal yang mereka anggap prestise. Saya bukan tidak suka namun lebih tepatnya tidak sepakat ketika anak dipaksa untuk mengikuti kemauan orang tua ataupun distimulasi untuk mendapatkan nilai sempurna dan dalam kesempatan yang lain mereka dipaksa bekompetisi dengan diri mereka mencapai kemauan orang tua.

Satu hal yang membuat saya sedikit tersenyum ketika bertemu dengan mereka adalah tingkah polah anak-anak yang lucu dan terlihat agak pendiam. Mereka tidak pernah terlalu perduli dengan ucapan orang tua mereka yang terlalu me"lebay"kan hal yang telah mereka dapat. Saya salut dengan mereka karena dalam berinteraksi dengan sesamanya, mereka sopan dan tahu menempatkan diri mereka dengan orang di sekitarnya. Terlihat dalam hal ini bahwa orang tua mereka berhasil dalam mendidik anaknya menjadi anak yang sopan.

Diantar kelima anak tersebut, mungkin If yang paling supel dan dengan ramah selalu menyapa saudara-saudaranya bahkan yang lain hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Ic pun juga supel namun kelihat sekali bahwa Ic sudah mulai menempatkan dirinya karena dia memang sudah seorang mahasiswa. Saudara mereka yang laki-laki lebih banyak diam, reski, Johan dan Fa amat sangat pendiam dan bahkan menjurus lebih pemalu. Ris masih sedikit membaur namun Johan selalu menyendiri dan lebih suka diam meski dia sebenarnya bukan karena pemalu namun memang dia pendiam sedangkan Fa, mungkin karena usianya yang baru belia, dia lebih pemalu dan seringkali hanya menutup muka ketika ditanya sesuatu oleh tante maupun omnya.

Overall, keluarga besar mama en semua sabar dan pendiam meski dari beberapa sisi mereka rame.
Begitulah berkenalan dengan keluarga baru yang tidak semua isi kepala dan karakter sama.

Rawamangun 150615

June 13, 2015

Menunggu Senja Bersamamu

Aku mengeja waktu menantimu di sudut bangku toko
Merapal mantra perisai dirimu yang sedang pasrah dalam genggaman semesta
Melayang-layang tanpa ada kuasa menaklukkan kecemasan

Bukankah perjalan seperti itu adalah penyerahan total nasib pada takdir
Aku sekali lagi mengirim beribu kata baik kepada sang alam
Semoga angin tetap dengan tenangnya menjagamu

Ah, aku ingin membunuh gundah
Aku mengubur cemas
Lebih baik kuceritkan saja hariku

Tak jua kakiku beranjak bersama alunan hari yang mulai senja
Sebentar lagi engkau tiba

Kita melunasi rindu di taman Menteng
Bersama sepi yang berpendar dalam riuh canda bocah-bocah.

130615

June 12, 2015

malam yang merindu

Aku mendaki senja dengan nafas berbau hening
sepi menangisi sisa pertemuan semalam
diujung derita yang mulai mengering

Kita tidak lebih dari pekat yang berjatuhan
Riuh dalam nada hidup yang semakin meredup
Kita tidak lebih dari sekedar onggokan dendam yang basi

Khutbah Jum'at

khutbah jumat kali ini tidak terlalu banyak yang melekat di memori otakku. hanya ada kalimat yang diucapkan Khatib tadi tentang Khutbah yang disampaikannya. mungkin juga saya yang terlambat mendatangi shalat jumat sehingga khutbah yang kudengarkan terdengar terpotong-potong.

" Allah adalah sumber manfaat dan juga Allah adalah sumber Mudharat."

hanya kalimat ini yang masih segar di kepalaku terkait khutbah tadi. setelah itu hanya potongan-potongan kata tentang tauhid yang entah kenapa tidak kumengerti arah khutbahnya.

ah, ini saja lah
khutbah jumat tak berkesan
120615

June 11, 2015

Ode Untuk Sang Kekasih

Aku membalutmu dengan hening malam ini
pelukan dingin menghangatkan aroma kebersamaan kita dengan cengikancengikan sepi
aku merindu rinai yang selalu datang bertamu
namun entah di 2 kamis bulan juni, dia masih enggan menampakkan kehangatannya

aku melukis rindu dengan sisa salju yang kupungut di negeri seberang
ingin kukabarkan semua cerita tentangmu yang mendamba laut

"besok aku kan pergi sebentar waktu sayang, menyeberang lautan bertangan hampa. aku kembali saat sepi mendera dan rindu di ubunubun."
begitu pamitmu saat sebuah kecupan hangat kudaratkan di keningmu yang berkerut disiram hening.

sebentar saja waktu bertanya tentangku namun aku tak pernah peduli. lautan mengirimkan angin rindu saat kau mulai beranjak
aku seakan diremas malam yang dingin saat merayakan kepergianmu untuk sementara
namun tak juah tangisku

kakimu semakin melukis peta dan semakin menjauh.
namun sepanjang jalan di kota ini selalu saja meyakinkanku bahwa tak ada kata ingkar dalam pelukan semalam
hanya sedikit waktu yang hilang dan kemudian kembali saat rindu menyiksa
karena langit percaya kita adalah bilangan ganjil yang selalu menggenapkan
kita tidak akan pernah berbelah menjadi dua oleh jarak karena ganjil tak bisa berpisah

hutan semakin menakar dirinya menjadi taman percintaan kita
lautan pun berteriak
memekakkan telinga bagi para bedebah penebar asmara

tapi aku hanya disini untukmu
menyimpan sisasisa hidup bersama kenanganmu

110615

June 10, 2015

Tentang Jodoh

Saya dulu berangan-angan berjodoh dengan gadis yang bisa kutemani diskusi, tentang hidup ataupun bahkan tentang semua remeh temeh. Seorang gadis yang suka membaca dan menulis apa saja. entah mungkin karena terpengaruh dengan beberapa model pasangan seniorku dimana mereka sering berpacaran dan tentunya ada yang sampai menikah dengan gadis yang satu kepala dengan mereka. dalam artian bahwa passion mereka sama.

hingga akhirnya saya kemudian menakar diri. melihat ke dalam diriku sampai dimana sebenarnya kualitas diriku yang harus kujadikan patokan untuk mencari pasangan. harus kuakui bahwa jodoh bukan tentang sebuah pilih memilih yang seenak jidat kemudian dengan angan-angan palsu namun dia lebih pada masalah hati dan keyakinan.

kriteriaku berubah suatu waktu mungkin di akhir-akhir kuliah. saya sudah mulai mendiskusikan masalah jodoh dengan beberapa temanku di Makes. salah satu kawanku pernah mengatakan bahwa
 " jika kita ingin mencari jodoh, maka hal yang pertama yang harus kita lihat adalah bagaimana hubungan gadis tersebut dengan ibunya, bagaimana dia memperlakukan ibunya. hal kedua sebelum mendekati gadis yang sudah sesuai dengan kriteria kita adalah pertama-tama kita dekati ibunya."

hasil diskusi dengan teman-temanku tersebut selalu terngiang-ngiang di kepalaku. saya juga sebenarnya menyadari bahwa tidak begitu mudah untuk memilih pasangan yang kita akan temani seumur hidup. saya tidak munafik bahwa saya pun mendamba pasangan yang cantik sesuai standar fisik secara umum namun kemudian hatiku lebih memilih untuk mencari perempuan yang cantik hatinya dan bersabar dikala saya sedang dalam keadaan susah.

 kebiasaanku ketika bertemu dengan orang baru adalah mencoba membaca hati mereka sehingga terkadang ketika saya bertemu dengan orang baru, hal yang pertama kulakukan adalah banyak diam karena dengan begitu, saya bisa mempelajari orang dari cara bicaranya namun tidak serta merta saya menjustifikasi seseorang pada pertemuan pertama karena seringkali kita akan mengenal karakter seseorang ketika sudah beberapa kali berinteraksi meski begitu, ada hal prinsipil yang saya tetap pegang ketika berinteraksi di awal pertemuan misalnya orang yang suka mengumbar keberhasilannya, orang yang suka mengeluh dan orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain. mungkin itu sebagian kriteria bagi saya untuk menilai orang pada awal pertemuan.

saya bertemu dengan windi bersama dua perempuan temannya. seperti biasa saya bukan orang yang cepat akrab dengan orang asing. saya lebih sering mengamati. dari hasil pengamatan saya, saya tahu bahwa windi dan linda orangnya baik bukan saya menganggap bahwa teman perempuan yang satu itu tidak baik cuma karena dia masuk dalam kriteria yang saya sebutkan diatas maka saya tidak menganggap dia bisa menjadi kawan pencerita. kawan perempuan yang satu terlalu suka mengeluh, seringkali menceritakan kejelekan orang lain di belakang orang atau istilahnya ghibah bahkan terkadang pula sering menceritakan kesuksesan-kesuksesannya di masa lalu. windi dan linda lain. meski berbeda karakter, windi pendiam dan linda lebih periang namun mereka tidak termasuk dalam kriteria jelek yang kusebutkan.

pada akhirnya, saya sangat dekat dengan mereka berdua bahkan windi lebih dari sekedar dekat. dia menjadi calon isteriku. saya benar-benar menerapkan hasil diskusi saya dengan teman saya yang ada di Makes. sebelum mendekati windi, saya sudah tahu bagaimana kedekatan dia dengan ibunya dan bagaimana dia memperlakukan ibunya bahkan sejauh yang saya tahu, windi tidak ingin menyusahkan ibunya. langkah kedua ketika ingin mendekati windi adalah mendatangi langsung ibunya. memang pada awalnya ibunya kurang setuju namun pada akhirnya dia mengiyakan. 

hal yang kutemai dari interaksiku dengan keluarga windi adalah kesabaran. mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan sifat windi dan ibunya. saya harus akui bahwa saya tertinggal jauh jika berbicara masalah kesabaran bahkan saya yang sering marah dan ngambek kepada mereka berdua. saya selalu saja geram ketika mereka di dzalimi orang lain namun mereka memilih untuk sabar.

perjalanan waktu selama 2 tahun banyak mengajarkan hal baru ketika berinteraksi dengan mereka. klimaksnya saat ini saat saya dan windi berencana menikah dan saya dibebaskan oleh ibunya membantu dana secukupnya meski saya sadari bahwa menikah saat ini tidaklah murah namun ibunya benar-benar legowo saat saya hanya mempunyai dana amat sangat sedikit untuk membantu resepsi pernikahan kami. 

speachless..
11 juni 2015

Di Antara Perjalanan Sepi Yang Melelahkan

masihkah kopi pagi ini hangat di setiap urat tenggorokanku
ketika hati memilih untuk tidak tenang
masihkah ada sisasisa bau tanah sehabis dihampiri hujan semalam

tanya itu selalu memenuhi ubunubun kepala
serupa tubuh yang selalu memahami kebahagiaan di sudut sepi
kita sering mengunjungi cerobong-cerobong panjang dalam kehidupan gelap

"apa bedanya sepi dan bahagia ketika kita ada, semua melebur menjadi fana" bisikmu lirih tepat ketika kita mendaki sunyi.
iya, mereka hanyalah frase bentukan otak yang bingung merumuskan istilah dan semua melebur di dalam pelukan malam ini

sebuah tanya tentang pagi melintas tepat di setiap relung hatiku. meminta untuk memberinya jawaban
"aku ingin engkau pulang membawa rinduku yang hilang" jawabku khidmat
tak ada kata dalam diam hanya tatapan matamu yang berubah menjadi mentari dengan cahayanya berpendar menerangi kebersamaan kita

kita melukis senja dengan tinta hujan
kita bertamu pada malam dalam hening, tidur dalam pelukannya kemudian bermimpi tentang bahagia

kita berdoa menjelma menjadi butiran harapan untuk masa nanti
"kita tak akan pernah melepaskan genggaman tangan ini kan kak..?" tanyamu dalam ujung pendakian kita pada tepi malam
"iya, sampai waktu pada akhirnya menjadi pembeda antara jarak langkah kita..!! jawabku sambil memberimu setangkai mawar rindu yang layu

kita akhirnya sampai di kelokan waktu
saatnya merebahkan tubuh menanti hujan yang bergelayut
selamat malam dek.

100615

June 7, 2015

Kita Membunuh Waktu

" waktu mempermainkan cinta kita kak, atau mungkin kita yang selalu kalah berpacu dengan sabar." Katamu sepanjang jalan saat kita menyusuri senja yang bisu

Aku bahkan tak tahu lagi harus menabuh bendera perang dengan waktu karena setiap kali aku memeluknya dengan sabar, waktu seakan berhenti melangkah
Aku dan kau pun sedang mengejar waktu namun seakan dia enggan melangkah

Terkadang aku mengintip hujan dengan jawabannya namun dia seakan memberiku luka
Senja yang kemarin selalu bersamaku pun seakan enggan bertutur
Ah, kali ini aku menyerah
Membanting semua cangkir di bibir meja

Sedari tadi kususuri pandangan yang kosong dari setiap kedipan matamu
Aku menemukan cinta di dalamnya
Dan kau buktikan itu,
Sisa farfummu masih menyatu di pundakku

Aku ingin mengalahkan waktu
Membunuh waktu yang enggan melangkah

tidak sekalipun dia mengungkap misterinya
memberi jawaban yang pasti
atau sekedar pernyataan yang menenangkan
bahkan tekateki yang melekat sepanjang dirinya

kita terlalu lama jauh dari pandangan semesta
entah sekarang sudah tak terlihat lagi ataukah hanya samarsamar
akupun tak tahu

Seperti puisi dian yang bosan dengan penat
080615

Pasung Jiwa

Judul : Pasung Jiwa

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia

Hal : 328 ; 20 cm

ISBN : 978-979-22-9557-3









Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Kalimat di sampul belakang novel tersebut yang membuatku tertarik membelinya ketika mengitari hamparan buku di Lt 4 pasar senen. Setidaknya bahwa fenomena kebebasan seringkali menerabas keingintahuanku sehingga tanpa pikir panjang, kusodorkan lembaran 20 ribuan kepada penjualnya dan membawa pulang novel tersebut.

Seminggu lamanya novet ini hanya menganggur dan menemaniku di sudut kasur tanpa kubuka segelnya. Dengan berbagai alasan di kepalaku bahwa aku belum punya waktu, masih terlalu capek atau sibuk dengan memainkan hp sampai akhirnya novel tersebut terkadang hanya menjadi bantal.

Semalam secara perlahan aku mebuka sampul novel tersebut. Perlahan kubaca kalimat demi kalimat di setiap lembarannya. Aku bahkan tidak berkedip sampai kulihat jam menunjukkan pukul 24:00. Kupaksa menutup novel setelah 3/4 halaman selesai kulahap.

Ada dua tokoh utama yang dimunculkan di novel ini, yang pertama adalah sasana. Dia terlahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara dan ibunya seorang dokter bedah. sederhananya bahwa Sasana lahir dengan kecukupan ekonomi bahkan ketika masih kecil, bergiliran guru piano didatangkan oleh orang tuanya untuk mengajarinya main piano. meski Sasana sendiri tidak suka dengan hal itu namun untuk menyenangkan orang tuanya, dia mampu melahap pelajaran piano dan memainkan musik klasik dengan baik terbukti dengan banyaknya medali yang diraih di setiap lomba.

meski begitu, passion sasana tidak di piano bahkan sejak dia mendengar orkes dangdut di samping rumahnya, dia tertarik dan ikut menonton dangdut sambil goyang alhasil ketika orang tuanya mengetahui akan hal tersebut, sasana dimarahi habis-habisan karena kedua orang tuanya menganggap musik dangdut adalah musik untuk orang berandalan. 

prestasi sasana di sekolah terbilang cukup memuaskan. dia selalu mampu meraih sepuluh besar. saat tamat SMP, kedua orang tuanya memasukkan sasana di sekolah katolik khusus laki-laki meski sasana adalah seorang muslim. periode pergulatan sasana mungkin dimulai saat di SMA. pertama kali masuk di sekolah tersebut, dia dikeroyok oleh geng siswa di sekolah tersebut. peristiwa tersebut selalu berlanjut dan sasana tidak pernah jujur kepada orang tuanya hingga suatu waktu, sasana jujur akan semua kejadian tersebut dan ayah sasana yang seorang pengacara melaporkan kasus tersebut ke polisi namun kasus tersebut tidak pernah ditindaklanjuti karena salah seorang dari pengeroyok sasana adalah anak jenderal.

sasana kemudian kuliah di kota Malang. masa ini yang menjadi awal dari kisah sasana mencari kebebasannya. meski terlahir sebagai seorang pria namun sasana merasa jiwanya feminim walaupun untuk urusan asmara, sasana tidak pernah jatuh cinta kepada laki-laki.  sasana hanya bertahan 2 bulan kuliah kemudian memutuskan untuk berhenti ketika bertemu cak jek dan mengamen keliling kota Malang. profesi inilah yang dianggap oleh sasana adalah kebebasan bagi jiwanya.

kebebasan selalu terampas pada sebuah momen untuk memperjuangkan idealisme. berawal ketika cak man datang di rumah sasana (sasa), sejak menjadi pengamen keliling bersama cak jek, sasana dikenal sebagai sasa, mengabarkan bahwa anaknya yang bernama marsini yang bekerja di sidoarjo hilang sudah seminggu. menurut cerita cak man bahwa anaknya hilang setelah dia minta kenaikan gaji kepada bosnya.

Cak man, Cak Jek, sasa dan 6 orang temannya sepakat untuk aksi menuntut Marsini dikembalikan. mereka menuju Sidoarjo dan melakukan aksi di jalanan. aksi tersebut diredam paksa oleh aparat dan mereka ditangkap dan dipenjarakan. sasa mengalami kejadian paling kelam dalam hidupnya. di dalam penjara, dia dilecehkan secara seksual yang selalu menghantuinya sepanjang hidupnya.

setelah dibebaskan, sasa kembali ke jakarta namun apesnya, dia dianggap gila karena masa lalu yang selalu menghantuinya. dia dimasukkan ke dalam Rumah sakit jiwa. meski dalam kesadarannya bahwa dia tidak gila namun hanya mendapatkan kebebasannya.

sementara itu, Cak Jek berangkat ke Batam dan bekerja sebagai buruh pabrik ketika dibebaskan dari penjara setelah melakukan aksi menuntut dikembalikannya Marsini. berkerja di Batam tidak serta merta membuat hidup cak Jek menjadi lebih baik. dia bekerja sebagai pembuat kaca dan menghabiskan waktunya menjalani rutinitas sebagai buruh. suatu waktu dia memecahkan kaca tanpa sengaja dan menerima konsekuensi tidak digaji selama 2 hari. cak jek tidak terima dan dia memukul mandornya alhasil dia dipecat dan melarikan diri. cak jek kemudian hidup dengan seorang wts di sebuah rumah namun tak lama, mereka diusir oleh warga sekitar. cak jek kembali ke jawa namun sebelumnya singgah di jakarta.

dia bertemu dengan Laskar pembela Agama di jakarta yang bermarkas di petamburan. cak jek kembali memulai hidup baru sebagai laskar pembela agama. menggrebek tempat maksiat adalah pekerjaan sehari-harinya. beberapa saat kemudian, cak jek kembali ke malang dan bergabung dengan laskar malang. nama cak jek semakin tenar di malang.

sementara itu, sasa sudah menjadi penyanyi yang tenar dan sering mendapat panggilan menyanyi sampai ke luar kota, pada suatu waktu, sasa mendapat undangan menyanyi di Malang. malam itu sepertinya menjadi klimaks dari novel tersebut karena saat tampil menyanyi, Laskar pimpinan Cak Jek membubarkan paksa acara tersebut. sasa dipermalukan oleh anggota cak jek dan dia dijadikan tersangka penistaan agama. cak jek kembali galau karena dialah yang menjadikan hidup sasana menjadi sasa namun dia pula yang menghancurkannya.

sasa akhirnya disidang dan dijebloskan penjara. cak jek kemudian menjenguk sasa dan mengajak sasa kembali mengamen bersamanya. seperti kata mereka bahwa itulah kebebasan mereka.

"Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orang tuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan . Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku. Semuanya mengurungku, mengurungku menjadi tembok-tembok tinggi  yang menjadi perangkap sepanjang tiga puluh tahun usiaku". 
(hlm  293) 

overall, cerita dari novel ini mengasikkan karena semua yang digambarkan di dalam novel tersebut ada di sekitar kita bahwa seringkali ada dalam diri terutama masalah kebebasan. pada dasarnya, semua orang ingin menjadi apa adanya dan melakukan sesuai dengan nuraninya dan bebas dari intimidasi apapun sehingga kebebasan adalah kata yang sakral bagi manusia untuk menemukan dirinya.
namun seperti kutipan paling awal dari tulisan ini bahwa apakah kebebasan tersebut benar-benar ada? ada banyak hal yang tanggung di dalam novel ini, bukan pada endingnya namun dalam beberapa kasus yang diselipkan terlihat begitu setengah-setengah. bagian paling mengecewakan yang adalah perjuangan marsini menuntut kenaikan gaji kemudian hilang dan aksi jalanan sasa dan kawan-kawannya yang hanya beberapa orang kemudian setelah mereka dipenjara, cerita tersebut menguap begitu saja. tidak ada pesan yang tertera dibaliknya atau bahkan metode aksi massa yang lebih rapi.

novel ini benar-benar menggelinding begitu saja menceritakan bagian-bagian kehidupan kita yang sayangnya tidak berakhir pada sebuah kesimpulan. entah novel ini murni menjadi novel psikologi ataupun novel politik namun tidak ada yang kelar. semua diceritakan dan tidak meninggalkan pendapat dari penulisnya.

jika dikatakan novel ini hanya pada novel tentang mencari kebebasan namun sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa seharusnya penulis memberikan sedikit pandangannya tentang seperti apa itu kebebasan ataukah makhluk apa itu kebebasan. mungkin juga kesimpulan penulis ada pada kata tanya dibawah ini

Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Rawamangun
080615

June 5, 2015

Betumbuhlah

Padamu setiap kasih tak berujung. semesta menawarkan cintanya untuk setiap tawamu
bahkan di sudut malam yang menua pun, dua manusia tetap menjagamu dengan hati yang syahdu
masihkah kau ragu bertumbuh?

jangan, jangan pernah ragu
ada banyak di sekelilingmu yang membuatmu aman
bahkan duri pun tidak akan dibiarkan ada di hadapanmu

di sudut matamu
ada secercah asa yang kau simpan erat
biarkan menjadi besar
dan tak pernah pudar


Kusapa dirimu dalam getaran telepon semalam
Hanya ocehan-ocehan menggemaskan yang keluar dari mulut mungilmu
Begitulah setiap permulaan
Terkadang butuh belajar lebih banyak

 hidup tidak akan menjadi sebuah pertunjukan sulap
 menjadi ada dari ada
 karena hidup adalah proses 

 Ada seseduh susu untukmu pagi ini
Diramu dengan cinta oleh malaikatmu
Engkau menjadi titik perhatian setiap yang ada
Mungkin tak kau sadari
Sedari tadi kami mendoakanmu
Semua tentang apa yang akan engkau lalui
Tidurlah nak,
Aku ingin menghabiskan kopiku malam ini

 aku ingin bercerita tentang seorang anak kecil
 hujan selalu menjadi temannya bermain
bahkan mentari adalah sahabatnya
dia memanjakan hatinya menjadi riang

aku sepertinya kehabisan katakata berdongeng kepadamu
 aku hanya ingin melihatmu memanjat, menendang bola, bermain hujan dan apa saja seperti momen yang pernah kulalui
sesekali menangis dan tertawa sepuasnya

jangan pernah takut tentang hidup

Rawamangun.
060615