March 17, 2014

Coretan Untuk Mamak #11

Ma, bagaimana kabar mama hari ini?

Kemarin aku tidak menulis surat untuk mama karena aku agak sedikit lemas dan tidak punya gairah beraktivitas. Meski sudah kupaksakan ke toga mas untuk melepaskan kemalasanku namun sampai disana tetap saja aku lemas dan tidak punya gairah. Hanya ingin tiduran saja. Padahal banyak sekali yang ingin kuceritakan kepadamu ma, tentang keadaanku disini namun aku sudah berjanji untuk tidak menceritakan kepadamu kesedihan-kesedihanku terpaksa aku urungkan semua niatku untuk menceritakan hal yang membuatmu sedih.

Tadi malam aku meneleponmu. Memberitahukan sedikit keadaanku di sini. Tentang kebingunganku yang belum kunjung dapat pekerjaan. Tentang kondisiku yang sedikit agak lemas. Aku benar-benar tidak kuasa memendamnya ma. Aku bahkan merasa seperti yang ditulis di sebuah buku Aku, Kau dan Kua. Di halaman 94-95, ada renungan seperti ini ma, tentang ibu.

Yang rahimnya aku pakai sebelum hadir di dunia, ibu
Saat haus, tak ada kata untuk meminta, ibu menyusuiku
Kata pertama yang aku ucapkan, diajar dengan sabar oleh ibu
Bangun tidur, aku menangis merangkak mencari ibu
Saat diganggu teman di sekolah, yang bisa membujukku ibu
Ketika aku terbaring sakit, orang paling risau adalah ibu
Tapi kini, setelah dewasa. Saat aku dan pasangan sudah menikah
Kalau bahagia aku mencari pasanganku
Kalau sedang sedih aku mencari ibu
Kalau sukses aku rayakan dengan pasanganku
Kalau gagal aku ceritakan kepada ibu
Kalau bahagai aku peluk erat pasanganku
Kalau berduka aku peluk erat ibu
Kalau mau berlibur aku bawa pasanganku
Kalau sibuk, aku titipkan anak ke rumah ibu
Pasanganku ulang tahun, aku hadiahi bunga dan doa
Saat hari ibu, aku Cuma mengirim ucapan “selamat hari ibu” lewat sms
Selalu,,aku ingat pasanganku
Selalu,, ibu ingat aku
Setiap saat aku sempatkan telepon pasanganku
Entah kapan terakhir kalinya aku menelepon ibu
Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan aku pernah membelikan hadiah untuk ibuku
Dulu waktu aku masih sekolah, ibu pernah bergurau dan berkata dengan senyum canda menggodaku
“kalau kamu sudah bekerja nanti, bolehkah kamu kirim uang untuk ibu? Ibu tidak meminta banyak. Seratus ribu sebulan pun sudah cukup”
(Aku, kau dan Kua, Hal 94-95)

Aku membayangkanmu menulis itu ma. Begitu banyak hal yang telah mengalihkan perhatianku kepadamu. Ma, selain buku itu, kemarin juga pas di toga mas, ada buku yang selintas kubaca dan amat sangat bagus untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini sebagian intinya ma, di buku yang judulnya “Tangisan langit”

Imam Ali pernah menyatakan bahwa seorang yang riya memiliki setidaknya tiga pertanda. Satu, malas beramal jika tengah sendiri. Dua, bersemangat jika tengah berada dihadapan orang lain. Dan yang ketiga adalah semakin giat, termotivasi dan cekatan manakala disanjung namun langsung meredup bahkan padam semangatnya kala ditegur.

Ma, hal ketiga yang mau keceritakan tentang hari kemarin adalah saat aku ingin BAB ternyata toilet di kosku lagi buntu ma. Aku ke kawasan kalidami di sebuah masjid menumpang toilet. Di sana ternyata ada petugasnya dan saat aku memasuki toilet masjid, dia menanyaiku mau apa dan teka endi. Aku jawab seadanya namun hal yang paling membuatku kesal karena dia bertanya dengan muka masam ma. Sepertinya dia punya masjid itu. Aku tidak pernah mendapati orang dilarang numpang di masjid kalau di kampung kita ma. Siapapun dia bebas buang air kecil dan BAB di toilet masjid. Di kota ini ma, semua seakan tidak boleh. Tapi tidak apa-apa ma. Kita lah yang seharusnya tetap baik meski semua orang di sekitar kita tidak bersahabat


Tetap bahagia ma, karena hidup memang seharusnya bahagia dan sebarkan kebahagiaan kepada yang lain. Insya Allah aku sehat-sehat saja dan baik-baik di sini ma. Iringi aku dengan doa-doa terbaikmu.




 
Jojoran 3/61
17’3’14

No comments: