Ma, bagaimana kabar mama hari ini?
Kemarin aku tidak menulis surat untuk mama
karena aku agak sedikit lemas dan tidak punya gairah beraktivitas. Meski sudah
kupaksakan ke toga mas untuk melepaskan kemalasanku namun sampai disana tetap
saja aku lemas dan tidak punya gairah. Hanya ingin tiduran saja. Padahal banyak
sekali yang ingin kuceritakan kepadamu ma, tentang keadaanku disini namun aku
sudah berjanji untuk tidak menceritakan kepadamu kesedihan-kesedihanku terpaksa
aku urungkan semua niatku untuk menceritakan hal yang membuatmu sedih.
Tadi malam aku meneleponmu. Memberitahukan sedikit
keadaanku di sini. Tentang kebingunganku yang belum kunjung dapat pekerjaan. Tentang
kondisiku yang sedikit agak lemas. Aku benar-benar tidak kuasa memendamnya ma. Aku
bahkan merasa seperti yang ditulis di sebuah buku Aku, Kau dan Kua. Di halaman 94-95, ada renungan seperti ini ma,
tentang ibu.
Yang rahimnya aku pakai sebelum hadir
di dunia, ibu
Saat haus, tak ada kata untuk
meminta, ibu menyusuiku
Kata pertama yang aku ucapkan, diajar
dengan sabar oleh ibu
Bangun tidur, aku menangis merangkak
mencari ibu
Saat diganggu teman di sekolah, yang
bisa membujukku ibu
Ketika aku terbaring sakit, orang
paling risau adalah ibu
Tapi kini, setelah dewasa. Saat aku
dan pasangan sudah menikah
Kalau bahagia aku mencari pasanganku
Kalau sedang sedih aku mencari ibu
Kalau sukses aku rayakan dengan
pasanganku
Kalau gagal aku ceritakan kepada ibu
Kalau bahagai aku peluk erat
pasanganku
Kalau berduka aku peluk erat ibu
Kalau mau berlibur aku bawa
pasanganku
Kalau sibuk, aku titipkan anak ke
rumah ibu
Pasanganku ulang tahun, aku hadiahi
bunga dan doa
Saat hari ibu, aku Cuma mengirim
ucapan “selamat hari ibu” lewat sms
Selalu,,aku ingat pasanganku
Selalu,, ibu ingat aku
Setiap saat aku sempatkan telepon
pasanganku
Entah kapan terakhir kalinya aku
menelepon ibu
Selalu aku belikan hadiah untuk
pasanganku
Entah kapan aku pernah membelikan
hadiah untuk ibuku
Dulu waktu aku masih sekolah, ibu
pernah bergurau dan berkata dengan senyum canda menggodaku
“kalau kamu sudah bekerja nanti,
bolehkah kamu kirim uang untuk ibu? Ibu tidak meminta banyak. Seratus ribu
sebulan pun sudah cukup”
(Aku, kau dan Kua, Hal 94-95)
Aku membayangkanmu menulis itu ma. Begitu banyak hal yang
telah mengalihkan perhatianku kepadamu. Ma, selain buku itu, kemarin juga pas
di toga mas, ada buku yang selintas kubaca dan amat sangat bagus untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Ini sebagian intinya ma, di buku yang judulnya “Tangisan
langit”
Imam Ali pernah menyatakan bahwa seorang yang riya
memiliki setidaknya tiga pertanda. Satu, malas beramal jika tengah sendiri. Dua,
bersemangat jika tengah berada dihadapan orang lain. Dan yang ketiga adalah
semakin giat, termotivasi dan cekatan manakala disanjung namun langsung meredup
bahkan padam semangatnya kala ditegur.
Ma, hal ketiga yang mau keceritakan tentang hari kemarin
adalah saat aku ingin BAB ternyata toilet di kosku lagi buntu ma. Aku ke
kawasan kalidami di sebuah masjid menumpang toilet. Di sana ternyata ada
petugasnya dan saat aku memasuki toilet masjid, dia menanyaiku mau apa dan teka
endi. Aku jawab seadanya namun hal yang paling membuatku kesal karena dia
bertanya dengan muka masam ma. Sepertinya dia punya masjid itu. Aku tidak
pernah mendapati orang dilarang numpang di masjid kalau di kampung kita ma. Siapapun
dia bebas buang air kecil dan BAB di toilet masjid. Di kota ini ma, semua
seakan tidak boleh. Tapi tidak apa-apa ma. Kita lah yang seharusnya tetap baik
meski semua orang di sekitar kita tidak bersahabat
Tetap bahagia ma, karena hidup memang seharusnya bahagia
dan sebarkan kebahagiaan kepada yang lain. Insya Allah aku sehat-sehat saja dan
baik-baik di sini ma. Iringi aku dengan doa-doa terbaikmu.
Jojoran 3/61
17’3’14

No comments:
Post a Comment