March 29, 2017

#OTS 4

Perjalan berikutnya menjejakkan kaki di tanah Gorontalo. pertama kali bertandang ke kota ini yang merupakan provinsi pecahan dari Sulawesi Utara.

senja sudah menjuntai sesaat sebelum Pesawat yang membawaku ke kota ini landing di bandara. hujan pun menyambut yang membuat suasana semakin sendu. saya menumpang mobil travel dari Bandara ke kota. jalanan yang masih banyak rusak dan jarak yang jauh memaksa mobil yang kutumpangi menghabiskan waktu sekitar sejam dari bandara ke jl. Jend. Sudirman Gorontalo.

saya memilih menginap di hotel Eljie selain karena tarif yang lumayan murah juga strategis dari tempatku berkegiatan selama di Gorontalo.

Kota ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kota-kota di pulau Sulawesi. jalanan protokol yang tidak terlalu lebar dan struktur bangunan yang hampir sama bahkan cuacanya. di malam hari sekitar pukul 20:00, sepanjang jalan jend Sudirman sudah sepi dan jalanan yang gelap karena hanya terdapat beberapa lampu penerang.

selama 5 hari di kota ini, tidak ada yang terlalu istimewa dari beberapa hal yang kujumpai. dari segi makanan, layaknya mayoritas orang Sulawesi, di kota ini pun hidangan lauk ikan dengan berbagai jenis. pantai yang menjulur di belakang kantor Gubernur dan bukt-bukit yang mengelilingi kota ini.

ada sedikit kesamaan dengan kota Lasusua di Sulawesi Tenggara. kantor Pemerintahan berada di atas gunung hanya saja di Gorontalo, kantor pemerintaahannya berada di belakang laut dan mengarah ke tengah kota sedangkan di Lasusua, Kantor Pemerintahannya tepat berada di atas bukit yang mengarah ke laut.

saya juga berkesempatan bertemu dengan teman semasa kuliah. dia asli warga di kota ini dan kembali mengabdi di kota ini. kami menikmati salah satu hidangan makanan khas Gorontalo yaitu Binte. makanan ini terbuat dari parutan jagung dicampur dengan daging dan sayuran dan diberi kuah. hampir sama dengan makanan "Baro'bo" di kampungku namun rasanya yang sedikit agak berbeda.

Satu pemandangan yang sedikit membuatku risih saat mampir shalat Jum'at di perjalanan pulang menuju bandara. ada beberapa orang yang berpakaian adat menyambut Bupati setempat di depan pintu Masjid kemudian mengiringinya menuju saf paling depan. saya tidak tahu apa spirit dari budaya seperti itu namun sebagai pendatang, saya sedikit risih melihat hal tersebut karena seolah terlalu feodalistik dan mengagungkan pejabat yang menurutku ketika berada di dalam masjis, posisi semua orang sama saja.

29 03 17

Pulang Kampung

Pulang kampung ibarat melampiaskan rindu yang menggumpal. Mengisi energi positif yang terkuras habis atas bias kehidupan kota bahkan memastikan semua keluarga terkasih dalam baik-baik saja di kampung halaman yang sudah tertinggal jauh. menahan sesak memandangi memori masa lalu dan menghirup udara yang telah membesarkan raga.
saya berkesempatan pulang kampung di minggu-minggu yang sibuk atas rutinitas di kantor. perjalanan dinas ke salah satu daerah di Sulawesi menjadi peluang bagiku untuk pulang kampung mengingat setiap pesawat yang terbang dari Ibukota ke tempat dinasku harus transit di Makassar.

2 hari di kampung sudah lumayan mengisi energi rindu.saya tiba di kampung sabtu pagi dinihari. tidak ada yang terlalu berubah begitu mencolok dari kampung yang kutinggalkan 5 tahun lalu. jalanan yang masih sama dan bangunan yang tidak terlalu banyak bertambah.

satu hal yang membuatku meringis ketika melihat gunung di sekeliling kampungku sebagian besar terlihat gundul. beberapa tahun terakhir, mayoritas penduduk di kampungku semakin bersemangat membuka lahan baru untuk ditanami bawang bahkan bukit yang dulunya ditumbuhi pepohonan pun dibabat dan disulap sebagai lahan perkebunan bawang.

tidak, sama sekali tidak ada rasa iri melihat gairah penduduk kampung yang semakin giat bekerja di kebun bahkan sebaliknya, saya bergembira atas fenomena tersebut mengingat mata pencaharian di kampungku adalah bertani. namun menurutku beberapa dari mereka kebablasan dan terlalu bersemangat membuka lahan baru untuk perkebunan bawang merah. bayangkan saja sampai di puncak gunung pun, sudah tidak terlihat hijaunya pepohonan dan berganti dengan tanaman bawang merah.

dampak dari pembukaan lahan besar-besaran terlihat ketika kita melewati jalanan yang menjulur sepanjang kaki gunung. aspal penuh dengan lumpur yang berasal dari tetesan sisa hasil siraman dari perkebunan bawang merah bahkan sungai yang dulunya jernih terlihat seperti susu cokelat di musim hujan. salah satu kampung dilanda banjir bandang padahal sejak dari dulu, tidak pernah ada sejarah banjir bandang terjadi di sana.

hasil dari bawang merah yang menggiurkan benar-benar membuat gelap mata beberapa mereka. bahkan salah satu cerita ada seorang petani yang mendapat keuntungan sampai 1 miliar dari hasil penjualan bawang merah.

dari banyaknya cerita keberhasilan petani bawang, juga terselip kisah pilu. salah satu musuh terbesar bagi petani bawang adalah ulat. untuk menanggulanginya, maka para Petani mengandalkan racun ulat yang dicampur dari 5 jenis racun ulat yang berbeda. dalam sehari, paling tidak petani melakukan sekali penyemprotan. salah satu cerita yang kudengar ada seorang petani yang mati sesaat setelah makan roti sehabis menyemprot ulat. diduga bahwa racun tersebut mencemari roti yang dimakannya.

berita kematian petani akibat terpapar racun ulat sudah beberapa kali terjadi bahkan setidaknya ketika kita tidak memakai masker dan berada beberapa meter dari orang yang sedang menyemprot ulat maka  seringkali kita akan mengalami gejala mual bahkan muntah.

saya membayangkan beberapa tahun ke depan, ketika tidak ada pertimbangan rasional dalam pembukaan lahan bawang merah maka kemungkinan akan terjadi bencana yang tidak diinginkan. meski sama sekali saya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi.

29 03 17

Impian yang Hilang

membaca artikel ini seakan membawaku kembali ke beberapa tahun yang lalu. kisah yang hampir sama kulalui saat masa-masa remaja. mungkin hanya sebagian potongan kisah yang tidak persis sama, namun semangat yang kumaknai dari tulisan tersebut sama seperti yang kurasakan. layaknya sepakbola adalah pelarian dari setiap masalah sebagai seorang anak yang hidup di pedesaan.

tidak sulit untuk mengidentifikasi stimulan awal kenapa saya sangat mengandrungi permainan sepakbola. di kampungku, terdapat sebuah lapangan bola yang merupakan sentrum hiburan bagi penduduk di kampungku di sore hari sesaat setelah pulang dari kebun. hampir pasti setiap lelaki di kampungku menggemari permainan bola.

pola kehidupan masa kecilku di kampung hanya berputar pada sekolah kebun dan lapangan sepakbola. pagi saya menghabiskan waktu di Sekolah kemudian siang setiba pulang dari sekolah, saya harus mengurus sapi dan kambing kemudian pada sore hari setelah shalat ashar, saya sudah siap di lapangan.

Piala dunia dan Piala Eropa adalah hiburan paling ditunggu mulai anak SD sampai orang tua. seringkali kami menonton bareng dengan menggunakan media layar tancap. 

Saya mulai mengikuti pertandingan sepakbola antar sekolah setingkat SD di kecamatan. seingatku, saat itu, saya baru menginjak kelas 4. tidak ada pemain yang boleh menggunakan sepatu bola sehingga untuk menghindari perihnya telapak kaki akibat gesekan dengan lapangan yang keras maka kami mengakalinya dengan menggunakan kaos kaki beberapa lapis. 

Euforia pertandingan tersebut masih membekas di memoriku. beberapa hari sebelum pertandingan, saya sudah menyiapkan baju yang akan saya kenakan pada saat pertandingan. berhubungan karena pada saat itu belum ada jersey seragam yang disiapkan pihak sekolah dan kami hanya diberitahu bahwa dres scode baju warna putih, maka saya memilih baju warna kuning dengan beberapa tulisan di depannya. pada saat itu, jersey sepakbola masih menjadi hal yang mewah bagi kami yang hidup di kampung.

Tim sekolah kami kalah pada saat itu namun tidak ada kesedihan karena pada dasarnya, pertandingan hanya sebagai sebuah kesenangan semata. saya ditempatkan sebagai Gelandang namun yang menjadi kesulitan adalah kami menggunakan lapangan ukuran orang dewasa sehingga tak terkira tenaga yang terkuras.

hari-hari setelah pertandingan tersebut, saya semakin mencandui permainan ini. ada perasaan tidak senang ketika hujan mengguyur pada sore hari karena banyak teman-teman sebaya yang malas bermain sepakbola akibat lapangan yang berlumpur.

kamar saya dipenuhi dengan poster pemain sepakbola Eropa bahkan semua buku tulis sekolah saya disampul dengan plastik kemudian saya sisipkan gambar pemain sepakbola yang digunting dari lembaran majalah maupun surat kabar. bahkan beberapa sisa tempelan gambar pemain masih ada di dinding rumahku.

menginjak sekolah menengah, saya semakin sering bermain sepakbola apatahlagi sudah dipercaya ikut bermain dengan orang dewasa meski awalnya harus menjadi kiper. memang sudah menjadi preseden di kampungku bahwa ketika bermain sepakbola, anak SMP yang akan menjadi "korban" sebagai penjaga gawang mengingat posisi tersebut amat sangat tidak populer.

saya mulai reguler bermain dengan orang dewasa  saat kelas 2 SMP. saya sangat menyukai posisi Gelandang karena menurutku, posisi tersebut tidak banyak disalahkan ketika kalah. meski sudah sering latihan namun saya belum kunjung mendapatkan kesempatan mengikuti pertandingan tarkam di tim kampungku. saya masih bersetia sebagai Suporter.

Kelas 1 SMA menjadi titik balik dalam karirku di persepakbolaan amatir. pada saat itu pula, saya berhasil membeli sepatu bola hasil tabunganku sendiri. warna metalik namun kebesaran. saya sudah dipercaya sebagai salah satu bagian dari tim 2 yang merupakan kumpulan dari anak-anak yang belum matang dan dikombinasikan dengan orang dewasa yang sudah melewati usia pemain sepakbola. jadi di kampungku, ada dua tim yang diikutkan setiap kali ada helatan turnamen.

tidak terlalu lama untuk mendapatkan kepercayaan menjadi bagian dari tim utama. sejak kelas 2 SMP, saya sudah menjadi bagian dari tim utama yang sering mengikuti turnamen yang diadakan di kecamatan berbeda di kabupaten. namun salah satu turnamen yang membekas di memoriku adalah turnamen tarkam U-18. bahkan di turnamen tersebut, saya dipercaya sebagai seorang kapten meski saya diharuskan mengisi posisi sebagai bek. ada kebanggaan tersendiri mengenakan ban kapten karena secara otomatis, akan menjadi pusat perhatian. kami kalah dari tuan rumah melalui adu pinalti di putaran 8 besar.

kepercayaan diri saya benar-benar memuncak dan meyakini bahwa sepakbola adalah hidupku sehingga pada suatu waktu sesaat setelah makan malam, saya mengutakan niat saya kepada bapak saya bahwa suatu saat saya akan menjadi seorang pemain sepakbola.

"Kau tidak bisa hidup dari sepakbola. lihat mereka yang pintar main sepakbola di kampung, paling jauh hanya main di tarkam" jawaban bapakku benar-benar meluluhkan energiku menjadi seorang sepakbola.

meski masih sering menggiati permainan sepakbola, namun jawaban bapakku perlahan-lahan menggerus niatku menjadi seorang sepakbola. setamat SMA kemudian melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi membuatku semakin jarang berlatih sepakbola. meski sesekali saya masih mengikuti turnamen ketika libur kuliah.

Satu hal yang saya sesali pada saat itu adalah tim sepakbola kampungku dikenal sangat temperamen bahkan hampir pasti setiap kami bertanding, akan ada kericuhan di lapangan yang berakhir dengan tawuran. hal tersebut membuat beberapa panpel turnamen tidak mengundang tim dari kampungku dalam waktu yang lama. 

saat ini, permainan sepakbola di kampungku mulai hilang ruhnya. tidak ada lagi permainan sepakbola pada sore hari bahkan lapangan sepakbola sebagian sisinya dijadikan sebagai lapangan bola voli oleh remaja perempuan. tidak ada lagi energi kegembiraan di sore hari.

impian menjadi seorang pemain sepakbola profesional sudah mustahil bagi saya bahkan bermain sepakbola pun jarang. hanya sesekali itupun permainan futsal yang menurutku sama sekali tidak menggairahkan. namun sekarang saya sudah punya seorang anak yang masih bayi. saya berhasrat untuk menceritakannya bahwa ada permainan keren yang bisa menjadi energi hidup yaitu sepakbola. saya tidak akan pernah memaksanya menjadi apa suatu saat nanti dan saya akan tetap bangga atas pilihan-pilihan hidupnya yang bermanfaat namun kebanggaan saya akan berlipat jika dia memilih menjadi seorang pemain sepakbola profesional. satu hal yang lebih penting bahwa saya dan ini mungkin sedikit otoriter bahwa dia harus menjadi fans Inter Milan atau setidaknya tidak boleh memilih Juventus dan Manchester United sebagai klub idola

Rabu, 29 03 17

March 17, 2017

Bandara Bersama Senja

Perjalanan Gorontalo ke Makassar benar-benar melelahkan. Saya melepas penat tepat di depan tulisan Bnadara sambil menunggu adekku yang sedang dalam perjalanan menjemputku.

Aku menerawang kota ini, langitnya yang sedang disambangi mendung. Ada semacam rasa hampa yang tibatiba menghinggapiku, entah perasaan seperti apa atau mungkin perasaan sentimental ketika menyadari bahwa kota ini hampir saja menjadi asing bagiku.
Bandara Hasanuddin

Hampir tujuh tahun kota ini kutinggalkan sesaat setelah menyelesaikan kuliahku. Aku menerabas lautan menjadi perantau di pulau sebelah. Entah apa tujuanku namun ternyata, keputusan merantau membuatku menemukan takdir menetap di pulau jauh. Aku berjodoh dengan banyak hal di sana dan harus melepaskan semua kenangan di kota ini.

Kali ini, aku menginjakkan kaki di kota ini. Menyendiri di kerumuman manusia yang sedang beranjak dan datang di bandara. Aku menatap setiap sudut kota dan kemudian berpikir,sebenarnya apa yang sedang kukejar?  Toh pada akhirnya semua akan tiba di persinggahan terakhir.

Namun sekali lagi, aku sudah memiliki tanggungan yang harus kujaga dan semoga jadi jalan menyusuri jalan hidupku.

Bandara Makassar. 17 3 17

March 3, 2017

# OTS 3

Pekerjaan ini benar-benar membawaku melancong ke sudut Negeri ini. tanpa harus mengeluarkan sepersen dana pun, saya sudah menginjakkan kaki di beberapa tempat dimana seringkali orang lain harus mengumpulkan dana untuk sampai di sana.

bulan kedua tahun ini, saya kembali menjejak langkah di sebuah pulau yang dikenal sebagai tujuan para Turis.menikmati cuaca yang menyengat dan dinamika kehidupan yang lebih variatif. orang-orang yang dengan tampilan nyentrik tanpa harus terganggu pandangan orang lain.

Matahari mulai menanjak ketika Pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara kota ini. saya menjumpai pemandangan yang indah ketika memandangi hamparan laut dari atas Pesawat. Bandara kota ini tepat berada dipinggir laut.

saya menumpang taxi ke arah bilangan ibu kota. sopirnya banyak bercerita tentang kota ini dan segala dinamikanya. saya menenjumpai suasana kota di jawa dari cara berbicara si sopir. ada kesamaan ntonasi suara penduduk kota ini dengan orang-orang di jawa. satu hal yang membuatku kikuk adalah sewa taxi yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran jarak dari bandara ke kota apatahlagi taxi tersebut tidak menggunakan argo.

lima hari di kota ini membuatku bisa merasakan atmosfer kota dan penduduknya yang terlampau sangat berbeda dengan kultur di kampung halamanku. kota ini penuh dengan bau dupa setiap pagi. kota yang menurutku tidak terlalu terburu-buru seperti Jakarta.

untuk ukuran makanan, saya harus bisa memilah makanan yang saya konsumsi karena kota ini melegalkan segala macam makanan yang menurut keyakinan yang kuanut haram untuk dikonsumsi. terlalu mudah menemukan babi guling ataupun warung lain yang menyediakan aneka masakan dari daging babi.

Saya mengunjungi beberapa spot wisata yang selama ini hanya bisa kulihat dan kubaca di media. kawasan wisata di kota ini dipenuhi oleh turis asing bahkan seakan orang asli di kota ini yang menjadi minoritas. kesenjangan antara pendatang dan penduduk asli.

pantai di kota ini memang indah. air laut yang bening dan pasir yang terhampar sepanjang bibir pantai. satu hal yang paling penting adalah pengunjung sangat sadar akan pentingnya untuk membuang sampah di tempatnya sehingga sangat jarang melihat sampah berserakan.

keberadaan saya di kota ini bertepatan dengan cuaca yang amat sangat menyengat. seperti membakar tubuh dan melululantahkan ubun-ubun. 

Saya beranjak pergi dari kota ini jumat sore tepat saat Matahari menuju peraduannya. bahkan saya menyaksikan pemandangan yang sangat indah di ruang tunggu bandara. amat sangat jelas melihat sang Mentari perlahan-lahan menghilang dari pandangan mata. Matahari yang berbalik arah tepat di seberang lautan sehingga memandangi sunset dilatari hamparan laut, indah.

semoga suatu saat kembali ke kota ini berlibur bersama keluarga
Pulau Dewata

3 3 17