October 19, 2012

Liburan

kawan, tawa lepas tak jua hilang dari canda kita, bergurau bersama saat orang-orang sibuk dengan dunia mereka masing-masing, seakan tak peduli, tak hirau bahkan diam untuk mereka sendiri. tawa lepas tak jua sirna dari gurau kita, saat orang-orang melangkah gontai dalam kehidupan mereka, dalam September penuh cerita, saat semua seakan tak lagi terberikan

tawa lepas tak jua hilang, saat duduk bersamamu, bercerita tentang orang-orang di depan kita, yang anehnya mereka tidak pernah mendengar. tawa bahkan kadang-kadang terbahak, saat berada di dalam keriuhan orang-orang ini, tapi tak satupun dari mereka yang senyum lalu memberi kita uang

senyum sumringah dalam masa itu, ketika orang-orang tertawa dengan benda, larut dalam pergulatan, dalam masa itu, saat mereka tak sakit walau terlindas. saat itu, saat semua bercerita dalam sebuah pengakuan hidup, bahwa mereka-mereka sering menangis sambil senyum bahkan airmata tak muncul dari sudut mata mereka hanya saja merah.


Akhir September 2012 saat akan meninggalkan jkt menuju jogja

October 12, 2012

Renungkan

Engkau yang sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, pengharapan sedang dipikulkun buatmu, begitu banyak orang yang berharap padamu, berharap akan engkau bisa memenuhi hari-hari depanmu yang cemerlang karena sebenarnya pengharapan-pengharapan mereka tidak lain adalah untuk dirimu sendiri. Engkau yang sedang memasuki masa remaja, masa dimana darah muda sedang bergejolak, mencari jati diri, penuh aktualisasi yang tinggi bahkan semua dilakukan untuk memperlihatkan prestise

Tak salah aku mengingatkanmu beberapa hal, karena akupun dulu pernah melalui hal yang sama yang sedang engkau jalani, masa kuliah, masa penuh dinamika bahkan sering kali dijalani dengan penuh emosi tanpa pertimbangan yang pasti. Kau yang sekarang menjalani masa studimu di sebuah kampus di Makassar. Aku tak meragukanmu dan tak ingin mengekangmu namun keadaan harus membuatku untuk mengingatkanmu beberapa hal. Dunia kampus adalah dunia semu, hanyalah persinggahan untuk merangkai asa dan kerja menuju dunia yang sebenarnya, ego manusia-manusia di kampus sangatlah tinggi dan inilah inti yang ingin kusampaikan kepadamu

Kabar sampai di telingaku, bahwa manusia-manusia di kampus semakin tak terkendali, mereka seakan tak mempertimbangkan moral ketika melakukan sesuatu bahkan harus merengggut nyawa orang lain, itu tidak lain karena keakuan yang amat sangat tinggi. Ketika tawuran terjadi, hakekatnya bahwa tidak ada yang benar, hanya karena persoalan arogansi saja. Bayangkan, ketika itu terjadi untuk merusak, apa akibat yang akan engkau usung? Saat engkau melempar dan temanmu dari fakultas lain pun melempar kea rah kalian, apa bedanya kalian dengan mereka kalau situasinya seperti itu? Dimana letak nilainya? Dan sesungguhnya ketika kita melakukan sesuatu tanpa ada nilainya maka itu adalah sebuah hal yang absurditas.

Dik,,,
Bayangkan temanmu yang harus merenggut nyawa saat itu, apa yang akan terjadi, akan banyak orang-orang di belakangnya yang kemudian akn merasa kehilangan. Kemudian setelah merefleksi kembali, apa sebenarnya yang akan dicari dalam sebuah tindakan yang bar-bar seperti itu. Hanya karena ingin dikatakan jago, atau hanya karena ingin dikatakan pemberani bahkan ingin dikatakan punya solidaritas tinggi terhadap teman. Itu hal yang sangat menggelikan, mungkin adanya benarnya tetapi  tempatnya bukan disitu, bukan dalam perkara tindakan bar-bar. Banyak sekali cara lain yang bisa ditempuh untuk menyalurkan hasrat diatas tanpa harus ikut-ikutan dalam tindakan bar-bar yang merugikan orang lain.

Biarkan orang bicara apa tentangmu, mulai saat ini, tetapkan tujuanmu untuk merangkai asa masa depanmu, pikirkan harapan-harapan orang tua di kampung yang senantiasa sibuk mendoakan dan menyokongmu untuk menggapai masa depanmu.

Saat engkau akan melakukan hal yang salah, bayangkan kembali wajah ibu yang dengan susah payah menjual aneka adonan kue di pasar. Yang kesemua hasilnya akan dikirimkan buatmu. Bayangkan ketika dengan susahnya ibu membuat aneka kue kemudian menjajakannya di pasar namun tak ada yang laku, apa engkau tak punya lagi rasa kasihan membayangkan itu semua. Kuyakin bahwa itu semua akan terbalas ketika engkau mendengarkan nasehat-nasehatnya dan kemudian belajar dengan baik-baik.

Bayangkan ketika bapak setiap subuh berangkat ke kebun untuk mencari sedikit rezeki, tak dihiraukannya panas, hujan bahkan apapun yang menghalanginya, dia tetap melakukannya dengan pengharapan mendapat sedikit uang untuk di bayarkan uang sppmu. Bayangkan itu semua.

Ketika engkau di kota hanya main-main, ikut-ikutan dalam tindakan yang tak berguna buat masa depanmu, bahkan ketika nasehat-nasehatnya tak lagi engkau hiraukan, apa lagi yang sebenarnya engkau pikirkan dan apa pula sebenarnya yang menjadi tujuanmu kuliah? Mungkin saja tetesan air mata ibu di tengah malam terus bercucuran saat engkau tak mau dinasehati, apakah engkau ingin seperti itu. Mana janjimu yang ingin membahagiakan kedua orang tua? Apakah tekadmu itu hanyalah retorika belaka yang muncul saat ingin menunjukkan eksistensimu sebagai orang yang baik-baik, namun ternyata tidak ada yang bisa engkau lakukan.

Kuharap tidak, kuharap engkau tulus dan benar-benar ingin membahagiakan orang tua, saat ini, mulailah mendengarkan nasehat-nasehatnya, mulailah untuk lebih bersabar,jangan meminta sesuatu yang memberatkan mereka, jangan sekali-kali membuat mereka bersedih karena ulah, jangan ikut dalam tindakan yang dapat mebahayakan dirimu dan orang lain. Mulai untuk lebih banyak belajar karena ketika engkau tidak lebih banyak belajar, apa bedanya engkau dengan mereka yang tidak kuliah.

Semoga hatimu tergugah, semoga engkau mulai lebih bersabar dan bersyukur atas apa yang ada, tidak meminta yang lebih karena banyak orang yang mau kuliah namun tidak mampu sedangkan engkau masih mampu kuliah meskipun dengan keadaan seperti ini.

Jogja, 12-9-2012

Selalu Kuingat

Selalu saja ada yang menarik ketika kami berdua dengan teman yang satu ini.  kebersamaan kami yang terjalin sejak 6 tahun lalu mungkin menjadi penyebab keintiman kami. Selalu saja kami dipertemukan dalam ruang dan waktu yang tidak disangka-sangka. ketika sudah tidak lagi bersama-sama di kampus sejak 2 tahun terakhir. Saat ini, kami dipertemukan lagi di Yogjakarta dalam kamar kosnya. Entah kebetulan atau memang sudah tertulis, tapi saya tidak membayangkan akan secepat ini kembali bertemu dengannya di sini, setelah dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di kota ini. Ceritanya begini, 2 bulan yang lalu, teman saya ini mengikuti tes di di salah satu kampus terbesar di kota Gudeg dan dinyatakan lulus sehingga dia harus hijrah ke kota yang kata orang-orang penuh dengan kenangan. Saya saat itu masih di kota asalku dan tak pernah terbersit dalam benakku untuk pergi melancong ke kota ini, namun cerita seakan menggoreskan sessuatu yang lain. saya kemudian juga mengikuti salah satu tes di ibu kota. beberapa minggu di sana, temanku menelpon saya untuk lanjut ke kota ini untuk sekedar jalan-jalan. kupikir bahwa kapan lagi kami bertemu, aku  kemudian mengiyakan ajakannya. sampailah saya di sini dan kembali bertemu dengannya meskipun dalam suasana yang berbeda.

Tadi malam, kami seakan mengulang kembali cerita-cerita kami di kota asal, meskipun dengan cerita yang berbeda, setelah dia selesai mengerjakan tugasnya, kami pun asyik dengan berbagai cerita masa lalu, cerita masa depan. dengan ciri khasnya yang kukenal selama ini, dia sekali-kali melontarkan guyonan menggangguiku dengan cerita masa lalu tentang seorang wanita yang tidak mungkin kuceritakan di sini. Meskipun dia sekarang sedang menggeluti pendidikannya sebagai mahasiswa S2 namun tidak ada perbedaan yang kemudian menjadi jurang ketika kami bercerita banyak hal.  Tentang kehidupan, tentang apa yang semestinya dilakukan bahkan tentang seseeorang yang kelak akan menjadi orang yang paling dekat.

Ada hal yang memang tidak pernah luntur dari guratan wajahnya, sesosok yang sangat kuat memegang apa yang dia pahami dan sangat peduli namun di lain waktu, terkadang sangat syahdu. Kuingat, kebersamaan kami saat masih duduk di bangku kuliah S1. Bahkan organisasi yang kami ikuti pun hampir sama. Kuingat pula bagaimana kegeramannya terhadap aparat, terhadap mereka yang kemudian mengenakan label coklat dan loreng. Bagaimana ketika kami bercerita, dia selalu bersemangat. 

Hal yang tak pernah lepas dari kebiasaannya ketika kami bertemu kembali adalah dia mengingatkan tentang kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup.

Mungkin inilah yang paling kutakutkan ketika kutinggalkan hpku begitu saja. dia yang memang dari dulu kebiasaannya mengutak-atik hpku sampai membuka inboxku ternyata kembali dilakukannya, kali ini sangat parah karena ada hal yang sengaja kusimpan dan akhirnya dia tahu juga. Sudah kuduga, ketika dia tahu itu, beribu pertanyaan segera meluncur deras dari mulutnya menanyaiku lagaknya seorang detektif ulung yang sedang menanyai seorang tersangka. Namun kuyakin bahwa dia tidaklah sejahat itu. Tingkahnya memang seperti itu dan kuanggap hal yang biasa. Terpaksa saja malam itu kuceritakan semuanya, tentang kisah-kisahku yang selama ini kututup rapat-rapat, tentang sebuah kisah yang semestinya kunikmati sendiri namun tidak apalah untuk menceritakan dan membagi sedikit kisahku kepadanya.

Kami berdua sedang menjalani hidup kami masing-masing namun satu yang kuyakin bahwa dunia yang sedang kami jalani takkan mereduksi keakraban kami yang sudah terjalin selama ini karena dunia yang kami jalani hanyalah semu dan keakraban kami lebih intim dari dunia itu sendiri. Kami sedang merajut mimpi-mimpi kami yang dirangkai untuk masa depan kami, namun mimpi-mimpi tersebut takkan menggerogoti kebersamaan kami. Kami sedang dalam perjalanan ke sebuah titik pencarian yang sangat panjang nan melelahkan namun kelelahan tersebut takkan menghalangi kami untuk selalu mengingatkan. Kami sedang memacu adrenalin kami untuk mengisi hidup kami  masing-masing dengan sebuah cita-cita namun cita-cita itu takkan menghabiskan energi kami untuk saling menanyakan kabar. Kami sedang berjalan dengan jalan yang tak sama namun aku yakin bahwa arah yang kami tuju adalah sama. Kami sedang berusaha untuk mengartikan dunia namun itupun takkan menyita waktu kami untuk sekedar saling tegur sapa. 

Hidup yang sering kami diskusikan dulu adalah hidup yang sangat indah yang terhiasi dengan keadilan, hidup yang sedang kami artikan, sedang kami rangkai. Entah sampai kapan rajutan itu berhenti, apakah ketika rajutannya tersusun rapi atau bahkan baru sebagian, entahlah karena yang kami tahu adalah kami sedang berproses untuk itu, sedang meniti jalan. Kami tahu sekarang bahwa kami sedang hidup dalam dunia yang sebenarnya, dunia belantara yang kemudian setiap saat akan menenggelamkan kami ketika kami tidak awas. Kami tidak lagi hidup di dunia kampus dimana ruang kami dibatasi oleh pagar tembok yang mengungkung kami. Yah, di dunia yang sedang kami huni adalah dunianya para manusia, binatang dan semua yang sedang terdampar disini. Dunia yang mengajarkan kami sesuatu yang kelak akan membawa kami ke sudut kematian. 

Kearifan yang sering diceritakannya adalah hal yang baik selalu saja ada jalannya, hal yang baik selalu saja ada rejekinya, karena bumi ini selalu saja cukup bagi penghuninya, selama langit masih menggantung memayungi bumi selama itu pula, bumi akan selalu siap melayani para penghuninya, bahkan sampai manusia-manusia yang rakus pun masih selalu mendapatkan tempat di bumi ini. 

Kuyakin beban kami sangat berat bahkan untuk mempertanggungjawabkan diri sendiri. Jalan yang kami pilih kemudian menggiring kami ke arah yang berbatu, berkelok, menanjak, curam bahkan sangat melelahkan namun jalan itu adalah jalan yang terbaik yang kemudian menghantarkan ke arah yang benar. 

Cerita yang takkan ada habisnya, kisah yang kunjung selesai karena kisah dan cerita yang sesungguhnya baru kami mulai, baru kami rangkai dalam kondisi serba terjepit dari segala arah, dari isi kepala yang sering kami cekoki dahulu dengan mimpi-mimpi manis hidup, bahkan dari realitas kehidupan itu sendiri yang ternyata sangat menakutkan dan sangat mengerikan.  Hal yang kemudian mencairkan kebekuan otak kami adalah kampung halaman dan keluarga, dimana kami bisa mengukir hidup dengan sesuka hati kami, dimana kami bisa mewarnai hidup kami, bisa menjadikan sesuatu yang kami pikirkan menjadi benar-benar ada. Namun itu tidak cukup, karena dunia bukan ruang itu saja, karena dunia punya ruang di sisi lain yang mestinya harus juga kami isi dengan berbagai kisah karena hidup terus berjalan dan kami pun harus berjalan meskipun sekali-kali berhenti sejenak menarik nafas melepas penat dan minum segelas air untuk melepas dahaga kemudian berjalan lagi dan lagi. 

Sampai jumpa di persimpangan jalan berikutnya setelah kita berjumpa di perempatan jogja. Kutunggu cerita-cerita selanjutnya. Kita harus berjalan kembali setelah sejenak melepas keletihan. Semoga cerita kita selanjutnya semakin berwarna. Karena hidup semestinya penuh warna agar tak mebosankan untuk dijalani.




Sesaat setelah begadang dan bercerita banyak dengan A di Jogjakarta saat mata kami tak jua terpejam dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. 9-9-2012

Kawan

Kawan, Engkau sedang berjalan jauh. bahkan sangat jauh dari orang-orang yang engkau cintai dan engkau sayangi. Engkau sedang berbalik arah, tepat saat engkau menggenggam sebuah kebahagiaan bersama teman hidupmu. Engkau tinggalkan mereka. Namun kutahu bahwa itu untuk mereka, buat mereka yang engkau cintai.

Kawan, Saat itu, saat engkau akan melangkahkan kakimu, Kutahu itu sangat berat buatmu, bahkan langkahmu sangat gontai, bagaimana tidak, teman hidupmu sedang memeluk buah cinta kalian. Kawan, Kuingat saat itu, engkau ceritakan kepadaku, tentang kegelisahanmu, tentang semua kegundahanmu, tentang bagaimana engkau sudah rindu saat semuanya baru akan dimulai, saat langkah pertamamu baru saja akan engkau ayun.

Kawan, Yakinlah bahwa ini hanyalah persoalan ruang dan waktu, Kalian tetap sedang dalam kebersamaan. Yakinlah bahwa kepergianmu tidak berarti engkau melupakan mereka, bahkan sebaliknya, kepergianmu adalah tanda cinta buat teman hidupmu, karena kepergianmu adalah buatnya, buat si calon juniormu yang mungkin saja sudah merasakan cinta kalian berdua. Kawan, Hidup sedang engkau jalani, hidup yang kan mengajarkan setiap orang bagaimana caranya menjalani hidup itu sendiri karena hidup datang bersama dengan ceritanya

Perjalananmu akan menemukan arahnya dan waktu sendirilah yang kan menjawab itu semua. Kepergian bukanlah berarti sebagai sebuah perpisahan tapi bermakna pertemuan yang indah yang sedang di rangkai dengan waktu.

Kawan, Terlihat jelas dalam guratan wajahmu saat kita bersama, saat kutemani engkau di tempat itu, terlihat ketulusan kasihmu buat teman hidupmu buat orang yang engkau kasihi. Kau ceritakan si juniormu yang sedang dalam kandungannya. Takkan ada yang kan menghalangi kasih kalian bahkan cerita hidup ini sekalipun. Kawan, aku berhutang ilmu padamu yang telah mengajarkanku banyak hal, tentang diriku dan tentang kehidupanku bahkan tentang semua hal yang tak pernah terpikirkan olehku Bahkan disaat engkau jauh, engkau masih sempat menyapaku.
 
kawan, kuingat lagi. tentang semua angan-angan kita, bagaimana melihat dunia yang lebih baik lagi,dunia yang berada dalam kondisi yang adil untuk setiap makhluk, namun itu tidak terjadi sekarang karena bumi sedang dalam masalah dan semoga kita bukan bagian dari masalah bumi

Kawan, dalam kondisi raga yang terpisah oleh ruang dan waktu. semoga pertemuan kelak tetap seperti dulu. saat engkau bercerita banyak tentang hidup ini. Tentang sebuah mimpi-mimpi indah. Tentang jalan berbeda yang kita pilih dari kebanyakan orang. tentang kita yang kemudian tidak bersepakat dengan keadaan dunia sekarang. tentang semua ketidakadilan yang semakin memuakkan kita

Kawan, Pada akhirnya, Hidup akan bercerita. Menjelaskan makna dari semua ini, dari apa yang sedang terjadi, dan langkahmu kan tercatat sebagai sejarah perjuanganmu buat orang yang engkau kasihi. namun pada akhirnya, seperti yang sering kita diskusikan berdua, bahwa semuanya kan menuju ke Dzat yang satu, yang abadi, Sang Ilahi karena semua yang sedang kita cintai hanyalah suplemen untuk mencapai cinta yang hakiki cinta dan rindu kepada Sang PemilikNYA

Di suatu malam tetap pukul 01.00, 11-9-2012.

October 11, 2012

Ulang Tahun Adik


Kado di ulang tahunmu yang hanya berupa tulisan tak jelas, tulisan yang kubuat saat mengingat bahwa engkau berulang tahun hari ini. Tak ada yang special dari tulisan ini, namun kupikir daripada aku tak mempersembahkan sesuatu buatmu, lebih baik kutulis saja sesuatu yang menurutku baik untukmu. Entah engkau akan membacanya atau tidak karena tulisan kado ulang tahunmu ini akan kusimpan sendiri. Buatmu adik sekaligus kawan yang sudah memasuki umur 23 th, usia yang kuanggap sangat matang dan mampu melakukan sesuatu yang menurutku bisa berdampak baik kepada keluarga atau orang lain.
Tulisan ini akan kumulai dengan quote yang engkau cantumkan di facebookmu “
 
HASRAT UNTUK BERUBAH


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal .......aku bermimpi ingin mengubah DUNIA seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku........kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.......maka cita-cita itu pun ku persempit lalu kuputuskan untuk mengubah NEGERIKU
Ketika usia masih senja, dengansemangat kuyang masih tersisa kuputuskan untuk mengubah KELUARGAKU orang-orang yang paling dekat dengan ku tetapi celakanya mereka pun tidak mau diubah, dan kini sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari:
andaikan yang pertama-tama yang kuubah adalah DIRIKU, maka dengan menjadikandirikuteladan. mungkin aku bisa mengubah KELUARGAKU. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi pun aku mampu memperbaiki NEGERIKU. kemudian siapa tau, aku bahkan bisa mengubah DUNIA.

Kuyakin bahwa jika seandainya engkau benar-benar ada dalam kutipan di atas, itu akan mengarahkanmu kepada sesuatu yang paling tidak membawa kebaikan bagi semua orang. Jika engkau benar-benar ada dalam tulisan itu, kuyakin pula bahwa hidupmu akan menjadi lebih terarah karena akupun yakin bahwa dalam melakukan sebuah perubahan maka yang menjadi fokus utama adalah sesuatu yang bisa kita capai dan berada dalam jangkauan kita. Bertolak dari kutipan di atas bahwa yang sangat memungkinkan dalam melakukan perubahan adalah merubah diri kita sendiri, yakinlah bahwa untuk merubah makrokosmos, maka yang pertama kali harus dirubah adalah mikrokosmos itu sendiri (diri kita).

Dalam masa ini, saat kita sudah berjauhan, saat kita sama-sama menjalani hidup kita masing-masing, saat kita sedang merangkai langkah-langkah menuju masa depan, saat semua yang kita lakukan tak lagi bersama-sama, saat aku dan kau hanya bisa berhubungan lewat alat-alat elektronik, saat kita jarang sekali bertatapan, saat semuanya itu berlangsung karena hidup memang begitulah adanya, kemudian pada akhirnya aku sadar bahwa kebersamaan bukanlah mengenai ruang dan waktu namun kebersamaan kita ada dalam hati kita masing-masing, kuharap juga bahwa semoga semua ketidakbersamaan kita hanyalah persoalan ruang dan waktu dan kita akan selalu menyapa satu sama lain meskipun hanya dalam hati.

Perjalanan masih panjang, hidup tak akan berhenti sampai disini, tak boleh juga kita menoleh kebelakang terlalu lama karena yang akan kita hadapi dan dunia yang sebenarnya ada di depan kita. Buat sesuatu yang akan mengantarkan kita ke masa depan yang lebih baik,masa depan yang dipenuhi beribu asa yang lebih baik lagi.

Apa kabarmu hari ini, saat engkau sedang memperingati hari kelahiranmu? Tak ada kado baju, tak ada kado celana, tak ada kado apapun yang akan kuberikan, hanya tulisan ini yang kan mengingatkanku suatu saat nanti bahwa saat engkau ulang tahun yang ke 23 th, aku masih mengingatnya.

Sebelumnya, akan kukenang dulu masa-masa ketika kita masih bersama di kampung dengan ayah ibu, karena engkau dan aku hanya terpaut 2 th, kuingat masa itu kita sering sekali bertengkar, mulai dari hal-hal yang sangat kecil, kadang karena makanan, kadang karena engkau disuruh ke kebun kemudian saya hanya di rumah saja atau apapun itu yang membuat kita selalu bertengkar. Pertengkaran yang di kemudian menjadi hal pengingat bagi kita berdua untuk saling merindukan.

Sepertinya aku tidak boleh terlalu lama mengenang masa yang telah lalu karena itu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang kita jadikan sebagai sejarah persaudaraan kita. Hari ini, saat ini, ruang dan waktu telah memisahkan kita, telah menjauhkan kita, bahkan pertemuan kita sangat jarang, engkau saat ini masih kuliah namun kau sudah selesai. Kutahu memang kita sering tenggelam dalam kesibukan kita masing-masing, sering terlupa untuk saling menyapa bahkan mungkin hanya melalui sms. Semua karena kita sedang menjalani dunia kita masing-masing.

Sudah seharusnya engkau  menentukan arahmu, sudah seharusnya engkau melangkah dengan penuh kepastian apa yang kan menjadi tujuanmu. Pastikan bahwa engkau mampu membedakan hal-hal yang absurditas dan apa yang benar-benar engkau perlukan, pastikan bahwa setiap langkah yang engkau ambil adalah langkah menuju kebenaran, pastikan bahwa dalam setiap gerak tanganmu, engkau takkan melukai sesuatu apapun, pastikan bahwa nafasmu adalah refleksi rendah hati. Semua yang kan menggerakkanmu adalah hal yang baik

Jangan engkau tertidur saat ini, jangan engkau memicingkan matamu terhadap apa yang ada di depanmu, cobalah untuk mengerti dunia yang sedang kita hadapi, sadarlah bahwa kita sedang berada dalam dunia yang penuh dengan absurditas, dunia  yang harusnya kita jalani dengan penuh keberanian, karena dunia sekarang adalah dunia yang penuh dengan onak berduri, tetaplah awas dalam melangkah meretas dunia ini.

Saat engkau gontai, saat begitu banyak yang engkau lihat di dunia ini, saat itulah engkau mengerti bahwa dunia ini adalah dunia penuh asa yang hampa.belajar banyaklah dari kehidupan ini, perbanyaklah untuk menutup mulutmu dan membuka lebar telinga, jangan engkau biarkan dirimu hina Karena dirimu, yakinlah bahwa dunia ini akan berjalan sesuai dengan cerita langit namun sekali lagi bahwa itu bukan berarti untuk membuatmu berhenti duduk dan melihat hidup ini.

Tetaplah melangkah dengan kaki, tetaplah memegang dengan tanganmu, tetaplah mendengar dengan kupingmu, pergunakanlah setiap apa yang engkau punya pada apa yang seharusnya, jangan sekali-kali engkau berjalan dengan tanganmu karena akan membuatmu tak mampu bergerak, tegakkan kepalamu saat menghadapi masalah dan jangan sekali-kali memalingkan badan kemudian berlari menjauhi masalah karena saat engkau lakukan itu, maka masalah akan terus mengerjarmu sampai mendapatimu di sudut kegelisahan kemudian menenggelamkanmu. Ketahuilah bahwa saat engkau hidup, saat engkau masih menarik nafas, saat itu pulalah, masalah kan selalu ada. Tidakkah engkau sadar bahwa tarikan nafasmu pun kan menjadi masalah saat itu tak tercatat sebagai ibadah, tidakkah engkau tahu bahwa keberadaanmu di dunia pun sudah menjadi masalah saat engkau tak melakukan sesuatu yang berguna.

Sekali-kali berdiam dirilah engkau, ajaklah dirimu bercakap-cakap, hilangkan egomu dan temukan semua yang ada pada dirimu, hilangkan kesedihanmu di hari kemarin dan hilangkan pula kecemasanmu terhadap hari esok yang kau kan lalui. Kesedihan dan kecemasan hanya akan mengurungmu dalam penjara kegelapan yang tak berarti apa-apa buat dirimu. Hilangkan semua itu, bahkan hilangkan pula dirimu, kemudian mulai untuk hanyut dalam ketiadaan sampai engkau tahu bahwa segalanya adalah absurd dan hanya satu yang benar-benar ada yaitu Sang Pencipta.

Hidup bukan untuk kita sendiri, hidup kita buat orang lain, buat lingkungan bahkan buat semua penghuni bumi, saat semua orang sadar itu, bumi akan merestui keberadaan kita. Jangan selalu merasa inferior, jangan selalu membuat dirimu tak bisa melakukan apa-apa, ingatlah bahwa kita harus selalu rendah hati tapi bukan merasa rendah diri. Selalu sajalah untuk bergerak, selalu saja untuk mengambil setiap pelajaran dari hidup bahkan jangan lewatkan sedetikpun waktumu tanpa mengambil pelajaran darinya. Ketahuilah bahwa pelajaran ada dimana-dimana, tercerer di setiap sudut kehidupan dan pandai-pandailah untuk mengambilnya.

Ingin kukatakan yang terakhir ini bahwa tujuan hidup adalah Allah, ketika engkau melakukan sesuatu tanpa ujung-ujungnya untuk menuju Allah, maka sesuatu yang engkau kerjakan akan sia-sia, bahkan saat menarik nafaspun harus karena Allah. Apa yang engkau lihat di dunia ini perlahan lahan akan berlari menjauhimu, semakin engkau mengejar sesuatu yang selain Allah, maka semakin engkau akan teresesat jauh dan yang engkau kejar pun semakin menjauh namun sebaliknya semakin engkau mencari jalan dan berusaha untuk mengejar keridhaan Allah maka Dia akan menjemputmu, membawamu kedalam pangkuannya.

Selamat memperingati ulang tahunmu, selamat bermain dengan kehidupan, selamat berusaha menuju ketitik kesempurnaan untuk menjemput ridha Allah


Jogjakarta, 21 oktober 2012

October 9, 2012

Penat

Penat, itulah yang mungkin tergurat di wajahku. Berjalan dan tetap berjalan dalam keriuhan segerembolan manusia manusia dengan aktivitas tak berakhir. Namun kutahu, aku bergulat dengan pikiranku sendiri. Bahkan berpikir untuk menyendiri menikmati duniaku sendiri. Lepas dari semua bayang banyang kecemasan akan masa depan yang selalu menghantuiku dalam setiap usaha yang kulakukan

Bahkan kini, Ketika matahari hampir tepat di atas kepalaku setelah seharian menempuh jalan yang meletihkan. aku masih tetap menggoreskan cerita yang hampir sama dengan hari kemarin. Tak terbayangkan memang, dalam langkah langkahku yang semakin gontai dengan peluh yang tak henti hentinya menetes dari ubun ubunku. aku bahkan masih sempat memikirkan semua itu. Semua yang mungkin saja tidak ada artinya. seringkali masih kupikir ocehan ocehan manusia yang kerap kutemuai di jalanan, di got got, di emperan sungai, di gunung gunung. pernah sekali

Kucoba untuk berhenti sejenak, meluapkan perasaan kekesalanku dan tak lagi memperdulikan mereka. namun apa, semua seakan sia sia. setelah melanjutkan perjalanan panjang mengerikan. Mereka selalu saja menggelontoriku dengan pernyataan pernyataan yang kusadari hanya akan menghancurkanku, namun itulah aku. Manusia yang masih lugu, masih tegoda dengan sesuatu yang absurd, masih terkungkung pada hal hal indrawi. Di saat kusering berkata bahwa aku hanya mau yang hakekat. namun tidak buat hatiku, masih terpenuhi oleh rongga rongga ego yang semakin hari semakin memperparah kondisiku.

Kondisi yang semakin sekarat yang hampir saja membawaku ke pinggir kuburan. Mengubur diriku meskipun bukan jasadku. Namun ketika semua itu benar benar terjadi padaku, terjadi dalam hidupku atau bahkan mungkin dalam mimpiku.

Maka, akan seperti apa diriku, aku sendiri tak mampu membayangkannya karena sangat menakutkan bahkan hanya untuk di bayangkan. meskipun begitu, kutahu bahwa perjalanan ini belum sampai disini, Bahkan permepatan jalan belum kujumpai dan persinggahan sesungguhnya masih jauh di depan. Kuputuskan untuk tetap melangkah meskipun kadang merangkaka karena kuyakin bahwa masih banyak kesempatan untuk itu, untuk meluruskan otot ototku yang dibengkokkan oleh sesuatu yang tidak perlu. Hingga mungkin, tibalah saatnya nanti kau penat, tersungkur kemudian tertidur dan tak bangkit lagi.

Jogja, 9-9-2012