March 3, 2014

Rindu #3


Raungan kereta masih serasa menggema di kupingku, membawamu terbang ke negeri seberang. Sementara senja mulai layu dikejar malam namun tetap saja aku masih membungkuk di samping stasiun kotamu mencari celah yang engkau lemparkan senja kemarin saat keberangkatanmu

Senjapun kabur disapu kegelapan malam yang tergesagesa menghampiri. Hujan tak kunjung reda menghancurkan sisasisa kenangan malam itu. Semua serasa meronta untuk memberi salam perpisahan hanya saja rembulan yang telat berdiri hanya berteriak di balik pintu sambil terisak parau, aku bahkan tidak tega membiarkannya melihatmu melangkah jauh dari kenangan ini

(bila saja teriakan hanyalah nyanyian perjumpaan dan isak tagis adalah salam perpisahan maka lebih baik aku hening karena tidak kuinginkan itu terjadi diantara kebersamaan kita)

Kota ini telah menjadi kepingan masa lalu yang engkau lemparkan kehadapanku lalu kemudian kupungut potongan demi potongan dan kupasang sebagai hiasan dindingku. Stasiun ini menjadi leburan kebersamaan kita yang diukir oleh hujan diatas sajadah kehidupan dan pada akhirnya meleleh menjadi sebuah nostalgia usang yang kabur dipandang bahkan tak terbaca sedikitpun. Aku hanya mengenalinya dari aroma tubuhmu yang masih melekat erat di pelukanku meski seringkali aku berusaha membersihkannya.

Disaat waktu menghujamkan pelurunya dan menyeru lalu kemudian mendekapmu menghilang dari hadapanku, bibirku dipenuhi oleh butiran katakata dalam rupa doadoa terbaik yang tak terucap, hati sesak dengan dentingan lonceng kereta pertanda waktu kepergian benarbenar telah tiba dan mata yang berair seolah dipenuhi Kristal yang tak tertahankan. Semua menyatu dalam jiwa yang bergetar mencampakkan perasaan tertinggal yang susah payah dibangun setahun ini

Aku adalah sisasisa  airmatamu yang menetas tak henti bahkan aku adalah separuh jiwa yang engkau campakkan di malam yang berjatuhan bahkan aku juga adalah setumpuk harapan yang engkau persembahkan sebagai taruhan masa depanmu. Aku adalah semua yang telah engkau bawa lari ke waktu yang belum kugapai dan entah kapan aku akan menjumpai semua tentangku di dirimu.

Takkan ada lagi rengekan manjamu dan yang tertinggal hanyalah suarasuara halus yang menyeruak di memori otakku.

Takkan ada lagi belaian halus jemarimu di wajahku menghapus keringatku yang bercucuran saat memapakmu di setiap perjalanan waktu yang engkau telusuri

Takkan ada lagi suapan dari tanganmu yang dengan hatihati memasukkan butir demi butir ke mulutku yang kemudian engkau akhiri dengan usapan tisu di mulutku

Takkan kujumpai lagi engkau yang dengan tegarnya memijit setiap sudut tubuhku yang penat

Aku berlari dari semua kenangan yang menjadi bayangbayang hariku. Aku bersembunyi disetiap tikungan yang tak silau oleh waktu yang telah terlewat namun siasia karena serpihan kenangan yang engkau tinggalkan bersama deritaku begitu kuat dan tak sedikitpun redup di sukma hanya sesekali diam namun kembali meminta untuk didekap seperti saat dulu engkau seringkali mendekap manja di dadaku sambil jemarimu mengusap perutku.

Penantian adalah sesuatu yang sakral bagiku. Bersama gurun yang menantikan hujan ataupun malam yang menantikan rembulan. Aku menanti, dan menanti setiap apapun kabar dari ceritamu. Aku tak perduli dengan semua hal yang menyelip tak permisi kedalam ruang hatiku karena telah ada engkau bersemanyam di sana.

No comments: