Raungan kereta
masih serasa menggema di kupingku, membawamu terbang ke negeri seberang. Sementara
senja mulai layu dikejar malam namun tetap saja aku masih membungkuk di samping
stasiun kotamu mencari celah yang engkau lemparkan senja kemarin saat keberangkatanmu
Senjapun kabur disapu kegelapan malam yang
tergesagesa menghampiri. Hujan tak kunjung reda menghancurkan sisasisa kenangan
malam itu. Semua serasa meronta untuk memberi salam perpisahan hanya saja
rembulan yang telat berdiri hanya berteriak di balik pintu sambil terisak
parau, aku bahkan tidak tega membiarkannya melihatmu melangkah jauh dari
kenangan ini
(bila saja teriakan hanyalah nyanyian perjumpaan dan isak tagis
adalah salam perpisahan maka lebih baik aku hening karena tidak kuinginkan itu terjadi
diantara kebersamaan kita)
Kota ini telah menjadi kepingan masa lalu
yang engkau lemparkan kehadapanku lalu kemudian kupungut potongan demi potongan
dan kupasang sebagai hiasan dindingku. Stasiun ini menjadi leburan kebersamaan
kita yang diukir oleh hujan diatas sajadah kehidupan dan pada akhirnya meleleh
menjadi sebuah nostalgia usang yang kabur dipandang bahkan tak terbaca
sedikitpun. Aku hanya mengenalinya dari aroma tubuhmu yang masih melekat erat
di pelukanku meski seringkali aku berusaha membersihkannya.
Disaat waktu menghujamkan pelurunya dan
menyeru lalu kemudian mendekapmu menghilang dari hadapanku, bibirku dipenuhi
oleh butiran katakata dalam rupa doadoa terbaik yang tak terucap, hati sesak
dengan dentingan lonceng kereta pertanda waktu kepergian benarbenar telah tiba
dan mata yang berair seolah dipenuhi Kristal yang tak tertahankan. Semua menyatu
dalam jiwa yang bergetar mencampakkan perasaan tertinggal yang susah payah
dibangun setahun ini
Aku adalah sisasisa airmatamu yang menetas tak henti bahkan aku
adalah separuh jiwa yang engkau campakkan di malam yang berjatuhan bahkan aku
juga adalah setumpuk harapan yang engkau persembahkan sebagai taruhan masa
depanmu. Aku adalah semua yang telah engkau bawa lari ke waktu yang belum
kugapai dan entah kapan aku akan menjumpai semua tentangku di dirimu.
Takkan ada lagi rengekan manjamu dan yang tertinggal hanyalah
suarasuara halus yang menyeruak di memori otakku.
Takkan ada lagi belaian halus jemarimu di wajahku menghapus
keringatku yang bercucuran saat memapakmu di setiap perjalanan waktu yang
engkau telusuri
Takkan ada lagi suapan dari tanganmu yang dengan hatihati
memasukkan butir demi butir ke mulutku yang kemudian engkau akhiri dengan
usapan tisu di mulutku
Takkan kujumpai lagi engkau yang dengan tegarnya memijit setiap
sudut tubuhku yang penat
Aku berlari dari semua kenangan yang menjadi
bayangbayang hariku. Aku bersembunyi disetiap tikungan yang tak silau oleh
waktu yang telah terlewat namun siasia karena serpihan kenangan yang engkau
tinggalkan bersama deritaku begitu kuat dan tak sedikitpun redup di sukma hanya
sesekali diam namun kembali meminta untuk didekap seperti saat dulu engkau
seringkali mendekap manja di dadaku sambil jemarimu mengusap perutku.
Penantian adalah sesuatu yang sakral bagiku. Bersama
gurun yang menantikan hujan ataupun malam yang menantikan rembulan. Aku menanti,
dan menanti setiap apapun kabar dari ceritamu. Aku tak perduli dengan semua hal
yang menyelip tak permisi kedalam ruang hatiku karena telah ada engkau
bersemanyam di sana.
No comments:
Post a Comment