February 19, 2017

Jokowi dan Ahok, mundurlah!!!

Di awal tahun ini, saya menyimpan pengharapan semoga Jokowi mundur dari kursi presiden dan Ahok mundur dari pencalonan pilkada DKI kemudian mengikhlaskan dirinya di penjara atas tuduhan penistaan agama.

bagaimana tidak, mereka bagaikan tandem pemicu ribut-ribut di negeri ini. kubu yang kontra sedemikian keras mendelegitimasi Jokowi dari pucuk pimpinan tertinggi negeri ini sedangkan kita ketahui, keputusan Ahok maju kembali sebagai calon Gubernur DKI mendapat reaksi yang amat sangat keras dari sebagian umat Islam.

puncak gunung es menemui titik klimaks ketika Ahok offside berbicara tentang elemen agama Islam di depan warga Kepulauan Seribu. kekhilafan Ahok tersebut membuatnya harus menanggung konsekuensi maha dahsyat.

keinginan saya tersebut diperkuat dengan fenomena bahwa apapun yang tidak disenangi oleh kelompok oposisi selalu dinisbahkan kepada Jokowi. titik nadir kebencian atas nama kepentingan kelompok benar-benar sedang berada di puncak. Ahok yang masih melenggang bebas sedangkan statusnya sudah terdakwa pun dianggap sebagai kesalahan Jokowi.

sebelumnya saya berharap bahwa dengan berakhirnya pilkada DKI Jakarta serta merta akan menurunkan tensi urat leher mereka yang sedang berkelahi argumen di media namun ternyata harapanku sirna. perseteruan mereka seakan menjadi-jadi apatahlagi Pilkada mengharuskan digelar dua putaran setelah tidak ada calon yang berhasil meraup suara 50%+1.

salah satu harapan meredakan ketegangan di negeri ini adalah Jokowi mundur dan merelakan negeri ini di tangan mereka yang sedari dulu menginginkannya dan Ahok menjauh dari percaturan politik DKI Jakarta. tidak menjadi soal bagi mereka apakah Ahok akan dipenjara ataupun tidak sepanjang Ahok tidak lagi mencalonkan dirinya sebagai Gubernur, itu intinya. menurutku.

Februari 2017

Andrea Ranocchia, Mencari diri di Iiga Inggris

http://www.andrearanocchia.com/2014/04/08/visita-in-sede/
Saya pernah menulis tentang para Pemain Inter Milan yang pantas untuk dijual dan Ranocchia adalah Pemain yang saya tempatkan berada di urutan pertama. alasan saya karena sejak bergabung dengan Nerazurri, dia tidak pernah benar-benar mampu menarik perhatian saya malahan dia sering melakukan blunder yang berujung kekalahan. postur tubuh yang mumpuni untuk menjadi seorang palang pintu ternyata tidak mampu dimanfaatkan dengan baik.

keinginan saya melihat Ranocchia untuk keluar dari pintu Inter Milan akhirnya terwujud. dia dipinang oleh salah satu klub Liga inggris, Hull City. penampilan perdananya membawa hoki ketika mengalahkan Liverpool dan ikut menyumbangkan satu assist, namun hal tersebut belum jua membuatku terkesan.

keputusannya untuk pindah ke Liga Inggris benar-benar di luar dugaanku. bagaimana tidak, Liga Inggris yang sejak dulu dikenal sebagai Liga yang mengandalkan kecepatan sangat berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkan oleh Ranocchia selama berbaju Nerazurri. dia selalu keteteran meladeni seorang striker yang mempunyai kecepatan di atas rata-rata.

Meski berstatus pemain pinjaman, saya berharap bahwa Ranocchia akan dipermanenkan oleh Hull City karena penampilannya selama berada di klub tersebut terbilang lumayan. mungkin saja Ranocchia adalah pemain yang potensial namun tidak cocok dengan pola permainan Inter Milan.

Semoga saja betah di Liga Premier bersama Hull City, Om Rano. cayoooo!!!!

Februari 2017

Gerombolan Analisator

Apa yang paling menyebalkan atas perkembangan internet yang semakin canggih? Menurut saya, munculnya gerombolan analisator abal-abal di media sosial.

Untuk setiap fenomena yang sedang mengemuka di ruang publik, kita pasti disuguhi berbagai macam analisa entah di beranda fesbuk, twitter, blog ataupun ruang dimana mereka bisa mengekspresikan eksistensi mereka dengan analisa-analisa yang menggelikan.

Saya akan melakukan kroscek terhadap penulisnya jika membaca sebuah artikel. Jika tidak jelas dan tidak relevan, dengan segera kutinggalkan. Memang sih semua hikmah harus diambil meski keluar dari dubur ayam tetapi toh terkadang menyebalkan.

Hal yang paling memuakkan menurutku adalah fenomena pilkada jakarta. Para anlisator karbitan keluar dari goa dengan berbagai macam ulasan. semua demi mencari perhatian atas kepentingan oligarki yang sedang dibelanya.

saya sangat kesal terhadap mereka yang berusaha menganalisa pilkada dari sudut pandang kelompoknya sendiri tanpa berusaha membuka sedikit ruang diskusi dengan analisa yang dianggapnya tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya. dia mengambil semua referensi yang berpihak pada kelompoknya untuk menguatkan pendapatnya meski disadari bahwa referensi tersebut tidak ilmiah bahwa berita Hoax.

saya menjumpai salah seorang yang dengan bahagianya mengcapture judul berita di salah satu media online kemudian menertawakannya karena menganggapnya bahwa media tersebut sedang menyebarkan berita Hoax dan di lain waktu ketika kelompok yang dibelanya ketahuan menyebarkan Hoax, dia hanya berujar singkat kemudian memakluminya sebagai bagian dari perjuangan. ingin rasanya saya menghujatnya saat itu juga namun saya kembali berpikir, apa bedanya saya dengan mereka jika harus mengeluarkan beribu hujatan. lebih baik diam kemudian mengusap dada ketika berhadapan dengan orang yang berpendirian seperti itu.

saya tidak punya tendensi apa-apa terhadap kubu yang sedang bertarung di pilkada kali ini, toh saya yakini bahwa mereka sedang berkompetisi atas kepentingan kelompok mereka namun saya hanya bersimpati bagi mereka yang benar-benar menutup hati demi melanggengkan tujuan mereka meski saya juga menyadari bahwa dari kelompok yang sedang bertarung, masih ada individu-individu di dalamnnya yang bersetia terhadap kebenaran dan saya menyenangi ulasan mereka yang berbuat adil sejak dalam pikiran. "meminjam istilah om Pram."

Februari 2017

Menyoal Sikap Iwan Fals

“Bang Iwan soal pilkada DKI mendukung Ahok, benarkah?”

Iwan Fals :
“Orang suka punya asumsi. Saya selalu ditarik-tarik ke politik. Dan bukan hanya sekarang Pilkada DKI, Pilpres 2014 pun demikian. Dari jaman-jamannya 3 partai pun demikian. Saya sudah katakan saya warga Depok Jawa Barat nggak mungkin dukung Ahok. Nggak mungkin juga dukung yang lainnya. Saya mengenal Ahok, saya mengenal Anies Baswedan, saya mengenal SBY. Saya apresiasi kepada orang yang berani berbuat untuk kebaikan. Saya netral kecuali untuk agama, keluarga, negara, kopi, dan followers.” Sumber.


Bertubi-tubi cacian, umpatan bahkan kritik yang menyerang pribadi Iwan Fals menjelang pilkada Jakarta. dari berbagai penjuru mata angin hanya karena berhembus isu bahwa IF berafiliasi dengan salah satu kandidat Gubernur meski berkali-kali IF sudah mengklarifikasi isu tersebut baik melalui wawancara maupun media sosial miliknya.

mungkin mereka belum lahir atau bahkan orang tua mereka masih mengenakan seragam sekolah ketika IF sudah berteriak lantang melawan rezim orde baru. pada saat itu, jelas lawan yang dihadapi adalah oligarki di negeri ini yang bersatu sedang berpesta pora menikmati keringat rakyatku.

sikap IF yang seakan netral pada saat situasi politik saat ini adalah pilihan terbaik. tetapi sialnya, sikap netral saat ini dianggap sebagai dosa besar. mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan mengklaim diri mereka paling benar sehingga tidak salah jika publik figur yang tidak berafiliasi dengan kepentingan politik akan menjadi sasasaran empuk dari kedua kubu. 

Mereka seakan ingin menarik IF ke dalam pusaran politik yang berpihak ke kubu masing-masing. IF yang menyadari konstalasi perpolitikan terkini memilih untuk tidak bersuara karena sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya lawan yang harus dihadapi.

IF mungkin saja paham bahwa kondisi yang sedang memanas saat ini adalah pertentangan kepentingan antar oligarki.memilih mengasingkan diri di pinggiran daerah Depok dan menyibukkan diri dengan berbagai konser adalah pilihan bijak. bagaimana tidak, kondisi politik sedang tidak ideal untuk menyuarakan aspirasi karena menentang salah satu kubu oligarki akan menjerumuskan ke dalam kepentingan oligarki yang lain.

IF yang tidak mau terlalu terlibat dalam peta politik saat ini membuatnya digugat massa yang sedang labil. banyak sentilan yang berseliweran di dunia maya yang menghujat IF bahwa ketika orde baru, dia sangat lantang mengkritisi pemerintah namun kenapa sekarang melempen. 
pertanyaan polos saya kepada mereka, memangnya IF punya tanggung jawab apa sehingga kalian selalu menggugatnya? jika dulu IF militan dalam menghalau pengaruh rezim orde baru maka itu salah satu pilihan hidupnya, pun demikian jalan yang beliau tempuh saat itu. memilih diam dan tidak ingin terlalu sok kritis di tengah kondisi politik yang abu-abu maka itupun adalah pilihan sadarnya. tidak ada paksaan baginya. saya yakin bahwa kalian hanya ingin menyeret IF menjadi bagian kubu kalian untuk merebut massa demi memenangkan kepentingan oligarki karena kalian sadar betul bahwa IF masih punya fans fanatik yang tergabung dalam OI.

salah seorang temanku bercerita dengan bangga bahwa ada seirang yang membakar semua koleksi kaset IF karena dia menganggap IF sudah tidak lagi memegang idealisme seperti yang ditunjukkannya pada masa orba. 

terlepas dari semua tudingan yang dialamatkan kepada IF. saya masih sangat yakin bahwa IF masih bersetia kepada idealisme yang dianutnya selama ini. keyakinan saya diperkuat oleh kenyataan bahwa IF tidak pernah menjadi anggota partai politik manapun sedangkan jika mau jujur, IF amat sangat mudah melanggeng di panggung politik jika saja dia mau dengan fans yang memujanya sebegitu banyaknya.

bagi mereka yang masih menganggap IF sudah menggadaikan idealismenya demi makan siang maka saya hanya bisa katakan bahwa kalian hanya sedang berusaha menghujatnya karena menginginkan IF menjadi bagian dari kalian.

Februari 2017

February 17, 2017

Buku Itu

Saya lupa persisnya tapi kalau ingatanku tidak keliru, kejadian tersebut kulalui minggu lalu.

Bukan sesuatu yang terlalu menarik untuk kutulis tentang sebuah buku yang kutemukan tergeletak di jalan menuju rumahku. Buku sampul putih yang masih terbungkus plastik.

"A Man Called #AHOK." iya buku tentang sosok figur yang sedang populer di negeri ini kutemukan di pinggir jalan. Ada keinginan untuk memungutnya namun kuurungkan dengan berbagai pertimbangan.

Hal yang paling mendominasi pikiranku adalah apakah buku tersebut sengaja dibuang atau mungkin jatuh tanpa sengaja?

Februari 2017

February 14, 2017

Pendirian

Beberapa waktu lalu sesaat setelah pindah rumah, saya menyempatkan menyortir buku-buku yang menurutku tidak layak kupajang di meja dekat tv. List paling atas adalah buku karya Tere Liye yang satu persatu kusingkirkan dan kusumbangkan ke kakakku.

Penyebabnya karena beberapa waktu yang lalu,Tere Liye menihilkan andil kader PKI dalam perjuangan kemerdekaaan. entah Tere Liye memang tidak membaca secara komprehensif sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia ataukah mungkin saja dia sedang berusaha menghapus andil gerakan yang berhaluan komunis dari sejarah panjang bangsa Indonesia

Fokus saya tidak sedang membahas tentang motif Tere Liye namun lebih kepada sikap saya yang memboikot karyanya padahal hampir pasti semua seri buku karya Tere Liye sudah dibeli isteri saya.

saya harus mengakui bahwa ada beberapa buku Tere Liye yang layak untuk dibaca disaat rindu kampung atau sedang ingin memunculkan rasa sentimental atas kepingan-kepingan masa lalu. salah satu bukunya yang menurutku bagus adalah "Rembulan tenggelam di wajahMu." buku ini sedikit mengandung unsur sufistik di mana setiap potongan-potongan kisah yang dialami di dunia pada akhirnya terangkai pada sebuah cerita utuh.

meski pada akhirnya, saya menyadari bahwa membaca tiga sampai empat buku Tere Liye maka kita akan mengetahui buku karyanya yang belum dibaca. selalu ada kesamaan ketika dia bercerita panjang dalam setiap bukunya.

kesalahan saya berikutnya adalah seringkali pula ketika membeli buku, pertimbangan pertama mengacu pada asumsi umum bahwa buku tersebut dianggap keren dan digandrungi banyak orang padahal saya sendiri terkadang tidak menyukainya.

setidaknya saya harus membaca buku apa saja yang menurutku bermanfaat. lebih pada diri sendiri. toh jika saja memang saya menyukai novel tentang percintaan remaja maka kenapa tidak saya membaca.

14 2 17
Draft tulisan yang mengendap sudah terlalu lama

February 7, 2017

Tentang Kerja

Sampai saat ini, saya sudah pernah bekerja di tiga Perusahaan. dari ketiga tempatku bekerja, saya berkesimpulan bahwa setiap kerja punya tanggung jawab masing-masing. hal yang paling menggelikan menurutku adalah menjumpai para pekerja yang selalu tidak puas atas setiap pencapaiannya atau bahkan selalu merasa cukup atas pendapatan yang diterima.

tidak, sama sekali tidak ingin mengamini Perusahaan-Perusahaan yang memeras keringat pekerja terutama buruh Pabrik yang dikebiri haknya. saya hanya ingin berbicara tentang Karyawan kantoran yang sedang menapaki jalan menjadi kelas menengah yang selalu mengeluh namun tetap saja berada dalam bayang-bayang kekuasaan Perusahaannya dimana mereka sebenarnya punya pilihan lain jika tidak sepakat sama peraturan sebuah Perusahaan. 

Mereka atau bahkan mungkin saya, tidak puas atas gaji yang diterima sedangkan pada dasarnya kita sudah sadar bahwa memilih menjadi Karyawan berarti siap atas konsekuensi dari Peraturan Perusahaan yang mengikat dan pendapatan yang flat. maka sangat absurd ketika pada perjalanannya, Para serdadu Perusahaan mulai menggugat kesepakatan awal.

Karyawan yang selalu merasa sudah berjasa sekaligus merasa bahwa apresiasi dari Perusahaan tidak sebanding dengan karyanya maka mereka akan memilih resign atau jika mereka tidak berani mengambil resiko maka pelariannya hanya mengomel di kantor dan menggugat perusahaan.

Saya bukan sok idealis namun saya juga menyadari bahwa pilihan menjadi seorang Karyawan otomatis akan berkorelasi dengan aturan yang mengikat, jika sudah tidak sepakat dengan aturan tersebut maka resign adalah cara yang paling efektif.


pilihan pindah kerja dengan alasan tidak puas atas apresiasi Perusahaan menurutku sangat absurd karena pada intinya, semua perusahaan punya aturan dan saya yakin, karakter karyawan yang pindah perusahaan dengan alasan tidak puas dengan gaji ataupun suasana kantor pada akhirnya akan mengalami hal yang sama di perusahaan lain.

sampai saat ini, saya masih menyakini pilihanku bahwa saya hanya akan pindah perusahaan jika menyangkut hal prinsipil. jika perusahaan sudah berseberangan dengan prinsip yang kuanut maka waktunya mencari tempat yang baru. saya tidak pernah punya rencana pindah perusahaan hanya karena tidak suka suasana kantor ataupun hal-hal kecil yang berada di lingkungan kerja karena menurutku, hal seperti itu ada pada semua Perusahaan.

7 2 17

February 6, 2017

Berhati-hati dalam menilai

Suatu hari ketika seseorang memuji kawannya dalam persaksian sebagai orang baik, ‘ Umar bin Khattab bertanya padanya,

Apakah engkau pernah memiliki hubungan dagang atau hutang piutang dengannya, sehingga engkau mengetahui sifat jujur dan amanahnya ?”
” Belum,” jawabnya ragu.
Pernahkah engkau,” cecar Umar, ” Berselisih perkara dan bertengkar hebat dengannya sehingga tahu bahwa dia tidak fajir dalam berbantahan ?”
” Ehm, juga belum…”
Pernahkah engkau bepergian dengannya selama 10 hari sehingga telah habis kesabarannya untuk berpura-pura lalu kamu mengenali watak-watak aslinya ?”
” Itu juga belum. “
Kalau begitu pergilah kau, hai hamba Allah. Demi Allah kau sama sekali tidak mengenalnya
mudahnya kita menghakimi seseorang, mencaci dan mengumpat serasa sudah kenal dari semua sisi padahal mungkin saja hanya berselisih pendapat. kita harus membedakan antara mengkritisi pikiran seseorang dan menghakimi.

saya selalu berpatokan pada keyakinan bahwa apa yang telah kupelajari dan menjadi landasan pengetahuanku mungkin saja salah dan tidak selalu benar.

keyakinan seperti ini penting dalam menilai pendapat seseorang karena amat sulit mengamini pendapat seseorang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. pada akhirnya saya bersepakat bahwa kebenaran mutlak tidak ada pada diri manusia. kebenaran tersebut hanya berada dalam kekuasaan Tuhan.

kasus menyalahkan orang lain sedang merajalela di negeri ini. semua orang menunjuk hidung sendiri bahwa dialah yang paling benar sembari menihilkan pendapat orang lain. fenomena seperti ini berbahaya bagi kesehatan otak karena kita tidak berpikir lagi untuk belajar saat hati sudah berkeyakinan penuh bahwa kita mutlak benar.

wallahu alam bissawab.

Cipaku 6 2 17