Di awal tahun ini, saya menyimpan pengharapan semoga Jokowi mundur dari kursi presiden dan Ahok mundur dari pencalonan pilkada DKI kemudian mengikhlaskan dirinya di penjara atas tuduhan penistaan agama.
bagaimana tidak, mereka bagaikan tandem pemicu ribut-ribut di negeri ini. kubu yang kontra sedemikian keras mendelegitimasi Jokowi dari pucuk pimpinan tertinggi negeri ini sedangkan kita ketahui, keputusan Ahok maju kembali sebagai calon Gubernur DKI mendapat reaksi yang amat sangat keras dari sebagian umat Islam.
puncak gunung es menemui titik klimaks ketika Ahok offside berbicara tentang elemen agama Islam di depan warga Kepulauan Seribu. kekhilafan Ahok tersebut membuatnya harus menanggung konsekuensi maha dahsyat.
keinginan saya tersebut diperkuat dengan fenomena bahwa apapun yang tidak disenangi oleh kelompok oposisi selalu dinisbahkan kepada Jokowi. titik nadir kebencian atas nama kepentingan kelompok benar-benar sedang berada di puncak. Ahok yang masih melenggang bebas sedangkan statusnya sudah terdakwa pun dianggap sebagai kesalahan Jokowi.
sebelumnya saya berharap bahwa dengan berakhirnya pilkada DKI Jakarta serta merta akan menurunkan tensi urat leher mereka yang sedang berkelahi argumen di media namun ternyata harapanku sirna. perseteruan mereka seakan menjadi-jadi apatahlagi Pilkada mengharuskan digelar dua putaran setelah tidak ada calon yang berhasil meraup suara 50%+1.
salah satu harapan meredakan ketegangan di negeri ini adalah Jokowi mundur dan merelakan negeri ini di tangan mereka yang sedari dulu menginginkannya dan Ahok menjauh dari percaturan politik DKI Jakarta. tidak menjadi soal bagi mereka apakah Ahok akan dipenjara ataupun tidak sepanjang Ahok tidak lagi mencalonkan dirinya sebagai Gubernur, itu intinya. menurutku.
Februari 2017
