Jalanan
yang meleleh diterpa mentari. Mengalirkan setiap keringat para pedagang
asongan. Angin semakin enggan bersahabat dengan tetap diam dalam selimutnya
bahkan untuk menengok pun tak sudi. Pagi mulai merasuk dalam diri semesta
hingga nyanyian syahdu para pujangga tak terdengar lagi karena tempat mereka
adalah malam yang gulita.
Aku
tahu gadis yang tersisa di sudut malam yang basah. Dia sering mampir tepat saat
permulaan bulan dan selalu saja pergi dengan misteri tanpa meninggalkan jejak
langkah. Aku juga mengenali bocah dekil yang tersisa di ujung jalan saat senja
merangkak pergi. Dia selalu setia menjemput mentari sambil terus berdendang dan
pada saat yang sama, dia akan tenggelam bersama malam yang berjatuhan di
pelupuk barat bumi ini.
Hanya
satu yang tidak pernah kukenali. Seorang pemuda dengan tinggi semampai yang
terus saja diam dalam hening tanpa bergeming meski hujan bahkan badai di kota
ini. Aku mencoba menghampiri dan menegur namun tak jua menyahut bahkan sering
kuanggap mayat namun tidak juga karena nadinya masih berdenyut. Lalu kutanyakan
ke guruku siapakah dia? Tak ada jawaban pasti, bahkan ke kyai kampung pun
jawabannya nihil. Ah, mungkin dia memang misteri yang tetap akan jadi misteri.
Aku
heran. Benar benar tak mengerti kenapa setiap kali aku mencoba untuk berteriak
namun tak ada sepata katapun yang mampu keluar dari mulutku namun setiap kali
aku diam maka kata-kata begitu mudahnya terucap sama seperti orang yang sedang
mengigau. Entah karena semalam aku terlalu banyak minum arak di pinggir desa
saat merayakan teman kami yang pulang dari rantau setelah sekian lama tidak
bertemu ataukah aku yang kurang tidur saat menunggu ayah yang tidak kunjung
pulang dari sawah sejak kemarin? Aku benar-benar kacau. Hariku tidak ceria dan
aku hanya diam saja dan menunggu rasa kantuk menyerangku sehingga aku bisa
terlelap dengan mimpimimpi indah yang aku inginkan.
Namun
masih tetap saja nihil. Mataku seakan tertuju pada sebuah masa yang belum pernah
kutahu bahkan pikiranku melayang membuat diriku seakan berada di suatu tempat
yang asing. Sangat asing bahkan tak ada satu orang pun yang pernah kujumpai di
tempat itu. Mereka seakan bercakap dalam bahasa planet lain. Aku seperti batu atau
bahkan rumput yang tidak mengerti apaapa dan diabaikan begitu saja. Bahkan saat
aku berteriak mereka tidak hirau hingga aku putus asa dan duduk di sebuah
tebing yang curam. Menikmati desiran angin yang tidak pernah kurasakan
sebelumnya dan akhirnya aku bermimpi dan kembali bersama keluargaku di desa
yang permai. Membajak sawah bersama ayah dan mengantar ibu ke pasar kemudian
ikut memanen di kebun belakang rumah.
Tetaplah
bahagia dengan semua yang pernah dan akan dialami karena hidup adalah untuk
bahagia dan berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Jojoran 3/61
15’3’14

No comments:
Post a Comment