March 15, 2014

MASA ITU


Jalanan yang meleleh diterpa mentari. Mengalirkan setiap keringat para pedagang asongan. Angin semakin enggan bersahabat dengan tetap diam dalam selimutnya bahkan untuk menengok pun tak sudi. Pagi mulai merasuk dalam diri semesta hingga nyanyian syahdu para pujangga tak terdengar lagi karena tempat mereka adalah malam yang gulita.

Aku tahu gadis yang tersisa di sudut malam yang basah. Dia sering mampir tepat saat permulaan bulan dan selalu saja pergi dengan misteri tanpa meninggalkan jejak langkah. Aku juga mengenali bocah dekil yang tersisa di ujung jalan saat senja merangkak pergi. Dia selalu setia menjemput mentari sambil terus berdendang dan pada saat yang sama, dia akan tenggelam bersama malam yang berjatuhan di pelupuk barat bumi ini.

Hanya satu yang tidak pernah kukenali. Seorang pemuda dengan tinggi semampai yang terus saja diam dalam hening tanpa bergeming meski hujan bahkan badai di kota ini. Aku mencoba menghampiri dan menegur namun tak jua menyahut bahkan sering kuanggap mayat namun tidak juga karena nadinya masih berdenyut. Lalu kutanyakan ke guruku siapakah dia? Tak ada jawaban pasti, bahkan ke kyai kampung pun jawabannya nihil. Ah, mungkin dia memang misteri yang tetap akan jadi misteri.

Aku heran. Benar benar tak mengerti kenapa setiap kali aku mencoba untuk berteriak namun tak ada sepata katapun yang mampu keluar dari mulutku namun setiap kali aku diam maka kata-kata begitu mudahnya terucap sama seperti orang yang sedang mengigau. Entah karena semalam aku terlalu banyak minum arak di pinggir desa saat merayakan teman kami yang pulang dari rantau setelah sekian lama tidak bertemu ataukah aku yang kurang tidur saat menunggu ayah yang tidak kunjung pulang dari sawah sejak kemarin? Aku benar-benar kacau. Hariku tidak ceria dan aku hanya diam saja dan menunggu rasa kantuk menyerangku sehingga aku bisa terlelap dengan mimpimimpi indah yang aku inginkan.

Namun masih tetap saja nihil. Mataku seakan tertuju pada sebuah masa yang belum pernah kutahu bahkan pikiranku melayang membuat diriku seakan berada di suatu tempat yang asing. Sangat asing bahkan tak ada satu orang pun yang pernah kujumpai di tempat itu. Mereka seakan bercakap dalam bahasa planet lain. Aku seperti batu atau bahkan rumput yang tidak mengerti apaapa dan diabaikan begitu saja. Bahkan saat aku berteriak mereka tidak hirau hingga aku putus asa dan duduk di sebuah tebing yang curam. Menikmati desiran angin yang tidak pernah kurasakan sebelumnya dan akhirnya aku bermimpi dan kembali bersama keluargaku di desa yang permai. Membajak sawah bersama ayah dan mengantar ibu ke pasar kemudian ikut memanen di kebun belakang rumah.


Tetaplah bahagia dengan semua yang pernah dan akan dialami karena hidup adalah untuk bahagia dan berbagi kebahagiaan dengan yang lain.
Jojoran 3/61
15’3’14

No comments: