March 30, 2016

Penulis yang Buruk

Salah satu alasanku memilih untuk mengendurkan semangat menulis karena aku tidak pernah percaya diri terhadap tulisanku. Menurutku, semua tulisan-tulisanku belum memenuhi kriteria sebagai tulisan bahkan masuk dalam kategori tulisan buruk pun belum.

Seringkali aku merasa iri terhadap siapa pun yang bisa menulis dengan mempesona dan pada akhirnya pembaca akan merasa tertarik dengan tulisannya. Aku..?? Ah jangan ditanya, diriku sendiri pun selalu tidak pernah tertarik membaca tulisan-tulisanku yang menurutku amat sangat tidak bernas. Aku akui jarang sekali membaca tulisan-tulisanku.

Entah sudah berapa kali aku mencoba berbagai gaya menulis. Mulai dari tulisan yang dikemas dengan joke dalam menyampaikan pesan penulis sampai pada gaya menulis serius yang dirangkai dari kisah sehari-hari, namun apa hasilnya..?? benar-benar nihil. Aku adalah orang yang berusaha bermimpi menghasilkan tulisan tetapi gagal jadi Penulis pemula.
 
Bayangkan saja, sudah beberapa ruang menulis yang kubuat. wordpress, blogspot ada 2, tumblr, akun kompasiana dan masih ada beberapa yang sudah lupa namun hasilnya tidak beranjak menjadi baik. Mungkin juga karena minat membacaku yang lambat laun sudah berada di titik nadir setelah smartphone merampas semua waktu luangku.

Sepertinya aku selalu berjuang melawan pesona smartphone namun apa daya, aku adalah manusia modern yang selalu mendahulukan aktualisasi diri dibandingkan kualitas maka terjebaklah aku di lingkaran dunia maya yang absurd.

Kalaupun aku membaca buku, hanya dua tiga lembar sudah mampu membuat mataku tertutup rapat namun dibandingkan dengan bermain-main dengan smartphone. Aku bisa saja menghabiskn dua sampai tiga jam tanpa ngantuk sama sekali. ironis sekaligus menyedihkan.

Bukan tanpa usaha untuk menghilangkan keakraban dengan smartphone. Bahkan aku sudah menempuh banyak cara misalnya yang paling ekstrim 'menurutku,' Aku menutup akun FB yang kubuat dari tahun 2008, bayangkan sudah banyak informasi yang terekam di akun FB tersebut namun demi melepaskan jeratan dunia maya, aku menutupnya rapat-rapat. Tetapi hasilnya apa? masih tetap saja aku terjerat oleh dunia bayang-bayang tersebut dalam setiap waktu rehat.

Bukan sekali dua kali aku merefleksikan apa saja yang membuatku selalu memelototi smartphone dan ternyata menurutku hanya hal remeh temeh. Mengecek pembaharuan bbm, membaca berita online, main game dan hal-hal tidak penting sama sekali namun tetap saja dilakukan.

Aku memang penulis yang buruk atau bahkan jadi penulis buruk pun belum. Aku pencerita yang sama sekali tidak memikat. Pemilihan diksi yang selalu tidak menggairahkan untuk dibaca dan tulisan yang kaku, tidak sistematis. Ingin kuhentikan saja kebiasaan menulis dan menjadi penikmat tulisan saja. Membaca lebih menyenangkan daripada berusaha seolah-olah menulis kata-kata buruk.

sialllll #emotmukamerahbertandukmulutmenganga.

Rawamangun, 30 03 2016

March 29, 2016

Madiun (Lagi)

Tidak terasa sudah 6 bulan tidak mengunjungi kota isteriku. akhirnya liburan long weekend kemarin, Aku berkesempatan mudik ke kota dibagian timur pulau Jawa.
Kamis sore setelah pulang kantor, Aku bergegas ke stasiun Pasar Senen. Aku mampir beli nasi padang di depan lampu merah Rawamangun kemudian lanjut ke Stasiun. di depan Stasiun, Aku beli gorengan 5 biji sebagai cemilan di kereta.

Kamis, 24 03 2016 18:00 WIB, 
Aku masuk ke kawasan stasiun memarkir motor kemudian menuju pintu masuk. Aku heran kok liburan 3 hari tetapi penumpang kereta tidak terlalu padat atau entah sehari sebelumnya, banyak karyawan yang ambil cuti supaya liburannya lebih lama padahal bukan rahasia lagi jikalau long weekend adalah momen berharga bagi para kaum urban di Ibu kota untuk berlibur ke luar kota

18:30 WIB
Kereta Mahapahit yang kutumpangi berangkat tepat waktu. Aku duduk di gerbong 3 kursi 15A. ada seorang Bapak disampingku bersama seorang anaknya yang kira-kira berumur 1,5 tahun. di depanku ada seorang Pria paruh baya yang akan mudik ke Pekalongan sedangkan disampingnya, seorang Perempuan 20an tahun hendak ke Ngawi.

22:00 WIB
Aku tidak bisa memejamkan mata karena posisi yang tidak terlalu enak. alhasil Aku baca buku yang kubawa dari rumah namun tidak lama, mata penat kemudian Aku browsing di HP. selang beberapa saat, Aku bosan kemudian melihat Para Penumpang yang sedang masyghul dengan diri mereka masing-masing. ada yang bercanda dengan keluarganya, ada yang sibuk memainkan Hp dan ada pula yang sudah terlelap dalam buaian mimpi indah.

01:00 WIB,
Kereta mencapai daerah Semarang dan Bapak yang berada disampingku turun di stasiun Semarang. sebelumnya pun Pria paruh bayu di depanku juga sudah turun di Pekalongan namun Aku tidak tahu persis pukul berapa kereta tiba di Pekalongan.

Selepas Semarang, Aku sudah mulai bisa memejamkan mata meski di saat Bapak tersebut turun, diganti oleh 2 orang pasangan suami isteri yang kira-kira seumuran Ibuku. si Suami duduk disampingku sedangkan si Isterinya duduk di depanku.

04:30 WIB
Aku baru benar-benar tersadar dari mimpi saat memasuki daerah Ngawi. sebelumnya Aku sempat terdengar pemberitahuan ketika kereta akan sampai di stasiun namun antara sadar dan tidak. sesampai di Walikukun, Aku terbangun dan menikmati udara kota ini yang pernah menjadi tempat tinggalku selama lebih setahun. 

Perempuan tadi yang duduk di depanku turun di stasiun Paron. Ah, sudut kota Ngawi memang sangat akrab denganku. stasiun Paron sering kulewati dulu ketika hendak kearah kendal, Jogoroga ataupun Sine.

di 4 kursi yang berhadap-hadapan, tinggal Aku dan pasangan suami isteri yang naik di Semarang. Aku iseng bertanya kepada Mereka ternyata mereka hendak ke Tulungagung.

Butuh waktu sekitar sejam untuk sampai di Stasiun Madiun sedangkan normalnya terkadang hanya setengah Jam. Kereta terlalu lama berhenti di stasiun Barat karena rel persimpangan.

Jum'at 25 03 2016 05:15 WIB
Akhirnya Aku kembali menginjakkan kaki di kota ini. suasana udaranya langsung menyerap kedalam pori-pori kulitku dan menimbulkan rasa tenang yang jarang kujumpai di Ibukota.

Seharian Aku hanya menghabiskan waktu di rumah. pagi harinya Aku dan Isteri ke Jatim Cell membeli silikon HP dan Touch Screen . Isteri membeli headseat. kami kemudian pulang ke rumah dan selang beberapa saat, Aku berangkat jumatan.

Aku dan Isteri rencananya ke alun-alun sore harinya namun hujan deras menghalangi niat kami, alhasil kami hanya di rumah tidur.

Sabtu 26 03 2016 06:00 WIB
Aku dan Isteri menikmati pagi di Lapangan Gulun. terasa benar kenangan masa lalu yang datang mencampakkanku dalam perasaan yang tidak menentu. inginku mengulang kembali masa lalu namun untuk saat ini, kondisi tidak mengijinkan. Kami hanya bisa sedikit merasakan ketenangan dalam kedamaian kampung halaman.

11:00 WIB
Aku bertandang ke teman lalu di Jln, Trengguli. Mereka adalah teman kantorku saat masih bekerja di kota itu 2 tahun lalu. kami hanya sebentar melepas rindu karena waktu yang membatasi.

15:30 WIB
Aku dan Isteri beranjak ke toko Taman Sari membeli buah tangan untuk handai tauladan di Jakarta. ada 1 kardus dan 1 kantong Plastik.

18:30 WIB
Aku, Isteri dan mertua makan malam di SS. Aku baru sadar bahwa ternyata dulu Aku pernah makan di warung ini. lumayan ramai dan harus menunggu sekitar setengah jam baru makanan tersedia. bahkan Mertua yang memesan sambel terong dan tahu terpaksa dibatalkan karena makanan yang lain sudah habis baru 2 pesanan tersebut disajikan.

Minggu, 09:00 WIB
Akhirnya waktu kepulangan ke Ibu kota tiba. seperti hanya sejam di kota halaman. benar-benar hanya sekilas. Aku dan Isteri diantar oleh Mertua dan Ipar ke Stasiun. kereta Krakatau akan membawa kami kembali pulang ke habitat. bergelut dengan tengilnya kehidupan Ibu kota.

10:00 WIB
Akhirnya kereta benar-benar beranjak dari Madiun ke Jakarta. Aku duduk disamping Isteri dan ada 2 Pria di depan kami. yang satu turun di Stasiun Bekasi sedangkan yang satunya lagi turun di Stasiun Jatinegara

22:30 WIB
Akhirnya kami tiba di Stasiun Pasar Senen. bergegas ke parkiran Motor. Aku sempat terperangah saat akan membayar karcis parkir. Rp. 155,500. Ah ga salah tuhhh. tetapi gimana lagi, sudah terlanjur dan menjadi pembelajaran suatu saat ketika ada kesempatan mudik lagi, tidak perlulah untuk bawa motor ke Stasiun.

23:00
Kami tiba di kontrakan Mampang Prapatan dengan selamat. Aku dan Isteri melepas penat.

terima kasih untuk liburan kali ini

Jakarta, 29 03 2016

Apa Kabar Ruangan Ini?

Lama tidak mengunjungi ruangan yang satu ini. Sudah berdebu dan agak sedikit kotor. Ada beberapa sudutnya yang sudah terasa asing untuk kududuki. Memang sebulan ini, langkahku begitu berat untuk menuju tempat ini sekedar untuk mampir atau menumpahkan keluh kesah yang sudah terlalu menumpuk di ubun-ubun.

Kali ini kupaksakan mampir sebentar untuk melepaskan penat. Duduk bersandar di bangku tua dan berlari kembali ke masa lalu.

Ah, aku tidak ingin terlalu lama terjebak di masa lalu, inginku melangkah ke masa esok hari. Biarkanlah yang berlalu menjadi teman kenangan dan Aku hanya ingin menemani diri kini.

Oke, Aku berjanji untuk tetap merawat ruangan ini sesibuk apapun diriku karena kuyakin, salah satu jalan untuk kembali ke masa lalu adalah lewat ruangan ini tetapi tentunya Aku harus banyak bercerita disini.

mungkin ini dulu sebagai penyegaran atas kevakumanku dalam menggores pena.

Rawamangun, 29 03 2016

March 3, 2016

Menjadi Berbeda

Tiba-tiba saja tergerak menulis tentang sesuatu yang berbeda di tiap diri manusia yang membuat mereka sukses karena mempunyai keahlian. Saya sebenarnya menulis ini karena mendengar motivator di radio yang membahas tentang nilai lebih seseorang. Saya seringkali tidak terlalu senang dengan motivasi-motivasi namun tema kali ini menggelitik untuk kutuliskan.

Dalam setiap bidang yang kita tekuni, seharusnya kita punya spesialis atau keahlian yang berbeda dari orang lain yang bisa mengantar kita menuju pintu kesuksesan. Dalam permainan sepakbola pun, pemain yang populer pasti punya spesialis, entah jago dribbel, spesialis tendangan bebas atau spesialis kiper yang menggagalkan tendangan penalti. Begitupun dalam profesi lainnya. Untuk menjadi orang yang diperhitungkan, kita harus mempunyai keahlian yang jarang dimiliki oleh orang lain.

Di Kantor pun begitu adanya. Seorang karyawan yang mempunyai spesialis / keahlian yang tidak dimiliki oleh karyawan lain membuatnya bisa merengkuh kesuksesan lebih cepat. Jika hanya menjadi karyawan yang biasa saja maka terkadang manajemen tidak terlalu melirik kepada kita. Misalnya seorang staf pemasaran, jika hanya bisa membuat proposal, menawarkan produk dan kerja-kerja lainnya yang berhubungan dengan pemasaran maka hal tersebut biasa saja karena pada dasarnya tugas staf pemasaran seperti itu. Beda halnya ketika seorang staf pemasaran menggali keahlian yang ada pada dirinya di luar wilayah kerja pemasaran misalnya mahir dalam bidang kerja IT, maka otomatis staf yang seperti itu akan menjadi lain dengan keahlian yang dimilikinya diluar wilayah kerjanya. Dia akan mudah dipertimbangkan oleh manajemen untuk menduduki posisi tertentu.

Saya pun sampai sekarang masih berpikir tentang diri saya sendiri. Keunggulan apa yang harus saya miliki untuk bisa sukses. Menjadi karyawan yang biasa-biasa saja sudah terlalu banyak.

Semoga ada jalan.

Jakarta, 2 Maret 2016

The Revenant

Setelah hingar bingar Piala Oscar akhir februari lalu yang dimenangi oleh Leonardo Dicaprio, gema tentang sosoknya pun ramai dibicarakan di media sosial tak ketinggalan pula film yang dibintangi Leo yang membawanya memenangi Oscar ikut bergema. Saya akhirnya ikut hanyut dalam euforia tersebut dan ingin menonton film The Revenant.

Saya salah satu penyuka Aktor ini. Entah karena dia membuatku larut dalam filmya "Titanic' di mana masa itu, saya masih suka meniru-niru aktor yang menurutku keren sehingga terbawa sampai saat ini, menyukai sosok Leo. Apatahlagi ketika beberapa waktu yang lalu, Leo menyumbangkan sejumlah isi dompetnya untuk penyelamatan hutan di Kalimantan meski hal tersebut sedikit berbau "pencitraan" karena menjelang ajang perhelatan piala Oscar yang dia salah satu menjadi nominasi. Namun lupakan tentang praduga tersebut karena toh tidak ada yang tahu niat seseorang, intinya Leo secara kasat mata peduli terhadap kelangsungan bumi dengan tindakan nyata dan memang Leo sudah dari dulu dikenal concern masalah lingkungan.

Semalam, saya menonton film The Revenant hasil donlotan dengan visual apa adanya. Saya tidak berniat untuk mereviu semua cerita tentang film tersebut karena saya yakin sudah begitu banyak orang yang mereviunya. Saya hanya ingin mengambil beberapa cerita yang menurutku menarik.

Si karismatik Leo yang berperan sebagai Hugh Glass benar-benar menyelami perannya sebagai pribadi yang menyimpan dendam terhadap pembunuh anaknya dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat  di tengah hutan belantara.

Glass mengajarkan kita bagaimana survive dengan keadaan serba terbatas. Tubuh penuh luka, ransum tidak ada ditambah lagi ancaman dari masyarakat Indian. Ah serasa dalam kandang harimau tanpa pintu keluar. Hanya semangat membalas dendam terhadap John Fitzgerald, si pembunuh anaknya yang membuat Glass tetap bertahan. Beberapa kali Glass dihadap oleh badai yang mematikan namun semangat survive Glass yang berlipat membuatnya tidak bisa dikalahkan oleh alam.

Kisah menarik lainnya adalah sosok Jim Bridger, salah satu teman Glass yang meninggalkannya di tengah hutan karena dibohongi oleh Fitzgerald bahwa Glass sudah meninggal. Anak muda ini terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi. Saat perjalanan pulang berdua dengan Fizgerald, Mereka melewati pemukiman orang Indian yang sudah hancur terbakar diserang oleh sejumlah kelompok. mayat bertebaran di mana-mana namun salah satu gadis Indian ternyata masih hidup dan kelaparan. Melihat hal tersebut, Jim memberinya makanan kemudian melanjutkan perjalanan. Jim pun menolak pemberian uang sejumlah 300 Dollar karena sadar bahwa Ftzgerald telah memperlakukan secara tidak manusiawi terhadap Glass sehingga meninggal dalam kedinginan.

Jakarta, 03 03 16




March 1, 2016

Membaca

It's very terrible to remember that I lack in reading. for a few years latest, just several books that I have been readed. ah selalu Saya berusaha untuk meng upgrade pengetahuan dan memperbaiki kualitas menulis namun tidak dibarengi dengan kuantitas membaca. payahh.

Saya terbebani dengan kenangan masa kecil yang gemar membaca bahkan seringkali lupa waktu ketika sudah membaca. entah kapan kebiasaan itu terhenti.

Masa kuliah kuhabiskan dengan organisasi. Saya terlalu terlena bahwa hidup seharusnya bukan cuma bersuara namun juga harus menambah asupan pengetahuan dari buku. setelah berlalu, semakin parah kemalasanku membaca meski gairahku selalu menggelora saat melihat tumpukan buku di Perpustakaan dan di Toko buku.

Dua tahun belakang ini, Saya kembali sering membeli buku hingga sampai sekarang, setumpuk buku di kamarku menunggu untuk dipeluk. Saya hanya sekilas melihat mereka saat pulang kantor lalu berakhir dengan memainkan HP kemudian tertidur.

Niatan untuk menyelesaikan buku-buku tersebut berakhir di hati karena terlalu dikalahkan oleh benda kecil yang memaksaku membaca berita ataupun artikel secara parsial. tidak seperti buku yang menawarkan pengetahuan secara utuh lengkap beserta kerangka konsepnya.

Ah, kali ini Saya harus kembali meniatkan untuk membaca buku lebih banyak lagi di tahun ini mumpung baru 2 bulan berjalan. yah tidak muluk-muluk, 50 buah buku cukuplah sebagai stimulan untuk kembali menemukan gairah membaca.

Jakarta, 01 03 2016

Lalu Jalan Seperti Apa yang Harus Kutempuh

Aku seperti sesosok zombie yang berlomba dengan waktu. Mengejar Pagi untuk mencapai kantor kemudian berlomba dengan senja bertemu Isteri. Aku tak tahu sampai kapan permainan ini kujalani, memuakkan memang dan seringkali membosankan namun ada janji yang terlanjur diikrarkan untuk tetap memberi sesuap nasi kepada keluarga.

Aku layaknya gerembolan kaum urban yang mencoba menancapkan eksistensinya di kota yang tak berperasaan ini. Mencoba mencari celah untuk tetap bertahan dan perut tetap terisi meski terseok namun kondisi seperti itulah yang terkadang membuat seseoang menjadi tegap berjalan.
"What doesn't kill You will makes You superhero." kata Nietzsche.

Aku seringkali ingkar terhadap prinsip yang kupeluk erat. Masih menggunakan setiap hak kantor untuk kepentingan pribadi, iya hanya browsing, blogging, sosmed dan kepuasan diri yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, whereas I realize that I hired for working, finishing my job and makes my office profitable.

Aku selalu berdalih bahwa toh pekerjaan sudah beres semua dan tidak ada lagi yang perlu dikerjaan sehingga kupergunakan waktu untuk meningkatkan pengetahuan melalui membaca..! once again, it's just like justify My self.

Datang tiap pagi ke kantor. membaca berita sepuasnya kemudian istirahat. Sesekali menutup jendela berita online ketika big boss lewat dan pura-pura sibuk kemudian menghabiskan sebagian waktu di kantor dengan blogging ataupun menonton tayangan bola.
 
Oh God. what about My Salary..? is still You blessing itu for My family or perhaps I have been given them a bad livelihood?

Memandangi komputer dengan nanar. mencoba untuk meraba hakekat semua ini. Hidup pasti ada tujuannya. tidak mesti berjalan hambar tanpa ada apa-apa.

sedang ngawur tidak ada kerjaan di kantor, 01 03 2016