March 14, 2013

Hujan Itu

Hujan menemaniku
datang tersipu malu
seakan ingin mencumbuiku
namun tidak kali ini
aku hanya ingin menikmatinya
dalam tatapan nanarku yang tak lelah
hujan memburuku
seakan ingin memaksaku mengejar waktu
namun tidak kali ini
aku hanya ingin berbaring di tepian waduk
memandang romansa sepasang merpati
hujan menagihku
untuk sekian janji yang kutinggalkan
terlupa dalam perjalananku
namun kali ini takkan kulunasi
aku hanya ingin mengejar bayangbayang hitam
melupakan semua ikrarku
hujan meninggalkanku
dengan segudang kekecewaan terhadapku
kali ini kukejar dirinya
berlulut dan memelas
tapi akhirnya semua terlambat
rinai hujan terus berlalu
meninggalkan tetesan airnya untukku

9.3.13
kurangkai saat training 
di PT  Erlangga
Jln Berbek Industry VII
Waru-Sidoarjo

March 4, 2013

Diam Yang Bercerita

Cerita di balik diamku menggemuruh dalam dadaku, seakan ingin meledakkan seisi perutku, seakan aku harus menjerit menahannya. diam bukan berarti tanpa makna bahkan diam adalah bahasa seribu makna. tak terdefenisiskan memang namun itulah hakekat diam dengan maknanya.
diam adalah jawaban atas kata-kata yang beku dalam dada. 

selaksa kata dari mulut adalah kebohongan yang menjamur. bahkan seringkali kata yang berhamburan berasal dari perut yang serakah dan menjelma menjadi ayat-ayat tak bermakna. kemudian diam menjadi penyejuk atas setiap kata berbau dari lidah yang tak berperasaan. seandainya saja tak ada yang namanya diam dan semua mulut mulai mengoceh tak berarah maka dunia akan serasa berada dalam drama yang bising, semua akan menjustifikasi kebenaran itu sebagai miliknya.

diam tidak selalu berarti tak tahu apa-apa, diam berarti kebijaksaan paripurna dari manusia yang mampu membungkam mulutnya dari janji yang tak terelakkan. pengenalan diri tidak diperoleh dari mulut yang sering kali berucap namun dari hati yang tenang karena tak ada kata yang terucap. salah satu jalan yang ditempuh dalam mengenali diri adalah diam, biarkanlah diam yang bercerita dalam keheningan. biarkanlah dirimu berbicara ke dalam tanpa melalui perantara suara.

aku bertemu dengan banyak orang di dalam hidupku. mengamati mereka yang kutemui adalah sebuah kenikmatan hidupku dan satu hal yang kujumpai dalam setiap pengamatanku adalah manusia yang lebih mampu menahan lidahnya dari terlalu banyak bicara seringkali memancarkan roman muka yang cerah bahkan mereka terbebas dari kebohongan-kebohongan.
manusia yang dengan begitu mudahnya menghamburkan kata-katanya memang pada awalnya sering menjadi perhatian bahwa mungkin orang akan kagum pada kesan pertama namun percayalah bahwa ketika kebiasaan itu akan berlanjut maka orang seakan tidak respek lagi bahkan menganggap kata-kata dari mulut mereka hanyalah sampah yang tidak bermakna

diam memang sering menjadi jawaban yang pasti. diam adalah cerita kebenaran yang tak berbatas karena makna kata ketika diam bersemayam di hati setiap manusia tanpa harus menambah ataupun menguranginya.

tulisan yang tak berlanjut suatu waktu
saat masih di ngawi.

March 3, 2013

Begawan Solo

bERAN
3,3,13
23.17

Begawan solo,,
meliuk dengan riuh
menghadirkan damai untuk semesta
kujumpai engkau saat senja menua
saat gerimis menyapa
menetes membasahi alam raya
perlahan merasuk dalam sukma
begawan solo
menawarkan damai musim ini
memercikkan berkah dalam kasih
tak pernah lelah
dalam tasbih abadi
begawan solo
bertemu jua akhirnya kita
kemarin hari hanya kusapa dirimu dalam
buku bacaanku
sambil membayangkan keindahanmu
namun kini
takdir menggiringku memelukmu
seakan tak kuasa melepasmu
namun senja yang menua memisahkan kita
sampai jumpa di edisi selanjutnya

Berlarilah

pagi ini, engkau masih tersenyum kepadaku, menyuguhkan segelas susu di atas mejaku, memasangkan stelan jas dibadanku, senyum hangatmu mewarnai interaksi kita pagi ini, sesekali candamu menyapaku dalam bahagia. membuatku melupakan cinta diluar sana. seakan terasing, namun itulah hidupku saat bersamamu, dengan segala pernakpernik yang melekat di tubuh kita

siang ini, suasana pagi tadi belum berubah, bahkan lebih dari itu, kau lepas sepatuku, kau menyediakan air hangat untuk permandianku, kau cuci noda yang melekat di badanku, setiap tetes keringat yang mengucur dari poriporiku dengan sigap kau hapus, suguhan makanan sedari tadi telah kau siapkan. hingga perasaan bahagia denganmu semakin menjalar ke dalam sukmaku

malam ini, semua seakan lenyap tak berbekas, entahlah aku juga tak bisa mengartikan setiap hal yang tengah terjadi dihadapanku, tibatiba saja kebahagiaan itu memudar bersama dengan dinginnya udara malam. ternyata malam ini, heningnya malam mengalahklan kesetiaanmu, hingga luntur mengikuti aliran nafas yang terengahengah,

pergilah, menjauhlah
karena kesendirianku ternyata lebih bermakna
kesendirianku menawarkan sejuta kebahagiaan untukku
tak ada lagi ruang untukmu

Ngawi
3,3,13
23.09

Tertegun

Mungkin ini yang dibilang ta'bangka, benar-benar tertegun dengan apa yang aku alami pagi ini, saat mencari sarapan di dekat kos.

Pagi ini, seperti pagi-pagi di setiap hari minggu, aku sendirian menghuni rumah kontrakan karena dua temanku pulang kampung. Salah satu aktivitas yang paling sering kukerjakan ketika sendirian di rumah kontrakan hanyalah online, main FB, nonton youtobe sambil dengar musik. Pagi ini pun aku melakukan aktivitas yang sama. Bermalas-malasan di depan komputer namun tidak berselang beberapa lama, perutku minta diisi, setelah mandi, aku bergegas ke warung depan kontrakan yang menjadi langgananku. 

Bukan apa-apa namun lebih karena warung itu bersahabat dengan isi dompetku, hanya dengan merogoh kocek sekitar 5 ribu, aku sudah bisa menikmati sepiring nasi dan segelas nutrisari ataupun marimas dan itulah menu andalanku bahkan ketika aku memesan makanan di warung itu, mbak pemilik warung yang kerap dipanggil mbak endut sudah hapal dengan menu yang akan kupesan dan tanpa harus menyampaikannya, dia sudah menyiapkan untukku.

Pagi ini pun aku ke sana, berhubung karena hari minggu maka warung tersebut yang biasanya ramai pengunjung kelihatan agak sepi, hanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang menikmati rokok sambil sesekai menyeruput kopi hitam yang adan di hadapannya. seperti biasa aku memesan makanan, dengan asyiknya, aku menikmati sarapan kali ini. 

Selang beberapa saat, aku sudah menghabiskan sepiring nasi dengan lauk tempe dan kerupuk. aku membiarkan sejenak perutku mengatur makanan yang baru saja kutuang ke dalamnya sambil bersandar di pangku panjang warung itu. saat hendak membayar, seorang ibu yang mungkin berumur 50 th datang dengan bekas gelas air mineral di tangannya, kelihatannya ingin meminta uang, tanpa berfikir panjang, aku menyodorkan uang koin kepadanya namun alangkah terkejutnya aku saat baru saja menerima uang koin dariku dia lalu masuk ke warung tempatku makan sambil membeli sesuatu,

mau tahu apa yang dibeli, ternyata beberapa batang rokok,

Ibu, bukan aku tidak ikhlas memberi uang ataupun bukan aku ingin menceritakan sesuatu tentang ibu itu namun apa yang terlihat dengan sangat jelas di depan mataku benar-benar membuatku tak habis berfikir, seorang ibu paruh baya yang meminta-minta hanya untuk membeli rokok.

Benar-benar speechless ka', tidak tahu lagi apa yang harus kutulis sekarang tentangnya, ini saja dulu sambil menenangkan pikiran negatifku tentang ibu itu.

Beran
3.3.13
10.00 am