Ma,
hari kamis menjelang. Serasa baru kamis kemarin sekarang kamis yang berbeda
telah menghampiri dengan cepat. Waktu benar-benar menggelinding seperti bola
yang meluncur di lapangan yang basah. Waktu terus berlari meninggalkan kita ma.
Aku selalu menyadari itu ma, setidaknya menjadi pengingat bahwa umur semakin
menua di saat belum ada hikmah yang disampaikan. Kamis ini kembali hadir dengan
pelajaran yang berbeda ma. Pelajaran yang mestinya harus direkam
sebanyak-banyaknya supaya kita tidak dimasukkan kedalam murid kehidupan yang
lalai.
Ma,
tadi pagi saat bangun, aku sama sekali tidak punya hasrat untuk berdiri dan
beraktivitas, aku hanya membiarkan diriku terbaring dan dibuai mimpi yang kedua
kalinya. Waktu menunjukkan pukul 10:00, aku baru memaksakan diriku ke kamar
kecil lalu kemudian mencari sarapan. Saat di warung langgananku, aku hanya
memesan energen dan gorengan dua buah, kemudian asyik membaca jawa pos hari
ini. Berita pagi ini tidak ada yang menarik perhatianku sehingga kupercepat
menyeruput energenku dan bergegas pulang. Awalnya aku berniat ke bilangan
Hi-Tech ngecek harga modem GSM namun ditengah jalan aku menimbang-nimbang kalau
Cuma ngecek harga, waktuku terbuang habis. sesaat kemudian kuarahkan motorku ke
gramedia manyar. Mama pasti tahu apa yang akan kulakukan kalau sudah ke toko buku
ma, di sebagian besar suratku untukmu telah kuceritakan apa yang akan kulakukan
kalau ke toko buku dan benar sekali ma, aku ke gramedia hanya untuk membaca
buku gratis dengan bermodalkan uang 2 ribu untuk membayar parkir.
Tadi
itu di gramedia ma, aku hanya membaca satu buku ma, saking bagusnya itu buku
menurutku. Aku sekitar dua jam di gramedia hanya menghabiskan membaca buku
tersebut. Judulnya “DiarryBerry” yang ditulis oleh Abdul Latief seorang karyawan
Astra Motor. Uniknya lagi ma, dia itu menulis lewat blackberry setiap kali dia
pulang kerja. Buku itu berupa kumpulan ceritanya sehari-hari yang kemudian dia
selipkan hikmah di dalamnya. Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari
bukunya ma. Aku coba untuk menguraikannya satu persatu yang paling kuingat.
di
salah satu bagian tulisannya ma, dia menceritakan suatu ketika dia dan
isterinya jalan-jalan di mall lalu dia melihat permainan anak-anak, dia berkata
kepada isterinya bahwa dia akan membelikan mobil listrik buat anaknya yang bisa
dipakai keliling kompeks. Isterinya sama sekali tidak setuju ma, dan ini
jawaban isterinya ma, “saat anak kita
keliling kompleks dengan naik mobil listrik, dan anak-anak di lingkungan kita
yang tidak memilikinya pasti meminta dibelikan oleh orangtuanya, bukankah tidak
semua akan dibelikan orang tuanya? Atau anak kita akan membanggakan mainannya,
dia akan menjadi anak sombong. Anak kita akan menjadi anak yang tidak peka dan
anti sosial”. Itulah jawaban isterinya ma. Aku langsung teringat fadel saat
membaca ini ma, fadel yang beberapa hari ini meminta dibelikan tablet. Bukannya
aku tidak mau atau tidak mampu namun ada banyak faktor nilai yang kemudian
mengurungkan niatku untuk membelikannya dan akibatnya akan sangat besar pada
karakternya ma, jadi kumohon biarkan dia dengan keinginannya karena memang
anak-anak seperti itu namun kita harus bisa memilah mana yang bisa dipenuhi dan
mana yang tidak.
Ada juga
hikmah yang sangat bermanfaat tentang pekerjaan yang diuraikan dibukunya ma. Ada
tiga hal yang membuat kita harus memilih suatu pekerjaan yang pertama adalah
pekerjaan itu bisa menafkahi lahir bhatin secara halal. Yang kedua adalah saat
pekerjaan masih memberi kesempatan untuk belajar dan yang ketiga adalah saat
pekerjaan masih memberi kesempatan untuk memberikan manfaat bagi bagi banyak
orang.
Ada juga
yang membuatku semangat membacanya karena dia bercerita tentang pengalamannya
suatu waktu ke Toraja. Dia menceritakan sensasinya melewati perjalanan dari Makassar
ke Toraja yang berliku-liku dan otomatis dia melewati kampung kita yang
tercinta ma, enrekang..hehe. dia katanya mampir di warung depan gunung nona dan
melihat-lihat pemandangan di sana ma.
Kisah
terakhir yang ingin kuceritakan ma adalah sebuah kisah yang juga dia sadur dari
bacaan lain. Inti cerita yang dia ceritakan ulang seperti ini ma. Dua sahabat
si madun dan kirun adalah pemburu. Sebelum berburu mereka mencoba pedang mereka
sialnya jari madun copot karena sabetan pedang kirun. Tidak ada penyesalan di
wajah kirun dan dia hanya mengatakan bahwa ini memang yang terbaik untukmu. Karena
kesal, si madun memenjarakan kirun namun lagi-lagi kirun berkata memang ini
yang terbaik untukku. Singkat cerita madun berangkat berburu dengan
kawan-kawannya yang lain, di tengah hutan mereka ditangkap bangsa kanibal dan
akan dijadikan persembahan, sebelum dipersembahkan, mereka diperiksa jasmaninya
ternyata madun dilepaskan karena jarinya yang cacat. Dia lalu merasa berutang
kepada kirun dan pulang minta maaf kepada kirun karena telah memenjarakannya. Si
kirun hanya mengatakan bahwa memang ini terbaik untukku Karena kalau engkau
tidak memenjarakanku aku akan ikut berburu dan dipersembahkan oleh bangsa
kanibal. Begitulah ceritanya ma tentang
orang yang benar-benar tawakkal karena semua terjadi Karena Allah tinggal
bagaimana kita menyikapinya.
Selain
masalah buku, ada juga tadi cerita lucu saat aku membaca ma. Awal membaca,
seorang perempuan duduk di sampingku sambil membolak-balikkan resep masakan
sedangkan aku di sampingnya terbahak-bahak karena memang ada beberapa dari
cerita buku tersebut yang lucu, mungkin karena agak terganggu dia beranjak
pergi dan tidak lama setelah itu diganti oleh laki-laki yag mungkin seumuran
denganku. Dia juga dengan cueknya tertawa karena mungkin saja bacaannya lucu
jadilah kami sama-sama tertawa dengan bacaan masing-masing
Hampir
jam 1 siang aku pulang ma. Karena belum makan, aku ke bu ning makan lalu
kemudian pulang ke kos leyeh-leyeh.
Tetaplah
berbahagia ma, karena hidup hanya sekali dan hidup itu harusnya bahagia.
Kamis siang yang mendung
Jojoran
3/61
13’3’14

No comments:
Post a Comment