October 12, 2024

Jangan Merasa Sok Dekat

This morning, one of the people I consider a mentor because he had taught me in class and guided my final project, updated his WA status. He was attending a religious event and praying for ancestors who had passed away. I, who felt close to him, immediately responded to his status by wishing him good health because he was my mentor.

Of course, I didn't expect her to reply to my response at all but usually, such a response would be reciprocated with at least a thumbs up. But what happened was that she only read my message without any reply at all.

As an ordinary human being, I suddenly wondered if I was being too pretentious to get close to him because I knew his huge exposure. He is very often a resource person in national events and even various other activities that are quite large.

I then decided to delete my message to avoid being reminded of my mistake. It's not really a sin but for some reason, I sometimes feel inferior and think of myself as an idiot every time I try to get close to others. Perhaps this is inseparable from past experiences when at one time, I always tried to get close to people in my neighborhood but was rejected several times..

There are two experiences of rejection that really stick in my memory and both of them were during my undergraduate years. I was rejected by a friend who was even a classmate. She was known to be very friendly even with me in the beginning but I don't know exactly why so she didn't want to chat with me at all even years after we graduated.

The second incident was a rejection from a senior who I thought was quite close when I was in college. For some reason, he didn't want to interact with me and I don't even remember what I did wrong to him.

There are still many small rejections in my life that brought me to this point where I decided not to try to get close to people who don't want to interact with me.

Hence, what I did this morning was a decision that brought up a bad experience a few years ago.

Dua Kawan Menikah

Hari ini saya menghadiri pernikahan rekan kerja, baik dari pihak wanita maupun pria adalah rekan kerja saya. Mereka memang sudah mengingatkan diri sejak dua tahun belakang dan berkomitmen untuk bersama-sama menjalani hidup mereka.

Pernikahan ini membawa memori saya kembali ke 9 tahun lalu ketika saya memutuskan untuk menikah. Saya mencoba untuk mengingat apa yang sedang saya rasakan saat menikah dan memori saya buram. Hal yang muncul dalam ingatan saya hanya hal-hal teknis seperti menjemput keluarga yang datang dari kampung, mempersiapkan tetek bengek pernikahan, mengucapkan ijab kabul, menyalami setiap tamu yang datang kemudian malamnya istirahat.

Tidak ada perasaan asing yang hadir dalam relung hati saya kecuali ingatan tentang friksi yang terjadi pada beberapa hari di awal pernikahan. Saya merasa tidak dianggap sebagai keluarga sehingga perasaan tersebut mengganggu nuansa pernikahan yang seharusnya dinikmati.

Kawan yang menikah hari ini nampak bahagia, begitulah seharusnya yang dirasakan oleh pasangan karena naluriahnya, manusia ingin hidup dengan pasangan yang membuatnya bahagia. Setelah ini, mereka akan menjadi hidup sebagai pasangan suami istri dengan berbagai dinamika yang akan dihadapinya. 

Semua pasangan mempunyai strategi masing-masing untuk survive dalam segala hal keadaan. Setiap kita diberikan kemampuan untuk menemukan solusi dalam berbagai masalah yang dihadapi.

Demikianlah dua kawan yang sedang berbahagia hari ini.

October 3, 2024

3 Oktober

Sembilan tahun yang lalu, mengambil sebuah keputusan untuk menikah. Semua keputusan yang biasa-biasa saja karena semua orang bisa melakukannya dengan berbagai niat masing-masing. Pernikahan menjadi momentum untuk terus bersama dengan seseorang yang sudah dipilih sebagai pendamping. Tentu banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dalam pernikahan namun harus dilewati karena saya selalu menanamkan dalam diri bahwa saya yang memilih jadi sebisa mungkin saya menjalani dengan sebaik-baiknya.

Saya sepakat jika banyak orang mengatakan bahwa awal pernikahan merupakan cobaan yang berat. Selalu saja ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau mungkin karena masih dalam proses adaptasi. Jika sebelumnya tidak ada yang harus dipikirkan sebagai sebuah tanggung jawab maka setelah menikah, ego masing-masing harus diturunkan.

Apakah menikah sesuatu yang wajib dalam hidup? 

Tidak juga. Siapapun bisa memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihan masing-masing selama tidak merugikan orang lain. Ada yang menikah tetapi tidak bahagia di dalam hidupnya karena hanya menyisakan luka dan ada juga yang tidak menikah tetapi menikmati kebahagiaan. Menikah bukan untuk bahagia tetapi untuk bertumbuh bersama dengan pasangan.

Terlalu abstrak? Iya karena bertumbuh mempunyai banyak arti. Tujuan yang ideal memang harus abstrak yang bisa diartikulasikan dengan berbagai cara.

Apa sih konsep pernikahan yang sedang saya jalani? 

Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menjadikan pernikahan sebagai neraka bagi pasangan saya maka jadi dalam banyak hal, saya tidak menuntu banyak kepadanya. Meskipun terkadang dalam beberapa kali kesempatan, saya bilang ingi memiliki puteri tetapi nampaknya di keberatan dengan pertimbangannya sendiri.

Dua tahun terakhir merupakan tantangan yang cukup berat dalam dua hal; pertama dalam hal ekonomi karena saya merasa masih sangat kurang memberikan ekonomi kepada istri saya bahkan jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sialnya, belum ada tanda-tanda perbaikan yang terlihat jelas. Bahkan jalannya masih saja menurun dan entah titiknya sampai di batas yang mana.

Kedua; jarak dengan pasangan. Saya sedang sangat jauh dari pasangan secara jarak minimal dalam lima hari karena dua tahun terakhir, saya memutuskan mengambil pekerjaan di kota yang berbeda tempat dia bekerja. Akhirnya kesepakatannya ada saya harus ngekos dan hanya bisa pulang ke rumah saat weekend. Menurut saya cukup berat tetapi keputusan sudah dibuat dan harus mulai lagi memetakan apa jalan yang akan diambil kemudian hari.

Setelah ini, masih banyak langkah yang harus diselesaikan untuk menunaikan janji di awal. Langkah yang mungkin lebih berat dari yang sebelumnya sudah dijejak.

Entahlah. Semua Tuhan menguatkan sendi-sendi ini untuk menunaikan tanggung jawab yang sedang saya emban.

#latepost