October 24, 2020

Kedaulatan Diri

Diri kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk hal yang nampaknya tidak kita butuhkan, alih-alih bermanfaat bahkan seringkali menjadi semacam toxic bagi diri kita. pernahkah kita mencoba untuk merendahkan sedikit saja ego kita untuk berbacara ke dalam diri. duduk di tepian bukit sambil menyelami apa sebenarnya yang bergejolak di dalam diri kita. jawaban-jawaban jujur seringkali datang dari dalam diri kita tentang diri dan hidup kita.

Tidak mudah memang untuk menundukkan sedikit ego dari variabel di luar diri kita, tidak mudah untuk sekedar duduk melepaskan pengaruh dari luar diri dan menyelami diri sendiri, tidak mudah untuk melakukan hal-hal yang tidak mempunyai prestise bagi keegoan diri, namun jika dilatih dalam waktu yang panjang, jawaban tentang hidup yang paling jujur akan kita dapatkan.

Mari kita renungi beberapa hal tentang diri kita sendiri dan tidak perlu untuk menunjuk orang lain. cukup beranikan diri untuk jujur terhadap jejak-jejak yang telah kita lewati.

Saya misalnya. begitu banyak hal yang saya sesali dan ingin saya ulangi tanpa pernah mengukur bahwa apa yang telah saya capai mungkin melebihi dari kepantasan diri saya sekarang. jika saya pun diberikan waktu untuk mengulang apa yang ada di angan-angan saya, besar kemungkinan hal terburuk yang saya dapatkan dari yang sekarang. 

Atau seberapa sering kita mengukur kebagiaan kita dengan kehidupan orang lain. membandingkan diri dengan kondisi orang lain adalah dosa terbesar kita terhadap diri kita. pernahkah kita sedikit saja berterima kasih terhadap tubuh kita yang sudah kita eksploitasi dari waktu ke waktu? atau jangan-jangan kita merasa punya otoritas mutlak terhadap jasad ini sehingga tidak ada sedikit pun rasa terima kasih dan bahkan membandingkannya dengan yang lain.

Ketika saya menyewa kamar kos 4x5 m. saya selalu berangan-angan seandainya saya bisa ngekos dengan ruang yang sedikit lebih lega. setahun kemudian, saya menyewa ruangan yang lumayan lapang dengan kamar mandi dan dapur namun saya kembali berangan-angan seandainya saya bisa menyewa kontrakan yang ada kamarnya karena sudah berkeluarga. hanya berselang beberapa bulan, saya kembali pindah kontrakan yang memiliki 1 kamar tidur. namun ternyata tidak sampai di situ, angan-anganku kembali berlari ke depan membayangkan rumah kontrakan yang ada ruang tamu. Tuhan maha baik, saya disanggupi mengontrakan rumah dengan  2 kamar, ruang tamu, dan ruang tengah. 

Apa yang terjadi, apakah saya puas?
ternyata tidak

Saya kembali memimpikan membeli rumah, namun lagi-lagi, Tuhan memberikan saya kemampuan untuk menyicil rumah. setelah itu, kepuasan tidak jua hadir dalam diri saya. angan-angan terus melambung tinggi menginginkan sesuatu yang belum dimiliki. 

Sampai kapan angan-angan itu berhenti melampaui diri kita?

Pada satu titik ketika ketika berbicara serius dengan diri kita. apa yang dibutuhkan dan apa yang menjadi prioritas hidup. sesuatu yang kasat mata seringkali tidak mampu menembus ketenangan hati namun sebaliknya, jika kebijaksanaan sudah menghampiri, semua sudah sirna karena bahagia sudah terpatri dalam sanubari.

Mari kita membiasakan diri berdua dengan diri kita berbicara satu sama lain.

#Renungan

October 23, 2020

Postingan ke-1000

Sebelumnya saya berencana untuk mengupload tulisan yang Postingan ke-1000 tepat pada 10 tahun blog ini saya buat namun sedikit agak terhambat. postingan pertama di blog ini pada Juli 2010 dan menjadi sangat spesial jika pada Juli 2020, saya memposting tulisan Postingan ke-1000 tetapi pada Juli 2020 yang lalu, tulisan masih di angka 970an, itu berarti saya harus ngebut menulis 30an tulisan dalam satu bulan yang menurut saya tidak masuk akal dari segi kualitas tulisan, jika cuma untuk kejar target, bisa saja saya memposting tulisan apa saja namun saya sudah berjanji untuk lebih rapi dalam menuangkan ide-ide di blog ini.

Jika konsisten dalam menulis minimal 10 tulisan dalam sebulan, kualitas tulisan akan semakin terasah. hanya saja angan tidak selalu sejalan dengan usaha. distraksi terlalu banyak sehingga apa yang seharusnya dilakukan menjadi terbengkalai. HP adalah distraksi paling paripurna di era sekarang. saya yakin bahwa mayoritas manusia sekarang tersita waktunya di dalam sebuah benda kecil yang sangat praktis di tangan. tidak menjadi selingan namun telah menjadi sebuah rutinitas untuk sekedar memainkan benda tersebut. coba bayangkan berapa waktu yang dihabiskan dengan memelototi benda yang telah menjadi berhala.

Saya bahkan beberapa kali mencoba untuk melatih diri dalam menjauhkan perhatian dari benda tersebut namun selalu gagal. terkadang dengan pemakluman bahwa untuk refreshing atau sekedar antisipasi jika ada panggilan baik dari kantor maupun dari keluarga di kampung.

Di luar dari semua itu, akhirnya blog ini mencapai postingan Postingan ke-1000. pencapaian yang tentunya menyenangkan dari sisi kuantitas namun saya harus akui bahwa kualitas tulisan saya masih dalam tahap belajar. seharusnya masa 10 tahun itu cukup dalam mematangkan diri dalam proses menulis namun entah lah, kemampuan menulis saya tidak berkembang dengan baik. baik dari segi penceritaan, pemilihan diksi, penggambaran sesuatu, pemaparan ide yang kacau dan semua teknik menulis yang tidak terlalu baik tetapi saya akan tetap menulis setidaknya untuk diri saya sendiri. 

Di suatu waktu yang luang nantinya, saya akan menghabiskan waktu di depan taman sambil membaca tulisan-tulisan saya untuk menyerap energi masa lalu.


23 10 2020

October 3, 2020

3 Oktober

Wedding Anniversary

Momen yang sebagian orang mengenangnya dengan berbagai macam perasaan. ada yang mengenang dengan cara yang sangat sentimental, ada yang mengenang dengan perasaan kecewa, bahagia dan apapun perasaan mereka mengekspresikan ingatan-ingatan mereka terhadap momen pernikahan adalah refleksi dari keadaan pernikahan mereka sekarang. jika mereka bahagia tentu saja saraf-saraf mereka menstimulasi ingatan tentang pernikahan dengan perasaan bahagia dan bersyukur melewati momen tersebut namun jika seandainya mereka tidak bahagia atau bahkan sudah bercerai maka momen ingatan tentang pernikahan akan menjadi sebuah kenangan pahit yang tentunya sangat disesali.

Saya sendiri tidak berada pada posisi yang ekstrim, maksudnya bahwa momen wedding anniversary saya lewati dengan hal yang biasa saja tanpa perasaan seperti yang saya sebutkan di atas. persis sama dengan keadaan pernikahan saya yang saya lewati dengan sangat datar. tidak ada sesuatu yang terjadi. jika bertengkar maka dalam hal yang wajar maupun jika bersenang-senang pun sewajarnya jadi semua berjalan seperti apa adanya.

Jika ditanya apa perasaanku tentang pernikahan maka mungkin jawaban yang sering saya lontarkan adalah bersyukur dalam artian bahwa salah satu tujuan saya menikah lima tahun lalu adalah mencoba menjaga diri saya dari hal-hal yang di luar prinsip yang saya yakini apatahlagi saat itu, saya sudah akrab dengan isteri saya jadi semua kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa saja terjadi dan satu hal saya syukuri karena kemungkinan terburuk dalam proses perkenalan tidak pernah saya lakukan sampai akhirnya saya menikah.

Langkah memang belum terlalu jauh namun setidaknya sejauh ini, seharusnya saya tidak melangkah mundur. saya yang termasuk yang percaya bahwa setiap harinya, pasti akan ada saja hal yang menjadi batu sandungan dan setiap pernikahan mempunyai tantangannya sendiri dan saya tidak mau menyerah untuk tantangan yang saya hadapi.

Percayalah bahwa pernikahan yang dibayangkan sebelum menikah tidak akan selalu sama. jika belum menikah, bayangkan semua hal-hal terburuk karena pernikahan bukan melulu urusan kelonan. ada banyak urusan yang harus diselesaikan dalam sebuah pernikahan dan tentunya mantapkan niat sebelum menikah.

3-10-2015/2020

October 1, 2020

Jarak

 Tadi saya membersihkan kamar mandi, jika dari dekat tidak terlihat noda sama sekali di lantai kamar mandi namun ketika saya menjauh sedikit, maka terlihat jelas warna lantai kamar mandi agak kuning, berbeda dari warna dasarnya.

Seperti halnya semua hal dalam hidup ini. di awal bekerja sebagai internal audit di sebuah perusahaan. ada sebuah kalimat klise setiap kali datang ke kantor cabang untuk melakukan audit. "kami datang untuk memperbaiki sesuatu yang tidak sesuai regulasi, karena biasanya bau busuk itu tidak tercium oleh penghuni rumah namun akan tercium jelas oleh pendatang." kurang lebih seperti itu perumpaan yang digunakan bahwa sesuatu yang melekat dalam diri kita yang tidak berjarak khususnya sesuatu yang negatif, maka seringkali kita tidak pernah menyadarinya namun terlihat jelas oleh orang lain. maka dari itu, setiap kita berada dalam lingkungan yang sudah terlalu lama, maka ada baiknya menyingkir beberapa saat, menghirup udara segar kemudian mengamati diri kita untuk merefleksikan, apa saja yang selama ini tidak pernah disadari.

Manusia memang fitrahnya tidak mau disalahkan. ego bagi mayoritas manusia terlalu kuat untuk mengamini kritik dari orang lain sehingga jika demikian, kita harus berdamai dengan diri dan mengambil jarak untuk mengkritisi diri sendiri daripada harus menunggu orang lain.

Jarak diperlukan dalam banyak hal. jarak yang terlalu dekat seringkali mencelakakan. inilah kenapa di bagian belakang mobil untuk kursus menyetir, terdapat tulisan "jaga jarak." bahkan jargon tersebut semakin sering kita dengar di masa pandemi ini bahwa kita harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain.

Dalam hubungan pernikahan, jarak diperlukan untuk merekatkan hubungan. itulah kenapa setiap kali saya dinas ke luar kota, ada keterikatan yang mendalam dengan anggota keluarga ketika pulang ke rumah, meskipun sebenarnya absurd karena hanya beberapa waktu kemudian perasaan keterikatan terkikis lagi. muncul lagi ketika pergi dari rumah beberapa saat, begitu seterusnya. entah perasaan yang manipulatif atau seperti apa namun toh hidup memang sungguh absurd, namun paling tidak, jarak adalah kunci. 

kita harus pandai menjaga jarak untuk semua hal jika ingin tenang. Jarak yang sesuai porsinya.