March 31, 2015

Ibuku dan Pisang Goreng

Begitu banyak hikmah yang tertinggal di masa lalu yang kulalui dengan bahagia. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan aku melewati masa kecilku sesederhana itu. Ketika teman yang lain sudah punya TV masing-masing di rumah, aku dan saudaraku harus numpang di rumah tetangga kalau ingin menonton TV, begitu pula ketika temanku punya sepeda, aku harus mengelus dada karena memang ibu ayahku saat itu belum mampu membelikan sepeda yang masih menjadi barang mewah pada masa kecilku. Ada banyak hal yang harus ku kompromikan ketika aku masih bocah bahkan seringkali aku mengorbankan waktu bermain dengan teman-teman karena harus membantu orang tua, entah itu ke kebun, mengambil makanan kambing, sapi atau bahkan sekedar mengangkut air dengan ember dari sungai yang jaraknya sekitar 100 meter ketika musim kemarau melanda kampung kami. Di satu sisi, beberapa kawanku yang terlahir dari orang berpunya tidak perlu bersusah payah mengangkut air karena mampu  membeli pompa air bahkan seringkali aku menumpang ke rumah tetangga untuk mengambil air yang dipompa dari sungai.

Kenangan lain yang tidak bisa kulupakan adalah tentang wc. Orang tuaku sama sekali belum punya dana untuk membangun wc sehingga pada saat itu, aku dan saudaraku harus lari terbirit-birit ke sungai ketika ada yang akan dikeluarkan dari perut. pada saat itu memang sungai masih lazim digunakan sebagai wc umum. terkadang pula ketika tengah malam dan kebelet BAB, aku takut ke sungai sehingga harus ke belakang rumah menggali lubang dan menanam kotoran. kenangan masa kecilku yang lumayan berat kulalui meski kuakui aku bersyukur untuk semua hal yang pernah kulalui.

Serpihan hikmah demi hikmah pun sering kupungut dari kedua orang tuaku. Meski sudah begitu banyak yang tertinggal dan terlupa namun masih ada sisa dari hikmah tersebut yang kurawat di dalam hatiku. Ayahku terutama sangat keras terhadap apa yang bukan milik kami. Beliau sangat menjaga perut kami dari hal-hal yang syubhat. saat adikku yang paling bungsu dilahirkan, ibuku di caesar sehingga dia tidak bisa menyusui. Ada sepupu ayahku yang dengan sukarela ingin menyusui adikku namun ayahku berkeras untuk tidak menerima bantuannya. belakangan aku tahu bahwa ayahku tidak tahu sumber makanan yang dimakan oleh sepupunya yang kemudian menjadi air susu. 
 
Hal kedua yang masih kuingat adalah ayahku mengerjakan sawah pamanku kemudian pada saat panen, hasilnya dibagi. ayahku seringkali mengurangi takaran untuk keluarga kami karena takut jangan sampai ada kelebihan bagian untuk kami.

Mengenai ibuku, aku pun memungut semua serpihan kasih sayang darinya yang mungkin tidak pernah ada habisnya sampai sekarang. aku ingat saat masih bocah, jajanan paling kami sukai adalah pisang goreng. ayahku sering membawa pisang dari kebun yang kemudian digoreng oleh ibuku. Seringkali ketika ada salah satu dari saudaraku yang tidak ada di rumah ketika ibu menggoreng pisang maka otomatis ibu akan menyimpankan bagian untuknya. seringkali ketika ada diantara saudara kami ada yang ketahuan mengambil secara diam-diam bagian yang lain, maka ibuku akan dengan sangat marah. begitulah ibuku mengajarkan keadilan dan totaliter diantara saudara kami.

Entah hikmah apalagi yang diajarkan oleh kedua orang tuaku yang sudah luput dari ingatanku. aku hanya mengingat sebagian dari serpihan yang masih segar dalam ingatanku meski kutahu masih banyak yang hilang.

Nothing to Lose

penerimaan yang ikhlas adalah bahasa tubuh paling paripurna
tentang apa yang ada dan tentang siapa yang ada di hadapanmu
kuantitas hanyalah pandangan mata yang menipu namun kualitas terdapat di nurani

mari berbahagia dengan semua
menahan diri dari setiap yang absurd
aku pun begitu adanya

aku ingin senang dengan apa yang kumiliki
tentang siapa aku
tentang dimana aku sekarang
dan tentang siapapun keluargaku

aku ingin berkhidmat
terhadap penjual tanpa menawar banyak
terhadap pembeli tanpa menaikkan harga
pada kawan untuk memberi tanpa berharap apapa
terhadap pekerjaan yang tulus tanpa mendamba sesuatu

begitulah mungkin sebuah penerimaan yang tulus

310315

March 30, 2015

Survei PT. Garansindo Inter Global

Sesekali sering kuamini bahwa menjadi staff survey benar-benar melelahkan. Bayangkan saja ketika proses penutupan sebuah produksi, kita harus survey kemudian ketika terjadi klaim maka surveyor pun bertanggung jawab terhadap liable tidaknya sebuah klaim. seringkali pula kuteguhkan dalam hati bahwa menjadi staff klaim memiliki banyak pelajaran bermakna.

Ada banyak hal yang membuatku menikmati pekerjaan di divisiku sebagai salah satu tim survey. Aku bisa berinteraksi dengan banyak orang yang otomatis membuatku menambah kenalan dan mengais hikmah dari mereka. Aku bisa melihat betapa memang hidup di kota ini mengalami jurang pemisah yang curam antar kelas sosial. minggu lalu aku survey puluhan mobil dari PT. Andrinusa dan beberapa diantara mobil tersebut hanya terparkir begitu saja seakan itu adalah mobil mainan. terlintas di kepalaku bagaimana masyarakat di pinggir rel, pasar-pasar dan tempat kumuh lainnya yang jangankan memiliki mobil, untuk makan pun mereka harus berpikir dimana mendapatkan penghasilan. 
 
Aku kembali berpikir seandainya mobil tersebut dijual dan dibagi-bagikan kepada mereka yang kurang beruntung menjalani hidup. Aku sekali lagi percaya bahwa bumi ini menyiapkan makanan yang cukup untuk semua penghuninya namun sebagian orang yang memonopoli kekayaanlah yang membuat beberapa orang tidak bisa mengakses sumber makanan.

Kemarin aku kembali survei sebuah perusahaan besar yang memperlihatkanku betapa sebenarnya kekayaan banyak di kota ini namun aku tidak habis pikir masih banyak orang yang kelaparan. Sebuah showroom mobil mewah yang mungkin untuk memiliki satu mobil di showroom tersebut hanyalah dalam angan-angan. Pemilik showroom tersebut adalah orang Arab. Mobil Jeep berjejer rapi di dalam showroom tersebut. Selalu saja yang ada dalam pikiranku ketika survei adalah kemewahan yang benar-benar membuat hatiku terenyuh tentang perbedaan status sosial di kota ini.

PT. Garansindo cab. Pondok Indah
 
Survey pertama di PT. Garansindo Cabang Pondok Indah. Pertama kali melihat kantor ini yang terlintas di kepala adalah kantor yang mega dan lux. kami ditemui oleh pak Anwar, staf SDM di kantor tersebut. Kami ditemani mengelilingi setiap kantor ini dan aku sibuk mengambil gambar setiap sisi kantor ini maupun stok mobil yang ada di dalamnya. kantor ini ada dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai showroom dan juga sebagai ruang customer sedangkan di lantai dua diperuntukkan sebagai ruang karyawan, ruangan SDM dan juga ruangan Managing Director.

Saat akan mengambil foto di ruangan Manager, terkesan si managernya tegas dan menanyakan kami dari mana. Barulah saat dijelaskan semua, dia mempersilahkan aku mengambil sisi dari ruangannya. Di depan ruangan manager terdapat taman yang didesain dari papan.

Kantor kedua yang kami survei terletak di jalan Maruya Jakarta Barat. Aku terkesan agak asing di daerah ini karena aku memang jarang plesiran ke daerah Jakarta Barat. Cabang di Jakarta Barat ini lumayan lebih besar dari cabang pondok indah. cabang Maruya terdapat bengkel body repair dan engine. Luas tanah di kantor Garansindo Cabang Maruya pun lebih luas karena selain bangunan, terdapat halaman di belakang gedung yang dipergunakan sebagai halaman untuk stok mobil.

Mobil Jeep
 
Cabang Maruya memang terlihat kecil dari depan karena bangunan tersebut memanjang ke belakang. Mayorita karyawan di PT. Garansindo ini terlihat elitis bahkan di sebuah kantor cabang Garansindo, hal yang biasa bagi karyawati merokok di dalam kantor. Aku sering menjumpai karyawati di kota ini merokok dan bahkan sudah menjadi hal yang lumrah namun menurutku masih tidak lumrah ketika mereka merokok di dalam kantor.

Kota ini menawarkan berbagai macam fenomena yang tidak biasa. Aku yang jauh dari kampung sana harus tertatih-tatih mengikuti arus kehidupan di kota ini yang seringkali kuanggap sudah di luar batas kewajaran. Bagaimana tidak, ketika semua fenomena yang merenggut akal sehatku sehingga menuntut harus belajar banyak, belajar menerima dan belajar memahami.

Kantor ketiga yang kami survei terletak di Bilangan Gatot Subroto. Kantor ini paling kecil dari dua kantor yang sebelumnya sudah kami survei

March 27, 2015

Cepatlah Sembuh

cepatlah sembuh dek
jangan tergolek lemah, aku sedih memikirkan engkau tidak bisa apapa
semesta merindukan senyummu

dek, katakataku tak bermakna
tulisanku hanyalah debu berlalu
engkau sakit dan semua menjadi hampa

ah, tidak kah engkau merindukan weekend kita yang ceria
menikmati duku 2 kilo di taman menteng yang dibeli di kramat jati
menghabiskan senja yang syahdu di TIM sambil duduk di bawah pohon
membeli buku kw 10 Tere Liye di Blok M
menikmati lele penyet di ibu langganan kita
membawakan makanan kepada ibu kucing di samping mall Ambassador
hingga akhirnya saat minggu malam tiba, kita mengakhiri weekend di carrefour ambbassador
belanja keperluan sehari-hari

dek, tidakkah engkau merindukan weekend kita yang ceria
cepatlah sembuh dek

pulogadung.270315

Zayn Malik dan Alasan Keluar dari Band

Sebelumnya aku sama sekali tidak tahu siapa itu Zayn Malik. Mungkin secara kebetulan pun aku mulai googling namanya karena tepat hari rabu 25 maret 2015, konser One Direction yang berlangsung di GBK dengan sangat heboh diberitakan media-media tanah air. Mulai dari ribuan ABG tanggung yang memadati stadion GBK dan juga tentang beberapa fans yang jatuh pingsan ditengah konser yang diguyur hujan deras. Selain kemeriahan konser One Direction tersebut, media juga marak memberitakan tentang keluarnya salah satu personil One Direction yaitu Zayd Malik. Hal yang biasa dalam industri musik ketika salah satu dari personil keluar dari Band bahkan itu sering kali terjadi namun alasan di balik keluarnya si Zayn yang membuatku tertarik untuk mengetahui seperti apa sosok yang memiliki banyak tatto di tubuhnya.

"My life with One Direction has been more than I could ever have imagined. but, after five years, I feel like it is now the right time for me to leave the band. I'd like to apologize to the fans if I've let anyone down, but I have to do what feels right in my heart. I'm Leaving because I want to be a normal 22 years-old who is able to relax and have some private time out of the spotlight. I know I have four friends for life in Louis, Liam, Harry and Niall. I know they will continue to be the best band in the World" begitulah alasan dari Zayn yang ditulis langsung di beranda fanspage One Direction.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa alasan itu benar-benar menjadi alasan utama dari Zayn untuk keluar dari One Direction ataupun juga tidak ingin mengatakan bahwa alasan itu hanyalah kamuflase dari alasan yang sebenarnya dia keluar dari Band. Namun menurut hipotesaku bahwa kemungkinan besar alasan yang diungkapkan oleh Zayn di beranda FP band One Direction. alasanku membenarkan pernyataan Zayn adalah popularitas band nya yang sedang berada di atas angin tidak mungkin membuatnya hengkang jika bukan alasan yang amat prinsipil. Alasan tersebut di atas menurutku cukup prinsipil untuk menguatkan seorang anak band berani hengkang dari bandnya yang sedang berada di puncak ketenaran.

Kasus yang sama pun pernah dialami oleh Reza dan Sakti. Mereka adalah anggota band paling top di Indonesia pada jamannya namun keduanya memilih untuk mundur dari band ketika berada di puncak. Resa yang notabene adalah drummer Noah dan Sakti yang merupakan Gitaris SO7, memilih mundur dari band dengan alasan mereka ingin memperdalam ilmu agama. benar-benar alasan prinsipil untuk mundur dari sebuah band yang sedang mengecep popularitas.

Berbeda dengan Reza dan Sakti yang memilih mundur dari band setelah umurnya akan menginjak 40 tahun, Zayn Malik lebih berani karena dia masih berada di usia 22 tahun yang berarti bahwa masa dimana seorang remaja haus akan ketenaran. dia bahkan mengatakan bahwa ingin menjalani hidup yang normal tanpa sorotan dari media.

Hal lain yang membuatku kagum karena ternyata Zayn adalah Muslim keturunan Inggris-Pakistan. Meski dia mempunyai banyak tatto di tubuhnya namun itu urusan pribadi. Dia seorang muslim yang ternyata berani mengakui keislamannya di puncak popularitas tanpa peduli akan banyak yang mencibir. Zayn pernah ngetwit kalimat syadahat.

Begitulah setiap orang punya prinsip masing-masing. aku masih percaya bahwa prinsip masih diatas segalanya bahkan popularitas ataupun kemewahan dunia lainnya. orang yang masih memegang kuat prinsip akan dituntun sendiri ke jalan yang benar.

270315

March 26, 2015

Perempuan di Kelokan Cipinang

Sudah beberapa minggu ini aku sering lewat di depan LP Cipinang ketika pulang dari kuningan. Sebelumnya aku lebih memilih jalur cawang kemudian belok kanan melewati belakang UNJ namun setelah beberapa kali melintasi cipinang, kurasa jalur ini yang paling cepat. tepat di seberang LP Cipinang, saat melintas diatas jam 8, beberapa wanita dengan dandanan menor dan pakaian seksi berdiri sambil mengisap rokok di sepanjang jalan tersebut. mungkin pula ada waria diantara mereka jika saja pandanganku tidak salah.

Entah apa yang berkecamuk di pikiranku ketika melihat fenomena tersebut. Mungkin saja hal biasa karena kesenjangan sosial di kota ini yang semakin menggila sehingga setiap orang menempuh caranya masing-masing untuk mengisi perut, namun pemaklumanku tersebut bukan berarti aku mengamini profesi yang sedang dijalani oleh mereka yang dengan sabarnya berdiri di pinggir jalan menunggu setiap pengendara yang lewat dan sudi menikmati tubuh mereka dengan bayaran seadanya.

Mungkin juga aku khilaf karena beberapa kali aku memperhatikan setiap gerak-gerik mereka hanya untuk sebuah tulisan bahkan semalam, aku membunyikan klakson tepat di depan mereka hanya menguji bagaimana reaksi mereka ketika dibunyikan klakson. senyum ramah tersungging di bibir perempuan tersebut ketika aku memperlambat motor dan membunyikan klakson bahkan melambaikan tangan sebagai bahasa tubuh untuk memintaku berhenti.

Mengatakan mereka sebagai penyakit sosial mungkin keliru meski ada benarnya karena sejatinya, akar dari tindakan mereka memilih menjadi perempuan yang mengeksploitasi dirinya karena masalah perut. Pemerintah sudah terlalu acuh dan lebih asyik dengan obrolan kosong mereka di gedung-gedung yang sejuk dengan AC yang tidak pernah dimatikan. persoalan masyarakat dan bacotan mereka tentang kepedulian terhadap masyarakat hanyalah tameng agar mereka tetap bertahan sebagai pemerintah. Masyarakat tetap harus berjuang sendiri mengisi perut.

Aku harus sadari bahwa mungkin saja aku adalah bagian dari mereka yang tidak peduli sama sekali dengan persoalan masyarakat atau tepatnya aku hanya berpura-pura peduli tanpa ada tindakan nyata yang kuperbuat.semua hanyalah hampa yang tak ada gunanya.

Ah, sudah terlalu penat jariku menulis tentang setiap persoalan yang kujumpai. Bahkan mulutku berbusa untuk mengkritik pemerintah bahkan menghakimi setiap orang yang kuanggap berada di jalan yang keliru namun aku sendiri masih tetap diam dan lebih berhasrat memenuhi setiap keinginan-keinginanku yang tidak pernah ada habisnya.

Malam semakin menampakkan tubuhnya tanpa ada setitik cahaya. akupun harus menyudahi semua lakonku yang kupertontonkan kepada dunia. semua hanyalah palsu dan lebih baik aku memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Hati adalah kuncinya dan mengenali diri adalah jalannya.

260315

Sembuhlah

kudengar engkau sakit
mual dan lemas hingga tak masuk kerja hari ini
lekaslah sembuh
kita bercerita lagi

260315

March 25, 2015

Seorang Ibu dan One Direction

Hari ini tepat tanggal 25 maret, kami dan segenap staff teknik lembur karena tutup buku. memang di kantorku, tutup buku setiap tanggal 25 dan selalu saja kami harus lembur sampai malam mengejar target produksi. Sebenarnya aku sendiri tidak begitu sibuk karena divisi kerjaku adalah staf klaim namun tetap saja bahwa ketika tutup buku, aku harus membantu sesama staf yang mempunyai tugas lebih menginput polis. Semenjak bergelut di bidang perusahaan ini, rasanya aku seperti terjebak dalam rutinitas harian yang dulunya hanya bisa kusaksikan di sinetron ataupun kubaca di cerpen yang menggambarkan betapa sibuknya karyawan di ibu kota.

Di tengah pekerjaan yang menumpuk, kami terkadang bercanda untuk lemeskan otot yang tegang karena pekerjaan. seorang teman kantor yang memang sudah mempunyai anak tiba-tiba berujar bahwa kasihan anaknya tidak bisa menonton konser one direction hari ini di GBK. Oh yah, memang hari ini bertepatan dengan konser salah satu boyband dari London yang sedang digandrungi oleh ABG-ABG tanggung. Teman tersebut dengan nada yang memelas benar-benar kasihan anaknya yang ngefans one direction dan menjadi salah satu Directioners tidak bisa menonton bahkan kemudian dia berujar "sabar nak, suatu saat nanti kita nonton, untung-untung bisa jadi MC supaya ngomong langsung."

Aku tidak ingin menjustifikasi bahkan menyalahkan teman tadi karena dengan sayangnya kepada anaknya ingin membahagiakan anaknya dengan menonton konser, tidak sama sekali. meski aku harus mengelus dada bahwa begitu banyak dari orang tua yang menuruti anaknya meski dengan hal yang mungkin hanya sebagai kesenangan namun pembelajaran yang minim bahkan lebih kearah membuat si anak terjerumus dalam hal yang membuat perkembangan mentalnya menjadi pemuja kemewahan.

Aku mungkin terlalu membual ataupun mungkin pula aku belum mempunyai anak sehingga perasaan untuk membahagiakan anak sama sekali belum aku rasakan namun disisi lain, tulisan ini hanya kuperuntukkan untuk menjadi pengingatku kelak bahwa ketika mempunyai anak, maka membahagiakan anak adalah kewajiban namun cara membahagiakan tersebut yang berbeda-beda diantara semua orang. Mengikuti semua kemauan anak menurutku bukan cara terbaik dalam mendidik dan membahagiakan anak.

Orangtua adalah figur yang akan diikuti oleh anaknya bahkan mayoritas anak terbentuk bagaimana mereka dibesarkan oleh orang tuanya. Mengidolakan artis bahkan menonton konsernya pun bukan sebuah hal yang salah namun dalam memenuhi keinginan seorang anak, selalu saja ada nilai yang mengikutinya, tidak sekedar mengikuti kemauan anak. misalnya saja membelikan seorang anak motor yang belum cukup umur bahkan belum mempunyai SIM mungkin saja disatu sisi membuat anak bahagia namun disisi lain menjerumuskan anak ke hal yang salah bahkan melanggar aturan. pastinya melanggar aturan ketika seorang anak mengendarai motor tanpa SIM. Pun begitu adanya dengan mengikuti kemauan anak yang menonton konser dengan harga mahal dan ditengah kerumunan banyak orang. disatu sisi, anak akan merasa senang menonton idolanya namun disisi lain, dia diajarkan tentang kemewahan, belum lagi jika ada kerusuhan di tengah-tengah konser.

Kembali lagi bahwa mungkin aku yang terlalu idealis atau bahkan belum punya anak yang disayangi dan harus dipenuhi semua permintaannya.

rawamangun.250315

Diamlah

Aku ingin berkata sesuatu tentangku
tentang kalian yang sering kutemui dan bahkan tentang siapa saja yang kuanggap dekat
namun tidak
mereka adalah ego yang terselip
aku tahu
ada kalanya aku harus diam dan kemudian menata hati

tidak perlu untuk berkoar-koar
memang aku tidak ada masalah dan sama sekali tidak ada urusana
hanya saja telingaku muak ketika kalian memakan bangkai daging teman sendiri
gibah maksudku kalau masih belum jelas penjelasanku

aku malas ikut nimbrung dengan kalian ketika bergosip
aku hanya ingin berbagi kebahagiaan
bukan cerita buruk rekan-rekan kalian yang mungkin saja tidak lebih buruk

aku ingin mengingatkan
namun ikut tidak ingin dijustifikasi sok bijak
lebih baik aku diam

diamlah
250315

Mobil atau Mobil-Mobilan

Sehari kemarin, saya menghabiskan 6 jam survei penutupan mobil PT. Andrinusa Utama Indah yang jumlahnya begitu banyak. Memang sebelumnya perusahaan ini sudah menjadi nasabah di kantor dengan kontribusi yang lumayan gede. namun dalam perjalanan kerjasama yang dijalin dengan perusahaan tersebut, ada kesalahpahaman yang menyebabkan perusahaan tersebut menarik produksinya. Entahlah siapa yang salah namun memang perjanjiannya, perusahaan tersebut tidak menggunakan kendaraannya sesuai yang dijamin polis.

Permasalahan tersebut muncul setelah ada salah satu mobil PT. Andrinusa Utama Indah yang hilang. Seingatku kejadiannya sekitar akhir tahun lalu. Saya dan seorang kawan yang survei kehilangan kendaraan tersebut di sekitar jln Tipar Cakung, Jakarta Timur. Saat di lokasi kejadian, ada beberapa kejanggalan yang kami temui ketika melihat lokasi dan bertanya ke warga sekitar tentang kehilangan mobil di daerah tersebut. Kejanggalan pertama adalah akses untuk masuk ke lokasi kehilangan mobil sangat sempit dan sedang ada galian got. Kedua bahwa warga sekitar tidak tahu-menahu tentang kejadian kehilangan tersebut bahkan satpam yang ditanyakan tentang kehilangan tersebut pun tidak tahu. Ketiga bahwa ketika saya menanyakan langsung ke ketua RT, dia pun tidak tahu tentang kejadian tersebut, hanya saja si sopir datang dan meminta surat pengantar kehilangan mobil.

Dari beberapa kejanggalan tersebut, kami kemudian melaporkan ke kantor kemudian meminta jasa Surveyor independen untuk melakukan survey ulang yang lebih valid. Beberapa hari kemudian, hasil survey dari tim independen keluar hasilnya dan ternyata mobil tersebut hilang saat disewakan ke orang kedua. PT. Andrinusa kemudian mengklaim namun ditolak karena sesuai dengan polis, kendaraan hanya diperuntukkan untuk pribadi dan dinas bukan untuk komersil. polemik ini kemudian berlarut-larut bahkan Pak Ridwan selaku pemilik PT. Andrinusa tersebut beberapa kali datang di kantor mengajukan keberatannya karena klaim kehilangan kendaraannya tidak bisa diakomodasi. Pernah sekali dia bicara dengan kasie teknik dengan amat sangat keras.alhasil Pak Ridwan tersebut menarik semua produksinya dan meminta refund premi.

Awal maret ini, saya tidak tahu bagaimana awalnya atau mungkin agen dari PT. Andrinusa sehingga ada kesepakatan bahwa mobil-mobil tersebut yang jumlahnya ratusan kembali menjadi produksi namun dengan syarat diubah penggunaannya menjadi komersil dengan konsekuensi ratenya dinaikkan.

Tidak mau melakukan kesalahan yang sama, saya dan E bertugas untuk melakukan survei semua kondisi kendaraan tersebut. Alhasil kami kemudian melakukan survei semua kondisi fisik kendaraan.

Sebenarnya bukan tentang kronologis semua apa yang telah saya ceritakan di atas yang ingin kusampaikan disini. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa betapa seorang mempunyai mobil begitu banyak bahkan seperti mobil-mobilan yang bertebaran dimana-mana. Entahlah apa yang ada dipikiran si pemilik namun saya sendiri ketika melakukan survei di beberapa tempat, saya melihat mobil tersebut seperti tidak terawat dan dibiarkan begitu saja. ada 4 mobil yang masih di belakang gedung auto 2000 pramuka dan dibiarkan begitu saja.

Saya harus katakan bahwa kesenjangan di kota ini memang begitu curam. Seorang bisa saja mempunyai ratusan mobil kemudian di lain tempat, seorang bocah yang seperti kutulis. harus berjuang keras demi sebungkus nasi.

Saya pun tidak berpretensi untuk mengatakan bahwa mereka yang punya kekayaan begitu banyak tidak peduli dengan mereka yang kurang beruntung namun kenyataan yang saya temui selama saya di kota ini benar-benar membuka mata saya bahwa bagaimana kesenjangan tersebut nyata dan benar adanya.

disaat lagi capek pulang survei. 240315

March 24, 2015

Kita Berdua di Bukit

ingin sesekali kuajak dirimu ke sebuah puncak gunung
ataupun setidaknya bukit
dimana pandangan kita bebas menerawang alam semesta

ingin sekali aku duduk berdua denganmu di puncak bukit
membunuh semua ego kita bersama
menyatukan hati dalam diam

aku ingin mendogeng
tentang semua hal yang menyenangkan kita

 membangun sebuah gubuk di sudut lembah
memelihara sapi dan kerbau
kita minum dari air sungai yang jernih

ah, hidup memang penuh anganangan dek.
tapi bersamamu kita kuat
240315

March 23, 2015

Percakapan Tentang Bocah

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi”  (HR. Bukhari) 

Sebenarnya cerita ini sudah kutulis dalam bentuk puisi namun aku merasa sayang kalau cuma dalam barisan puisi yang tak beraturan. Aku ingin bercerita panjang tentang percakapan kami di sudut warung daerah cikini suatu malam saat hujan deras. Percakapan ringan tentang bocah yang menantang getirnya hidup dengan teman-temannya.

Kebiasaan saya dengan W memang sering mengamati apa saja yang ada di sekitar kami. Jakarta yang berbeda jauh dengan kehidupan di Surabaya membuat kami sering menemukan fenomena yang nampaknya tidak bisa dicerna dengan akal sehat bahkan semua hal ekstrim ada di kota ini. Kita hanya butuh sedikit memicingkan mata untuk peka terhadap fenomena meski saya sendiri tidak mengklaim diriku sebagai seorang yang peka sosial namun setidaknya ada rasa miris yang menggelayut di ruang nuraniku ketika tragedi kehidupan orang lain diperlihatkan kepadaku.

Minggu malam saat kami pulang dari TIM, kami mampir di sebuah warung daerah Cikini. saat itu hujan deras dan perut kami pun sudah meminta untuk diisi. Warung tersebut sangat ramai oleh pengunjung sehingga lumayan berdesakan saat akan mengambil makanan. Kami menikmati makanan dengan lahap. Hujan pun tak henti mengguyur bumi. kami butuh sekitar 30 menit duduk di warung tersebut kemudian keluar dan berdiri di beranda warung untuk menanti hujan reda.

Salah satu suasana yang paling kunikmati adalah ketika hujan deras pada malam hari. selalu saja ada kenangan yang membuncah di rongga dadaku menyaksikan butiran demi butiran jatuh di jalanan, di sudut atap, di dedaunan dan disetiap sisi bumi. Malam itupun begitu adanya. kubiarkan W diam terpaku di sampingku sementara saya sibuk dengan pikiran-pikiranku yang memungut semua kenangan tentang hujan dan malam. Kami tidak terganggu sama sekali dengan riuhnya para manusia yang juga sedang berteduh menanti hujan reda.

Kami baru memalingkan pikiran kami dari syahdunya hujan setelah segerombolan bocah yang kira-kira berumur dibawah 10 tahun lewat di hadapan kami masuk ke warung menawarkan tisue seharga 3 ribu rupiah. Ada rasa lirih saat mereka kedinginan dengan melipatkan tangan di dada namun tetap semangat dengan beberapa bungkus tissue menawarkannya kepada para pengunjung warung. Saat lewat tepat di hadapan kami, kudengar secara samar-samar mereka bercakap dalam bahasa jawa kasar. Hal tersebut sedikit membuat saya dan W kaget bahwa ternyata mereka bukan bocah asli Jakarta.

Berbagai pikiran macam-macam mulai merasuki pikiran kami. Menerka bahwa mereka disuruh oleh seseorang untuk berjualan, menerka bahwa mereka dibawa dari ujung pulau ini untuk dieksploitasi di Jakarta menjadi pengamen, penjual, pengemis dan apapun yang bisa menghasilkan uang buat mereka yang memanfaatkan keluguan mereka.

Kami kemudian bersepakat bahwa mereka melakukan hal tersebut bukan karena keinginan mereka. Aku dan w yakin akan hal tersebut. kami melempar jauh memori kami ke masa lampau saat masih seumuran mereka. tak setitik pun kami jumpai perasaan apa artinya mencari uang, berjualan bahkan apapun yang mungkin berkaitan dengan hal mencari sesuatu untuk perut. Kami hanya menemui perasaan kami masa itu tentang indahnya bermain, bercanda dan apa saja tentang kesenangan hati. Lalu ketika hal tersebut lumrah kepada semua anak seusia dibawah umur 10 tahun, kenapa bocah-bocah malam itu begitu giatnya berjualan, mengamen dan bahkan pernah kutemui yang menjadi kernet?

Jawaban dari pikiran kami sendiri adalah mereka dibiasakan. meski bukan keinginan mereka namun mereka dipaksa dalam keadaan seperti itu, entah dibawah ancaman atau bahkan dipaksa "menikmati" profesi yang sedang mereka jalani. Bocah-bocah seumuran mereka tak sedikitpun berpikir untuk bekerja, mendapatkan uang kemudian kaya. masa menjadi bocah hanyalah bermain dan seperti itulah hidup mereka. mungkin sesekali mereka melayangkan hidup mereka ke masa tua namun seringkali yang mereka bayangkan adalah hal yang imajinatif dan tak terduga. Tak sekalipun mereka berpikir tentang masa depan yang orientasinya adalah kekayaan. aku yakin itu.

Begitulah ibukota menawarkan tragedi kehidupan bagi sebagian anak-anak yang terlahir dari orang tua yang tidak "bertanggung jawab". Ibu kota seringkali menghadirkan fenomena yang menebalkan empati bagi siapa saaja yang masih memilikinya namun juga menebalkan keegoan bagi mereka yang sama sekali tidak peduli terhadap apa yang dihadirkan di sekitar mereka. Terlalu berat memang untuk menjadi bocah yang tidak beruntung di kota ini. amat sangat berat.

Saya percaya pada hadits di awal tulisan ini bahwa orang tua mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan anak. mereka setidaknya punya andil dalam membentuk karakter seorang anak sehingga tidak heran bahwa menjadi orang tua adalah menjadi teladan bagi anak. Aku bukan sok tahu namun dari beberapa pengamatan melihat fenomena anak maka tidak terlepas dari bagaimana cara orang tua membesarkannya. Lingkungan hanyalah variabel kecil pembentuk karakter seorang anak.

Saat berteman, saya selalu ingin mengenali orang tua teman-temanku. saya terkadang ingin membuktikan hipotesaku tentang hubungan orangtua dengan anak.

suatu waktu di Cikini. 220315

Anak Itu

Aku berbisik padamu malam itu
Tentang anakanak yang harus berjuang melawan getir

Engkau mengusap muka
Membayangkan betapa mereka tidak seharusnya di tempat itu
Di lampu merah mengamen,
Di warung menjajakan tissue
Bahkan di kopaja menjadi kernet

Kita bersepakat
Bukan keinginan mereka untuk itu
Mana ada bocah seumuran mereka yang mengerti tentang kerja keras

Kita kemudian sepaham
Mereka dipaksa keadaan menjalani semua

Ah, rasa sesak menghampiri
Tak kuasa menahan tragedi hidup yang sedang mereka hadapi.

Aku memelukmu
Membenamkan wajahmu di dalam dekapanku

Kemudian sisa airmatamu membasahi baju kemeja.

Puligadung,230315

Berjalanlah

hingga katakata tak lagi memaknai sesuatu
hanya sekedar sampah yang keluar dari bualan para pengobral janji

aku ingin tetap membawamu ke taman bunga
dengan puisipuisiku yang tertinggal di sudut kenangan

aku bukanlah pemuja sastra
bukan pula siapasiapa
karena memang kataku hanya untukmu
yah, untukmu yang selalu tetap berjalan di sampingku meniti bebatuan kota ini

aku ingin menceritakanmu tentang semua yang ada
inginku meramu semua patahan rindu yang tak jua pudar dari hati kita
entahlah namun tak pernah habis inginku tentangmu
tentang kasih yang masih bergentayangan

serpihan rindu itu
patahan kasihmu untukku
tak jua kumengerti begitu relanya engkau mempercayakan sekeping hatimu untukku

dan disaat yang lain
sanggupkah aku merawat kepercayaan yang engkau berikan

ah sudahlah
kita bukan manusia paripurna
mari kita berjalan saja
sampai waktu menyempurnakan asa kita

rawamangun.230315

Cikini Dalam Basah

Di sudut Cikini yang hening.
kita menghempaskan diri di warung makan
hujan membunuh hasrat kita untuk tetap melaju
hujan pula memperparah perut yang minta diisi

kubiarkan semua titik air membasahi ujung rambutmu
aku menatapmu dengan semua perasaan yang kumiliki
engkau sesekali merajuk dalam hujan
entah mengapa
engkau seberani ini bersamaku

menantang malam bahkan hujan
yang sekalipun tak kau lakukan saat sendiri

rawamangun. 230315

Asean Literary Festival

Aku tidak mengikrarkan diriku sebagai penyuka Sastra namun selalu saja ada bagian dari sastra yang membuatku menikmatinya. aku suka menulis puisi tetapi mungkin tergolong penulis puisi yang hanya main-main tanpa pola yang jelas. Aku suka menulis cerpen namun seringkali cerpenku yang tak mempunyai ending yang bermakna. Aku suka menulis setiap perjalanan waktu yang kulalui namun sekedar mengabadikan kenanganku bukan untuk sebuah hal yang berkaitan dengan sastra. begitulah sastra.

kemarin ada ASEAN LITERARY FESTIVAL 2015 di TIM. mungkin secara kebetulan aku disana karena memang setiap akhir pekan aku dan windi sering berkunjung ke TIM hanya untuk menghabiskan weekend. sesampai disana, aku melihat banyak penikmat sastra yang sedang berada disana, ada yang sedang asyik melihat-lihat buku pameran, ada yang sedang mengikuti diskusi dan banyak diantara mereka yang bercengkerama dengan teman. mungkin mereka lama tidak bertemu dan kemudian bertemu lagi di tempat tersebut.

aku dan windi sekedar melihat buku pameran. lumayan banyak buku bagus disana namun duit sudah menipis. kami memilih untuk mengikuti sebuah diskusi yang diadakan di panggung utama. diskusi tentang sastra yang panelisnya mahasiswa sastra UNJ dan pihak Diva Press. 

Kami datang pas sudah sesi tanya jawab sehingga kami tidak terlalu memahami materi diskusi yang dibahas meski sepintas dari sesi tanya jawab, aku menangkap bahwa bahasan tersebut tentang sastra yang mulai pudar. seorang panelis dari UNJ yang juga pengurus buletin Stomata dengan lugas memaparkan harapan-harapannya tentang sastra.

kami kemudian beranjak dan mengikuti sebuah diskusi berbahasa inggris. tidak banyak yang kudengar dari diskusi tersebut karena kami ikut saat diskusi akan berakhir. hingga maghrib menjelang, kami memutuskan untuk shalat maghrib di Basement dan memilih untuk pulang. ada kekecewaan yang menggelayut di hati karena baru mengetahui ada acara keren di TIM pada saat hari terakhir.

hujan mengguyur dengan derasnya saat kami akan meninggalkan TIM. kami nekat menerobos hujan dan memilih berteduh di sebuah warung makan sekaligus mengisi perut yang mulai keroncongan.

kami pulang ke kos masing-masing dengan weekend yang basah.


pulogadung220315

March 21, 2015

DITILANG

Pernah beberapa waktu lalu, aku menulis tentang seorang polisi yang kutemui di polsek metro kelapa gading.aku menulis tentang polisi yang lumayan baik diantara beberapa oknum yang pernah kutemui sebelumnya. entahlah apa yang selalu terlintas di benakku ketika mendengar kata polisi  namun yang jelasnya bahwa banyak keluargaku yang memilih profesi tersebut bahkan kedua kakakku pernah beberapa kali ikut seleksi polisi namun tidak lulus.

ketika aku kemudian tidak bersepakat dengan profesi tersebut, bukan karena kekecewaan kedua kakakku tidak lulus seleksi namun ada hal prinsipil yang membuatku tidak bersepakat. pertama aku ingin mengatakan bahwa aku bahkan malah  bersyukur kedua kakakku tidak lulus seleksi karena dengan begitu, orang tuaku lepas dari perbuatan menyogok. aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana saat kakakku sudah sampai pada tes terakhir dan dari seorang petingi polisi yang juga sekampung denganku menjadi backing dan disediakan sejumlah uang. memang pada saat itu aku tidak tahu sama sekali namun jujur sampai sekarang, aku bersyukur kedua kakakku tidak lulus seleksi.

mungkin ini terletak pada apa yang disebut prinsip namun aku pun menyadari bahwa masih ada diantara oknum polisi yang lulus tanpa menyogok, aku masih percaya itu meski perbandingannya jauh lebih kecil dari yang menyogok. hal kedua adalah banyak diantara oknum polisi yang bahkan menerima suap ketika sudah menjadi polisi apatahlagi ketika menjadi seorang petugas lalu lintas. hal lain bahwa banyak diantara mereka yang kemudian menjadi arogan.

diluar dari semua itu, aku percaya bahwa selalu saja ada orang baik diantara setiap orang yang kurang baik. kemarin aku menemukan seorang polisi yang kuanggap baik. mungkin kesannya subjektif namun begitulah adanya. ceritanya seperti ini. hari sabtu pagi, aku sudah bersiap ke arah karet pendurenan. ada dua jalur sebenarnya ke arah tersebut dari rawamangun. pertama melalui jalan pemuda ke arah pramuka-manggarai kemudian sampai di rasuna said namun menurutku jalur tersebut terlalu jauh. jalur yang kuanggap dekat melalui Cipinang kearah Casablanca. aku memilih aternatif kedua. sesampai di Jln Basuki Rakhmat, ada putaran yang memang sebenarnya dilarang namun karena putaran tersebut sebagai jalan kompas dan aku sudah sering melewatinya sehingga tanpa ragu aku memutar di jalan itu, apesnya pada saat itu ternyata ada 6 polisi yang sedang swipping. dengan pasrah, aku berhenti ketika seorang polisi memberhentikan motorku dan memberitahu bahwa aku melanggar rambu lalu lintas. sebelum dia menyuruh memperlihatkan SIM dan STNK, aku langsung berinisiatif mengeluarkan dan memperlihatkan kepadaku. saat itu aku sudah membatin harus kembali berurusan dengan pengadilan untuk mengambil SIM namun diluar dugaan, sang polisi mengatakan bahwa ini teguran pertama dan kemudian membiarkanku melanjutkan perjalanan.

yah, memang subjektif jika aku mengatataka bahwa dia seorang polisi yang baik namun aku pun beralasan bahwa 1 diantara 10 orang polisi yang mau berbaik hati seperti itu ketika kita sudah melanggar, yang ada bahwa ketika kita sudah jelas-jelas melanggar maka harus pasrah apakah damai di tempat atau bahkan harus ke pengadilan mengambil SIM.

terkadang kita menjumpai orang baik diantara mereka yang kurang baik.

pulogadung.210315

March 20, 2015

Nasabah yang Legowo

Genap sudah 7 bulan aku bekerja di kantor ini. Divisi kerja yang menurutku harus banyak berinteraksi dengan para nasabah yang mengajukan klaim. Sudah terlalu banyak karakter orang yang kutemui dan mayoritas dari mereka tidak sabar dan bahkan harus dibayarkan sekarang juga klaimnya apatahlagi ketika klaim yang ditolak, sudah tidak terbayangkan kata-kata yang akan keluar dari mulut mereka. Sumpah serapah laksana peluru yang keluar dari mulut mereka yang klaimnya ditolak bahkan menyumpahi setiap karyawan yang bekerja di kantor.

Aku pernah menulis seorang nasabah bernama ibu fitriana, umurnya sekitar 30 tahun. Hal yang kuingat saat dia melengkapi berkas adalah bertepatan dengan tutup buku sehingga kasie keuangan belum bisa membayarkan klaim dan ditunda sekitar 2 minggu. Berawal dari situ, dia begitu geram dan menyumpahiku dengan kata-kata bahkan dengan ancaman bahwa dia akan menulis tentang perusahaan kantorku ke koran.

Sejujurnya dalam hati yang paling dalam, aku sama sekali tidak gentar dengan setiap ancaman seperti itu namun ada hal yang harus kujaga dalam setiap berinteraksi dengan nasabah. mereka adalah nyawa dari perusahaan. Sering pula aku menempatkan diriku sebagai nasabah dan aku berpikir mungkin saja ketika aku yang diposisi mereka, aku mungkin juga tidak bisa bersabar seperti beberapa diantara mereka.

Ketika ditelepon oleh N bahwa ada tamu namanya Zuharudin. Pikiranku sudah berkecamuk untuk menguatkan hati mendengarkan sumpah serapah karena dia datang untuk mengambil surat penolakannya. berbekal rasa tanggung jawab, aku menemuinya di ruang tamu kantor. Kujelaskan bahwa  tidak bisa diakseptasi karena kasus Hipnotis dan pengemudinya tidak ada surat. 

Saat sedang menjelaskan, kuperhatikan setiap perubahan rona di wajahnya namun sampai pada kalimat bahwa ditolak, tak sedikitpun perubahan rona memerah di wajahnya bahkan ketika aku sudah selesai menjelaskan semua, dia kemudian menimpali dengan bijak bahwa ketika peraturannya seperti itu, dia tidak bisa berbuat banyak. tak lupa saat dia pamit pulang, dia mengucapkan terima kasih dan salam. 

Ah, begitulah kita manusia, selalu tidak bisa ditebak.

Aku tidak tahu apakah dia akan datang lagi memprotes keputusan ditolaknya tersebut namun setidaknya dia telah menunjukkan sebuah sikap tenang meski sesuatu tidak sesuai dengan harapannya. aku bahkan membandingkan dengan nasabah yang suka mengeluarkan sumpah serapah.

Beginilah hari-hariku di kantor ini. berinteraksi dengan setiap orang yang mengajukan klaim. bertemu dengan bermacam karakter manusia. Setidaknya bahwa semua dari mereka menjadi pelajaran hidup untukku supaya lebih tenang dan sabar.

pulogadung, 200315 

Aku yang Nista

Cinta apa yang sedang aku dengungkan untukMu Rabb
aku membunuh semua cahaya cintaMu dalam hatiku dengan nista hitam nafsu yang tak terjaga
meski dalam setiap kesendirianku
aku melafalkan ikrar untuk berjalan di jalanMu
namun hampa
tak ada tersisa

kalau lah semua hal telah Engkau cabut dari setiap sisiku
Kalau lah murkaMu menjemputku dalam kesendirianku
siapa yang akan menjadi syafaatku
tidak ada setitik harapan untukku
karena kutahu nafsuku membinasakan semua apa yang kurajut

Tuhan, semestinya semua hal yang Engkau berikan menyadarkanku betapa aku begitu nista
mestinya aku bergerak atas semua ridhaMu
namun apa yang telah aku lakukan selama ini
aku mendzalimi diriku

berulang kali mengaku taubat
kerapkali meneteskan air mata kepedihan
namun sesering itu pula aku mengulang semua kesalahanku

Tuhan, Ijinkan aku merasakan nikmatnya beribadah kepadaMu
ijinkan semua hal yang kulakukan di alam ini hanya karenaMu
meski kusadari aku adalah pendosa tak berhati

pulogadung.200315

March 18, 2015

Menjaring Angin

Merapal doadoa senja hari
mengharap semesta berbaik hati untuk tetap bersama
namun sirna juga akhirnya

aku adalah pendamba angin
memburu setiap yang membahagiakan
aku terlena
tertidur dalam dekapan malam yang hening

kau yang disana
aku tak ingin menyakitimu
untuk setiap janji yang terucap
adalah pantang untuk berbalik arah

ah, kali ini aku penat
180315

March 17, 2015

Jejak Langkah di Tanah Pasundan

Satu lagi jejak langkah kutinggalkan di pulau ini. tanah bagian paling barat yang dianggap sebagai suku yang mungkin sedikit berbeda dari suku jawa pada umumnya. aku menarik napas lega saat melangkahkan kaki di daerah ini. mungkin sebagai perayaan bahwa semua bagian pulau ini telah kususuri. Tidak terasa memang langkahku sudah begitu jauh dan entah kemana lagi jejak langkah selanjutnya.

Tepat sabtu 14 Maret 2015, aku dan rombongan dari kantorku meninggalkan jakarta menuju tanah Pasundan tepat pukul 08:00 WIB. 3 mobil yang membawa rombongan kami kesana. masuk di tol Cawang ke arah bekasi dan tiba di Bandung. mungkin perjalanan yang tidak terlalu mengesankan karena melalui jalan Tol sampai tiba di bandung. hanya laju mobil yang kupandangi di perjalanan.

Tiba di Bandung, suasana yang kurasakan seperti berada di Malang. Entahlah namun begitu adanya. Kontur tanah yang berbukit mengingatkan aku tentang kota Malang bahkan ketika melaju ke Lembang di Dusun Bambu, suasana kota seperti memasuki pedesaan yang asri. Memoriku langsung terhempas ke masa lalu ketika aku menghabiskan masa kecil di kampung. seperti itu adanya tentang alam yang asri dan berbukit.

Setelah melepas dahaga tentang pemandangan di Dusun Bambu. kami melaju ke daerah Tebing Keraton. kami melalui tengah kota menuju Dago dan akhirnya berlabuh di Tebing Keraton. mobil harus parkir di ujung jalan setapak menuju tebing tersebut. mungkin sekitar 200 meter kami harus berjalan kaki dengan kondisi jalan yang menanjak dan berbatu. 

Bagi sebagian temanku yang masih sayang kakinya harus pegal dan tidak ingin berkucur keringat, mereka lebih memilih naik ojek dan membayar 25-50 ribu rupiah. sebenarnya ini bukan tentang harga ojek namun tentang menikmati alam. manusia adalah bagian dari alam dan tetaplah harus memijakkan kaki di kerasnya tanah. namun begitulah tentang mereka yang mungkin lebih memilih untuk memanjakan diri dengan tidak mengeluarkan keringat di tengah asrinya alam menuju Tebing Keraton. 

Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapai puncak keraton. di bukit tersebut, ada tebing yang menjulang dan di bawahnya ada aliran sungai. di seberang sana, kita melihat jelas kota dengan tatanan rumah yang seperti titik-titik berderet dengan semrawut. tebing ini ramai dikunjungi oleh pasangan muda-mudi yang selfie ria tepat di tepi tebing.

setelah menuntaskan perjalanan di Tebing Keraton, kami menuju puncak Caringin Tilu. Mungkin jalanan hampir sama dengan perjalanan ke Tebing Keraton namun jalan ke Caringin Tilu masih bisa dilalui oleh mobil sehingga kami tidak berjalan kaki ke puncak.

Tidak ada yang terlalu istimewa karena semua hampir sama dengan tempat yang kami kunjungi. perjalanan berakhir di Caringin Tilu saat pulul 20:00 wib. Kami bergegas menuju jalan Cipaganti menuntaskan perut yang sudah meminta haknya. 2 kali memutari jalan tersebut baru kemudian menemukan rumah makan Iga Bakar Sijangkung. Diiringi 3 pengamen dengan suara yang pas-pasan, kami menikmati hidangan Iga Bakar yang masih hangat.

Aku tidak lantas pulang ke ibukota saat rombongan temanku sudah pulang. aku memutuskan untuk bermalam di bandung rumah salah satu kawan baikku yang sudah menikah dan menetap di Bandung. dia menjemputku dengan motor suzukinya yang sudah butut dan sering kupinjam dulu saat masih kuliah.

Paginya, kami memutuskan untuk berjalan di sekitar kampus UNPAD, lapangan Gazebu dan gedung sate. Kami memanjakan makanan di samping kampus UNPAD.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan beberapa daerah yang kudatangi di Bandung

March 12, 2015

Dia yang Kuanggap Guru

Pernahkah kalian respek kepada manusia yang pernah dijumpai dari berbagai sisi

Untuk pertanyaan ini, aku jawab iya. Mungkin banyak orang yang kujumpai yang membuatku kagum dari satu sudut pandang namun tidak dengan guruku. Beliau mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. bagaimana menaruh kehidupan dunia di tangan bukan di hati.

terlalu banyak hikmah yang mungkin kuramu dari interaksi kami. satu hal yang kupercayai dari setiap tindakannya adalah tidak pernah sekalipun aku menjumpai tindakannya karena ego, semua berdasar pada pertimbangan yang matang. salah satu orang yang tenang menghadapi musibah yang pernah kujumpai.

sekali waktu beliau merintis sekolah dan gagal namun dari raut wajahnya, tidak ada rasa kekecewaan darinya. sekali waktu merintis tempat kursus yang sudah mulai berjalan kemudian berhenti tanpa kutahu sebabnya dan lagi-lagi tak nampak di wajahnya sebuah kekecewaan.

Aku tak mampu meramu tulisan untuk menggambarkan beliau karena kuyakin bahwa semua hal yang kuceritakan tidak akan mampu merepresentasikan pribadi beliau. terlalu dalam untuk sekedar menulis apa yang ada di dalam samudera hikmah yang beliau tunjukkan kepada dunia, entahlah namun jernihnya pikiran beliau membuat beberapa kali aku bermimpi untuk menjadi pribadi seperti beliau.

March 10, 2015

Karena Tuhan Tidak Pernah Melupakan Kita

Jangan berharap tentang petuah yang kutulis dengan sekilas membaca tulisan diatas. Sejatinya bahwa judul di atas adalah tema sebuah lomba menulis cerpen. Aku ingin menguji sedikit nyali untuk mengikuti lomba cerpen tersebut mengingat sejak dulu aku sudah berhasrat untuk ikut lomba menulis namun selalu saja terkendala di persyaratan. 

Pada akhirnya, lomba menulis cerpen ini lumayan tidak memberatkan. Hanya menulis sesuai tema, ditulis di Ms Word A4, spasi 1,5, times new roman font 12, margin 2,54 cm, panjang 2-8 halaman. Biodata ditulis diakhir cerpen minimal nama pena. 

Dikirim ke email oksana.menulis@gmail.com. bisa mengirim 2 karya. Subjek_nama pengirim_judul naskah. Paling lambat 15 april 2015.

Aku cukup antusias untuk menguji kemampuan menulisku kali ini meski sampai sekarang, belum ada setitik ide yang hadir di kepalaku namun tak apalah karena batasnya masih sebulan.

Entahlah apa yang nantinya akan aku tulis namun sejauh ini, ideku masih sebatas tentang pengalaman pribadi bertemu dan bertahan dengan seorang gadis yang berbeda dari banyak segi bahkan perbedaan budaya yang mencolok. 

Hanya persamaan keyakinan yang menguatkan untuk tetap saling berpegang tangan meski dalam perjalanan waktu, banyak khilaf yang terlewati. Mungkin juga akan kusajikan beberapa poin penting dalam mempertahankan hubungan. Hal yang prinsipil misalnya tidak selingkuh, saling mengingatkan dan mungkin bahagia dengan hidup yang diyakini bukan karena pandangan orang lain.

Info lombanya ada disini 

Perayaan Weekend di Sudut Senayan

Setiap hari yang kulewati adalah rutinitas berulang yang terkadang membuatku jenuh meski kuakui bahwa aku adalah orang yang suka dengan pekerjaan terencana dan sedikit agak monoton. Senin selalu menjadi momok memuakkan bagiku dan mungkin bagi sebagian masyarakat urban pada umumnya. Aku bahkan terkadang terlambat beranjak ke kantor saat hari senin menjelang. selalu saja mood yang tidak menyenangkan menyerangku ketika minggu sore dan menyadari besok harus memulai rutinitas yang terus menerus seperti itu

Ketika senin menjadi momok menyeramkan, jumat sore adalah momen meneduhkan. berharap weekend akan berlalu dengan indah. Tak salah jika dalam beberapa tulisanku, aku menyadari bahwa aku termasuk dalam kumpulan masyarakat urban mainstream yang selalu merindukan akhir pekan untuk melepas penat. begitulah setiap jejak langkah yang kuayun di pergantian hari selama di ibukota.

Weekend kemarin lumayan menjemukan. Ketika sabtu menjelang, aku hanya menghabiskan hariku di blok M seperti biasa membeli beberapa novel yang mungkin bisa membunuh rasa sepiku di malam hari. Kemudian setelah itu membela ibukota menuju kramat jati menonton pertandingan bola. aku benar-benar tidak meresapi weekend kemarin dengan sepenuh hati. 

weekend yang berjalan seperti apa adanya.

Hari minggu, aku menuju ke bilangan senayan. aku tahu bahwa di Istora Senayan sedang berlangsung pameran buku-buku Islam yang akan dihadiri oleh penulis tere liye. Entahlah aku tidak terlalu antusias dengan acara tersebut namun kesukaanku melihat buku memaksaku tetap berangkat. memasuki kawasan GBK, ada fenomena yang menarik karena ternyata selain pameran buku di Istora, sedang berlangsung juga pameran electronic di JCC dan disampingnya pun ada pentas musik metal "Hammersonic." 

Pemandangan yang kontras di minggu kemarin. Ketika melewati pentas seni, terlihat sekumpulan orang dengan kostum mayoritas hitam ala anak metal dan bau alkohol yang menyengat. Di depan pintu masuk tersebut, antrian penikmat musik metal hampir 100 meter.

Di samping lain, tepatnya di gedung JCC. gelombang orang pencinta gadget pun sedang berkumpul dan perkiraan hampir sama banyaknya dengan orang yang sedang antri masuk menonton di pameran musik metal. aku tetap melaju ke arah Istora karena memang tujuan utamaku adalah melihat pameran buku.

Di istora pun, aku menemui begitu banyak  kumpulan orang dengan kostum Islami. baju kemeja, celana yang sedikit dipendekkan dan wanita dengan cadar sedang lalu lalang di dalam pameran. mereka asyik memilih buku.

ah, weekend yang kurang menyenangkan
090315

March 7, 2015

Blok M

Di sudut sebuah ruang
Menjulang hutan beton
Aku memilih menyingkir
Mendekap mimpi

Indah bersamamu.
Blok M. 080315

March 6, 2015

Ponakan Ketiga

"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Al-Qur'an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 412).

ini pertama kalinya aku menulis tentangmu nak andra. bahkan sekarang umurmu sudah memasuki 3 bulan. begitulah hakekatnya waktu nak. dia tidak pernah berkompromi untuk berhenti sejenak bahkan sedetik pun sehingga manusia lah yang dituntut untuk mempergunakannya agar kelak kita tidak pernah menyesal akan kepergiannya. engkau akan memahami makna waktu ketika berkali lipat dia telah berlari meninggalkanmu. tak seorangpun yang tidak menyesal akan kepergian waktu nak andra bahkan orang yang banyak berbuat baik pun akan menyesal ketika waktu meninggalkannya namun penyesalannya mungkin tetap merasa belum berbuat banyak kebaikan.

aku hanya bisa melihatmu dari beberapa foto yang dijadikan DP BBM oleh ibu dan ayahmu. aku benar-benar selalu berdoa semoga engkau menjadi anak yang berbuat baik kepada sesama. entahlah nak namun manusia memang selalu berbeda dalam pengharapan tentang anak-anaknya. aku pribadi hanya ingin melihatmu menjadi anak yang baik. berguna bagi manusia yang lain.

 Di foto samping. engkau sedang tertawa lepas di dalam pelukan ayahmu. entah apa yang sedang membuatmu begitu renyah tertawa namun aku selalu yakin kepada ayahmu. aku selalu yakin dia mampu menjagamu dengan baik bahkan meski dengan seluruh jiwa raganya. nantilah engkau akan melihat betapa seorang ayah dengan caranya sendiri menyayangi anaknya. engkau patut bersyukur nak dilahirkan dari kedua orang tua yang kuanggap baik bukan karena ayahmu adalah kakakku namun aku memang melihat beberapa kebaikan pada diri ayahmu begitu pun ibumu. aku selalu meyakini sesuatu yang baik terhadap hal yang akan bersentuhan denganmu. dan akhirnya aku ingin bilang nak nikmatilah setiap jengkal masa kecilmu tanpa beban. biarkan dirimu menghirup energi kehidupan yang masih tulus sebelum pada waktunya nanti, engkau akan berjuang tentang hidupmu sendiri. bagaimanapun, waktu akan membawa kita menjadi dewasa dan tua nak. dan disaat itu, kita harus memperjuangkan apa yang menjadi visi hidup kita tanpa harus berkompromi dengan kesusahan yang menghalangi. yakinlah bahwa ada Dzat yang tetap mengiringi setiap jejak langkah yang kita lalui sepanjang niat kita baik dan benar.

ngomong-ngomong tentang ayahmu nak. banyak hal yang mungkin ingin kuceritakan tentangnya. dia adalah abangku sendiri yang hanya berselisih 2,5 tahun denganku. umur yang tidak terlalu jauh sehingga masa kecil kami sering lalui bersama. banyak kenangan sebenarnya yang tercecer diantara kami meski sulit untuk menyulam satu persatu kenangan tersebut.

aku pernah menulis panjang tentang ayahmu ketika menjelang pernikahannya dengan ibumu. aku meneteskan beberapa air mata saat menulis tentangnya waktu itu karena aku sadar bahwa hubungan emosional kami terlalu kuat sebagai saudara. baca disini tentang tulisanku kepada ayahmu saat akan melepas masa lajangnya.

engkau menggemaskan nak. Tapi sejatinya bocah sepertimu memang lucu. Aku mungkin terlalu sok bijak jika harus menulis banyak tentangmu dikala umurmu masih 3 bulan. Semua hal yang engkau lalui nantinya akan mengasyikkan. Pandangan hidupmu pun pastinya akan dipengaruhi oleh refleksi panutan dari orang tuamu. Seperti sepupu yang sudah amat sering kutuliskan sesuatu, engkau pun akan aku ceritakan banyak hal nak tapi nantilah ketika kau sudah bertumbuh.

Pada saat nantinya ketika kalian bertiga, sudah bisa mendengarkan, aku berhasrat untuk mendongengkan kalian cerita lucu sampai kalian terbahak-bahak. Kita duduk di beranda rumah panggung nenek kalian sambil duduk melingkar. Saat itu sudah senja dan gerimis tidak berhenti membasahi bumi sehingga kita berempat masygul dalam forum dongeng.

Ada 3 gelas susu untuk kalian dan aku lebih memilih dibuatkan kopi oleh nenek kalian. Ada pula ubi goreng dan pisang goreng. Kalian bertiga sudah tidak sabar mendengarkan aku membacakan dongeng. Tapi mungkin saat itu nak andra, engkau lebih sibuk menghabiskan susumu dan mencicipi pisang goreng karena kau yang paling muda, nampaknya engkau tidak terlalu peduli dengan dongengku..hehe.

Aku mulai membaca dongeng dari buku yang bersampul merah. Tentang lomba lari siput dan kancil yang dimenangkan oleh siput, tentang kucing yang tidak pernah berhenti berkonflik dengan tikus, dan tentang buaya vs cicak. Kalian tertawa terpingkal-pingkal nak. Namun cerita ketiga tidak kalian mengerti karena aku malah bercerita tentang para pejabat negeri ini. Ah biarkanlah cerita yang ketiga kalian simpan di memori dan suatu saat nanti akan mengerti maknanya makanya rajinlah membaca nak. Baca apa saja dan belajar apa saja. Jangan malas karena semesta membenci orang malas.

Adzan maghrib berkumandang. Aku mengakhiri dongeng untuk kalian dan mengambil air wudhu. Kita berjamaah dan kakek imamnya. Sesekali engkau nak andra menggoyang-goyangkan kaki ketika terlalu lama berdiri bahkan ketika kakek melantunkan ayat terakhir Al-Fatihah, engkau langsung menyahut dengan suara maksimal, Aaaaaamiiiinnn...!! Tidak apa-apa nak. Begitulah memang seorang bocah yang sedang belajar. Tidak ada salahnya.

Kapan-kapan lagi aku bercerita tentangmu nak. Untuk kali ini aku tidak ada pesan untukmu karena engkau masih menikmati hangatnya pelukan ibumu. Keep health and strong. Rayakanlah masa balitamu dengan senyuman tawa dan sesekali merengek karena begitulah hakekatnya menjadi bocah. Semoga ayah ibumu selalu mendampingimu merangkai kenangan yang nantinya engkau bercerita di depan kelas bahwa betapa bangganya engkau memiliki kedua orang tua yang menyayangimu.

Pulogadung.080315

MASIHKAH DIAM

Kukutuk benih kemarahan jiwaku untukmu. menjadikanmu puingpuing asa yang berserakan.
aku memunguti setiap serpihan itu dan menyimpan di hati.
kau tahu tidak?
seperti katamu kita bak drama King dan Queen.

ah iya juga yah, aku baru menyadarinya
aku bak sutradara dan engkau adalah lakonnya
tapi tidakkah engkau tahu bahwa sang sutradara sangat menyayangi semua tokoh dalam ceritanya
meski berlebihan
namun akupun tidak pernah benarbenar menyakitimu
kau tahu kan alasanku setiap aku membentakmu?
itu karena kesalahan yang kita ulangi
dan kau tahu kan apa artinya ketika aku membentakmu?
itu karena aku marah terhadap diriku sendiri.
dan kau tahu kan ketika aku memarahimu.
itu artinya aku marah terhadap diriku sendiri

saat engkau tersedu sedan, akulah yang paling merana dan saat kau tertawa renyah pun aku ikut terbahak.
aku merasakan setiap aliran rasa yang mengalun indah di sukmamu
karena bagian hidupku adalah dirimu

mungkin terlalu dini merayumu dengan syair indah namun kau pun menerawang jauh kebelakang betapa aku tidak pernah benar-benar menyakitimu.

aku memang egois, keras kepala bahkan tak sabar namun tidak menyurutkan sedikitpun kasihku untuk menyayangi setiap apa yang ada padamu.

syair syahdu pagi hari
060315

March 4, 2015

Sebuah Tanya

aku adalah deretan pertanyaan itu
tentang semua rindu dan harapan
aku adalah pertanyaan tanpa titik
hanya koma yang kadang menyelingi.

aku ingin mengores sebuah kesimpulan dari hidup yang kujalani
tentang jawaban-jawaban dari tanyaku
sampai penat

ah, aku adalah tanya tanpa titik
040315

March 3, 2015

Pecundang

Berkecamuk hatiku bahkan semua perasaan yang tak menentu menyerang rongga kepalaku saat tahu tante eny yang mungkin sebentar lagi akan menjadi orang tuaku ternyata memendam perasaan sakit hati terhadapku. namun apapun alasannya, akulah biang dari semua sakit hatinya. Perlakuanku terhadap anaknya memang tidak seperti ekspetasinya dan akulah pesakitan itu. Menyia-nyiakan kepercayaan yang kuemban hingga berujung fatal.

Bukan bermaksud untuk membela diri namun aku kerapkali berpesan kepada anaknya ketika kami sedang dalam perselisihan ataupun ketidakcocokan, jangan sekali-kali ibunya tahu karena akan menimbulkan image negatif terhadapku, namun sesering aku menasehatinya tidak pernah sekalipun dia berusaha untuk tidak bercerita alhasil semua masalah kami diketahui oleh tante dan sialnya aku memang biang dari masalah.

Aku sebenarnya berharap banyak ketika kami sedang selisih paham, tidak ada seorang pun yang tahu hingga kami menyelesaikan sendiri namun tidak baginya. Selalu saja semua masalah diumbar kepada ibunya.

Aku sekalipun tidak pernah menceritakan masalahku kepada orang tuaku seberat apapun itu. Bahkan ketika aku dan anaknya marahan, aku sama sekali tidak ingin keluargaku tahu karena menjaga nama baiknya di depan keluargaku. Sampai pada titik ini, orang tuaku tidak sekalipun tahu kalau kami sering bertengkar. Mereka hanya tahu bahwa kami baik-baik saja.

Ah, setidaknya nasi telah menjadi bubur. Aku telah dianggap loser di pandangan keluarganya. Aku tidak bisa berkelit lagi.

Entah apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya merasa seperti seonggok manusia yang mempertahankan janji. Karena menepati sebuah janji adalah salah satu dari prinsip hidupku maka suka ataupun tidak suka, aku harus menjalani semua ini dan mungkin saja bersanding dengannya dengan alasan menepati janjiku. Nothing to loose untuk semua hal yang akan terjadi bahkan aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk ketika suatu saat rencana kami tidak terlaksana.

Aku bahkan harus berbesar hati untuk semua yang akan terjadi kedepannya meski nama keluarga besarku menjadi taruhannya karena di kampungku nan jauh disana, banyak orang yang sudah mendengar desas-desus bahwa sebentar lagi aku menikah dan ketika itu tidak terjadi, muka keluargaku akan tercoreng. Itu adalah satu dari beberapa alasan kenapa aku masih tetap bertahan dsini.

030315

HINGGA UJUNG WAKTU




Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini
Dan pekat pun berakhir sudah

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak kan henti bernyanyi

Saat aku berakhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istiriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi istriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu




Sheila On 7 – Hingga Hujung Waktu





tiba-tiba saja aku tergerak menulis tentang lagu ini saat mas elly disampingku menyetelnya. di bait yang ada kata-kata "saat kau menjadi isteriku nanti," aku langsung terperangah dan tergugah menuliskannya. entahlah apa musababnya namun aku harus akui bahwa ternyata menyatu dengan seseorang itu tidak segampang dengan mengatakan gombal basi. butuh perjuangan yang amat keras untuk melalui setiap gelombang yang ada.karakter yang berbeda adalah indikasi utama begitu sulitnya untuk selalu bersama.

Lagu-lagu SO7 memang meninggalkan kenangan masa remaja yang mendalam. dia adalah kepingan masa lalu yang mungkin mayoritas remaja seusiaku mempunyai cerita dengan lagu-lagu SO7. begitulah lirik-liriknya merasuk dalam kenangan remajaku dan lagu yang barusan disetel oleh mas Elly mungkin lebih relevan dengan masa yang sebentar lagi akan kujalani.


berangkat dari kebersamaanku dengan windi. meski kami sudah mengikrarkan diri untuk berjuang namun selalu saja ada cela yang membuat kami tidak menemukan titik. aku tidak sanggup mengungkapkan beberapa kali kami tidak cocok atau bahkan beberapa kali aku memarahinya dan membuatnya menangis. aku mungkin egois namun begitulah hakekatnya sebuah jalinan yang akan dibangun.

"Jika kau menjadi istriku nanti,Pahami aku saat menangis,Saat kau menjadi istriku nanti, 
Jangan pernah berhenti memilikiku, Hingga ujung waktu"

 mungkin seharusnya juga yang mengatakan seperti itu adalah windi. akulah yang sering membuatnya menangis. akulah yang sering membuatnya terluka bahkan kerapkali tidak berusaha memahaminya.keputusan untuk bersama memang butuh perjuangan sepanjang hidup. suka duka adalah keniscayaan yang akan terjadi dalam hidup yang akan dijalani sekeras apapun kita berjuang untuk melawannya.