Begitu banyak hikmah yang tertinggal di masa lalu yang kulalui dengan bahagia. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan aku melewati masa kecilku sesederhana itu. Ketika teman yang lain sudah punya TV masing-masing di rumah, aku dan saudaraku harus numpang di rumah tetangga kalau ingin menonton TV, begitu pula ketika temanku punya sepeda, aku harus mengelus dada karena memang ibu ayahku saat itu belum mampu membelikan sepeda yang masih menjadi barang mewah pada masa kecilku. Ada banyak hal yang harus ku kompromikan ketika aku masih bocah bahkan seringkali aku mengorbankan waktu bermain dengan teman-teman karena harus membantu orang tua, entah itu ke kebun, mengambil makanan kambing, sapi atau bahkan sekedar mengangkut air dengan ember dari sungai yang jaraknya sekitar 100 meter ketika musim kemarau melanda kampung kami. Di satu sisi, beberapa kawanku yang terlahir dari orang berpunya tidak perlu bersusah payah mengangkut air karena mampu membeli pompa air bahkan seringkali aku menumpang ke rumah tetangga untuk mengambil air yang dipompa dari sungai.
Kenangan lain yang tidak bisa kulupakan adalah tentang wc. Orang tuaku sama sekali belum punya dana untuk membangun wc sehingga pada saat itu, aku dan saudaraku harus lari terbirit-birit ke sungai ketika ada yang akan dikeluarkan dari perut. pada saat itu memang sungai masih lazim digunakan sebagai wc umum. terkadang pula ketika tengah malam dan kebelet BAB, aku takut ke sungai sehingga harus ke belakang rumah menggali lubang dan menanam kotoran. kenangan masa kecilku yang lumayan berat kulalui meski kuakui aku bersyukur untuk semua hal yang pernah kulalui.
Serpihan hikmah demi hikmah pun sering kupungut dari kedua orang tuaku. Meski sudah begitu banyak yang tertinggal dan terlupa namun masih ada sisa dari hikmah tersebut yang kurawat di dalam hatiku. Ayahku terutama sangat keras terhadap apa yang bukan milik kami. Beliau sangat menjaga perut kami dari hal-hal yang syubhat. saat adikku yang paling bungsu dilahirkan, ibuku di caesar sehingga dia tidak bisa menyusui. Ada sepupu ayahku yang dengan sukarela ingin menyusui adikku namun ayahku berkeras untuk tidak menerima bantuannya. belakangan aku tahu bahwa ayahku tidak tahu sumber makanan yang dimakan oleh sepupunya yang kemudian menjadi air susu.
Serpihan hikmah demi hikmah pun sering kupungut dari kedua orang tuaku. Meski sudah begitu banyak yang tertinggal dan terlupa namun masih ada sisa dari hikmah tersebut yang kurawat di dalam hatiku. Ayahku terutama sangat keras terhadap apa yang bukan milik kami. Beliau sangat menjaga perut kami dari hal-hal yang syubhat. saat adikku yang paling bungsu dilahirkan, ibuku di caesar sehingga dia tidak bisa menyusui. Ada sepupu ayahku yang dengan sukarela ingin menyusui adikku namun ayahku berkeras untuk tidak menerima bantuannya. belakangan aku tahu bahwa ayahku tidak tahu sumber makanan yang dimakan oleh sepupunya yang kemudian menjadi air susu.
Hal kedua yang masih kuingat adalah ayahku mengerjakan sawah pamanku kemudian pada saat panen, hasilnya dibagi. ayahku seringkali mengurangi takaran untuk keluarga kami karena takut jangan sampai ada kelebihan bagian untuk kami.
Mengenai ibuku, aku pun memungut semua serpihan kasih sayang darinya yang mungkin tidak pernah ada habisnya sampai sekarang. aku ingat saat masih bocah, jajanan paling kami sukai adalah pisang goreng. ayahku sering membawa pisang dari kebun yang kemudian digoreng oleh ibuku. Seringkali ketika ada salah satu dari saudaraku yang tidak ada di rumah ketika ibu menggoreng pisang maka otomatis ibu akan menyimpankan bagian untuknya. seringkali ketika ada diantara saudara kami ada yang ketahuan mengambil secara diam-diam bagian yang lain, maka ibuku akan dengan sangat marah. begitulah ibuku mengajarkan keadilan dan totaliter diantara saudara kami.
Entah hikmah apalagi yang diajarkan oleh kedua orang tuaku yang sudah luput dari ingatanku. aku hanya mengingat sebagian dari serpihan yang masih segar dalam ingatanku meski kutahu masih banyak yang hilang.
Mengenai ibuku, aku pun memungut semua serpihan kasih sayang darinya yang mungkin tidak pernah ada habisnya sampai sekarang. aku ingat saat masih bocah, jajanan paling kami sukai adalah pisang goreng. ayahku sering membawa pisang dari kebun yang kemudian digoreng oleh ibuku. Seringkali ketika ada salah satu dari saudaraku yang tidak ada di rumah ketika ibu menggoreng pisang maka otomatis ibu akan menyimpankan bagian untuknya. seringkali ketika ada diantara saudara kami ada yang ketahuan mengambil secara diam-diam bagian yang lain, maka ibuku akan dengan sangat marah. begitulah ibuku mengajarkan keadilan dan totaliter diantara saudara kami.
Entah hikmah apalagi yang diajarkan oleh kedua orang tuaku yang sudah luput dari ingatanku. aku hanya mengingat sebagian dari serpihan yang masih segar dalam ingatanku meski kutahu masih banyak yang hilang.