March 7, 2014

Coretan untuk mamak #2


Ma, apa kabarmu di jumat yang berkah ini..? semoga senantiasa sehat untuk memulai aktivitasmu. Hari ini tidak ada yang terlalu menarik untuk kuceritakan kepadamu ma. Sama seperti hari sebelumnya aku masih terpaku di kamarku tanpa ada perubahan progresif sejauh ini tetapi aku sudah bertekad untuk tetap bersabar ma karena setidaknya sabar menjadi jalan amalan buatku.

Benar-benar tak ada yang ingin kuceritakan kepadamu ma. Coretan ini kubuat hanya untuk menanyakan kabarmu yang pasti amat sangat sedih karena hari kemarin, salah satu saudaramu yang amat dekat denganmu telah mendahului kita menghadap Sang Khalik. Aku tak bisa menggambarkan betapa sedih yang engkau rasakan saat ini. Bagaimana tidak, saudaramu itu begitu dekat denganmu dari apa yang kulihat di masa yang lalu. Keterikatan emosi antar kalian benar-benar sangat kuat dan banyak bukti yang menandakan hal tersebut.

Rumah kita yang berhadapan dengan rumahnya adalah salah satu faktor kedekatan kalian, sering kali saat aku masih di kampung, kalian memperlihatkan persaudaraan yang sejati. Saat engkau mungkin kehabisan bumbu dapur engkau pasti meminta tolong kepadanya ataupun sebaliknya bahkan lebih dari itu, setiap pagi, sore bahkan malam kalian pasti bertemu. Pintu rumah kita yang persis berhadapan dengan pintu rumahnya jelas menandakan filosofi yang kuat diantara kalian saat dulu kalian akan membangun rumah. Aku mungkin hanya mereka-reka namun kalian sengaja menghadapkan pintu supaya setiap saat kalian mengetahui kondisi masing-masing tanpa harus bertanya.

Sampai sekarang saat beliau sudah berpulang, perasaanmu pasti amat sangat kacau ma. Manusia memang terkadang berada pada persimpangan antara perpisahan dan pertemuan dan selalu saja perpisahan adalah hal yang paling memilukan seperti yang engkau hadapi sekarang. Pilu memang ma namun aku berharap bahwa engkau tetap sabar dalam setiap perpisahan yang akan engkau jumpai karena sejatinya masih banyak lagi perpisahan-perpisahan lain yang akan menemui kita.

Iringilah kepergian beliau dengan doadoa terbaik karena sejatinya beliau tidak kemana-mana. beliau hanya mendahului kita berpulang ke rumah yang sesungguhnya. Bukankah orang yang berpulang itu mempunyai sejuta rasa bahagia yang tak terkira dan kuyakin tante bada juga begitu adanya. Beliau pasti bahagia tak terkira karena sudah tiba waktunya berpulang setelah beliau sudah dengan begitu sabarnya menjalani sakit bertahun-tahun sebagai ujian dan bukankah Tuhan amat sangat senang terhadap hamba-hambaNya yang sabar.

Ah, selalu saja sangat sentimental ketika bercerita tentangmu ma. Semua perasaan yang tertumpuk di dada seakan meluap begitu bercerita tentangmu tentang semua hal bahkan tentang kebersamaan kita dahulu. Aku memang sedang jauh ma sedang tak lagi disampingmu namun yakinlah bukan untuk meninggalkanmu namun aku hanya ingin menjadi laki-laki yang sesungguhnya tidak selalu bergantung kepada kalian. Aku ingin melihat dunia lebih luas lagi dan merasakan betapa Tuhan benar-benar selalu ada untuk makhlukNya bahkan ketika tidak ada satupun keluarga di dekatku tempat bergantung. Aku selalu yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku dan dengan doadoamu, Tuhan merestui semua niatku untukmu yang kelak akan kubawa pulang untukmu


Senja jumat yang mendung di kota pahlawan
Jojoran 3/61
7’3’14
17.00

No comments: