Ma, apa kabarmu di jumat yang berkah ini..?
semoga senantiasa sehat untuk memulai aktivitasmu. Hari ini tidak ada yang
terlalu menarik untuk kuceritakan kepadamu ma. Sama seperti hari sebelumnya aku
masih terpaku di kamarku tanpa ada perubahan progresif sejauh ini tetapi aku
sudah bertekad untuk tetap bersabar ma karena setidaknya sabar menjadi jalan
amalan buatku.
Benar-benar tak ada yang ingin kuceritakan
kepadamu ma. Coretan ini kubuat hanya untuk menanyakan kabarmu yang pasti amat
sangat sedih karena hari kemarin, salah satu saudaramu yang amat dekat denganmu
telah mendahului kita menghadap Sang Khalik. Aku tak bisa menggambarkan betapa
sedih yang engkau rasakan saat ini. Bagaimana tidak, saudaramu itu begitu dekat
denganmu dari apa yang kulihat di masa yang lalu. Keterikatan emosi antar
kalian benar-benar sangat kuat dan banyak bukti yang menandakan hal tersebut.
Rumah kita yang berhadapan dengan rumahnya
adalah salah satu faktor kedekatan kalian, sering kali saat aku masih di
kampung, kalian memperlihatkan persaudaraan yang sejati. Saat engkau mungkin
kehabisan bumbu dapur engkau pasti meminta tolong kepadanya ataupun sebaliknya
bahkan lebih dari itu, setiap pagi, sore bahkan malam kalian pasti bertemu. Pintu
rumah kita yang persis berhadapan dengan pintu rumahnya jelas menandakan
filosofi yang kuat diantara kalian saat dulu kalian akan membangun rumah. Aku
mungkin hanya mereka-reka namun kalian sengaja menghadapkan pintu supaya setiap
saat kalian mengetahui kondisi masing-masing tanpa harus bertanya.
Sampai sekarang saat beliau sudah berpulang,
perasaanmu pasti amat sangat kacau ma. Manusia memang terkadang berada pada
persimpangan antara perpisahan dan pertemuan dan selalu saja perpisahan adalah
hal yang paling memilukan seperti yang engkau hadapi sekarang. Pilu memang ma
namun aku berharap bahwa engkau tetap sabar dalam setiap perpisahan yang akan
engkau jumpai karena sejatinya masih banyak lagi perpisahan-perpisahan lain
yang akan menemui kita.
Iringilah kepergian beliau dengan doadoa
terbaik karena sejatinya beliau tidak kemana-mana. beliau hanya mendahului kita
berpulang ke rumah yang sesungguhnya. Bukankah orang yang berpulang itu
mempunyai sejuta rasa bahagia yang tak terkira dan kuyakin tante bada juga
begitu adanya. Beliau pasti bahagia tak terkira karena sudah tiba waktunya berpulang
setelah beliau sudah dengan begitu sabarnya menjalani sakit bertahun-tahun
sebagai ujian dan bukankah Tuhan amat sangat senang terhadap hamba-hambaNya
yang sabar.
Ah, selalu saja sangat sentimental ketika
bercerita tentangmu ma. Semua perasaan yang tertumpuk di dada seakan meluap
begitu bercerita tentangmu tentang semua hal bahkan tentang kebersamaan kita
dahulu. Aku memang sedang jauh ma sedang tak lagi disampingmu namun yakinlah
bukan untuk meninggalkanmu namun aku hanya ingin menjadi laki-laki yang
sesungguhnya tidak selalu bergantung kepada kalian. Aku ingin melihat dunia
lebih luas lagi dan merasakan betapa Tuhan benar-benar selalu ada untuk
makhlukNya bahkan ketika tidak ada satupun keluarga di dekatku tempat
bergantung. Aku selalu yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkanku dan
dengan doadoamu, Tuhan merestui semua niatku untukmu yang kelak akan kubawa
pulang untukmu
Senja jumat
yang mendung di kota pahlawan
Jojoran 3/61
7’3’14
17.00
No comments:
Post a Comment