Ma, apa kabarmu hari ini? Semoga saja tetap bahagia selalu dalam
kesederhanaan. Aku sudah berjanji akan menceritakanmu setiap hari tentang
keadaanku disini apa saja itu di setiap
lembaran suratku untukmu. Lembaran surat ini nantinya akan kuselipkan di bawah
bantal yang sudah mulai kumal sehingga saat terjaga di subuh hari dengan
mudahnya engkau mendapati surat-surat rinduku terhadapmu.
Ma, aku tahu engkau masih di pasar siang ini. Aku sangat mengerti
aktivitasmu senin kamis karena itu adalah hari yang amat sibuk bagimu. Hari itu
adalah hari pasar di kampung kita dan itulah salah satu sumber rejekimu. Menjajakan
kue apem, sawalla, baje, dodol, cendal dan bolu. Warungmu tidak jauh dari pintu
gerbang pasar. Saat masih sangat pagi, engkau sudah ada di pasar itu duduk
termenung menunggu pembeli dengan hamparan jajanan kuemu di depanmu. Ah, sedih
sekali rasanya melihatmu terlalu penat setiap kali engkau harus ke pasar dan
tentunya engkau baru pulang setelah senja menghilang. Aku ingin sekali suatu
saat nanti engkau tidak repot-repot ke pasar namun apa dayaku karena aku belum
bisa berbuat banyak untukmu bahkan untuk dirimu sendiri pun masih sering
bergantung terhadapmu. Aku hanya berdoa semoga saja semua usahamu dinilai
sebagai ibadah di sisiNya. Hal yang paling menyedihkan ketika jajananmu moppo’.
Ingin rasanya membeli semua jajananmu itu supaya hatimu senang. Aku tak kuasa
melihatmu ketika jajananmu banyak yang tidak laku dan hanya satu hal yang
kuharap darimu semoga tetap sabar. Aku yakin hasilnya sama sekali bukan buatmu
tetapi semua buat anak-anakmu.
Kok malah kondisimu yang kuceritakan ma. Terlalu sentimental
ketika semua tentangmu yang kutulis lebih baik aku menulis keadaanku di kota
ini. Hari ini aku melamar di sebuah
proyek di kota ini sebagai fasilitator kecamatan ma. Setelah itu aku ke
gramedia sekedar menghabiskan waktu membaca buku apa saja. Mungkin pegawai
gramedia manyar sudah hapal mukaku karena setiap hari aku disana menghabiskan
waktuku membaca buku tanpa sekalipun membeli. Hehe. Aku mohon restumu semoga kehidupanku dipermudah
di kota ini.
Tadi di gramedia aku membaca beberapa buku ma. Ada tenang kearifan
tiongkok, ada juga tentang aliran illuminate dan juga tentang kematian
misterius beberapa selebritis dunia. Aku suka membaca apa saja ma selama
bukunya gratis. Hehe. Anyway aku tadi tertarik dengan buku tentang kematian
bunuh diri yang dilakukan oleh para selebriti ma. Meskipun sudah beberapa kali
aku baca tentang mereka namun aku selalu saja suka membacanya ma. Tentang kalangan
artis yang kadang kita lihat bahagia dengan kemewahannya ternyata tidak seperti
adanya ma. Banyak dari mereka yang membenci diri mereka sebagai artis ma. Seperti
vokalisnya Nirvana, Kurt Kobain. Orangnya tampan sekali ma namun keluarganya
broken home. Dia itu ma sangat popular saat akhir 1980an sampai awal 1990an
namun dia sama sekali tidak menikmati popularitasnya ma. Dia bilang begini ma “I’d
rather be hated for who I am than loved who I am not”. Keren kan ma. Tetapi Cuma
caranya agak keliru ma. Ketidaksetujuannya terhadap kemapanan dan ketidakadilan
dibungkus dengan cara-cara yang merusak
dirinya. Banyak lagi selebritis yang ternyata tidak menikmati popularitasnya
ma. Aku bersyukur seperti kita ini adanya ma.
Ma, tadi waktu dari gramedia sudah jam 4 sore. Aku mampir beli
bikang dan pukis 4 buah ma kemudian ke kos menikmatinya dengan segelas kopi. Memang
kebiasaanku setiap sore begitu ma. Bikin kopi dengan cemilan sambil menulis ma.
Hehe.
Sudah dulu ya ma. Besok lagi
kita bercerita apa saja ma. Aku sudah lapar. Tetap bahagia ya ma karena hidup
harusnya memang bahagia.
![]() |
| Kawan Kurt Cobain |
Senja yang
mulai menua di jojoran 3/61
10’3’14

No comments:
Post a Comment