March 10, 2014

Coretan untuk mamak #4


Ma, apa kabarmu hari ini? Semoga saja tetap bahagia selalu dalam kesederhanaan. Aku sudah berjanji akan menceritakanmu setiap hari tentang keadaanku disini  apa saja itu di setiap lembaran suratku untukmu. Lembaran surat ini nantinya akan kuselipkan di bawah bantal yang sudah mulai kumal sehingga saat terjaga di subuh hari dengan mudahnya engkau mendapati surat-surat rinduku terhadapmu. 

Ma, aku tahu engkau masih di pasar siang ini. Aku sangat mengerti aktivitasmu senin kamis karena itu adalah hari yang amat sibuk bagimu. Hari itu adalah hari pasar di kampung kita dan itulah salah satu sumber rejekimu. Menjajakan kue apem, sawalla, baje, dodol, cendal dan bolu. Warungmu tidak jauh dari pintu gerbang pasar. Saat masih sangat pagi, engkau sudah ada di pasar itu duduk termenung menunggu pembeli dengan hamparan jajanan kuemu di depanmu. Ah, sedih sekali rasanya melihatmu terlalu penat setiap kali engkau harus ke pasar dan tentunya engkau baru pulang setelah senja menghilang. Aku ingin sekali suatu saat nanti engkau tidak repot-repot ke pasar namun apa dayaku karena aku belum bisa berbuat banyak untukmu bahkan untuk dirimu sendiri pun masih sering bergantung terhadapmu. Aku hanya berdoa semoga saja semua usahamu dinilai sebagai ibadah di sisiNya. Hal yang paling menyedihkan ketika jajananmu moppo’. Ingin rasanya membeli semua jajananmu itu supaya hatimu senang. Aku tak kuasa melihatmu ketika jajananmu banyak yang tidak laku dan hanya satu hal yang kuharap darimu semoga tetap sabar. Aku yakin hasilnya sama sekali bukan buatmu tetapi semua buat anak-anakmu.

Kok malah kondisimu yang kuceritakan ma. Terlalu sentimental ketika semua tentangmu yang kutulis lebih baik aku menulis keadaanku di kota ini.  Hari ini aku melamar di sebuah proyek di kota ini sebagai fasilitator kecamatan ma. Setelah itu aku ke gramedia sekedar menghabiskan waktu membaca buku apa saja. Mungkin pegawai gramedia manyar sudah hapal mukaku karena setiap hari aku disana menghabiskan waktuku membaca buku tanpa sekalipun membeli. Hehe.  Aku mohon restumu semoga kehidupanku dipermudah di kota ini. 

Tadi di gramedia aku membaca beberapa buku ma. Ada tenang kearifan tiongkok, ada juga tentang aliran illuminate dan juga tentang kematian misterius beberapa selebritis dunia. Aku suka membaca apa saja ma selama bukunya gratis. Hehe. Anyway aku tadi tertarik dengan buku tentang kematian bunuh diri yang dilakukan oleh para selebriti ma. Meskipun sudah beberapa kali aku baca tentang mereka namun aku selalu saja suka membacanya ma. Tentang kalangan artis yang kadang kita lihat bahagia dengan kemewahannya ternyata tidak seperti adanya ma. Banyak dari mereka yang membenci diri mereka sebagai artis ma. Seperti vokalisnya Nirvana, Kurt Kobain. Orangnya tampan sekali ma namun keluarganya broken home. Dia itu ma sangat popular saat akhir 1980an sampai awal 1990an namun dia sama sekali tidak menikmati popularitasnya ma. Dia bilang begini ma “I’d rather be hated for who I am than loved who I am not”. Keren kan ma. Tetapi Cuma caranya agak keliru ma. Ketidaksetujuannya terhadap kemapanan dan ketidakadilan  dibungkus dengan cara-cara yang merusak dirinya. Banyak lagi selebritis yang ternyata tidak menikmati popularitasnya ma. Aku bersyukur seperti kita ini adanya ma.

Ma, tadi waktu dari gramedia sudah jam 4 sore. Aku mampir beli bikang dan pukis 4 buah ma kemudian ke kos menikmatinya dengan segelas kopi. Memang kebiasaanku setiap sore begitu ma. Bikin kopi dengan cemilan sambil menulis ma. Hehe. 

Sudah dulu ya ma. Besok  lagi kita bercerita apa saja ma. Aku sudah lapar. Tetap bahagia ya ma karena hidup harusnya memang bahagia.

Kawan Kurt Cobain

Senja yang mulai menua di jojoran 3/61
10’3’14

No comments: