July 16, 2022

Renungan #1

Akhir-akhir ini saya sedang menimbang dalam alam pikiran saya tentang apa yang harus kulakukan di sepanjang hidupku. Apa yang seharusnya kutekuni sebagai sebuah profesi yang tentunya akan saya habiskan di sisa hidupku. Saya membayangkan aktivitas di dunia pendidikan dan sedang berusaha untuk menggapainya. namun apakah benar saya menginginkannya dan apakah benar itu adalah sebuah pilihan bijak untuk menjalani hidupku.

Dalam kalkulasi yang kubayangkan, hal tersebut tentunya sesuatu yang baik karena keberpihakan nilai yang menurutku tidak hanya terbatas pada pengejaran gaji namun ada nilai yang ingin saya sampaikan. namun sekali lagi apakah saya telah bersiap untuk itu, mempersiapkan remeh temeh dan meneguhkan niat yang benar untuk menjalaninya, atau jangan sampai itu hanya menjadi jalan lain sebagai sebuah eksistensi untuk kebanggaan diri, bukan sejatinya untuk niat yang ingin hidup yang lebih bernilai.

Permenungan tersebut mengitari pikiranku ketika saya masih terjebak dalam dunia industri. Dunia yang mengharuskanku untuk terus berproduksi secara materi jika ingin dihargai dan atau jika ingin diberikan imbalan setiap bulan, imbalan materi tentunya.

Hati saya mengatakan bahwa hidup tidak harus terlalu keras terhadap diri untuk hal-hal yang indrawi karena ada aspek transenden yang seharusnya lebih bernilai atau ada sesuatu metafisik yang seharusnya lebih bernilai.

Beberapa kali saya menjumpai dan mengobrol dengan hatiku bahwa di sisa hidupku yang entah berapa lama ini, saya harus hidup dalam kondisi seperti apa dan apa yang seharunya saya lakukan, selain tentunya alasan klise berjuang untuk anak isteri.

Jika saya tetap dalam dunia industri yang berproduksi hari demi hari, satu hal yang kudapatkan hanya sebatas imbalan setiap bulan yang juga terkadang tidak terlihat. Sejatinya kekhawatiran terhadap hal duniawi yang membuat saya tidak benar-benar melangkah lebih jauh lagi.

Saya mencoba memantapkan diri bahwa ilmu adalah bagian terpenting dalam hidup dan meskipun sudah begitu terlambat, ilmu akan tetap menjadi prioritasku.

Begitulah ke depannya saya akan menjalani hidupku dalam lingkungan yang haus ilmu dan nilai serta prinsip yang tetap ditempatkan di depan.

16 7 22

July 15, 2022

Ketika Berjalan di depan Kampus

Saya melupakan banyak prinsip yang selama ini kupeluk erat dalam perjalananku. salah satunya adalah "semua akan baik baik saja ketika niat kita baik." Saya tidak mengatahui dengan pasti kenapa semua keyakinan itu sirna dikala saya sebenarnya baik-baik saja. 

Salah satunya karena tawaran kemewahan yang tersaji setiap hari di depanku. Kemewahan yang mewujud dalam berbagai perlombaan untuk memiliki dan untuk dipamerkan karena setiap kali saya merenungkan, sebagaian besar dari apa yang menjadi keinginan pada dasarnya tidak benar-benar saya butuhkan, hanya sekedar untuk bisa menjadi seperti yang lain.

Seringkali saya memperoleh sesuatu yang ternyata tidak bermanfaat dan hanya berakhir pada kepuasan jasmani. Sejatinya, kemewahan tersebut hanya tirai yang memisahkan kita dari diri sejatinya. Tirai yang mungkin saja mudah untuk disingkap dan seringkali menjadi begitu sulit. Kuncinya ada di diri yang harus terus berusaha memantapkan hati bahwa sesuatu yang terlihat dan menawarkan kemewahan seringkali bencana yang menghancurkan nurani melemahkan hati.

Jika hati sudah lemah dan tidak mempunyai sandaran yang sejatinya, maka hidup menjadi gersang dan seperti meneguk air laut yang sama sekali tidak meredakan dahaga setitik pun. Dunia akan terlihat seperti sebuah perlombaan demi perlombaan yang harus dimenangkan namun ketika sudah digenggam, dia menjadi dan mengharuskan kita untuk kembali mengejarnya. Pada akhirnya, kita akan berada di sebuah titik yang mempertemukan kita dengan tanduk kehidupan dan tidak bisa mundur untuk mengulang waktu yang dihabiskan untuk menghamba terhadap kepuasan jasmani.

Lalu seperti apa kemudian yang seharusnya dijalani. Setidaknya luangkan waktu untuk merenungi setiap jejak yang ditapaki, apakah sudah berada di sebuah jalan yang akan membawa kita pada perjalanan yang tidak akan disesali di ujung waktu atau mungkin kita sedang menapaki jalan berbatu yang akan kita tangisi di kemudian hari.

Hati selalu menawarkan ruang dan waktu untuk bercengkerama. tinggal bagaimana kita menyambutnya untuk meluruskan setiap langkah kaki. Jika semua hal yang indrawi menjadi ukuran kesenangan maka semua hanya akan berakhir pada benda yang tak berhati. 

Seminggu ini, saya melewati dua kampus besar di daerah Depok kemudian kampus di ujung perbatasan Jakarta. Saya menikmati pemandangan mahasiswa-mahasiswi dengan berbagai kegiatan menjelang sore hari. Beberapa dari mereka sedang main basket, latihan karate dan olahraga lainnya serta sebagian dari mereka bercengkerama di bangku taman. 

Pemandangan yang melemparkan saya pada situasi yang sama beberapa tahun yang lalu ketika masih kuliah. Saya membayangkan bahwa salah satu momen menyenangkan dalam hidupku adalah masa kuliah yang tidak terperdaya dengan kemewahan duniawi. Saya membayangkan bahwa hidupku sedang berada di fase ketika saya ingin kembali memeluk erat kondisi yang tidak mengharuskan saya untuk terlalu keras pada diri mencari kemewahan.

Kemudian saya membayangkan bahwa saya masih memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan kembali duniaku di dunia yang penuh dengan hal-hal memungkinkan saya menegakkan prinsipku. Menurunkan tensi kehidupan yang digerus dengan industri sampai melupakan hal-hal fundamental yang seharusnya saya sanjung.

Kesempatan itu akan datang dan saya akan menjalani hari-hariku dalam dunia yang saya nikmati, belajar dan terus belajar dalam kehidupan pendidikan dan tidak menghempaskan prinsipku dalam selokan kehidupan yang terlalu pekat.

15 7 22