June 11, 2017

Ramadhan

Belum ada sama sekali jejak tentang ramadhan yang kutinggalkan di lapak ini sedangkan ramadhan sudah memasuki pertengahan. Entah malas atau memang tidak ada yang harus diceritakan.

Masjid dekat rumahku hanya sekali seminggu mengadakan ceramah tarawih. Setiap kali selesai shalat isya, langsung dilanjutkan shalat tarawih. Itulah mengapa tidak ada bahan ceramah yang harus kuulangi. Seingat saya, baru 2 kali ceramah sampai pertengahan ramadhan.

Ketua masjid di dekat rumahku terlalu keras terhadap anak-anak yang datang ke masjid. Seringkali dia mengusir anak-anak yang ribut di lantai dua untuk pulang saja jika tidak mau tenang. 

Saya selalu tidak sepakat dengan para orang tua yang memarahi anak-anak yang ribut di masjid. Bukan juga membenarkan namun setidaknya, modal utama mereka karena sudah rajin ke masjid, tinggal cara memahamkan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak ribut di masjid tanpa harus memarahi mereka di tengah jamaah apatalagi menggunakan pengeras suara.

Kita semua pernah melewati masa kanak-kanak dan seharusnya sudah bisa merasakan euforia ramadhan sebagai seorang bocah sehingga menurutku betapa naifnya para orang tua yang merasa paling benar memarahi bahkan mengusir para bocah yang ribut di masjid.
#catatan Ramadhan

10 6 17

OTS #6

Tidak ada yang terasa spesial menjejak kaki di kota ini. Toh 5 tahun yang lalu, Saya pernah mendiami kota ini selama sebulan. Itulah kenapa, beberapa sudut kota ini kuakrabi.

Jika ada hal yang terasa sentimental di kota ini, mungkin berada di daerah stasiun pemberhentian kereta ekonomi. Bagaimana tidak, daerah itu pertama kali kujejak ketika memutuskan mendatangi kota ini. Lagipula, saat itu, tidak ada tujuan yang jelas harus kemana. Benar-benar membiarkan takdir membawaku kemana saja.

Empat hari berkunjung ke kota ini dan tidak ada yang terlalu berbeda dari lima tahun lalu. Kotanya masih meneduhkan meski sedikit lebih crowded namun bangunannya tidak ada yang menjulang tinggi seperti di ibu kota. Rimbunan pepohonan masih menumbuhi pinggir jalanan.

Sayangnya, beberapa pengembang mulai merambah di daerah pinggiran kota ini dan berpotensi membuat semrawut tatanan kota.

Saya menyempatkan diri mengitari daerah pinggiran kota dan terlihat olehku deretan perumahan cluster yang menduduki bekas persawahan. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah hilangnya persawahan dan diganti perumahan.

Namun setidaknya, empat hari di kota ini sedikitnya membangkitkan awal perjalananku merantau di pulau ini. Serasa mimpi melewati semua dan memasuki tahun kelima berpetualang.

Semoga tetap asri kota gudeg.
10 6 17