December 31, 2019

2020

2019 selangkah lagi akan berlalu kemudian melangkah ke halaman berikutnya, 2020. sebuah perjalanan waktu yang secara positivistik sebenarnya sangat lama namun secara afeksi hanya berlalu dalam sekedip mata. begitulah perkembangan manusia sampai pada ujungnya nanti bahwa kalkulasi angka-angka selalu dinegasikan dengan perasaan yang ada dalam diri manusia, itulah sebabnya hidup ini tidak melulu tentang pengetahuan posivistik bahkan mungkin sesuatu yang tidak bisa dikalkulasi selalu lebih dominan. toh Tuhan juga tidak suka jika kita terlalu kalkulatif dalam hidup karena Dia punya rumus sendiri, kalau tidak percaya, coba pelajari lagi konsep sedekah - lain soal jika kalian tidak mempercayai konsep Ketuhanan berserta sistematika semesta yang berjalan sesuai instruksiNya- yang mana ketika seseorang bersedakah, uangnya berkurang secara matematis namun bertambah secara nilai. entah itu perasaan senang karena sudah membantu orang lain atau bahkan memang jika percaya bahwa sedekah akan membawa berkah misalnya ketika kita membutuhkan sesuatu, maka selalu ada jalan. Tuhan menyiapkan sesuatu yang kita butuhkan.

Saya kadung terbiasa menulis sesuatu di akhir tahun yang saya inginkan terjadi di tahun berikutnya meskipun semua tidak terealisasi. namun paling tidak, dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada perubahan besar dalam setiap tahun minimal satu momen.

Tahun ini, momen yang menurutku lumayan signifikan adalah saya melanjutkan sekolah. sesuatu yang sebenarnya beberapa tahun sudah saya impikan namun baru terwujud tahun ini sedangkan di tahun sebelumnya, saya menempati rumah yang dicicil. selalu ada hal yang membahagiakan setiap tahunnya.

Tidak terlalu banyak harapan yang kuinginkan di tahun depan namun paling tidak beberapa resolusi tahun-tahun sebelumnya bisa terealisasi di tahun depan. kemudian volume bacaan bisa meningkat paling tidak 4 buku sebulan mengingat saya harus memaksa diri untuk membaca, selain memang sebuah kebutuhan, saya juga membutuhkan sebagai referensi di kampus. kemudian saya berharap ada gawean anyar yang bisa terjadi di tahun depan. semua hal-hal baik selalu saya harapkan termasuk kesehatan keluarga.

Tulisan juga harus diperbanyak untuk melatih kemampuan menulis sebelum menghadapi karya tulis akhir. semua harus dibiasakan untuk bisa mencapai hasil yang maksimal.

Amin Ya Allah

Kebagusan, 31-12-19, 21.39 Wib

December 22, 2019

Macea

Rumah,
sanubariku terenyuh setiap kali melintasi semua kenangan.
manusiawi,
mungkin iya.
kepada siapa aku mengharapkan waktu membawa semua serpihan memori yang terserak, tertinggal nun jauh waktu yang lampau dan ruang yang terbentang

Ibu, rinduku padamu. 
klise,
mungkin iya,
tetapi tak ada satupun yang berani menggerus semua rasaku pada dirimu, tak ada bahkan semesta mengamini.

setelah itu, 
aku hanya ingin memelukmu, dalam hening yang dicengkeram malam

Ibu, 
aku hampir kalah,
bertarung tak berujung di kota ini. pertarungan tanpa tujuan yang hanya berakhir pada sisasisa energi yang terkuras.

Ibu,
sanubariku ingin bertanya padamu, 
kemana semua arah ini akan berujung

setelah itu,
aku hanya ingin mengecup keningmu yang mulai mengeriput.

Hari Ibu
22 12 2019

December 19, 2019

Being a Role Model

Dua kali saya memutuskan resign dari sebuah Perusahaan dengan alasan yang hampir saja, ada unsur pekerjaan yang tidak mampu saya kompromikan dengan prinsipku sehingga membulatkan tekadku untuk menyatakan bahwa saya harus meninggalkan pekerjaan tersebut. bagiku, prinsip adalah sebuah hal yang tidak bisa ditawar dengan apapun dan apa saja yang bertentangan dengan prinsip maka yang harus dimenangkan adalah prinsip, jangan pernah menawar akan hal itu.

Now, I'm having that moment like before. my job have any situation that makes me compromise with an ideal things.
Saya tidak pernah membayangkan akan bekerjasama dengan seorang Supervisor yang sudah sangat senior namun dengan karakter seperti staf bahkan lebih dari hal tersebut, dia sepertinya menggunakan wilayahnya menjadi interest personal. sesuatu yang menurutku sangat norak dengan posisi yang seperti itu. 

here is some of what he done when I gone to do a job in  Paid acomodation by his akun online to get some cashback even just 2 hundred thousand.

December 18, 2019

Sadar Diri

Saya menyimpan sebuah file ceramah Cak Nun tentang mengukur makanan yang masuk ke dalam diri. intinya bahwa kita harus selalu memperhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuh karena akan menjadi anasir yang bercampur dengan darah dan menjadi tulang belulang. nasehata Cak Nun tersebut seringkali saya dengarkan di kantor ketika waktu luang.

Di lain hal, saya benar-benar menjadi anomali karena pada banyak waktu, saya sering menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, lebih parahnya dua bulan terakhir. bahan kuliah sering saya download di kantor bahkan waktu kerja seringkali saya gunakan untuk mengerjakan tugas kulah.

Meski bukan sari makanan yang saya masukkan ke dalam tubuh melalui hal yang tidak baik menurut Cak Nun namun menurut perenungan saya bahwa selama ini, saya tidak berhati-hati dalam memilih sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. menggunakan fasilitas kantor untuk mendownload bahan bacaan atau menggunakan jam kerja mengerjakan tugas kuliah merupakan sesuatu yang seharusnya tidak saya lakukan. memperoleh pengetahuan yang terdapat di dalamnya cara yang tidak baik, kemungkinan tidak berkah.

saya harus memulai untuk mengukur kembali diri. sadar akan posisi dan sadar akan ruang dan waktu untuk lebih bijak dalam banyak hal. saya memutuskan untuk menghapus data bahan bacaan yang saya download di kantor dan berusaha untuk tidak menggunakan jam kerja mengerjakan PR kuliah. paling tidak jika waktu istirahat, saya bisa menggunakannya untuk mengerjakan tugas.

Hidup memang tentang perenungan dan kontemplasi yang tak berujung. semua langkah harus diukur dengan kepantasan sesuai dengan nilai yang dianut. saya menganut nilai ajaran agama saya yang mengatur tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. kantor tempat saya bekerja telah mengatur bahwa saya digaji 8 jam mulai dari jam 8 sampai dengan jam 5 dipotong istirahat 1 jam dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sudah diatur dengan jelas. maka dari itu, jika saya ingin melakukan sesuatu yang sifatnya pribadi maka saya punya waktu 1 jam yang diperuntukkan untuk istirahat.

Sebenarnya tidak menjadi menjadi idealis namun fokusnya bahwa saya mempunyai anak isteri yang setiap hari saya doadakan untuk dihidarkan dari sesuatu yang sifatnya haram bahkan yang syubhat sekalipun, nah jika saya sendiri tidak mengukur diri maka bagaimana saya bisa menjadi anak isteri saya.

18 12 19

November 26, 2019

Aspire E1-422

Cara masuk Bios

  1. Tekan Ctrl+Alt+Del. ketika sudah muncul logo Acer, langsung tekan F2 untuk masuk ke Bios
  2. setelah masuk Bios, arahkan ke "main" dan ubah jam dan tanggal menggunakan enter
  3. Setelah itu, arahkan ke "boot" dan ubah Boot Mode dari UEFI ke Legacy dengan cara menekan enter
  4. Tekan F10 untuk save dan Exit

November 24, 2019

OTS #21

Saya sangat bergairah untuk melakukan perjalanan kali ini, hal ini karena daerah yang akan saya tuju merupakan 1 dari sekian daerah di sumatera yang belum pernah saya kunjungi. saya memang menyukai mengunjungi sebuah daerah meski saya menyadari bahwa semua daerah di Indonesia tidak memiliki perbedaan yang signifikan. saya pernah ke ujung timur negeri ini, saya juga sudah sampai di titik 0 paling barat namun semua sama saja, tidak ada perbedaan yang signifikan. 

Perjalanan kali ini hanya ditempuh sekitar 1 jam dengan pesawat. saya memilih bandara Halim karena tidak terlalu jauh dari rumah sehingga tidak membutuhkan waktu lama dari rumah ke Bandara. benar saja, meski pesawat yang saya tumpangi berangkat jam 4 namun saya baru berangkat dari rumah ke bandara pukul 14.20 WIB. saya tiba di Halim tepat pukul 15.00 WIB, sebuah waktu dari rumah ke bandara yang sangat singkat, hampir mustahil melakukan hal yang sama jika saya berangkat dari Cengkareng.

Pesawat delay setengah jam. kami tiba di bandara Fatmawati Soekarno pukul 17.50 WIB. saya langsung memesan taxi bandara sesaat setelah keluar dari kedatangan. harga tiket RP. 80 ribu dari bandara ke hotel Cordela yang berada di tengah kota dengan jarak sekitar 20 km dengan waktu tempu setengah jam. 

Perjalanan ke kota tidak terlalu padat dengan pemandangan yang hampir sama pada semua daerah di sumatera. pemandangan sepanjang jalan dipenuhi dengan perumahan penduduk dan sesekali kita akan mendapati kebun kelapa sawit.

Maghrib telah lewat setelah saya tiba di hotel. perkiraan saya tentang hotel Cordela tidak meleset. hotel yang didesain mini dan nampak seperti ruko kemudian saya dapat info dari teman bahwa memang sebelumnya hotel tersebut adalah ruko yang baru diubah dua bulan lalu.

Kantor saya di kota ini hanya sekitar beberapa meter saja dari hotel sehingga saya tidak perlu terburu-buru tiap pagi apalagi di kota ini, kehidupan seperti melambat. semua orang tidak seperti dikejar anjing tiap berangkat kerja. hidup bagaikan di kampung sendiri.

tidak banyak tempat yang saya kunjungi selama 5 hari di kota ini, hanya pernah mampir di pantai panjang, melihat rumah ibu fatmawati dan masjid besar di kota ini, At Taqwa. selain itu, saya hanya mengunjungi beberapa tempat makan yang menurutku sangat khas sumatera dengan dominasi santan pada setiap makanan.

Jum'at sore, saya sudah harus pulang. dengan begitu, saya sudah mengunjungi sebagian besar kota di Sumatera. melihat sisi kehidupan mereka dan merasakan denyut kehidupan di kota mereka. selain itu, belajar bahwa hidup adalah perjalanan untuk belajar.

24 11 19

October 18, 2019

OTS #20

ini kali kedua saya menginjakkan kaki di kota ini. dua tahun lalu tepatnya bulan Juli, saya sudah pernah ke sini dengan tujuan yang sama, pekerjaan kantor. kota yang mungkin sangat akrab di telinga saya karena ketika pulang ke Madiun, kereta pasti akan berhenti sekitar 30 menit di stasiun kota ini. kota yang sebagian dipengaruhi jawa barat dan sebagian tawa timur pada secara geografis, kota ini berada dalam wilayah jawa barat.

Saya berangkat dari Gambir hari minggu sore, tiba di Cirebon sekitar setengah 9 malam. sesaat setelah turun dari kereta, saya menuju warung makan empal gentong yang berada tepat di depan stasiun. warung ini juga menjadi pelepas lapar dua tahun lalu saat pertama kali ke kota ini.

saya memesan 1 porsi empal gentong dengan segelas lemon tea hangat kemudian dua telor asin. mengenang pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dengan makan di tempat yang sama. setelah melahap makanan yang saya pesan, lemon tea masih tersisa banyak di gelasku. saya menuangkan ke bekas botol dan memasukkan ke tasku.

saya memesan ojek online menuju ke hotel tempatku menginap. hotel Dewanti yang sangat murah menurut perhitunganku dengan harga kurang dari 300 ribu per malam. letak hotelnya sekitar 5 km dari stasiun. ojek online membawaku ke hotel melalui jalan utama. melewati bekas kantor lama.

sesampai di hotel, saya mencium aroma hotel dengan desain kuno. hotel ini sebenarnya baru namun konsepnya lawas. desain kamarnya pun seperti hotel lama.

saya hanya semalam menginap di hotel ini kemudian memilih untuk pindah ke hotel Amaris sebagai pertimbangan karena hotel tersebut dekat dengan kantor yang bisa dicapai hanya dengan jalan kaki sekitar 5 menit.

selama 5 hari di kota ini, saya hanya mengitari jalanan sekitar kantor. tidak banyak sudut kota yang saya eksplorasi karena waktu yang mepet dan saya harus menyelesaikan tugas kantor dalam waktu yang mepet. rutinitasku hanya seputar pagi ke kantor, siang keluar makan kemudian sore pulang ke hotel lalu kemudian malam keluar makan.

Jumat sore jam 6, saya sudah harus pulang ke jakarta.

Oktober 2019

October 12, 2019

Minggu Ke-IV Kuliah di UP

 Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya agak terburu-buru berangkat ke kampus pagi ini. Bagaimana tidak, jam 7 kurang 15 menit yang berarti bahwa saya hanya butuh maksimal 15 menit menempuh perjalanan dari rumah ke kampus dengan jarak sekitar kurang lebih 10 km. Untungnya, sepanjang jalan dari Buncit ke Mampang agak longgar di hari Sabtu.


Saya mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tidak ada hambatan yang berarti sehingga saya tiba di parkiran kampus tepat jam 7 lebih 1 menit. Ini berarti bahwa kemungkinan besar dosen belum masuk kelas. benar saja, ketika saya masuk di ruangan A.207 lantai 2, Bu Direktur sebagai dosen pengampu belum datang, saya hanya menjumpai beberapa teman yang sedang bercengkerama di kelas sambil mengakrabkan diri dengan yang lain. Memang kelas ini sangat unik karena di pertemuan ke-4, kelas ini serasa belum cair bahkan saya sendiri belum mengenal semua teman sekelas bahkan di antara semua teman perempuan, hanya 1 yang saya kenal namanya karena dia ketua kelas, yang lain hanya kenal muka. haha.

Sekitar 15 menit kemudian, dosen Pengampu mata kuliah nongol di kelas dengan menenteng laptop. Sambil tergopoh-gopoh, dia minta maaf karena sedikit terlambat. Dia berdalih bahwa sudah datang sebelum jam 7 namun karena kebiasaan ngopi di pagi hari membuatnya harus menuntaskan rutinitasnya sebelum masuk kelas. Dia lulusan S3 Jerman, sudah 2 pertemuan menggantikan Pak Freddy sebagai dosen di mata kuliah Diplomasi.

Kali ini, dia menjelaskan tentang paradigma Liberalisme dan Konstruktivisme. saya belum pernah membaca tulisan-tulisannya di media namun menurut bisik-bisik dari teman bahwa si dosen sangat Konstruktivis dalam berbagai banyak hal. Entahlah, saya harus membaca tulisannya sebelum memahami bagaimana dia dikenal sebagai seorang Konstruktivis.

Di pertengahan kuliah, saya bertanya sedikit tentang bagaimana posisi kita sebagai individu memandang fenomena melalui kacamata paradigma. Apakah kita hanya sebagai pengamat yang memandang isu dengan kesesuaian paradigma yang ada ataukah kita harus menarik garis untuk berpihak pada salah satu paradigma sebagai tanggung jawab moral untuk memandang fenomana, karena jika kita hanya memandang fenomana sebagai seorang pengamat maka ilmu seakan sangat bebas nilai? 
Dia menjelaskan bahwa paradigma digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi sesuai dengan pandangan paradigma yang ada. Contohnya paradigma Liberalisme sulit menjelaskan peristiwa ketika USA menginvasi Irak karena menurut Liberalisme bahwa negara harus bekerja sama namun kenapa masih ada perang.

Setengah 10, dia menyelesaikan kelas hari ini. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk istirahat yang akan dilanjutkan dengan mata kuliah Metode Penelitian dalam HI yang dipandu oleh mas Ben di ruang A201.

Tepat jam 10, dia sudah masuk di kelas. Kali ini dia tidak terlalu banyak menjelaskan tentang paradigma sebagaimana pertemuan sebelumnya. Dia lebih banyak mengeksplorasi Reading Skill. Dia menjelaskan banyak hal tentang membaca bukan sebagai sebuah kesenangan namun sebagai sebuah passion.

Kelas mas Ben juga bubar lebih cepat dari biasanya sehingga kami punya banyak waktu isitirahat sebelum dilanjutkan dengan mata kuliah Ekonomi Pasar yang dipandu oleh pak T.

Jam 1 siang, kuliah si dosen sudah dimulai. Sebenarnya beliau tidak terlalu membosankan dalam proses belajar namun saya selalu tidak berhasil mengalahkan rasa kantuk yang menyerang di jam tidur siang. Beberapa kali saya menguap untuk tetap menahan mata agar tidak tertidur.

Pak T sering menjelaskan mekanisme ekonomi yang dipengaruhi oleh politik dari hal-hal kecil. Beliau menarik kita ke dalam logika sederhana bagaimana menahan laju kapitalisasi ekonomi yang sangat pesat. Misalnya saran untuk menanam apa saja yang bisa ditanam di dekat rumah, memelihara ayam atau hal sederhana lainnya yang membuat kita berdaulat atas diri sendiri.

Pak T mengakhiri kuliahnya setengah 4 kurang 15 menit, ini berarti pertarungan saya dengan rasa kantuk berakhir.

Universitas Paramadina, 12 Oktober 2019

September 24, 2019

Persoalan Moral di Kantor

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi panjang lebar dengan salah seorang kolega di kantor. permasalahan sederhana sebenarnya dan sudah sering digaungkan namun tidak pernah saya tanggapi. hanya saja momen saat itu tepat dengan keadaan sehingga saya butuh meresponnya dengan berbagai alasan yang menurutku rasional dan saya bisa pertanggungjawabkan berdasarkan regulasi di kantor dan secara moral yang saya yakini.

Jadi awalnya, saya berniat mengajukan surat over time dan pada saat yang sama, rekan saya tersebut bersuara, entah serius atau bercanda, bahwa dia tidak masalah siapapun yang lembur sepanjang bisa dipertanggungjawabkan di hari kemudian. track recordnya, dia memang menjadi rekan yang paling menentang over time entah dengan alasan apa.

Saya yang sedang dalam mood yang ingin berdiskusi langsung menyambar perkataannya. saya mengeluarkan semua isi kepala yang selama ini saya yakini. dengan detail saya katakan padanya tentang sikap saya terkait over time:
  1. Saya tidak ada urusan dan tidak akan campur tangan siapa pun yang ingin mengajukan over time sepanjang dia mengikuti alur regulasi yang berlaku di Perusahaan ini. misalnya surat pengajuan Over time ditandatangani oleh Kepala Bagian maka hal tersebut sudah tidak ada masalah.
  2. Terkait asumsinya yang yang menjurus ke arah moralitas bahwa terkadang di jam kerja tidak dimanfaatkan oleh si karyawan namun di luar jam kantor mengajukan over time. menurut saya bahwa hal tersebut tidak relevan diurusi oleh sesama staf karena fungsi kontrol ada di Kepala bagian.
  3. Terkaik klaimnya bahwa dia khawatir jika di akherat dihisab atas over time yang tidak pantas. saya menimpali bahwa wilayah moralitas sama sekali bukan wilayah kontrol sesama staf. semua karyawan sudah punya pengendalian dirinya terkait wilayah moral apa yang pantas atau tidak pantas.
  4. Jika ingin melakukan masuk pada wilayah moral maka seharusnya dibuat regulasi yang bisa diukur, sehingga jatuhnya tidak subjektif, misalnya dia merasa bahwa ada staf yang pada jam kerja mengerjakan kepentingan pribadi namun di jam kantor mengajukan over time maka seharusnya jika ingin mengukur hal tersebut, ada regulasi bahwa staf harus melaporkan apa yang dikerjakan pada jam kerja.
Main Game

Tidak, saya tidak sedang mengerdilkan seseorang yang ingin menjadikan wilayah moral sebagai alat kontrol di kantor namun menurut saya bahwa lebih bijak jika pegangan kita dalam melakukan kontrol adalah regulasi yang bisa ditakar dan bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis. di regulasi dijelaskan apa yang harus dikerjakan dan sanksi apa yang diberikan jika tidak dikerjakan bukan memvonis niat seseorang dengan nilai yang sangat subjektif.

Persoalan moralitas seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing dan dijadikan kontrol bagi di sendiri.

Dunia pekerjaan adalah dunia tempat manusia yang sudah mempunyai kehendak bebas dan tidak sudi diperlakukan seperti manusia yang baru belajar nilai. saya yakin bahwa setiap orang di dunia kerja membawa nilai diri masing-masing dan tidak perlu dipersinggungkan dengan nilai orang lain.

Self reminder agar lebih bijak dalam menegur seseorang.
24 September 2019

September 7, 2019

Menua

Tidak ada omong kosong kali ini. semua sudah menghilang oleh harapan-harapan yang tidak terwujud karena ulah sendiri. masih banyak harapan sebelumnya yang harus diwujudkan tanpa harus menata harapan yang baru. saya khawatir membuat harapan baru kemudian mengingkarinya lagi seperti sebelumnya. lebih baik saya berdoa atas apa-apa yang terbaik yang sedang saya jalani sekarang. 

Umur yang sudah semakin menua namun kualitas diri tak kunjung berkembang. masih berkutat pada hal bendawi yang sesungguhnya bukan tujuan akhir namun melawan nafsu sungguh berliku, kadang memenangkan perlawanan nafsu namun seringkali tunduk akan iming-iming nafsu duniawi yang melenakan. meski sesungguhnya sudah paham bahwa khayalan akan duniawi layaknya fatamorgana yang ketika didatangi sesungguhnya tidak ada. jadi seperti apa sesungguhnya yang harus dijalani? 

Saya akan berusaha menjalani sesederhana apa yang ada di depanku. kuliah lagi yang akan dimulai minggu depan dan tetap berharap semoga berjalan lancar dan baik. meski secara spesifik, subjek yang saya pilih bukan merupakan ilmu agama namun saya tetap percaya bahwa semua ilmu itu akan bermuara pada satu, "Tiada Tuhan Selain Allah."  

Pekerjaan yang sedang saya jalani akan saya tekuni dengan sebaik-baiknya. jika memang pada akhirnya pekerjaan ini masih mengandung sesuatu yang syubhat atau bahkan haram dari sisi mana pun maka saya sangat berharap Allah swt akan menuntun saya pada satu titik di mana saya bekerja untuk sesuatu yang halal menurutNya. toh terlalu lelah untuk mengejar sesuatu yang bukan karena Dia.

Seringkali kita membaca atau mendengar kisah seorang yang sebelumnya ateis, agnostik atau siapa pun yang menafikan adanya Tuhan namun kemudian pada akhirnya menemukan Hidayah dari Allah swt. saya yakin bahwa mereka itu tetap belajar dengan tujuan ingin tahu kebenaran. sebaliknya, mungkin kita pernah mendengar maupun membaca kisah seorang yang sudah menghabiskan sebagian hidupnya untuk belajar ilmu agama namun pada akhirnya jauh dari Allah. perkiraan saya, selama proses belajar, mereka tidak sedang mencari kebenaran hakiki, entah mungkin tujuannya bukan Allah. 

Hidup yang semakin menua dan di umur yang seharusnya sudah matang dalam banyak hal, saya berharap Allah memberikan saya kekuatan hati untuk konsisten dalam kebaikan-kebaikan kecil bertujuan mencari ridhaNya. 

Sekali lagi, saya tidak berharap banyak untuk hal-hal apa pun selain harapan semoga Allah menemani saya dalam setiap menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah, selain itu, hanya harapan kesehatan lahir dan batin untuk anak isteri dan orang tua dan mertua.

7 sep 2019

July 20, 2019

Tentang Batasan

Saya mulai membiasakan diri untuk selalu berada di dalam garis, dalam bidang apapun itu namun saya selalu menarik garis sebagai batasan untuk setiap apa yang boleh atau tidak bileh saya lakukan bahkan untuk hal-hal yang remeh sekalipun. misalnya dalam hal makan. sejak dua bulan belakang, saya membatasi diri untuk menyantap makanan yang mungkin sebelumnya menjadi kegemaranku bahkan saya selalu berusaha menakar perut saya untuk urusan makanan. isteri saya terkadang mengingatkan untuk makan namun selalu saya timpali bahwa ukuran makan ada di perutku dan batasannya pun sudah saya gariskan. ini bukan perkara diet sekedar untuk menurunkan berat badan namun lebih dari hal itu bahwa batasan itu saya coba diterapkan dari hadist:.

"Cukuplah bagi bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya"

Bukan sebuah kebanggaan namun di beberapa doa yang kulafalkan, saya sering menyelipkan permintaan agar Allah swt menjaga saya, anak isteri dan keluarga lainnya dari makanan yang subhat dan haram. agak klise karena sering memang karena sudah sangat sering kita mendengar ceramah tentang makanan yang haram akan merusak sendi kehidupan namun saya sangat percaya akan hal tersebut. makanan adalah salah sebagian faktor dan pertumbuhan fisik dan batiniah manusia sehingga makanan menjadi elemen penting untuk diperhatikan.

Pekerjaan sebagai karyawan swasta membuat saya harus ekstra hati-hati untuk memilah mana menjadi hak saya dan yang bukan hak apatahlagi saya sebagai Auditor yang saban bulan harus melakukan perjalanan dinas dengan sistem reimbursment. sebelum berangkat, saya dibekali uang kas sebagai bon yang dipergunakan selama perjalanan sampai selesai tugas dengan batasan yang sudah diatur di regulasi. 

Beberapa hal yang mungkin sebisa mungkin saya hindari dari penggunaan bon tersebut misalnya belanja makanan ringan termasuk kopi kemasan dalam jumlah banyak dengan niat setelah selesai audit, kopi atau jajanan lain masih tersisa dan dibawa pulang. menyelipkan biaya yang seharusnya tidak diperbolehkan seperti laundering. membeli oleh-oleh menggunakan bon. uang dinas yang dilebihkan dari yang seharusnya dan sederet hal remeh teme yang sering luput dari pengamatan.

Selain yang tersebut di atas, saya juga menakar diri tentang uang over time. sejatinya saya bisa dengan leluasa menambah penghasilan dari over time namun kesadaran diri terkadang membuat saya harus menakar kembali bahwa sejauh mana tanggung jawab moral terhadap isteri dan anak yang harus saya nafkahi. apakah memang benar bahwa over time adalah sebuah kebutuhan atau sudah menjadi kebutuhan demi tambahan penghasilan. kembali lagi bahwa seharusnya saya bisa merevisi apa yang saya lakukan di kantor sebagai sebuah karya. jika tujuannya adalah karya maka akan saya jalani namun jika tujuan utama adalah uang maka saya harus berani untuk bersikap, siapapun yang akan menjadi benturan saya.

Saat ini yang menjadi soal bagaimana mengekspresikan itu semua untuk menghindari stigma dari teman sejawat bahkan dari Supervisor sendiri yang nampaknya terkadang mengamini hal seperti itu dengan pengalaman yang sudah saya alami. celakanya, saya menjadi korban cerita dari ketidakhati-hatian tersebut sehingga mengganggu komitmen saya untuk menjaga integritas. hal yang saya agung-agungkan dalam memulai pekerjaan sebagai karyawan.

semoga diberikan jalan terbaik menurut Sang Pemberi Solusi.

20 Juli 2019. 09.56 WIB

July 14, 2019

Zalim

Tadi siang saya ke Transmart bersama Isteri dan Anak. saya memarkir motor di tempat parkiran samping yang sudah dipenuhi dengan pengunjung. saya mencari space yang cukup untuk memarkir motor. setelah beberapa saat mencari parkiran yang kosong, saya melihat tempat kosong yang sedikit sempit karena di samping kiri dan kanan sudah ada motor terparkir. saya memaksa memarkir motor di tempat tersebut. sialnya, motor beat samping kiri terlalu mepet sehingga roda depan motor saya tersangkut di motor beat tersebut. saya melihat bagian bawah knalpot motor tersebut pecah sekitar 5 cm. 

Saya merasa bersalah namun tidak tahu harus berbuat apa. saya memungut pecahan bagian plastik knalpot dan memasangnya. ada rasa bersalah yang terus menggelayut manja di sanubari karena telah berbuat zalim kepada orang yang tidak menyadarinya. saya terus berpikir apa yang kemudian akan terjadi kepadaku atau apa yang harus kulakukan untuk menyesali kesalahan yang tidak disengaja namun berhubungan dengan orang lain.

setengah 3, kami kemudian pulang ke rumah. tidak berselang lama, anak saya agak demam, entah karena terlalu banyak minum air dingin dan cuaca memang sedang panas-panasnya namun dalam hatiku berpikir bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian sebelumnya di parkiran Transmart. saya memang selalu berpikir bahwa setiap kali saya berdosa baik yang saya sengaja maupun tidak, maka akan ada hal kurang baik terjadi padaku. banyak sekali kejadian seperti itu namun kenapa kali ini kesalahanku tertimpa pada anakku, semoga bukan.

Anakku masih demam dan baru saja minum obat, semoga saja dia cepat pulih dan kembali bermain. saya selalu kalut jika anak saya sedang tidak baik-baik saja.

14 Juli 2019

#OTS 19

Perjalanan padat sejak saya di Divisi ini. hanya seminggu berselang sejak pulang dari Lombok, saya harus kembali mengadakan perjalanan ke ujung utara pulau Sumatera. konsekuensi sebagai pekerja mengharuskan saya harus siap selalu meski dalam keadaan bagaimana pun. agak berat meninggalkan anak saya yang berumur 3 tahun karena sedang lucu-lucunya namun menurutku, ada kebahagiaan tersendiri menjelajahi kota-kota di nusantara, mengamati banyak hal dan belajar kearifan dari apa saja yang dijumpai. 

Jika biasanya saya berangkat di senin pagi, namun kali ini saya mengambil penerbangan minggu malam dengan pertimbangan bahwa perjalanan kali ini memakan cukup banyak waktu dan tenaga ekstra. saya berangkat pukul 20.00 WIB dengan masakapai Batik Air. dua jam perjalanan saya tempuh melalui udara kemudian tiba di Kualanamu pukul 22.00 WIB. saya menimbang-nimbang bahwa mode transportasi apa yang harus saya gunakan untuk sampai ke pusat kota mengingat jarak dari Bandara ke kota lumayan jauh, sekitar satu jam perjalanan apalagi ini pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini. 

Setelah beberapa saat, saya memutuskan untuk memesan taxi online. tidak butuh lama taxi yang saya pesan sudah tiba di kedatangan. saya duduk di belakang sambil bersandar kemudian menghela nafas. membayangkan bahwa akhirnya saya tiba di kota ini yang merupakan kota terbesar di Sumatera. sekitar setengah dua belas malam, saya tiba di Hotel Cordela. sebelum berangkat, saya memang sudah booking kamar di hotel ini karena tiba di kota yang belum pernah dikunjungi di malam hari akan membutuhkan energi jika harus mencari hotel. 

Hotel Cordela tidak sesuai dengan ekspektasi saya. meskipun pada dasarnya bahwa saya sejatinya bisa dimana saja menginap apatahlagi jika hanya sekedar hotel namun mengingat perjalanan ini bukan untuk liburan tetapi pekerjaan sehingga saya membutuhkan setidaknya penginapan yang nyaman untuk menyelesaikan pekerjaan. 

Saya putuskan untuk pindah hotel di Grand Sakura. jarak dari Hotel Cordela ke Grand Sakura hanya sekitar 30 meter. hotel Grand Sakura menurut saya murah dengan haraga sekitar 400an, kita sudah bisa menginap di hotel dengan kamar yang luas dan nyaman dengan sarapan yang bervariasi. 

Tidak banyak yang saya kunjungi di kota ini. saya hanya berangkat ke kantor kemudian pulang ke hotel di sore hari. energi saya hanya digunakan di kantor untuk sebuah pekerjaan. di malam ketiga, saya menyempatkan makan durian di salah satu kedai durian paling terkenal di kota ini atau bahkan di seluruh Nusantara. rasa duriannya tidak terlalu istimewa meski juga harganya tidak terlalu mahal namun pengunjung yang datang sangat ramai. konon katanya, omzet per hari 700 durian habis terjual, fantastis. 

Hal lain yang saya amati di kota ini adalah perilaku pengguna jalan. saya tidak menyangka betapa bar-barnya orang di sini saat berkendara di jalan raya. lampu lalu lintas tidak pernah dipedulikan bahkan pejalann kaki pun seakan tidak mempunyai hak di jalan kota ini. semua seperti terburu-buru dan tidak mematuhi aturan. 

Sebelum menginjakkan kaki di kota ini, saya mengira bahwa mayoritas orang di negeri ini adalah Nasarani, ternyata dugaan saya keliru. bahkan ras yang ada di kota ini didominasi Melayu, Jawa, India, dan Cina.

12 Juli 2019

June 30, 2019

#OTS 18

Setahun yang lalu, bencana gempa bumi melanda sebagian besar wilayah Lombok. gempa yang meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi warga yang terkena dampak bencana. lebih dari tiga bulan, warga tinggal di tenda selain karena trauma juga karena tempat berteduh sudah tidak layak dihuni. bantuan dari Pemerintah tidak tersebar dengan baik, namun banyaknya lembaga sosial yang datang sedikit meringankan beban mereka. bencana memang selalu meninggalkan pedih yang akan tinggal di relung para korban namun yang lebih menyedihkan karena, beberapa diantara anggota Dewan di daerah tersebut ditangkap karena menggelapkan bantuan untuk para korban. ironi yang menyobek kemanusiaan. entahlah, mungkin nurani mereka dicampakkan oleh bencana dan hanya nafsu mereka yang tertinggal bersama raga yang sudah tidak berbentuk manusia secara hakiki. 

Setahun berlalu, saya memiliki kesempatan mengunjungi daerah tersebut. meski dalam rangka dinas kantor namun setidaknya, saya bisa menyaksikan secara kasat mata sisa-sisa dari pedihnya akibat dari sebuah bencana. tanggal 

24 Juni, saya berangkat dari Bandara Soetta ke Bandara Praya. durasi penerbangan hampir sama lamanya ketika saya pulang kampung, kurang lebih dua jam. sekitar jam 11 siang, Pesawat yang saya tumpangi landing di Lombok. Bandara baru yang jauh dari kota dan sedang dalam pembangunan. terhampar tanah kosong di sekitar Bandara yang sedang dalam masa pembangunan. nampaknya Bandara ini akan menjadi salah satu bandara yang luas di kawasan Indonesia timur. tidak mengherankan karena wilayah ini sedang giat-giatnya mempromosikan banyak sekali spot wisata alam, apalagi sirkuit GP sedang dalam proses pembangunan di dekat wilayah pantai Kuta Mandalika. tidak terkira ramainya kota ini jika sirkuit GP sudah difungsikan. 

Bandara menuju kota memakan waktu sekitar sejam dengan jarak tempuh yang cukup jauh. di sepanjang perjalanan, pemukiman warga tidak terlalu padat. sangat mudah menjumpai kelapa di setiap daerah. 

Sesampai di kota, saya memperhatikan suasana kota ini semacam kota-kota kecil di pulau Jawa. tidak terlalu padat selain pada jam berangkat dan pulang kantor. cuaca di kota ini sedang bersahabat. meski Matahari bersinar terik namun udara yang berhembus mendinginkan tubuh dan menyejukkan perasaan. 

Kami mampir di sebuah tempat makan yang bernuansa alam. rumah makan persis di samping hamparan sawah dan tempat makan yang didesain dengan model saung. angin sepoi-sepoi membuat para pengunjung semakin lahap menyantap makan yang disiapkan. Ayam taliwang adalah makanan khas di kota ini. setiap orang merekomendasikan makanan khas tersebut meski saya sendiri tidak terlalu excited. maklumlah saya bukan orang yang mengagungkan makanan sebagai sebuah prestise. saya lebih menghargai makanan dari proses awal sampai makanan tersaji di depan kita. semua makanan menurutku sama saja dan banyak keringat bercucuran yang berkontribusi atas makanan yang kita santap.


Kami melanjutkan perjalanan ke hotel Santika. sepanjang perjalanan, bekas gempa tahun lalu tidak terlalu terlihat karena memang pusat kota tidak terlalu terkena dampak bencana. Hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari kantor, mungkin hanya sekitar lima ratus meter. 

Hari pertama di Kantor, kami dikagetkan dengan momen ketika suara orang berteriak ada gempa. sontak saja kami berhamburan keluar dari kantor. saya yang sedang berada di lantai dua segera turun tanpa mempedulikan lagi barang-barang. setelah sekian detik di luar kantor, kami baru menyadari bahwa getaran tadi bukan gempa.


Seperti layaknya ketika saya dinas Kantor, saya tidak bisa mengeksplorasi sebuah daerah sebelum closing. saya hanya mengunjungi tempat makan khas ketika istirahat siang. seperti itu pula yang saya lakukan ketika di wilayah ini.

Hari Jum'at, semua tugas saya sudah selesai. saya memutuskan untuk berangkat ke sebuah pulau yang sangat populer di wilayah ini. pulau yang mayoritas dikunjungi oleh turis asing bahkan ada idiom yang menyatakan bahwa orang Indonesia akan menjadi asing ketika mengunjungi pulau tersebut.

sekitar 45 menit perjalanan menuju pelabuhan Bangsal. nah perjalanan dari kota ke Pelabuhan ini membuat saya bisa merasakan betapa mengerikannya gempa yang menimpa daerah ini tahun lalu. sepanjang daerah yang dilalui adalah daerah terparah yang terkena Gempa bahkan sampai saat ini, masih banyak tersisa puing-puing bangunan yang belum dibersihkan. sopir yang menemani kami bercerita banyak tentang gempa tahun lalu sampai pada kesimpulan bahwa masih banyak korban yang terlantar. menurutnya Pemerintah lamban dalam penanganan bencana dan diperparah lagi dengan banyaknya oknum pemerintah yang mengeruk keuntungan dari bantuan bencana. 

Sesampai di pulau, saya mengamini bahwa orang Indonesia menjadi asing di tanah sendiri. wilayah di sekitaran pantai dipenuhi oleh mayoritas turis asing. berbusana layaknya di negara mereka. saya hanya sebentar di pulau ini sebelum kembali menyeberang ke kota karena esok hari saya harus pulang. saya sempat shalat Jum'at ini pulau tersebut dengan fenomena yang unik. jadi setelah bubaran Jum'at saya langsung berada di tepian pantai dengan pemandangan turis yang hanya mengenakan bikini sambil berjemur di pantai. mungkin begitulah hidup, selalu menawarkan dua hal yang paradoks dan pilihan ada di tangan kita, mau memilih yang mana.

24-28 juni 19

June 5, 2019

Happy Eid Mubarak 1440 H

Waktu meluncur begitu cepat bagai roket yang lepas landas. seperti baru kemarin Ramadan menyapa namun hari ini, gema takbir sudah berkumandang yang menandakan bahwa sudah sebulan puasa dilewati. perasaan menyeruak dari dalam diri tentang kenangan masa kecil, tentang rutinitas tahunan yang selalu dilewati dengan perasaan yang sama. 

Di umur yang sudah tidak muda ini, saya seharusnya mampu menakar diri tentang Ramadan yang kulalui. sejauh mana saya bisa memaksimalkan bulan suci ini sebagai momen perbaikan diri bukan lantas menjadikan bulan ini sebagai euforia pupang kampung semata yang hanya berakhir pada perasaan senang yang semu karena kembali menyusuri kenangan masa lalu. seharusnya saya mempertebal mental dalam bulan ini untuk persiapan menghadapi sebelas bulan yang akan datang. 

Ramadan kali ini menurutku tidak cukup berhasil menggembleng mentalku untuk menjadi lebih baik. saya hanya mampu bertahan di setengah bulan dengan rutinitas yang cukup baik namun rusak di pertengahan setelah itu. 

Saya berniat mentadabburi Al Quran namun gagal hanya sampai pada 10 lembar pertama. saya meneguhkan hati untuk bangun di sepertiga malam namun lagi lagi gagal meskipun sudah dibantu dengan alarm ynag kemudian saya matikan dan melanjutkan tidur. saya berniat itiqaf di malam ganjil sepuluh hari terakhir tapi gagal juga. hanya satu malam yang berhasil itupun tidak maksimal karena saya melewati malam di masjid dengan tidur sambil duduk. saya ingin memaksimalkan bersedeqah namun niat itu juga gagal. jika tahun lalu saya masih sempat membeli sesuatu untuk keluarga namun tahun ini minim dan masih banyak lagi kegagalan perbaikan diri di Ramadan kali ini. 

Saat duduk di masjid sambil mendengarkan takbir, saya menyesali banyak hal dan bertanya, akankah saya menjumpai Ramadan tahun depan dan kembali merencanakan niat perbaikan diri. semoga...

Happy Eid Mubarak 1440 H

1 syawal 1440 H

May 30, 2019

Teman

Di masjid Al Markaz, sayup-sayup terdengar lantunan jamaah sedang tadarrus sehabis salat asar. saya duduk di emperan masjid lantai bawah menikmati nuansa sore seperti 10 tahun yang lalu. biasanya di kamis sore setelah salat asar, ada diskusi berbahasa inggris namun kamis sore ini, hanya terlihat 2 anggota makes yang sedang asik berdiskusi, saya tidak ikut nimbrung karena tidak mengenal mereka. 

Sengaja saya ke sini hanya sekedar kembali merasakan masa yang pernah kulalui di kota ini dan berharap ada teman lama yang datang namun sampai detik ini, tak satu pun yang nongol bahkan satu diantara mereka kukirimi pesan via wa namun jawabannya sangat formal padahal menurutku saya dan dia cukup akrab. 

Pertemanan, mungkin kata yang klise menggambarkan hubungan antara manusia yang cukup akrab, lebih dari sekedar hanya saling mengenal namun menurutku, relasi pertemanan sedikit terkikis ketika masing-masing sudah memiliki keluarga.  

Ya, setidaknya saya harus mengerti bahwa pada akhirnya semua dari kita akan berubah prioritasnya. waktu tak mempunyai hati untuk membawa kembali ke masa silam yang selalu dikenang dengan cerita indah.

30 5 19

May 5, 2019

Ramadan 1440 H

Waktu bergulir begitu cepat tanpa bisa dihentikan sedikit pun, sebuah keniscayaan. jika kita tidak awas atas setiap detik waktu yang dijalani maka kita akan dihempaskan oleh zaman ke jurang kesia-siaan. harus ada pola terukur untuk mengendalikan waktu yang tak pernah berhenti berputar. 

Waktu jua lah yang kemudian menggiring kembali Ramadan tahun ini menghampiri kita semua. seakan Ramadan tahun kemarin baru usai kemarin namun tak disangka, sudah setahun kita mengitari perjalanan waktu. Ramadan datang tiap tahunnya untuk memberikan kita begitu banyak kesempatan memperbaiki diri termasuk juga merenungi perjalanan hidup yang setiap hari dijalani tanpa ada visi yang jelas tentang apa sebenarnya hakekat hidup yang harus dijalani. 

Ramadan hanya seakan penanda bahwa kita sebagai perantau mengingat bahwa sebentar lagi perayaan mudik akan tiba dan semua perantau pulang kampung dengan segala gaya yang dipertontonkan. 

Ramadan kali ini seharusnya bukan menjadi penanda bahwa sebulan lagi saya akan mudik namun seharusnya momen Ramadan ini momentum untuk mengais kembali ingatanku tentang tujuan hidup yang kurangkai beberapa tahun yang lalu. visi yang mengendap dalam raga karena tertimbun keinginan-keinginan duniawi semu yang tak berbatas. saya harus menemukan kembali visi itu. 

Oh ya, Ramadan kali ini juga sebagai Ramadan perdana kami melewatinya di rumah yang beberapa waktu lalu kami beli. semua bisa membawa berkah meski sebenarnya masih menyisakan banyak utang atas kenekatan membeli rumah kecil di pinggir ibu kota. 

Semoga Ramadan kali ini berkah buat kita semua, sehat wal afiat menjalani ibadah puasa dan amalan sunah lainnya di dalam momen Ramadan.

Marhaban Ya Ramadan
Kebagusan, 1 Ramadan 1440 22.08 wib

April 20, 2019

Bandara Hananjoeddin

Keberangkatan pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta masih sejam lagi namun saya sudah tiba di bandara bersama rombongan. perjalanan 3 hari di kota kecil yang terkenal karena film Laskar pelangi, benar-benar membuat tubuhku remuk.
Setelah chek in, saya mencari toilet untuk buat hajat yang sudah saya tahan di atas mobil. selesai urusan hajat, saya menuju ruang tunggu dan memilih kursi di sudut yang masih kosong. ada seorang ibu di samping kiri dan temanku di sebelah kanan. kali ini saya tidak terlalu memperhatikan ekspresi penumpang karena penat. saya hanya ingin menenangkan pikiran dan sejenak meredakan lelah tubuh yang mendera.

Penumpang lumayan padat di ruang tunggu meski pesawat yang akan berangkat hanya tiga flight namun tidak heran karena ruang tunggu bandara ini sempit untuk ukuran bandara yang sering saya kunjungi. Sebentar lagi pesawat akan terbang. 

saya harus bergegas.

20 4 19 15.15 wib

April 18, 2019

Bandara Soetta

Menunggu flight yang masih dua jam lagi. duduk di ruang tunggu terminal dua bersama tujuh teman kantor. beberapa TNI dan Polisi hilir mudik menjaga keamanan pasca pemilu kemarin. 

Ruang tunggu lumayan ramai. banyak dari mereka yang duduk bersama namun masing-masing larut dalam layar ponsel, tidak ada pembicaraan diantara mereka meski sangat dekat, termasuk saya. 

Seorang anak mungkin berumur 10 tahun sedang bermain robot, sedangkan bapaknya menunggu di belakangnya. mungkin mereka sebentar lagi akan berangkat. 

Ada keriuhan, ada pelukan dan segala ekspresi dari manusia di bandara yang akan melepas keluarga mereka bepergian atau mungkin juga baru bertemu dengan keluarga mereka yang lama tak bersua. satu ekspresi yang mengartikan dua kondisi.

Di gate F4, agak susah mencari tempat duduk. sangat ramai. sepasang suami isteri yang saya taksir orang arab duduk di depan saya bersama dua puteranya. saya menyukai pemandangan seperti itu, melihat keluarga dengan style kekeluargaannya. ada juga beberapa turis mancanegara, mungkin mereka juga akan berlibur ke Belitung. saya yang tak kuat menahan ngantuk, berusaha memejamkan mata sekian detik namun tak berhasil karena posisi yang nyaman. panggilan untuk boarding belum juga terdengar sedangkan para penumpang diam tak bersuara ditelan layar handphone.

Saya seringkali bepergian dengan pesawat namun lupa mengeja momen seperti ini. terlalu sibuk atau mungkin kepekaan saya sudah tergerus oleh pikiran yang materialis. 

Saya hanya bepergian dua hari ke belitung. sekedar melepas penat yang semu. lusa saya akan pulang ke rumah, membawa pesanan anak saya yang sudah ditunggu, memang setiap kali saya pergi, hal yang paling saya nikmati adalah momen pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh buat anak saya. saya menikmati ekspresinya ketika menerima buah tangan.

18 April 19. 14.00 Wib

April 17, 2019

Tujuh Belas April

Saat orang-orang bergerombolan ke TPS menyalurkan hak mereka memlih calon presiden, saya memilih menghabiskan waktu di kamar sambil menikmati film dokumenter "Sexy Killers." film yang diinisiasi oleh Dendy dwi laksono  dkk mengenai kondisi miris bumi nusantara yang dieksploitasi secara massif oleh kapital birokrat negeri ini. 

Saya memang memutuskan untuk kembali tidak memilih siapa-siapa di pilpres kali ini. harapan saya akan negeri ini membaik tidak tampak pada kedua calon, atau mungkin juga ekspektasi saya yang terlalu tinggi. saya harus akui bahwa lima tahun lalu, saya menaruh harapan besar kepada petahana namun seiring berjalannya waktu, banyak hal yang ternyata tidak terwujud meski saya tidak memungkiri bahwa ada perubahan lima tahun terakhir.

Istri dan mertua saya berangkat ke TPS dan saya di rumah menjaga anak. isteri sudah berkali-kali membujuk untuk ikut dengan alasan tidak enak hati jika ditanya ibu RT. dugaannya tidak meleset, dia ditanya kenapa saya tidak ikut. untungnya dia menjawab diplomatis, saya di rumah menjaga anak. 

Saya sama sekali tidak membanggakan diri karena tidak mencoblos bahkan ada sedikit rasa bersalah saat isteri saya dan mertua saya berangkat tanpa saya temani, atau juga saat mengingat Cak Nun yang mengatakan bahwa beliau setiap pemilu tetap ke TPS karena menghargai mereka yang sudah bekerja keras, atau nasehat dari uztad yang selalu menjadi referensiku yang kutanya kemarin terkait suatu hal tentang pemilih. bahkan saya malu melihat banyak dari mereka yang tetap datang ke TPS dengan berbagai keterbatasan, saya benar-benar malu atas beberapa hal tersebut, namun kenapa saya tetap bersikeras untuk tidak mendatangi TPS hari ini?

Saya tidak tertarik mencoblos bukan berarti saya apatis namun landasan sikap saya adalah melihat realitas sosial yang ada. pilpres benar-benar sudah membunuh akal waras sebagian dari kita yang terlalu fanatik. semua sampah pikiran dihamburkan di mana-mana atas dasar membela junjungan yang sesungguhnya tidak benar adanya. kebangsaan kita terkoyak hanya karena pertaruhan elit politik yang menjadikan kita jualan mereka, lalu dimana kita meletakkan rasionalitas.

Dalam berbagai kesempatan sejak momen kampanye, saya sudah muak dengan model kampanye yang hanya menyerang rival tanpa mengedukasi voters terkait visi misi calon yang diusung, lalu apa alasan saya memilih jika kenyataannya tidak ada harapan yang diberikan? bahkan sesungguhnya jika mereka memberikan harapan pun seringkali diingkari apatahlagi mereka tidak memberikan harapan. hanya ketakutan yang ditebar di setiap kampanye. jangan memilih si A karena jika menang komunis akan bangkit. jangan memilih si B karena jika menang, khilafah berkibar. kampanye model apa ini, memuakkan...!!!!

Berangkat dari kekecewaan proses demokrasi yang tidak pernah dewasa membuat saya memilih untuk menempuh jalan sendiri, tidur di hari pemilihan.!!!

Saya memimpikan negeri ini berdemokrasi dengan sehat. proses yang tercipta mendidik rakyatnya menjadi pemilih yang cerdas. menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan rasional bukan karena ketakutan-ketakutan yang diciptakan oleh elit politik. jika iklim seperti itu sudah tercipta maka saya akan dengan senang hati memilih siapa yang menurutku mampu membawa negara ini menjadi negara yang diimpikan.

Saat tulisan ini saya posting, quick count sementara adalah petahana unggul dengan selisih suara sekitar 8-9% dari beberapa lembaga survey. semoga saja tidak terjadi sengketa atas hasil pilpres ini dan sebagai pemilih yang tidak ikut mencoblos, harapan saya hanyalah sebatas pada keamanan negeri ini dan semoga rakyat kecil tidak menjadi lebih susah dalam segala aspek dari hari ini. semoga, semoga dan semoga...!!!

semoga saya diampuni karena tidak memilih yang berarti tidak menghargai keringat mereka yang sudah bersusah payah menyiapkan proses pemilihan bahkan jauh hari sebelum hari ini. semoga kerja mereka dihitung sebagai amal ibadah.

Aaamiiin!!!

17 April 2019 23.18 wib

Gus Mus dan Perilaku Memaafkan

Beberapa waktu lalu saat video Gus Mus yang diedit. Beliau dan puterinya harus melakukan klarifikasi di beberapa akun sosial media. Gus Mus yang dicintai banyak umat jelas mendapat simpati atas hoaks dirinya yang seakan menyelisih KH. Ma'ruf Amin.

Entah karena mendapat tekanan yang massif atau merasa bersalah atas perbuatannya memproduksi dan menyebarkan hoaks, pelaku yang merupakan remaja berasal dari Batam, sowan ke Gus Mus di Rembang. dalam video tersebut, Gus Mus memberikan nasehat kepada si pelaku dengan sangat santun meski di beberapa momen, Beliau seakan menahan amarah, meski saya yakin bahwa amarah bukan karena dirinya namun mungkin lebih pada rasa iba kepada pelaku yang masih remaja dengan masa depan yang masih panjang.

Kejadian yang menimpa Gus Mus bukan pertama kali, suatu waktu saat momen kasus Ahok mencuat, Gus Mus juga mendapat perlakuan yang sangat tidak elok dari netijen twitter. saya tidak ingat persis apa twit beliau tapi kalau tidak salah tentang shalat jumat di jalanan yang kemudian dibalas oleh netijen yang salah satu kata ditulis "nd*smu." kalimat umpatan dalam bahasa jawa yang sangat kasar apalagi ditujukan pada orang tua dan paling parah kepada seorang Gus Mus yang seharusnya dihormati.

Gus Mus juga memaafkan orang tersebut yang ternyata karyawan Adhi Karya bahkan ketika si pelaku akan dipecat dari kantornya, Gus Mus yang melarang supaya dia tidak dipecat.

Hal yang membuatku sedih pada saat itu karena salah seorang teman baikku di kantor yang notabene juga tumbuh dalam keluarga islami sempat berceloteh bahwa fenomena tersebut disengaja supaya Ahok juga dimaafkan. memang pada saat itu sedang ramai atas tindakan dugaan penistaan agama. teman saya berpendapat bahwa Gus Mus mendukung Ahok.

Ada perasaan sedih saat itu karena melihat sepak terjang Gus Mus yang disepelekan oleh teman yang seharusnya mampu menelaah siapa Gus Mus apalagi dia besar dalam keluarga islami. untungnya Gus Mus sudah berkomitmen dalam hidupnya bahwa dia akan memaafkan semua orang yang dzalim kepadanya.


April 13, 2019

Relasi

Seminggu ini, saya tugas di kantor cabang yang menjadi kantor awal saya bertugas sebagai karyawan di Perusahaan ini. kembali ke kantor tersebut seperti membuka perjalanan waktu lima tahun lalu saat pertama kali diterima di Perusahaan ini. sebagai mantan staff di kantor tersebut, saya mengenal hampir semua karyawan apalagi hanya beberapa penambahan karyawan baru.

Saya menikmati lima hari kemarin karena merasakan sensasi mengulik semua kenangan. setiap sudut kantor tersebut nampaknya tidak terlalu banyak berubah bahkan meski sedikit pun. saya menghabiskan banyak waktu bercanda dengan mereka yang merupakan teman lama.

Salah seorang agen yang lumayan dekat denganku sering menjadi bahan candaan karena dia belum menikah. saban sore sebelum pulang kantor, saya naik ke lantai tiga berkumpul dengan beberapa teman lain dan menjadikan dia sebagai bahan candaan masalah pernikahan. saya tahu bahwa dia sama sekali tidak masalah dijadikan bahan lelucon karena sudah sejak lama kenal denganku meski terkadang dia salah tingkah saat dibercandai tentang perempuan.

Sampai akhirnya di hari jum'at kemarin, kami kembali melancarkan aksi gurauan dan entah ada yang berlebihan atau dia sudah terlalu penat menjadi bahan guyonan, dia bereaksi dengan cara lain. saya dan salah seorang teman yang terlalu sering menggodanya mulai dihindari. saya mengajaknya bersama-sama shalat Jum'at namun reaksinya dingin bahkan saat makan siang, tak ada percakapan yang keluar dari mulutnya. pada akhirnya saya tahu bahwa dia terganggu dan merasa insecure dijadikan bahan guyonan sampai akhirnya diam dan memilih untuk mendamaikan diri.

Pertemanan memang sering seperti itu. saya terutama selalu mengukur diri dalam setiap pertemenan dan sampai dimana batasan yang seharusnya tidak boleh dilewati, namun saya akui bahwa saya terlalu berlebihan menjadikan objek candaan teman saya tersebut karena saking dekatnya padahal seharusnya, semua harus diukur bahkan siapapun jangan sampai loss of control. pertemanan memang mengasikkan namun ketika salah satu insecure dengan apa yang kita lakukan maka seharusnya jangan dilanggar karena toh semua ada batasannya. 

Pada akhirnya, relasi entah dengan siapapun harus diukur dengan akurat dan membuat sebuah komitmen untuk tetap menjaganya.
13 April 219

April 6, 2019

Lalu Lintas

Cerita tentang lalu lintas di Jakarta tidak pernah habis dan selalu saja ada hal yang bisa dikisahkan dari perjalanan di setiap sudut Jakarta. fenomena yang bertebaran di setiap ruang Jakarta terlalu luas dengan berbagai kejadian yang seringkali tidak disangka bahkan terjadi pada diri kita. semua kembali pada sikap masing-masing pribadi dalam menghadapi kejadian yang seringkali tidak mengenakkan di hati.

Senin siang, saya keluar dari kampus UGM di daerah Saharjo setelah melewati ujian yang melelahkan karena minim persiapan. hati yang gundah gulana dan prasangka buruk bahwa kali ini saya tidak akan lulus lagi setelah subjek yang sama sudah saya ikuti selama dua kali dan belum berhasil lulus. bayang-bayang kegagalan tersebut terngiang-ngiang di kepalaku sehingga konsentrasi mengendarai motor sedikit terganggu.

Sesaat setelah keluar dari parkiran dan sudah berada di jalan protokol, saya tidak menyadari ada motor dari belakang yang melaju kencang dan hampir menabrak motorku dari belakang. saya yang menyadari bahwa hal tersebut karena kecerobohanku memotong jalan tanpa memperhatikan kendaraan di belakang, dengan refleks mengangkat tangan sebagai bentuk permintaan maaf. saya kemudian melaju dengan tenang karena sudah menunaikan tugasku sebagai pengendara yang ceroboh paling tidak sudah minta maaf.

Baru beberapa detik kejadian tersebut berlangsung, saya menyadari bahwa pengendara tersebut membuntutiku kemudian tepat saat berada di sampingku, dia memainkan gas motornya sebagai reaksi kekesalan atas kesalahanku sebelumnya. saya yang menyadari hal tersebut kemudian memepetnya dan mengajaknya berbicara. kepala saya yang penat membuat emosiku meluap karena merasa sudah minta maaf namun dibalas dengan tindakan yang tidak menyenangkan.

Saya mencecarnya dengan beberapa pernyataan bahwa saya sudah minta maaf, kenapa dia masih merasa tersinggung. dia membalas dengan retorika yang membuatku semakin muak 
"sebelum berkendara, seharusnya prepare dulu supaya tidak membahayakan orang lain."

Nasehatnya tersebut semakin menyulut emosiku untuk berdebat dengannya sambil tetap berkendara. saya menepuk pundaknya dan berkata bahwa dalam setiap kehidupan jalanan di Jakarta, pasti ada gesekan.
Pada akhirnya, dia mengalah dan dengan nada sedikit kesal memaksaku untuk mendahuluinya "sudah, sudaahhh, silahkan jalan." katanya sambil menutup perdebatan kami.

Meski menerima tawarannya untuk mendahuluinya namun saya tetap mengendarai motor dengan sangat pelan sambil berharap dia menyusulku. saya masih sangat penasaran dengan ekspresinya. sampai pada akhirnya, setelah beberapa jauh ternyata dia tidak jua mencoba menyalipku dan akhirnya saya pulang dengan hati yang tidak karuan.

Entah dari mana keberanian yang muncul dari dalam diriku untuk bersikap agresif di jalanan namun saya khawatir bahwa Ibu kota benar-benar telah menggiringku ke dalam kerumuman masyarakat individualis nan emosional. hal remeh temeh yang seharusnya tidak menjadi masalah besar ternyata harus diselesaikan dengan urat leher.

Ah, saya semakin menua di kota ini sedangkan jiwaku tidak ikut menjadi bijaksana. umurku bertambah dan jiwa raga semakin terbelenggu dalam kehidupan kota yang palsu. mengejar sesuatu yang fatamorgana dan meninggalkan jauh di belakang prinsip yang seharusnya tetap mengiringi langkahku.

25 April 2019

Pilihan Politik

Sebenarnya diskusi politik tidak terlalu menarik perhatian saya bahkan sikap saya selama ini lebih cenderung pada sikap tidak peduli karena sejatinya pilihan politik seharusnya menjadi pilihan masing-masing yang hanya diri sendiri yang tahu tanpa harus mendeklarasikan kepada orang lain atau ikut-ikutan menjadi juru kampanye amatiran hanya sekedar ingin dikatakan melek politik atau tidak ingin disebut kuper politik. sistem demokrasi yang dianut Indonesia mengharuskan kita memilih pemimpin yang diusung oleh partai politik. maka kesimpulan awal saya bahwa pilihan yang ada adalah hasil analisa dari segerombolan partai politik untuk kepentingan mereka tanpa benar-benar ingin bekerja demi rakyat.

Pemilihan Presiden yang sebentar lagi akan dihelat di pertengahan April menjadi fenomena tersendiri. di satu sisi sering membuat saya tersenyum melihat tingkah kedua belah pihak pendukung calon Presiden tetapi di sisi lain membuat saya sering jijik dengan cara mereka mendiskusikan pilihan yang mereka anggap paling baik. seharusnya wacana tentang Pilpres mampu menggiring masyarakat ke arah yang lebih baik dengan terbukanya informasi maupun referensi pembelajaran politik namun harapan selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, realitas yang terjadi di tengah masyarakat seakan mundur berpuluh-puluh tahun ke belakang. mereka berdiskusi dengan menyanjung pilihan mereka dan menjatuhkan lawan. tidak ada esensi dari diskusi yang diangkat di hampir semua forum politik baik dari forum politik tingkat atas sebagai politikus maupun kalangan masyarakat umum yang mendiskusikan politik ke setiap sudut Kota bahkan di Desa. perdebatan yang muncul hanya seputar tentang pilihan mereka yang baik dan calon yang lain tidak baik. benar-benar menjijikkan...!!!

Hal yang sama dan membuat saya seringkali muak setiap hari yang kutemui teman-teman saya yang doyan membuka forum politik tentang Pilpres namun argumen yang keluar dari mulut mereka hanya seputar pilihan mereka yang tanpa dosa dan calon yang lain bergelimang dosa. seingat saya, tidak pernah sekalipun saya serius meladeni mereka dalam berdebat meski selalu berusaha mempengaruhi dengan cara apapun hingga suatu waktu di sore hari menjelang jam kantor usai, saya yang sudah penat akhirnya mengeluarkan semua sikap politik yang saya percayai untuk Pilpres kali ini. saya mendeklarasikan bahwa saya tidak akan memilih, bukan karena terpaksa namun dari perenungan panjang tentang iklim politik di Negeri ini yang sama sekali tidak membaik. saya juga mengatakan kepada mereka bahwa biaya politik dalam proses Demokrasi Indonesia sangat besar dan hal tersebut sebagai indikasi bahwa "jarang" sekali politikus yang serius mewujudkan gombal-gombal politik mereka yang dikampanyekan menjelang pemilu.

Argumen saya tentang biaya politik bukan tanpa bukti. pengalaman yang akan saya paparkan di sini juga sebagai pengakuan dosa bahwa saya pernah mengotori proses Demokrasi yang berlangsung di Indonesia dalam skali Pilkada. 

Sebelas tahun yang lalu tepatnya di tahun 2008, Pilkada di daerah saya dilangsungkan. seingat saya adalah Pilkada pertama yang dipilih langsung oleh Rakyat. calon yang maju seorang Petahana didampingi oleh salah satu mantan kepala BKD yang "kebenaran" adalah keluarga dekat saya, nenek saya dan neneknya masih saudara kandung sehingga silsilah keluarga kami adalah "sepupu dua kali"

Saya tidak ingat persis bagaimana awalnya saya masuk dalam lingkaran tim sukses namun yang masih segar di pikiran saya tentang proses menjelang pemilu. saya yang berada di Ibu Kota Provinsi sering berkoordinasi dengan salah seorang Dosen saya yang juga tergabung dalam tim sukses dan berperan sebagai Koordinator. saya beberapa kali harus pergi-pulang ke kampung hanya sekedar mengurus kampanye. Suatu waktu menjelang pemilu sudah dekat. saya dan beberapa tim sukses di panggil ke rumah pemenangan di kota Kabupaten dalam rangka merapatkan konsolidasi. 

Saya menyesal saat menyadari bahwa saya pernah menjadi bagian dari proses Demokrasi yang tidak ideal menurut saya namun setidaknya pengalaman tersebut juga mengajarkan saya di setiap Pemilu bahwa apa yang ada di depanmu, apa yang ditulis oleh para calon di setiap spanduk yang dipasang di pinggir jalan, bukan realitas. jargon tersebut hanya sebagai pemanis yang nantinya akan dicampakkan di comberan setelah mereka terpilih atau jika sial dan gagal, spanduk mereka akan menjadi selimut di rumah sakit jiwa.

Kembali ke wacana Pilpres kali ini bahwa belum tidak ada bedanya dengan perhelatan dari Pemilu sebelumnya yang hanya menjadi rutinitas 5 tahunan dan mengeksploitasi hak suara rakyat kemudian akan diabaikan sesaat setelah pemilihan namun yang membuat saya ikut kasihan karena adanya potensi perpecahan sesama masyarakat. mereka yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, telah termakan propoganda politikus sehingga mereka dengan segala energi menjunjung tinggi pilihan mereka bahkan sampai mengorbankan banyak hal termasuk persaudaraan yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Sekali lagi pada Pilpres kali ini, saya tidak akan memilih siapa-siapa. saya akan berdiam diri di rumah sambil menikmati kopi tanpa terpengaruh siapa yang akan terpilih namun dengan sebaris doa yang akan saya ucapkan bahwa semoga hasil dari Pilpres tidak membuat masyarakat Indonesia tercerai-berai. semoga mereka kembali bersenda gurau dan menyambung silaturrahim diantara mereka yang berbeda pilihan.

April 2019, dua minggu menjelang tanggal 18 April 2019.

March 19, 2019

Tilang

Sabtu kemarin, saya mengajak anak isteri mengitari kawasan Pasar Minggu. rutinitas sabtu minggu yang wajib dilakukan untuk menyenangkan Damar yang sedang menikmati jika diajak naik motor. saya biasanya tidak membawa dompet setiap kali naik motor di pagi hari, alasannya karena repot. toh jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Perjalanan kemarin benar-benar membuatku sial. saat berangkat masih lancar tanpa halangan namun petaka datang pada saat mau pulang ke rumah. saya melewati rute yang jarang sekali saya lalui. jalan Simatupang menuju Pasar minggu 

sebelum tiba di bawah kolong fly over untuk berbalik arah ke Kebagusan, segerombolan lelaki bertubuh kekar berpakaian cokelat sedang berkumpul di pinggir jalan menyetop kendaraan secara random. saya yang baru menyadari keberadaan mereka langsung menyadari bahwa saya tidak membawa dompet yang berisi sim dan stnk. saya berniat belok ke kiri di pertigaan namun ternyata mereka tidak dungu, sebagian dari mereka sudah menunggu di titik pertigaan tersebut yang artinya saya sudah terjebak.

menyadari tidak ada lagi jalan keluar, saya melaju dengan muka yang pura-pura tidak bersalah. salah seorang dari mereka yang mungkin berumur 45an tahun menyetop saya. 

"maaf pagi, boleh liat surat-suratnya?" pertanyaan mereka yang khas membuatku tidak berkutik.

"saya tidak membawa dompet pak yang berisi surat-surat." saya jujur mengatakan apa adanya karena sudah tidak ada alasan yang pas.

percakapan berikutnya sudah bisa ditebak. sambil menulis di surat tilang, dia mengatakan bahwa motor saya harus disita karena sama sekali tidak membawa surat-surat kelengkapan.

Saya menawarkan untuk mengambil sejenak dompet saya di rumah karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan harapan bahwa motor tidak disita, pikirku sim yang dijadikan jaminan sebelum saya menebus kesalahan di pengadilan, toh saya dulu sudah pernah mengurus tilang di pengadilan.

jawaban dari bapak mengejutkanku, "atau mau dibantu di sini saja?"

saya sudah mengetahui arah pembicaraannya bahwa dia meminta uang tebusan supaya tidak harus ke pengadilan. saya tanpa pertimbangan apa-apa mengiyakan dan menyodorkan selembar uang kemudian saya melanjutkan perjalanan pulang.

meski urusannya selesai namun saya merasa kalah. teoriku luntur karena tidak mau repot sehingga saya yang seharusnya menjalani prosedur semestinya dikalahkan oleh tindakan konyol.

saya kalah meski urusan dengan polisi selesai.

16 3 19

March 18, 2019

Pelem

Heist
Luke Vaughn, seorang mantan tentara yang harus bekerja di Kasino untuk bertahan hidup dengan seorang putri. masalah besar muncul ketika sang putri sakit parah dan harus dioperasi sedangkan dia tidak cukup uang untuk membiayai operasinya bahkan asuransi tidak mampu menutupi karena biaya operasi yang mahal. Vaughn mengutarakan niat meminjam unag dalam jumlah besar kepada Pope, bosnya di kasino namun ditolak. 

dalam kekalutan pikiran yang tak terpecahkan, Vaughn mendapat tawaran dari Cox, satpam di kasino untuk merampok uang di kasino tersebut. Vaughn yang sangat mencintai putrinya kemudian menerima tawaran tersebut. Cox membawa dua temannya untuk melancarkan aksi mereka. 

Aksi yang sudah tersusun rapi dijalankan pada suatu malam. seorang teman Cox disuruh menunggu di luar dengan mobil yang harus siap sedia untuk mengnagkut hasil curina mereka.

Saat aksi berjalan, teman Cox yang menunggu di mobil gugup dan akhirnya kabur. Vaughn, Cox dan seorang temannya diburu oleh pengawal Pope. mereka berlari sampai akhirnya tiba di halte busway. tanpa pikir panjang, mereka membajak busway tersebut.

Cerita film kemudian berjalan dalam bus. beberapa kali mereka dibuntuti oleh polisi namun Vaughn yang memang pensiunan tentara sangat cerdas dalam melakukan negosiasi dengan polisi.

Sampai akhirnya bus dikejar oleh anggota Pope namun unag hasil curian sudah tidak ada di bus karena dibawa kabur oleh wanita suruhan Vaughn yang menyamar menjadi wanita hamil.

pada akhir cerita, puteri Vaughn mendapatkan biaya operasi dan Pope memaafkan tindakan Vaughn.

March 5, 2019

Cinta Penuh Air Mata

by: Andrei Akasana

Buku yang sebenarnya sudah lama sekali saya beli, mungkin sekitar tiga atau empat tahun yang lalu namun belum sempat kubaca karena kemalasan yang akut dan dikalahkan oleh godaan handphone. buku yang akhirnya kuselesaikan karena lebih pada rasa kasihan melihat bertumpuk-tumpuk buku di ruang depan yang tidak pernah disentuh. 

Cerita kehidupan yang mungkin sangat mainstream ditemukan di banyak novel asmara yang tersebar di toko buku. alur cerita tentang percintaan, perselingkuhan, perceraian, tawa dan air mata. sejatinya tidak ada yang terlalu mengesankan di novel ini jika seandainya saya membacanya beberapa tahun silam ketika masih di kampung karena sepengetahuanku, tidak ada dinamika kehidupan yang seironi ini namun sejak bermukim di ibu kota, cerita seperti itu benar adanya. saya membayangkan bahwa sesuatu yang mustahil ternyata terjadi. 

Adalah Rana, seorang gadis 20an yang mendekati angka 30. gadis yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah yang pergi bersama wanita lain sejak Rana bahkan belum genap 10 tahun. alhasil dia hanya bertiga bersama ibunya Laksmi dan seorang adiknya Niar. 

Untungnya, Rana dan Niar sangat menyayangi ibunya yang harus banting tulang menafkahi mereka. Rana bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan garmen dan dipercaya penuh oleh bosnya sedangkan Niar masih duduk di bangku sma.

Masalah mulai muncul ketika Rana bertemu dengan Jordy, pemuda yang bekerja sebagai calo tiket di Bandara. perawakan Jordy yang keren membuat Rana jatuh hati. singkat cerita mereka akhirnya menikah meskipun melalui drama yang menyedihkan. uang tabungan Rana yang disiapkan untuk acara pernikahan habis di meja judi oleh Jordy bahkan saat resepsi pernikahan, Jordy sama sekali tidak mengundang keluarganya satu pun. meski pada akhirnya diketahui bahwa Jordy berasal dari keluarga yang berada namun berantakan karena perceraian.

Perjalanan rumah tangga Jordy dan Rana benar-benar memilukan. Jordy semakin ketagihan berjudi sedangkan Rana banting tulang bekerja, bahkan bukan hanya itu saja, Jordy juga sangat ringan tangan terhadap Rana meski demikian, Rana selalu mampu memaafkan Jordy. hingga pada titik klimaks, Rana sudah tidak tahan ketika mengetahui bahwa Jordy menghamili rekan kerjanya. akhirnya mereka berpisah.

Di saat yang lain, Niar akhirnya memutuskan berhenti sekolah dan memilih bekerja sebagai pelayan di sebuah Bar. pilihan pekerjaannya itu pula yang mengantarkannya bertemu dengan seorang pria paruh baya yang bahkan seumuran dengan ibunya.  pria kaya raya yang mempunyai banyak Perusahaan. mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah meskipun anak tiri Niar seumuran dengannya. mereka hidup bahagia bahkan ibunya diajak serta tinggal bersamanya.

Sementara itu, kisah asmara Rana semakin menyedihkan. setelah lepas dari Jordy, Rana sering menghabiskan waktu luangnya dan berkenalan dengan Hastar, penyanyi kafe yang kembali membuat hati Rana bergetar. intensitas pertemuan mereka menumbuhkan benih cinta yang kuat, hingga pad akhirnya, Hastar berniat menikahi Rana.

Seakan ditakdirkan menjadi pesakitan dalam urusan asmara, hubungan Rana dan Hastar kembali terbentur pada masalah pelik. Hastar yang ternyata seorang duda dengan satu putra harus mengalahkan cintanya kepada Rana. mantan isteri Hastar memohon rujuk dengan alasan demi kebaikan anak mereka.

Hastar bimbang, cintanya terhadap Rana tak bisa dibendung lagi namun kasih sayangnya kepada anaknya begitu pun adanya. hingga akhirnya Hastar menjemput maut karena sakit dan impian menikahi Rana tidak pernah terwujud.

Di saat rapuh seperti ini, Jordy datang kembali kepada Rana menawarkan cinta masa lalu dengan iming-iming akan memperbaiki perangainya, namun Rana sudah terlanjut menambatkan hatinya kepada Hastar yang sudah dibawah ke alam kubur.

Rana "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak takut hidup sendiri karena aku percaya cinta memberi kekuatan yang luar biasa, walaupun dipisahkan maut. seperti cinta yang telah dipersembahkan Hastar kepadaku"

February 14, 2019

#OTS 17

Perjalanan kali ini tidak terlalu menggairahkan. mungkin karena daerah yang kutuju sudah pernah kujejak dua tahun lalu dengan tujuan yang sama, tugas kantor. daerah yang notabene tidak terlalu jauh dari Jakarta dan bisa ditempuh via darat dan laut. mungkin perbedaannya hanya alat transportasi yang kugunakan. jika dua tahun lalu, saya menggunakan transportasi Damri dengan waktu tempuh yang cukup jauh nan melelahkan, kali ini saya mencoba menggunakan alat transportasi udara. hanya sekitar 45 menit di atas udara.

setengah 4 subuh dini hari, saya sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk perjalanan ini. selepas subuh, saya memesan taxi online ke bandara. tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Bandara karena sopir sedikit ngebut ketika kuberitahu bahwa pesawat yang akan kutumpangi berangkat jam 7 lebih 25 menit. saya tiba di bandara jam 6 kurang 10 menit. 

Saya menutuskan sarapan di resto fast food sebelum melakukan chek in. saya sedikit kecewa setelah berada di ruang tunggu dan ternyata pesawat delay sejam. lumayan lama apalagi sebelum ini, saya sudah tergesa-gesa berangkat ke Bandara karena khawatir ketinggalan pesawat.

setelah dua jam menunggu, akhirnya tiba waktu boarding. saya berangkat setengah 9 dan tiba di Tanjung Karang jam 9. pengalaman naik pesawat dengan durasi waktu yang amat sangat singkat. memang jarak dari ibu kota ke kota ini tidak terlalu jauh.

Sesampainya di Bandara, saya sedikit merasa asing di kota ini meskipun dua tahun yang lalu, saya sudah pernah menjejak kaki di kota ini namun perbedaannya karena dua tahun lalu, saya mengunjungi kota ini via darat.

Jarak dari Bandara ke pusat kota ditempuh kurang lebih sejam. kami dijemput oleh teman yang bertugas di kota ini. setelah keluar dari Bandara mengitari jalan di kota ini, saya sudah mulai akrab dengan beberapa sudut kota yang dulu pernah kulewati. satu yang membuatku salut pada kota ini adalah kebersihannya yang terjaga. saya jarang menjumpai kota yang sadar akan kebersihan di negeri ini yang sudah kukunjungi. mayoritas kota yang kusambangi menyisahkan sampai di sudut jalan atau bahkan di trotoar, namun kota ini tidak. sepanjang troatoar bebas dari sampah.

Saya memutuskan untuk kembali menginap di hotel Grand Anugerah dekat dari patung Gajah. pengalaman tahun lalu menginap di hotel ini lumayan mengesankan dengan pelayanan yang baik sehingga saya memutuskan untuk menginap di hotel ini apatahlagi hotel ini dekat dari kantor tempatku beraktivitas selama 5 hari ini kota ini.

Tidak banyak yang ingin kukunjungi di kota ini karena saya sudah pernah mendatangi beberapa sudut kota ini dua tahun lalu. saya hanya ingin menghabiskan waktu ini untuk menyelesaikan tugas dan sedikit merenung bahwa begitu cepatnya waktu berlalu, dua tahun lalu di kota ini serasa baru sebulan yang lalu. ah, waktu sering membuat saya sentimental.

5 hari di kota ini berjalan dengan sangat cepat. pekerjaan sudah harus rampung di hari jumat karena saya akan kembali ke ibukota jumat malam jam 8 menggunakan pesawat yang sama saat berangkat. pengalaman kali ini mungkin tidak terlalu menggairahkan untuk ditulis.

kalau harus ke kota ini suatu saat nanti, semoga bukan karena tugas seperti saat ini. mungkin sekedar liburan bersama keluarga atau perjalanan dinas di kantor yang lain.

14 2 19


January 16, 2019

OTS #16

Tiga jam perjalanan di atas Pesawat benar-benar meremukkan badanku apatahlagi Pesawat Batik Air yang biasanya menyediakan media tontonan namun Pesawat ini ternyata tidak memiliki fasilitas tv kecil yang dilekatkan pada kursi depan penumpang. untungnya saya sudah mendownload film yang saya simpan di HP sehingga ada hiburan membunuh waktu di Pesawat. sebenarnya saya juga membawa buku namun entah kenapa, akhir-akhir ini, saya begitu malas menyelami kata demi kata. saya sedang gandrung menonton film berjam-jam lamanya.

Sesaat sebelum mendarat di kota yang berbatasan dengan Timur Leste, saya sempat mengambil vidio dari atas dan berpikiran bahwa kota ini masih sejuk karena ditumbuhi oleh pepohonan yang rindang meski pada akhirnya saya mendapat cerita bahwa sebenarnya daerah ini kering hanya saja sekarang musim hujan sehingga sedikit hijau. wilayah ini didominasi oleh karang dan bebatuan yang keras. hasil pertanian tidak terlalu maksimal di daerah ini.

Tak terasa, saya kembali menginjakkan kaki di bagian lagi negeri ini. saya merasa bahwa hari demi hari, kaki saya sudah melangkah semakin jauh. saya tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa saya akan menjejaki banyak tempat di negeri ini namun kenyataannya, saya diberi kesempatan untuk lebih melebarkan pandangan saya. sejatinya saya harusnya mengambil langkah yang lebih berani untuk meninggalkan jejak di belahan bumi lain selain negeri ini semata-mata demi melihat bahwa luasnya hidup ini maka pandangan kita seharusnya jangan terlalu picik.

Wilayah yang kembali kujejak ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah di bagian timur yang sebelumnya jarang mendapatkan perhatian. entah kenapa, saya selalu merasa pulang kampung setiap kali bertandang ke wilayah yang masuk kategori bagian timur, mulai dari Papua, Sulawesi, NTT, NTB dan wilayah timur lainnya. saya merasa ada kesamaan diantara kami yang mengalami diskriminasi dan dianggap kasta kedua di negeri ini. saya suka penuturan Ari Kriting yang pernah membawakan materi stand up terkait orang timur yang selalu dianggap kurang pintar, kuat berkelahi dan masalah lainnya yang akrab dengan kelas bawah.

Daerah ini lumayan kering. tanahnya dari tekstur bebatuan yang keras meski pada salah satu penelitian yang belum saya verifikasi bahwa meskipun kontur tanah di wilayah ini batuan karang namun ada rongga di bawah yang menyebabkan wilayah ini rawan gempa.

Saya sudah empat hari di kota ini dan merasa bahwa kota ini layaknya seluas kabupaten di kota lain di Jawa. bisa ditelusuri kurang lebih sejam. hal yang paling sulit menurut saya adalah mencari warung makan. mayoritas masyarakat di daerah ini mengkonsumsi daging babi sehingga di beberapa titik jalan, berdiri warung yang menyediakan daging babi sehingga saya harus selektif untuk melihat warung yang tidak menyediakan daging yang dilarang oleh agama yang saya anut. alhasil alternatif paling aman adalah mencari resto di mall misal KFC, Solaria, CFC, Pizza Hut, D'Cost dan restoran sejenisnya yang bisa diyakini tidak menyediakan daging babi.

Spot untuk mengabadikan jejak di wilayah ini juga terbilang jarang. tidak ditemukan taman yang biasanya disediakan di tengah kota sebagai salah satu simbol khas suatu daerah bahkan daerah ini memiliki pantai namun tidak dikelola dengan baik. alhasil saya terpaksa mengabadikan jejak digital di kota ini dengan mengambil gambar berlatar kantor Gubernur yang didisain seperti alat musik Sasando.

Sebenarnya saya sangat tertarik ingin mengunjungi daerah di perbatasan dengan Timur Leste namun menurut informasi bahwa butuh waktu paling cepat 8 jam ke Atambua dengan medan jalanan yang bisa membuat kepala pusing berminggu-minggu.

Setidaknya saya sudah menghirup udara di daerah yang baru dan meminum airnya sehingga saya bisa lebih respek pada setiap perbedaan yang kutemui karena jejakku sudah jauh dan seharusnya paradigmaku terhadap perbedaan seharusnya sejauh langkahku sudah berjalan.

Hotel Sylvia Premier, 17 1 19

January 13, 2019

Ganti Rugi

beberapa hari ini, kau sudah mulai mau jika diajak shalat di masjid bahkan kau akan merajuk jika tidak diajak meskipun saya tahu bahwa hal yang kau senangi ke masjid karena bisa bermain. saya agak khawatir jika mengajakmu di masjid besar karena kau bermain di teras masjid ketika waktu shalat tiba. pernah suatu ketika saat shalat isya, saya memikirkanmu sepanjang shalatku karena pada saat shalat berlangsung, kau keluar masjid bermain sendirian. teras masjid tersebut agak sepi apatahlagi tidak jauh dari jalan raya. meski demikian, saya bahagia karena kau mau ikut ke masjid.

Hal lain yang membuatku sedikit agak was-was adalah tingkahmu yang agresif.
tanganmu sangat cekatan menyentuh atau pun mengelaborasi apapun yang baru menurutmu, alhasil tanganmu membuahkan hasil kemarin siang saat belanja di Transmart.

Seperti biasa saat weekend, kita berempat sering ke swalayan meski hanya sekedar jalan-jalan. kemarin siang giliran Transmart ITC Kuningan yang kita sambangi.  kau biasanya minta naik di trolly belanjaan. setelah beberapa saat mengitari Transmart, kita tiba di stand piring, saya yang menjagamu tidak menduga bahwa tanganmu akan menyentuh lusinan mangkok. spontan saya berusaha menahan mangkok yang jatuh karena tarikan tanganmu namun tanganku tidak mampu menjangkau.

"Praaakkkk," suara mangkok pecah berhamburan. seorang ibu yang akan melintas tampak terperangah sedangkan saya dengan woles memungut serpihan mangkok dengan dibantu Pramuniaga. saya membatin, untung hanya satu yang pecah, bagaimana jika semua tumpukan mangkok tadi ikut pecah.

Kita harus membayar mangkok yang pecah, namun its oke karena harganya tidak terlalu mahal, 37 ribu.

sesampak di Kasir saat barkode mangkok discan, tertulis harganya 399 ribu. sepersekian detik saya protes ke kasir namun sang kasir mengatakan bahwa ini memang harga lusinan dan harus dibayar semua. seketika saya keringatan meskipun dengan hawa dingin ac. saya protes bahwa itu kan hanya ganti rugi sebagai konsekuensi. untung saya salah seorang pegawai pria berinisiatif menanyakan langsung ke pic. setelah beberapa saat menunggu sambil was-was harus membayar mahal, saya menenangkan diri. tidak lama kemudian, si pria datang dan memberikan catatan bahwa harga yang akan kita bayar cuma 37 ribu. saya segera menghela nafas lega.

Nak, saya tahu bahwa kau sama sekali belum mengerti, itulah sebabnya saya sama sekali tidak marah kepadamu. lagi pula meskipun di beberapa kali kesempatan saat di rumah, saya memarahimu jika berbuat salah namun saya sebisa mungkin menghindari untuk memarahimu di depan orang lain. sebisa mungkin nak karena jika itu terjadi, terkadang seorang anak akan menjadi penakut dan mematikan karakter anak.

ya, berbuat salah lah nak selama masih bisa ditorelir dan tidak melampaui batas, pun jangan melakukan khilaf yang berulang karena sejatinya seseorang akan maju jika melakukan kesalahan namun akan mundur jika kesalahan yang diperbuat adalah kesalahan berulang karena itu artinya dia tidak belajar dari kesalahan sebelumnya.

kebagusan, 13 1 19

January 6, 2019

Film

1. Nazi Overload
meski berlatar belakang film perang dunia namun film fokusnya bukan pada perang terbuka. film ini menceritakan tentang pasukan usa yang ingin menyelamatkan seornag ilmuwan yang ditangkap oleh Nazi. pencarian mereka berakhir di sebuah kastel tempat ujicoba yang dilakukan oleh ilmuwan Eris. mereka tidak menyadari bahwa terrnyata eris sudah memilih bergabung dengan Nazi.

mereka terlambat untuk mencegah penelitian yang dikenal dengan wabah hitam. sebuah virus yang dibawah oleh Serangga dan mampu meledakkan tubuh manusia. bahkan beberapa diantara mereka dijadikan percobaan untuk menguji apakah penelitian tersebut berhasil.

Meski Kapten berhasil lolos dan pulang ke usa namun dalam tubuhnya sudah disuntikkan wabah tersebut sehingga saat menghadap presiden, ribuan seranga keluar dari tubuhnya dan meledakkan tubuh si kapten. Serangga tersebut akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

2. Operation Dunkirk.
Kembali bercerita tentang perang dunia antara Nazi melawan pasukan sekutu. titik poinnya adalah menyelamatkan seorang perempuan bernama Anqeluiqe yang mengetahui rumus algoritma. kode yang sebenarnya dirumuskan oleh ilmuwan Jerman namun tidak mau bekerja sama dengan Hitler. sebelum ditangkap, dia memberitahukan kode tersebut kepada Anqelique.

misi penyelamatan ini dipimpin oleh Letnan Calloway dari pasukan Inggris. dia mendpat perintah langsung untuk mendapatkan kode algoritma.

apesnya, tentara Nazi pun sedang mengejar perempuan tersebut untuk mendapatkan kode algoritma. sambungan radio untuk mendapatkan bantuan tidak bisa dilakukan karena radio mereka tercecer saat dikejar pasukan Nazi, hingga mereka tiba di sebuah rumah kenalan Anqelique. mereka meminjam radio untuk menyambung ke markas demi mendapatkan bantuan. setelah tersambunh, mereka diinstruksikan secara detail untuk bergerak ke arah lapangan dan akan dijemput pesawat, sialnya pasukan Nazi menyadap percakapan tersebut dan mengetahui detail rencana pelarian mereka. Pasukan Nazi dengan mudah mengejar mereka sampai di lapangan. setelah dikepung ratusan tentara Nazi di lapangan, sepersekian menit bantuan melalui udara datang dan menyelamatkan mereka.

3. Wunderland
"these Soldiers were the first and last line of defense against hitler's war machine"

Masih tentang perang dunia. entah berapa film yang diproduksi tentang betapa mengerikannya perang dunia. Film ini didedikasikan bagi 20 tentara yang dieksekusi oleh pasukan Nazi dari jarak yang sangat dekat.

musim dingin di momen natal 1944. menjelang kekalahan Nazi namun sisa pasukan mereka memberikan serangan kejutan yang tak terduga. sebuah unit kecil yang dipimpin oleh letnan Cappa harus menahan laju pasukan Nazi yang terus merangsek ke arah pertahanan usa.

sialnya, mereka tidak punya banyak amunisi dan pasukan yang cukup menghadapi pasukan Nazi dalam jumlah besar sehingga pada akhirnya, mereka ditangkap dan dieksekusi tanpa ampun.

Dalam setiap film perang, selalu ditampilkan bahwa serdadu dari pihak yang berperang mengingat keluarga mereka pada saat terancam bahkan banyak dari mereka yang sudah menulis surat sebagai antisipasi jika mereka tewas. sepertinya memang perang bukan untuk mereka namun untuk kepentingan penguasa. mereka melakoni sebagai keterpaksaan atau nasionalisme semu yang didoktrin oleh penguasa.

4. Thousand Yard Stare
lagi-lagi film perang dunia yang mengisahkan betapa mengerikannya dampak dari sebuah perang. film ini diangkat dari kisah nyata salah satu veteran perang, Roland, yang mengalami trauma berat pasca perang.

meski berlatar belakang perang namun sisi yang diangkat dari film ini adalah psikis seorang mantan tentara perang. saya tidak terlalu menikmati film ini karena alurnya yang maju mundur, sangat membosankan karena ketika sudah berada di klimaks adegan peran, alurnya kemudian maju lagi ketika Letnan Roland berada di rumahnya bergelut dengan ingatan kengerian perang.

Roland beruntung masih bisa selamat setelah serbuan tentara Nazi yang membabi buta dan menewaskan banyak sekali tentara usa. Roland selamat karena berlindung di bawah temannya yang sudah meninggal.

setelah itu, dia ditemukan oleh dua prajurit Nazi dan dijadikan tawanan. Roland kemudian di bawah ke clearing station pasukan Nazi. tiba-tiba ada serbuan dari pasukan usa ke tempat dimana Roland ditawan. akhirnya dia diselamatkan oleh pasukan usa yang berhasil menguasai titik aman pasukan Nazi.

Roland beberapa saat tidak mampu menemui keluarganya ketika sudah kemblai. dia menghabiskan banyak sekali minuman bir yang dipesan sambil terus bergelut dengan ingatannya akan perang yang menewaskan banyak sekali temannya. meski pada akhirnya, dia kembali ke rumahnya dan berkumpul dengan keluarganya.

ada adegan menarik ketika Roland hampir ditembak mati oleh salah seorang tentara Nazi namun dia diselamatkan oleh tentara Nazi lainnya. hal ini karena sebelumnya, Roland juga menyelamatkan nyawanya saat terluka oleh tembakan pasukan udara usa.

 5. 22 Chaser
film ini benar-benar memperlihatkan figur seorang bapak yang tak kenal menyerah mencari nafkah buat anak isterinya. berprofesi sebagai sopir derek, Ben harus banting tulang mencari pelanggan namun dia juga tetap menjaga sportifitas dan taat aturan sehingga tak jarang dia tidak mendapatkan customer. oleh teman-temannya, Ben dijuluki sopir pemerintah karena ketaatannya pada aturan dan tidak pernah mau melanggar.

Ben meminjam uang pada salah seorang polisi yang harus dikembalikan pada batas waktu yang sangat singkat. hal tersebut menambah beban Ben karena selain itu, dia juga sudah kadung janji pada anaknya untuk membelikannya sepeda pada hari ulang tahunnya.

Ben sudah berusaha sangat keras namun keberuntungan belum jua menghampirinya hingga pada akhirnya, semalam sebelum jatuh tempo utangnya, dia menempuh jalan yang tak biasa. dia ikut arus dalam mencari customer derek. salah satu kompetitornya yang dulu bermain curang, dirusak lampu mobil dereknya kemudian matanya disemprot oleh Ben.

Malam itu, Ben bertarung dengan salah satu teman lain untuk mendapatkan customer mobil mewah yang sedang tabrakan. mereka berdua mengadu kecepatan untuk saling mendahului di tempat kejadian. Ben sudah tidak punya pilihan selain memenangkan kesempatan terakhir ini demi membayar lunas utangnya dan melunasi janji kepada anaknya. di perempatan lampu merah, ben mampu mendahului temannya dan sialnya, temannya yang berada beberapa meter di belakangnya ditabrak taxi hingga tewas. Ben mendapatkan keberuntungannya malam itu.

pada akhirnya, Ben mampu melunasi utangnya dan membelikan sepeda kepada anaknya. Ben pun mengambil alih perusahaan mobil derek setelah membongkar perselingkuhan bosnya.

"uang ada di jalanan"

6. Den of Thieves
Pihak kepolisian usa harus memburu perampok bank yang sangat ahli. perampok dipimpin oleh Pablo ynag sangat mahir dalam menggunakan senjata sedangkan pihak kepolisian dikomandoi oleh Nick.

beberapa minggu sebelum perampokan, pihak polisi sudah mengendus modus yang dilakukan oleh para perampok bahkan pramuniaga bar yang menjadi bagian dari komplotan perampok, diciduk kemudian dipaksa untuk membongkar strategi perampokan. Donnie, sang pramuniaga yang berperan sebagai sopir perampok, memberitahu detail perampokan namun ada hal yang disembunyikan tentang rencana perampokan bank. dia kemudian dilepas dan tetap bersikap normal saat bersama para perampok supaya tidak dicurigai.

hari jumat saat perampokan berlangsung, Pablo dan komplotannya mampu mengelabui Nick dan anggotanya namun tak lama kemudian, Nick sadar akana hal tersebut kemudian dia mengubah rencana dan menemukan perampok yang sedang melarikan diri. terjadi kemacetan ketika Nick membuntuti para perampok sehingga memaksa mereka turun di jalanan yang ramai sehingga terjadi baku tembak. Nick mampu melumpuhkan Pablo dan komplotannya. salah satu adegan sentimental ketika salah seorang kawan Pablo yang terluka parah akibat tembakan, masih sempat memikirkan keluarganya apalagi dia mempunyai seorang anak gadis yang sangat dicintainya.

Donnie yang diborgol di mobil polisi saat terjadi baku tembak mampu melarikan diri dan membawa semua orang hasil rampokan. dia akhirnya pindah ke London dan memiliki bar di sana.

Januari 19