March 7, 2014

SAMSARA


Judul buku                  : Samsara              
                                                               
Pengarang                   : Zara Zettira ZR

Penerbit                       : Esensi, Erlangga group

Cetakan/Tahun            : Pertama / 2009

Halaman                      : 416




“pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira saudanen dhahar lan guling”
( manusia harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala tanda-tanda, termasuk ajaran tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur )


Saat takdir menghampiri, mampukah kita menghindari.

Sebenarnya perkenalan saya dengan dua novel karya Zara Zettira amat sangat tidak disengaja. Hanya karena kebetulan saya tiba-tiba saja menjadi karyawan Penerbit Elangga sebagai divisi pemasaran membuat saya harus mempelajari paling tidak beberapa dari produk terbitan PT Erlangga sebagai bahan presentasi di depan customer dan salah satunya adalah karya-karya dari Zara Zettira.

Membaca novel ini seperti sedang menyusun potongan-potongan hidup yang diacak. Selain itu selama menyelami ramuan kata demi kata yang ditawarkan oleh Zara Zettira membawaku ke suasana kehidupan yang sufistik bahkan dalam beberapa bagiannya benar-benar terasa bahwa penulis sangat piawai dalam menyajikan ceritanya sehingga aroma mistis didalamnya amat kental nan penuh sensasi.

Cerita ini dimulai dari hasrat yang kuat dari Asia sang tokoh utama untuk pergi ke USA yang dianggapnya sebagai sebuah mimpi yang besar.  Dia tidak pernah memikirkan bagaimana caranya ke sana namun yang ada dalam dirinya adalah apapun caranya suatu saat nanti dia bisa menginjakkan kakinya di USA. Bahkan di awal novelnya dia mengatakan bahwa keberangkatannya ke USA adalah sebuah keberuntungan bagi anak Jakarta yang punya impian besar melebihi kemampuan ekonominya

Di suatu senja, Asia sedang menghabiskan waktunya di sebuah kafe menikmati kopi toraja dan membaca buku. Di saat itu pulalah jalannya ke USA berawal. Dia bertemu dengan seorang yang bernama Amerika yang lebih senang dipanggil tante Amri. Perkenalan singkat tersebut membawa keakraban diantara mereka yang kemudian di episode berikutnya, Asia baru sadar ternyata tante amri pemilik kos-kosan di USA persisnya di Beverly Hills California, kawasan elit yang hanya ditempati oleh konglomerat-konglomerat tingkat atas. Tante Amrilah yang kemudian mengajaknya ke USA.

Asia bekerja serabutan di Awal-awal kehidupannya di USA setelah beberapa saat menganggur. Setidaknya dia sudah  tidak merasa segan menumpang gratis di rumah tante Amri. Kedekatan Asia dan Tante Amri semakin kuat dan rasa penasaran Asia tentang pekerjaan tante Amri pun semakin menjadi-jadi setelah menyaksikan rutinitas tante Amri yang hanya keluar dalam waktu tertentu bahkan tidak seperti orang kantoran. beberapa ritual aneh yang dilakukan oleh tante Amri semakin membuatnya penasaran hingga pada suatu kesempatan, Asia benar-benar meluapkan rasa penasarannya dengan bertanya langsung kepada tante Amri yang kemudian pada akhirnya dia tahu bahwa tante Amri adalah seorang cenayang dan dari hasil pekerjaannya tersebut, tante amri bisa tinggal di California meski di cerita dikatakan bahwa tante Amri tidak pernah sekalipun meminta imbalan dari pekerjaannya sebagai cenayang.

semua kondisi baik Asia di USA berubah 1800. Bermula ketika beberapa kejadian aneh yang dialaminya setelah mendapat hadiah sajadah, mukenah dan Al-Qur’an dari puri, tunangan nanda yang tinggal se kos dengannya. Kesalahan demi kesalahan dilakukannya di tempat kerja.  Awal puncak masalahnya terjadi ketika Puri meninggal dunia kemudian tante Amri mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan ke Indonesia. Teman se kos Asia, Dita dan Jenny merasa bahwa Asia lah penyebab semua ini. Pasca kedatangannya di kos tante Amri, keanehan selalu datang silih berganti bahkan orang yang dekat dengan Asia pasti celaka alhasil Dita dan Jenny pindah dari kos tante Amri dan hanya nanda yang tidak pernah menyalahkannya.

Titik klimaksnya saat Asia kembali ke Indonesia dan berusaha untuk mengejar mimpinya sebagai sutradara dan berkenalan dengan evi yang kemudian dijadikannya asisten. Film perdananya meledak di pasaran dengan judul Kejawen metropolitan. Kesuksesannya tersebut tidak lantas membuatnya mendekat kepada Tuhan. Asia kemudian membenci semua bahkan dia berusaha untuk melawan takdir Tuhan.  Bahkan di beberapa kesempatan dia berusaha untuk menghabisi nyawanya namun selalu saja gagal. Hal tersebut dilakukannya ketika dia merasa dipermainkan Tuhan akan hidupnya.

Diakhir cerita, Setelah Asia dikhianati Jatu sang suami yang juga mantan karyawannya berselingkuh dengan evi. Asia kemudian kembali bertemu dengan Nanda yang menurut hasil cenayang dari tante Amri bahwa nanda adalah takdirnya meski sebelumnya dia menolak semua itu dan meninggalkan nanda. Mereka akhirnya menikah.

Ada beberapa bagian dari novel yang secara subjektif sangat aku sukai seperti saat si Asia sangat yakin bahwa keberadaannya di dunia pasti ada sebab dan peran yang dibebankan oleh Tuhan. Dunia memang adalah panggung sandiwara yang sesungguhnya dan semua yang ada di dalamnya mempunyai peran masing-masing sesuai yang digariskan oleh Sang Sutrada Kehidupan. Manusia harus tetap berperan jadi manusia dan jangan sekali-kali mencoba menjadi iblis dirunut lagi bahwa manusia yang berperan sebagai pemimpin harusnya memposisikan dirinya sebagai pemimpin. Orang yang sudah tahu perannya di dunia akan menjadi fokus menjalani hidupnya. Pemain sepakbola yang benar-benar menekuni profesinya dan mencintai profesi tersebut sebenarnya telah menemukan perannya begitu juga halnya dengan profesi yang lain. Ketika kita sudah mencintai profesi yang sedang dijalani tanpa tendensi apa-apa seperti harta atau yang sifatnya duniawi maka kemungkinan besar itulah peran kita di dunia.

Nilai lain dari novel tersebut adalah menjaga impian. Aku yakin bahwa dengan menjaga impian dan tetap optimis akan impian tersebut maka yakinlah bahwa semesta akan senantiasa berusaha untuk mewujudkannya bersamaan dengan usaha-usaha yang dilakukan. Sebagian masyarakat kalangan menengah ke bawah merasa bahwa impian melanjutkan studi ke luar negeri seperti khayalan belaka namun bagi Tuhan itu amatlah kecil untuk diwujudkan dan disinilah pentingnya untuk tetap menjaga optimisme bahwa semua mudah ketika Tuhan punya kemauan.

Diantara kelebihan novel tersebut, ada beberapa nilai yang mungkin secara pribadi tidak sesuai dengan nilai yang kuanut. Salah satunya adalah nilai kejawen yang ditonjolkan sebagai jalan untuk mengungkap misteri kehidupan meski di beberapa bagian Asia digambarkan sebagai seorang muslim.

Bagian lain adalah tentang tokoh tante Amri yang ditonjolkan sebagai cenayang meski dari penuturan ceritanya dia seorang cenayang yang baik namun tetap saja bahwa pekerjaan meramal tidak sesuai dengan apa yang kuyakini. Aku tetap percaya bahwa ada orang-orang pilihan yang tahu sesuatu yang akan terjadi namun bukan berarti itu harus diceritakan dan dijadikan mata pencaharian karena hukum Allah akan terus berjalan.

Dan yang terakhir tentang keyakinannya akan reinkarnasi. Setiap roh akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di depan Tuhan dan tidak aka nada kehidupan kedua di dunia yang ada bahwa mereka akan menjalani kehidupan di alam sana namun tidak di dunia.

Namun terlepas dari itu semua, novel ini sangat asyik untuk dijadikan refensi bacaan karena ada beberapa nilai yang sangat sarat makna dan tidak bisa dijelaskan satu persatu tanpa membaca tuntas novel tersebut sekaligus mencari tahu apa itu samsara.

(Selama masih ada misteri yang belum terjawab oleh para ilmuwan, selama itulah ada ruang dan alasan untuk percaya pada gaibnya Sang Gusti Allah Ingsun Mahasuci. Dan selama kegaiban belum menemukan jawaban dan pembuktian empiris, selama itu pulalah kegaiban harus diakui sebagai kuasa Allah. Ilmunya Tuhan yang tidak mungkin dicapai, dipahami apalagi ditiru oleh ciptaanNya, kita manusia. Hal 256)

Sudah habis kopi untuk menyelesaikan resensi ini namun tidak jua selesai. Payah,,hehe
Jojoran 3/61
7’3’14



No comments: