Pengarang : Zara
Zettira ZR
Penerbit : Esensi, Erlangga group
Cetakan/Tahun : Pertama / 2009
Halaman : 416
“pada gulangen
ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den
kaesti pesunen sarira nira saudanen dhahar lan guling”
( manusia harus
melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala tanda-tanda, termasuk ajaran
tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur )
Saat
takdir menghampiri, mampukah kita menghindari.
Sebenarnya
perkenalan saya dengan dua novel karya Zara Zettira amat sangat tidak
disengaja. Hanya karena kebetulan saya tiba-tiba saja menjadi karyawan Penerbit
Elangga sebagai divisi pemasaran membuat saya harus mempelajari paling tidak beberapa
dari produk terbitan PT Erlangga sebagai bahan presentasi di depan customer dan
salah satunya adalah karya-karya dari Zara Zettira.
Membaca
novel ini seperti sedang menyusun potongan-potongan hidup yang diacak. Selain
itu selama menyelami ramuan kata demi kata yang ditawarkan oleh Zara Zettira
membawaku ke suasana kehidupan yang sufistik bahkan dalam beberapa bagiannya
benar-benar terasa bahwa penulis sangat piawai dalam menyajikan ceritanya
sehingga aroma mistis didalamnya amat kental nan penuh sensasi.
Cerita
ini dimulai dari hasrat yang kuat dari Asia sang tokoh utama untuk pergi ke USA
yang dianggapnya sebagai sebuah mimpi yang besar. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana caranya
ke sana namun yang ada dalam dirinya adalah apapun caranya suatu saat nanti dia
bisa menginjakkan kakinya di USA. Bahkan di awal novelnya dia mengatakan bahwa
keberangkatannya ke USA adalah sebuah keberuntungan bagi anak Jakarta yang
punya impian besar melebihi kemampuan ekonominya
Di
suatu senja, Asia sedang menghabiskan waktunya di sebuah kafe menikmati kopi
toraja dan membaca buku. Di saat itu pulalah jalannya ke USA berawal. Dia
bertemu dengan seorang yang bernama Amerika yang lebih senang dipanggil tante
Amri. Perkenalan singkat tersebut membawa keakraban diantara mereka yang
kemudian di episode berikutnya, Asia baru sadar ternyata tante amri pemilik
kos-kosan di USA persisnya di Beverly Hills California, kawasan elit yang hanya
ditempati oleh konglomerat-konglomerat tingkat atas. Tante Amrilah yang
kemudian mengajaknya ke USA.
Asia
bekerja serabutan di Awal-awal kehidupannya di USA setelah beberapa saat
menganggur. Setidaknya dia sudah tidak
merasa segan menumpang gratis di rumah tante Amri. Kedekatan Asia dan Tante
Amri semakin kuat dan rasa penasaran Asia tentang pekerjaan tante Amri pun
semakin menjadi-jadi setelah menyaksikan rutinitas tante Amri yang hanya keluar
dalam waktu tertentu bahkan tidak seperti orang kantoran. beberapa ritual aneh
yang dilakukan oleh tante Amri semakin membuatnya penasaran hingga pada suatu
kesempatan, Asia benar-benar meluapkan rasa penasarannya dengan bertanya
langsung kepada tante Amri yang kemudian pada akhirnya dia tahu bahwa tante Amri
adalah seorang cenayang dan dari hasil pekerjaannya tersebut, tante amri bisa
tinggal di California meski di cerita dikatakan bahwa tante Amri tidak pernah
sekalipun meminta imbalan dari pekerjaannya sebagai cenayang.
semua
kondisi baik Asia di USA berubah 1800. Bermula ketika
beberapa kejadian aneh yang dialaminya setelah mendapat hadiah sajadah, mukenah
dan Al-Qur’an dari puri, tunangan nanda yang tinggal se kos dengannya. Kesalahan
demi kesalahan dilakukannya di tempat kerja. Awal puncak masalahnya terjadi ketika Puri
meninggal dunia kemudian tante Amri mengalami kecelakaan ketika dalam
perjalanan ke Indonesia. Teman se kos Asia, Dita dan Jenny merasa bahwa Asia
lah penyebab semua ini. Pasca kedatangannya di kos tante Amri, keanehan selalu
datang silih berganti bahkan orang yang dekat dengan Asia pasti celaka alhasil
Dita dan Jenny pindah dari kos tante Amri dan hanya nanda yang tidak pernah
menyalahkannya.
Titik
klimaksnya saat Asia kembali ke Indonesia dan berusaha untuk mengejar mimpinya
sebagai sutradara dan berkenalan dengan evi yang kemudian dijadikannya asisten.
Film perdananya meledak di pasaran dengan judul Kejawen metropolitan. Kesuksesannya tersebut tidak lantas
membuatnya mendekat kepada Tuhan. Asia kemudian membenci semua bahkan dia
berusaha untuk melawan takdir Tuhan. Bahkan
di beberapa kesempatan dia berusaha untuk menghabisi nyawanya namun selalu saja
gagal. Hal tersebut dilakukannya ketika dia merasa dipermainkan Tuhan akan
hidupnya.
Diakhir
cerita, Setelah Asia dikhianati Jatu sang suami yang juga mantan karyawannya
berselingkuh dengan evi. Asia kemudian kembali bertemu dengan Nanda yang
menurut hasil cenayang dari tante Amri bahwa nanda adalah takdirnya meski
sebelumnya dia menolak semua itu dan meninggalkan nanda. Mereka akhirnya
menikah.
Ada
beberapa bagian dari novel yang secara subjektif sangat aku sukai seperti saat si
Asia sangat yakin bahwa keberadaannya di dunia pasti ada sebab dan peran yang
dibebankan oleh Tuhan. Dunia memang adalah panggung sandiwara yang sesungguhnya
dan semua yang ada di dalamnya mempunyai peran masing-masing sesuai yang
digariskan oleh Sang Sutrada Kehidupan. Manusia harus tetap berperan jadi
manusia dan jangan sekali-kali mencoba menjadi iblis dirunut lagi bahwa manusia
yang berperan sebagai pemimpin harusnya memposisikan dirinya sebagai pemimpin. Orang
yang sudah tahu perannya di dunia akan menjadi fokus menjalani hidupnya. Pemain
sepakbola yang benar-benar menekuni profesinya dan mencintai profesi tersebut
sebenarnya telah menemukan perannya begitu juga halnya dengan profesi yang
lain. Ketika kita sudah mencintai profesi yang sedang dijalani tanpa tendensi
apa-apa seperti harta atau yang sifatnya duniawi maka kemungkinan besar itulah
peran kita di dunia.
Nilai
lain dari novel tersebut adalah menjaga impian. Aku yakin bahwa dengan menjaga
impian dan tetap optimis akan impian tersebut maka yakinlah bahwa semesta akan
senantiasa berusaha untuk mewujudkannya bersamaan dengan usaha-usaha yang
dilakukan. Sebagian masyarakat kalangan menengah ke bawah merasa bahwa impian
melanjutkan studi ke luar negeri seperti khayalan belaka namun bagi Tuhan itu
amatlah kecil untuk diwujudkan dan disinilah pentingnya untuk tetap menjaga optimisme
bahwa semua mudah ketika Tuhan punya kemauan.
Diantara
kelebihan novel tersebut, ada beberapa nilai yang mungkin secara pribadi tidak
sesuai dengan nilai yang kuanut. Salah satunya adalah nilai kejawen yang
ditonjolkan sebagai jalan untuk mengungkap misteri kehidupan meski di beberapa
bagian Asia digambarkan sebagai seorang muslim.
Bagian
lain adalah tentang tokoh tante Amri yang ditonjolkan sebagai cenayang meski dari
penuturan ceritanya dia seorang cenayang yang baik namun tetap saja bahwa
pekerjaan meramal tidak sesuai dengan apa yang kuyakini. Aku tetap percaya
bahwa ada orang-orang pilihan yang tahu sesuatu yang akan terjadi namun bukan
berarti itu harus diceritakan dan dijadikan mata pencaharian karena hukum Allah
akan terus berjalan.
Dan
yang terakhir tentang keyakinannya akan reinkarnasi. Setiap roh akan
mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di depan Tuhan dan tidak aka nada kehidupan
kedua di dunia yang ada bahwa mereka akan menjalani kehidupan di alam sana
namun tidak di dunia.
Namun
terlepas dari itu semua, novel ini sangat asyik untuk dijadikan refensi bacaan
karena ada beberapa nilai yang sangat sarat makna dan tidak bisa dijelaskan
satu persatu tanpa membaca tuntas novel tersebut sekaligus mencari tahu apa itu
samsara.
(Selama
masih ada misteri yang belum terjawab oleh para ilmuwan, selama itulah ada
ruang dan alasan untuk percaya pada gaibnya Sang Gusti Allah Ingsun Mahasuci. Dan
selama kegaiban belum menemukan jawaban dan pembuktian empiris, selama itu
pulalah kegaiban harus diakui sebagai kuasa Allah. Ilmunya Tuhan yang tidak
mungkin dicapai, dipahami apalagi ditiru oleh ciptaanNya, kita manusia. Hal 256)
Sudah habis kopi untuk menyelesaikan
resensi ini namun tidak jua selesai. Payah,,hehe
Jojoran 3/61
7’3’14

No comments:
Post a Comment