August 29, 2017

Meremehkan Doa

Mengalami hambatan dalam perjalanan jauh seperti mobil mogok atau tiba-tiba acara agustusan membuat perjalananmu terhambat, sebenarnya hal yang biasa dan seringkali terjadi. Tidak perlu menjadi sesuatu yang wah.

Berbeda dengan perjalananku kali ini ke kampung halaman. Sejatinya, setiap kali akan melakukan perjalanan, Saya terbiasa merapalkan doa-doa keselamatan. Pulang kampung kemarin, entah apa yang merasukiku sehingga doa yang sering kujadikan jimat seakan sulit terucap. Saya berpikir bahwa toh semua akan berjalan semestinya.

Perjalanan dari rumah ke bandara masih lancar bahkan Pesawat tepat waktu sampai di kota tujuan. Masalah mulai muncul ketika Saya menunggu mobil jemputan di bandara. Sebelumnya sang Sopir sudah berjanji akan menjemput Saya pukul 08.00 namun Saya harus menunggu sejam lamanya.

Perjalanan ke Kampung tepat pukul 09.00 dan perkiraan Kami tiba di Kampung sekitar pukul 2 siang. Mobil sepertinya dalam kondisi yang prima namun memasuki kota Pangkep, mobil mengalami kendala pada gardan yang mengharuskan masuk bengkel. Butuh sekitar 1 jam lamanya sebelum si Sopir menemukan bengkel Mobil.

Belum berhenti di situ, ternyata perbaikan mobil tersebut memakan waktu lebih sejam. Setelah itu, perjalanan kemudian dilanjutkan dan nampaknya sudah tidak ada lagi hambatan. Saya sudah memperkirakan bisa tiba di kampung pukul 5 atau mulai sekitar 3 jam dari perkiraan awal.

Ternyata hambatan belum berakhir. Memasuki kota Rappang, jalan antar kota ditutup dalam rangka pawai HUT RI 72. Kami berhenti sekitar 1 jam lebih sebelum diperbolehkan melintas oleh petugas.

Alhasil, Saya baru tiba di kampung pukul 19.00 Wita. Molor sekitar 5 jam dari estimasi awal.

Lama Saya berpikir tentang apa penyebab dari kejadian ini sebelum akhirnya Saya menyadari bahwa sebelum berangkat, Saya tidak secara sungguh-sungguh memohon doa agar dilancarkan perjalanan. Malahan yang timbul dalam hati Saya sedikit keyakinan bahwa semua akan berjalan normal tanpa harus berdoa.

Kejadian tersebut menampar Saya tentang dampak meremehkan doa. Kalimat sakti yang seharusnya dirapalkan untuk mengiringi setiap langkah kita. Bahkan sebagai penanda bahwa kita berjalan atas kerja Tuhan.

27 8 17

August 24, 2017

#OTS 8

Tidak ada yang terlalu istimewa pada perjalanan ots kali ini. Tidak lebih hanya seperti napak tilas mengitari sudut kota yang pernah kutinggali beberapa tahun yang silam.

Mungkin perbedaan yang lebih terasa hanya pada beberapa hal seperti makanan. Dulu saat masih di kota ini, Saya jarang memyicipi makanan khas kota ini yang terbilang mewah karena harus menghemat uang bulanan bahkan untuk makan sebisa mungkin mencari warung paling murah di daerah kos-kosan dekat kampus.

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, Saya leluasa mencicipi makanan khas kota ini bahkan di daerah sekitar wisata kuliner yang dianggap mahal yang pada masa kuliah seakan mustahil untuk makan di sekitar tempat itu.

Saya menikmati kuliner ikan kaloa, konro bakar bahkan pisang ijo satu porsi seharga 25 ribu yang menurutku porsinya sangat sedikit namun harganya kelewat mahal.

Saya pun menikmati nostalgia di Makes, tempat nongkrong dulu yang selalu kurindukan. Menikmati hidangan sarabba dengan aneka gorengan.

Selebihnya, kota ini tidak banyak berubah. Setiap sisinya masih sama seperti dulu meski pembangunan terus dikebut.

Mks 24 8 17

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17