March 6, 2014

berjalanlah, semua akan baik-baik


Ini tentang percakapanku semalam dengan windi di telepon. Memang sudah seminggu dia berada di Jakarta karena beberapa minggu yang lalu dia diterima di salah satu kementerian di ibukota. Dia bercerita banyak dalam bentuk curhatan-curhatan tentang ketakutan-ketakutan ala warga ibukota seperti banjir atau macet bahkan biaya hidup yang mencekik leher. meski seminggu dia sudah berada di Jakarta namun belum merasakan macet dan banjir seperti yang sering ditampilkan di tv-tv namun ketakutannya akan hal tersebut amat sangat besar.  aku hanya berpesan padanya bahwa semua akan baik-baik saja dan berjalan normal.

Ini bukan untuk menulis banyak tentang percakapan tadi malam dengan windi namun tentang ketakutan yang ternyata ujung-ujungnya berjalan normal. Masih jelas di ingatanku pada akhir tahun 2012 lalu, seorang kawanku dari Makassar lulus beasiswa jepang dan sebentar lagi akan berangkat ke sana. Menjelang keberangkatannya, aku yang mengantarnya di Jakarta. Dalam beberapa potongan percakapan kami, kawanku tersebut selalu saja menceritakan kekhawatiran-kekhawatirannya sepeerti apa nantinya di jepang. Apakah akan sulit beribadah, apakah akan sulit mendapat makanan yang pas, apakah di tahan suhu dan bagaimana dengan orang-orangnya bahkan tentang kecemasan akan shock cultures. Saat itu aku hanya berpesan kepadanya bahwa semua akan berjalan normal-normal saja karena ketika Tuhan telah menakdirkan ketika akan sesuatu maka Dia sendiri yang akan mengurusnya. Terkesan agak menasehati memang karena kutahu bahwa kawanku ini jauh lebih paham agama ataupun kearifan-kearifan hidup namun entahlah tiba-tiba saja aku mengatakan itu kepadanya. Pada akhirnya dia sedikit lega kemudian kami berpisah saat dia akan berangkat ke gambir menuju bandara.

Beberapa bulan kemudian saat dia mulai menikmati perjalanannya di jepang, dia meneleponku dan mereview semua kekhawatiran-kekhawatiran yang dulunya mengganggu pikirannya dan benar saja bahwa saat ini semua berjalan normal saja hingga akhirnya tinggal sebulan lagi dia berada di sana. Akhir bulan ini, catatan perjalanannya di jepang sudah berakhir karena trainingnya sudah tuntas.

Seperti itulah kekhawatiran yang dipaparkan windi semalam. Dia begitu amat parno akan semua hal yang diberitakan di TV namun aku hanya katakana dan amat yakin bahwa semua akan menjadi normal dalam beberapa waktu hari kedepan. Ketika Tuhan menakdirkan kita tentang sesuatu maka DIa pulalah yang akan mempermudah jalan kita. Begitu juga halnya saat aku baru akan meninggalkan kampung dan merantau tanpa tahu siapa yang akan kutuju di tanah rantau namun aku tetap yakin bahwa semua akan menjadi normal ketika kita tidak jauh diri dan apatahlagi jauh Tuhan. Mungkin untuk beberapa pekan kedepan, aku akan kembali menelepon windi dan memastikan bahwa semuanya telah berjalan normal.

Memang begitulah adanya hidup. Kekhawatiran selalu saja membayangi saat akan keluar dari zona nyaman meski sebenarnya bahwa diri kita sendiri yang menciptakan kekhawatiran tersebut melalui berita-berita, isu-isu dan sebagainya tanpa kita berserah diri kepada Tuhan. Harusnya saat kecemasan dan ketakutan menghampiri, maka kita rubah semua dalam bentuk doadoa kepada Allah semoga Dia selalu mengiringi perjalanan kita. Satu hal dari determinan hal yang akan menjadi normal adanya adalah kita tidak boleh sama sekali jauh diri dan jauh Tuhan. Tetap saja harus berjalan sesuai koridor yang telah digariskan hingga akhirnya Dialah yang akan menjalankan setiap langkah kita. Perjalanan hidup memang selalu saja berliku namun bukankah jalanan memang seperti itu adanya. Berliku, bergelombang, berbatu bahkan mungkin saja sedikit curam namun yakinlah bahwa semua aka nada jalan lurus yang mulus sampai akhirnya waktu menggiring kita ke tujuan hasil dari buah kesabaran meretas jalan.

source : https://langit11.wordpress.com/tag/perjalanan/

No comments: