Ini
tentang percakapanku semalam dengan windi di telepon. Memang sudah seminggu dia
berada di Jakarta karena beberapa minggu yang lalu dia diterima di salah satu
kementerian di ibukota. Dia bercerita banyak dalam bentuk curhatan-curhatan
tentang ketakutan-ketakutan ala warga ibukota seperti banjir atau macet bahkan
biaya hidup yang mencekik leher. meski seminggu dia sudah berada di Jakarta
namun belum merasakan macet dan banjir seperti yang sering ditampilkan di tv-tv
namun ketakutannya akan hal tersebut amat sangat besar. aku hanya berpesan padanya bahwa semua akan
baik-baik saja dan berjalan normal.
Ini
bukan untuk menulis banyak tentang percakapan tadi malam dengan windi namun
tentang ketakutan yang ternyata ujung-ujungnya berjalan normal. Masih jelas di
ingatanku pada akhir tahun 2012 lalu, seorang kawanku dari Makassar lulus
beasiswa jepang dan sebentar lagi akan berangkat ke sana. Menjelang
keberangkatannya, aku yang mengantarnya di Jakarta. Dalam beberapa potongan
percakapan kami, kawanku tersebut selalu saja menceritakan
kekhawatiran-kekhawatirannya sepeerti apa nantinya di jepang. Apakah akan sulit
beribadah, apakah akan sulit mendapat makanan yang pas, apakah di tahan suhu
dan bagaimana dengan orang-orangnya bahkan tentang kecemasan akan shock
cultures. Saat itu aku hanya berpesan kepadanya bahwa semua akan berjalan
normal-normal saja karena ketika Tuhan telah menakdirkan ketika akan sesuatu
maka Dia sendiri yang akan mengurusnya. Terkesan agak menasehati memang karena
kutahu bahwa kawanku ini jauh lebih paham agama ataupun kearifan-kearifan hidup
namun entahlah tiba-tiba saja aku mengatakan itu kepadanya. Pada akhirnya dia
sedikit lega kemudian kami berpisah saat dia akan berangkat ke gambir menuju
bandara.
Beberapa
bulan kemudian saat dia mulai menikmati perjalanannya di jepang, dia
meneleponku dan mereview semua kekhawatiran-kekhawatiran yang dulunya
mengganggu pikirannya dan benar saja bahwa saat ini semua berjalan normal saja
hingga akhirnya tinggal sebulan lagi dia berada di sana. Akhir bulan ini,
catatan perjalanannya di jepang sudah berakhir karena trainingnya sudah tuntas.
Seperti
itulah kekhawatiran yang dipaparkan windi semalam. Dia begitu amat parno akan
semua hal yang diberitakan di TV namun aku hanya katakana dan amat yakin bahwa
semua akan menjadi normal dalam beberapa waktu hari kedepan. Ketika Tuhan
menakdirkan kita tentang sesuatu maka DIa pulalah yang akan mempermudah jalan
kita. Begitu juga halnya saat aku baru akan meninggalkan kampung dan merantau
tanpa tahu siapa yang akan kutuju di tanah rantau namun aku tetap yakin bahwa
semua akan menjadi normal ketika kita tidak jauh diri dan apatahlagi jauh
Tuhan. Mungkin untuk beberapa pekan kedepan, aku akan kembali menelepon windi
dan memastikan bahwa semuanya telah berjalan normal.
Memang
begitulah adanya hidup. Kekhawatiran selalu saja membayangi saat akan keluar
dari zona nyaman meski sebenarnya bahwa diri kita sendiri yang menciptakan
kekhawatiran tersebut melalui berita-berita, isu-isu dan sebagainya tanpa kita
berserah diri kepada Tuhan. Harusnya saat kecemasan dan ketakutan menghampiri,
maka kita rubah semua dalam bentuk doadoa kepada Allah semoga Dia selalu
mengiringi perjalanan kita. Satu hal dari determinan hal yang akan menjadi
normal adanya adalah kita tidak boleh sama sekali jauh diri dan jauh Tuhan.
Tetap saja harus berjalan sesuai koridor yang telah digariskan hingga akhirnya
Dialah yang akan menjalankan setiap langkah kita. Perjalanan hidup memang
selalu saja berliku namun bukankah jalanan memang seperti itu adanya. Berliku,
bergelombang, berbatu bahkan mungkin saja sedikit curam namun yakinlah bahwa
semua aka nada jalan lurus yang mulus sampai akhirnya waktu menggiring kita ke
tujuan hasil dari buah kesabaran meretas jalan.
![]() |
| source : https://langit11.wordpress.com/tag/perjalanan/ |

No comments:
Post a Comment