January 31, 2015

Kota Ini

Mungkin di kota ini aku menjumpai begitu banyak cerita yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir olehku. Seperti mimpi saja saat mendengar orang yang begitu gampangnya menghakimi orang lain, tentang maling yang ketangkap basah di samping kantorku, tentang teman kantor yang selalu berkonflik dan tentang apa saja yang mungkin akan memberikan kita pelajaran tentang hidup.

Ritme kehidupan yang begitu cepat dan tuntutan yang semakin melambung tidak membiarkan sedikit pun manusia di sini untuk bernafas dan berhenti sejenak melepas penat. saling sikut dan saling lomba dalam hal apa saja. tidak mengherankan ketika arus manusia dalam keruwetan kota ini sering menimbulkan berbagai macam konflik horizontal bahkan tentang hal sekecil apapun.

Sangat mudah untuk menemui orang yang dengan begitu mudahnya meluapkan emosi. orang-orang sepertinya tidak lagi memiliki sedikit kesabaran untuk memaafkan orang lain. cobalah untuk naik bis, busway ataupun angkot, semua orang tidak ada sedikitpun yang melempar senyum. mereka hening dalam keheningan yang artifisial atau bahkan parah lagi yang sibuk dengan hp nya sampai di tempat tujuan. cobalah untuk naik lift bersama kerumunan orang, tidak akan ada saling tegur, bahkan yang ada menunduk sambil hening seperti memikirkan sesuatu yang sangat pelik bahkan menurutku di kota ini, senyuman begitu mahal harganya.

Cobalah untuk memutari kota ini dan mencari alamat. Saat kesasar dan kesulitan menemukan alamat maka coba untuk bertanya ke tukang ojek atau siapa pun yang engkau temui. Aku yakin engkau akan mendapat banyak diantara mereka yang dengan acuh menjawab atau bahkan dengan wajah malas menjelaskan alamat yang engkau tanyakan meski mungkin mereka tahu alamat tersebut. Di sini aku tidak menggeneralisasikan semua orang di Jakarta ataupun tidak sedang mencoba untuk menghayal karena aku sendiri mengalaminya. pekerjaanku sebagai surveyor kantor membuatku harus melancong ke seantero Jabodetabek mencari alamat. Kerapkali aku bertanya ke orang-orang dan tanggapan yang kuterima seringkali mereka dengan wajah masam menjawab pertanyaanku. aku bahkan berpikir bahwa seandainya bisa dibayar, mungkin bertanya pun kita harus membayar di kota ini. ironi sekaligus menyedihkan.

Bagaimana pun kota ini penuh dengan dinamika kehidupan. Jika ingin mencoba nyali untuk menentukan kadar kesabaran sampai dimana batasnya maka sering-seringlah berkendara di kota ini. Jika mampu menjaga hati tanpa kesal sedikitpun saat sedang di jalanan kota ini maka level kesabaran kita sudah teruji. aku bahkan seringkali kesal, jengkel atau apapun itu ketika berkendara dan ada saja yang membuat hati seakan ingin mengumpat.

Inilah Jakarta dengan seluk beluknya. Bagaimanapun juga bahwa kota ini Insya Allah akan menjadi kota tempat tinggal mungkin sampai tua ataupun mungkin 10 tahun ke depan. aku harus belajar ikhlas dan mencintai kota dengan segala seni kehidupan di dalamnya.

January, 30 2015

January 27, 2015

Mas Ed

Aku sering menjumpai orang di setiap perjalanan hidupku. Sudah begitu banyak orang yang silih berganti masuk dalam kehidupanku. Terkadang tidak cocok namun kerapkali pun satu paham. Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau jawa, ada paradigma yang terbongkar dari kepalaku tentang karakter orang jawa dan bahkan kalau Allah mengizinkan maka aku akan mempersunting gadis jawa.

Dulu saat masih berputar-putar di tanah Sulawesi, aku menyangka bahwa orang Jawa adalah orang yang suka menjajah bahkan mereka tidak mau susah dalam hidup. Itu dulu namun sekarang aku tahu dan paham bahwa manusia tidak bisa digeneralisasikan seenak dengkul kita. Dalam hal ini bahwa setiap manusia dari manapun berada dan suku apapun bahkan agama apapun dia, maka dia kan memiliki nurani. Karakternya terkadang dibentuk oleh keluarga yang membesarkannya. itulah kesimpulanku tentang manusia sampai saat ini.

Kembali ke perjalananku yang menemui orang silih berganti. kali ini selama lima bulan di tempat ini. Aku bertemu dengan salah seorang kokarda yang berasal dari klaten. seiring berjalan waktu, kami akrab karena aku sering menemaninya bermalam di kantor pada malam sabtu. Namanya mas E. Setelah lama bercengkerama dengannya, aku tahu banyak tentang dirinya. Dia mempunyai isteri dan seorang anak yang tinggal di kampung. Dia setiap sebulan sekali pulang menengok isterinya. Dia pernah bercerita bahwa dia sudah 10 tahun bekerja sebagai kokarda di kantor ini. Awal dia bekerja di sini, dia doyan dugem, mabuk dan jarang salat bahkan di kaki kirinya ada tatoo. Aku mengenal dia dalam keadaan seperti sekarang. Sudah amat sangat tertib salat bahkan tidak pernah aku menjumpai dia meninggalkan shalat duha di kantor. Merokok pun sudah ditinggalkannya. Setiap kali bekerja, dia sering menghapal Al-Qur'an.

Banyak hal yang membuatku salut kepada mas E. Ketulusannya dalam bekerja dan tidak pernah mengeluh bahkan pemikirannya yang visioner membuatku harus mengacungkan jempol untuknya. Ternyata selama bekerja, dia mengumpulkan uangnya untuk memulai usaha ternak bebek di kampungnya dan hingga di awal tahun ini, dia memutuskan untuk resign dari kantor ini dan pulang kampung melanjutkan usaha ternak bebeknya, berkumpul  dengan anak isterinya.

Terlalu singkat memang perkenalanku dengannya namun sesingkat itu aku bisa mengatakan bahwa dia adalah orang baik. aku sering bermain catur dengannya tapi dia lumayan jenius kalau main catur.

mengenangmasseyangsebentarlagipulangkampung
270115

Tentang Madiun dan Rencana Kita

Ini kebersamaan kami berjalan pulang ke madiun setelah penat dengan ritme hidup di ibu kota. terlalu sayang untuk tidak menuliskan setiap jejak kebersamaan. perjalanan dua tahun bersamamu cukup membuatku banyak belajar tentang hidup dan kesetiaan meski aku juga sadar bahwa ini belum apa-apa karena kita baru merencanakan sebuah kehidupan yang lain. kesetiaan dan kebersamaan bahkan hal yang tulus baru akan menemui ujiannya ketika kita mengarungi kehidupan yang sebenarnya. hanya satu yang kuharap darimu, jangan sekali-kali berubah. aku memang kerapkali marah, dan bahkan seringkali membuatmu menangis namun aku pun tidak akan membuatmu terluka. menangis dan terluka adalah dua hal yang berbeda dek. engkau adalah gadis mungil yang membuatku berarti dan berani melangkah bahkan tentang hidup seperti apa yang akan kita jalani. tidak tergantung dengan materi dan duniawi meski kita berdua pun sadar kita butuh akan hal itu.

Aku ingat saat menemui keluargamu yang menawarkan kita bantuan. aku sadar bahwa engkau memang bertekad memulai dari awal bersamaku karena tidak pernah memaksakan diri untuk menerima tawaran dari tantemu tentang bantuan yang katanya akan dijual murah kepada kita (meski aku sendiri sadar dan mengakui bahwa harga seperti itu amat sangat mahal). dengan tegas engkau berkata bahwa kita mengontrak dulu sesaat setelah menikah dan tidak perlu memaksakan diri untuk membeli rumah.

Dalam hati kecilku pun aku amat sangat setuju bahwa kita tidak mesti untuk memaksakan diri membeli rumah ketika belum cukup. biarkanlah orang berceloteh tentang kita dan kita tetap berjalan menjalani hidup sesuai dengan kodrat yang memang akan kita jalani. aku menyepakati prinsipmu yang tidak mau memberatkan keluargamu. Aku pun menancapkan dalam dadaku bahwa aku tidak akan menyusahkan orang lain. satu hal yang kuhindari adalah berutang budi kepada orang lain dan jangan sampai orang lain mendikte kehidupan kita karena merasa sudah membantu kehidupan kita.

Perjalanan kita sudah sejauh ini dan kita tidak pernah tergantung kepada orang lain. aku hanya menginginkan kita menjalani hidup tanpa harus berharap bantuan dari orang lain termasuk juga tantemu yang menawarkan bantuan. jikalau saja nantinya kita membeli rumah dari dia maka aku harap harga yang kita beli sesuai dengan yang dijual kepada orang lain dan tidak perlu untuk dimurahkan. aku menghindari berutang budi karena yakinlah jika orang lain merasa membantu kita maka ada suatu masa dia akan mengungkapkannya kepada orang lain dan itu yang amat tidak aku inginkan. bahkan tantemu belum apa-apa sudah bercerita banyak kepada keluargamu yang lain bahwa dia akan menjual murah rumah kepada kita, ingat ini belum ada deal loh dan dia sudah menyebar cerita tentang niatnya membantu kita membeli rumah dan apatahlagi nantinya kalau benar-benar kita membeli rumah dari dia.

hidup ini tidak meluluh tentang materi yang tidak ada habisnya. kita hidup sesuai dengan jalan yang dijalani.

kantorrawamangun. 270115
 #LatePost

January 26, 2015

3 Oktober 2015

Kemarin malam, aku ditelepon oleh mama E. Bercerita banyak tentang persiapan pernikahan yang memang sudah lama kami rencanakan. tanggal 3 oktober 2015 adalah waktu yang sudah disepakati untuk acara pernikahan. Kemarin malam pula, mama E menyarankan supaya keluargaku tidak perlu lagi untuk datang melamar, cukup saja saat pertemuan kakakku dengan mama eni beberapa bulan yang lalu. Aku sepakat dengan hal itu karena pertimbangan biaya.

Entah apa yang kurasakan saat mengingat-ingat tanggal 3 oktober. Semua perasaan bercampuk aduk dan bergelora di dalam dadaku. aku tak tahu harus menyebut perasaan itu sebagai perasaan senang, was-was ataupun khawatir. Aku hanya menjalani semua dengan ikhlas dan berusaha untuk tetap mawas diri. Pernikahan adalah sebuah janji suci yang tidak boleh dipermainkan. Tanggung jawab sebagai suami bukan yang yang mudah apatahlagi nantinya menjadi ayah.

Ah, benar-benar khawatir menyelimuti perasaanku.

tibatibateringat3oktober

260115

January 22, 2015

Rasa yang Tertinggal

Ya Allah, semoga aku tidak berada di pusaran orang yang di depan mereka saling bercanda namun di belakang kemudian harus saling menjatuhkan.

Aku tahu disini sudah mulai tidak sehat, setiap dari mereka merasa benar dan saat berhadapan mereka seperti sangat amat akrab namun tidak seperti adanya.

Kuatkan aku untuk tidak berada di dalam arus yang menenggelamkan ini. biarkanlah semua berjalan seperti apa adanya namun semoga saja aku tidak terjebak di dalamnya

Teringat sebuah candaan dosenku bahwa tidak baik berteman dengan orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain.
 
CONTINUED
2201015

January 21, 2015

Ibu yang Berceramah

Tuhan mungkin saja mengarahkanku ke tempat ini untuk bekerja supaya aku belajar banyak hal. Mengendalikan diri dengan semua kondisi yang ada. aku yakin itu. Perjalananku di dunia kerja memang penuh dengan lika-liku dan sejak aku mengamini semua yang kujalani, aku berusaha menemukan satu titik temu bahwa semua ini hanyalah untuk mendewasakanku.

Pertama kali bekerja sebagai DDC GP. Aku dituntut untuk mengendalikan ego. Bagaimana tidak, sebagai lulusan sarjana, aku harus berdiri di pinggir jalan dan berdiri mencari nasabah meski GP bertujuan baik namun tetap saja pandangan orang tentang mencari nasabah adalah hal yang tidak lazim.

Kemudian bekerja sebagai marketing Erlangga membuatku harus menabrak semua aturan yang kubuat dalam hidupku. Mencari pelanggan dengan berbagai macam cara bahkan cara yang tidak dibenarkan dengan nalarku. Aku sudah sering menyogok dan sudah sering mengacuhkan nuraniku saat harus memberikan grasi kepada guru-guru hanya untuk mencapai target jualan.

Pekerjaan yang kulalui sekarang memang sedikit lebih soft. bekerja sebagai staff namun aku harus sadari bahwa bidang pekerjaanku sekarang bergerak di jasa yang sebagian orang masih menganggapnya syubhat. Aku pun masih ragu meski sekarang aku bukan marketing namun tetap saja aliran bisnis ini berasal dari kapitalisasi modal.

Tadi ada momen lucu, bahkan lucu sekali menurutku meski sedikit miris dan aku pun harus diam seribu bahasa menghadapi nasabah tersebut. Sampai akhirnya aku diam seribu bahasa karena ibu itu nampaknya hanya ingin mengeluarkan uneg-unegnya. hingga diakhir pembicaraan, aku tersenyum dan mengatakan semoga ibu sehat dan rejeki lancar.
ibu itu mungkin sedang kesal. ah, sudahlah.

Kantorrawamangun. 210115

January 20, 2015

Keluarga dan Rumah

Untuk seorang pejalan pulang. meninggalkan rumah dalam keadaan hening. segalanya memang nampak menyenangkan namun percayalah bahwa ada masa dimana rumah menjadi istana yang tak tertandingi.

Tidak ada salah memang untuk berjalan jauh. langkah yang gontai tak boleh surut dan bahkan untuk seorang laki-laki di keluargaku, harus mencoba untuk merantau dan menguji dirinya sebagai lelaki meski sekali lagi aku ingatkan bahwa setegar apapun dan sekuat apapun jiwa lelaki, ada masa dimana dia menoleh ke belakang dan merindukan istana kecilnya.

Untuk yang mungkin saja mencoba untuk melupakan masa kecilnya atau pun bahkan berusaha untuk menghapus memori tentang rumah tempat dia tumbuh, yakinlah bahwa mereka telah melakukan hal yang siasia karena rumah tetap melekat dalam sanubari setiap manusia. Rumah menjadi saksi bisu ketika aku mulai tumbuh dan menjadi besar.

Boleh saja bangga bertemu banyak orang, berkawan dengan siapa saja bahkan dengan para manusia yang ditemui di setiap jalan yang ditempuh namun ada satu falsafah yang tidak pernah luntur di kepalaku bahwa " sejauh apapun kakimu melangkah di bumi Tuhan, maka keluarga adalah tempat sebaik-baik kembali untuk bersandar ketika merasa letih."

Dia saat semua kawan yang engkau kenal di dalam perjalananmu menyanjungmu, keluarga terkadang hanya mendoakan yang terbaik untuk dan ketika engkau terjatuh dan tidak satupun temanmu yang menolong maka keluarga akan selalu dengan tangan terbuka memberikan bantuan apapun.

Keluarga layaknya mereka yang dilupakan saat senang dan menjadi sandaran ketika susah.

Ingatlah suatu hal bahwa rumah dan keluargamu jauh di pelosok sana adalah harta yang tak bernilai. Mereka adalah berlian yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun.

keluarga adalah basis hidup seseorang. dia selalu ada untuk setiap hal yang menjadi keluhan maupun kesenangan.
 
 
200115
kantorbumidarawamangun

January 19, 2015

Sebuah Desa

Mengingat kampung dikala sendiri saat jauh di perantauan adalah hal yang lumrah. Dalam keheningan malam, hujan deras dan kesendirian di kamar kos akan menambah suasana syahdu saat mengingat kampung halaman. Tidak mudah memang melupakan kampung halaman yang sudah menyatu dengan sukma diri.

Semalam saat suasana itu datang, hening dan hujan yang gerimis. memoriku berputar kembali ke kampung halaman dan di saat yang bersamaan, aku membaca sebuah artikel di situs kompas tentang kampung halamanku. Lumayan mengobati sedikit rindu yang bergelora namun satu hal juga yang membuatku heran bahwa hampir dua tahun meninggalkan kampung, semua seakan sudah perlahan berubah.  

http://travel.kompas.com/read/2013/01/11/16480535/Menikmati.Alam.Pegunungan.di.Buntu.Lamba

Jalan itu Terjal

3 Desember 2012
Mungkin masa ini yang selalu ingin kuulangi. Beribu kali kutorehkan dalam goresan penaku di masa yang kelam ini. Jika saja setiap manusia diberi kesempatan sekali untuk mengulang suatu masanya maka masa inilah yg kupilih untuk kuulangi.

Dua tahun telah berlalu. Tak terasa adanya namun seperti hakekat waktu yang akan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan orang yang menyesali waktu tak berguna, seperti itulah adanya aku.
Pertemuan dua tahun lalu yang amat kusesali bahkan mungkin salah satu penyesalan terbesarku dalam hidup. Bertemu denganmu mencampakkanku dalam dunia yang tak ingin kupilih.
Aku berada dikota masa itu, kota yang masih asing bagiku meski kelak akan menjadi salah satu kota yang paling kurindukan.

Aku dipertemukan oleh waktu denganmu. Di sebuah kantor kecil sebuah lembaga NGO. Aku duduk diam dan tak banyak berbicara, hanya mengamati setiap orang asing di sekitarku. Aku sempat melihatmu duduk dengan polosnya dan tak pernah terpikir apaapa olehku tentangmu. Hanya satu yang kutahu pada masa itu, aku ingin punya banyak teman.

4 februari 2013
Waktu ada aliran jejak langkah yang tak pernah sedikitpun berhenti walau sejenak, begitu pula waktu membawaku di lembaga NGO tempat pertama kali aku mengenalmu. 2 bulan berlalu seperti hanya kedipan mata. Aku kemudian melanjutkan perjalanan waktuku di perusahaan lain dan anehnya itu dekat dengan kotamu.

Tak ada apaapa memang saat pertama kali menginjakkan kaki di kotamu, dipikiranku bahwa aku punya seorang teman di kota yang baru kujejak.
Langkahku sering gontai karena terhempas jauh dari semua yang telah akrab denganku. Aku harus memulai semua dari awal dan benarbenar belajar mengenali.
Aku kuatkan tekad beribu kali untuk tetap bertahan.

April 2013
Entah dari mana awalnya. Intensitas kita komunikasi semakin sering. Aku tak bisa menerka apa yang sedang terjadi pada saat itu. Yang pasti bahwa sekarang baru kusadari itulah awal dari petaka hidupku yang tenggelam.

Kita saling bertukar cerita dan apa saja yang dialami. Entah perasaan apa namanya namun hakekatnya saat itu bahwa aku telah meretas jalan.
Aku tertegun apa yang merasuki sukmaku. Ataukah semua karena kesombonganku.

Agustus 2013
Kedekatan kita semakin intim. Saat jauh darimu serasa sukma melayang jauh keluar dari jasad, tak ada semangat namun ketika di dekatmu, semua menjadi taman bunga yang mendamaikan. Memang perasaan itu melandaku.

Namun sekali lagi aku berkata perasaan itu telah meluluhlantakkan rasionalitasku. Tidak ada lagi yang tersisa dari isi kepalaku.

25 desember 2013
Awal babak baru cerita kita dimulai. Engkau lulus di sebuah instansi pemerintah di ibukota dan engkau akan meninggalkan kotamu. Semua berjalan begitu cepat.aku masih tetap di kota itu saat engkau sudah berbalik badan ke ibu kota.

Tidak ada perasaan aneh saat itu yang kurasakan. setidaknya untuk beberapa saat, aku bisa meninggalkan nista yang kerap kali terulang. Itu saja. Perpisahan itu kurayakan dengan suka cita meski kutahu hanya sekeja karenaaku berjanji akan menyusulmu. Naif diriku ini.

5 April 2014
Aku benar-benar menyusulmu. Dengan perasaan yang tak menentu karena kutahu semua yang sudah kuhindari akan kembali terjadi. Aku tahu itu.
Hidupku benar-benar dipenuhi tragedi tanpa henti.

Kamarkosrawamangun. 190115  23:23

Pencari Jalan

Serupa memoar pagi yang menggelora. Serupa laju kereta tak terhalang dan serupa pula pesawat yang melayang. Nelangsa menghinggapi dan terkadang merasa kalah dan berjalan mundur. Berbalik badan kemudian gontai melangkahkan kaki. terkadang terlintas untuk kembali pulang.

Layaknya jiwa yang gersang. Mengikuti irama kehidupan yang berputar begitu saja. hingga pada suatu titik di mana dosa yang tak terhindarkan. Hanya lidah yang berucap namun jasad tak kunjung bertobat, inikah yang namanya karma ataupun kualat.

Benarlah kata si fulan, tentang rupa-rupa apa saja

Lorong waktu yang kususuri semakin tak bersahabat. Cahaya remang tak berkilau. Aku berkilah dengan semua khotbah yang tak berguna. nyatanya aku adalah jalang tak berharga.

Pudarlah keluguan yang dulu ada. menggantikan ia yang tersamarkan oleh kemunafikan. Ingin rasanya kuberteriak. Ingin kukabarkan itu semua. Aku ingin lari. Sejauh kaki bisa melangkah

Suatu waktu, aku duduk terdiam. Di lorong waktu yang terdalam. bayang wajah sang ibu menari indah di pelupuk mataku. Menegurku dengan semua dosa yang kuperbuat. Nak, aku ikut pula menanggung semua dosa-dosamu..!" begitu katanya kepadaku. remuk rasanya hati ini. ingin menangis dalam hening.

Perjumpaanku adalah tragedi. Ironi dan menyedihkan sekaligus pertemuan yang paling kusesali. Ingin kuulang semua waktu yang ada, ingin kukembali dan memilih untuk tidak mengenalnya. aku hancur dengan perjumpaan itu.
 
Benarlah apa yang dikatakan Luqman,
ﻳﺎ ﺑﻨﻲ!..ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻔﻬﻢ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ )ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ(، ﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺤﻴﻦ ﻭﺣﺘﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﻳﻤﻜﻦ ﺃﻥ ﻳﻠﻢ ﺑﻬﺎ ﺍﺳﻤﻬﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓ، ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻧﻬﺎ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻟﻪ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺳﻮﻑ ﻳﺄﻛﻞ .ﻟﻜﻢ، ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻜﺮﻩ ﺣﺘﻰ ﺍﻧﻪ ﺳﻮﻑ ﻳﺪﻣﺮ ﻟﻚ ﻟﻘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ{ }

Wahai Anakku..! Jika Kamu Ingin Memahami Arti Dari Sebuah Hikmah (KEBIJAKSANAAN),Maka Jangan Sampai Dirimu Dapat Dikuasai Oleh Yang Namanya Seorang Perempuan,Karena Perempuan Itu Bagaikan PERANG Tanpa PERDAMAIAN,Apabila Dia MENCINTAIMU Maka Dia Akan MEMANGSAMU,Dan Apabila Dia MEMBENCIMU Maka Dia Akan MEMBINASAKAN Dirimu. {Luqman Al-Hakim}.

Dentuman kata mengalun lembut dalam relung hatiku. Memaksaku untuk hidup dalam kekalutan. Aku tahu, ini mungkin saja aku sesali, dan esok tiada lagi. namun daya jiwaku telah berkata, aku sudah terlalu jauh.Aku masih selalu saja menyesali pertemuan yang dulunya menghancurkan prinsipku.

Aku berkata. Karena terlalu banyak saksi bisu tentang semua. aku adalah manusia tak berhati. mengulum semua yang pernah kuajarkan.

KEMARIN ADALAH TRAGEDI, HARI INI ADALAH IRONI DAN BAHKAN ESOK HARI ADALAH PENGULANGAN.

RWMNGN, 190115

January 15, 2015

Masalah adalah Hidup

kepada yang sedang bersedih di ujung senja yang basah
kepada yang menanti asa dalam hening membisu

semua segera akan berakhir,
menutup hari dengan cita yang terkabulkan
kepada diri yang merasa lebih keras
dan kepada semua yang diujung patah asa

yakinlah hujan sebentar lagi berhenti meneteskan airnya
namun tetap bersiap karena esok mungkin dia datang lagi
bersiaplah.
1501015
masalah harus dihadapi,

January 14, 2015

Dont Do It


Hidup kita akan selalu diwarnai dengan kejadian yang tidak terduga, kadang-kadang berbalik dengan yang kita inginkan. Ada rumus 5 JANGAN mudah-mudahan bisa jadi manfaat.
  1. Jangan Mudah Panik, Tenang tapi tidak santai, karena panik tidak menyelesaikan masalah.
  2. Jangan Suka Mendramatisir Masalah.; Sehingga keadaan menjadi tegang karena pikiran kita sendiri, tetap berfikir positif.
  3. Jangan Bersikap Emosional; Karena kemarahan sikap penuh nafsu cenderung mendangkalkan akal sehat. Orang pemarah kata katanya tidak bermutu, keputusan tidak adil, perilakunya juga rendah.
  4. Jangan Pernah Putus Asa dari Pertolongan Allah; Karena tidak ada yang mustahil bagi Allah, walaupun kita tidak bisa mendetksi dari mana arah pertolongan Allah.
  5. Jangan Merasa Berjasa; Sudah tugas kita untuk berbuat amal soleh. apabila ada hasil yang baik, semuanya karena kemurahan Allah,
 Apabila belum berhasil, maksimalkan ikhtair dan serahkan semua ke Allah.

NB. Sumbernya lupa

NASABAH

Menghadapi nasabah memang bermacam karakter, ada yang sabar namuna ada pula yang arogan. namun begitulah lika-liku di staff klaim. salah satu nasabah yang mungkin terlalu arogan adalah fitriana. aku sudah menduga bahwa dia adalah nasabah yang arogan. beberapa kali dengan muka ketus memperlakukan suaminya dengan tidak terlalu sopan dan bicara dengan ketus. terlihat sangat dari wajahnya yang lumayan amat sinis.

akhirnya terbukti juga,urusannya yang terlambat seminggu membuatnya naik pitam. bolak balik dia sms aku dengan nada dan kata yang lumayan sinis dan akhirnya aku menelepon. di telepon, kata-katanya meluncur dengan berbagai macam ancaman, nulis di koranlah, telepon pusatlah, namun aku tetap katakan kepadanya bahwa itu adalah tanggung jawabku.

tak apalah untuk pengalaman kali ini. kadang orang yang datang dalam hidup silih berganti.

140115
Ibu Fitriana

Tentang Novel Rindu

Membaca novel karya Tere Liye memang seringkali menstimulasi perasaan sentimentil tentang apa saja, tentang cinta, benci, rindu dan semua perasaan akan meledak bak bola salju yang menggelinding. Kepiawaian Tere Liye dalam meramu kata per kata seringkali mampu menghempaskan pembacanya larut dalam cerita dan mengambil peran bahkan kita seperti memerankan beberapa tokoh dalam cerita tersebut tergantung suasana yang sedang dialami oleh tokoh dalam cerita.

Begitupun dengan novel Rindu yang baru selesai kubaca. Dari sekian banyak novel karya Tere Liye, baru dua novel yang tuntas kubaca, "Rembulan Tenggelam di Wajah-Mu dan Rindu." Memang masih terlalu prematur bagiku mendeskripsikan semua karya Tere Liye karena baru dua novel tersebut kubaca namun sesingkat perkenalanku dengan karya-karyanya, aku menyimpulkan sedikit bahwa Tere Liye adalah orang yang mengetahui bagaimana cerita langit berjalan, percaya akan momen tak terduga dari Allah dan yang pasti, dua novel karyanya yang sudah kubaca amat sangat berbau sufistik, sesuatu yang 4 tahun belakang ingin sekali kudalami.

Novel Rindu tersebut bercerita tentang beberapa pertanyaan hidup, gaya penuturan yang hampir persis kutemui di novel Rembulan tenggelam di wajahMu. Pertanyaan yang diajukan dalam novel tersebut tentang hakekat hidup. apa itu kebahagiaan, menyikapi nasib dan berpikir positif tentang semua takdir Allah.

Masalah tokoh yang dimunculkan pun bermacam-macam. Ambo Uleng yang mencintai gadis bangsawan dan harus terpisah karena perbedaan status sosial kemudian menderita sakit hati yang begitu mendalam meski pada akhirnya jalan takdir menyatukan mereka. Tokoh Bonda Upe yang terpaksa menjadi WTS karena perilaku ayahnya menjadikannya taruhan di meja judi dan harus menjalani profesi tersebut bertahun-tahun sampai pada akhirnya lepas dari dunia hitam meski harus bergulat dengan pertanyaan hatinya bahwa apakah dia masih diampuni dosa-dosanya. 

Tokoh Daeng Andipati yang memendam kebencian mendalam kepada ayahnya karena pengalaman masa kecilnya yang selalu menyaksikan ibunya kerap disiksa oleh ayahnya dengan siksaan fisik namun disini pula mengajarkan bagaimana ibu Daeng andipati yang mempunyai hanya satu alasan untuk mempertahankan pernikahannya. Ibunya ingin mengatakan bahwa dia tidak pernah salah menikah dengan suaminya yang keras nan bengis. Beberapa tokoh yang lain bertindak sebagai kru kapal yang notabene adalah orang Belanda namun masih amat sangat baik terhadap orang pribumi. 

Oh yah, cerita di novel ini berkisah saat Nusantara masih dijajah belanda. Tokoh lain yang menjadi panutan adalah Gurutta, dia memerankan tokoh yang amat sangat dikagumi karena kedalaman ilmunya dan kearifannya.

Kesimpulan dari dua novel yang pernah kubaca dari karya Tere Liye adalah berjalanlah di muka bumi sesuai aturah semesta. Niat yang baik dan bertindak yang baik. Menerima takdir dengan lapang dada dan biarkan semesta yang mengatur semua tentang perjalanan hidup.

14-1-15


January 13, 2015

Senja dan Hujan

Aku tidak pernah bosan menikmati senja yang bermesraan dengan hujan
Menyatu dalam diam
Romansa yang berbuncah dalam dingin

Kali ini
Senja datang bersama hujan yang syahdu
Di antara mentari yang bersembunyi dalam awan

Aku terpaku
Menatap tetesan hujan di atap, di tanah dan dimana saja dia bersandar
Bau tanah khas senja saat hujan menyapa
Masuk dalam relung sukmaku
Damai

Ah, senja benarbenar merengkuh semua serpihan kenangan
Hujan mengembalikan apa yang telah berlalu
Meski waktu membawanya pergi

Aku, senja dan hujan

130115

January 12, 2015

Sejenak Melepas Beban

Ketika jauh berjalan,
Menepilah sesaat untuk melemaskan urat-uratmu
Ketika penat dengan rutinitas kantormu,
Berhentilah sejenak merapikan memori otakmu

Letih adalah keniscayaan
Maka istirahat adalah penawarnya

120115

Sabar dan Ibu yang Mengomel

Sebenarnya ada tiga hal yang ingin kuceritakan di tulisan ini. Sudah berlalu beberapa waktu yang lalu namun masih tetap saja terngiang di kepalaku, entah karena belum aku tuliskan sehingga kejadian tersebut masih segar menari-nari di memoriku. 
Tentang dua Ibu yang pernah kutemui dan menyolot marah kepadaku dan tentang W dengan sifat sabarnya. Memang hal yang perlu dilakukan ketika marah adalah bahwa ketika kita sedang dikuasai amarah, ketika perlu berpikir beribu kali untuk bertindak maupun berkata.

Sebulan atau dua bulan yang lalu, aku tidak tahu persis tanggalnya namun harinya aku masih ingat. Saat itu malam Sabtu dan aku akan memarkir motorku ke dalam kantor karena pada saat itu, aku berniat menginap di kantor. Tepat di depan pintu kantor, ada sebuah mobil warna putih yang parkir. Aku bahkan lupa mobil apa namun sepertinya honda jazz. Aaat aku akan mengarahkan motorku ke dalam kantor, ternyata mobil tersebut pun akan keluar dan ternyata si empunya adalah Ibu paruh baya berkerudung. Aaat itu aku tidak tahu dia akan mengarahkan mobilnya ke arahku dan merasa jalannya dihalangi, dia seakan membentakku di dalam mobilnya dan dengan bahasa isyarat dan mata yang menyolot seakan mengatakan bahwa mobilnya akan ke arahku karena itu arah keluar dari parkiran. 
 
Aku tidak membalas gertakannya meski aku juga bisa berdalih bahwa mobilnya yang seenak dengkul parkir tepat di depan kantorku. Meski aku tidak mendengar suaranya karena berada di dalam mobilnya namun raut muka dan mata yang menyolot bahkan bahasa isyarat menandakan dia begitu emosional. 
Ah, kota ini memang asing bagi orang-orang sabar.

Kasus kedua tepat di hari kamis sore tanggal 8 Januari 2015. Saat itu baru saja pulang dari kantor sekitar pukul 17:00. Aku dan W janjian untuk bukber di daerah pendurenan. Aku bergegas melaju dari daerah rawamangun ke bilangan kuningan. 
Baru sampai di depan Arion Mall yang hanya berseberangan dengan kantorku, kendaraan sangat padat sehingga motorku melaju dengan lambat. Aku berniat menyalip sebuah bis di depan Arion Mall namun karena amat sempit maka aku ngetem tepat di samping bis yang juga berhenti karena padatnya kendaraan. Tepat di waktu bersamaan, seorang ibu paruh baya dan anaknya yang kira-kira berumur 10 tahun berjalan dari arah berlawanan. saat melintas di sampingku, dia menendang ban motorku sambil mengomel dan muka yang memendam amarah. Aku membuka kaca helm dan menanyakan kenapa kemudian dengan samar-samar dia tetap mengomel sambil berlalu bersama anaknya. Aku kemudian memilih untuk tidak menanggapinya karena hanya mempermalukan diri. 
Ah, lagi-lagi bahkan ibu yang berpenampilan sopan harus meluapkan amarah hanya karena hal kecil.

Hal ketiga adalah tentang W. Dia punya sahabat bernama R. Pernah sekali waktu, si R marah dan mengomel di group WA. Aku yang merasa tidak nyaman membaca chatnya menyarankan agar W keluar saja dari group itu. 
Berselang beberapa lama, hal itu ternyata malah membuat hubungan mereka runyam. Aku merasa bersalah menyarankan dia dulu keluar dari group WA. Aku tahu bahwa sabar dalam segala hal adalah lebih baik daripada menunjukkan amarah. 
Itu yang sedang aku coba bahwa ketika ada yang sedang meluapkan amarahnya, biarkan saja mereka dan jangan ditanggapi.

120115

January 8, 2015

Cukup Ini

serenade nada yang hialng
digantikan dengan hal yang baik baik saja
cukup ini

January 7, 2015

Jiwaku Bersama Waktu yang Menua

ini semua sedang terjadi
dengan apa yang benar menjadi sosok yang menakutkan
bukan karena diri namun hidup yang berliku
aku tidak tahu sampai sejauh mana hati kuat bertahan
dengan kerapuhan jiwa yang bersamaku
dan tentang semua onak.

aku melawan diri
aku melawan semua yang pernah kudengungkan
aku hampir saja bergerak mundur
memilih berdiam diri di gunung, ataupun di bibir pantai
namun tidak
aku bertahan dengan segenggam cita
dan percaya bahwa

pada akhirnya,
pada suatu saat nanti
semua akan berakhir dengan waktu yang menua
aku menggenggam keyakinan itu melebihi semua keyakinan yang pernah kutemui

bisnis ini, orang yang disekitarku
sulit memilih mana yang syubhat,
bahkan menentukan kawan yang sejati
karena semua terkadang menjadi penghianat
bahkan mungkin aku
ah, kerdil amat jiwa ini

waktu yang akan menjawab sampai kapan aku bertahan dengan dunia seperti ini

070115


January 6, 2015

Nasehat

Ketika Yahya bin Mu’adz melihat seorang Fuqaha’ Yang gemar harta benda, ia berkata:
Wahai ahli ilmu dan ahli hadits
Istanamu laksana Kaisar Rum
Gedung-gedungmu seperti istana Raja Persia
Tempat tinggalmu bagaikan kediaman Karun
Pintu-pintu rumahmu (tinggi) bak pintu kaum Luth
Pakaianmu bagaikan jubah Raja Jaluth
Jalan Agamamu tak ubahnya jalan setan
Hasil karyamu sama halnya karya-karya Raja Marwan
Wilayah kekuasaanmu tak berbeda dengan Fir’aun
Hakim-hakimmu suka gegabah dan menerima suapan
Dan para Gubernurmu bodoh tak berpendidikan
Lantas mana yang sesuai dengan ajaran Rasulullah?

Seorang Filosuf mengatakan:
Allah murka atas sepuluh perilaku Yang melekat pada sepuluh pelaku
Sifat bakhil pada orang kaya
Sifat sombong pada orang tak punya
Sifat tamak pada orang berilmu
Sifat tak tahu malu pada perempuan
Sifat cinta harta pada orang tua
Sifat malas pada pemuda
Sifat aniaya pada penguasa
Sifat penakut pada perwira
Sifat ujub pada orang yang zuhud dunia
Dan sifat riya’ pada seorang hamba
Rasulullah Saw bersabda:
Ada sepuluh kesempurnaan Lima di dunia dan lima lagi di alam baka.
Lima hal yang di dunia adalah ilmu, ibadah, Rezeki halal, jiwa sabar dan syukur atas anugrah
Sedang lima hal dialam baka adalah
Dihampiri Pencabut Nyawa dengan ramah tamah
Didatangi Munkar Nakir tanpa gemuruh
Dilimpahi rasa aman saat pembacaan putusan
Dihapusnya kejahatan dan diterimanya kebajikan
Dan melewati shirath secepat kilat
kemudian masuk surga dengan selamat
Abu Fadhl mengatakan:
Allah menamakan Kitab-Nya dengan sepuluh nama:
Al-Qur’an, Al-Furqan, al-Kitab, at-Tanzil, al-Huda, an-Nur, ar-Rahmah, asy-Syifa’, ar-Ruh dan adz-Dzikr
Luqman al-Hakim menasihati putranya:
Jika ingin engkau peroleh hikmah Maka lakukanlah sepuluh langkah
Pertama, sulutlah pelita hati yang telah padam
Kedua, gaulilah mereka yang tak punya
Ketiga, jauhilah forum elit para raja
Keempat, agungkanlah pahlawan tanpa tanda jasa
Kelima, lindungilah para pengungsi yang merana
Keenam, merdekakanlah para hamba sahaya
Ketujuh, ulurkanlah tanganmu pada mereka yang nestapa
Kedelapan, muliakanlah orang-orang yang mulia
Kesembilan, hormatilah para junjungan massa
Dan kesepuluh, jagalah lidahmu saat bertutur kata
Itu semua lebih baik darimu dari harta benda
Untuk berlindung dari kecemasan
Untuk berbekal demi masa depan
Laksana niaga yang menguntungkan
Untuk bersiap diri menghadapi cobaan
Berbenah diri menghadapi kematian
dan ke alam baka dengan penuh keyakinan
Orang bijak berkata:
Jika orang-orang suci ingin bersuci
Dari debu-debu dosa yang menyelimuti
Hendaklah ia penuhi sepuluh piranti
Beristighfar dengan lisan
Disertai hati penuh penyesalan
Tinggalkan maksia seluruh anggota badan
Niati berhenti untuk selamanya
Tumbuhkan cinta pada alam baka
Menjaga diri dari gila harta
Tahan lapar dan nestapa
Tahan dahaga dan bertapa
Sedikit tidur dan  tahan berjaga
Serta tak suka mengumbar kata

Anas bin Malik mengatakan Setiap hari bumi berseru: Wahai manusia!
Di atas punggungku kini engkau merajalela
Dalam perutku nanti engkau akan bermuara
Diatas punggungku kini engkau durhaka
Dalam perutku nanti engkau akan nikmati siksa
Diatas punggungku kini engkau bergelak tawa
Dalam perutku nanti engkau akan menangis penuh iba
Di atas  punggungku kini engkau bersuka cita
Dalam perutku nanti engkau akan berduka lara
Di atas punggungku kini engkau menumpuk harta
Dalam perutku nanti engkau akan menyesali
Di atas punggungku kini engkau makan rezeki haram
Dalam perutku nanti engkau akan dimangsa cacing pita
Di atas punggungku kini engkau besar kepala
Dalam perutku nanti engkau akan hina dina
Di atas punggungku kini engkau berbangga diri
Dalam perutku nanti engkau akan berciut nyali
Di atas punggungku kini engkau mandi cahaya
Dalam perutku nanti engkau akan rasakan gelap gulita
Di atas punggungku kini engkau selalu ditemani
Dalam perutku nanti engkau kan terbaring seorang diri
Rasulullah Saw bersabda:
Banyak tertawa telah menjebak manusia
pada sepuluh konsekwensi
Pertama, padamnya pelita hati
Kedua, musnahnya air muka
Ketiga, membuat setan berbahagia
Keempat, memanggil murak Ilahi
Kelima, dipersulit hisabnya di hari Kiamat
Keenam, tidak diakui Rasulullah sebagai ummat
Ketujuh, didoakan laknat oleh malaikat
Kedelapan, dibenci penduduk bumi dan langit
Kesembilan, dihinggapi penyakit mudah lupa
Dan kesepuluh, dibuka aibnya saat itu juga

Nb. Lupa Sumbernya

Sepiku

biarlah aku membunuh sepiku dalam diam hening. biarlah semua berlalu bersama seonggok cerita yang basi
aku manusia sepi. merenungi setiap kemewahan yang menghancurkan dan merayakan sendiri yang bahagia
anda saja semua seperti adanya
akan hal yang membebaskan
karena manusia
kita adalah bagian dari manusia lain
bahkan bagian dari semua semesta

060115

January 5, 2015

Simfoni Demam

Dek, perhatianmu
semoga tidak menguap bersama waktu yang usang
kemarin,
engkau membelaiku dengan kasih sayang
mengolesi seluruh badanku dengan minyak tawon
menyejukkanku

kuingin engkau ada
entah bagaimanapun kondisiku

dek, terlalu sayu matamu
menyinarkan kesabaran yang tak pudar

aku merindukanmu

050115

January 2, 2015

1 Januari 2015

Awal tahun masehi. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa di awal tahun dan gue pun bukan tipe orang yang terlalu peduli dengan pergantian tahun masehi karena gue yakin semua akan berjalan seperti biasa, namun tidak apalah gue bercerita perjalanan hidup gue seharian selama hari pertama 2015.

Malam tahun baru, gue udah ngorok jam 10 malam. Entah penat atau memang gue yang tuti (tukang tipu, eh salah itukan profesi lamaku. Maksudnya tukang tidur). Ga kerasa gue tidur selama setahun. Rekor tidur yang ga bisa dikalahin oleh siapapun bahkan Valentino Rossi pun gue rasa akan kesulitan mengalahkan rekor gue.

Gue tiba-tiba aja bangun tau-tau udah tahun 2015, gue serasa bagian dari rombongan pemuda Ashabul Kahfi yang tidur di dalam gua selama ratusan tahun. Gue keluar dari kamar kos dan mencari orang melihat bentuk muka jangan-jangan udah ga ada yang gue kenalin, ah syukurlah ternyata ga se tragis pemuda Ashabul Kahfi yang bangun dan zaman berubah.

Disaat teman-teman gue liburan dan plesiran kemana-mana, gue boro-boro  mau ngerencanain liburan, bahkan hari ini di awal tahun, gue udah punya list survey kerjaan kantor yang tertunda. Lokasi di Radin Inten dan babelan bekasi.

Jam 10, gue dah siap dan berangkat ke lokasi, setelah berputar-putar kagak jelas dan bertanya alamat layaknya ayu ting-ting, akhirnya gue nyampe di lokasi survey pertama. Survey kehilangan motor di depan kantor media grafika Duren Sawit dekat dengan halte busway flyover radin inten. Gue nanya ke satpam taman buaran indah tentang kehilangan motor. Satpamnya ramah juga. Setelah dapat informasi yang lumayan akurat dibandingkan dengan berita tv, gue rasa dah cukup. Akhirnya misi pertama gue kelar juga. Saatnya misi kedua yang lebih berat.

Gue melaju ke bekasi dengan motor kesayangan. Seperti rossi yang meliuk-liuk melewati saingan di race. Gue bertanya beberapa kali baru nyampe di lokasi kedua. Lumayan jauh juga dibandingkan jarak dari kamarku ke toilet. Ya iyalah, tuh kan masih dalam satu rumah..hihihi. garing ah. Lanjut lagi ternyata lokasi yang gue survey rumahnya gede banget, gue sampe berpikir ni rumah bisa buat beberapa perumahan. Gue ketemu ama yang empunya rumah. lumayan ramah cuman dah berumur sih, kan lumayan kalau masih muda, bisa gue godain. Ah, dasar otak gue, liat yang bohai dikit dah ngeres.

Si ibu nunjukin tempat parkir motor yang ilang. Gue bengong kok bisa ilang di dalam halaman rumah yang pagarnya tinggi banget mana pagarnya ke gembok pula, Gimana sih pencuri ngambilnya. gue curiga pencuri punya ilmu kanuragan menghilangkan diri bersama motor curian. Mungkin pencurinya adalah murid wiro sableng, iya sih emang sableng kan pencuri gue kalo disuruh jadi pencuri, pengen jadi pencuri hati wanita aja soalnya dah bosen sendiri mlulu. Kok malah curhat sih, cekaceka. Setelah nanya kronologis kejadian bak seorang detektif konan yang baru sembuh dari diare, semua detail gue nanyain. Setelah gue rasa infonya cukup, gue foto lokasi kejadian, gue ngacir pulang. Gue dah serasa detektif amatir yang nanya-nanya sekaligus kayak tukang foto keliling yang suka fotoin rumah orang. Cuaca mendung - mendung gimana gitu serasa pengen di rumah aja.

Gue ngebut ke jakarta selatan. Bertemu teman gue yang selalu minta ditemani. Gue bingung teman gue yang satu itu kok ga mau ditemanin sama tukang ojeg di samping kosnya yah ? Yaiyalah, kan mereka ga kenal. Wekaweka. Akhirnya gue sampe di kosnya. Gue bonceng dia ke pasarraya manggarai. Baru nyampe matraman, hujan ga bersahabat dan turun amat deras. Emang sih gue ma hujan kagak pernah mengikrarkan diri menjadi sepasang sahabat. Gue berhenti di depan toko dan Kami beteduh di bawah atapnya, tanganmu kupegang erat-erat, kenangan ini selalu kuingat. Haha kok jadi lagu gereja tua sih. Kami berteduh berdempet-dempetan di toko penjual kursi, gue lihat wajah penjual begitu sumringah melihat puluhan motor mampir di depan warungnya. Dia udah siap-siap melayani. Bagai cewek yang di PHPin, penjual itu kecewa berat karena kami cuma numpang berteduh. Gue rasa penjual itu dah dongkol sedongkol-Dongkolnya habis makan jengkol.

10 menit kemudian, hujan mulai bersahabat. Gue sih yang ngrasa bersahabat ma hujan karena ga turun lagi. Sempat gue lirik wajah penjual kursi, nampaknya dia sujud syukur karena semua orang yang berteduh di tokonya dah pada cabut. Gue melaju ke pasar raya yang jaraknya udah dekat. Nyampe disana, gue berputar-putar sampe pusing kayak gasing. Pengen sih beli celana tapi pas liat harganya, gue kelabakan. Gue bisa-bisa ga punya modal nikah kalau gini. Emang sih diskon 30+20% tapi tetap aja masih mahal. Kadang gue berpikir diskon di mall cuma nipu, naikin harga baru ngediskon. Alhasil gue ga jadi beli celana setelah ngitung modal.

Gue ma teman gue ngacir ke mall ambassador. Ternyata tutup. Gue mutar haluan ke taman soeropati sampe jam 6 kurang. Trus gue balik ke pendurenan. Habis Maghrib, gue ma teman gue makan di seafood. Pas mesan sih enteng-enteng aja pesan ikan bawal. Kenyang banget iya tapi pas gue bayar, gue serasa lapar lagi, bagaimana tidak, bawal yang gue makan harganya 35 reebooo, tuh baru ikan bawalnya loh. Huhuhuhu. Niat irit malah menjerit.

Gue antar pulang teman gue habis itu gue balik ke kos. Di sepanjang perjalanan masih ada sisa-sisa aroma tahun baru karena petasan tidak henti-hentinya meletus. Dah kayak perang dunia kelima. Kan PD 3 ma PD 4 blom.hehehe.

Gitulah kisah gue di awal tahun 2015. Tragis, ironis sekaligus menyedihkan layaknya romansa india yang menguras emosi, gue aktor utamanya kayak shah rukh kan. Emang sih gue beda-beda tipis ma doi.

Ah udahlah, gue dah blepotan.
020115 06:03

January 1, 2015

Maafkan Aku

Maafkan aku tentang semua cerita pertemuan kita. Harapan dan cerita yang dibagi bersama.
Maafkan tentang semua harapan yang engkau selipkan dalam doamu disetiap langkahku
Bukan merasa engkau berharap ataupun membagi rasa
Aku menganggapmu tidak lebih dari seorang adik kecilku.
Bukan bermaksud untuk mempermainkan rasa yang ada papadamu.

Katamu aku menghapus semua jejak memori bersamamu
Pikirmu aku sedang mencoba melepaskan semua yang pernah engkau jumpai di diriku
Tidak, bahkan sama sekali aku tidak sedang mencoba.

Aku hanya tidak ingin meninggalkan luka menganga di hatimu.
Aku tidak ingin itu terjadi
Karena satuhal yang harus engkau tahu,
Aku sedang merencanakan kehidupanku yang baru
Dengan seorang gadis pilihanku di pulau ini.

Akupun tidak yakin engkau sedang menantikan harapan untukku
Ataupun merasa bahwa engkau menginginkan serpihan hatiku.
Aku hanya ingin menjaga, apatahlagi engkau adalah perempuan.

Aku hanya sedang menjaga komitmenku dengan gadis pilihanku.
Maaf semua media sosial milikku kujauhkan untuk menjaga komitmenku
Tapi bukan berarti melupakanmu.

Maaf sekali lagi.
Semoga kita berjalan di kehidupan masing-masing yang bahagia.


Setelah meneleponmu malam ini dan mengkonfirmasi semua
Mungkin setelah ini aku bakalan jarang menghubungi dirimu


#maafdektarypyup
010115 22:15


Kawan yang Kukenal

Hidup adalah tentang berperasaan dan menghargai.

Hidup adalah tentang bagaimana menganggap setiap orang apatahlagi bagi orang yang pernah dijumpai dan berteman. Bukan apa karena ada saja hal yang merusak setiap hubungan yang pernah terjalin, entah itu intim ataupun hanya sekedar sebagai kenalan biasa.

Aku adalah salah satu orang yang berusaha untuk menghargai setiap orang yang pernah hadir dalam kehidupanku. Aku tidak akan pernah melupakan bahkan saat ruang yang membatasi. Meski terkadang orang yang dianggap kawan seringkali tidak beranggapan seperti itu terhadap kita.

Lupakanlah tentang keberhasilan yang kita raih dan tentang nama besar yang melekat bahkan popularitas yang menjulang ketika saat itu masih ada perasaan tidak menghargai. Aku mungkin terlalu berperasa atau bahkan terlalu berbasa basi namun tidak pernah ada tertinggal rasa dendam dalam hati.

Aku mengenal beliau sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di kampus merah, bahkan siapa yang tidak mengenal beliau dikalangan mahasiswa baru sebayaku. Mantan pimpinan organisasi dan terkenal kritis di kampus adalah modal menjadi terkenal sebagai mahasiswa panutan. Lama kelamaan aku pun arab dengannya. Banyak belajar kepadanya. Itu yang aku ingat dari memori keberkenalan kami di kampus merah.

Akhirnya beliau menjadi dosen dan menikah dengan seniorku pula. Dua senior yang kuhormati. Kemudian mereka mempunyai anak yang keren dan kutahu itu karena paradigma mereka yang keren pula dalam mendidik anak-anak mereka.

Meski ruang yang terlalu jauh untuk berinteraksi, aku masih sering stalking sosmed miliknya ataupun blog pribadinya karena kekagumanku terhadap cara berpikirnya. Benar saja, blognya dipenuhi dengan tulisan-tulisan yang sangat inspiratif. Aku akui beliau memang piawai dalam menuliskan kisah entah itu kisah anak-anaknya atau setiap momen yang dijumpai dalam kehidupannya. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa dekat dengannya.

Sampai akhirnya tadi, aku menelepon seorang kawan yang kebetulan nginap di rumahnya. Bercerita panjang lebar. Saat asyik bercerita, kawan tersebut memintaku berbicara dengan beliau. Namun tak terduga, beliau katanya tidak mau bicara denganku. Entahlah apa alasannya bahkan sekedar berbasa basi pun beliau tidak sudi. Semua hal mengenai dirinya langsung luntur di kepalaku. Meski aku akui beliau keren dalam setiap pemikirannya namun ada hal kecil dalam hal penghargaan yang beliau tidak lakukan. Apa salahnya berbasa-basi atau sekedar menanyakan kabar.

Aku bandingkan dengan beberapa rekan sejawatnya yang masih di Jogjakarta, bahkan mereka bisa menghargai dan saat kutelepon masih berbasa-basi denganku. Atau mungkin beliau menganggap bahwa tidak ada yang penting untuk dibicarakan denganku dan hanya menghabiskan waktunya. Ah terlalu naif kurasa mengingat selama ini beliau memaklumatkan dirinya sebagai orang yang peduli terhadap siapa saja.

Setelah ini, mungkin saja ada hal yang bisa kupetik bahwa belajarlah untuk menghargai siapapun. Tidak mesti dengan menunjukkan kepedulian yang retorik namun cukup menyapa setiap orang.
Ah sudahlah. Semua orang punya persepsi masing-masing.

Beliau yang sering dipanggil dengan sebutan kmrd
010115 22:05