August 24, 2016

Tentang Berpulang

Hidup adalah cerita tentang penantian untuk berpulang bukan tentang pertemuan. Selalu saja ketika ada yang mendapat giliran apatahlagi seorang yang diakrabi, maka diri akan bersedih. Saya selalu berandai-andai seandainya saja perpisahan itu tidak ada namun toh itu bukanlah hidup jika abadi.
 
Sabtu malam kemarin, kakak laki-laki dari ibuku mendapat giliran dipanggil Ilahi. Ada rasa pilu di sudut hatiku mendengar kepergian beliau. salah satu saudara ibuku  yang dekat dengan Ibuku. Subjektif memang alasannya kenapa saya menaruh respek kepada beliau namun toh bukankah semua orang memang memandang kecintaan mereka secara subjektif.

Bukan tanpa alasan kenapa saya menyimpan sedih mendengar kepergiaannya. Sejak kecil beliau selalu ada ketika Ibuku butuh, beliau hadir sebagai sosok kakak bagi Ibuku dan tak terhitung bantuannya kepada keluargaku.

Beliau menjaga silaturrahim dengan istiqomah. Sehabis pulang shalat maghrib, beliau selalu saja menyempatkan mampir di rumahku entah sejenak atau bahkan sampai menjelang isya. Beliau akan selalu ada mendengarkan masalah yang sedang dihadapi Ibuku.

Beliau mempunyai 12 orang anak dan menghidupinya dari bertani tanpa sekalipun mengeluh. Sesuatu yang langka bagi pasangan suami isteri sekarang yang tidak berani mempunyai banyak anak karena ketakutan-ketakutan akan kekurangan materi, jangankan berani mempunyai anak sampai selusin, 3 ataupun 4 anak masih banyak yang mempertimbangkan masalah nafkahnya. Namun beliau tidak pernah ada pertimbangan seperti itu karena kekuatan iman bahwa toh semua rezeki sudah disiapkan semesta bagi calon penghuninya.

Tidak ada lagi paman saya yang selalu menyambutku dengan senyuman saat mudik, tidak ada lagi yang menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan usil dan hal-hal lain yang selalu kurindukan darinya.
 
Selamat jalan om, semoga Ilahi selalu menyertaimu dengan maghfiranya. Menerima semua amalan baikmu dan mengampuni semua khilafmu.

Cipaku, 24 Agustus 2016