Barusan di lampu merah mampang. Kebetulan ada Andong yang berhenti terjebak lampu merah. Kuda terlihat begitu letih dengan mata menggunakan pelindung. Mungkin seharian menarik penumpang. Ada rasa iba melihat kuda seperti itu. sekilas pandanganku berpindah ke empunya yang juga terlihat penat. Oh, lebih iba lagi melihat pemuda yang mungkin seumuran denganku. mungkin isterinya sedang menunggu uang jajan.
Sekian menit kemudian, lampu hijau menyala pertanda kendaraan akan segera dipacu demikian pula halnya Andong tersebut akan beranjak. Namun rasa iba yang terbersit di dadaku beberapa menit yang lalu sirna tak bersisa mendengar umpatan si lelaki yang merasa terhalang oleh taxi silver. Entah apa yang dikatakannya namun begitu jelas terdengar di telingaku lelaki tersebut meneriaki taxi yang perlahan memacu gas mobilnya. Menurutku tidak mungkin sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dengan serta merta langsung tancap gas ketika lampu hijau menyala.
Ah, entahlah. mungkin si Lelaki terburu-buru atau bahkan sedang ada urusan yang mendesak namun menurutku tidak semua keterburu-buruan tersebut diselesaikan dengan umpatan bahkan terhadap orang lain.
Pemandangan seperti itu memang kerap terlihat oleh mataku di kota ini. Orang seperti merasa menjadi lebih penting dari yang lainnya. mereka terburu-buru dikejar waktu, deadline pekerjaan, atau apalah sehingga saat merasa terhambat oleh yang lain, umpatan adalah cara terbaik bagi Mereka, atau mungkin termasuk aku, untuk melampiaskan perasaan. Di kota ini, kebanyakan dari kami seperti robot. Bekerja dan bekerja sehingga hampir saja mereduksi diri kami sendiri sebagai manusia. Namun di kota ini pula, aku selalu percaya bahwa mereka yang kuat dan masih mempertahankan identitasnya sebagai manusia adalah sang juara. Bagaimana tidak, di kota inilah, godaan sebagai manusia berada disetiap celah.
Oke, aku akan belajar mempertahankan nilai kemanusiaanku di kota ini
Mampang, 29 Januari 2016
Sekian menit kemudian, lampu hijau menyala pertanda kendaraan akan segera dipacu demikian pula halnya Andong tersebut akan beranjak. Namun rasa iba yang terbersit di dadaku beberapa menit yang lalu sirna tak bersisa mendengar umpatan si lelaki yang merasa terhalang oleh taxi silver. Entah apa yang dikatakannya namun begitu jelas terdengar di telingaku lelaki tersebut meneriaki taxi yang perlahan memacu gas mobilnya. Menurutku tidak mungkin sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dengan serta merta langsung tancap gas ketika lampu hijau menyala.
Ah, entahlah. mungkin si Lelaki terburu-buru atau bahkan sedang ada urusan yang mendesak namun menurutku tidak semua keterburu-buruan tersebut diselesaikan dengan umpatan bahkan terhadap orang lain.
Pemandangan seperti itu memang kerap terlihat oleh mataku di kota ini. Orang seperti merasa menjadi lebih penting dari yang lainnya. mereka terburu-buru dikejar waktu, deadline pekerjaan, atau apalah sehingga saat merasa terhambat oleh yang lain, umpatan adalah cara terbaik bagi Mereka, atau mungkin termasuk aku, untuk melampiaskan perasaan. Di kota ini, kebanyakan dari kami seperti robot. Bekerja dan bekerja sehingga hampir saja mereduksi diri kami sendiri sebagai manusia. Namun di kota ini pula, aku selalu percaya bahwa mereka yang kuat dan masih mempertahankan identitasnya sebagai manusia adalah sang juara. Bagaimana tidak, di kota inilah, godaan sebagai manusia berada disetiap celah.
Oke, aku akan belajar mempertahankan nilai kemanusiaanku di kota ini
Mampang, 29 Januari 2016

