January 28, 2016

Andong

Barusan di lampu merah mampang. Kebetulan ada Andong yang berhenti terjebak lampu merah. Kuda terlihat begitu letih dengan mata menggunakan pelindung. Mungkin seharian menarik penumpang. Ada rasa iba melihat kuda seperti itu. sekilas pandanganku berpindah ke empunya yang juga terlihat penat. Oh, lebih iba lagi melihat pemuda yang mungkin seumuran denganku. mungkin isterinya sedang menunggu uang jajan.

Sekian menit kemudian, lampu hijau menyala pertanda kendaraan akan segera dipacu demikian pula halnya Andong tersebut akan beranjak. Namun rasa iba yang terbersit di dadaku beberapa menit yang lalu sirna tak bersisa mendengar umpatan si lelaki yang merasa terhalang oleh taxi silver. Entah apa yang dikatakannya namun begitu jelas terdengar di telingaku lelaki tersebut meneriaki taxi yang perlahan memacu gas mobilnya. Menurutku tidak mungkin sebuah mobil yang berhenti di lampu merah dengan serta merta langsung tancap gas ketika lampu hijau menyala.

Ah, entahlah. mungkin si Lelaki terburu-buru atau bahkan sedang ada urusan yang mendesak namun menurutku tidak semua keterburu-buruan tersebut diselesaikan dengan umpatan bahkan terhadap orang lain.

Pemandangan seperti itu memang kerap terlihat oleh mataku di kota ini. Orang seperti merasa menjadi lebih penting dari yang lainnya. mereka terburu-buru dikejar waktu, deadline pekerjaan, atau apalah sehingga saat merasa terhambat oleh yang lain, umpatan adalah cara terbaik bagi Mereka, atau mungkin termasuk aku, untuk melampiaskan perasaan. Di kota ini, kebanyakan dari kami seperti robot. Bekerja dan bekerja sehingga hampir saja mereduksi diri kami sendiri sebagai manusia. Namun di kota ini pula, aku selalu percaya bahwa mereka yang kuat dan masih mempertahankan identitasnya sebagai manusia adalah sang juara. Bagaimana tidak, di kota inilah, godaan sebagai manusia berada disetiap celah.

Oke, aku akan belajar mempertahankan nilai kemanusiaanku di kota ini

Mampang, 29 Januari 2016

January 19, 2016

Sukabumi

Saya orang yang tidak terlalu menikmati perjalanan alam jika terlalu banyak orang. entah kenapa seperti ada yang tereduksi meresapi ayat-ayat Alam ketika begitu banyak Manusia. sudah beberapa kali Aku piknik dengan teman kantor, entah saat masih Jawa Timur bahkan sekarang saat sudah di Jakarta, teman kantor kerap kali mengajak liburan. namun itu tadi, Aku selalu tidak menikmatinya jika terlalu banyak orang.

Menikmati alam bagiku seperti menelusuri kembali masa lalu. seperti memungut setiap cinta di masa lalu yang terlalu sayang untuk dilupakan. ya Aku memang tumbuh di Pedesaan yang masih asri. hari-hariku kuhabiskan di Gunung ataupun di sungai. bagiku, terlalu indah semua itu.

Sejak memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kota kemudian merantau ke Ibu kota, praktis aku hanya bisa menyatu dengan sekumpulan pohon raksasa dari beton, arak-arakan kendaraan dan bisingnya hidup perkotaan. pilihannya lain untuk menikmati hutan, gunung ataupun pantai hanya ketika liburan.

Sudah 10 tahun Aku hidup di perkotaan, sekarang Aku bahkan berada di Ibu kota. sudah pasti lebih pengap dan padat dari kota Makassar. Aku yang setiap harinya harus bangun pagi dini hari kemudian berjibaku dengan padatnya jalan untuk sampai di kantor begitupun ketika sore menjelang, perjuangan pulang ke rumah seperti halnya mengarungi samudera lautan. terengap-engap ketika sampai di rumah.

Awalnya, Aku merasa aneh melihat pekerja di kota ini yang rela membayar mahal demi menikmati Alam. mereka plesiran kemana-mana dengan biaya yang begitu mahal disaat yang sama, suasana yang mereka ingin nikmati bisa kurasakan dengan sepuas-puasnya ketika masih di kampung. Lama-kelamaan, Aku mafhum dengan mereka yang merogoh kocek dalam-dalam demi menikmati Alam, bagaimana tidak, kota ini menggilas ketenangan dan pada dasarnya, Manusia suka menyatukan dengan Alam. Aku kemudian masuk dalam gerombolan pekerja yang harus mengeluarkan duit untuk bisa menikmati Alam.

Kemarin, teman kantorku berlibur ke sebuah perkampungan di Sukabumi tepatnya di Citatih. Aku ikut serta bersama dengan 30 orang teman kantor. kami berangkat dari Jakarta tepat pukul 07:00 WIB. bermacet ria di sepanjang Tol dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 13:00 WIB. waktu yang terlalu lama karena normalnya, waktu tempuh hanya sekitar 3 jam ketika jalanan tidak macet.

Kami kemudian istirahat dan makan siang, setelah itu, ada Games yang menurutku tidak terlalu menarik. Aku sering berpikir bahwa hidup ini memang paradoks. orang kota membayar demi bisa merasakan suasana pedesaan sedangkan orang Desa mengeluarkan orang demi merasakan kehidupan di kota. Games yang kami mainkan pun sebenarnya permainan sederhana yang kami mainkan dulu di kampung tanpa harus keluar biaya. senja menjelang, kami istirahat untuk mengumpulkan tenaga demi persiapan rafting besok harinya.
 



Malamnya ada organ tunggal yang mengiringi makan malam sampai pukul 23:00 WIB. di kampungku dulu dikenal sebagai candoleng-doleng dan itu hanya ada ketika ada acara nikahan. 

Esok harinya, kami bersiap rafting. Aku melihat wajah sumringah dari teman-temanku ketika akan rafting sedangkan Aku biasa saja. Aku sudah merasakan sensasi rafting saat masih bocah, kami memakai ban dalam Mobil yang dipakai sebagai pelampung. Aku bersama teman-teman masa kecil menikmati ketika sungai banjir. kami berangkat ke Hulu sungai dan memulai petualangan sampai di Hilir. sensasi masa kecil yang selalu kuingat.



Hampir tidak ada bedanya sungai yang di Citatih dengan sungai yang ada di kampungku. kami menghabiskan 2 jam sampai di hilir kemudian naik angkot kembali ke penginapan.

Kami makan siang kemudian bergegas pulang kembali ke Ibu kota. Bis membawa kami pukul tepat  pukul 14:00 WIB dan sampai di kantor saat jarum jam menunjukkan pukul 19:00 WIB.
 



Perjalanan Alam yang lumayan membuatku menyegarkan pikiran-pikiranku dan bernostalgia dengan kehidupan masa kecil. Alam selalu menawarkan penawar bagi pikiran dan badan yang penat dengan kehidupan kota.

Pulogadung, 18 Januari 2016

January 14, 2016

14 Januari 2016

Hari yang melelahkan dengan berbagai pikiran yang kalut. Tentang banyak hal yang terjadi hari ini. Kemanusiaan yang tercabik dan keamanan yang menjadi pertaruhan demi segelintir kaum yang mengatasnamakan keagungan Tuhan, entah Tuhan mana yang mereka sedang perjuangkan.
kebenaran seperti apa yang sedang diperjuangkan dengan mengorbankan nyawa orang lain. tidak pernah ada rumus kebenaran dengan jalan medzalimi orang lain. tentang tafsiran kitab suci yang menurut Saya keliru.

Bom menghentak dan menimbulkan teror bagi Masyarakat luas. memang sih korbannya tidak seberapa dibandingkan dengan korban bencana Tsunami namun psikologi Masyakarat luas yang sedang terguncang. semua orang akan merasa paranoid berada di kerumunan atau bahkan di rumah sendiri. 

Ah, Saya kehabisan teori untuk menggambarkan betapa ngerinya Manusia yang memilih untuk berperang daripada berdamai atas nama kesucian. bulshitt menurutku apalagi ditengah Negeri yang aman.

kita seakan ingin menyamai Tuhan bahkan melampaui kuasaNya. kebenaran sepertinya berada di tangan manusia, ah ironi. semua merasa paling benar dan menganggap kebenarannya mutlak. okelah, dalam hidup memang kita harus meyakini kebenaran yang menjadi pedoman hidup namun bukan berarti itu melegitimasi dalam hal menyakiti orang lain karena kebenaran yang kita anut seharusnya hubungannya dengan Tuhan. kebenaran sejatinya yaitu mengasihi ciptaan Tuhan.

Aku benar-benar meracu dengan kejadian kemarin. meski ada teori lain yang menganggap bahwa kejadian tersebut karena tidak adanya keadilan di Bumi ini namun menurutku tidak seharusnya menjustifikasi untuk merusak. bolehlah kita kecewa dengan pemimpin yang tidak adil namun melakukan tindakan yang kemudian malah menghancurkan seperti memperburuk keadaan.

ini teoriku dan jangan diikuti bahwa kejadian-kejadian tersebut lebih didasari atas kepentingan ekonomi politik. mungkin loh ya. 
mudah saja menempatkan diri pada orang lain namun kali ini, rasanya sangat sulit untuk mengerti tindakan meneror dengan alasan kesucian Tuhan apatahlagi di tengah Negeri yang tidak terjadi konflik.

Rawamangun,  16 Januari 2016

January 11, 2016

Ironi Kehidupan

Untuk sebuah keadaan yang benar membuatku dalam kondisi stagnan. berpikir tentang diri sendiri dan mengenali siapa Aku. barangkali hanya jantung yang terus berdenyut sehingga Aku masih ada selebihnya Aku tidak lebih dari sekedar robot yang terus bekerja demi sekedar mengisi perut, tidak ada yang lebih.

Pikiran adalah hal yang paling memberatkan. menginginkan apa saja yang absurd dan bahkan tidak dimanfaatkan. untuk hanya?? sekedar untuk mengukuhkan ego yang tidak ada habis-habisnya untuk diikuti. 

Belajar menafikan ego adalah perjuangan paling berat. Manusia terlalu sering menonton fenomena hidup yang abdsurd seakan itulah inti namun menipu. Materi dan kekuasaan seringkali menjadi simbol ego paling tinggi. kita sedang mengejar fatamorgana kehidupan, bukan yang hakekat.

Ketika sudah terlalu jauh berjalan dan meyakini semua yang diimpikan hanyalah sampah, maka kita butuh mundur beberapa langkah untuk menyusun kembali visi hidup. tidak ada yang mustahil memang namun butuh tekad yang kuat dan perjuangan yang istiqomah.

Meracu lagi



January 8, 2016

City of God

Saya harus mengakui bahwa untuk urusan film, Saya selalu saja ketinggalan. beberapa film bagus sering kali tidak Saya tonton meskipun sudah tersedia di PC teman kantor hasil downloadan. Saya baru menonton ketika tidak ada kegiatan lain.

City of God adalah film yang sudah luaaamaaa sekali dan baru Saya tonton semalam. dirilis pada tahun 2002, tuh kan film lawas banget. ketahuan kalau memang Saya bukan pencinta film hanya penonton amatiran. ha.ha, garing...!!!

Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat kelas bawah di Brasil. Senjata, Seks, Kriminal sudah sangat diakrabi oleh masyarakat disana bahkan ketika mereka masih berumur sangat belia. namun jangan lupakan pula olahraga Sepakbola disana yang mengangkat nama Brasil di kancah Internasional, di film tersebut tergambar dengan jelas bahwa Sepakbola menjadi roh Masyarakat. di jalan-jalan dan di tanah lapang akan kita jumpai sekelompok bocah yang bermain bola.



January 5, 2016

Ada Syurga di Rumahmu

Terkadang kita penasaran terhadap sesuatu karena pemberitaan yang miring atau bahkan kontroversi. film "Ada Syurga di Rumahmu" adalah judul film yang diproduksi oleh Mizan Production. sesaat setelah film ini launcing, ada pihak yang mencurigai bahwa film ini disusupi oleh paham Syiah. 
 
Berita ini amat sangat provokatif menyatakan bahwa film ini disusupi paham Syiah hanya karena Mizan Production selaku produksi filmnya. namun mereka tidak menjelaskan secara gamblang kenapa Mereka menuduh film tersebut bernuansa Syiah.

sedari awal, Saya sudah tertarik menonton film ini namun baru terwujud kemarin malam. Saya memang sedang keranjingan menonton film sejak membeli speaker notebook akhir pekan lalu. beberapa film yang tersave di PC kantor kucopy entah film barat ataupun Indonesia.

Saya teringat kontroversi film tersebut dan mencari di folder Film di PC teman namun tidak ketemu. satu satunya jalan adalah mendownload meski jaringan Internet di kantor terlalu lambat. butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan download film tersebut.

Cerita dari Film tersebut mengambil latar di Palembang sekitar pinggiran Sungai Musi. awal mula menonton film tersebut, kepalaku dipenuhi dengan persepsi bahwa film ini bercerita tentang Nikah Mut'ah, Buka Puasa yang ditunda, Shalat di Kuburan ataupun shalat yang dijamak meski tidak sedang bepergian. namun sama sekali tidak ada cerita seperti itu bahkan menurutku, cerita film ini amat sangat sederhana yaitu konflik tokoh utama seorang lulusan pesantren yang harus memilih antara mengejar cita-cita atau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ramadhan kecil hidup sederhana di Pinggiran Sungai Musi. saat masuk sekolah, orang tuanya memutuskan untuk mengirimnya ke Pesantren. perpisahan dengan kedua orang tuanya di usia yang masih belia membuatnya begitu sedih. di Pesantren, Ramadhan terkenal sebagai Santri yang cerdas bahkan setiap malam Jum'at, Dia bersama 2 orang temannya ke warung dekat Pesantren hanya untuk menonton ceramah.

setelah tamat Pesantren, Ramadhan mencoba merantau ke Jakarta mengikuti audisi casting. Ramadhan dilanda dilema mengingat Ibunya yang sedang sakit-sakitan di Kampung. pada akhirnya, Ramadhan memilih untuk pulang kampung dan berbakti kepada Orang tuanya, menjadi penceramah di Kampung.

pada akhir cerita, Ramadhan menjadi Dai nasional yang sering tampil di TV Nasional menyampaikan tauziahnya. 

Sampai sekarang, Saya masih tidak mengerti kenapa beberapa kalangan yang mengaku Agamais menganggap Film tersebut bernuansa ajaran Syiah, ataukah hanya karena Mizan Production sehingga mereka dengan mudahnya melabeli karya tersebut. selama ini memang Mizan Group dianggap sebagai representasi Kelompok Syiah di Negeri ini. ah, betapa tidak adilnya kita ini.

Rawamangun, 05 Januari 2016

January 4, 2016

Atau Apalah

Sudah 2016 dan Saya harus menulis sesuatu di ruang ini entah apa yang nantinya akan menjadi sampah berikutnya setidaknya terisi. Saya memang pengejar kuantitas dan mencampakkan di tong sampah kualitas.

Oke, 2015 sudah menjadi kenangan yang tidak perlu untuk disesali dan juga tidak perlu dibandingkan dengan tahun sekarang. setidaknya hanya menjadi pengingat bahwa waktu terus berlari sesuatu syariatnya. Saya dan kita semua tidak punya kuasa sedikitpun untuk menghentikan waktu hanya saja mungkin sebagai renungan bahwa kita semakin menua.

Saya khususnya sudah harus memulai untuk merenungkan  dan menetapkan seperti apa hidup yang harus kujalani. Bagaimana tidak, semua sudah tidak seperti pada mulanya, orang tua semakin menua bahkan Ayah yang dulunya masih kuat mengolah sawah, di tahun ini memutuskan untuk berhenti dan menyerahkan pengolahan sawah ke saudaranya. Saya tidak tahu pasti apa alasan sebenarnya bahkan untuk sekedar bertanya pun Saya tidak sanggup namun setidaknya dari analisaku bahwa ada 2 alasan pokok bagi Ayah sehingga memutuskan untuk berhenti mengolah sawah. 

Pertama karena kekuatannya yang sudah semakin menurun. bagaimana tidak, usia Ayah sudah memasuki 64 tahun. alasan kedua karena bebannya untuk membiayai anak-anaknya sudah berkurang. di akhir tahun kemarin, adik Saya yang bungsu sudah menyelesaikan kuliahnya di UIN, itu berarti bahwa Ayah sudah tidak punya beban membayar SPP setelah Beliau berhasil menamatkan keenam putra-putrinya.

Kemudian Ibu, beliau juga semakin beranjak renta. Banyak perubahan di guratan wajah Ibu yang menandakan bahwa umurnya semakin sepuh. Saat Pulang Kampung 2 minggu lalu. Saya sering memandangi wajahnya yang teduh, rambut yang memutih dan lipatan kulit di wajah yang semakin bertambah. Namun Saya banyak bersyukur dengan keadaan Ibu sekarang, wajahnya masih tetap sumringah apatahlagi ada 2 cucunya yang menjadi penyemangat hidupnya. Ibu juga masih kuat berdagang di pasar 2 kali seminggu. ah Ibu, selalu merindukan wajahmu.

Tahun 2016 pula menyadarkanku bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang kupikul. Saya bertanggung jawab atas Gadis yang telah resmi menjadi Isteri. bukan perkara mudah karena semua yang ada pada dirinya adalah cermin dari sikapku sebagai seorang kepala keluarga.

Yah sudah kalau begitu, saya akan menghadapi 2016 ini dengan kepala tegak apapun resikonya. Toh semua hal akan baik-baik saja, hanya kecemasan di alam pikiran yang membuat hidup semakin njlimet. Toh pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan bahwa hidup hanyalah permainan Tuhan dimana kita hanya diharuskan bermain secara fair tanpa harus menambah atau mengurangi peran yang diamanahkan kepada kita.

tuh kan nyampah lagi, oke sampai disini aja kalau gitu
Rawamangun, 4 januari 201 13:36