Pengarang :
Zara Zettira ZR
Penerbit :
Esensi, Erlangga Group
Tahun :
2008
Hal : 280
Don’t be concerned the soul,
embrace and manifest it in the stillness of the mind
A gate of epiphany of silence and stillness
Like a dream, penetrating into the mind
“saat inilah yang kita miliki karena kemarin
bukan lagi milik kita dan hari esok belum tentu kita jumpai”.
Ini adalah novel pertama dari Zara Zettira ZR yang kubaca yang
kemudian langsung membuatku jatuh cinta akan polesan kata-katanya yang amat
apik. Bukan hanya penyajiannya namun lebih dari itu, ceritanya sangat sarat
akan makna kehidupan. Zara Zettira sangat pawai dalam mengkombinasikan
pengalaman hidupnya dengan imajinasi yang sangat liar lalu kemudian
menghasilkan karya yang sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja. Zara
Zettira memang mengaku bahwa dia bukanlah penulis yang bisa berimajinasi diluar
apa yang belum pernah dialami. Novel ini menekankan bahwa mengheningkan diri
adalah cara untuk berbicara dengan diri dan mengenal lebih jauh tentang diri.
Zaira Ramadhani kecil sangat menikmati masa bocahnya yang hidup
dalam keragaman. Ibunya seorang Kristen sedangkan ayahnya seorang muslim. Di
dalam darah Zaira mengalir keturunan Belanda, Taiwan, Bukittinggi bahkan
banten. Zaira lebih dekat dengan sang Ayah mungkin karena Ayahnya lebih banyak
berada di rumah dengan bisnis keluarga sedangkan sang Ibu adalah wanita karir disamping
bekerja di salon, di perusahaan mobil Ayahnya dan juga sebagai guru TK sehingga
praktis jarang sekali meluangkan waktu dengannya. Sedangkan hubungan dengan
ibunya sangat renggang, ibunya lebih dekat dengan adik perempuannya yang
dianggap lebih cantik dari Zaira. Meski di beberapa potongan cerita bahwa
ibunya tetaplah mencintai Zaira hanya saja pengungkapannya yang berbeda.
Sejak kecil Zaira hidup bergelimang harta. Semua hal yang
diinginkannya akan diwujudkan oleh orang tuanya ataupun kakek neneknya. Kakeknya
seorang politikus dari salah satu partai Islam
dan mempunyai begitu banyak asset kekayaan dimana-mana seperti
perusahaan kepala sawit sedangkan Ayahnya bertugas mengurus bisnis keluarga. Namun
semua itu benar-benar berubah setelah sebuah peristiwa di malam tanggal 24
Desember 1975. 3 truk tentara mengobrak-abrik rumah mereka lalu menangkap semua
laki-laki di rumah tersebut temasuk Ayah dan Kakeknya. Peristiwa ini tidak
lepas dari aktivitas Kakeknya yang seorang politikus beraliran Islam. Selang beberapa
hari, semua anggota keluarganya dipulangkan kecuali kakeknya yang ternyata
dirawat di rumah sakit. Mereka masih percaya bahwa kakeknya sengaja disakitkan.
Bermula dari sini, pengalaman mistis dialami oleh zaira kecil. Kondisi
kakeknya yang sudah tidak bergerak dianggap telah mati hanya saja bahwa
kakeknya menyimpan susuk yang membuat nadinya masih berdenyut. Kondisi inilah
yang membuat zaira dianggap sebagai satu-satunya anggota keluarga yang mampu
mengeluarkan susuk tersebut dan menyelamatkan kakeknya dari penderitaan yang
berkepanjangan. Zaira pun melakukannya dengan tuntunan neneknya.
Kematian kakeknya menjadi titik klimaks dari kehidupan
keluarganya. Semua asset kekayaan disita oleh pemerintah saat itu. Mulai dari
pabrik gula, mobil bahkan rumah gadang yang terletak di menteng. Hampir sama
seperti pemiskinan terhadap pelaku koruptor saat ini atau bahkan lebih sadis
lagi bedanya bahwa koruptor memang pantas dimiskinkan sedang kakek zaira
hanyalah korban politik. Mereka lalu membeli rumah kecil di selatan Jakarta yang
persis di pinggir sungai. Kondisi ekonomi keluarganya yang miris memperparah
hubungan ayah dan ibunya. Ibunya selalu menuntut ayahnya untuk bekerja
sedangkan ayahnya setiap kali hanya diam.
Saat duduk di bangku SMA, zaira memutuskan keluar dari rumah dan
bekerja sebagai copywriter. Kecakapannya dalam menulis membuat karirnya cepat
melambung bahkan setelah itu Zaira mencoba peruntungan sebagai model dan
lagi-lagi berhasil. Dia selalu keluar sebagai juara pada setiap kejuaraan yang
diikutinya. Setelah kesuksesannya, dia mampu membelikan sebuah mobil mazda
kepada ayahnya. Pada perjalanan berikutnya, Zaira memutuskan berhenti kuliah
dari UI dan mengambil kursus produksi film di Los Angeles, California. Rencana kursusnya
di California hanya berjalan singkat saat ayahnya jatuh sakit dan terpaksa dia
memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Penyakit ayahnya yang sudah begitu parah
mengantarkan ayahnya menjemput ajal pada desember 1984.
Kematian ayahnya benar-benar seperti kiamat bagi Zaira. Ayah baginya
adalah cinta sejati dan tak tergantikan oleh siapapun bahkan Zaira menggugat
keputusan Tuhan dan berkali-kali dia mencoba untuk bunuh diri menyusul ayahnya
namun selalu saja takdir berkata lain. Kehidupan keluarganya yang berantakan
ternyata berbanding terbalik dengan karirnya. Di pekerjaannya dia semakin
meroket namun tetap saja dia menjalaninya seperti mayat hidup karena cinta
sudah tercerabut dari dirinya dibawa pergi oleh ayahnya. Aroma mistis zaira
terus berlanjut bahkan di beberapa cerita dia bertemu dengan roh sang ayahnya.
Perjalanan cerita kemudian mempertemukannya dengan Jody yang
dikenalkan oleh rekan kerjanya Linn. Jody yang berkepribadian mirip ayahnya
membuat Zaira jatuh cinta kepadanya. Mereka semakin sering berkencan dan
menghabiskan waktu berdua hingga pada suatu saat jody merasa bahwa Zaira tidak benar-benar
mencintainya, dia hanya mencintai sosok ayahnya yang ada di dalam diri jody. Kemudian
pada akhirnya jody pergi meninggalkan Zaira.
Pada klimaks cerita, Zaira memilih diam. Benar-benar diam dalam
hening dan hanya mendengar. Bahkan semua suara didengarkan dalam keheningannya.
Lebih dua bulan lamanya zaira tetap hening bahkan orang di sekitarnya
menganggapnya telah gila namun zaira semakin menikmati keheningannya. Pada akhirnya,
setelah semua keheningannya berakhir, dia menikah dan tinggal di kanada namun
kecintaannya kepada tanah bali membuatnya kembali dan menetap di bali.
Novel ini benar-benar menggambarkan betapa cinta adalah nafas
kehidupan. Ketika cinta sudah tercerabut dari hati maka yang tertinggal
hanyalah kepedihan. Begitu semua terasa sangat indah dalam kondisi apapun
ketika cinta adalah sesuatu yang sacral dan diagungkan. Cinta itu menghidupkan
semangat.
Namun terlepas dari kecintaanku membaca novel ini, ada banyak
kekecewaan yang terpendam saat membaca beberapa bagian dari novel ini salah
satunya adalah keadaan perpolitikan saat itu yang dialami oleh kakeknya tidak
dibahas secara tuntas sehingga sangat mengambang bahkan mengusik keasyikan saat
membaca novel tersebut. ketika seakan-akan pembaca digiring pada situasi
kekacauan politik saat itu namun tidak dituntaskan dengan penjelasan-penjelasan
yang rinci sebagai tambahan pengetahuan karena aku sebagai salah satu pembaca
novel ini yang menyukai dunia politik amat kecewa pada bagian tersebut. Zara
zettira melewatkan sejarah kelam perpolitikan Indonesia yang bisa disisipkan
kedalam cerita sebagai pencerahan sejarah yang sudah terkaburkan. Di bagian
saat kakeknya sakit, sudah ditulis bahwa kakeknya sengaja disakitkan namun
dipembahasan selanjutnya Zara Zettira seakan ragu membahas secara detail. Pengarang
benar-benar melewatkan sejarah kekelaman percaturan politik Indonesia di zaman
orba bahkan pengarang di beberapa kalimatnya begitu tidak mau tahu akan sejarah
kelam tersebut, entahlah apa alasannya apakah ada ketakutan atau juga alasan
lain.
Novel ini benar-benar murni tentang perasaan sentimental pada
sebuah keluarga yang dibalut dengan spiritual kejawen yang sangat kental. Sangat
cocok bagi mereka yang tertarik dengan aroma mistis ala kejawen karena kita
akan mendapat semangat membaca yang menggebu-gebu dari kemampuan pengarang
mengemas ceritanya.
Sabtu pagi
yang dingin
Dengan alunan
tembang Noah
tanpa kopi pagi ini..hehe
Jojoran 3/61
8’3’14

No comments:
Post a Comment