March 8, 2014

cerita dalam keheningan


Judul                           : Cerita dalam Keheningan                                  

Pengarang                  : Zara Zettira ZR

Penerbit                     : Esensi, Erlangga Group

Tahun                         : 2008

Hal                              : 280




 
Don’t be concerned the soul,
embrace and manifest it in the stillness of the mind
A gate of epiphany of silence and stillness
Like a dream, penetrating into the mind


saat inilah yang kita miliki karena kemarin bukan lagi milik kita dan hari esok belum tentu kita jumpai”.

Ini adalah novel pertama dari Zara Zettira ZR yang kubaca yang kemudian langsung membuatku jatuh cinta akan polesan kata-katanya yang amat apik. Bukan hanya penyajiannya namun lebih dari itu, ceritanya sangat sarat akan makna kehidupan. Zara Zettira sangat pawai dalam mengkombinasikan pengalaman hidupnya dengan imajinasi yang sangat liar lalu kemudian menghasilkan karya yang sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja. Zara Zettira memang mengaku bahwa dia bukanlah penulis yang bisa berimajinasi diluar apa yang belum pernah dialami. Novel ini menekankan bahwa mengheningkan diri adalah cara untuk berbicara dengan diri dan mengenal lebih jauh tentang diri.

Zaira Ramadhani kecil sangat menikmati masa bocahnya yang hidup dalam keragaman. Ibunya seorang Kristen sedangkan ayahnya seorang muslim. Di dalam darah Zaira mengalir keturunan Belanda, Taiwan, Bukittinggi bahkan banten. Zaira lebih dekat dengan sang Ayah mungkin karena Ayahnya lebih banyak berada di rumah dengan bisnis keluarga sedangkan sang Ibu adalah wanita karir disamping bekerja di salon, di perusahaan mobil Ayahnya dan juga sebagai guru TK sehingga praktis jarang sekali meluangkan waktu dengannya. Sedangkan hubungan dengan ibunya sangat renggang, ibunya lebih dekat dengan adik perempuannya yang dianggap lebih cantik dari Zaira. Meski di beberapa potongan cerita bahwa ibunya tetaplah mencintai Zaira hanya saja pengungkapannya yang berbeda.

Sejak kecil Zaira hidup bergelimang harta. Semua hal yang diinginkannya akan diwujudkan oleh orang tuanya ataupun kakek neneknya. Kakeknya seorang politikus dari salah satu partai Islam  dan mempunyai begitu banyak asset kekayaan dimana-mana seperti perusahaan kepala sawit sedangkan Ayahnya bertugas mengurus bisnis keluarga. Namun semua itu benar-benar berubah setelah sebuah peristiwa di malam tanggal 24 Desember 1975. 3 truk tentara mengobrak-abrik rumah mereka lalu menangkap semua laki-laki di rumah tersebut temasuk Ayah dan Kakeknya. Peristiwa ini tidak lepas dari aktivitas Kakeknya yang seorang politikus beraliran Islam. Selang beberapa hari, semua anggota keluarganya dipulangkan kecuali kakeknya yang ternyata dirawat di rumah sakit. Mereka masih percaya bahwa kakeknya sengaja disakitkan.

Bermula dari sini, pengalaman mistis dialami oleh zaira kecil. Kondisi kakeknya yang sudah tidak bergerak dianggap telah mati hanya saja bahwa kakeknya menyimpan susuk yang membuat nadinya masih berdenyut. Kondisi inilah yang membuat zaira dianggap sebagai satu-satunya anggota keluarga yang mampu mengeluarkan susuk tersebut dan menyelamatkan kakeknya dari penderitaan yang berkepanjangan. Zaira pun melakukannya dengan tuntunan neneknya.  

Kematian kakeknya menjadi titik klimaks dari kehidupan keluarganya. Semua asset kekayaan disita oleh pemerintah saat itu. Mulai dari pabrik gula, mobil bahkan rumah gadang yang terletak di menteng. Hampir sama seperti pemiskinan terhadap pelaku koruptor saat ini atau bahkan lebih sadis lagi bedanya bahwa koruptor memang pantas dimiskinkan sedang kakek zaira hanyalah korban politik. Mereka lalu membeli rumah kecil di selatan Jakarta yang persis di pinggir sungai. Kondisi ekonomi keluarganya yang miris memperparah hubungan ayah dan ibunya. Ibunya selalu menuntut ayahnya untuk bekerja sedangkan ayahnya setiap kali hanya diam.

Saat duduk di bangku SMA, zaira memutuskan keluar dari rumah dan bekerja sebagai copywriter. Kecakapannya dalam menulis membuat karirnya cepat melambung bahkan setelah itu Zaira mencoba peruntungan sebagai model dan lagi-lagi berhasil. Dia selalu keluar sebagai juara pada setiap kejuaraan yang diikutinya. Setelah kesuksesannya, dia mampu membelikan sebuah mobil mazda kepada ayahnya. Pada perjalanan berikutnya, Zaira memutuskan berhenti kuliah dari UI dan mengambil kursus produksi film di Los Angeles, California. Rencana kursusnya di California hanya berjalan singkat saat ayahnya jatuh sakit dan terpaksa dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Penyakit ayahnya yang sudah begitu parah mengantarkan ayahnya menjemput ajal pada desember 1984.

Kematian ayahnya benar-benar seperti kiamat bagi Zaira. Ayah baginya adalah cinta sejati dan tak tergantikan oleh siapapun bahkan Zaira menggugat keputusan Tuhan dan berkali-kali dia mencoba untuk bunuh diri menyusul ayahnya namun selalu saja takdir berkata lain. Kehidupan keluarganya yang berantakan ternyata berbanding terbalik dengan karirnya. Di pekerjaannya dia semakin meroket namun tetap saja dia menjalaninya seperti mayat hidup karena cinta sudah tercerabut dari dirinya dibawa pergi oleh ayahnya. Aroma mistis zaira terus berlanjut bahkan di beberapa cerita dia bertemu dengan roh sang ayahnya.

Perjalanan cerita kemudian mempertemukannya dengan Jody yang dikenalkan oleh rekan kerjanya Linn. Jody yang berkepribadian mirip ayahnya membuat Zaira jatuh cinta kepadanya. Mereka semakin sering berkencan dan menghabiskan waktu berdua hingga pada suatu saat jody merasa bahwa Zaira tidak benar-benar mencintainya, dia hanya mencintai sosok ayahnya yang ada di dalam diri jody. Kemudian pada akhirnya jody pergi meninggalkan Zaira.

Pada klimaks cerita, Zaira memilih diam. Benar-benar diam dalam hening dan hanya mendengar. Bahkan semua suara didengarkan dalam keheningannya. Lebih dua bulan lamanya zaira tetap hening bahkan orang di sekitarnya menganggapnya telah gila namun zaira semakin menikmati keheningannya. Pada akhirnya, setelah semua keheningannya berakhir, dia menikah dan tinggal di kanada namun kecintaannya kepada tanah bali membuatnya kembali dan menetap di bali.

Novel ini benar-benar menggambarkan betapa cinta adalah nafas kehidupan. Ketika cinta sudah tercerabut dari hati maka yang tertinggal hanyalah kepedihan. Begitu semua terasa sangat indah dalam kondisi apapun ketika cinta adalah sesuatu yang sacral dan diagungkan. Cinta itu menghidupkan semangat.

Namun terlepas dari kecintaanku membaca novel ini, ada banyak kekecewaan yang terpendam saat membaca beberapa bagian dari novel ini salah satunya adalah keadaan perpolitikan saat itu yang dialami oleh kakeknya tidak dibahas secara tuntas sehingga sangat mengambang bahkan mengusik keasyikan saat membaca novel tersebut. ketika seakan-akan pembaca digiring pada situasi kekacauan politik saat itu namun tidak dituntaskan dengan penjelasan-penjelasan yang rinci sebagai tambahan pengetahuan karena aku sebagai salah satu pembaca novel ini yang menyukai dunia politik amat kecewa pada bagian tersebut. Zara zettira melewatkan sejarah kelam perpolitikan Indonesia yang bisa disisipkan kedalam cerita sebagai pencerahan sejarah yang sudah terkaburkan. Di bagian saat kakeknya sakit, sudah ditulis bahwa kakeknya sengaja disakitkan namun dipembahasan selanjutnya Zara Zettira seakan ragu membahas secara detail. Pengarang benar-benar melewatkan sejarah kekelaman percaturan politik Indonesia di zaman orba bahkan pengarang di beberapa kalimatnya begitu tidak mau tahu akan sejarah kelam tersebut, entahlah apa alasannya apakah ada ketakutan atau juga alasan lain.

Novel ini benar-benar murni tentang perasaan sentimental pada sebuah keluarga yang dibalut dengan spiritual kejawen yang sangat kental. Sangat cocok bagi mereka yang tertarik dengan aroma mistis ala kejawen karena kita akan mendapat semangat membaca yang menggebu-gebu dari kemampuan pengarang mengemas ceritanya.


Sabtu pagi yang dingin
Dengan alunan tembang Noah
tanpa kopi pagi ini..hehe
Jojoran 3/61
8’3’14



No comments: