October 11, 2018

#OTS 13

perjalanan kali ini lebih spesial. untuk pertama kalinya menapak kaki di bumi Borneo bagian barat. saya sudah lama memimpikan untuk menjajaki semua pulau besar di negeri ini, dan mission saya tercapai kali ini. 5 pulau besar yang dulu kupelajari sudah kuhirup udaranya, Borneo yag paling terakhir.

senin pagi yang cerah, saya menumpang pesawat Sriwijaya dari Cengkareng menuju Polonia. ternyata perjalanan udara dari ibukota ke kota ini hanya memakan waktu satu jam, jauh lebih cepat dibandingkan ketika saya mudik. sesampai di bandara tujuan, saya mencoba merasakan hangatnya udara di kota ini. sedikit terasa panas menurut penerawanganku. memang kota ini terkenal sebagai kota yang dilalui jalur khatulistiwa.

saya menginap di sebuah hotel baru tepat di depan sebuah Gereja, tidak terlalu jauh dari kantor yang akan kutuju. sebelumnya saya mengira bahwa bahasa di kota ini tidak terlalu berbeda dengan logat di daerahku namun ternyata dugaanku meleset jauh. dialek di kota ini mirip melayu bahkan memang banyak suku melayu di kota ini, mungkin karena dekat dengan Malaysia. perantau dari Sulawesi ternyata lebih banyak yang berdiam di bagian timur pulau ini sehingga budaya di sana hampir sama.

enam hari di kota ini membuatku bisa mengunjungi beberapa spot yang memang menjadi favoritku ketika berkunjung ke sebuah daerah baru misalnya Mesjid raya, tempat keramaian yang khas, taman kota dan spot yang khas tentang sebuah daerah. saya menyempatkan merasakan suasana wisata kapal di atas sungai Kapuas pada malam hari. menurutku tidak terlalu istimewa karena sensasinya kurang.

Untuk makanan masih standar, tidak terlalu berbeda mungkin lebih mirip makanan orang padang yang mengutamakan bumbu. tata kota tidak terlalu berbeda dengan kota lain, masih hampir sama. kesadaran berlalu lintas di kota ini agak kurang, beberapa kali kutemukan pengendara yang tidak mematuhi aturan lalu lintas seperti menerobos lampu merah sedangkan seharusnya, kota seperti ini bisa lebih patuh dibandingkan ibukota yang semrawut.

Oktober 18
#Pontianak

October 3, 2018

Tiga Tahun

Perjalanan waktu tiga tahun hanya seperti mengedipkan mata beberapa detik kemudian semua lain dari sebelumnya. jejak demi jejak sudah dilukis di beberapa ruang dan waktu kemudian bergulir sampai saat ini di sebuah keadaan yang baru. 

Masih tergambar jelas di memoriku tiga tahun silam ketika saya harus bergegas ke Surabaya bertemu keluargaku kemudian bersama mereka menjemputmu di kediamanmu. momen yang seringkali membuatku sentimental karena begitu jauhnya jarak yang akhirnya mempertemukan mereka.

Tiga tahun berlalu yang penuh dengan drama kehidupan. tangisan, amarah, tawa, teriakan, pelukan, dan semua drama yang lazim dalam sebuah keluarga. meski saya yakin bahwa masih banyak rintangan yang menanti namun biarlah waktu yang membawa kita bersama dan menjawab semua.

Seringkali terlintas di benakku bahwa sebenarnya apa hakekat dari semua ini? apakah hanya sebatas hidup bersama, tidur, makan, bersenggama, punya anak kemudian hal lain yang lazim dalam sebuah keluarga? apakah sebatas itu?

Sepertinya sangat klise namun berkeluarga tidak sesederhana ini. jika ingin menyederhanakan mungkin lebih pada sebuah perintah atas keyakinan yang dianut yaitu jawaban jika ditanya kenapa berkeluarga maka jawabannya karena keyakinan atas agama yang saya anut memerintahkan saya menikah dan berkeluarga. ujung-ujungnya bermuara di jawaban tersebut. 

Saya membina keluarga karena diperintahkan seperti itu, saya mencintai keluarga karena diwajibkan dan bla bla bla. toh pada hakekatnya itulah yang utama. tidak ada jawaban lain selain bahwa agama saya memerintahkan seperti itu. sama halnya jika saya tidak minum alkohol, bukan karena alasan kesehatan namun karena agama saya jelas melarang hal tersebut maka saya tinggalkan.

Begitulah yang ada di pikiranku namun terlepas dari itu semua, kebersamaan ini akan tetap menjadi tanggung jawabku. meski pada sebuah kenyataan bahwa saya belum bisa memberi materi secara berlebih bahkan lebih sering isteri yang berperan sedangkan tadi siang, saya diingatkan Allah melalui ceramah aa Gym bahwa jangan sekali-kali meminta kepada isteri bahkan untuk membeli bensin sekalipun. saya masih sering melakukan hal tesebut.

di tiga tahun kebersamaan ini, ada satu kado yang akan membahagiakan isteri saya yang merupakan sebuah mimpinya dan juga impian saya. semoga terwujud dan menjadi kado spesial baginya. 

Semoga Allah meridha saya diterima di pekerjaan yang sedang saya daftar dan ini akan membahagiakan isteri saya.

31018