perjalanan kali ini lebih spesial. untuk pertama kalinya menapak kaki di bumi Borneo bagian barat. saya sudah lama memimpikan untuk menjajaki semua pulau besar di negeri ini, dan mission saya tercapai kali ini. 5 pulau besar yang dulu kupelajari sudah kuhirup udaranya, Borneo yag paling terakhir.
senin pagi yang cerah, saya menumpang pesawat Sriwijaya dari Cengkareng menuju Polonia. ternyata perjalanan udara dari ibukota ke kota ini hanya memakan waktu satu jam, jauh lebih cepat dibandingkan ketika saya mudik. sesampai di bandara tujuan, saya mencoba merasakan hangatnya udara di kota ini. sedikit terasa panas menurut penerawanganku. memang kota ini terkenal sebagai kota yang dilalui jalur khatulistiwa.
saya menginap di sebuah hotel baru tepat di depan sebuah Gereja, tidak terlalu jauh dari kantor yang akan kutuju. sebelumnya saya mengira bahwa bahasa di kota ini tidak terlalu berbeda dengan logat di daerahku namun ternyata dugaanku meleset jauh. dialek di kota ini mirip melayu bahkan memang banyak suku melayu di kota ini, mungkin karena dekat dengan Malaysia. perantau dari Sulawesi ternyata lebih banyak yang berdiam di bagian timur pulau ini sehingga budaya di sana hampir sama.
enam hari di kota ini membuatku bisa mengunjungi beberapa spot yang memang menjadi favoritku ketika berkunjung ke sebuah daerah baru misalnya Mesjid raya, tempat keramaian yang khas, taman kota dan spot yang khas tentang sebuah daerah. saya menyempatkan merasakan suasana wisata kapal di atas sungai Kapuas pada malam hari. menurutku tidak terlalu istimewa karena sensasinya kurang.
Untuk makanan masih standar, tidak terlalu berbeda mungkin lebih mirip makanan orang padang yang mengutamakan bumbu. tata kota tidak terlalu berbeda dengan kota lain, masih hampir sama. kesadaran berlalu lintas di kota ini agak kurang, beberapa kali kutemukan pengendara yang tidak mematuhi aturan lalu lintas seperti menerobos lampu merah sedangkan seharusnya, kota seperti ini bisa lebih patuh dibandingkan ibukota yang semrawut.
Oktober 18
#Pontianak