February 28, 2022

Dinamika Februari

Saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan melewati bulan Februari dengan perasaan yang sangat fluktuatif. Bulan yang katanya bulan kasih sayang ini, benar-benar menguras emosiku. Saya baru bisa menertawakan kemudian bersyukur atas semua, tentunya setelah dilewati kemudian diingat kembali. Sejatinya memang hidup seperti itu, semenyeramkan apapun hidup yang dialami, ketika sudah dilewati maka seringkali menjadi masa lalu yang lucu untuk diceritakan. Begitulah Februari yang mencampakkanku kemudian menyelamatkanku dari kubangan masalah.

Bagaimana tidak, di minggu pertama Februari tepatnya tanggal 7 Februari, badan saya rasanya remuk dan bola mata saya pegal setiap saat. Gejala yang sama pada hampir semua penderita Covid varian omicron. Atas dasar diagnosa pribadi dan mencoba untuk melindungi keluarga, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan tes PCR. Saya harus menunggu sehari sebelum tes PCR keluar. 

Esok hari sekitar jam 12 siang, hasil PCR saya keluar di aplikasi Halodoc. Perkiraan saya tidak meleset, ternyata saya terpapar Covid Omicron. Saya kemudian melakukan isoman di dalam kamar karena ada keluarga di rumah. Saya mendapat seabrek obat dari kemenkes yang pada akhirnya tidak saya minum semua.

Dua hari setelah saya dinyatakan positif, anak, isteri dan mertua PCR untuk mengantisipasi terpapar. Malam hari hasil tes mereka keluar dan ternyata memang semua terpapar. namun untungnya, tidak ada gejala berarti yang mereka rasakan sebagaimana yang saya alami.

Menjalani isoman membuat saya sedikit agak frustasi karena pada saat itu, saya juga sedang menunggu jadwal sidang ujian akhir. di hari ketiga isoman, pihak kampus memberikan saya informasi bahwa sidang ujian akhir saya akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari, artinya bahwa saya mempunyai empat hari untuk belajar dan mempersiapkan diri ujian.

Terpapar Covid di masa sedang menunggu ujian memang menjadi dilema. Di satu sisi membuat saya agak frustasi karena tidak bisa konsentrasi penuh untuk belajar namun di sisi lain, saya mengucapkan syukur karena mempunyai waktu lebih untuk fokus pada ujian akhir. Artinya saya tidak terdistraksi dengan pekerjaan kantor karena orang kantor sadar bahwa saya sedang isoman dan tidak diberikan tugas tambahan.

Tepat tanggal 14 Februari pukul 19.00 WIb, ujian akhir saya berlangsung meskipun tidak maksimal. Saya merasa bahwa seharusnya saya bisa melakukan hal yang lebih di sidang misalnya menjawab pertanyaan penguji dengan baik namun apa daya, saya seperti kehilangan ide untuk kemudian bertarung kata dengan penguji. 

Sidang berlangsung dua jam dan berakhir dengan baik meskipun tidak maksimal. Saya dinyatakan lulus dengan catatan harus melakukan revisi tesis khususnya operasionalisasi teori maksimal sebulan setelah sidang.

Esok harinya, saya mencoba melakukan tes antigen untuk sekedar mengetahui hasil tes saya setelah seminggu isoman. Hal ini juga saya maksudkan agar saya bisa ke kampus mencari referensi tambahan saat revisi tesis. Hasil antigen saya ternyata sudah negatif dan esok harinya, saya ke kampus untuk mencari referensi tambahan.

Saya berkutat dengan revisi tesi selama dua minggu yang akhirnya disetujui oleh seluruh penguji tepat di tanggal 28 Februari 2022. sebuah perasaan senang karena Februari terlewati dengan perasaan lega.

Sekarang Maret dan semoga semua hal yang dihadapkan bagi saya di bulan ini bisa saya lewati dengan maksimal.

28.2.2022