"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Dia mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka. (QS. Ath Tholaq: 2-3)"
Sungguh sangat sulit menjelaskan seperti apa itu rezeki dan bagaimana dia mendatangi kita. Penjelasan yang paling lazim hanya seputar bahwa jika kita bekerja maka kita akan mendapatkan hasil sesuai yang diusahakan. Hanya sebatas pada penjelasan lurus seperti itu meski tanpa disadari, ada beberapa orang yang tidak terlalu bekerja keras namun hasilnya maksimal. Lebih dari yang mereka harapkan sedangkan di sisi lain, ada orang yang sudah sekeras baja mengusahakan sesuatu namun hasilnya nihil. "mungkin" seperti itulah "cara kerja Allah" memberikan rezeki kepada hambaNya karena sesungguhnya ada faktor x dibalik kemurahan Allah atas karunia kepada Makhluknya.
Ini bukan cerita yang menyanjung diri namun sekedar renungan untuk merekonstruksi kembali pemahaman tentang rezeki. Sebuah sebab yang sama sekali masuk dalam kalkulasi manusia tetapi pada kenyataannya, hal tersebut terjadi namun bukan berarti bahwa yang diusahakan dan didoakan tidak akan terwujud. Semua tergantung kepada Allah apakah Dia akan merealisasikan atau menunda dan mengganti dengan yang lain.
Dua bulan lalu, mimpi membeli rumah masih sekedar angan-angan.belum ada usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menganggap masih mustahil adanya. tabungan belum seberapa sedangkan harga rumah di kota ini minta ampun harganya. setelah lebaran, mulai terbersit untuk lebih serius mencari rumah murah namun layak untuk ditempati bersama keluarga.
Tiga minggu terakhir, saya memberanikan diri mencari rumah di sekitar Jak-sel dan daerah Depok setelah berhitung dengan dana maksimal yang bisa dikeluarkan. beberapa rumah sangat ideal namun tidak terjangkau. Ada yang terjangkau namun jarak terlalu jauh. Ada yang terjangkau, jarak dekat namun rumahnya tidak layak.
Dua bulan lalu, mimpi membeli rumah masih sekedar angan-angan.belum ada usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut karena menganggap masih mustahil adanya. tabungan belum seberapa sedangkan harga rumah di kota ini minta ampun harganya. setelah lebaran, mulai terbersit untuk lebih serius mencari rumah murah namun layak untuk ditempati bersama keluarga.
Tiga minggu terakhir, saya memberanikan diri mencari rumah di sekitar Jak-sel dan daerah Depok setelah berhitung dengan dana maksimal yang bisa dikeluarkan. beberapa rumah sangat ideal namun tidak terjangkau. Ada yang terjangkau namun jarak terlalu jauh. Ada yang terjangkau, jarak dekat namun rumahnya tidak layak.
Tiga minggu kemudian, kami dipertemukan dengan rumah sederhana di daerah Kebagusan. Rumah second namun sangat terawat dengan baik. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau meski akses masuk tidak bisa dilalui mobil namun setidaknya prioritas saat ini adalah rumah yang berjarak dekat dari kantor.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan membeli rumah tersebut meski sebagian dari dana dipinjam dari bank yang harus dilunasi dalam sepuluh tahun. Hal tersebut sedikit menjadi beban namun pertimbangan yang lebih jauh lagi bahwa jika tidak memberanikan diri maka akan semakin sulit merealisasikan impian mempunyai rumah. Saat ini masih dalam proses transaksi, semoga berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada rintangan yang berarti.
Hal yang ingin kuceritakan bukan impian yang terwujud namun proses bagaimana kami menjalaninya. Proses yang sangat cepat hanya sekitar satu bulan sedangkan ada beberapa orang yang bertahun-tahun mencari rumah sebelum menemukan yang sesuai dengan keinginan.
Mungkin seperti teori cocoklogi namun saya pikir ada benang merah dengan kejadian beberapa waktu lalu yang kami alami di rumah kontrakan. Setahun di rumah kontrakan, kloset mampet sehingga tidak bisa digunakan. Kami memanggil jasa penyedot tinja karena berpikir pasti tampungan kotoran penuh. Setelah jasa penyedot datang, kami mencari septic tank yang ternyata tidak ada. Akhirnya kami minta maaf kepada karyawan jasa penyedot tinja dan memberinya tip sebagai pengganti bensin. Kemudian kami berinisatif membiayai pembuatan septic tank dengan harapan, sang empunya kontrakan mengganti biayanya.
Di luar dugaan, setelah proses pengerjaan septic tank selesai, pemilik kontrakan tidak mau mengganti penuh biaya dengan berbagai alasan. Dia hanya mengganti sepertiga dari seluruh biaya. sejak saat itu, kami berdoa semoga tahun ini terakhir mengontrak di rumah ini dan mencari rumah kontrakan baru. masalah lain muncul ketika mesin air bermasalah dan dia pun tidak bersedia bertanggung jawab sedangkan seharusnya, kerusakan inventaris yang bukan merupakan sebab dari yang mengontrak, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik.
Kami mengikhlaskan hal tersebut sementara terus berdoa semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih layak. namun Tuhan memberikan sesuatu yang lebih baik. Dia membuka jalan membeli rumah untuk segera pindah dari kontrakan ini. prosesnya sementara berjalan tinggal menunggu proses di Notaris.
Demikianlah Allah bekerja dengan tak terduga. manusia hanya berusaha memastikan kaki, tangan, hati dan semua gerak geriknya melakukan hal-hal baik. Meskipun sebagian dana untuk membeli rumah berasal dari pinjaman bank yang masih menjadi perdebatan namun setidaknya, saya sudah berkonsultasi dengan salah seorang ustadz yang kuanggap kapabel dan memahami hukum Islam.
4 august 18
Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami memutuskan membeli rumah tersebut meski sebagian dari dana dipinjam dari bank yang harus dilunasi dalam sepuluh tahun. Hal tersebut sedikit menjadi beban namun pertimbangan yang lebih jauh lagi bahwa jika tidak memberanikan diri maka akan semakin sulit merealisasikan impian mempunyai rumah. Saat ini masih dalam proses transaksi, semoga berjalan sesuai dengan harapan tanpa ada rintangan yang berarti.
Hal yang ingin kuceritakan bukan impian yang terwujud namun proses bagaimana kami menjalaninya. Proses yang sangat cepat hanya sekitar satu bulan sedangkan ada beberapa orang yang bertahun-tahun mencari rumah sebelum menemukan yang sesuai dengan keinginan.
Mungkin seperti teori cocoklogi namun saya pikir ada benang merah dengan kejadian beberapa waktu lalu yang kami alami di rumah kontrakan. Setahun di rumah kontrakan, kloset mampet sehingga tidak bisa digunakan. Kami memanggil jasa penyedot tinja karena berpikir pasti tampungan kotoran penuh. Setelah jasa penyedot datang, kami mencari septic tank yang ternyata tidak ada. Akhirnya kami minta maaf kepada karyawan jasa penyedot tinja dan memberinya tip sebagai pengganti bensin. Kemudian kami berinisatif membiayai pembuatan septic tank dengan harapan, sang empunya kontrakan mengganti biayanya.
Di luar dugaan, setelah proses pengerjaan septic tank selesai, pemilik kontrakan tidak mau mengganti penuh biaya dengan berbagai alasan. Dia hanya mengganti sepertiga dari seluruh biaya. sejak saat itu, kami berdoa semoga tahun ini terakhir mengontrak di rumah ini dan mencari rumah kontrakan baru. masalah lain muncul ketika mesin air bermasalah dan dia pun tidak bersedia bertanggung jawab sedangkan seharusnya, kerusakan inventaris yang bukan merupakan sebab dari yang mengontrak, seharusnya menjadi tanggung jawab pemilik.
Kami mengikhlaskan hal tersebut sementara terus berdoa semoga bisa mendapat kontrakan yang lebih layak. namun Tuhan memberikan sesuatu yang lebih baik. Dia membuka jalan membeli rumah untuk segera pindah dari kontrakan ini. prosesnya sementara berjalan tinggal menunggu proses di Notaris.
Demikianlah Allah bekerja dengan tak terduga. manusia hanya berusaha memastikan kaki, tangan, hati dan semua gerak geriknya melakukan hal-hal baik. Meskipun sebagian dana untuk membeli rumah berasal dari pinjaman bank yang masih menjadi perdebatan namun setidaknya, saya sudah berkonsultasi dengan salah seorang ustadz yang kuanggap kapabel dan memahami hukum Islam.
4 august 18