Saya pusing tidak ada kukerja sekarang..!
Kalimat tersebut sangat akrab di kuping saya beberapa minggu terakhir. Kalimat tersebut terlontar dari kawan-kawanku yang baru melepaskan statusnya sebagai seorang mahasiswa. Tidak salah memang,( saya pun masih berjuang untuk itu ) bahwa tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan yang nantinya akan menunjang kehidupan yang mapan setelah kuliah adalah perlu, apalagi ditambah dengan tuntutan dari orang tua untuk harus mendapatkan pekerjaan setelah sarjana. Tulisan ini pun bukan mengerdilkan kawan-kawanku yang sampai sekarang masih mondar-mandir karena belum ada rejeki pekerjaan dan tulisan ini tidak akan mengulas banyak tentang pekerjaan yang belum didapat, namun saya hanya sedikit berceloteh tentang eksistensi pendidikan yang ada di benakku yang pada akhirnya memproduksi mentalitas seperti orang-orang, entah nantinya kawan-kawanku setuju ataupun kurang setuju atau bahkan tidak setuju sekalipun. Apa yang akan keluar dalam deret kata-kataku ini adalah refleksi terhadap pengetahuanku tentang pendidikan selama menempuh pendidikan formal selama kurang lebih 16 tahun sejak dari SD tanpa sebuah referensi yang jelas.
Hakekat Pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia..! Jargon pendidikan tersebut yang telah dicetuskan oleh Ki hajar Dewantara nampaknya telah terdistorsi oleh kebutuhan pasar yang sangat menggila. Sampai pada sendi-sendi pendidikan sekecil pun telah dirasuki oleh Logika pasar, sehingga celoteh-celoteh yang belum dapat pekerjaan seperti diatas sering terdengar bagi mereka yang tidak mampu resisten terhadap logika pasar. Sekali lagi bukan menyalahkan mereka yang menuntut untuk mendapatkan pekerjaan yang layak setelah menempuh pendidikan, (saya pun masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan) bahkan yang telah menenteng gelar sarjana. Perilaku tersebut muncul dari perilaku mainstream [pasar] yang menanamkan sebuah kebiasaan bahwa setelah selesai menempuh pendidikan, maka secara otomatis harus mencari pekerjaan dan bersaing dengan beberapa competitor yang standar criteria sangat subjektif ditentukan oleh setiap korporasi tempat melamar. Logika tradisional rekayasa neoliberal memang telah mengkristal dalam diri umat di Inodnesia namun bukan berarti bahwa hal tersebut tidak bisa direduksi atau bahwa dihapus karena tindakan yang kita tempuh ditentukan oleh kemauan.
Pendidikan Artifisial
Sangat sulit untuk membantah sebuah justifikasi bahwa pendidikan di Indonesia adalah pendidikan yang artifisial dengan melihat fenomena pendidikan di Indonesia dan tingkah laku orang-orang yang katanya telah menempuh pendidikan sampai pada tingkat yang tertinggi. Sekali lagi meminjam istilah bahwa pendidikan tersebut harus mampu memanusiakan manusia, maka seharusnya negeri antah Berantah ini mestinya sudah mampu memenuhi hakekat tersebut melihat statistik orang Indonesia yang bergelar Sarjana sampai Professor sudah bejibun dimiliki oleh bangsa kolam susu ini. Jangan salah juga bahwa orang Indonesia yang antrian menuntut pendidikan di luar negeri pun tidak terhitung jumlah, mulai dari mereka yang menuntut ilmu di timur tengah sampai Eropa bahkan sampai di Amerika, namun apa yang mampu mereka perbuat di Negeri ini? Bukan menggeneralisir, namun kebanyakan mereka tidak mampu berbuat banyak untuk memperbaiki keadaan hidup di Indoensia dengan satus mereka yang bertitel lulusan luar negeri.
Mereka belajar tentang kedokteran, namun setelah kembali menjadi dokter dengan bayaran mahal, mereka belajar tentang diplomasi, namun ketika berdiplomasi dengan bangsa lain, mereka tidak berdaya, mereka belajar tentang geologi, namun mereka tidak berdaya menghadapi masalah Lapindo, dan bencana alam lainnya. Yang paling parah adalah mereka belajar tentang Ekonomi Politik, namun ternyata kelakuan mereka ketika di Indonesia malah menghancurkan perekonomian dan perpolitikan Indonesia, entah mereka telah menelan mentah-mentah dogma untuk melakukan hal tersebut atraukah mereka terlalu pintar sehingga solusi-solusi untu ekonomi-politik yang mereka tawarkan tidak bisa mencapai akar rumput. Ataukah memang benar apa yang dikatakan oleh Revrisond Baswir bahwa Mereka adalah sekelompok ekonom Indonesia yang “dibina” oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia kejalan ekonomi pasar neoliberalisme yanag sering disebut sebagai Mafia bekeley. ( Revrisond Baswir, Mafia Berkeley dan krisis Ekonomi Indonesia, Hal 17). Setelah melihat kondisi seperti tersebut diatas, lalu apa bedanya belajar diluar negeri dengan didalam negeri jika kondisinya seperti itu? Maaf jika saya katakan hanya sebuah Prestise. Kemudian dimana gerangan pendidikan yang katanya memanusiakan manusia?