January 23, 2026

Marriage Beyond Physical Desires

Sekian tahun yang lalu ketika sedang ngobrol santai dengan salah seorang kawan, kami membahas tentang pernikahan. Topik yang sebenarnya tidak terlalu familiar bagi dua pria yang sedang ngobrol, biasanya hanya seputar sepakbola atau musik.

Dia seorang pria yang belum menikah dan nampaknya memilih untuk tidak menikah karena tidak pernah secara serius membahas pernikahan, bahkan saya belum pernah mendengar dia punya pacar selama kenal dengannya.

Sore ini, tiba-tiba saja pembicaraan tentang pernikahan. Dia berceloteh bahwa pernikahan itu ibaratnya mengkonsumsi makanan yang sama sepanjang hidup kita maka dia meyakini pasti ada titik kebosanan ketika setiap hari makan makanan yang sama.

Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup dengan seseorang sepanjang hanyat karena apapun yang ada di dalam hidup pasti memiliki titik kebosanan.

Saya tidak terlalu bereaksi terhadap argumennya karena saya meyakini setiap orang punya perspektif masing-masing terkait semua hal termasuk juga tentang pernikahan. Pun kondisi kami juga berbebda, saya sudah menikah sementara dia belum jadi perbandingannya kurang pas.

Hanya saja, dia melakukan simplifikasi terhadap pernikahan dengan mengatakan bahwa pernikahan yang diibaratkan dengan makanan. Maka argumennya hanya pada sebatas kepentingan fisik.

Makanan hanya berfungsi untuk memastikan tubuh kita secara biologis tetap bekerja tetapi pernikahan tidak hanya sebatas hubungan badan. Pernikahan selain tentang kebutuhan badaniah, juga ada kebutuhan lain yang jauh lebih hakiki sehingga pernikahan itu terlalu cetek untuk diibaratkan hanya sekadar mengkonsumsi makanan.

Pernikahan adalah tentang komitmen yang harus dijaga sepanjang hidup kita tanpa melupakan kita sebagai manusia biologis.

Terlalu banyak analogi untuk membantah argumennya terkait pernikahan, salah satunya fenomena tentang seseorang -entah pihak wanita atau pria- yang rela tetap mendampingi pasangannya ketika pasangannya sakit dan tidak bisa lagi melakukan aktivitas fisik.

Maka pernikahan di sini bukan lagi bagaimana memenuhi hasrat biologis tetapi rasa cinta dalam konteks yang lebih hakiki. Ada nilai yang ingin diperjuangkan oleh masing-masing pasangan.

Berpikir Kritis



Kemarin siang sesaat setelah menyelesaikan rutinitas makan siang, saya merasa ada yang mengganjal di gigi bagian bawah. Awalnya saya anggap ada sisa makanan yang nyangkut. Setelah berkumur, tidak jua membaik. Saya memutuskan untuk mengecek di cermin, ternyata bukan makanan tetapi ada karang gigi yang cukup tebal. 

Saya berinisiatif untuk mencari klinik yang menyediakan jasa scalling. Saya merasa perlu untuk membersihkan karang gigi karena sudah mulai berpengaruh pada kesehatan gigi. Mulailah saya browsing dengan kata kunci #harga scalling terjangkau. Sepersekian detik kemudian, muncul di layar HP beberapa informasi tentang klinik yang menyediakan jasa scalling. 

Saya menghubungi salah satu di antaranya yang cukup murah dan terjangkau. Setelah beberapa saat chat dengan admin, saya menanyakan apakah masih ada tambahan biaya dari harga yang tercantum di website. 

Respons dari admin klinik menginformasikan bahwa tidak ada lagi kecuali biaya admin. Kalian bisa menebak berapa biaya adminnya? 33% dari harga yang tercantum.

Saya kemudian memilih untuk mencari klinik lain karena harga murah yang dicantumkan hanya semata teknik marketing dengan menyasar psikologis konsumen yang tertarik pada harga murah.

***

Di lain waktu, saya seringkali membeli salah satu merek kopi hitam kemasan di swalayan yang berbeda-beda. Setiap kali saya membeli di Swalayan yang menawarkan harga yang murah, saya selalu merayakannya karena mendapat harga murah. 

Namun pada kenyataannya bahwa harga murah yang saya maksud hanya selisih sangat sedikit. Misalnya satu pack di swalayan harganya 12.100, kemudian di swalayan yang lain, saya membeli dengan harga 11.900, dengan perasaan yang senang sekali, padahal kenyataannya selisih harga yang  200 perak. Kasus yang lain ketika saya butuh gelas kopi  yang berukuran 200 ml. Saya sering mencari gratisan dengan membeli kopi dengan bungkus besar, biasanya berhadiah gratis gelas.

Saya tidak pernah menyadari bahwa membeli kopi dengan gratis gelas lebih mahal dibandingkan saya membeli gelas terpisah. Salah satu kopi dengan merek terkenal menawarkan satu bungkus besar gratis gelas dengan harga 70 ribu rupiah. Sementara jika tidak gratis gelas, harga kopi hanya sekitar 30 ribu, artinya dengan membeli 1 paket kopi gratis gelas, saya harus mengeluarkan 40 ribu untuk gelasnya.

Contoh di atas bukan fiktif tetapi benar-benar saya alami bahkan dalam keadaan sadar sekalipun. Kata kuncinya bahwa manusia suka pada hal-hal yang gratis dan murah meskipun realitas yang ditawarkan oleh perusahaan tidak gratis dan lebih mahal. Psikologi konsumen sangat mudah dimanipulasi agar tertarik membeli.

Kemampuan untuk memahami pola seperti ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari cara berpikir kritis. Kita tidak langsung percaya yang indrawi tetapi dianalis dan dijernihkan dulu informasi yang masuk ke dalam otak sebelum diolah dan disimpulkan untuk mendapatkan realitas yang sebenarnya.

Berpikir Kritis

Berpikir adalah tentang segala sesuatu. Berpikir kritis adalah model berpikir yang memiliki langkah-langkah spesifik, seperti memahami, meragukan, mengetes, dan membangun ulang. 

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menjumpai sesaat berpikir misalnya berargumentasi dengan ancaman, argumentasi dengan merendahkan, argumentasi dengan memojokkan, argumentasi karena tidak tahu, argumentasi karena belas kasihan, argumentasi karena populer, argumentasi karena kekuasaan, argumentasi karena menyamaratakan kasus, pembalikan perkecualian, argumentasi karena sebab palsu, argumentasi dengan pernyataan berbelit-belit dan argumentasi dengan pertanyaan basa-basi.

Berfikir kritis tidak selalu pada aspek ketidaksepakatan pada suatu hal tetapi proses bagaimana kita kemudian menentukan sikap dengan melihat secara komprehensif semua hal yang berkelindan dalam isu yang sedang dibicarakan. 

Berfikir kritis menemukan tantangannya yang cukup berat di era media sosial ketika konten menjadi sebuah kebenaran. Tanpa berfikir kritis, maka kita akan menjadi mangsa pada ciptaan manusia yang bernama teknologi.

Ketika kita mampu berpikir kritis maka kita tidak mudah dikelabui oleh hal-hal yang bersifat artifisial. Kita senantiasa mengambil jarak dan waktu dari sebuah fenomana viral, melihatnya secara utuh kemudian merespons dengan presisi.

Dua tahun silam, viral seorang Satpam Plaza Indonesia memukul anjingnya. Kejadian yang terekam oleh CCTV disebar oleh beberapa orang termasuk beberapa publik figur.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Ternyata tindakan Satpam tidak lain dilakukan semata karena refleks untuk mencegah anjingnya yang menyerang seekor anak kucing. Alhasil, kejadian viral membuat Satpam diberhentikan dari pekerjaannya.

Kejadian di atas merupakan bukti nyata bahwa berpikir kritis dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat. Kejadian viral tidak akan berdampak besar jika semua orang mampu mengambil jarak pada video yang beredar. Mencari tahu puzzle yang belum lengkap sebelum bereaksi.

Kejadian serupa terlalu sering terjadi di era digital. Penipuan menggunakan video AI juga marak terjadi dan menyasar masyarakat secara umum.  Telepon misterius dari orang tak dikenal yang mengaku dari kepolisian atau dari pihak rumah sakit. Mengabarkan bahwa sanak keluarga sedang bermasalah atau sedang kecelakaan kemudian diminta untuk mentransfer sejumlah uang. 

Ada orang yang mengambil jarak dengan berpikir jernih. Menelepon langsung keluarga yang disebut oleh oknum penipu, namun ada juga orang yang kalut dan biasanya langsung mentransfer uang sesuai yang diminta.

Kebiasaan berpikir kritis tidak datang tiba-tiba tetapi merupakan sesautu yang dibiasakan, maka demikianlah berpikir kritis merupakan hal yang sangat diperlukan oleh semua orang.

Bangsa Yang Mati

M. Subhan S.D, suatu waktu menulis opini berjudul "Bangsa Mati di Tangan Politikus." Tulisan tersebut kurang lebih mengkritisi para lakon Politisi yang tidak sadar diri dan posisi. Serangkaian kasus korupsi yang terjadi, tidak lantas menyadarkan para Politisi bahwa mereka telah membuat kerusakan besar jika tidak menyadari hakikat posisi yang mereka emban. 

Alih-alih sadar, Politikus DPR merongkong KPK sebagai lembaga independen dalam pemberantasan korupsi. Panitia angket DPR berusaha melemahkan posisi lembaga KPK. Manuver anggota DPR bahkan seolah didukung oleh partai politik. Reformasi setengah hati ini yang berdampak pada praktik KKN merambah ke segala bidang.

Tulisan itu diterbitkan hampir sembilan tahun lalu, namun sampai detik ini, tidak ada perbaikan dari kondisi lanskap politik Indonesia, yang ada malah sebaliknya, perilaku para politisi semakin bar-bar dalam banyak hal.

Akhir tahun kemarin, terjadi bencana banjir yang cukup parah melanda sebagian daratan Sumatera. Bencana yang seharusnya menyatukan semua kelompok untuk turut membantu agar kondisi segera membaik. 

Namun kita disuguhi pemandangan yang menyesakkan dada. Para politisi ramai-ramai menunjukkan eksistensinya, ada yang datang ke lokasi sambil memikul beras 5 kg, ada yang berkunjung dengan seragam seolah hendak berperang, dan tentu sebagian dari mereka melontarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa memang mereka tidak sadar diri.

Mereka mengatakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan "bantuan" kepada korban banjir. Sekilas tidak ada yang keliru namun jika ditelisik lebih mendalam, mereka sangat senang menggunakan diksi "bantuan." Padahal anggaran yang digunakan adalah APBN yang seharusnya ditujukan kepada kepentingan rakyat. 

Tentu hakikatnya bukan bantuan tetapi memang sudah sesuai alur penggunaannya. Mereka seakan lupa posisi yang sedang mereka pikul sebagai wakil rakyat.

Sebagian lagi dari mereka membandingkan jumlah dana dari APBN dengan donasi dari para Relawan. Mereka mendiskreditkan Relawan dengan cara membandingkan jumlah bantuan, padahal posisinya berbeda. Relawan tidak punya kewajiban struktural untuk membantu sementara mereka punya kewajiban yang diatur UU untuk melakukan kerja-kerja publik.

Pada poin ini, tentu sangat dibutuhkan kesadaran diri dan kesadaran posisi, atau mungkin juga mereka memang denial bahwa intensi mereka menjadi wakil rakyat bukan karena niat mengabdi tetapi hal lain, mungkin.

M. Subhan S.D, suatu waktu menulis opini berjudul "Bangsa Mati di Tangan Politikus." Tulisan tersebut kurang lebih mengkritisi para lakon Politisi yang tidak sadar diri dan posisi. Serangkaian kasus korupsi yang terjadi, tidak lantas menyadarkan para Politisi bahwa mereka telah membuat kerusakan besar jika tidak menyadari hakikat posisi yang mereka emban.
Alih-alih sadar, Politikus DPR merongkong KPK sebagai lembaga independen dalam pemberantasan korupsi. Panitia angket DPR berusaha melemahkan posisi lembaga KPK. Manuver anggota DPR bahkan seolah didukung oleh partai politik. Reformasi setengah hati ini yang berdampak pada praktik KKN merambah ke segala bidang.
Tulisan itu diterbitkan hampir sembilan tahun lalu, namun sampai detik ini, tidak ada perbaikan dari kondisi lanskap politik Indonesia, yang ada malah sebaliknya, perilaku para politisi semakin bar-bar dalam banyak hal.
Akhir tahun kemarin, terjadi bencana banjir yang cukup parah melanda sebagian daratan Sumatera. Bencana yang seharusnya menyatukan semua kelompok untuk turut membantu agar kondisi segera membaik.
Namun kita disuguhi pemandangan yang menyesakkan dada. Para politisi ramai-ramai menunjukkan eksistensinya, ada yang datang ke lokasi sambil memikul beras 5 kg, ada yang berkunjung dengan seragam seolah hendak berperang, dan tentu sebagian dari mereka melontarkan pernyataan yang menyiratkan bahwa memang mereka tidak sadar diri.
Mereka mengatakan bahwa pemerintah telah menggelontorkan "bantuan" kepada korban banjir. Sekilas tidak ada yang keliru namun jika ditelisik lebih mendalam, mereka sangat senang menggunakan diksi "bantuan." Padahal anggaran yang digunakan adalah APBN yang seharusnya ditujukan kepada kepentingan rakyat.
Tentu hakikatnya bukan bantuan tetapi memang sudah sesuai alur penggunaannya. Mereka seakan lupa posisi yang sedang mereka pikul sebagai wakil rakyat.
Sebagian lagi dari mereka membandingkan jumlah dana dari APBN dengan donasi dari para Relawan. Mereka mendiskreditkan Relawan dengan cara membandingkan jumlah bantuan, padahal posisinya berbeda. Relawan tidak punya kewajiban struktural untuk membantu sementara mereka punya kewajiban yang diatur UU untuk melakukan kerja-kerja publik.
Pada poin ini, tentu sangat dibutuhkan kesadaran diri dan kesadaran posisi, atau mungkin juga mereka memang denial bahwa intensi mereka menjadi wakil rakyat bukan karena niat mengabdi tetapi hal lain, mungkin.
Sadar Diri
Dua minggu yang lalu, salah seorang Dosen saya, Djayadi Hanan, hadir dalam sebuah dialog publik yang menghadirkan juga salah seorang politisi dari fraksi Golkar. Dialog tersebut tentang Pilkada dipilih oleh DPRD.
Ada satu sesi ketika pak Djayadi menjelaskan kepada anggota DPR tersebut mengenai dua bentuk demokrasi; demokrasi langsung dan tidak langsung atau demokrasi perwakilan. Semua demokrasi di dunia menganut demokrasi perwakilan.
Anggota DPR tersebut kemudian menyela dengan mengatakan bahwa kenapa kita bilang pilkada oleh DPR anti demokrasi?
Layaknya mengajar kami ketika masih mahasiswa, pak Djayadi dengan sabar menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa yang mempunyai kedaulatan itu rakyat. DPR dipilih oleh rakyat untuk mewakili mereka di bidang legislatif, bukan dipilih untuk memilih lagi wakil rakyat lain di bidang eksekutif.
Saya rasa, penjelasan yang sangat sederhana tersebut seharusnya dipahami dengan baik oleh anggota DPR, namun berbagai argumen menunjukkan bahwa dia tidak paham atau mungkin denial.
Kehilangan Diri
Saya tidak sedang ingin membahas dengan amat sangat detail isu politik. Hal yang ingin saya tekankan bahwa manusia seharusnya mengenal dirinya untuk mencapai adimanusia. Tidak ada seorang pun yang akan menjadi autentik ketika tidak mengenal dirinya dengan baik.
Ada berbagai macam penyebab seseorang gagal mengenal dirinya, namun yang paling sulit diobati ketika gagal karena denial. Contohnya para politisi yang harus tetap tarik urat leher mempertahankan argumennya karena sudah menjadi kesepakatan partai, alih-alih dari hasil refleksi pribadi.
Kehilangan diri sangat menyiksa karena kita hidup dalam bayang-bayang orang lain. Apa yang kita lakukan tidak murni muncul dari perenungan yang panjang namun sekadar kepentingan pragmatis, apapun bentuknya.
Maka perjalanan kita sejatinya adalah perjalanan panjang mengenal diri. Menepi ke dalam kesunyian sambil mendengarkan setiap bisikan yang lahir dari dalam. Apa yang berasal dari dalam diri merupakan mutiara yang seringkali diabadikan.

Dua minggu yang lalu, salah seorang Dosen saya, Djayadi Hanan, hadir dalam sebuah dialog publik yang menghadirkan juga salah seorang politisi dari fraksi Golkar. Dialog tersebut tentang Pilkada dipilih oleh DPRD.

Ada satu sesi ketika pak Djayadi menjelaskan kepada anggota DPR tersebut mengenai dua bentuk demokrasi; demokrasi langsung dan tidak langsung atau demokrasi perwakilan. Semua demokrasi di dunia menganut demokrasi perwakilan.

Anggota DPR tersebut kemudian menyela dengan mengatakan bahwa kenapa kita bilang pilkada oleh DPR anti demokrasi?

Layaknya mengajar kami ketika masih mahasiswa, pak Djayadi dengan sabar menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa yang mempunyai kedaulatan itu rakyat. DPR dipilih oleh rakyat untuk mewakili mereka di bidang legislatif, bukan dipilih untuk memilih lagi wakil rakyat lain di bidang eksekutif.

Saya rasa, penjelasan yang sangat sederhana tersebut seharusnya dipahami dengan baik oleh anggota DPR, namun berbagai argumen menunjukkan bahwa dia tidak paham atau mungkin denial.

Kehilangan Diri

Saya tidak sedang ingin membahas dengan amat sangat detail isu politik. Hal yang ingin saya tekankan bahwa manusia seharusnya mengenal dirinya untuk mencapai adimanusia. Tidak ada seorang pun yang akan menjadi autentik ketika tidak mengenal dirinya dengan baik.

Ada berbagai macam penyebab seseorang gagal mengenal dirinya, namun yang paling sulit diobati ketika gagal karena denial. Contohnya para politisi yang harus tetap tarik urat leher mempertahankan argumennya karena sudah menjadi kesepakatan partai, alih-alih dari hasil refleksi pribadi.

Kehilangan diri sangat menyiksa karena kita hidup dalam bayang-bayang orang lain. Apa yang kita lakukan tidak murni muncul dari perenungan yang panjang namun sekadar kepentingan pragmatis, apapun bentuknya.

Maka perjalanan kita sejatinya adalah perjalanan panjang mengenal diri. Menepi ke dalam kesunyian sambil mendengarkan setiap bisikan yang lahir dari dalam. Apa yang berasal dari dalam diri merupakan mutiara yang seringkali diabadikan.


January 6, 2026

Butuh dan Ingin

Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Beberapa hari ini, saya menaruh tas impian di keranjang marketplace yang saban hari mengecek apakah tas ini diskon atau tidak. Sekira sebulan berlalu, harganya masih tetap sama, alhasil membuat saya masih menunda jari untuk menekan tombol checkout.

Pagi ini, saya dipertemukan dengan bacaan tentang surat seorang ayah terhadap putrinya. Salah satu bagian tertulis “Nikmatilah sepenuhnya apa yang kau miliki dan tekanlah keinginan apa yang tak kau miliki sekecil mungkin.

Buku itu berjudul "Surat-Surat Kepada Karen." Buku yang sejatinya diterbitkan pertama kali pada tahun 1965, tepat 60 tahun yang lalu. Charlie Shedd, seorang ayah yang menulis nasihat indah penuh kasih saya kepada anak perempuannya yang hendak menikah. Meskipun ditulis 6 dekade silam namun isinya masih sangat relevan dengan kehidupan hari ini, bahkan hampir semunya.

Tulisan tersebut mampu menyadarkan saya bahwa begitu banyak keinginan-keinginan yang berhasil membuat saya tidak menikmati apa yang sudah saya miliki. Perihal tas, sebenarnya saya masih memiliki beberapa tas yang masih sangat layak digunakan namun hanya karena keinginan, saya berhasrat membeli tas baru.

Entah sudah sekian kali saya menulis kebutuhan dan keinginan yang harus dipisahkan. Sekeras apapun saya merefleksikan kedua hal tersebut, saya tetap saja terjebak dalam keinginan-keinginan yang tak berujung. Salah satu hal yang gagal saya kontrol adalah meembeli sepatu. 

Tas itu akhirnya terbeli juga dengan dalih bahwa saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah membeli tas beberapa tahun terakhir. Namun saya memiliki stok tas yang masih bisa digunakan dengan layak.

Bukan hanya tas, saya pun terjebak membeli sepatu bahkan saya memiliki enam pasang sepatu sementara yang sering saya pergunakan hanya dua.

Begitulah, untuk hidup dalam kedamaian maka saya harus menjadi nyata dan sadar. Menjalani hidup detik ini juga sambil mengontrol pikiran yang terlalu liar dan sangat sibuk. Saya perlu menjadi nyata dan sadar untuk menemukan diri saya yang sudah lama hidup dalam ilusi karena terpenjara oleh angan-angan.

Pria Yang Terdiam di Bangku Taman (1)

 BAGIAN I — Aku yang Kehilangan Arah

1. Aku tidak sedih, tapi juga tetap hidup

Apa itu sedih, dari mana datangnya dan bagaimana menawar kesedihan? Atau mungkin sedih merupakan hal yang alamiah dalam hidup setiap manusia. Bagaimana bangkit dari kesedihan  dan menemukan jawaban hidup dari perasaan sedih.

Mengapa ketika manusia sedih, energinya seakan terkuras dan tak mampu melakukan hal-hal yang produktif. Sedih tidak terlihat namun membunuh manusia perlahan bahkan keramaian sekalipun tidak berarti. 

Aku seorang pria yang sangat sering merasakan kesedihan sejak memutuskan menikah. Bukan, bukan karena menyesal tetapi begitu banyak alasan yang melahirkan kesedihan tak berujung. Atau mungkin juga khawatir, entahlah apapun namanya.

Aku lahir dari keluarga sederhana dengan tujuh bersaudara. Kami tidak pernah begitu menderita, setidaknya kami masih bisa makan bahkan sampai berapa kali dalam sehari jika mau. Kami pun masih mampu melanjutkan pendidikan bahkan sampai ke tingkat universitas. 

Namun demikian, aku tidak pernah begitu merasakan hal berlebih saat masih kecil. Seingatku, kami memiliki sepeda namun pemberian dari saudara dan sepeda itu beberapa kali diservis, sekali digunakan, tiga kali diservis.

Kami pun tidak punya kamar pribadi karena hanya ada tiga kamar di rumah. Alhasil kami berbagi kamar. Pengalaman ini yang membuat aku begitu sedih ketika menyadari bahwa aku belum mampu menyediakan kamar sendiri untuk satu-satunya putra kami. Saat menggambar atau belajar, dia harus berada di depan ruang tamu yang itupun tidak memadai. Itu kesedihanku dan beberapa kesedihan-kesedihan lain.

Begitu membayangkan ketidakmampuanku, aku memilih untuk berdiam diri di bangku taman, menyesapi udara sore hari yang nampaknya menyadari kehadiranku. Dia menyapa begitu lembut bahkan sangat hati-hati, mungkin dia mengerti bahwa aku sedang dalam kesedihan dan hanya butuh sedikit ruang untuk merasakan diri.

Aku cukup lama membenamkan pikiranku di bangku taman itu. Bocah-bocah bercanda di sebrang jalan sambil sesekali melirik kepadaku, mungkin mereka iba sambil berguman, "alangkah mengerikannya menjadi orang dewasa dengan berbagai problematikanya."

Ada benarnya, tidak harus disadari bahwa saat nafas masih menyatu dengan jasad maka pastikanlah bahwa masalah akan terus mengintai. Dia tidak akan menghilang dari setiap jejak langkah yang diukir di dunia ini.

Jika sebagian orang dewasa iri melihat bocah yang membunuh waktu dengan bermain, maka aku tidak, sama sekali tidak. Hidup adalah saat ini maka masa lalu hanya sejarah sementara esok hari adalah angan-angan.

Di bangku taman itu aku menyadari sesuatu yang ganjil, kesedihan tidak selalu datang untuk menghancurkan. Kadang ia hanya duduk di samping kita, diam, menunggu kita berani menatapnya. Dan sore itu, untuk pertama kalinya, aku tidak mengusirnya.

Aku menarik napas panjang. Udara terasa lebih berat, tapi juga lebih jujur. Mungkin aku belum mampu memberi kamar sendiri untuk anakku, belum mampu menjanjikan masa depan yang mewah. Tapi aku masih ada. Aku masih hidup. Dan entah mengapa, kesadaran itu memberiku alasan kecil untuk tetap mendekap sore di bangku taman.

Tarikan nafasku melalui hidung sambil pikiranku menghitung sampai delapan. Aku menahan nafas dengan hitungan yang sama lalu melepaskan nafas melalui mulut, pun dengan hitungan yang sama. Aku menyadari menjadi nyata, merasakan pikiran yang menari-nari ke masa lalu kemudian ke masa depan. Aku tidak memenjarakannya, hanya mengontrolnya.

Setiap kali pikiran terbang, aku menariknya kembali ke masa sekarang. Kemudian mulai merasakan pundak, aliran darah di tangan, jemari yang seringkali kaku, perut yang tidak pernah lelah dijejali makanan. Aku pun merasakan kedua kaki yang tidak pernah lelah melangkah.

Bersama itu, aku juga merasakan hal dari luar diri, sinar matahari yang sebentar lagi tenggelam, udara sore yang menyejukkan, suara-suara riuh dari lalu lalang manusia.

Aku merasakan semuanya kemudian tiba-tiba terang. Kepalaku seperti dikalibrasi dari berbagai kotoran yang menumpuk. Aku beranjak lalu berguman, mulai sekarang aku ingin hidup dalam kenyataan bukan dan kesadaran.

Selepas Membaca 23.59

Selepas membaca novelnya Brian Khrisna, 23.59, memoriku berjalan mundur 13 tahun silam. Tentang perpisahan tanpa pamit dan tentu sangat menyiksa bahkan menyisakan tanda tanya tak berujung. Cerita yang kemudian terkubur bersama waktu meski masih sering hadir untuk mengingatkan bahwa ada momen yang pernah melukai.

Ini bukan rekaan namun realitas yang menemani perjalananku sejauh ini. Aku masih ingat setiap potongan ceritanya, saat pertama kali kami menyatakan rasa. Setelah itu, beberapa waktu kemudian harus terpisah oleh ruang atas impian yang ingin dikejar. 

Mungkin memori paling indah ketika aku membeli seragam baju batik murah di Jogjakarta. Motifnya masih tersimpan rapi di sudut memoriku, didominasi warna putih dengan corak bunga yang berwarna navy. Aku memilih lengan pendek sementara dia kupilihkan batik model gamis. 

Baju untuknya kukirim ke kotanya, entah sampai atau tidak namun yang kuingat bahwa itulah terakhir kalinya dia kuhubungi, setelahnya dia menghilang dengan hanya ucapan selamat tinggal melalui pesan SMS. Di siang bolong, dia berlalu kemudian semuanya mesti berakhir.

Aku masih terus menyimpan sedikit harapan dan mencoba menghubunginya namun nihil. Dia seakan berlalu dalam gelap, atau mungkin menganggap bahwa perasaan bisa dipermainkan sesukanya. Satu hal yang pasti, tidak ada alasan jelas kenapa dia lenyap.

Saat itu, aku berusaha menghubunginya namun sia-sia belaka. Dia tidak pernah lagi memberika respons bahkan sampai saat ini. Dia hadir memberikan pertanyaan seumur hidupku tentang alasan dia memilih mundur.

Jika dalam novel 23.59, Ami didatangi oleh Raga dalam mimpi untuk memberikan jawaban yang utuh atas keputusannya pergi, namun aku tidak. Mimpi yang kutunggu tak kunjung datang dan terkubur bersama waktu.

Cerita fiksi dalam novel adalah realitas dalam hidupku meskipun tidak membuatku merana namun tetap saja ada kekecewaan yang terus membeku.

January 1, 2026

2016

Semalam, sebelum tidur lebih awal dari biasanya, saya merekam sebisa mungkin memori tentang pergantian tahun. Saya menyadari bahwa sedari dulu, pergantian tahun tidak pernah menjadi momen yang spesial bagi saya. Semalam, tepat jam 10, saya sudah memejamkan mata di sofa ruang tamu sambil memegang buku.

Saya terjaga kira-kira jam 12 lewat sedikit ketika dentuman petasan yang seakan memecah gendang telinga. Saya terjaga tidak lebih dari lima menit kemudian melanjutkan tidur. Pada akhirnya semua berjalan normal. Momentum pergantian tahun tidak lebih hanya abstraksi dalam pikiran kita untuk memaknai hal-hal yang dianggap ada padahal ilusi. Esoknya, tidak ada yang spesial dan saya pun menjalani hari sebagaimana biasanya.

Saya bangun lebih awal dari biasanya untuk kembali menemukan hal-hal baik yang saya lakukan. Sedikit meditasi dan lanjut rebahan. Rutinitas pagi hari tidak lepas dari secangkir kopi susu dan beberapa potong pisang goreng sambil membunuh waktu di depan layar laptop.

saya menemukan sebuah tulisan di website rumah filsafat dengan judul "Menjadi Nyata di Tahun 2026." Sebuah tulisan membumi tanpa angan-angan layaknya resolusi para manusia yang memburu kenyamanan materi. Tulisan ini menjelaskan tentang momentum tahun baru yang sejatinya abstrak dan ilusif dan tidak nyata, seperti halnya dunia, pikiran kita bahkan emosi juga tidak nyata karena dibatasi ruang dan waktu.

Penulisnya, Reza menyatakan bahwa resolusinya cukup simpel yaitu lebih sering berada dalam keabadian, mengakrabi keheningan yang disebutnya sebagai dirinya yang hakiki.

***

Dua hari sebelumnya, saya melumat sebuah buku dalam sehari kurang lebih 370 halaman. Sebuah buku semacam catatan perjalanan yang ditulis oleh Mohammad Zaim, Muslim dari Kediri yang menceritakan perjalanan panjang kehidupan spiritualnya. Awalnya kuliah di IAIN Sunan Ampel (sekarang UIN) karena keadaan. Dia diterima di Unesa namun saudaranya menyuruh untuk kuliah di UIN. Hanya beberapa tahun, dia memilih pindah ke sekolah Tinggi Agama Budha di Jakarta.

Zaim memilih sekolah ini karena hasratnya untuk menjalani spiritual model meditasi yang lazim dilakukan pemeluk agama Budha. Selanjutnya dia melanjutkan pencarian jiwanya ke biara yang bernama Plume Village di Bordeaux. Selama 6 tahun, dia menempa dirinya di sana. Satu hal yang unik bahwa meskipun dalam tradisi Budha, dia tetap menganut agama Islam bahkan menurutnya, dengan melakukan itu semua, kepercayaannya terhadap Islam semakin menguat.

***

Momen lain dalam dua kali kesempatan pada platform berbahasa Inggris, saya mengobrol dengan Jade, salah satu mahasiswi di sekolah Budha di Vietnam yang sebentar lagi akan lulus. Kami mengobrol banyak tentang bagaimana meditasi dilakukan.

Saya membukan obrolan dengan menceritakan bahwa di tahun ini, saya berencana untuk meluangkan waktu minimal dua kali dalam sehari untuk belajar meditasi, ketika akan tidur di malam hari dan saat bangun pagi.

Jade dengan penuh semangat mengatakan bahwa meditasi bukan tentang bagaimana kita menyepi dalam keheningan, bukan tentang kondisi tetapi meditasi bisa dilakukan setiap saat. Ketika bekerja, ketika mengobrol, ketika belajar, dan apapun yang sedang kita lakukan. Meditasi sejatinya adalah menyadari apa yang sedang kita lakukan sekarang dan memanggil "Mind" untuk tetap berada pada kondisi present. Ketika dia sedang berkelana ke masa lalu maka panggil dia kembali, pun ketika dia sedang pergi ke masa depan, maka kembalikan dia di masa sekarang.

Dari ketiga momen di atas, mungkin saya sedang diingatkan untuk berusaha belajar sadar akan saat ini. Pikiran tidak bisa dipenjara tetapi dapat dikontrol untuk tidak terlalu mengembara karena sejatinya pikiran yang akan melahirkan berbagai macam hal yang berhubungan dengan psikologis. 


December 15, 2025

Romantisme Merantau

Enrekang-Bandung ternyata terlalu jauh membawaku dalam sepi. 

Dulu aku pernah  menyaksikan seorang pria yang harus merantau dan hanya pulang sekali dalam beberapa tahun. Ketika pulang, seakan sangat keren.

Dulu, beberapa orang di kampungku merantau jauh ke Irian, Malaysia, dan Kalimantan dalam waktu yang cukup lama bahkan puluhan tahun.

Dulu, aku pernah mendengar kisah alegori seorang bayi yang hidup di bawah perlindungan pohon tua. Semakin beranjak dewasa, si anak mengambil satu persatu pohon tersebut untuk kesenangannya. mulai dari buah, daun, ranting, sampai batang. Hingga tiba masa ketika dia sadar bahwa tidak ada lagi yang tersisa dari pelindungnya si pohon.

Itu dulu, dan sekarang aku menyadari mereka adalah aku yang terdampar jauh di tanah rantau. Tempat yang tidak pernah benar-benar menawan jiwaku. 

Aku tetap merasa anak kampung yang terpaksa harus mendekap diri dan menjejak langkah di tempat ini, terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan sambil menahan rindu kepadamu, ibu.

Aku naif mempercayai metaforik tentang merantau;

Merantaulah.. agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana harus pulang

Merantaulah... engkau akan tau betapa berharganya waktu bersama keluarga

Merantaulah... engkau kan mengerti alasan kenapa harus kembali.

....

Romantisasi merantau menjebakku dan memaksa mencerabut jiwaku dari akarnya.

Seringkali aku tak kuasa dan ingin melepaskan semua namun tak ada daya. Aku merasa bahwa hidupku tertinggal di umur 25 tahun dan sisanya hanya hampa.

December 2, 2025

Berita Awal Bulan

November cukup menguras energi dengan berbagai dinamikanya. Saya bahkan pada titik menyerahkan semua pada semesta sambil terus tertatih. Semua masalah muncul dari berbagai arah yang tak terduga, di lingkungan keluarga, di kerjaan, dan berbagai masalah yang membuat kepala serasa akan meledak.
Saya berharap pergantian bulan sedikit meredakan pikiran yang kacau, namun tidak. Semesta tetap menjalankan caranya sendiri.
Kemarin tepat di tanggal satu, berita yang selalu dikhawatirkan sampai di telinga saya. Salah seorang Tante yang cukup dekat dengan saya, sudah tiba pada titik akhir. Meski saya sadar bahwa dia begitu sepuh dan waktunya pasti tiba, tetapi tetap saja ada ruang kosong yang tersisa di sanubari saat memori merecall semua potongan waktu bersamanya, tentang bagaimana beliau yang dulu pernah menjadi penyelamat hidup saat masih kuliah.
Saya tidak tahu pasti usianya berapa tetapi perkiraan saya, beliau sudah mencapai angka 100.

November 13, 2025

Langkah Terakhir

Berita itu datang di siang bolong, telepon WA yang masuk tanpa nama. Aku mengangkat tanpa perasaan curiga akan berita menyedihkan. 

Meninggalki NN.

Aku terdiam, benar-benar terpaku dalam keheningan sejenak suara mulai larut dari gendang telingaku. Suara itu cukup akrab di telingaku dan nama yang disebutkan pun tak kalah akrab denganku bahkan kami sering mencela dalam keakraban.

Memoriku memutar kembali beberapa periode waktu ketika bercengkerama bersamanya dengan segala keguyuban yang ada di antara kami. Sedikitpun tak pernah luput suguhan aneka jajanan ketika aku bertandang. Namun aku juga sangat yakin bahwa dia akan menemukan apa yang dituju karena di akhir-akhir waktunya, selalu saja pesan sejuk yang diungkapkan.

11 Juli 2025, terakhir kali aku mengomentari status WA nya, tentang perjalanannya menunaikan ibadah umroh. Dia hanya merespons dengan ucapan terima kasih. Ah, benar-benar perjalanan hidup yang amat sangat singkat.

Perjumpaan kami di awal tahun ini dan ternyata yang terakhir. Kami tidak saling mengucapkan selamat tinggal karena semesta sama sekali menyisakan tanda, atau mungkin memang seperti itu. Kita selalu disuruh waspada karena tak pernah diberitahu kapan langkah terakhir kita.

Kita benar-benar sangat yakin bahwa kematian pasti akan hadir menjumpai seluruh makhluk tetapi setiap kali momen tiba pada orang yang kita kenal, selalu saja menyisakan ruang hampa, entah apa namanya. Tidak ada yang siap mendengar kematian tanpa persiapan apa-apa.

November 12, 2025

Ibu dan Segala Kebahagiaan

Luruhlah segala kepedihan, 

yang terpendar dari sanubari sang perempuan. 

Suara keheningan di subuh hari, 

semakin menyesakkan dada


kenangan terlempar di masa silam, 

ketika kemewahan tidur di pangkuannya

Perlahan-lahan, genangan air hangat mengalir di sudut mata

semakin menyesakkan dada


Semakin langkah menjauh dari rumah, 

semakin jauhlah apa yang dicari

Aku terlempar dalam fatamorgana, 

yang kuanggap dulunya hakiki


Setelah ini, apa lagi

Entahlah

Gelap dalam pandanganku 

Terjebak dalam angan-angan kosong


Apa maknanya semua ini

Jika jarak langkah dan tujuan semakin menjauh

Semakin aku mencari,

Semakin hilanglah dia


November 4, 2025

Republik Kampus (3)

#Menemukan Diri

Deadline publikasi tinggal dua hari lagi, dokumen akreditasi yang harus diupload esok hari, bahan ajar yang tak kunjung diselesaikan, dan sekian tugas-tugas lain masih menunggu untuk disentuh. Namun malam yang semakin menua, Gunawan tidak bergeming. Dia hanyut dalam bacaan tentang mitologi  Sisyphus, makhluk yang dikutuk oleh Zeus untuk mendorong batu besar ke atas bukit dan setiap kali akan mencapai puncak, batu jatuh kembali dan Sisyphus harus mengulang hal yang sama. Kutukannya abadi.

Apa yang dilakukan Sisyphus? 

Alih-alih bunuh diri atau putus atas akan takdirnya, dia menari-nari dalam gelombang yang dihadapinya, menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang absurd. Melakukan hal yang repetitif tanpa tau ujungnya memang cukup menyiksa. Gunawan merasa dia seorang Sisyphus di dunia modern yang terus saja melakukan hal yang repetitif.

Apakah ini yang dinamakan hidup bermakna?” gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi kebisingan di kepalanya yang terus berdengung.

Gunawan menutup mata dan merasakan angin malam, menarik napas panjang. Ia sadar bahwa yang mengekang bukan pekerjaan atau sistem, tapi ekspektasi idealisme dalam dirinya sendiri. Ia ingin kampus menjadi laboratorium pemikiran, bukan sekadar tempat mencari angka kredit atau dana hibah. Ia ingin mahasiswa membaca buku, berdiskusi, dan berpikir kritis, bukan sekadar sosok-sosok yang mencitrakan diri sebagai intelektual.

November 2, 2025

Detik Terakhir

Tetangga yang saya ceritakan tempo hari, sudah menutup hidupnya di Jum'at malam tepatnya setengah dua belas malam. Kami mengenalnya sejak delapan tahun silam ketika pindah ke sini. Tentu interaksi kami dengan mereka cukup intens karena rumahnya tepat di depan rumah kami dan kalau hendak ke luar maka kami melewati depan rumah.

Jika tidak salah, dua bulan lalu sebelum pensiun dari kerjaannya, dia masih sangat segar dan semangat menjalani rutinitasnya. Sebenarnya dia belum berniat pensiun namun karena kondisi kesehatannya yang kadang-kadang drop maka akhirnya dia memutuskan untuk pensiun. Ternyata penyakitnya cukup serius dan baru didiagnosa setelah chek up ke RS UI.

Sejak itu, kesehatannya terus menurun sampai akhirnya menutup hidupnya tepat di akhir Oktober. Sebelum nafas terakhir, saya masih sempat menengoknya sesaat setelah tiba dari Bandung. Kalau tidak salah, jam setengah sembilan malam saya menengoknya kemudian tiga jam kemudian berpulang. 

Kita meyakini bahwa momen demikian akan dialami oleh semua makhluk hanya saja bentuknya yang berbeda. Ada yang sakit, ada yang kecelakaan, dan berbagai penyebab hilangnya nyawa meskipun kita sadar bahwa semua itu hanyalah sebab normatif karena sesungguhnya ketika kontrak hidup sudah berakhir maka berakhirlah.

Apa yang membuat kematian begitu mendapat perhatian dari manusia sementara mereka meyakini bahwa kematian merupakan hal yang alamiah?