December 21, 2013

Hari Ibu

Meski beribu huruf yang kutulis untuk melukiskan seorang ibu di negeri sana, tak jua menampung apa yang ada di pikiranku. kata hanyalah rangkaian huruf yang dibaca namun berbicara tentang ibuku adalah tentang cinta yang amat sangat picik ketika termuat dalam tulisan puitis sebagus apapun. hanya memandang wajah sendunya sudah menguapkan semua yang ada dipikiranku. tak ada lagi katakata yang terucap ketika bersamanya. benar bahwa merantau telah mengajarkanku nilai lebih tentang cinta terhadapnya. aku bahkan sampai tidak membayangkan bagaimana beliau berada di ujung negeri ini. memang amat sentimental ketika aku berbicara tentang ibuku bahkan andai saja aku adalah windi maka urai air mataku sudah tak tertahankan lagi ketika rindu terhadapnya menyerangku.

kata orang hari ini adalah hari ibu, aku tak peduli itu, aku tak peduli kapan hari ibu itu karena ibuku ada dalam cintaku, beliau mengajarkanku cinta kepada Khalik dan Muhammad. selalu saja ada getaran rindu yang tak tertahankan ketika mengucap kata ibu. aku selalu mencoba melukis dirinya, menggambarkan ketulusannya namun selalu saja gagal bahkan saat masih berpikir untuk melakukan itu, aku sudah yakin akan gagal karena cintanya hanyalah kurasakan melalui hatiku.

Masih saja beliau bekerja di negeri sana, ketika beliau kutinggalkan, masih dalam keadaan sehat, entah sekarang namun mudah-mudahan saja perjalanan waktu tidak terlalu cepat menggerogoti kekuatannya. beliau masih punya impian melihat anak-anaknya bahagia namun lebih dari itu, aku amat sangat berharap suatu saat nanti menyaksikannya tidak terlalu bekerja keras karena kami sudah berhasil, aku hanya ingin menyaksikan beliau menghabiskan masa tuanya bermain bersama cucu-cucunya tanpa harus lagi bekerja keras. sudah cukup beliau menghabiskan separuh waktunya untuk mengais rejeki buat kami, mungkin saja momennya beliau bermain-main dengan orang yang disayanginya.

Baru segini tulisan tentangnya namun aku sudah tidak bisa mencurahkan katakataku lagi. di memoriku hanyalah wajahnya yang sendu dan dengan diamnya terus mengadon kue, memasak nasi dan pekerjaan yang lain sambil menunggu waktu istirahat, saat senja jatuh menghampiri bumi, beliau bersujud di sajadahnya yang sudah kusam sambil menitikkan air matanya. meski aku tak pernah bertanya tentang doadoanya di dalam shalatnya namun aku amat sangat yakin bahwa beliau tidak sedang berdoa untuk dirinya namun beribu doa dari mulutnya hanya untuk anak-anaknya.

salam sejahtera selalu untukmu ma..
semoga senantiasa sehat wal'afiat

Missions Accomplished

Semua sudut ruang di kota ini telah kutelusuri. Benar-benar melelahkan memang namun sensasi perjalanan sangat mengesankan. tadi siang, kecamatan terakhir berhasil kutelusuri, kecamatan pitu. meski dari berbagai cerita orang disini bahwa kecamatan tersebut amat sangat terpencil namun aku masih berpikir bahwa kecamatan karanganyar masih lebih terpencil dan jalanan yang berbatu. perjalanan di kabupaten ini benar-benar melelahkan. setiap sudutnya telah kusaksikan dan beribu makna hidup pun telah terhidang. mereka penduduk kabupaten ini telah menawarkanku berbagai macam hikmah yang terserabut.
setahun memang bukan waktu yang singkat merasakan hidup disini, menelusuri jejak langkah yang belum pasti meski terkadang jatuh namun tak apalah. hidup ini akan terus berjalan sebagai mana mestinya.
   dokumentasi di kecamatan pitu


ini foto supaya ada bukti bahwa benar-benar pitu telah kujelajahi meski dengan susah payah.

smpn 3 pitu
smpn 3 pitu yang amat sangat miris. perjalananku di kabupaten ngawi telah mengajarkanku tentang realita dunia pendidikan indonesia yang masih amat timpang. aku telah menjadi salah satu aktor yang entah protagonis ataupun antagonis di dunia pendidikan ngawi.

smpn 1 pitu
kalau yang ini sudah amat lumayan dibandingkan dengan smpn 3 pitu yang begitu menyedihkan. dari luar kelihatan seperti sekolah TK.

Kawan yang hampir terlupa

Akhir-akhir ini, saya memanggil kembali memoriku untuk mengingat teman-temanku semasa sekolah, bukan tanpa sebab, seringnya saya ke setiap sekolah memaksa memoriku mengingat semua masa-masa sekolah, dan yang sering teringat adalah teman-teman yang sudah amat sangat lama tidak berkomunikasi meski dulunya lumayan dekat. pertemanan yang kemudian kabur seiring dengan perjalanan waktu, kabur bukan karena waktu yang bersalah namun karena kita tidak menyiram pertemanan tersebut dengan siraman komunikasi yang intens.

Saya mencoba mengingat mereka satu persatu dan kebanyakan yang berhasil kuingat adalah mereka yang tidak terlalu banyak omong. Aku mencoba mengingat mereka satu persatu mulai tingkat pertama sekolah menengah. Nampaknya memoriku agak sedikit bermasalah karena sangat sedikit dari mereka yang mampu kuingat. ada vi**an R, dia amat sangat singkat bersama kami karena dia harus pindah ke kota lain mengikuti ayahnya yang seorang tentara. Muj****in, S**eh dan Ha*i. Mereka semua satu kampung yang berjarak beberapa km dari kampung saya. Orangnya baik dan agak kalem. Mu**ani orang Pa***ak, dia sangat suka tertawa meski tidak ada yang terlalu lucu, kukira selera humornya terlalu rendah.

Di sekolah tingkat atas, sma, aku juga mengingat sebagian dari kawan-kawanku yang hampir terlupa. Terkadang mereka yang terlupa adalah mereka yang menyimpan banyak hikmah. Ma**ur orang P**ui. namanya mudah diingat karena sama dengan nama seorang penyanyi dangdut senior yang populer di masa saya remaja. R**in orang D*lo, terakhir kabar yang kuterima tentangnya bahwa dia mengalami kecelakaan yang mengantarnya ke hadapan Ilahi. saya angkat jempol untuk kemampuan matematikanya. kayaknya dia salah satu siswa yang unggul di mata pelajaran matematika seangkatanku

Seorang lagi temanku namanya Sur**nto, orang Ba**i, lumayan baik orangnya, saya sudah begitu lama tidak mengetahui kabarnya, semoga saja dia sehat-sehat saja.

Begitulah teman-teman yang pernah menghiasi masa remajaku. semua menguap bersamaan dengan waktu dan entah suatu saat nanti masih bisa bersua atau bahkan tidak terdengar sama sekali.

Pertemanan layaknya pengetahuan. jika tidak sering dikomunikasikan atau diulang-ulang maka akan kabur secara perlahan sampai pada akhirnya akan sirna. itulah sebabnya pertemanan yang langgeng adalah pertemanan yang sering komunikasi bahkan untuk sekedar saling menanyakan kabar. 

Lelaki Harus Berkelahi

Lelaki harus berkelahi. Ini bukan pernyataan metafora dari saya, aku mengatakan seperti itu karena aku berfikir laki-laki itu harus sesekali berkelahi.

Siang tadi, untuk membunuh waktu yang terlalu lama jam 12 siang, aku memutuskan duduk berlama-lama di kantin SMK PGRI 1 Ngawi, sambil menyeruput secangkir kopi kesukaanku dan menikmati aneka gorengan. aku memperhatikan setiap siswa di sekolah ini yang mayoritas adalah laki-laki. Sejurus kemudian, segerombolan dari mereka berkumpul dan sedang menyaksikan sesuatu, lama kuperhatikan ternyata dua diantara mereka sedang berkelahi, siswa yang lainnya hanya menonton.

Ya, laki-laki harus berkelahi seperti anak SMK tersebut. Untuk merasakan kerasnya hidupnya, sekali kali para lelaki berkelahi jika memang perlu. Aku bahkan menyesal tidak pernah lagi berkelahi semasa SMP dan SMA, terakhir kuingat aku berkelahi saat masih di SD. seingatku, aku berkelahi dengan sepupuku yang seumuran denganku di belakang TK dekat lapangan sepakbola. kuingat dengan jelas saat kami berguling mencoba saling mengalahkan. Entah bagaimana akhirnya namun tidak ada dari kami yang keluar sebagai pemenang maupun yang kalah.

Ingatanku tentang perkelahian pada masa SMA hanya sebatas menonton temanku yang berduel. jadi sekolah saya yang berada di bawah bukit. nah pada saat itu, ada seorang teman saya yang ditantang berduel dengan siswa satu tingkat di atas kami. alhasil disepakati bahwa mereka akan berduel di tengah hutan di atas bukit yang hanya berjarak sekitar 1 km dari sekolah kami. 

Seingatku, ada beberapa teman yang menjadi penonton. saat duel sudah berlangsung, kakak tingkat saya tersebut kemudian mengeluarkan badik dan mengejar temanku. temanku lari sekuat tenaga karena tidak ingin mengambil risiko. tidak ada yang cedera pada duel tersebut namun setidaknya, mereka membawa kenangan masa remaja yang keras. saya sudah lama tidak bertemu keduanya. mungkin mereka sudah tumbuh dewasa dengan nyali yang cukup tangguh karena sudah pernah menguji nyali mereka saat remaja, beda denganku yang tergolong remaja penakut.

Para lelaki harus berkelahi sepanjang tidak membahayakan diri mereka. berkelahi tidak lebih buruk dari olahraga tinju ataupun olahraga beladiri lainnya, bedanya hanya tatacaranya karena berkelahi bebas dengan teman atau siapa saja tidak membutuhkan wasit sedangkan olahraga beladiri lainnya butuh wasit.

Lelaki harus berkelahi. Memaknai hidupnya sebagai gender yang paling keras meskipun ini terdengar bias gender namun tidak apa-apa. Memaknai diri sebagai orang yang akan menjadi pelindung dalam keluarganya disaat anak-anaknya membutuhkan kehangatan maka akan ada ibu di sampingnya namun disaat bahaya dari luar mengancam maka pria ada jawaban dari ancaman tersebut. pernyataan ini juga sangat maskulinitas dan berpotensi mengundang reaksi para feminis namun sekali lagi, tidak apa-apa karena memang secara fisik, lelaki dibentuk sedikit lebih kuat dari perempuan.


December 20, 2013

Maghrib Ini

Selepas menunaikan beberapa tugas kantor yang menumpuk, aku memlih keluar kantor memutari kota ini sambil menunggu maghrib mengingat maghrib sebentar lagi. Pekerjaan kantor yang benar-benar menumpuk memaksaku tetap duduk sampai pukul 17.00. 

Sembari mencari angin segar menyegarkan pikiranku, motor terus kuarahkan ke setiap sudut kota. Beberapa mesjid telah kulewati namun belum jua terdengar kumandang azan maghrib membuatku malas menunggu, hingga sampailah aku di depan alun-alun kota ini, azan mulai berkumandang. sejurus kemudian, motor bututku kuarahkan ke mesjid agung kota Ngawi. Alhasil, aku menunggu shalat di mesjid ini.

Sayup-sayup azan dikumandangkan beserta orang-orang sekitar bergegas ke mesjid ini menunaikan kewajiban. Sesaat sebelum iqamat, seorang panitia mengumumkan beberapa pemberitahuan. beberapa poin pemberitahuan tidak terlalu menarik perhatianku sampai pada saat diakhir pengumuman, dia mengatakan bahwa "barangsiapa yang membawa anak kecil, harap dijaga supaya tidak mengganggu kekhusyukan salat. aku tiba-tiba langsung terkesiap mendengar pengumuman itu, apa kaitannya anak kecil dengan shalat khusyuk? siapa yang bisa melebihi kekhusyukan shalat Nabi Muhammad SAW, bahkan Beliau pernah shalat sambil menggendong cucunya.

"Berdasarkan riwayat dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW pernah shalat, sementara Umamah —anak perempuan Zainab, yakni putri Rasulullah SAW— di bahu beliau. Jika Rasul rukuk, maka beliau meletakkan anak itu dan jika bangkit dari sujud, maka beliau mengangkatnya dan meletakkannya kembali di atas bahu beliau. Amir berkata, "Aku tidak menanyakan shalat apa sebenarnya yang beliau lakukan ketika itu." Namun, Ibnu Juraij berkata, "Aku diberitahukan oleh Zaib bin Abu Itab dari Umar bin Sulaim bahwa shalat yang dikerjakan Rasul SAW saat itu adalah shalat Subuh.” (HR Bukhari, sebagaimana dikutip Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah)".

Entah apa yang ada di pikiran setiap orang ketika melarang anak kecil berlari dan bermain di dalam masjid saat salat sedang berlangsung? aku sendiri sama sekali merasa tidak terganggu bahkan sangat senang ketika melihat dan mendengar anak kecil bermain sambil tertawa tanpa merasa terganggu dengan apa yang sedang kukerjakan termasuk itu ketika aku sedang shalat.

Senja dan Basah

senja yang basah
dengan senandung semesta riang
malam mengintip
dalam heningnya yang bisu
dan senja yang basah
Mencairkan malam yang hening dalam gelap
Kemudian berlari menyambut pagi
Dan senja yang basah
Hadir dengan sejuta makna

Saya mengedit tulisan-tulisan saya yang berserakan beberapa tahun yang lalu. tulisan yang memalukan tentang usaha saya menulis puisi-puisi norak. terlalu banyak puisi semacam itu yang membuat saya tidak mampu menghapus atau merevisi satu persatu. selain itu, saya juga merasa kalau saya hapus maka tidak ada bahan saya merevisi kekonyolan saya dulu yang berusaha ingin menulis puisi tanpa ada dasar sama sekali.

biasanya kalau saya menulis puisi seperti ini, saya baru saja membaca puisi yang menurut saya keren dan saya bisa juga menulis seperti itu dan setiap saya coba, selalu berakhir dengan puisi yang konyol dan memalukan. saya tidak ingat puisi apa yang baru saya baca saat itu.

Saya harus mengakui bahwa kemampuan menulis saya sangat payah. beberapa genre tulisan sudah saya coba namun tidak ada yang berhasil. mulai dari puisi, cerpen, renungan, humor dan tulisan apa pun namun all of that didn't works. agak sedikit sedih sebenarnya membayangkan kapasitas diri saya yang benar-benar tidak mampu berada pada level yang membanggakan bahkan dalam hal apapun. entah itu pekerjaan, hobi, soft skill, dan bidang lainnya yang pernah saya jalani namun semua failed. terkadang ingin memaki diri namun takut kufur nikmat, jadi ya sudah, dijalani dengan hati yang lapang. (diedit 2021)

December 17, 2013

Perpisahan

perpisahan itu amat sangat perih. Dia menyisakan beribu rasa yang menyiksa, air mata yang tak tertahan dan mungkin tangis yg pecah tanpa kenal waktu. Perpisahan mungkin salah satu hal yang paling dibenci oleh setiap orang yang sedang mencinta, namun dibalik wajah yang menyebalkan, perpisahan pula mengajarkan berbagai bentuk kondisi yang sebelumnya tidak terasa. Dia mengajarkan arti mencintai, mengajarkan pula arti kebersamaan bahkan dalam bentuknya yang paling bengis, perpisahan menyisakan arti kerinduan yang mendalam.

kalau ingin mengerti arti mencinta, merindu dan air mata yang tak tertahan maka berpisahlah untuk sementara waktu. Setahuku, sekeras bagaimanapun hatiku seseorang, dia akan takluk juga pada yang namanya perpisahan.

Cinta, Keluarga, Sahabat

Kalau bicara soal sahabat, mungkin semua orang punya persepsi sendiri-sendiri. Tidak tau dari sudut mana namun suatu kebebasan untuk semua individu mengatakan sahabat itu seperti apa?? Ah, aku merasa akhir -akhir ini terlalu melankolis, terlalu banyak menulis hal-hal yang sentimental namun tidak apalah yang penting menulis. 

Oh iya, kepada ke sahabat tadi, kalau orang punya pemikiran tersendiri tentang sahabat maka akupun demikian. Menurutku, sahabat itu adalah sosok yang dirindukan, kita tenang saat berada di dekatnya dan tidak risau atas guyonannya dan yang utama bahwa dia tulus mendoakan kebaikan buat diri kita dan tidak pernah sama sekali iri atas pencapaian yang kita raih bahkan dia malah ikut senang. 

Kalau indikasi yang ini sangat tidak empiris, hal ini sangat subjektif dan hanya bisa dirasa oleh pribadi kita masing-masing. Terkadang orang yang menganggap kita sahabat seringkali sesungguhnya menjadikan kita kompetitor bahkan selalu berusaha diatas kita walau dari mulutnya keluar beribu doa buat namun hati tidak bisa dikibuli seperti itu.

Cinta mungkin tidak lepas dari sahabat. persahabatan pasti akan berbicara tentang cinta kepada mereka. Aku ingat jelas saat masih kuliah, seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah lagi mencari seorang sahabat, dia hanya ingin mencari seorang teman. alasannya karena trauma, pernah sekali waktu dia punya sahabat dan sudah sangat percaya terhadap sahabatnya namun dalam perjalanan persahabatannya, dia dikhianati oleh sahabatnya. 

Kasus ini mungkin sangat lumrah karena dalam setiap interaksi manusia, selalu saja tidak bebas nilai, selalu akan ada kepentingan dalam sebuah interaksi dan yang membedakan hanyalah apakah kepentingannya berupa ego atau altruistik.

December 16, 2013

Angkringan Samping Terminal

Salah satu tempat favoritku melepas penat saat di jejali dengan rutinitas yang tidak ada habisnya adalah angkringan. Aku bisa merasakan begitu banyak sensasi kebebasan saat bersandar sambil menikmati gorengan dan susu. Lalu lalang pembeli yang dengan santainya membuatku lumayan fresh bahwa hidup sebenarnya tidak sekejam yang ada di benakku. Angkringan mungkin menjadi salah satu tempat melihat realita dari sudut lain yang sedang kujalani.

Salah satu angkringan yang sering kusambangi adalah angkringan di samping terminal lama pas berseblahan dengan pos polisi. Angkringan ini lumayan strategis dan dari pengamatanku jauh-jauh hari lumayan laris dibanding dengan beberapa angkringan yang laris selain angkringan black yang di jalan trunojoyo. Pemilik angkringan ini namanya mbak sri, dia sering berjaga shift dengan suaminya karena buka sampai pagi, aku tidak tahu nama suaminya.

Mbak sri ini lumayan amat ramah, terpancar di wajahnya yang ceria ketika melayani pembelinya tanpa terlihat sedikitpun rasa lelah di wajahnya yang ada hanya senyum tipis dari bibirnya sambil menyapa satu persatu pelanggannya

suami mb sri ini agak sedikit kalem. dia melayani dengan telaten, meski agak kalem tapi dia juga sangat ramah

PS. sebelumnya ada beberapa foto yang saya tampilkan di postingan ini namun saya memutuskan untuk menghapuskan karena berbagai pertimbangan.

Mereka Yang Sering Kujumpai

Setahun lamanya bermukim di Ngawi, ada begitu banyak orang yang sering kutemui, berinteraksi dengan mereka dan bercengkerama, namun hanya ada tiga makhluk yang hampir pasti kujumpai dalam sehari kecuali hari minggu. Mereka bisa dikatakan rekan kerja yang selalu dan setiap saat ada di sampingku dengan berbagai kelakar, pembicaraan serius bahkan guyonan-guyonan jayus diantara kami dan terkadang juga saling bergosip.

Praktis hanya m*ir yang seumuran denganku karena dua yang lainnya jauh diatasku. aku menyadari kami dalam ikatan kerja dan hubungan yang kami bangun pun tak terlepas dari hubungan rekan kerja tetapi terlepas dari itu semua, kembali lagi bahwa kami masih makhluk yang bernama manusia dan tentunya saja masih punya hati dan itulah yang membuat kami terjalin seperti saudara meski terkadang ada konfrontasi tapi tak apalah karena itu namanya manusia.

Ini yang pertama, dia adalah Group leader di Ngawi, asli orang Bl**r. Awal bertemu dengannya, aku tidak mengerti kalau ternyata dia adalah pimpinan, perawakannya yang putih dan kelihatan masih muda. Aku bahkan berpikir kala itu dia seumur denganku ternyata dia masih jauh lebih tua 6 tahun persis seumur dengan kakakkku yang sulung. Bahkan dia sudah punya putra 1 yang kira-kira umurnya 5 tahun

Rekan kerja yang satu ini sudah amat sangat lama bergelut di dunia marketing. dia sudah malang melintang dari kota satu ke kota lainnya di jawa Timur. Dia alumni unair jurusan sosio tahun 1996. Anaknya ada dua, putra dan putri. Pertama kali bertemu dengannya, aku malah mengira dia pimpinan Ngawi.

Kawan yang satu inilah yang amat paling sering kulihat, kurasakan bau tubuhnya atau apapun yang berhubungan dengannya karena dia seumuran denganku, bareng denganku masuk di Perusahaan bahkan sekamar selama di ngawi. Mungkin setiap pribadi ada sisi yang tidak cocok namun aku selalu berkeyakinan bahwa setiap orang yang telah menghiasi hidup kita sehar-hari adalah orang yang terbaik untuk ditemani. Kadang muncul ketidak cocokan namun itu hal yang amat sangat lumrah dalam sebuah interaksi sosial sepanjang tidak merusak hubungan pertemanan.

Bersama ketiga orang tersebut, aku merangkai hariku di Ngawi. Bercengkerama, bersama dalam beberapa perbedaan budaya karena aku dari Pulau seberang sedangkan mereka asli pribumi. Perbedaan budaya akan tetap ada namun satu hal yang pasti bahwa ketika kita masih berlabel manusia maka kebaikan tetaplah sama karena kebaikan itu universal dalam artian bahwa ketika kita mencoba menjadi pribadi yang baik maka kita akan tetap diterima di komunitas apapun meski dengan begitu banyak perbedaan budaya.

Rangkaian pengalaman-pengalaman yang pada nantinya akan membentuk sebuah susunan puzzle yang mengokohkan pendirian seseorang di masa depan. sebuah bentukan karakter yang dibangun dari berbagai pengalaman masa lalu.

Sudah terlalu banyak aku menulis tentang kebaikan, tentang hidup, tentang diri ataupun tentang yang kedengarannya filosofis namun masih saja aku seperti ini, belum banyak berbuat seperti yang aku tulis. Huh, penat juga cuma menulis namun tidak teraplikasikan.

December 13, 2013

Tersisa dari Masa Kuliah

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan blog seorang kawan yang sering ikut aksi jalanan saat masih kuliah. Aku mencoba menguraikan sendiri isi pikiranku karena agak sepakat dengan alur berpikirnya. Apapun pekerjaan yang sedang kita jalani sekarang, jangan pernah melupakan nilai -nilai perjuangan yang pernah dipelajari, diperjuangkan dan sangat diyakini. Jangan sampai pekerjaan mendistorsi semua nilai perjuangan hidup yang pernah menjadi jargon saat mahasiswa dulu. Paling tidak pikiran harus tetap dijaga dari perkara yang akan melunturkan semangat nilai perjuangan.

Mungkin tidak semilitan dulu dan aku sangat yakin bahwa aku sedang tidak berada pada kondisi yang begitu idealis seperti saat masih kuliah dulu namun aku juga masih tetap menjaga beberapa nilai yang kuanggapa sangat prinsipil dan tidak bisa dikompromikan dengan keadaan bagaimanapun. 

Kebebasan berpikir adalah salah satu yang tetap ingin kulestarikan meskipun aku terjun dalam pekerjaan yang berbasis kapitalis nan sangat eksploitatif, bahkan juga budaya gratifikasi menjadi momok yang sangat menyebalkan disaat aku bekerja di Perusahaan yang melegalkan hal seperti itu. 

Bukan saja aku terkesan sangat naif ataupun dengan bahasa yang lebih kejam aku ini munafik karena tetap bertahan di sebuah lingkungan yang mana hatiku berontak untuk tidak melakoni budaya gratifikasi tetapi tetap saja diriku punya pembelaan untuk membenarkan aku masih tetap di sini sampai saat ini. 

Pembelaan pertamaku karena aku berniat membantu adikku yang masih kuliah kemudian pembelaan kedua adalah aku berusaha komitmen dan bertanggung jawab atas apa yang telah aku putuskan karena ketika aku begitu saja berbalik arah meninggalkan pekerjaan yang sementara ini sedang kujalani berarti juga aku meninggalkan tanggung jawab buat orang yang kelak akan menggantikanku dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.

Terlepas dari itu semua bahwa aku masih saja membutuhkan aliran dana dari perusahaan kapitalistik untuk bertahan hidup di negeri rantau sembari mencari pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan pribadi dan bisa membebaskan pikiranku. Pekerjaan persoalan idealisme dan kebutuhan perut seperti yang sering aku tulis sebelumnya namun bukan hal yang mustahil juga menyelaraskan antara keduanya. 

Aku sekarang sedang berada pada akhir tanggunganku di tempat ini dan mungkin saja sebentar lagi aku akan lepas dan beranjak ke tempat lain mengais rejeki. Perjalanan yang begitu sangat melelahkan dan menguras pikiran sampai harus jatuh bangun mempertahankan isi pikiran yang tidak akan kubiarkan bias oleh kepentingan diri.

kekhawatiranku adalah ketidaktegasan terhadap diriku akan membuat pendirianku semakin goyah.  

Nostalgia Awal

Benar -benar tak terasa, hampir setahun lamanya aku bekerja di Ngawi, menghabiskan waktuku menjadi karyawan di salah satu perusahaan penerbit nasional. Aku sesungguhnya tidak menyangka sama sekali akan menghabiskan setahun waktuku bekerja di sini namun begitulah cerita lagit yang ditakdirkan kepadaku dan aku hanya berusaha menjalani dengan aturan-aturan langit.

Menjelang akhir tahun ini, aku sedang menikmati hari-hari terakhir bekerja dan tinggal di kota ini yang dekat dengan perbatasan jawa tengah dan Jawa timur. Benarlah bahwa awal menjalani pekerjaan di sini sebagai seorang pemasaran yang harus berlomba dengan target benar-benar melelahkan fisik dan raga, setiap saat harus dihabiskan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kemudian berburu waktu dari sekolah satu ke sekolah lainnya dan terkadang melupakan keselamatan di rimba jalanan namun risiko pekerjaan yang telah kupilih harus tetap kujalani. Salah satu Manager marketing sby 2, pak SN mengatakan bahwa tidak ada yang menyuruh kalian mendaftar dan bekerja di sini jadi jika ada yang merasa terjebak bekerja di sini, hanya ada dua opsi, mengajukan surat resign atau belajar mendalami pekerjaan ini dan totalitas dalam bekerja". Pernyataan beliau sampaikan di training karyawan baru sekitar bulan Mei di kantor cabang surabaya Jln. Berbek industri 7 Waru. Aku mengamini pernyataan beliau karena pilihan kita dalam hidup adalah pilihan sadar dan itu yang terjadi di setiap keputusan-keputusan yang diambil dalam segala hal.

Aku yakin bahwa hidup ini semuanya indah bahkan kondisi yang dianggap manusia sebagai kondisi sulit juga sebenarnya sangat menyenangkan. Dengar saja penuturan kisah orang-orang sukses yang berbagi pengalaman di acara seminar, mereka dengan sangat bangga menceritakan semua pengalaman susah mereka saat baru berjuang menggapai kesuksesan, tak sedikit pun tergores penyesalan dari wajah mereka saat berbagi kisah tentang itu bahkan kebanggaan lah yang terpancar di wajah mereka karena pernah melewati masa sulit. Itulah yang menyadarkanku bahwa memang apapun kondisi hidup kita tidak akan pernah mengurangi keindahan hidup namun hidup itu akan menjadi sangat indah ketika sudah tersisa sebagai kenangan.

Potongan hidupku di Ngawi pun seperti itu. Meski awalnya aku harus melawan egoku selalu saja mengeluh tentang pekerjaan yang sedang kujalani namun di lain sisi, aku selalu saja yakin bahwa kenangan di Ngawi alan menjadi sangat terasa indah ketika aku mampu melewati dengan menikmati alurnya. Bahkan menjelang akhir tahun yang juga berarti bulan terakhir aku di sini, aku sudah merasa sangat berat meninggalkan kota kecil ini. Kenangan setahun mengitari kota ini benar-benar membuat langkahku enggan bergerak walau kusadari bahwa hidup harus terus berjalan dan jangan pernah terbuai oleh nostalgia yang melenakan karena masih banyak tempat di bumi ini yang akan menjadi tempat menggoreskan cerita hidup. Memang dalam setiap perjalanan itu, ada beberapa titik yang sangat berat untuk ditinggalkan ketika hati sudah terpaut disana. Namun ingat, titik-titik itu yang akan menghalangimu berlomba dengan waktu jika engkau membiarkan ragamu tinggal terpaku di zona nyaman. Perluaslah zona nyamanmu hingga akhirnya suatu saat nanti, semua tempat akan menjadi zona nyaman bagimu.

begitulah satu lagi potongan cerita hidup dalam babak yang sebentar lagi akan kuselesaikan. Babak kehidupan di kota Ngawi selama satu tahun. Mengenal dengan baik kota ini sampai pada setiap pelosok desa. Mengiringi setiap jalan setapak kemudian masuk di setiap sekolahan smp menunggu guru-guru yang sedang mengajar kemudian bercuap-cuap kemudian berlalu.

Aku benar-benar menghabiskan waktu setahun di sini mengiringi waktu memutari kota ini. Menikmati setiap sisi pemandangan yang ditawarkan kota ini. Kota yang terletak tepat di jalan trans jawa yang semakin membuat kota ini bising di setiap waktunya. Setiap kendaraan seakan berada di arena balap mengendarai mobil bahkan motor mereka.

Namun seperti itulah kota ini, apapun keadaan kota ini, bahwa aku telah menggoreskan setahun kisahku disini, mengukir di setiap helai daun dengan tetesan air hujan. Menyingggahi setiap warung pojokan sambil membaur menjadi warga kota ini bahkan dalam beberapa episode kehidupanku disini, aku seperti orang asli. Yah itulah kota Ngawi dengan segala kisahku menghabiskan waktu setahun disini selama 2013.

Kerena Waktu

dan akhirnya
waktu terus menjalankan takdirnya
tanpa berhenti sedetik pun
membawa semua cerita
menyisakan potongan jejak kaki tak berbekas
dan akhirnya
setelah berjalan cukup lama
waktu tak kunjung kalah
dia tetap melaju
walau aku harus berhenti
mengambil nafas lalu memburu kembali waktu
malam mulai menggores ceritaku
bahkan senja menyimpannya dengan amat sangat rapi
tak sedikitpun terlupa

December 12, 2013

Tentang Siang dan Malam

malam menjemput kabut
setelah sekian lama siang berkabung
entahlah,,
namun seakan siang dan malam sedang berkomprontasi
bahkan tak saling menyapa
tak sekalipun aku menjumpai mereka datang bersamaan menyapa bumi
selalu saja malam berlalu ketika siang menjelang
dan begitu juga sebaliknya
dapatkah kita menyandingkan mereka
karena bumi tak pernah menolak?

December 10, 2013

Merantau

merantau mempunyai sensasi tersendiri, lebih dari berdiam diri pada zona nyaman yang ditawarkan kampung halaman. setiap tatapan mata akan menerawang betapa begitu manusia yang berani melangkah membelakangi tempat kecilnya akan merasakan sensasi tersendiri tentang arti merantau bahkan tentang arti hidup. disaat semua orang mendekap dalam rindu yang amat sangat menyiksa ketika jauh dari keluarga dan hal apa saja yang dirindukan di istana kecil kita maka saat itu pulalah, semesta mengalirkan butiran doanya kepada mereka yang jauh dari semua yang dicintai demi impian hidup.

MERANTAU
Aku adalah salah satu pribadi yang bercita-cita merantau dan merasakan betapa benar-benar merantau itu punya sensasi tersendiri, Saat kita dirundung rindu yang tak tertahankan, saat semua cerita masa kecil menari-nari di ubun-ubun atau pun saat berada dalam masa sulit di perantauan bahkan juga saat semua yang ada di perantauan sedang tidak bersahabat dengan kita maka disitulah tertancap beribu sensasi tentang rantau.

December 8, 2013

Bahagia Itu

Bahagia itu. mungkin semua orang mendamba kata itu benar menjadi miliknya. Berbagai macam cara dilakukan oleh setiap orang untuk mengejar kebahagiaan bahkan dengan cara yang diluar nalar sehat. Sangat lazim di tengah-tengah kita bahwa kebahagiaan itu sering diidentikkan dengan tersedianya kebutuhan atau dalam artian apa yang diinginkan dapat terpenuhi. Meski sering dalam ceramah masjid, khutbah gereja dan di tempat-tempat ibadah lain. Dikatakan bahwa kebahagiaan itu tidak terletak pada kekayaan namun tetap saja sebagian dari kita menganggap bahwa ketika orang mempunyai kelimpahan harta maka besar kemungkinan mereka akan bahagia.

Pagi ini, ada dua fenomena yang membuatku lagi-lagi tersadar bahwa benar adanya kebahagiaan itu tidak terletak pada setiap apa yang diinderawi. Hal yang kasat mata hanyalah semu dan terkadang menipu karena orang yang sering kita anggap mempunyai kecukupan materi pasti punya masalah, ini yang sering aku katakan bahwa "everyone has a own problem."

Aku bercerita panjang lebar dengan ibu Tuti, salah satu rekan kerja pak Audi. Awalnya kami hanya bercerita hal yang biasa kemudian aku menimpali kalau pak Audi itu sangat kuat merokok (kami tidak sedang bergibah), bahkan saat di rumahnya sekalipun dia sangat sering merokok hingga pernah berselisih sama bojonya karena tidak berhenti merokok. Ibu Tuti menimpali bahwa memang pak Audi dari sejak dulu punya kebiasaan merokok dan sebenarnya dia punya penyakit maaf akut yang sangat berpantangan dengan kebiasaan merokok. 

Aku tiba-tiba terkesiap, perawakan pak Audi yang tinggi besar ternyata beliau menderita maag akut. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pak Audi tidak bahagia gara-gara penyakitnya tersebut, aku hanya ingin mengatakan bahwa benar setiap orang punya masalah. 

Secara inderawi, pak Audi amat sangat bahagia, beliau seorang guru beserta istrinya, punya rumah, mobil dan toko bahkan ketiga anaknya sedang lucu-lucunya tumbuh berkembang dengan sehat (semoga ketiganya tetap sehat wal'afiat), namun meski begitu, beliau tetaplah manusia yang mempunyai masalah sendiri.

Setelah itu, aku bertandang ke rumah ibu Anti di sekitar perumahan lawu 1. Beliau adalah salah seorang guru bahasa Indonesia di SMP 4 Ngawi. Lumayan akrab sama aku dan kebetulan aku ingin mengantarkan bed cover. Sesampai di rumahnya, aku terdiam melihat rumahnya yang begitu besar meski belum kelar direnovasi, aku membatin bahwa ibu ini pasti sangat bahagia. 

Aku disambut dengan hangat oleh beliau. Sejenak bercerita panjang lebar, aku menanyakan kok rumahnya sepi. Beliau kemudian mulai bercerita tentang keluarganya, beliau mempunyai dua orang anak yang salah satunya sudah kuliah di UMS jurusan fisioterapi dan satunya lagi ada di rumah tersebut sayang anaknya yang bungsu menderita autis, umurnya sekitar 14 tahun. 

Sesaat kemudian, anaknya keluar dan hanya melongo memandangku, aku melihat sekilas wajahnya yang begitu ayu bahkan sangat ayu diantara anak seusianya. Setelah itu, beliau juga bercerita tentang suaminya yang mengalami geger otak hingga memutuskan pensiun dini. 

Aku lagi-lagi mengamini bahwa sejatinya setiap orang punya masalah sendiri. Ibu anti yang kelihatan sangat bahagia dengan punya mobil dan rumah besar ternyata punya masalah yang rumit meski kutahu dari wajahnya, beliau begitu tabah menghadapinya bahkan anaknya yang autis sudah mulai berobat sejak umur 3 tahun sampai sekarang dan sudah begitu banyak biaya tenaga, materi dan pikiran yang terkuras namun beliau hanya berkata, yah begitulah namanya usaha.

Kedua fenomena diatas benar-benar meyakinkanku bahwa setiap orang punya masalah namun bukan bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan adanya masalah tersebut bahkan mungkin saja dengan masalah mereka malah membuat mereka semakin bahagia tanpa mereduksi sedikitpun kebahagiaan yang mereka punyai.

. Grudo, 08.12.13

December 7, 2013

Mengurai Kehidupan Mahasiswa

Saat menjadi salah satu mahasiswa di kota asalku, aku sangat gandrung dengan paham yang sering dianggap kekiri-kirian nan makar. Begitu banyak faktor yang membuatku harus menjadi seperti itu. disamping jurusanku yang memang mengkaji berbagai ideologi diluar ideologi mainstream, lingkungan pergaulanku juga menjadi salah satu faktor yang sangat mendukungku menjadi mahasiswa yang suka menggunggat apa saja yang kuanggap salah. Bahkan latar belakang dari kampung kecil yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup menjadi faktor lain mengapa aku semakin gandrung mempelajari hal-hal di luar pemahaman mainstream. 

Saat masih di kampung, aku menganggap bahwa kerasnya kehidupan adalah hal wajar dan mungkin juga takdir atau bahkan orang malas bekerja sehingga hidup susah namun saat menginjakkan kaki di kampus, banyak membaca informasi dan diskusi dengan siapa saja maka aku mendapat pencerahan bahwa hidup ternyata ada sebuah hal konstruktif yang dijalankan oleh orang-orang bejat.

Pertama kali berubah status sebagai mahasiswa, aku disuguhi oleh fenomena kehidupan kampus yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan yang kujalani di masa SMA ku. Beribu wajah kujumpai dengan segala cerita yang mereka goreskan. Saat diskusi di berbagai sudut kampus, begitu banyak istilah yang membuat kepalaku berputar untuk memahaminya. 

Perlahan aku mencari jati diriku sebagai mahasiswa yang pada akhirnya lingkungan mahasiswaku mengantarkanku menjadi mahasiswa yang suka diskusi dan mempelajari ideologi yang berbeda dengan ideologi status quo. Aku bahkan menyadari bahwa pada awalnya aku benar-benar hanya terpengaruh oleh lingkunganku namun pada akhirnya, aku benar-benar mengamini semua dari pahaman yang aku kaji. Mulai dari perlawanan terhadap gurita besar kapitalisme, kemudian mempelajari tandingan ideologinya yaitu marxisme. 

Dalam mempelajari pahaman seperti ini, aku mulai membongkar paham ortodoks yang sudah lama tertanam di dalam kepalaku. PKI yang dulunya kuanggap benar-benar sadis ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Berbagai macam distorsi sejarah membuat mereka dilabeli sebagai hantu yang harus dimusnahkan dan tidak punya hak untuk hidup. Kenyataan yang aku pelajari bahwa paham marxisme yang kemudian dikenal di Indonesia sebagai PKI ternyata berjuang melawan status quo yang bangsat dan otoriter. 

Perlawanan mereka yang begitu gigih dengan berbagai cara akhirnya diredam oleh penguasa dengan cara licik. Mereka diftnah sebagai anti agama dan kelompok sadis sehingga masyarakat awam termakan hasutan tersebut dan ikut membenci perjuangan mereka.

Bahkan dalam beberapa edisi perjalananku sebagai mahasiswa, aku seringkali ikut aksi jalanan dalam berbagai isu nasional. Berhadapan dengan laras polisi dan pentungan benar-benar tidak menciutkan nyaliku untuk terus ikut aksi jalanan bahkan pernah dua kali saat chaos, aku harus merelakan dadaku terkena lemparan batu polisi di dekat tugu volcom kampus, begitu sakit memang namun selepas itu, tidak jua membuatku jera. 

Aku bahkan saat itu benar-benar muak dengan penguasa lalim. Aku bercita-cita menyaksikan dunia yang penuh kedamaian dimana semua orang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aku semakin yakin bahwa kemiskinan bukan sebuah takdir Ilahi namun tidak lebih ada konstruksi dari dinasti kapitalisme yang mencengkeram dunia.

Pemiskinan terjadi dimana-mana bahkan 80% kekayaan dunia hanya dimiliki oleh 20% penduduk bumi artinya bahwa 20% kekayaan dunia dibagi kepada 80% penduduk bumi. Ini jelas sebuah kecurangan yang tidak bisa dibiarkan. Pemiskinan seperti itu yang pada akhirnya melahirkan gerakan perlawanan. Bayangkan saja, di Indonesia, hany segelintir orang punya tabungan yang tak terhitung nilainya sedangkan disamping mereka, beribu orang makan hanya sekali dalam 3 hari, apakah ini takdir. 

Jelas tidak, Tuhan tidak sejajar itu, mereka yang rakus menyebabkan kondisi seperti ini. Semua ingin dimiliki seakan bahwa perut mereka bisa menampung semua itu bahkan hany untuk makan nasi bungkus buat orang disekelilingnya pun mereka enggan. Bumi ini bukan buat mereka saja. Masih banyak orang yang menempati bumi ini.

Sampai saat ini, meski tensi interaksiku dengan duniaku yang dulu tidak terlalu intens namun aku tetap mendukung setiap perjuangan pergerakan yang menuntut keadilan apapun itu namanya. Perjuangan untuk sebuah keadilan bumi bukan berarti membenci orang kaya namun lebih dari itu, melawan ketamakan dan tidak semua orang kaya itu tamak. 

Bumi adalah milik semua makhluk dan tidak ada seorangpun yang berhak memonopoli bumi ini demi nafsu mereka. Bumi masih mampu memberi makan buat semua penghuninya kecuali bagi mereka yang tamak. Tidak ada bumi yang cukup buat mereka yang tamak.

Piala Dunia

Jarang sekali aku menghubungkan peristiwa hidupku dengan kejadian di luar. Aku mungkin salah satu orang yang tidak pernah percaya sama yang namanya kebetulan. Seperti pemain arsenal, Aron Ramsey ketika mencetak gol maka selalu saja ada orang populer di dunia yang akan menjemput ajalnya. 

Aku sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu namun akhirnya aku juga harus menghubungkan periodik hidupku dengan turnamen piala dunia yang digelar 4 sekali dan aku menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal tak terduga yang aku jumpai dalam hidupku dalam periode 4 tahun, bahkan momennya selalu hampir bertepatan dengan helatan piala dunia. Momen yang selalu bertepatan dengan piala dunia sering kali momen yang menjadi start awal dari hidupku.

Momen piala dunia 2002 menandakan aku akan menjalani hidupku sebagai siswa SMA, mungkin kedengaran biasa-biasa saja namun tetap saja aku menganggap sebuah awal. Empat tahun berikutnya pada helatan piala dunia 2006, aku baru saja diterima sebagai salah satu mahasiswa di kota asalku, Universitas terbesar di wilayah tersebut yang menjadi favorit. 

Sebenarnya ini juga kedengaran amat sangat tidak berkaitan namun aku masih berpikir bahwa kenapa bisa tahun 2006 saat aku baru bisa diterima di Universitas ini padahal sebelumnya pada tahun 2005, aku sudah ikut tes di Universitas ini. melangkah lagi ke turnamen piala dunia 2010, adalagi kejutan yang menghampiriku. 

Di tahun itu pula aku berhasil meraih gelar sarjana di kampusku, aku sedikit amat merasa takjub karena kalau mau jujur, aku menggarap skripsiku tidak begitu serius dan bahkan aku menggarapnya hanya beberapa bulan sedangkan kawanku yang lain butuh waktu lama untuk menyelesaikan skripsi mereka. Mungkin ini juga berkah dari helatan piala dunia.

Menjelang perhelatan piala dunia 2014, aku berharap ada lagi momen yang bahagia menyapaku, aku tak mau muluk-muluk, hanya berharap hal yang baik menyapaku di tahun depan saat tahun di mana piala dunia kembali digelar.

Menantikan kejutan-kejutan lain dalam hidupku yang bertepatan dengan turnamen piala dunia dan semoga saja kejutannya adalah kejutan indah seperti yang telah berlalu di tahun-tahun sebelumnya.

NB. Semoga juga Italia juara piala dunia lagi

Desember Menyapa

Aku sebenarnya bukan pribadi yang terlalu puitis tentang setiap bulan dal kalender masehi yang terlewati namun ada saja orang yang mengabadikan setiap kisah perjalanan mereka dalam setiap bulannya yang dibingkai dalam tulisan puisi, cerita ataupun prosa, entah itu tentang november yang basah. 

Desember menjelang pergantian Tahun ataupun januari yang ceria. Perjalanan setiap bulan hanya kulewati dengan cara-cara yang biasa tanpa berusaha menggoreskan warna yang puitis seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda romansa.

Seringkali membaca banyak tulisan tentang desember akhirnya menggugah juga minatku untuk menulis tentang desember yang basah. Musim hujan yang datang di awal November membuat desember menjadi semakin basah. Desember sebenarnya juga meninggalkan berbagai kenangan yang tidak bisa begitu saja kulupakan. 

Desember adalah bulan yang menjadi bukti akan penghianatan seorang gadis yang pernah singgah di jiwaku, aku sama sekali tidak menyalahkan desember namun mengingatnya selalu saja mengungkit pesihku terhadap gadis tiga huruf yang telah mencampakkanku di desember tahun lalu. Dia membuat desember menjadi bulan kelabu buatku. 

Bahkan disaat begitu banyak manusia menggoreskan romansa di bulan ini, aku harus menerima kenyataan bahwa dia meninggalkanku tepat di bulan desember menjelang pergantian tahun.

 

December 6, 2013

Siapa Mereka

aku ingin keluar mencari angin segar, tepat di persimpangan jalan raya, seorang gadis dengan rambut panjang menegur dan menganggap aku teman lamanya. Sesat kemudian aku terperangah dengan sikapnya yang seolah sangat akrab denganku, aku mencoba mengingat semua perempuan yang pernah kutemui di sudut kota namun tak satupun bayangan gadis di depanku muncul dalam memoriku. 

Ingin kulanjutkan perjalananku namun dia tetap bersikukuh bahwa aku adalah teman lamanya, mana mungkin aku menjadi amnesia dan tiba-tiba melupakan teman lama seandainya saja benar bahwa kami pernah berteman di suatu waktu.

Saat akan beranjak dari tempatku sekarang mencari warung untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan. Seorang kakek renta menyapaku dan menganggap bahwa aku adalah cucunya. Aku terperangah mengingat kakekku sudah lama almarhum dan kenapa tiba-tiba ada seorang kakek yang menganggap bahwa aku ini adalah cucunya. 

Mana mungkin kataku. Mata kami jelas sangat berbeda, kulit kami pun sangat jauh bahwa bentuk hidung kami sama sekali tak ada mirip-miripnya. Lalu siapa kakek ini. Atau mungkin saja dia yang amnesia namun kenapa dia begitu yakin bahwa aku ini adalah cucunya.

Aku ingin pergi ke stasiun kereta. Seorang ibu paruh baya langsung merangkulku dan menangis sejadi-jadinya dan dengan terisak-isak mengatakan bahwa anaknya yang sudah lama hilang kini telah ditemukan, ternyata ibu ini menganggap aku ini anaknya namun mana mungkin dia adalah ibuku. 

Aku sangat yakin setiap gerak gerik ibuku, semua apa yang melekat di dirinya bahkan hanya melalui baunya aku tahu ibuku namun kenapa ibu paruh baya ini tiba-tiba saja dengan yakin mengatakan bahwa aku ini anaknya.


Ironi Senja

pernahkah langit meninggalkan bulan ketika bulan enggan bersinar,,
atau pernahkah tanah membenci hujan ketika sekian lama dia tidak turun,,
atau dengan malam yang mengganti senja dan tergantikan oleh pagi,,
sama sekali tidak,,
namun kamu,,
tidak seperi mereka,
engkau pergi dengan alasan aku tak hirau
meski engkau tahu
aku selalu disini untukmu

Tentang Ayahku

Semalam, aku menelpon keluargaku di pulau nun jauh di sana, seperti biasa, aku bergiliran bercerita dengan kakakku ibuku dan juga ayahku. Tidak hal yang istimewa sebenarnya karena kebiasaan menelpon mereka di akhir pekan memang menjadi rutinitas. Sampai saat ayahku tiba-tiba berkata dengan sangat sentimental dan mungkin ini percakapan kami selama ini yang paling sentimental. Tiba-tiba saja ayahku mengucapkan minta maaf tentang semua dosanya dimasa lalu barangkali dia pernah memarahiku atau pun memukulku. 

Dia kemudian melanjutkan bahwa jarak kami yang jauh mengharuskan setiap saat untuk saling memaafkan karena ajal tidak ada yang tahu. Semua perkataannya semalam malah membuat ku semakin merasa bersalah karena seharusnya bukan ayahku yang meminta maaf tetapi akulah yang harusnya meminta maaf beribu kali terhadapnya. Perkara di masa lampu dia pernah marah terhadapku, memang tugasnya dia sebagai ayah memarahiku saat aku khilaf.

Sesaat setelah percakapan berlangsung agak lama, ternyata dia punya alasan kenapa kami harus saling memaafkan setiap waktu karena sehari sebelumnya, dia menjenguk om ayahku yang berarti kakekku karena sudah beberapa hari sakit. Saat itu ayahku masih sempat berbicara dengan kakekku sambil menanyakan keadaannya kemudian mereka saling memaafkan atas khilaf yang mungkin saja diperbuat dimasa lalu yang tidak disengaja. 

Selang beberapa menit, kakekku langsung roboh menjelang sakaratul maut sampai paginya sekitar jam 6, dia di panggil ke hadirat sang Maha Kuasa. Pengalaman itu ternyata yang membuat ayahku semakin percaya bahwa ajal benar-benar tidak bisa diprediksi kapan datangnya uang yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan meminimalisir khilaf.

kemudian ayahku melanjutkan berbagai pengalaman yang pernah dia temui. Beberapa tahun lalu, kakek ayahku adalah seorang guru ngaji di kampung sebelah, setiap senja, dia berangkat mengajar di kampung tersebut dan saat pulang, selalu saja dia dibekali nasi atau makanan, entah itu dari muridnya atau mungkin dari penduduk kampung yang mungkin merasa ingin membalas jasanya. 

Mungkin sekilas tak ada yg salah dengan kakek buyutku karena dia tidak mencuri dan murni pemberian orang lain. Secara indrawi seperti itu namun cerita yang lebih menarik diutarakan ayahku tentang kakek buyutku ketika menjelang ajalnya dan bergumul dengan perihnya sakaratul maut. 

Setiap saat beliau berteriak mabanda',,mabanda',,mabanda'...!!! Dalam bahasa Indonesia berarti berat. Keluarga disampingnya lalu bertanya apa yang berat kek, beliau lalu menjawab ini nasi dan makanan-makanan berat dipikul. Dalam keadaan tidak sadar, beliau berkata seperti itu. Versi ayahku, fenomena itu kemungkinan besar berhubungan dengan kebiasaan beliau menerima pemberian makanan oleh murid-muridnya seusai mengajar mengaji.

Mungkin saja keliru tetapi ada banyak hal yang diceritakan ayahku tentang fenomena diatas, bisa saja kakek buyutku ketika akan berangkat mengajar ngaji niatnya tertuju pada pemberiaan makanan atau bahkan ada diantara murid-muridnya yang sebenarnya berat memberikan makanan hanya karena merasa berhutang budi sehingga dia tetap memberikan makanan meski pada kenyataannya mereka lebih membutuhkan makanan tersebut.

Hidup memang tentang hari dan keikhlasan. Ketika niat hati sudah bergeser saat akan melakukan sesuatu maka semestinya semua akan berubah seperti niat dalam hati. Gerakan tubuh hanyalah indrawi yang menipu dan yang paling mendasar dalam melakukan segala sesuatu adalah niat kita, seperti apa niat kita ketika membantu orang lain, apakah kita pamrih atau benar-benar tulus dalam membantu.

Suatu kali saat aku masih lolos dan belum tahu apa-apa, ayahku pernah berkata bahwa "Puang Allah Taala itu mangpenawa". Kurang lebih dalam bahasa indonesia berarti Tuhan itu melihat hati tidak melihat tindakan kita karena seungguhnya semua terlihat oleh Tuhan dan hati menjadi hal yang paling inti dalam berkehidupan.

Sesungguhnya ketika kita mengharapkan sesuatu selain ridha Allah dalam bertindak maka ketika sudah terjebak dalam niat yang keliru bahkan ketika shalat pun kita tidak boleh meniatkan mendapat pahala atau masuk surga, shalat dan ibadah lain kita kerjakan karena mengharapkan ridha Allah dan itulah puncak dari semua keinginan yang harusnya kita niatkan.

Mencoba Mengenal Diri

Dalam setiap perjalanan kehidupan, manusia selalu melewati setiap tikungan, jalan berlubang bahkan setapak yang berbatu. Seni kehidupan manusia selalu saja dibumbui dengan masalah dan khilaf, entah itu yang disengaja maupun yang terjadi di luar kuasa kita. 

Tidak ada yang bisa menghindari masalah kehidupan bahkan ingin berlari ke ujung langit pun akan tetap berujung pada masalah-masalah baru yang akan dihadapi. Begitu pun adanya dengan beribu khilaf yang diperbuat, selalu saja ada hal yang membuat kita tidak kuasa menahan diri berbuat khilaf kecuali diri kita sendiri. 

Memang benar apa yang disabdakan Rasulullah bahwa "perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. Diri ini adalah mikro kosmos yang menyimpan semua hal yang kita butuhkan. Selalu dalam beberapa tulisanku bahwa jangan pernah jauh dari diri karena itu akan membuatmu tersesat. 

Tak perlu pula mencari kebahagiaan dari luar karena hakekat kebahagiaan ada dalam diri tinggal bagaimana kita menata hati dan menyenangi semua hal tentang hidup kita maka kebahagiaan akan tercipta. "siapa yang mengenal dirinya pasti akan mengenal Tuhannya". Kalau tidak keliru hadits qudtsi ini benar -benar sangat dalam maknanya dan benarlah bahwa pengenalan terhadap diri sendiri lebih dari segalanya.

Bagaimana kita mengenal semua aspek tentang diri kita tanpa ada tendensi dari luar misalnya mengenal ego kita supaya kita mampu mengendalikannya, mengenal apa yang benar-benar kita butuhkan sehingga kita terarah untuk mencapainya dan yang lebih utama mengenal visi hidup kita. Terkadang orang yang tidak mengenal dirinya dan terlalu dipengaruhi oleh hal-hal dari luar dirinya maka dia akan menjadi plin plan tanpa arah.

Hidup juga selalu dipenuhi dengan pelajaran yang sifatnya maknawi. Bahwa dalam setiap langkah yang kita ayun, pasti ada pelajaran hidup yang termaktub didalamnya tinggal bagaimana kita memaknai namun terkadang yang paling sulit dari manusia adalah mreka selalu memaknai apa saja dengan perhitungan untung rugi, mreka tidak pernah berusaha memaknai lebih dalam lagi karena sejatinya bahwa hidup itu bukan tentang untung rugi namun tentang bermanfaat untung semesta. Terlalu naif memang mengatakan kita tidak peduli terhadap kepentingan kita namun itu juga buka segalanya. Hidup adalah sebuah perjalabnan yang menyenangkan.

Perkara hidup juga tidak melulu perkara indrawi dalam artian bahwa hidup yang kita jalani saat itu intinya terletak dari hati yang merasakan bukan segalanya dari apa yang indrawi karena sering kali yang indrawi itu yang menipu. Hati adalah kunci bagaimana mengejar kebahagiaan sejati karena tanpa itu semua akan menjadi kewenangan semu yang benar-benar akan lenyap dalam hitungan detik. Kelimpahan harta hanyalah kesenangan indrawi sesaat.

December 5, 2013

Momen Itu

Ada beberapa momen yang mungkin akan selalu kuingat di kota ini, momen itu terjadi minggu lalu secara bersamaan. Aku juga sampai sekarang belum bisa menerjemahkan apa yang menjadi hikmah dibalik kejadian itu yang pastinya bahwa kedua momen tersebut melukiskan pengalaman hidupku di masa yang akan datang entah hanya akan menjadi cerita nostalgia ataupun akan menjadi pelajaran berharga buat perjalanan hidupku. Aku selalu yakin bahwa di setiap kejadian yang aku lalui, selalu terselip makna dari Sang Ilahi untuk menjadikan kita lebih dewasa.

Momen pertama adalah tentang pembayaran dari salah satu sekolah yg tidak mau membayar tagihan sekitar 4 juta. Jelas itu membuatku shock karena jumlah uang seperti itu sangat besar dengan ukuran aku yang hanya pegawai swasta rendahan yg masih mengandalkan angkringan sebagai sandaran hidupku dan ketika harus nombok sejumlah uang sebanyak itu jelas saja membuatku shock berat bahkan hampir sejam lamanya aku mengemis di ruang ks untuk diringankan, dalam perjalanan pulang dari sekolah itu.

Kadang ku mencaci tapi kadang pula aku pasrah akhirnya kuberhenti di sebuah mesjid sidolaju dan menenangkan diri. Aku melaksanakan shalat zuhur kemudian memanjatkan satu doa saat itu semoga saja diberi jalan keluar sari masalah ini.sesaat kemudian, aku mulai tenang dan menuju jalan pulang, kuutarakan semua permasalahan ini kepada bosku, aku meminta pendapat nya dan kami sepakat mencari ganti dari TR sekolah lain. Saat kutulis masalah ini, semua sudah kelar..

Momen kedua pas setelah masalah itu. Cerita berawal ketika aku sering makan di warung yg sering kami sebut WTS (warung tengah sawah). Pemilik warung tersebut sepasang suami isteri. Aku dan teman2 kerjaku senang jajan di sana karena selain dekat dengan kantor suasananya di tengah sawah semakin membuat kami kerasan berlama-lama ngopi diwarung tersebut. Saat pagi sampai senja, isterinya yg jaga di warung dan saat malam sampai larut, bapaknya yg jaga.

Kembali ke masalah tadi, pagi sebelum masuk kerja, aku seringkali ke warung itu hanya sekedar ngopi dan makan jajan. Hari itu, saat senja, aku dan kedua temanku ngopi di warung tersebut, alangkah kagetnya aku ketika isteri pemilik warung tersebut mengomeli ku bahwa aku membayar kurang jajan yang aku makan setiap aku makan disana dan yg lebih parahnya lagi, aku dituduh merokok namun tidak membayar rokok tersebut sedangkan seingatku, terakhir aku mencoba menjadi perokok tahun 2005 silam. Aku terperangah dan hanya diam membisu sambil sesekali mengklarifikasi meski akhirnya ibu itu tidak mau tau dan tetap menuduhku seperti itu.

Akupun berlalu. Walau kutahu suaminya sangat baik kepadaku dan tetap mengajakku ke warung nya setelah mengetahui peristiwa itu. Aku hanya mengelus dada sambil berprasangka bahwa mungkin saja ada khilaf yg kuperbuat yg harus di balas seperti ini.

hpku lobet, continued....

December 4, 2013

Menulislah

Ini mungkin adalah tulisan abal-abal di bogku. Hasrat menulisku benar-benar tidak tercurahkan karena keyboard pc rusak. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiranku yg ingin kutumpahkan dalam deretan tulisan namun wadah tlah membatasiku. Tulisan inipun kurangkai melalui hpku dengan susah payah mengetik seperti sms. Namun itulah hasratku untuk memenuhi blog ini dengan tulisan apaun, entah dengan kata yang tak beraturan, makna yang bias atau apapun yang nantinya akan termuat dalam tulisanku ini. Semua hanyalah desiran angin yg menerpa namun takkan pernah meruntuhkan niatku memenuhi blogku ini sampai tulisan yg ke-1000.

saat aku mulai layu dalam menulis,selalu saja ada momen yg membangkitkan hasrat ku untuk menulis lagi, entah itu hujan, entah senja, malam yg gelap atau apapun yg seringkali menjelma memenuhi rongga otakku menjadi ide-ide yg harus segera kutuntaskan menjadi tulisan agar tidak mengendap menjadi tulisan basi di dalam pikiranku. Ide hanyalah prioritas kesekian dari aktivitas menulis ku. Hal yang utama adalah hasratku untuk menulis tetap terjaga karena salah satu kekhawatiran terbesarku adalah matinya libido menulis ku yg sudah kupupuk sejak lama seperti matinya hasrat membacaku sejak terlalu sibuk akhir2 ini.

November 11, 2013

Sepasang Pengamen

Aku mungkin salah satu orang yang selalu saja memperhatikan setiap tingkah orang saat aku berada di kerumunan khalayak. Bukan apa, aku hanya mencari inspirasi yang kemudian kutuangkan diruang blogku ini. Seperti halnya kemarin saat siang menyengat. aku membelah panas terik ke surabaya. Seperti saat aku berangkat, aku selalu menunggu kedatangan bis MIRA atau SR yang lewat di terminal kota ini. dua bis itu kupilih karena menurutku sesuai dengan isi kantongku meski kutahu sopirnya begitu ugal-ugalan.

Seperti kebiasaanku yang lalu, saat di bis, setiap orang kupandangi dan mulailah otakku berpikir lalu membatin tentang semua orang yang disampingku. satu hal yang tak terlewatkan saat di atas bis adalah berbagai rupa pengamen yang silih berganti naik di setiap persinggahan terminal meski mereka tahu bahwa sudah berapa kali bis itu dinaiki pengamen lainnya namun mereka tetap saja nekat demi mengisi perut hari ini. pengamen memang punya hidup sendiri yang sangat misteri. 

Ada yang beda dengan pengamen disini dengan di makassar sana. mayoritas pengamen disini orasi sebelum dan sesudah menyanyi dan intinya adalah meminta belas kasihan penumpang agar diberi sedikit dari rejeki mereka.

Siang itu setelah melalui beberapa persinggahan terminal dan pra pengamen silih berganti naik mempertontonkan kemampuan mereka, sampai jugalah aku di jombang, tepat berada di lampu merah, bis berhenti dan seperti biasanya pengamen akan naik dan kali ini benar. 

Dua pengamen cewek dan cowok naik. sebenarnya tidak ada hal yang berbeda dari pengamen-pengamen lainnya namun kali ini, dua pengamen tersebut amat sangat necis dan inilah yang membedakan dengan pengamen lainnya yang berpenampilan urakan. sedikit berisik memang saat mereka naik bis dan mulai beraksi karena aku baru saja mulai merem dan lumayan mengganggu tidur siangku dengan suaranya yang cempreng namun wajah cewek si pengamen tersebut lumayan manis ditambah penampilannya yang resik membuat mataku tak bisa dipejam malah memandanginya sambil menikmati lagu jowo yang dibawakannya. lumayanlah untuk pemandangan sore ini.

semoga ketemu lain kali pengamen yang manis,,hehe

November 7, 2013

Janji Terpenuhi

aku tak suka dengan janjijanji yang diingkari
aku benarbenar tak suka
karena semesta tidak pernah ingkar
dia penuhi sabda yang tlah terucap
bahkan hujan pun tak pernah
dia datang membasahi bumi
pun adanya senja
dia selalu saja datang mengganti pagi
dan malam pun demikian
namun kenapa engkau
yang tlah berjanji
kemudian tak mencoba menepati
apakah engkau tidak ingin seperti hujan
atau senja bahkan malam
yang setia kepada ikrarnya
atau
pernahkah engkau mendapatiku ingkar
saat aku berjanji kepadamu
aku bahkan selalu saja menepati
aku akan diam
dengan hujan yang menemani
aku akan hening
tentangmu
biarlah engkau belajar
tentang diam dan heningku
dan aku tidak mengharap apaapa
dan aku
kan mencoba melupakan
semua kisah kita
cerita indah yang lalu


Lagi Tentangmu Ibu

Aku selalu saja tak kehabisan katakata untuk sekedar menulis buat wanita ini. mengingat saja wajahnya dengan sekilas lantas membangunkan inspirasi tentangnya untuk sekedar menulis apa yang kurasakan untuknya. ah, mungkin aku terlalu sentimental setiap kali harus menceritakan tentang wanita ini tentang bagaimana caranya menjalani hidupnya yang sederhana. setiap kali berusaha menggali ingatanku yang mulai pudar di masa lalu namun selalu saja gagal menemukan celah untuk tidak merindunya, berada dipelukannya atau bahkan hanya sekedar merebahkan kepalaku di pangkuannya kemudian dengan kasihnya membelai rambutku hingga ketenangan meresap jauh kedalam sanubariku dan itu yang selalu kurindu darinya.

Malam kemarin, aku menyempatkan meneleponnya dan tepat sekali dugaanku, dia menanyakan kenapa kali ini aku begitu jarang menyapanya lewat telepon. aku sama sekali tak berkata apa-apa hanya sedikit merasa bersalah telah melupakannya dalam minggu ini. 

Sepertinya semua perih terlupakan olehku saat mendengar suaranya, bercerita tentang harihariku disini, mengabarkan bahwa aku sehat-sehat saja dan hal penting kupinta kepadanya tadi malam bahwa semoga saja dia selalu berdoa agar aku tetap istiqomah dan tidak salah jalan bahkan terhindar dari dosa yang kurasa sangat sering kulakukan akhir-akhir ini. aku benar-benar futur ma.

Masih tentang pembicaraanku tadi malam dengan wanita ini. selalu saja banyak nasehat yang meluncur dari mulutnya saat bercakap denganku namun aku bahkan merasa nasehat yang sangat terasa hanya dengan mendengar suaranya yang dalam keadaan baik-baik saja. ada kata-kata yang sangat jarang dia ucapkan namun tadi malam akhirnya dia mengucapkan padaku "nak, engkau telah terbiasa menderita dalam kesusahan dan hal yang perlu engkau cari adalah kemudahan hidup". 

Begitulah kirakira apa yang dia ucapkan kepadaku tadi malam jika dikonversi kedalam bahasa nasional karena kami selalu saja menggunakan bahasa tanah kelahiran saaat berbicara apa saja.

Lagi tentangku ma, engkau wanita yang selalu saja menjadi orang yang paling kurindu. Aku bahkan sangat menyesal dengan berbagai khilaf yang kelewat batas telah aku lakukan hanya dengan mengingat wajahmu. aku sangat merasa bersalah menyia-nyiakan semua kepercayaan yang engkau bebankan kepadaku. aku tidak seperti dulu lagi yang menjaga apa yang seharusnya aku jaga. aku selalu saja khilaf dengan semua sensasi yang absurd.

dan terakhir, tetap doakan aku ma.
menjadi manusia lagi...!!!

November 6, 2013

Berhenti Bertobat

Mungkin ini adalah titik klimaks. Semua hal yang tabu buatku ternyata terbongkar dan melebur hanya karena debu diri yang tak tahu diri. bagaimana tidak, dia hanya datang sekejap menjegalku bagai drama sepakbola yang saling tekel kemudian menguap begitu saja ketika semua telah terjadi. 

Apa itu bukan namanya semu atau "absurditas", istilah yang sangat sering aku gunakan saat mahasiswa dulu. Aku bahkan harus menenggelamkan wajahku ditempat mana saja yang masih sudi menerimaku saat semua hal yang kubanggakan dan yang paling kujaga hancur berantakan bagai gelas yang jatuh ke ubin karena kesenggol bayi yang tak tahu apa-apa. menyesal...? 

Jangan dulu angkuh mengatakan bahwa diriku menyesal atau tobat tanpa ingin lari ke lubang yang sama karena seringkali aku menghindari lubang tersebut dan sesering itu pula tersandung ke dalamnya dan berteriak bahwa itu jalan yang salah namun lagi-lagi kembali terjerumus. 

Sudah hentikan berteriak kata tobat dan menyesal karena kata-kata adalah senjata mematikan yang akan menembakmu sendiri. sudah terlalu sering kata tobat itu menjadi amunisi penenang saat telah terjadi dan kemudian harus terulang lagi. benar-benar futur diri ini....!

November 5, 2013

Tahun Baru Islam

banyak pemandangan berbeda yang kusaksikan di pulau ini. banyak ritual yang kemudian sangat berbeda dengan tanah kelahiranku. aku baru menyadari bahwa ternyata memang begitu banyak hal yang diluar pengetahuanku. ada banyak hal yang mesti harus kupelajari. mungkin inilah yang dimaksud bahwa dalam hidup itu tidak ada kata berhenti belajar.

tepat tanggal 5 november 2013, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah. di pulau ini, sangat ramai dirayakan dengan berbagai kegiatan dan ini adalah salah satu perbedaan di tanah kelahiranku, jarang sekali aku menyaksikan perayaan tahun baru islam seperti ini di kotaku sana. kemarin hari saat melintas di Paron dan jogorogo, begitu ramainya pawai menyambut tahun baru Islam.

November 3, 2013

Jaket Merah Ini

Jaket ini, nampaknya kukenal, warna merah. amat sangat anggun dan menarik. sebentar, aku mencoba mengingat dari manakah gerangan jaket ini datangnya? jangan-jangan dari orang yang tidak kukenal atau dari siapa saja yang ingin iseng kepadaku?

Ternyata bukan, jaket ini dari seseorang, dibeli di IT Kuningan saat dia ke kota metropolitan. katanya aku harus memakai dan dia tidak suka jika aku tidak memakainya. apakah dia tidak menyadari bahwa semua barang-barang darinya menjadi barang yang masih kusimpan. Aku bahkan berkali-kali memakai semua barang-barang darinya dan sangat senang memakai. lumayan sebagai modal untuk diri yang tidak punya uang saku lebih untuk membeli barang

                                             
jaket kiriman pesekku

sebenarnya jaket ini jaket couple namun katanya warnanya agak beda, yang satu merah marun dan yang satu lagi merahnya agak gelap.

Hening

dua baris kata telah musnah
berganti dengan hanya sebaris saja
DIAM...!!!

Belum Ada Judul

Tulisan ini adalah titipan kedua dari gadis pesekku. Dia ingin supaya aku mengurai kebersamaan kami minggu kemarin dalam coretan blogku meski jujur bahwa aku lebih sangat senang jika seandainya dia sendiri yang menuliskannya. 

Entah kenapa akhir-akhir ini dia amat gandrung terhadap tulisan-tulisan sederhana namun aku bahkan sangat senang ketika dia menyukai tulisan karena sejatinya bahwa aku adalah salah satu dari sekian lelaki yang suka pada gadis yang rajin menulis apapun itu. dan gadis pesekku kelihatan sudah mulai kembali menemukan ritme menulisnya yang secara perlahan hilang saat kuliah dimakan kesibukan tugas-tugas yang membosankan. 

Dia pernah bercerita bahwa sejak dulu, dia amat sangat senang dunia tulis menulis namun hilang begitu saja sejak duduk di bangku kuliah karena tugas yang tidak ada habisnya. aku berharap semoga saja gadis pesekku kembali menstimulasi otaknya untuk rajin menulis karena percayalah bahwa tulisan tidak ada habisnya dan akan menjadi gambaran perkembanganmu dari masa ke masa maka jika engkau ingin mengukur kapasitas dirimu maka menulis lah dari masa ke masa hingga suatu masa engkau membacanya seakan membaca perjalanan hidupmu.

Kembali ke gadis pesekku yang menitipkan untuk diceritakan kebersamaan kami minggu kemarin. aku beranjak ke kotanya menghampirinya. selain untuk membunuh rindu yang sudah membuncah, aku juga ingin menemaninya mengikuti tes di salah satu instansi. siang itu, matahari sangat menyengat namun tidak menghentikan langkahku menghampirinya dengan bis MIRA. 

Perjalanan dari kotaku ke kotanya hampir menghabiskan waktuku selama 5 jam karena macet yang begitu parah di akhir pekan membuatku harus menghitung mundur jarum jam untuk sampai di kotanya. macet pula yang membuatnya menunggu begitu lama di pinggir terminal. menjelang maghrib, aku akhirnya sampai di persinggahan terminal dan kutemui dirinya yang sudah menungguku di bawah jembatan. sesaat kukecup keningnya dan kurangkul dirinya, kami berdua beranjak mencari mesjid karena dia belum menunaikan shalat.

Sesaat setelah menunaikan shalat, kami membela kota pahlawan yang sudah mulai remang-remang dimakan senja, pesekku terus saja memelukku diatas motor tanpa sekalipun ingin melepas pelukannya. Aku membawa motor dengan begitu pelan karena kendaraaan yang begitu amat padat di kota ini. tepat di dekat kos, kami singgah mengisi perut di sebuah warung penyetan. 

Aku dengan lahap menghabiskan makananku kemudian menyeruput secangkir es teh. setelah perut kami mulai kenyang, beranjaklah kami ke kosnya pesekku. Di ruang tamu kosnya pesekku, kami melepas rindu, sesekali bercanda, sesekali kami melepas kecupan di jidat masing-masing, kadang kupeluk dia dari belakang kemudian kukecup lehernya dengan mesra, bau kami bersatu dan baunya yang tidak asing lagi bagiku. kurangkul dia dengan erat sambil mengecup pipinya. dia seakan tidak ingin melepas pelukannya dariku. kami begitu amat dekat malam itu dan tidak ada lagi yang tertutupi hingga larut malam mengharuskan kami berpisah untuk sementara .

Esok hari, kujemput dia kemudian kuantar ke tempat tes. kutunggu dirinya selama dia tes di sebuah warung, saat senja menyapa, barulah dia selesai tes. Kami berdua beranjak mencari warung karena belum mengisi perut sejak dari pagi. saat senja sudah mulai berlalu, aku dan pesek kembali ke terminal beranjak ke kotanya menjemput malam. kami berdua duduk bersebelahan di atas bis, sesekali dia merebahkan kepalanya di pundakku dan sesekali memelukku. 

Bis terus saja melaju menuju kota kelahirannya. aku terantuk-antuk saat tidur lelap dan ternyata dia sama sekali tidak tidur, hanya mengamatiku saat aku tidur di bis, mungkin saja dia ingin menjagaku hingga dia memutuskan untuk tidak tidur. 

Akhirnya bis memasuki terminal kota kelahirannya, kami menumpang bis ke rumahnya di sebuah perumahan dalam kota, malam yang larut membuatku harus menumpang tidur di rumahnya. aku tidur di sofa namun tak masalah buatku karena memang aku sudah terbiasa tidur dimana saja. saat aku mulai memejamkan mataku, gadisku selalu saja keluar dari kamar memastikan diriku, dia mengecup bibirku lalu merangkulku kemudian masuk kamar kembali, lagi-lagi hal yang sama dilakukannya, keluar kamar membelai rambutku lalu mendaratkan kecupannya di pipiku hingga beberapa kali.

Pagi datang menyapa, dia sudah membangunkanku, memijit betisku yang lumayan pegal seharian berjalan lalu kemudian menghadiakan kecupan di pipiku. membisikiku supaya bangun menunaikan shalat. pagi semakin terang, dia lalu mengantarkanku ke terminal untuk kembali ke kotaku, kebersamaan kami kembali dipisahkan oleh waktu yang cepat berlalu.

Gadis Bernama Listy

mencoba bercerpen ria

Aku seakan tak percaya sampai di kota ini. Kota yang hanya sering kubaca di buku sejarahku sejak masih sekolah, kota ini pun terkenal dengan julukan kota pahlawan. aku sama sekali tak percaya dan masih seakan mimpi berada di kota ini. Setelah menyelesaikan kuliahku dikota kelahiranku, aku memutuskan untuk merantau mencari tantangan hidup. Tak ada yang aku pikirkan sesaat meninggalkan kotaku di seberang pulau sana, hanya bagaimana meningkatkan taraf hidupku hingga mengharuskan aku terdampar di kota ini. Memikirkan semua apakah aku bisa menjadi seperti yang aku pikirkan atau bahkan harus menyerah di kota ini namun aku sama sekali tak perduli, semua kekhawatiran kucampakkan di sudut kota dan mulai melangkah dengan optimis apa bahwa aku akan menaklukkan kota dan berhasil menjadi apa yang aku harapkan. Setiap kali aku gagal dan ingin menyerah, bayang wajah tulus ibuku di kampung menghiasi kepalaku membuatku kembali tegar. Yah, salah satu semangat hidupku adalah ibuku dan dialah yang membuatku selalu ingin membahagiakannya bahkan dalam kondisi susah, wajahnya yang sendu selalu menari di kepalaku saat aku merindukkannya, bagaimana tidak ini adalah petama kali aku harus jauh darinya bahkan jauh sekali.

“nak, baik-baiklah di kampung orang, jangan jauh dari dirimu”, kata-kata yang sangat dalam meluncur dari mulut ibuku sesaat sebelum saya akan bernagkat dengan bis yang telah menunggu di depan halaman rumahku di sebuah desa kecil pulai seberang. Kata-kata itu meluncur dengan terbata-bata dari mulu ibuku karena dia mengucapkannya sambil terisak, entah dia sedih melihatku harus berpisah dengannya untuk pertama kalinya atau bahkan dia khawatir bahwa aku akan merana di kota ini, entahlah namun terakhir kali kulihat raut wajahnya membuatku juga harus mengucurkan butir-butir airmataku secara perlahan. Tangisan itulah yang selalu membasahi semangatku mengarungi kerasnya hidup di kota ini, saat aku kekeringan bayang-bayang ibuku selalu menguatkanku untuk tidak menyerah begitu saja kepada keadaan , how hard that conditions, itulah aku yang selalu menjadikan wajah sendu ibuku sebagai semangat hidupku, bahkan ketika kadang aku ingin menyerah atau melakukan sesuatu yang salah, wajahnyalah yang datang menghalau semua itu yang kemudian kembali mengarahkanku ke jalan yang benar.

Aku adalah air, begitulah selalu yang kupikirkan selama menjalani hidup di kota ini, karena air akan selalu merendah dan selalu menyejukkan. Perjalanan hidup yang benar tak sesuai dengan apa yang terpikirkan. Selalu saja ada banyak halangan yang mencoba menghalau semangatku, namun tak jua kupudarkan sedikitpun kobar asa ku di dalam dada.

Awal aku di kota ini, aku menumpang di rumah keluargaku. Dik, tetaplah tegar mengejar cita-citamu”..! kata-kata itu setiap pagi dari kakak sepupuku untuk menyemangatiku, namun selang beberapa bulan menumpang di rumah keluargaku, ada perasaan segan menghinggapiku karena sampai sekarang, tak ada satupun lamaran pekerjaanku yang berhasil, setiap lowon gan telah kulamar dan tak terhitung pula aku masuk keluar kantor mengajukan lamaran namun tetap saja nihil hingga pada bulan ketiga, aku diterima di salah satu LSM internasional. Betapa girang kurasa meskipun tanpa kutahu sebelumnya spesifikasi kerja yang harus aku jalani.

Kuingat dengan jelas, hari kamis adalah hari pertama aku masuk kerja, dengan semangatnya aku pamit dan melangkah dengan keyakinan penuh ke tempat kerja yang berada dipusat kota ini. Hingga sampai di kantor LSM tersebut, ada sedikit perasaan ciut menghampiriku setelah melihat kantor yang tidak seperti kubayangkan, kantor yang megah, bertingkat dan full ruangan AC namun berbeda 180 derajat dari kantor yang sedang aku tuju sekarang, hanya tuntutan kebutuhanlah yang tetap menggiring langkahku memasuki kantor ini. “persetan dengan pekerjaan apapun yang akan aku jalani, yang penting aku bisa bertahan hidup sejenak di kota ioni”, gumamku saat itu. Sesampai di dalam ruangan kecil yang merupakan aula pertemuan kantor LSM ini, sudah ada 4 karyawan yang duduk mendengarkan arahan dari tim leader LSM, ternyata mereka adalah karyawan baru sepertiku dan aku yang paling terlambat datang.

Perkenalkan, namaku udin. Aku berasal dari pulau seberang..! kata-kata itulah yang pertama kali meluncur dari mulutku setelah dipersilahkan memperkenalkan namaku. Ternyata aku adalah satu-satunya karyawan yang berasal dari luar pulau, alhasil logatku pun berbeda dari mereka namun justru itu yang membuatku semangat karena aku beda dengan mereka. Setelah perkenalan semua karyawan baru, si team leader yang kemudian sering kami panggil dengan nama bang cepot menjelaskan tentang seperti apa pekerjaan yang harusw kami lakukan. DDC, itulah divisi dimana kami akan ditempatkan dan harus kesetiap tempat keramaian mencari donasi seperti layaknya marketing asuransi, pikirku saat itu. Kulihat satu persatu wajah dari karyawan baru dan semua mengisyaratkan wajah kecewa setelah mengetahui seperti apa pekerjaan yang harus kami jalani. Meskipun demikian, tak ada satupun dari kami yang mengundurkan diri karena mungkin saja mereka juga butuh pekerjaan, gumamku.

Hari pertama kerja menjadi sangat tidak mengenakkan, harus berdiri di sebuah pintu masuk mall terbesar di kota ini dan menyapa setiap pengunjung yang lalu lalang kemudian menawarkan menjadi donatur di LSM ini, “ ah, betapa malunya saat pertama aku melakukannya”, bahkan pikirku ini adalah hal yang kemudian tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku namun kemudian aku harus menjalaninya demi mengisi perut.
Lis, kok kamu tertarik bekerja di tempat ini? Kamu kan cewek dan pekerjaan kita sering memakan waktu sampai larut. Pertanyaan itu kulontarkan kepada salah satu teman kerjaku. Dia hanya membalas dengan senyum yang tersungging dari bibir tipisnya.
                                                ***************
Aku dan listy sekarang merajut kebersamaan di sudut alun-alun kota ini. Sejak sama-sama memutuskan resign dari LSM tempat kami bekerja di kota pahlawan, kami semakin dekat. Listy adalah cewek kalem yang pertama kali kukenal sejak november yang basah. Dik, kok tiba-tiba suka padaku dan membalas cintaku”? suatu senja aku menanyakan alasan kenapa dia membalas cintaku. Dan sudah kuduga bahwa setiap kali aku menanyakan hal yang sentimental, dia hanya membalas dengan senyuman tipis yang akhirnya akan melunturkan keinginanku untuk bertanya lebih banyak lagi kepadanya.
Aku bahkan tidak canggung lagi bertamu ke rumahnya di ujung kota ini. Bertemu ibunya dan bercerita banyak hal. aku ingat suatu waktu, ibunya menelponku dan memintaku datang ke rumahnya, mas, apa mas benar-benar serius kepada adik..? aku gk mau kalau mas hanya mempermainkan adik..! itulah kata yang keluar dari mulut ibunya sesaat dia memintaku datang ke rumahnya. Aku dan ibunya memang memanggil listy dengan sebutan adik dan hanya kami berdua yang kerap memanggilnya seperti itu. Dik, kemarin ibu menanyakan keseriusanku kepadaku.! Aku membeberkan setiap kalimat pertanyaan kepadanya melalui  telepon setelah ibunya meminta ketegasan kepadaku. Kami memang sekarang beda kota, dia tetap di kota pahlawan dan aku mendapatkan pekerjaan baru di ujung pulau ini. Trus kakak jawab apa..? dia menanyakan ulang tentang jawabanku kepada ibunya tadi pagi. Dia juga memanggilku dengan panggilan kakak. Aku tidak ingin menyakitimu..! jawabku singkat.

Begitulah romansa kami dirajut dalam ruang dan waktu yang beda. Kadang bertemu sesekali ketika kukunjungi dirinya di kota pahlawan hanya untuk melepas rindu yang membuncah. Seringkali kami membunuh kebersamaan dengan waktu mengunjungi setiap tempat yang pernah menjadi cerita kami sejak masih berteman dan kebanyakan tempat itu menyimpan beribu kenangan yang tak terlupakan hingga setiap kata tak lagi terucap hanya terkadang wajah yang menampakkan perubahan ronanya kadang bahaggia dan kadang pula sedih.

Kuingat dengan jelas saat dia mengantarkanku ke pelabuhan kota ini saat aku berniat menjenguk ibuku di pulau seberang. Dia dengan motor kesayangannya membelah hujan membawaku ke pelabuhan menunggu kapal di dermaga yang sebentar lagi mengantarku pulang ke istana kecilku. Kak, Kakak harus kembali kepada adik, jangan tinggal lama di sana..! itu pesan terakhir yang dibisikkan di telingaku sesaat kapal akan bersandar untuk segera kunaiki. Iya dik, kakak akan kembali membawa sejuta impian kita merajut kebersamaan di kota ini, kakak hanya mengunjungi ibuku dan memastikan bahwa dia sehat-sehat saja..! balasku dengan sedikit menggombal. Kulihat raut mukanya yang begitu bahagia saat kuucapkan bahwa aku akan segera kembali dari kampung halaman.

                                                ************************
Lis, kok gak dijawab, kenapa kok mau kerja di tempat ini yang  mengharuskan kita pulang malam sedangkan kamu sendiri kan cewek”…! Nampaknya gadis yang baru kukenal beberapa hari ini tidak dengan pertanyaanku tadi, Listy adalah salah satu dari tiga karyawan baru di kantor ini. Dia amat sangat pendiam dan hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Enggak kok mas, sambil nyari kerjaan yang lain”..! balasnya. Pantas saja aku bertanya seperti itu karena tempo hari dia bercerita bahwa dia dari pendidikan yang berlatar kesehatan dan kuanggap bahwa pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Bahkan dua temanku yang lain berasal dari teknik dan guru. Begitulah wajah pendidikan indonesia, spesifikasi jurusan yang dipilih saat masih kuliah sama sekali tidak menentukan pekerjaan apa yang nantinya akan dilakoni bahkan perbankan adalah salah satu dari perusahaan yang menerima semua jurusan.

Kami adalah pencari kerja. Lima orang karyawan baru di tempat ini termasuk aku sering berbagi cerita tentang masa ke masa yang telah kami lalui. Perbedaan latar belakang suku membuat cerita kami seringkali diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan seputar adat budaya hingga kami pun semakin intim. Sejak saat itu ula, aku tahu bahwaw gadis yang bernama listy adalah paling pendiam dan kalem diantara kami, dia hanya menyela sekali ketika kami sedang asyik bercerita dan aku merasa salah satu yang paling banyak bercerita. Hingga pada suatu saat, satu persatu kelima dari kami mengambilkan keputusan untuk keluar dari pekerjaan ini, ada yang kemudian pindah perusahaan yang paling besar, ada yang menikah dan ada pula yang menjadi guru. Aku pun pindah perusahaan dan gadis yang bernama Listy itu diterima menjadi salah satu staff di kampusnya.

Keep in touch yah”..! itulah kata-kata terakhir yang kami ucapkan saat kami mengadakan farewell party di salahhs atu kedai yang menjadi langganan kami. Semua dari kami selalu menjaga satu sama lain tanpa ada yang dilupakan. Pertemanan yang telah kami jalin sejak bekerja bersama di tempat ini akhirnya dipisahkan oleh waktu yang terasa amat cepat  berlalu. Pertemanan dari berbagai macam suku yang semakin membuat kami akrab.
                                                *************************
Dik, kok bisa kita bersama padahal kita begitu banyak perbedaan yah..! suatu senja saat kami menghabiskan waktu berdua di alun-alun kotanya. Aku menanyakan perbedaan kami yang begitu banyak namun tidak menghalangi kami untuk bersama. Enthalah kak, kakak sendiri yang memulai menyatakan perasaannya jadi saya menerima aja..! balasnya dengan amat singkat dan selalu diiringi senyuman tipis dari bibirnya. Kebersamaan kami seperti itu seringkali amat sangat singkat karena kami harus kembali ke kota masing-masing untuk memulai rutinitas kerja yangg menggunung. Kebersamaan kami mengeja waktu hanya terjadi di akhir pekan selama sebulan sekali. Jarak dan waktu yang menjadi sebab kami harus  melakoni romantisme asmara seperti ini. Hingga semua berjalan begitu melambat.

Dik, aku sudah resign dari tempat kerjaku, aku mau ngomong sesuatu yang amat penting tentang kita berdua”,,! Kutelpon Listy bahwa aku sudah resign, gadis yang dulunya adalah temanku sekarang menjadi kekasih. Dia masih bekerja sebagai staff di kampusnya. Minggu depan kita ketemu. Iya kak”..! balasnya singkat di telepon dengan suara yang menyimpan beribu tanda tanya.
Dik, aku diminta pulang oleh orang tuaku, sejak aku resign, orangtuaku tahu dan dia khawatir jika aku berada di kota ini tanpa ada pekerjaan yang tetap. Kutatap mata Listy dengan nanar. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun namun sedikit demi sedikit, air matanya tumpah dan tak lama kemudian dia histeris dan menghamburkan dirinya kedalam pelukanku dan berteriak jangan pergi kak. Perasaanku campur aduk, bahkan tak dapat kugambarkan saat itu apa yang mesti kulakukan, seakan matahari pun mulai redup akibat tangisannya. Dia memelukku dengan erat tanpa sekalipun membiarkanku lepas dari pelukannya. Dengan amat sangat pelan, kubisik bahwa aku sayang sama dia, dik, persoalan ini hanyalah tentang perbedaan ruang dan waktu namun yakinlah bahwa hatiku tetap menyimpan cintamu dalam-dalam”…! Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku yang membuatnya sedikit lebih tenang. Kapan kakak pulang”..? tanyanya dengan terbata-bata setelah tangisnya sudah mulai reda. Besok lusa dik..! jawabku singkat. Kembali tangisnya pecah membuat sweater hitamku basah oleh airmatanya. Namun takdir telah menuliskan seperti itu bahwa kita akan saling mengasihi dengan jarak dan waktu yang memisahkan.

Dik, aku berangkat jam 09.00..! sms singkat kukirim kepadanya sesaat keberangkatanku ke dermaga. Kemarin, dia memutuskan untuk tidak mengantarku ke dermaga bahkan sekalipun dia tidak mengangkat telepon apalagi membalas pesan singkatku. Pagi ini menjadi saksi tentang romansa kami yang beda, yang kemudian harus kuukir dalam cerita hidupku bahwa kami selalu saja dibatasi oleh ruang dan waktu seakan mereka tidak pernah mau memaklumi cinta kami hingga akhirnya selalu saja memisahkan keberadaan kami dan sampai sekarang begitu jauh. Kami tidak pernah tahu lagi kami akan berjumpa namun kuyakin bahwa kekuatan cinta akan melebihi ruang dan waktu yang tentunya kami akan bisa berjumpa kapanpun karena hati kami telah menyatu..




                                                                                    @Dermaga Tanjung Perak