Apa
kabarmu hari ini ma?
Lama
tak mengirimu surat-suratku. Aku bahkan hampir kehilangan hasrat
menulis karena terlalu lama vakum menuliskanmu sesuatu. Aku bukan
tidak punya waktu luang namun lebih karena kejenuhanku membuka laptop
dan mengetik surat-suratku kepadamu. Banyak momen yang menguap karena
tidak segera kuceritakan kepadamu ma. Aku bahkan melupakan beberapa
momen-momen yang kulalui dan parahnya lagi ma, aku sudah lupa surat
ke berapa yang sekarang sedang kutulis untukmu
Dua
hari kemarin aku ke Ngawi ma. Tempatku bekerja dulu. Ada beberapa
urusan yang harus kuselesaikan disana. Namun selama tiga hari disana,
urusanku belum selesai ma. Malam pertama aku nginap di rumahnya riko
di magetan. Malam kedua dan ketiga aku menginap di rumahnya mama E.
Dia itu sudah seperti orangtua keduaku di sini ma. Dia baik sekali
sama aku. Jumat pagi aku kembali ke kota ini bareng mama eni. Cucunya
lagi sakit ma, dan harus di opname. Kasihan dia ma, harus berjuang
keras karena sendiri di rumahnya
Kemarin
aku ada kegiatan di sekitar manyar ma. Lumayan capek juga soalnya
terlalu lama berhadapan dengan computer dan soal-soal yang
membingungkan ma. Aku bahkan sampai pening saat pulang ke kos.
Setelah itu ada temanku yang datang dari Makassar ma. Dia sedang
survey di kota ini dan minta untuk diantar ke terminal.
Tadi
pagi aku mengantar mama eni ke bungurasih ma, dia mau pulang ke
kotanya. Saat aku di lampu merah, aku mau belok ke kanan namun
ternyata ada car free day. Aku lurus dan dari arah berlawanan, ada
seorang bapak yang hampir bersenggolan dengan motorku. Dia dengan
kesalnya langsung berteriak ke aku ma, “Jancuuuk”. Hahaha. Aku
hanya senyum kemudian tetap melaju. Meskipun aku tahu bahwa kata-kata
itu adalah kata umpatan di pulau ini namun aku sama sekali tidak
merasa tersinggung karena kan kata itu tidak ada artinya kalau di
Makassar ma. Orang disana beda kata-kata umpatannya. Hehe.
Memang
itulah bahasa ma. Di suatu tempat kadang sangat tidak sopan namun di
tempat lain bahkan tidak ada artinya sama sekali. Ah, ma. Benar-benar
hidup yang sangat berwarna ma, kalau kita keluar merantau dan melihat
orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dijumpai. Mempelajari
karakter mereka dan berinteraksi dengan mereka. Namun ada satu hal
yang tidak berbeda dari yang namanya manusia ma. Bahwa kebaikan itu
bersifat universal ma, dimanapun kita berada kalau kita menghargai
orang maka kita akan dihargai pula. Budaya, bahasa, agama dan pembeda
lainnya tidak akan pernah mereduksi nilai seseorang sepanjang dia
berbuat baik ma.
Sudah dulu ya ma.
Tetaplah berbahagia ma dan tebarkanlah kebahagiaan kepada sesama ma
karena semua orang berhak bahagia dalam kehidupannya
Jojoran
3/61
23’3’14

No comments:
Post a Comment