March 6, 2014

Coretan untuk mamak #1


ini untukmu ma yang kutulis diamdiam dan kusimpan dibawah kasurmu..
Dulu, saat baru beberapa bulan meninggalkan kampung halaman dan mencoba-coba bagaimana rasanya merantau. aku sering sekali menulis beribu macam perasaanku tentangmu mama. Apapun itu baik yang terkatakan maupun yang tersimpan dalam hatiku bahkan aku seringkali berkaca-kaca ketika rinduku tak tertahankan hingga sesak rasanya mengingat wajahmu yang sendu.

Namun entahlah setelah hampir 2 tahun lamanya aku merantau, aku merasa intensitasku menuangkan perasaan-perasaan terhadapmu agak berkurang meski kusadari bahwa perasaanku terhadapmu tidak akan pernah berkurang sedikitpun. Aku hanya sedikit mencoba untuk meramu apa lagi yang mestinya kutulis untuk menggambarkan cinta kasihmu terhadapku karena sepertinya kata-kata seakan sudah menjadi hambar hanya untuk menggambarkan perasaanku yang teramat dalam untukmu.

Sekarang mungkin aku akan mencoba untuk menuangkan lagi perasaanku ataupun tentang masalah-masalahku di coretanku yang berseri ini. Aku amat sangat yakin ketika aku menceritakan langsung kepadamu tentang masalahku maka air matamu akan mengalir deras seperti hujan di kota ini yang tak pernah reda. Aku tidak mau sama sekali itu terjadi terhadapmu lagi ma, aku hanya ingin menceritakan hal-hal yang terbaik terhadapmu untuk menyenangkan hatimu. Biarlah semua permasalahanku kutumpahkan di coretan ini tanpa sepengetahuanmu.

Ma, aku sekarang sedang tidak ada aktivitas, aku bingung dan benar-benar bingung karena harus vakum sejak sebulan yang lalu. Aku telah meng apply di beberapa tempat namun belum berjodoh ma. Aku memang sering mengatakan tidak akan pernah putus asa namun aku adalah manusia biasa yang di saat seperti ini, titik-titik perasaan seperti itu mulai menyergapku namun sering kutepis dengan cita-citaku ingin membahagiakanmu. Aku tahu itu dan aku berusaha untuk itu makanya aku tetap bertahan disini dalam keadaan yang serba amat sangat tidak menyenangkan.

Ma, di beberapa episode perjalananku di perantauan, aku telah banyak khilaf ma. khilaf yang aku sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya akan seperti ini. Khilaf yang seringkali membayangiku dan tidak pernah mau pergi dari memoriku. Aku tahu itu murni dari diriku yang dzalim dan aku harus menyadari itu ma. Aku selalu saja tersungkur untuk menyadari khilafku ma dan sekarang hanya Tuhanlah yang menentukannya.

Ma, aku yakin semua varian doadoa terbaikmu telah engkau taburkan kepadaku demi keberhasilanku. Tanpa aku minta dan tanpa engkau katakan aku yakin bahwa itu selalu dan akan selalu engkau lakukan selepas sujudmu di sajadah putih kesukaanmu. Bahkan dulu saat masih di kampung, aku terkadang mengintipmu dari balik jendela saat engkau shalat dan selepas shalat dan amat sering aku mengdapati aliran air matamu lalu kemudian engkau menerawang ke langit sambil berkomat-kamit, aku tak tahu ucapanmu itu namun hatiku yakin bahwa itu bukan untukmu namun untuk semua anak-anakmu.

Ma, aku sehat-sehat disini. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku karena aku adalah laki-laki. Aku tidak boleh menyerah pada setiap keadaan yang kelihatan semakin tidak bersahabat. aku sama sekali tidak boleh menyerah akan itu ma karena hidup ini terlalu sayang dilewatkan untuk disesali dan untuk disia-siakan.

Ma, tunggu aku di kampung membawa keberhasilanku untukmu dengan izin Allah SWT.

No comments: