December 31, 2017

Sensasi ikut Lomba Menulis (2)

Masih terngiang dengan jelas sensasi di kepalaku ketika namaku disebut oleh panitia sebagai Juara I lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh Perusahaan tempatku bekerja dalam rangka memperingati HUT yang ke-50 tahun. 

Meski pada periode sebelumnya, saya juga mampu keluar sebagai juara III namun periode tahun ini lebih spesial karena disamping juara I, lomba tahun ini juga diikuti oleh seluruh karyawan Perusahaan tempatku bekerja se-Indonesia, sedangkan lomba tahun lalu hanya diikuti oleh seluruh karyawan se-Jabodetabek.

Ada yang lucu karena pada tahun lalu, lomba diadakan tidak terlalu meriah dan hanya diikuti segelintir Karyawan namun hadianya lebih besar dari tahun ini yang melibatkan seluruh karyawan seluruh Indonesia, namun sekali lagi, ini bukan masalah hadiah, ini tentang kepuasan batin atas impian kecil bisa mempublikasikan karya.

Paling tidak, pengalaman tersebut melecut semangatku bahwa ada sedikit harapan untuk bisa lebih baik dan lebih keras lagi belajar menulis. Tidak untuk dipamerkan namun demi menjaga diri tetap berkarya atas setiap kesempatan yang ada.

#latepost 31 12 17. Lombanya 8 12 17

Harapan

Salah satu tulisan absurd yang selalu kuulangi di setiap akhir tahun adalah ikut arus menulis semacam resolusi. Namun entah kenapa, semakin saya sadari bahwa hal itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa ketika tidak ada tekad yang kuat dalam mewujudkan apa yang diimpikan, semakin saya keranjingan membuat list apa saja yang kuinginkan.

Momen akhir tahun 2017 kali ini kembali memaksaku menulis apa yang ingin kugapai di tahun 2018.

Sebelumnya saya membaca ulang tulisan semacam ini tahun lalu namun ternyata tidak ada yang terwujud. Atau mungkin juga Tuhan merealisasikannya dalam bentuk yang lain, entah seperti apa. Ada juga yang hampir tergapai namun kembali memudar. 

Saya berharap, tahun 2018 lebih sedikit bersahabat meski pada dasarnya, setiap waktu baik hanya manusia yang menyia-nyiakannya.

Tahun 2018, saya membayangkan bekerja di tempat kerja yang baru nan settle di hatiku. Bekerja yang sesuai dengan passion dan misi yang diembankan oleh Allah Swt. Tidak lagi bekerja pada bidang finance yang masih debatable hukumnya secara fiqih Islam. 

Bekerja di kota di Jawa Timur atau mungkin Jawa Tengah. Menetap dan membeli rumah tempat berteduh anak isteri dan keluarga lainnya.

Lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara dan mengukur setiap kata yang dilisankan. Lebih banyak membaca dan menulis yang sistematis dan berbobot.

Lebih intens mengunjungi orang tua di kampung. Anak Isteri beserta keluarga dalam keadaan sehat lahir batin. 

Cilandak. 31 12 17.  21.27

December 29, 2017

Peralihan

Saya sudah melewati usia 20-an dan memasui gerbang usia 30-an. Perjalanan waktu yang tidak disadari tiba-tiba sudah berada pada angka yang lumayan banyak. Hampir setengah dari usia Nabi Muhammad.

Sedikit gemetaran menyadari bahwa sudah begitu panjang perjalanan yang saya lewati namun kualitas diri belum juga berada pada level yang memuaskan. Hidup masih terombang-ambing oleh angan yang tak berujung bahkan ketika orang seusiaku sudah berada pada jalur passionnya untuk menjalani hidup, saya masih saja terus meraba jalan.

Malu. Rasa yang terkadang muncul saat menyadari kehidupan saya yang tidak beranjak ke tingkatan yang lebih baik. 

Tiga tahun di awal usia 20an saya habiskan sebagai Mahasiswa. Masa yang menurutku sangat berkesan meski meninggalkan penyesalan atas banyaknya kesempatan belajar yang kulewatkan pada masa itu. 

Dua tahun berikutnya, saya habiskan sebagai pengangguran yang tak tahu arah. Kemana kaki melangkah, maka diri ikut layaknya layang-layang yang nurut pada sang empunya. Dua tahun yang benar-benar terbuang sia-sia. 

Pertengahan usia 20an, saya mulai memasuki dunia kerja. Dunia yang kemudian menghanyutkanku pada rutinitas harian. Pagi berangkat dari kos ke kantor, pulang menjelang senja kemudian libur pada saat weekend lalu menerima gaji bulanan pada setiap akhir bulan. 

Akhirnya terjebak dalam dunia ini dan terjun bebas dalam arusnya yang deras. Menghantam idealisme, kepedulian dan rasa sosial yang hanya menyisahkan pikiran tentang besarnya gaji atau berapa bonus yang akan diterima. 

Di awal usia 30an, saya nampaknya mulai menyederhanakan impian. Angan tidak harus dilambungkan jauh ke langit namun sekedar mencari apa yang membuat hati tetap tenang dan berada pada koridornya. 

Anak dan isteri mungkin salah satu faktor yang membuatku berfikir bahwa hidup hanyalah tentang bagaimana mengasihi tanpa harus berusaha mengejar semua impian pada titik batas nilai kemanusian. 

Di awal usia yang sudah mulai menua, saya hanya berharap tetap sehat lahir batin dalam menemani anak isteri menjalani hari, mampu memberikan kebutuhan primer kepada mereka dan punya tempat layak untuk dihuni, sebagai tempat istirahat dan bercengkerama. Tempat segala hal untuk memulai hal-hal baik. 

Untuk selanjutnya, menetap di sebuah kota di luar keruwetan ibu kota. Bekerja pada tempat yang tidak mengganggu prinsip nurani. 

Ah, awal usia tua ini memang berat. Di kala mereka sudah mapan di usia seperti ini, saya bahkan harus memulai dari nol untuk banyak hal. Untuk hal-hal duniawi maupun nutrisi rohani yang mulai kosong dihantam angan-angan.

Begitulah peralihan angka dari 20 ke 30

29 12 17

December 23, 2017

Ibu

Entah kata apa lagi yang harus kuucap untuk menumpahkan rindu. Bahasa seperti bagaimana lagi yang harus kulisankan untuk menceritakan cintaku padanya.

Ibu, selalu saja sentimental ketika menulis tentangnya. Apa saja yang kuceritakan akan membuatku merindunya.

Saya bukanlah orang yang ikut-ikutan merayakan momen yang dikenal sebagai hari ibu namun setidaknya, momen ini mengingatkanku bahwa saya punya alasan untuk menuliskan lagi kata-kata untuknya.

Salah seorang guruku semasa SMA sangat dekat denganku bahkan ketika saya sudah tamat, kami masih sering komunikasi.

Nah si guru tersebut saban senin dan kamis sering ke pasar membeli keperluan dapur. Ibuku yang notabene penjual jajanan pasar sering melihatnya dan memberikan jualannya secara gratis kepada guruku karena ibuku tahu bahwa guru tersebut dekat dengan saya.

Begitu pedulinya ibu terhadapku bahkan orang-orang yang dekat denganku akan dimuliakan oleh ibu.

Selamat hari ibu. Semoga sehat lahir batin selalu ya bu. Umur yang berkah dan suatu saat bisa berkunjung ke tanah Mekah.

23 12 17

November 24, 2017

Panggung Terakhir untuk Si Tiang Gawang

Meskipun anda terlalu banyak berjasa bagi klub yang paling tidak keren di jagad sepakbola Italia atau bahkan dunia, klub dari Turin, Juventus, namun tidak lantas membuat saya membenci anda karena bagaimanapun, anda sudah banyak berjasa juga bagi Timnas Italia yang merupakan timnas andalanku di setiap edisi World Cup dan Euro Cup.

Bung Gigi,
Anda menjelaskan kepada dunia bahwa umur hanya sebuah hitungan angka yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan kemampuan di lapangan. Usia yang sudah menjelang senja tidak lantas membuat anda begitu saja menyerah dan melemparkan kaos tangan pertanda undur diri bahkan libido bermainmu semakin bergairah. Siapa yang tidak kagum pada ketangguhanmu selain mereka yang tidak menyukaimu.

Barangkali akan banyak yang sinis bahwa kemampuanmu bertahan di level atas sepak bola dunia di usia 39 tahun karena posisimu yang hanya sebagai penjaga gawang. Mereka lupa bahwa penjaga gawang bukan berarti tidak menguras tenaga malah lebih dari sekedar fisik, penjaga gawang penuh dengan tekanan mental ketika timnya dibobol sehingga butuh konsentrasi penuh selama 90 menit pertandingan.

Bung Gigi,
Kesedihanku begitu besar melihatmu gagal membawa Italia lolos ke turnamen piala dunia. Sebuah kegagalan yang menyedihkan seluruh warga Italia bahkan sebagian besar pencinta sepak bola di seluruh dunia. Benar bahwa anda tidak kebobolan saat pertandingan play off di San siro melawan Swedia namun kekalahan pertandingan di leg I membuatmu harus mengubur mimpi berlaga piala dunia yang terakhir kalinya. 

Rencanamu buyar untuk pensiun setelah piala dunia. menurutku, biang kerok paling empuk untuk disalahkan pada kegagalan Italia adalah sang juru taktik, Giampiero Ventura. Sudah banyak ulasan dari banyak kalangan bahwa doi memang sama sekali tidak pantas melatih Italia.

Bung, 
Timnas Italia sekarang memang tidak sementereng Timnas Italia 2006 yang kala itu menjuarai piala dunia. Maka sedikit wajar menyadari kenyataan bahwa Italia mungkin memang tidak pantas untuk berlaga di piala dunia 2018. Anda sudah tidak didukung oleh dua bek tanggung, Cannavaro dan Nesta. Tidak ada lagi seniman lapangan tengah, Andrea Pirlo dengan muka datar yang mampu membius penonton saat menguasai bola. Tidak ada lagi penyerang sekelas Vieri dengan tubuh kekar mampu melepaskan tendangan keras dan sundulan yang akurat.  

Bung Gigi,
Sekedar saran dari saya sebagai penggemar Timnas Italia dan klub Inter Milan. Lebih baik anda pensiun karena Timnas Italia tidak berlaga di piala dunia. Jika karena alasan ingin membawa Juventus juara Champion sebelum memutuskan pensiun, saya kira anda lebih baik mengubur mimpi tersebut. Juventus hanya sebuah klub receh di hadapan para jagoan tim Eropa. 

Lagian, sampai sekarang kenapa anda bisa-bisanya bermain untuk klub yang jerseynya mirip marka jalan. Kalau mau tahu yang bung, Juventus itu sama sekali tidak ada keren-kerennya sedikit pun. 

Satu lagi pesanku ya bung sebelum anda menyesal. Lebih baik pensiun sekarang karena Juventus tidak pernah menghargai pemain yang sudah loyal bermain untuk klub tersebut. Anda ingat kan bagaimana Juventus memperlakukan Del Piero dengan sangat tidak elegan. Istilahnya habis manis sepah dibuang.

Coba bandingkan dengan klub paling keren, Inter Milan. Javier Zanetti sangat dihormati di sana sebagai salah satu legenda bahkan setelah menyatakan pensiun. Dia diberikan posisi strategi di jajaran pengurus klub. Keren kan bung. Ah sayang sekali dulu anda tidak memilih Inter Milan sebagai klub yang pantas dibela.

Sudah dulu yang bung. Coba direnungkan saran saya untuk cepat-cepat pensiun daripada menghabiskan tenaga hanya sekedar menjaga gawang Juventus dari kebobolan. biarkan saja Juventus dibobol, gawangnya tidak perlu dijaga.

24 11 17

November 21, 2017

Tentang "Makes" dan Dinamika Perjalanannya

Saya pertama kali bergabung di lembaga Makes sekitar bulan Januari 2006. bermula ketika saya kursus di lembaga Britania Raya yang berlokasi di Benteng Rotterdam. saya bertemu dengan salah seorang member Makes, kalau saya tidak salah ingat, namanya Kiki. belakang setelah aktif di Makes, saya tidak pernah bertemu dengannya.

Ketika hendak pulang dari Benteng Rotterdam, saya menyempatkan diri duduk di taman Benteng. Kiki duduk di sampingku yang entah bagaimana mulanya, kami bercakap-cakap tentang apa saja tentunya tentang tujuan saya ke Benteng Rotterdam dalam rangka kursus bahasa inggris. mengetahui hal tersebut, Kiki merekomendasikan lembaga Makes sebagai alternatif tempat mengasah kemampuan bahasa inggris. dia menyarankan saya ikut dengan segala informasi detail tentang Makes, tentang waktu meeting, no charge dan suasana dalam meeting. lembaga tersebut berlokasi di teras masjid Al Markaz Makassar.

Berbekal informasi dari Kiki, saya kemudian memberanikan diri ikut di lembaga Makes dan tekad yang kuat untuk belajar bahasa inggris. setibanya di Makes, saya ingat masih ingat Adnan yang pertama kali mengajak ngobrol, belakangan saya akrab dengannya, saya memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa saya ke Makes atas rekomendasi Kiki.

Pada permulaan meeting, member baru disuruh memperkenalkan diri di forum besar dalam bahasa inggris. meski perkenalan hanya seputar hal sederhana tentang diri namun keder juga di tengah orang yang belum dikenal apatahlagi menggunakan bahasa inggris.

Setidaknya kesan pertama saya lalui dengan sukses di Makes. saya punya pertalian yang kuat dan merasa akan betah belajar di tempat tersebut. tempat yang menurutku ideal untuk belajar banyak hal bahkan belajar tentang kehidupan.

Oh iya, rentang waktu tersebut, saya tidak punya kegiatan di Makassar karena pada tes SPMB 2015, saya tidak lulus dan memutuskan untuk mengikuti kursus sambil menunggu tes PT tahun berikutnya. hal tersebut pula yang membuat seringnya intesitas kedatangan saya di Makes.

Seringnya saya datang di Makes membuat saya semakin akrab dengan orang-orang yang aktif di lembaga tersebut. saya mengikuti banyak kegiatan di Makes selain diskusi rutin yang diadakan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.

Tahun berikutnya ketika saya berhasil lulus masuk PTN di Makassar, saya selalu menyempatkan waktu untuk datang belajar di Makes. saya bahkan menjadi salah satu pengurus sejak tahun 2007 sampai 2011 dengan berbagai posisi yang berbeda. di tahun awal saya bergabung, sangat terasa iklim akademis yang terbentuk di lembaga tersebut. kajian bahasa inggris yang menjadi spirit awal ikut menjadi member kemudian hanya menjadi second spirit karena saya lebih bergairah mengikuti diskusi-diskusi rutin yang dilakukan dalam menambah wacana member Makes.

Dua atau tiga tahun di Makes, saya sudah akrab dengan para senior yang rata-rata sudah sukses. mayoritas dari mereka adalah berprofesi sebagai Dosen. saya tidak membuang kesempatan untuk berguru dari mereka. dari beberapa pengalaman, saya pernah berdiskusi panjang dengan salah seorang senior yang juga merupakan Dosen Universitas Bosowa. Saya pernah beberapa malam berkhidmat dengan Dosen Unhas yang juga lulusan Belanda. masih banyak dari senior yang pernah saya punguti ilmunya.

Dari sekian senior yang sering kujadikan referensi, sampai saat ini, hanya satu senior yang masih intens berinteraksi denganku dan beberapa hal prinsip yang membuatku harus meminta saran kepadanya sebelum memutuskan. Terakhir kali bertemu beliau di Jakarta dan memberiku banyak pesan tentang kegundahanku selama ini.
Saya mengikuti perjalanan beberapa anggota Makes yang awalnya sangat minim kemampuan bahasa inggrisnya namun beberapa tahun kemudian, mampu meraih beasiswa ke luar negeri. bukan hanya satu tetapi banyak dari mereka.

Salah satu hal yang kusesali adalah di tahun-tahun akhir ikut di Makes, saya tidak terlalu disiplin mengikuti kursus bahasa inggris termasuk latihan toefl yang diadakan di luar meeting rutin sehingga membuat kemampuan bahasa inggris saya jauh tertinggal dari teman-teman. ketika mereka sudah sibuk mengurus berkas mendaftar beasiswa S2, saya masih berkutat pada hal-hal remeh temeh. mungkin dari member Makes yang aktif sejak 2006, saya adalah satu dari sedikit yang tidak mampu memperoleh beasiswa S2. namun terlepas dari itu, saya tetap bangga menjadi bagian dari Makes.

Di tahun 2010, saya terpilih sebagai Daily Chairman. posisi yang mengurusi tetek bengek keseharian Makes karena di tataran konsep dan hubungannya dengan pihak eksternal, diemban oleh Chairman. di posisi ini, saya punya wewenang yang lebih dalam menentukan warna Makes seperti apa. meski tetap berada pada koridor yang sudah digariskan oleh para pendiri lembaga.

Warna Makes sering berubah tergantung bagaimana pengurus yang menjalankannya. Satu waktu Makes berubah menjadi forum kajian yang disiplin namun di lain waktu fokusnya hanya terkait wacana belajar bahasa inggris, sekali lagi tergantung mereka yang sedang menakhodai Makes.

Saya pun sudah melihat banyak friksi antar individu dalam tubuh Makes, dari yang mulai debat mulut sampai pada yang hampir kontak fisik. Perbedaan muncul lebih pada cara pandang yang berbeda dan tidak bisa diselesaikan dengan bijaksana.

Bulan Agustus lalu, saya seminggu tugas di Makassar membuat Saya punya tiga kali kesempatan mengunjungi lembaga Makes. organisasi yang sering dianggap punya daya tarik bagi Para Mahasiswa Makassar atau siapapun yang punya hasrat diskusi yang tinggi dengan menggunakan kanal bahasa Inggris.

saat bercerita dengan ketua Makes periode 2016, dia banyak bercerita tentang perkembangan Makes yang mutakhir. dia bercerita tentang banyak senior yang sudah enggan datang ke Makes karena merasa sudah tidak dikenal. menurut Narsul bahwa bagaimana mereka dikenal kalau tidak pernah datang silaturrahim.

Makes mungkin akan selalu berubah sesuai zamannya namun saya yakin lembaga ini akan tetap eksis sampai beberapa tahun ke depan selain anggapan mitos bahwa Makes ini terjaga karena kegiatannya di teras masjid.

Draft tulisan dua bulan yang lalu
21 11 17

October 30, 2017

Obrolan Kamis Malam

Satu hal yang selalu saya kangeni bertemu dengan teman-teman dari Makes, Kelompok kajian berbahasa Inggris di Masjid Al Markaz Makassar, adalah sharing ilmu dan diskusi panjang tentang apa saja. kelompok kajian yang dikulturkan sebagai organisasi Egaliter membuat para anggotanya, baik yang senior maupun yang junior seakan tidak memiliki sekat seperti yang tercipta di beberapa organisasi yang feodalistik.

Kamis siang kemarin, saya iseng membuka beranda whatsapp dan melihat chat dari salah seorang senior di Makes. beliau menanyakan kabarku dan tempat tinggal sekarang. sesaat setelah kujawab chatting wa nya, beliau menjelaskan bahwa dirinya sedang ada di Bogor dan hendak berangkat ke Jakarta. beliau ingin bertemu denganku jika ada kesempatan.

Jelas saja saya mengiyakan ajakannya. meski agak sore karena saya pulang kantor jam lima. beliau menginap di apartemen Cosmo Terrace dan kami janjian di sana selanjutnya bersama-sama ke bilangan Jatibening karena ada sejawatnya yang tinggal di daerah tersebut.

Saya meninggalkan kantor tepat jam lima sore ketika tanda pulang sudah berbunyi. mengarungi jalanan yang dipadati kendaraan menuju bilangan Thamrin City. lumayan butuh perjuangan berlipat untuk sampai di daerah tersebut karena sore hari bertepatan dengan momen kaum urban pulang kantor.

Saya dan salah seorang senior yang datang bertandang ke Jakarta, kemudian bergegas menuju Jatibening. tempat kediaman sejawat yang sudah lama menetap di Ibu Kota. butuh dua jam perjalanan untuk sampai di Jatibening dari kawasan Thamrin City karena saya tersesat. seharusnya lewat Kalimalang namun saya memutar lewat Jatimakmur.

Kami bertiga menghabiskan malam di sebuah kedai roti bakar. saya yang notabene junior hanya diam dan sesekali menimpali jika ditanya. saya banyak menyimpan pesan tentang kehidupan yang diperbincangkan oleh kedua sesepuh Makes yang sudah lama tidak bersua.

Kak A, senior yang sudah lama menetap di Jakarta lebih mendominasi permbicaraan dengan arah memberikan saya motivasi sambil bernostalgia tentang apa yang dulu dia peroleh di Makes kemudian diaplikasikan dalam dunia nyata.

Dia sudah punya perusahaan dengan omzet milliar. menangani proyek dari pemerintah maupun swasta.

Awal merintis usaha di Jakarta, dia berkarir sebagai karyawan swasta sebelum memutuskan untuk resign dan mencoba peruntungan di dunia usaha. satu prinsip yang dia pegang selama berusaha adalah dia mengharamkan dirinya menggunakan pinjaman bank. awal mula merintis memang terlihat sangat berat namun dia tidak putus asa sampai akhirnya, dia berhasil membeli mobil tiga unit secara cash dan rumah pun dengan cash keras.

Selain kekagumanku atas prinsipnya yang tidak kompromistis terhadap maslaah riba dan semua yang dimiliki dibeli dengan cash dan selebihnya, nasehat yang dia berikan mungkin menurutku klise namun memang pantas diucapkan oleh orang yang sudah meneguk materi.

Saya yang notabene masih berkutat di  perusahaan finance sudah was-was mendengarkan ceritanya karena khawatir dia akan ofensif mempertanyakan keputusanku tetap bertahan di perusahaan finance yang sangat rawan tercampur dengan unsur ribawi, namun sampai akhirnya saya pamit pulang, tidak satu pun kata yang seperti kucemaskan.

Saya pamit tepat jam sebelas malam.

Cerita yang seharusnya sudah kutulis sejak Jum'at pertengahan oktober sehari setelah perbincangan kami di kedai roti bakar Jl. kalimalang bersama dua senior Makes.

October 28, 2017

OTS #9

Perjalan dinas kali ini nampaknya tidak terlalu memuaskan karena sekedar menggugurkan tugas kantor. Ada banyak pikiran yang mengoyak kepalaku membuat fokus perjalanan tidak terlalu baik.

Kota kali ini pernah Saya kunjungi enam tahun yang lalu meski hanya dua hari sehingga yang tersisa diingatanku hanyalah cuaca yang sangat panas dan lumayan membuat badan serasa mendidih.

Satu hal yang membuatku merasa senang karena saya berkesempatan transit di kota asal meski nampaaknya hanya sebentar saja.

Saya berangkat dari Soetta jam setengah sepuluh dengan pesawat Sriwijaya. Entah kendala apa sehingga pesawat harus delay beberapa saat kemudian transit di kota asal hanya ganti pesawat. Saat transit, hujan turun dengan derasnya mengguyur. Meski hanya sesaat namun tetap saja saya merasa sangat senang menginjakkan kaki di kotaku.

Saya berganti pesawat yang lebih kecil. Terbang menuju kota tujuan yang berada di bagian tenggara pulau yang sama dengan kota asalku. Ternyata pesawat hanya menempuh waktu 45 menit dengan ketinggian pesawat 2000 kaki.

Tiba di kota tujuan, senja sudah menjelang dan nampaknya hujan belum jua mengunjungi kota itu. Tanaman kering dan jalanan berdebu. Saya menyewa taxi liar di bandara menuju kota dengan sewa seratus ribu. Jarak dari bandara ke kota lumayan jauh dengan jarak tempuh 45 menit.

Sebelum mencari hotel tempat menginap, saya menuju kantor dan sudah ditunggu kacab. Kami bersalaman membuka acara secara seremonial kemudian berbincang lepas. Menjelang maghrib, saya ditemani staff di kantor cabang mencari hotel, beberapa hotel full karena nampaknya ada acara partai hingga akhirnya kami tiba di hotel zahra dan masih banyak kamar yang lowong. Hotel dengan konsep syariah yang benar-benar menerapkan segala sesuatu dengan prinsip syariah.

Malamnya, saya tidak terlalu berminat menjelajahi kota karena sudah letih. Sekedar keluar mencari makanan kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Esok hari, saya kemudian memulai aktivitas kantor untuk empat hari ke depan. Kota itu ternyata masih bersahabat dengan panas bahkan ketika di kantor, sepanjang waktu saya berkeringat karena ac sedang bermasalah. Hal tersebut membuatku tidak terlalu fokus menyelesaikan tugas.

Empat hari berjalan seperti biasa dan malam hari saya hanya keluar makan. Tidak ada momen yang istimewa di ots kali ini.

Jumat sore, saya bergegas ke bandara. Pesawat yang akan membawaku pulang ke rumah akan transit di kota asalku selama 17 jam. Lumayan lama yang membuatku berkesempatan tidur di rumah keluarga di kotaku. Mungkin hanya itu yang membuatku bahagia atas perjalanan kali ini.

16-20 Oktober 17

October 3, 2017

Tiga Oktober

tidak ada yang terlalu spesial di angka tiga Oktober sebelum Saya bertemu dengan Ibu dari anak-anak Saya. momen yang akan menjadi abadi setelah keputusan untuk menikah di tanggal tersebut meski seringkali Saya berujar bahwa Saya tidak pernah terlalu memperdulikan setiap momen yang Saya telah lalui entah itu ulang tahun, hari pernikahan atau momen apapun yang seringkali orang lain rayakan dengan euforia yang berlebihan.

Saya tidak tahu persis kenapa di momen tanggal tiga Oktober dua tahun yang lalu, dipilih oleh Mertua Saya tetapi yang jelas bahwa pada saat bertemu dengan keluarga besar Isteri, Saya hanya mengatakan bahwa untuk setahun ke depan, Saya belum bisa melangsungkan pernikahan karena masih terikat kontrak di Perusahaan tempat Saya bekerja.

Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit. 

Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu. 

Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak. 

Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual. 

Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.

Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan. 

Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.

Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.

3 Oktober 2017 21.30 wib

September 7, 2017

Ulang Tahun

Mendapat kado tas kecil dari Isteri oada momen ulang tahun merupakan kesyukuran tersendiri. Toh menurut penerawanganku, belum sekalipun Saya mendapat kado ulang tahun dari siapapun.

Hari ini Saya ulang tahun yang kesekian kalinya. Tidak ada perayaan sebagaimana mestinya karena memang Saya tidak pernah menganggap ulang tahun patut untuk dirayakan. jikalau harus diingat, tidak lebih hanya sebagai bahan renungan atas semua jejak yang sudah digoreskan.

Di umur yang sudah masuk dalam kategori tua, Saya merenungi beberapa hal yang menurutku sudah sepantasnya kuperbaiki ataupun kebiasaan yang harus kutinggalkan. Seharusnya proyeksi hidupku sudah jelas di umur yang sudah separuh jalan sesuai kalkulasi umur normal manusia.

Saya hanya berharap semoga saja di umur yang sudah matang, Saya bisa mengklasifikasi apa saja yang harus kukerjakan untuk perbaikan kualitas diri bukan hanya untuk mengerjakan duniawi namun lebih pada hakekat hidup.

7 9 17

August 29, 2017

Meremehkan Doa

Mengalami hambatan dalam perjalanan jauh seperti mobil mogok atau tiba-tiba acara agustusan membuat perjalananmu terhambat, sebenarnya hal yang biasa dan seringkali terjadi. Tidak perlu menjadi sesuatu yang wah.

Berbeda dengan perjalananku kali ini ke kampung halaman. Sejatinya, setiap kali akan melakukan perjalanan, Saya terbiasa merapalkan doa-doa keselamatan. Pulang kampung kemarin, entah apa yang merasukiku sehingga doa yang sering kujadikan jimat seakan sulit terucap. Saya berpikir bahwa toh semua akan berjalan semestinya.

Perjalanan dari rumah ke bandara masih lancar bahkan Pesawat tepat waktu sampai di kota tujuan. Masalah mulai muncul ketika Saya menunggu mobil jemputan di bandara. Sebelumnya sang Sopir sudah berjanji akan menjemput Saya pukul 08.00 namun Saya harus menunggu sejam lamanya.

Perjalanan ke Kampung tepat pukul 09.00 dan perkiraan Kami tiba di Kampung sekitar pukul 2 siang. Mobil sepertinya dalam kondisi yang prima namun memasuki kota Pangkep, mobil mengalami kendala pada gardan yang mengharuskan masuk bengkel. Butuh sekitar 1 jam lamanya sebelum si Sopir menemukan bengkel Mobil.

Belum berhenti di situ, ternyata perbaikan mobil tersebut memakan waktu lebih sejam. Setelah itu, perjalanan kemudian dilanjutkan dan nampaknya sudah tidak ada lagi hambatan. Saya sudah memperkirakan bisa tiba di kampung pukul 5 atau mulai sekitar 3 jam dari perkiraan awal.

Ternyata hambatan belum berakhir. Memasuki kota Rappang, jalan antar kota ditutup dalam rangka pawai HUT RI 72. Kami berhenti sekitar 1 jam lebih sebelum diperbolehkan melintas oleh petugas.

Alhasil, Saya baru tiba di kampung pukul 19.00 Wita. Molor sekitar 5 jam dari estimasi awal.

Lama Saya berpikir tentang apa penyebab dari kejadian ini sebelum akhirnya Saya menyadari bahwa sebelum berangkat, Saya tidak secara sungguh-sungguh memohon doa agar dilancarkan perjalanan. Malahan yang timbul dalam hati Saya sedikit keyakinan bahwa semua akan berjalan normal tanpa harus berdoa.

Kejadian tersebut menampar Saya tentang dampak meremehkan doa. Kalimat sakti yang seharusnya dirapalkan untuk mengiringi setiap langkah kita. Bahkan sebagai penanda bahwa kita berjalan atas kerja Tuhan.

27 8 17

August 24, 2017

#OTS 8

Tidak ada yang terlalu istimewa pada perjalanan ots kali ini. Tidak lebih hanya seperti napak tilas mengitari sudut kota yang pernah kutinggali beberapa tahun yang silam.

Mungkin perbedaan yang lebih terasa hanya pada beberapa hal seperti makanan. Dulu saat masih di kota ini, Saya jarang memyicipi makanan khas kota ini yang terbilang mewah karena harus menghemat uang bulanan bahkan untuk makan sebisa mungkin mencari warung paling murah di daerah kos-kosan dekat kampus.

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, Saya leluasa mencicipi makanan khas kota ini bahkan di daerah sekitar wisata kuliner yang dianggap mahal yang pada masa kuliah seakan mustahil untuk makan di sekitar tempat itu.

Saya menikmati kuliner ikan kaloa, konro bakar bahkan pisang ijo satu porsi seharga 25 ribu yang menurutku porsinya sangat sedikit namun harganya kelewat mahal.

Saya pun menikmati nostalgia di Makes, tempat nongkrong dulu yang selalu kurindukan. Menikmati hidangan sarabba dengan aneka gorengan.

Selebihnya, kota ini tidak banyak berubah. Setiap sisinya masih sama seperti dulu meski pembangunan terus dikebut.

Mks 24 8 17

August 15, 2017

Tentang Materi dan Ibu Kota

Tidak sedang berusaha menafikan kebutuhan akan uang dan tidak mendiskreditkan orang di Kota ini namun apa yang kualami akhir pekan lalu sedikit membuka mataku akan relasi hubungan orang-orang dan kalkulasi materi di Ibu Kota serta semoga tidak mengeneralisir.

Akhir pekan kemarin, toilet di rumah kontrakan mampet. Setelah ditelusuri ternyata rumah kontrakan yang sedang kami tempati tidak mempunyai septic tank alhasil karena yang empunya kontrakan tinggal di daerah Kemayoran dan beberapa kali dihubungi tidak terkoneksi maka Kami memutuskan untuk membuat Septic Tank.

di sini Saya tidak hendak bercerita tentang tetek bengek masalah toilet yang mampet ataupun bagaimana ribetnya membuat septic tank namun ada beberapa bagian yang ingin Saya ceritakan. 

Septic tank yang dalamnya 1,5 meter harus digali dan menjadi masalah di mana harus dibuang tanah galian yang banyaknya sekitar 20-30 gerobak. ternyata di Kota yang sumpek ini, semua harus dikalkulasi dengan uang. kami harus membayar 100 ribu untuk menumpuk tanah galian di sebuah kebun kecil yang ditumbuhi pohon pisang. jika dirasionalisasikan maka seharusnya yang punya kebun sudah mendapatkan keuntungan dari tanah hasil galian karena mengandung pupuk dan berguna untuk tanaman pisangnya namun karena butuh, maka suka tidak suka harus dibayar.

tidak berhenti sampai di situ. sesaat setelah membeli pasir dan batako, kami kesulitan menurunkannya di depan rumah karena jalanan di depan rumah tidak bisa dilewati mobil. pasir dan batako tersebut harus diturunkan di depan rumah salah seorang tetangga yang berjarak sekitar 40 meter dari rumah kami. tidak ada yang aneh karena kami sudah minta izin namun kejanggalan memenuhi benakku ketika mengetahui bahwa untuk sekedar numpang menurunkan pasir dan batako tersebut, kami harus membayar 30 ribu kepada pemilik rumah padahal hanya sekedar diturunkan kemudian diangkut dengan gerobak.

Mungkin tidak jadi soal jika tukang yang mengerjakan septic tank tidak kenal dengan sang pemilik rumah namun pada kenyataannya, mereka sangat akrab.

Setiap kali menumpang untuk sekedar menurunkan pasir dan Batako, kami harus membayar 30 ribu karena esok hari ketika membeli kekurangan pasir, kami harus membayar lagi.

Sebenarnya ini bukan tentang nilai uang atau kalkulasi untung rugi namun lebih pada sebuah interaksi sosial di dalam Masyarakat yang benar-benar harus diukur dengan uang.

Saya tidak sedang menghakimi relasi sosial seperti itu karena mungkin sudah menjadi tradisi di Kota ini namun perlu Saya tegaskan bahwa hal seperti di atas sering kutemui di kota ini dalam bentuk yang lain, semua diukur dengan uang. Amat sangat sulit menemukan relasi sosial yang berdasar atas rasa saling tolong menolong.

15 8 17

August 14, 2017

Menakar Diri

Hal yang paling menakutkan dalam perjalanan hidup adalah momen di mana diri terjerembab dalam masa futur. klise untuk mengatakan hal tersebut manusiawi namun beranjak dari kefuturan sangat berat apatahlagi berhubungan dengan hal duniawi.

apalagi yang lebih mengerikan dari diri yang sedang berjalan jauh di luar koridor. menabrak semua tabu yang merusak hati dan mengamini tingkah yang menghitamkan jejak. itu sedang terjadi dan membuat diriku tidak sanggup melakukan perbaikan. kata-kata sudah meluncur dari lidah dan mustahil dipungut kembali.

Saya selalu berandai-andai tentang semua momen yang silih berganti datang menghampiri. berandai akan keindahan dan semua urusan yang dipermudah namun pada kenyataannya, hal tersebut jauh dari harapan. selalu ada kerikil yang menjegal. Saya mengukur diri mengenai unsur-unsur makanan yang masuk ke dalam diri, mungkin dominan unsur haram yang menjelma menjadi butir-butir makanan dan melebur dalam aliran darah.

dua minggu terakhir, Saya diperhadapkan dengan masalah yang menurutku sangat duniawi namun Saya gagal melewatinya. reaksi terhadap masalah terlalu berlebihan. Saya terlalu menggunakan rasionalisasi pikiran yang seringkali tidak seperti yang dipikirkan. 


kalkulasi material tentang hidup terlalu mendominasi pikiran yang membuat perasaan merasa was-was atau bahkan insecure di masa datang padahal kenyataannya semua akan berjalan baik-baik saja. Saya sudah berada pada beberapa momen yang menguatkanku bahwa tidak semua mesti dikalkulasi dengan pikiran karena sejatinya, tangan Tuhan bekerja melebihi apa yang kita pikirkan.

Langkah berikutnya, Saya harus menguatkan diri untuk kembali ke jalur yang seharusnya. menjalani hidup dengan mengurangi cara berpikir yang licik dan mengikuti cara kerja Tuhan. tidak mudah memang untuk kembali menstabilkan hati namun hal tersebut adalah sebuah keharusan, tidak ada tawar menawar.

14 8 17

July 20, 2017

# OTS 7

Sudah beberapa kali memandangi kota ini saat kereta yang kutumpangi singgah di stasiunnya namun tak sekalipun Saya menghangati udaranya. Kota ini hanya persinggahan saat Saya lalu lalang dari Ibu kota ke bagian timur pulau ini.

Kantorlah yang akhirnya menakdirkanku benar-benar menginjakkan kaki di kota ini. Melipur penasaran yang sedari dulu membayang di kepalaku bahwa seperti apa sebenarnya wajah kota ini.

Perjalanan via kereta ke kota yang sedang kujejak hanya sekitar 3 jam. Wilayahnya tidak terlalu jauh dijangkau.
Senin siang kemarin, saya tiba di stasiun, menikmati nasi gentong yang menurutku hampir sama dengan coto. Melepas dahaga dan rasa penat kemudian melanjutkan perjalanan ke bilangan jln. Kartini. Saya memilih memesan hotel tepat di persimpangan jalan, Hotel Tryas namanya.

Tiga malam sudah lamanya Saya di kota yang menurutku hawanya panas. Tidak terlalu jauh kakiku menjejak oleh karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada fenomena di sini yang menurutku sangat kontras dengan julukan kota santri. Di setiap awal malam saat berjalan kaki menyusuri trotoar, dengan begitu mudahnya kita menjumpai tukang becak yang menawarkan kenikmatan malam. Mereka seakan merangkap kerja sebagai broker para wanita pemberi nikmat.

Untuk ukuran biaya hidup, kota ini masih bersahabat untuk masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata.

Jangan ditanya masalah harga batik. Menurutku, harga batik di toko Trusmi amat sangat tidak masuk akal bahkan untuk ukuranku terlalu mahal dengan kualitas bahan yang tidak terlalu mewah. Akhirnya saya tidak membeli baju batik khas kota ini.

Malam ini menjadi momen terakhir menikmati kehangatan kota karena besok dinihari, saya harus bergegas kembali ke Ibu kota. Namun setidaknya, rasa penasaran atas setiap sudut kota ini sedikit terobati meski hanya sebagian sudutnya yang kesinggahi.

Cirebon, 20 7 17


July 18, 2017

Tentang Ulang Tahun

"Lagi sibuk mas? Ini tg brp? Ingat gak ya? Hehe"
Masih tentang ulang tahun yang sedari dulu tidak pernah menjadi sebuah momen yang menurutku wajib diingat apatahlagi harus dirayakan.

Hari ini, isteri saya telah menggenapi keberadaannya di kehidupan ini selama 27 tahun dan sama sekali saya tidak menyadarinya. Kalimat pertama di tulisan ini adalah pesan via whatsapp yang dikirim oleh mertua saya untuk momen hari ini.

Sebulan yang lalu, sehari sebelum idul fitri 1438 H. Anak saya menjalani hidupnya di tahun pertama. Memang ada kue tart atau bahkan lebih cocok disebut kue bolu buatan saudara saya. Kue tersebut dipotong lalu kami saling menyuapi namun sama sekali hal tersebut bukan usaha untuk membiasakannya dan menjadikan potong kue sebagai tradisi pengingat ulang tahun.

Saya selalu menghindari hal-hal yang nampaknya tidak prinsipil. Memang sih bisa jadi momen ulang tahun dijadikan tolak ukur mentafakkuri setiap langkah yang sudah terlewati namun kenyataannya, hal yang kemudian terjadi selama ini adalah merayakannya dengan sesuatu yang sungguh tidak bermakna.

Kalau hari ini saya melupakan momen ulang tahun isteri saya atau lebih tepatnya tidak berusaha mengingatnya, itu karena saya menganggap tidak terlalu urgent. Doa-doa semacam yang terucap saat momen ulang tahun bisa saja dipanjatkan kapan saja. Toh pada dasarnya, kita tidak boleh melepaskan sekian waktu sekalipun untuk merapal doa terbaik untuk setiap orang terkasih.

Karena saya sudah diingatkan akan hari ini, saya tetap harus secara formal mengamini doa khas ulang tahun.

Ini ulang tahun yang kedua selama kami berstatus sebagai pasangan resmi. Tahun-tahun awal pernikahan yang menurut saya lumayan berat dilalui karena menjaga komitmen pernikahan ternyata tidak seindah saat masih pacaran. Semua sisi dalam diri terkuak dan terkadang menyebabkan benturan-benturan antara dua kepala yang sama sekali tidak sama.

Pada akhirnya, menurutku pernikahan bukan tentang apa-apa tetapi lebih pada sikap yang kuat menjaga komitmen dan janji.

Oh iya kan ini tulisan ulang tahun, kenapa menjurus ke pernikahan?

Ya sudah, selamat ulang tahun buat isteriku. Jangan terlalu longgar dalam beragama. Saya merindukan kesungguhanmu menjalankan banyak amalan sunnah saat dulu ketika belum bekerja. Semoga pekerjaan tidak melalaikan dirimu.
Amin

Cirebon, 18 7 17

July 14, 2017

Mulai Kembali

ada banyak hal yang harus saya evaluasi dari semua ucapan maupun tingkah laku. hal ini terkait dengan posisi sebagai auditor di Kantor. bukan untuk menjaga image namun lebih pada usaha untuk bekerja profesional. Saya seharusnya sudah bisa memisahkan antara interaksi dalam lingkup pertemanan dengan kerja-kerja kantor, meski sebenarnya untuk setiap bagian di Kantor pun seharusnya seperti itu.
belajar profesional tidak harus melulu menjadi orang yang sok serius maupun jaim terhadap teman sendiri ataupun orang lain. belajar bekerja profesional lebih pada aspek sadar ruang dan posisi. tidak semua hal harus diungkapkan. porsi dalam setiap hal sudah ditakar masing-masing sesuai ukurannnya.
hal lain yang seharusnya menjadi evaluasi untuk diriku lebih pada pemetaan terhadap setiap masalah yang harus dibicarakan dengan orang lain. setiap porsi kerja yang memang harus dirahasiakan jangan sampai menjadi candaan.

Saya beberapa kali gagal menuntaskan banyak hal karena ketidaktekunan maupun tidak serius dalam mengerjakan hal-hal kecil. pembentukan karakter mungkin menjadi salah satu penyebab dari kegagalan yang Saya alami.

penekanan seperti ini bukan untuk mengubah kepribadian bukan pula untuk gaya-gayaan tetapi lebih pada apa yang sudah menjadi komitmen dan mencoba untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus meng upgrade kemampuan.

entahlah, berikutnya hanya dibutuhkan komitmen dan kerja keras untuk mewujudkan setiap yang sudah direncanakan di pikiran bukan hanya membeku kemudian menguap entah kemana yang selanjutnya hanya menjadi cita-cita basi.

saya terlalu sering seperti itu. merangkai hal-hal idealis dalam pikiran namun kemudian menguap seperti air yang dimasak tanpa bersisa sedikit pun. namun setidaknya kali ini saya akan memulai lagi hal-hal baik yang menurutku sudah terlalu lama terlupakan.

draft tulisan yang terlalu lama mengendap dipublish kembali
14 7 17

Mudik

Merantau adalah satu satunya cara untuk merasakan euforia mudik. setiap kali momen tersebut tiba, aroma wewangian tanah leluhur sudah menyerbak bahkan seminggu sebelum pulang. pikiran berangkat sebelum raga menyusul. tidak ada lagi rasa yang tertinggal di kota ini.

mudik kali ini mungkin terasa lebih spesial karena saya sudah mempunyai putra. ada semacam rasa senang membawa putra saya menyusuri kampung halaman apatahlagi kali ini adalah mudik pertama baginya. Ramadhan 1437 H tahun lalu adalah momen kehadirannya di dunia dan itu terjadi di kampung halaman ibunya.

hari rabu dinihari 22 Juni 2017 sekira pukul 02:00 WIB. kami sudah siap ke Bandara. sedikit merasa bersalah juga sudah membangunkan anakku di jam yang seharusnya dia menikmati tidurnya dengan pulas namun mengingat pesawat yang akan membawa kami ke Sulawesi akan take off pukul 05:00 WIB maka kami harus siap sedari awal.

kami tidak mengalami hambatan yang berarti di perjalanan bahkan putraku tidak rewel di dalam pesawat sampai pada akhirnya kami tiba di bandara Hasanuddin pukul 08:30 WITA. kami harus bersabar karena jarak dari bandara ke kampung masih memakan waktu sekitar 6-8 jam. untungnya kali ini, kami tidak perlu bersusah payah ke terminal menunggu mobil sewaan karena kakakku berbaik hati menjemput kami di bandara.

perjalanan ke kampung benar-benar menguras tenaga ditambah lagi dengan cuaca yang lumayan panas. kami baru tiba di kampung pukul 19:00 WIB karena mampir di 2 titik dalam perjalanan. pertama mampir di daerah Bojo istirahat sekaligus shalat kemudian mampir di Pare-Pare membeli oleh-oleh.

menginjakkan kaki di rumah setelah sekian lama meninggalkannya selalu mengharu biru apatahlagi disambut oleh wajah sendu seorang wanita yang mulai menua yang selalu merapalkan doa-doa terbaiknya untukku selama di perantauan. saya selalu yakin bahwa kiriman doanya untukku selama di tanah rantau yang membuat jiwa dan ragaku masih terjaga dari cobaan yang dahsyat, tanpa doa tulusnya yang dipanjatkan ke Pemilik Semesta setiap selesai sujud, mungkin saya sudah sering salah langkah.

Saya selalu menikmati wajahnya yang mematung di pintu setiap kali beliau tahu saya mudik. tidak banyak kata yang terucap dari mulutnya pertama kali melihatku, hanya senyum tipis yang menghiasi wajahnya namun itu lebih dari semua apa yang kuinginkan. senyumnya sudah cukup meruntuhkan segala penat yang kubawa dari tanah rantau. saya menyayangi wanita yang rambutnya sudah didominasi warna putih. saya menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

hari-hari di kampung berjalanan seperti biasanya. 10 hari di kampung hanya terasa seperti 3 hari. Saya tidak terlalu banyak mengeksplorasi setiap sudut kampung halaman karena putra saya terlalu rewel bahkan dia tidak mau digendong oleh orang lain.

Dua hari menjelang arus balik, saya selalu merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan. kembali harus meninggalkan bau rumah, aroma masakan ibu dan setiap kemesraan bersama handai tauladan. saya harus kembali ke ibu kota yang benar-benar memekakkan telingaku. arus kehidupan ibu kota sepertinya sudah menggerus begitu banyak sisi manusiaku sampai rasanya saya berjalan seperti robot yang mengikuti alunan kehidupan yang terlalu cepat dan keras.

momen arus balik tiba dan saya kembali mencium setiap sudut wajah Ibu. aroma badannya kubiarkan menempel abadi di tubuhku dan kujadikan sebagai penyicil rindu saat saya di tanah rantau karena kusadari betul bahwa rindu untuknya kembali hadir bahkan sebelum mobil meninggalkan batas kampung.

arus balik lebih menguras tenaga daripada saat mudik. saya dan keluarga menderita flu bahkan putra saya beberapa kali menangis di dalam Pesawat saat perjalanan pulang. meski begitu, tidak mengurangi kesyukuran saya untuk mudik kali ini.

semoga Ibu dan Bapak serta handai tauladan sehat selalu di kampung halaman. saya akan mengunjungi mereka minimal sekali setahun.

Catatan Mudik
minggu ke-2 Syawal

June 11, 2017

Ramadhan

Belum ada sama sekali jejak tentang ramadhan yang kutinggalkan di lapak ini sedangkan ramadhan sudah memasuki pertengahan. Entah malas atau memang tidak ada yang harus diceritakan.

Masjid dekat rumahku hanya sekali seminggu mengadakan ceramah tarawih. Setiap kali selesai shalat isya, langsung dilanjutkan shalat tarawih. Itulah mengapa tidak ada bahan ceramah yang harus kuulangi. Seingat saya, baru 2 kali ceramah sampai pertengahan ramadhan.

Ketua masjid di dekat rumahku terlalu keras terhadap anak-anak yang datang ke masjid. Seringkali dia mengusir anak-anak yang ribut di lantai dua untuk pulang saja jika tidak mau tenang. 

Saya selalu tidak sepakat dengan para orang tua yang memarahi anak-anak yang ribut di masjid. Bukan juga membenarkan namun setidaknya, modal utama mereka karena sudah rajin ke masjid, tinggal cara memahamkan para orang tua kepada anak-anaknya untuk tidak ribut di masjid tanpa harus memarahi mereka di tengah jamaah apatalagi menggunakan pengeras suara.

Kita semua pernah melewati masa kanak-kanak dan seharusnya sudah bisa merasakan euforia ramadhan sebagai seorang bocah sehingga menurutku betapa naifnya para orang tua yang merasa paling benar memarahi bahkan mengusir para bocah yang ribut di masjid.
#catatan Ramadhan

10 6 17

OTS #6

Tidak ada yang terasa spesial menjejak kaki di kota ini. Toh 5 tahun yang lalu, Saya pernah mendiami kota ini selama sebulan. Itulah kenapa, beberapa sudut kota ini kuakrabi.

Jika ada hal yang terasa sentimental di kota ini, mungkin berada di daerah stasiun pemberhentian kereta ekonomi. Bagaimana tidak, daerah itu pertama kali kujejak ketika memutuskan mendatangi kota ini. Lagipula, saat itu, tidak ada tujuan yang jelas harus kemana. Benar-benar membiarkan takdir membawaku kemana saja.

Empat hari berkunjung ke kota ini dan tidak ada yang terlalu berbeda dari lima tahun lalu. Kotanya masih meneduhkan meski sedikit lebih crowded namun bangunannya tidak ada yang menjulang tinggi seperti di ibu kota. Rimbunan pepohonan masih menumbuhi pinggir jalanan.

Sayangnya, beberapa pengembang mulai merambah di daerah pinggiran kota ini dan berpotensi membuat semrawut tatanan kota.

Saya menyempatkan diri mengitari daerah pinggiran kota dan terlihat olehku deretan perumahan cluster yang menduduki bekas persawahan. Satu hal yang sangat dikhawatirkan adalah hilangnya persawahan dan diganti perumahan.

Namun setidaknya, empat hari di kota ini sedikitnya membangkitkan awal perjalananku merantau di pulau ini. Serasa mimpi melewati semua dan memasuki tahun kelima berpetualang.

Semoga tetap asri kota gudeg.
10 6 17

May 31, 2017

#OTS 5

untuk kesekian kalinya, Saya menginjakkan kaki di daerah yang baru demi tugas kantor. kali ini Saya berangkat ke bagian Sumatera yang paling dekat dengan Banten dengan Bis. ada sensasi tersendiri melakukan perjalanan darat dengan pulau yang berbeda. perjalan ditempuh sekitar 6 jam.

sekitar jam 8 malam, Saya sudah siap sedia di Gambir dengan modal 1 tas ransel. Saya dan salah seorang teman memilih tempat duduk 2 kursi dari belakang sopir. Bis yang kutumpangi ternyata berbeda jauh dari bis-bis yang sering kutumpangi dari Surabaya-Ngawi.

Bis ini dikelola oleh Damri dengan fasilitas yang lumayan mumpuni. terdapat toilet dan ruang khusus bagi perokok. terdapat pula sandaran kaki yang memudahkan kita membaringkan badan untuk membunuh waktu panjang selama perjalanan.

tepat pukul 21:00 WIB, bis mulai bergerak ke arah tol dalam kota. padatnya kendaraan memaksa bis hanya bergerak perlahan. jam segitu memang adalah puncak macetnya kendaraan apatahlagi bertepatan dengan weekend. Saya mulai memejamkan mata ketika bis sudah memasuki tol. entah berapa kali bis memepet kendaraan di depannya sehingga membuatku tidak begitu pulas.

Saya tidak tahu pasti pukul berapa bis kemudian mulai merapat ke Pelabuhan kemudian masuk ke kapal Ferry. Saya tiba-tiba saja terperanjat ketika Sopir meminta para penumpang turun dari bis dan naik ke ruang tunggu kapal.

sekitar 2 jam perjalanan di laut, akhirnya Kapal sandar di Pelabuhan Bakauheni. Para penumpang bis kemudian kembali naik ke bis dan melanjutkan perjalanan ke kota. jalanan dari Pelabuhan ke kota sangat sempit dan masih terdapat lubang yang membuat bis seringkali harus extra keras menghindari jalanan yang rusak. pekatnya malam membuatku tidak bisa menikmati pemandangan di daerah yang terkenal dengan transmigran dari Jawa.

sekitar pukul 03:00 subuh dinihari, kami tiba di tengah kota dan turun di patung Gajah. kesan pertama Saya terhadap kota ini adalah kebersihan. teramat sulit menemukan sampah di pinggir jalan, bahkan Pasar yang biasanya terdapat banyak sampah pun sangat bersih.

Saya dan teman memilih menginap di Hotel Astoria. hotal yang hanya berjarak beberapa meter dari patung Gajah dan tidak sampai 1 km dari tempat aktivitasku selama di kota tersebut. 

semua kota memiliki suasana dan ciri khas tersendiri. kota ini terlihat sangat asri apatahlagi di pagi hari karena Masyarakatnya yang sadar akan kebersihan. di malam hari, salah satu spot tempat anak muda menghabiskan malam adalah di bundaran depan mesjid Agung.

selama 5 hari di kota ini, rasanya belum bisa mencicipi suasana dari setiap sudut kota karena kesibukan kerja yang tidak bisa ditunda. untuk ukuran makanan, seperti biasa di pulau Sumatera, didominasi dengan masakan khas Padang dan juga pempek, namun menurutku, harga makanan terutama Pempek Naujubillah mahalnya. untuk ukuran porsi kecil dengan 2 piring seharga 188 ribu plus minuman dingin yang seharusnya tidak terlalu mahal.

Jumat pagi pukul 10:00, kami berbalik arah ke Jakarta. perjalanan pulang sedikit lebih memiliki sensasi karena bisa memandang alam di pagi hari bahkan di atas kapal, Saya bisa memuaskan hasrat memandang indahnya biru laut yang lama sudah tidak kunikmati.

kami tiba di Stasiun Gambir pukul 19:00.

31 5 17

April 18, 2017

Membincang Kembali Dampak Teknologi

Kemajuan teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. ruang dan waktu sudah menjadi wacana yang usang. sepertinya ruang dan waktu hanya ilusi dalam tataran komunikasi di era seperti sekarang. semua serba modern dan ternafikan dengan kemajuan teknologi. kendala apa lagi yang harus dikeluhkan atas setiap hal yang serba ada dan serba bisa seperti sekarang.

memutar kembali diskursus yang lampau ternyata semakin menguatkan pada kenyataan sekarang, bahwa teknologi bisa mendekatkan orang dengan jarak bermil-mil baik via suara, video atau segala fitur-fitur yang disiapkan oleh kecanggihan teknologi namun di sisi yang lain, teknologi pun seakan melebarkan jarak antar mereka yang hanya berada beberapa jengkal namun komunikasi lewat handphone, benar-benar ironi. interaksi antar sesama hanya sebatas chat maupun telepon. itulah mengapa kita sering melihat gerembolan zombie di setiap tempat, mereka menunduk sembari memandang layar handpone tanpa mengerti dan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Betapa absurnya mereka yang duduk di taman, berjalan bersama handai tauladan, menghabiskan makan malam dengan keluarga di rumah namun tangan tidak lepas dari tombol hp dan mata tidak sekalipun luput memandangi layar hp yang entah apa daya tarik dari benda kecil tersebut yang dengan jelas telah merenggut kemanusiaan kita.

setiap kali berkunjung ke Swalayan atau gerai HP maka kenyataan yang kita temui adalah orang bejibun mengantri di setiap stand handphone. setiap hari, penjualan hp tidak pernah sepi dan sebenarnya, fungsinya sudah menggantikan fungsi manusia itu sendiri. mereka atau sesungguhnya kita semua mencurahkan waktu dan tenaga bekerja berjam-jam kemudian melempar hasil keringat di setiap gerai hp. betapa mengerikan.

mereka bekerja untuk membeli barang yang menjadi simbol bahwa mereka bisa survive di tengah manusia-manusia "modern."

pada suatu titik, manusia akan merasa hampa dengan setiap apa tersedia secara instan. seharusnya kemudahan dalam mengakses segala hal tentunya berbanding lurus dengan kualitas diri namun pada kenyataan tidak. kita muda mengakses informasi, mengetahui banyak hal namun tidak mendalam. seringkali hanya mengambil sedikit manfaat untuk dijadikan bahan debat supaya terlihat cerdas. 

kenyataan lain mungkin tentang janji. bagaimana generasi pra milenium mampu menepati janji dengan baik tanpa komunikasi via telepon dibandingkan generasi sekarang yang selalu keteteran mengatur waktu. jalinan silaturrahim generasi sebelumnya selalu terjalin dengan erat namun manusia sekarang tidak mampu menjaga silaturrahim dengan baik karena tergadaikan dengan barang-barang teknologi. mereka seakan tidak bisa jauh dari benda kecil.
ada guyonan yang entah dimana saya baca. "seberapa lama kita bisa hidup tanpa paket internet?"

18 4 17

Klub lokal yang bernama PSM

Tidak seperti di Jawa Timur yang mayoritas  kota/kabupaten punya klub profesional, Sulawesi Selatan praktis hanya memiliki PSM sebagai salah satu klub yang berlaga di pentas liga tertinggi di tanah air. meski dulu sempat mencuat Persim Maros namun lambat laut hilang dari peredaran. Persipare Pare-Pare belum mampu menancapkan eksistensinya di dunia persepakbolaan Indonesia.

tidak mengherankan jika seluruh penduduk yang berasal dari Sulawesi selatan bahkan juga Sulawesi Barat yang dulunya adalah bagian dari Sulawesi Selatan, mengidolakan PSM Makassar. meski sudah berdiri sendiri sebagai sebuah Provinsi, Warga Sulawesi Barat masih punya ikatan emosional dengan klub PSM apatahlagi, beberapa pemain andalan PSM berasal dari Sulbar. 

PSM Makassar hampir sama dengan Persib Banding yang diidolakan masyarakat se Provinsi. hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena klub sepakbola di dua provinsi tersebut hanya satu yang masuk dalam jajaran klub elit. coba bandingkan di Jawa Timur. hampir setiap kota kabupaten memiliki klub yang berkompetisi di liga 1 maupun liga 2. bahkan rivalitas atas suporter Persebaya dan Arema yang notabene masih dalam satu provinsi sangat kental. sejarah perseteruan antar kedua Suporter tersebut sudah memakan banyak korban jiwa. selain kedua klub tersebut, ada Persela Lamongan, Madura United, Persik, Persegres dan beberapa klub lain.

sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, Saya pun tidak ketinggalan mengidolakan PSM. Saya masih ingat di erah awal tahun 2000 sebelum banyaknya TV yang beredar di Kampung, kami sering mengikuti setiap pertandingan PSM lewat radio. ada sensasi tersendiri mengikuti pertandingan lewat radio yang tidak didapatkan saat menonton bola. misalnya saja, ketika bola masih jauh di tengah lapangan, reporter begitu menggebu-gebu dengan nada tinggi layaknya bola sudah hampir gol.

sampai sekarang, meski sudah merantau di beberapa daerah dan menetap di pulau lain, sama sekali tidak mengurangi rasaku untuk mengidolai PSM. meski di beberapa musim, PSM seperti tidak punya taji namun PSM tidak pernah benar-benar tenggelam.

untuk musim liga 1 2017. PSM kembali menggeliat dengan kepengurusan di dalam tubuh internal yang lebih profesional. transfer pemain yang didatangkan pun tidak mengecewakan. salah satu terobosan yang paling membahagiakan adalah kembalinya beberapa pemain asli Sul-Sel yang sudah menjadi bintang sepakbola. Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur adalah representasi dari pemain Makassar yang sukses di blantika sepakbola Nasional. 

kedua pemain tersebut memang bukan jaminan PSM secara otomatis juara namun setidaknya, mentalitas juara yang sudah ada di dalam diri mereka bisa ditularkan ke pemain muda. ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika melihat klub idola diisi oleh pemain binaan sendiri.

di pertandingan awal, PSM mampu menundukkan Persela meski secara pribadi, Saya masih belum puas melihat permainan yang ditunjukkan oleh pemain PSM. mereka kurang greget dalam bermain apatahlagi ketika salah satu Pemain Persela terkena kartu merah. 

kredit poin harus diberikan ke Hamka Hamzah melihat totalitasnya dalam menjaga pertahanan PSM. terlihat semangat yang membara di setiap ekspresi wajahnya untuk mempersembahkan yang terbaik untuk klub kelahirannya, bahkan di salah satu momen ketika gawang PSM hampir dibobol syamsul Arif, Ekspresi emosional Hamka diperlihatkan kepada teman-temannya yang terlambat menutup pergerakan Syamsul Arif.

apresiasi yang tinggi pun pantas dialamatkan kepada pemain muda yang berperan penting di sektor gelandang, Asnawi Mangkualam. pemain yang baru berumur 17 tahun tersebut menunjukkan karakter PSM yang keras dan tidak pantang menyerah. jika dia tetap berada di jalur yang benar dan tidak cepat merasa puas maka saya yakin, dia akan menjadi pemain gelandang terbaik di Negeri ini.

oh iya semoga tahun ini PSM Makassar bisa menjuarai Liga 1.
Ewako PSM

18 4 17

April 17, 2017

Mengikuti Tahlilan tanpa ikut Makan

Beberapa waktu yang lalu, tetangga sebelah rumah meninggal. seorang Ibu paruh baya dengan tiga orang anak namun sampai ajal menjemput, dia hanya berdua dengan anak sulungnya. dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. 

Si Ibu sudah lama menderita penyakit darah tinggi dan gula. setiap harinya hanya dihabiskan di rumah dan bercengkerama dengan para tetangga.

pagi hari menjelang kematiannya, dia tidak menampakkan sesuatu yang menjadi firasat. dia masih bercengkerama dengan mertua saya dan duduk di gang depan rumah. dia hanya bercerita bahwa anaknya yang sudah menikah selalu menolak jika diajak menginap di rumahnya sedangkan si Ibu ingin bercengkerama dengan cucunya yang belum genap berumur setahun.

mendekati ajalnya, si Ibu diajak bepergian oleh anaknya namun di tengah perjalanan, si Ibu kejang dan langsung dilarikan ke rumah sakit. selang beberapa jam kemudian, ajal sudah menjemputnya.

sudah menjadi tradisi di kalangan mayoritas orang Jawa bahwa ketika meninggal dunia, maka akan diadakan tahlilal selama tujuh hari berturut-turut kemudian 40 hari, 100 hari dan seterusnya. saya yang tumbuh dan besar di kalangan Muhammadiyah sudah tidak melakukan tradisi seperti itu bahkan terkadang hanya tahlilan 3 hari setelah kematian itupun sangat tidak dianjurkan untuk memotong hewan ternak untuk dihidangkan pagi para tetangga yang ikut tahlilan, paling mewah hanya kue.

pada dasarnya, saya suka ikut tahlilan. melantunkan shalawat nabi dan kalimatullah secara berjamaah bahkan seringkali saya larut dalam rasa yang haru ketika lantunan kalimatullah menggema dan merasuki sanubari namun di sisi lain, saya sebisa mungkin menolak dengan cara halus untuk tidak makann daging yang dihidangkan.

pada saat tahlilan tetangga, saya selalu memilih tempat di dekat pintu sehingga memungkinkan saya  untuk pamit lebih dulu setelah doa sebelum makanan dihindangkan. itu cara yang menurutku paling aman saya lakukan. saya bisa ikut tahlilan namun tidak ikut makan daging yang dihidangkan.

semoga sikap yang saya tempuh tidak salah.

April 17

March 29, 2017

#OTS 4

Perjalan berikutnya menjejakkan kaki di tanah Gorontalo. pertama kali bertandang ke kota ini yang merupakan provinsi pecahan dari Sulawesi Utara.

senja sudah menjuntai sesaat sebelum Pesawat yang membawaku ke kota ini landing di bandara. hujan pun menyambut yang membuat suasana semakin sendu. saya menumpang mobil travel dari Bandara ke kota. jalanan yang masih banyak rusak dan jarak yang jauh memaksa mobil yang kutumpangi menghabiskan waktu sekitar sejam dari bandara ke jl. Jend. Sudirman Gorontalo.

saya memilih menginap di hotel Eljie selain karena tarif yang lumayan murah juga strategis dari tempatku berkegiatan selama di Gorontalo.

Kota ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kota-kota di pulau Sulawesi. jalanan protokol yang tidak terlalu lebar dan struktur bangunan yang hampir sama bahkan cuacanya. di malam hari sekitar pukul 20:00, sepanjang jalan jend Sudirman sudah sepi dan jalanan yang gelap karena hanya terdapat beberapa lampu penerang.

selama 5 hari di kota ini, tidak ada yang terlalu istimewa dari beberapa hal yang kujumpai. dari segi makanan, layaknya mayoritas orang Sulawesi, di kota ini pun hidangan lauk ikan dengan berbagai jenis. pantai yang menjulur di belakang kantor Gubernur dan bukt-bukit yang mengelilingi kota ini.

ada sedikit kesamaan dengan kota Lasusua di Sulawesi Tenggara. kantor Pemerintahan berada di atas gunung hanya saja di Gorontalo, kantor pemerintaahannya berada di belakang laut dan mengarah ke tengah kota sedangkan di Lasusua, Kantor Pemerintahannya tepat berada di atas bukit yang mengarah ke laut.

saya juga berkesempatan bertemu dengan teman semasa kuliah. dia asli warga di kota ini dan kembali mengabdi di kota ini. kami menikmati salah satu hidangan makanan khas Gorontalo yaitu Binte. makanan ini terbuat dari parutan jagung dicampur dengan daging dan sayuran dan diberi kuah. hampir sama dengan makanan "Baro'bo" di kampungku namun rasanya yang sedikit agak berbeda.

Satu pemandangan yang sedikit membuatku risih saat mampir shalat Jum'at di perjalanan pulang menuju bandara. ada beberapa orang yang berpakaian adat menyambut Bupati setempat di depan pintu Masjid kemudian mengiringinya menuju saf paling depan. saya tidak tahu apa spirit dari budaya seperti itu namun sebagai pendatang, saya sedikit risih melihat hal tersebut karena seolah terlalu feodalistik dan mengagungkan pejabat yang menurutku ketika berada di dalam masjis, posisi semua orang sama saja.

29 03 17

Pulang Kampung

Pulang kampung ibarat melampiaskan rindu yang menggumpal. Mengisi energi positif yang terkuras habis atas bias kehidupan kota bahkan memastikan semua keluarga terkasih dalam baik-baik saja di kampung halaman yang sudah tertinggal jauh. menahan sesak memandangi memori masa lalu dan menghirup udara yang telah membesarkan raga.
saya berkesempatan pulang kampung di minggu-minggu yang sibuk atas rutinitas di kantor. perjalanan dinas ke salah satu daerah di Sulawesi menjadi peluang bagiku untuk pulang kampung mengingat setiap pesawat yang terbang dari Ibukota ke tempat dinasku harus transit di Makassar.

2 hari di kampung sudah lumayan mengisi energi rindu.saya tiba di kampung sabtu pagi dinihari. tidak ada yang terlalu berubah begitu mencolok dari kampung yang kutinggalkan 5 tahun lalu. jalanan yang masih sama dan bangunan yang tidak terlalu banyak bertambah.

satu hal yang membuatku meringis ketika melihat gunung di sekeliling kampungku sebagian besar terlihat gundul. beberapa tahun terakhir, mayoritas penduduk di kampungku semakin bersemangat membuka lahan baru untuk ditanami bawang bahkan bukit yang dulunya ditumbuhi pepohonan pun dibabat dan disulap sebagai lahan perkebunan bawang.

tidak, sama sekali tidak ada rasa iri melihat gairah penduduk kampung yang semakin giat bekerja di kebun bahkan sebaliknya, saya bergembira atas fenomena tersebut mengingat mata pencaharian di kampungku adalah bertani. namun menurutku beberapa dari mereka kebablasan dan terlalu bersemangat membuka lahan baru untuk perkebunan bawang merah. bayangkan saja sampai di puncak gunung pun, sudah tidak terlihat hijaunya pepohonan dan berganti dengan tanaman bawang merah.

dampak dari pembukaan lahan besar-besaran terlihat ketika kita melewati jalanan yang menjulur sepanjang kaki gunung. aspal penuh dengan lumpur yang berasal dari tetesan sisa hasil siraman dari perkebunan bawang merah bahkan sungai yang dulunya jernih terlihat seperti susu cokelat di musim hujan. salah satu kampung dilanda banjir bandang padahal sejak dari dulu, tidak pernah ada sejarah banjir bandang terjadi di sana.

hasil dari bawang merah yang menggiurkan benar-benar membuat gelap mata beberapa mereka. bahkan salah satu cerita ada seorang petani yang mendapat keuntungan sampai 1 miliar dari hasil penjualan bawang merah.

dari banyaknya cerita keberhasilan petani bawang, juga terselip kisah pilu. salah satu musuh terbesar bagi petani bawang adalah ulat. untuk menanggulanginya, maka para Petani mengandalkan racun ulat yang dicampur dari 5 jenis racun ulat yang berbeda. dalam sehari, paling tidak petani melakukan sekali penyemprotan. salah satu cerita yang kudengar ada seorang petani yang mati sesaat setelah makan roti sehabis menyemprot ulat. diduga bahwa racun tersebut mencemari roti yang dimakannya.

berita kematian petani akibat terpapar racun ulat sudah beberapa kali terjadi bahkan setidaknya ketika kita tidak memakai masker dan berada beberapa meter dari orang yang sedang menyemprot ulat maka  seringkali kita akan mengalami gejala mual bahkan muntah.

saya membayangkan beberapa tahun ke depan, ketika tidak ada pertimbangan rasional dalam pembukaan lahan bawang merah maka kemungkinan akan terjadi bencana yang tidak diinginkan. meski sama sekali saya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi.

29 03 17

Impian yang Hilang

membaca artikel ini seakan membawaku kembali ke beberapa tahun yang lalu. kisah yang hampir sama kulalui saat masa-masa remaja. mungkin hanya sebagian potongan kisah yang tidak persis sama, namun semangat yang kumaknai dari tulisan tersebut sama seperti yang kurasakan. layaknya sepakbola adalah pelarian dari setiap masalah sebagai seorang anak yang hidup di pedesaan.

tidak sulit untuk mengidentifikasi stimulan awal kenapa saya sangat mengandrungi permainan sepakbola. di kampungku, terdapat sebuah lapangan bola yang merupakan sentrum hiburan bagi penduduk di kampungku di sore hari sesaat setelah pulang dari kebun. hampir pasti setiap lelaki di kampungku menggemari permainan bola.

pola kehidupan masa kecilku di kampung hanya berputar pada sekolah kebun dan lapangan sepakbola. pagi saya menghabiskan waktu di Sekolah kemudian siang setiba pulang dari sekolah, saya harus mengurus sapi dan kambing kemudian pada sore hari setelah shalat ashar, saya sudah siap di lapangan.

Piala dunia dan Piala Eropa adalah hiburan paling ditunggu mulai anak SD sampai orang tua. seringkali kami menonton bareng dengan menggunakan media layar tancap. 

Saya mulai mengikuti pertandingan sepakbola antar sekolah setingkat SD di kecamatan. seingatku, saat itu, saya baru menginjak kelas 4. tidak ada pemain yang boleh menggunakan sepatu bola sehingga untuk menghindari perihnya telapak kaki akibat gesekan dengan lapangan yang keras maka kami mengakalinya dengan menggunakan kaos kaki beberapa lapis. 

Euforia pertandingan tersebut masih membekas di memoriku. beberapa hari sebelum pertandingan, saya sudah menyiapkan baju yang akan saya kenakan pada saat pertandingan. berhubungan karena pada saat itu belum ada jersey seragam yang disiapkan pihak sekolah dan kami hanya diberitahu bahwa dres scode baju warna putih, maka saya memilih baju warna kuning dengan beberapa tulisan di depannya. pada saat itu, jersey sepakbola masih menjadi hal yang mewah bagi kami yang hidup di kampung.

Tim sekolah kami kalah pada saat itu namun tidak ada kesedihan karena pada dasarnya, pertandingan hanya sebagai sebuah kesenangan semata. saya ditempatkan sebagai Gelandang namun yang menjadi kesulitan adalah kami menggunakan lapangan ukuran orang dewasa sehingga tak terkira tenaga yang terkuras.

hari-hari setelah pertandingan tersebut, saya semakin mencandui permainan ini. ada perasaan tidak senang ketika hujan mengguyur pada sore hari karena banyak teman-teman sebaya yang malas bermain sepakbola akibat lapangan yang berlumpur.

kamar saya dipenuhi dengan poster pemain sepakbola Eropa bahkan semua buku tulis sekolah saya disampul dengan plastik kemudian saya sisipkan gambar pemain sepakbola yang digunting dari lembaran majalah maupun surat kabar. bahkan beberapa sisa tempelan gambar pemain masih ada di dinding rumahku.

menginjak sekolah menengah, saya semakin sering bermain sepakbola apatahlagi sudah dipercaya ikut bermain dengan orang dewasa meski awalnya harus menjadi kiper. memang sudah menjadi preseden di kampungku bahwa ketika bermain sepakbola, anak SMP yang akan menjadi "korban" sebagai penjaga gawang mengingat posisi tersebut amat sangat tidak populer.

saya mulai reguler bermain dengan orang dewasa  saat kelas 2 SMP. saya sangat menyukai posisi Gelandang karena menurutku, posisi tersebut tidak banyak disalahkan ketika kalah. meski sudah sering latihan namun saya belum kunjung mendapatkan kesempatan mengikuti pertandingan tarkam di tim kampungku. saya masih bersetia sebagai Suporter.

Kelas 1 SMA menjadi titik balik dalam karirku di persepakbolaan amatir. pada saat itu pula, saya berhasil membeli sepatu bola hasil tabunganku sendiri. warna metalik namun kebesaran. saya sudah dipercaya sebagai salah satu bagian dari tim 2 yang merupakan kumpulan dari anak-anak yang belum matang dan dikombinasikan dengan orang dewasa yang sudah melewati usia pemain sepakbola. jadi di kampungku, ada dua tim yang diikutkan setiap kali ada helatan turnamen.

tidak terlalu lama untuk mendapatkan kepercayaan menjadi bagian dari tim utama. sejak kelas 2 SMP, saya sudah menjadi bagian dari tim utama yang sering mengikuti turnamen yang diadakan di kecamatan berbeda di kabupaten. namun salah satu turnamen yang membekas di memoriku adalah turnamen tarkam U-18. bahkan di turnamen tersebut, saya dipercaya sebagai seorang kapten meski saya diharuskan mengisi posisi sebagai bek. ada kebanggaan tersendiri mengenakan ban kapten karena secara otomatis, akan menjadi pusat perhatian. kami kalah dari tuan rumah melalui adu pinalti di putaran 8 besar.

kepercayaan diri saya benar-benar memuncak dan meyakini bahwa sepakbola adalah hidupku sehingga pada suatu waktu sesaat setelah makan malam, saya mengutakan niat saya kepada bapak saya bahwa suatu saat saya akan menjadi seorang pemain sepakbola.

"Kau tidak bisa hidup dari sepakbola. lihat mereka yang pintar main sepakbola di kampung, paling jauh hanya main di tarkam" jawaban bapakku benar-benar meluluhkan energiku menjadi seorang sepakbola.

meski masih sering menggiati permainan sepakbola, namun jawaban bapakku perlahan-lahan menggerus niatku menjadi seorang sepakbola. setamat SMA kemudian melanjutkan kuliah di ibu kota provinsi membuatku semakin jarang berlatih sepakbola. meski sesekali saya masih mengikuti turnamen ketika libur kuliah.

Satu hal yang saya sesali pada saat itu adalah tim sepakbola kampungku dikenal sangat temperamen bahkan hampir pasti setiap kami bertanding, akan ada kericuhan di lapangan yang berakhir dengan tawuran. hal tersebut membuat beberapa panpel turnamen tidak mengundang tim dari kampungku dalam waktu yang lama. 

saat ini, permainan sepakbola di kampungku mulai hilang ruhnya. tidak ada lagi permainan sepakbola pada sore hari bahkan lapangan sepakbola sebagian sisinya dijadikan sebagai lapangan bola voli oleh remaja perempuan. tidak ada lagi energi kegembiraan di sore hari.

impian menjadi seorang pemain sepakbola profesional sudah mustahil bagi saya bahkan bermain sepakbola pun jarang. hanya sesekali itupun permainan futsal yang menurutku sama sekali tidak menggairahkan. namun sekarang saya sudah punya seorang anak yang masih bayi. saya berhasrat untuk menceritakannya bahwa ada permainan keren yang bisa menjadi energi hidup yaitu sepakbola. saya tidak akan pernah memaksanya menjadi apa suatu saat nanti dan saya akan tetap bangga atas pilihan-pilihan hidupnya yang bermanfaat namun kebanggaan saya akan berlipat jika dia memilih menjadi seorang pemain sepakbola profesional. satu hal yang lebih penting bahwa saya dan ini mungkin sedikit otoriter bahwa dia harus menjadi fans Inter Milan atau setidaknya tidak boleh memilih Juventus dan Manchester United sebagai klub idola

Rabu, 29 03 17

March 17, 2017

Bandara Bersama Senja

Perjalanan Gorontalo ke Makassar benar-benar melelahkan. Saya melepas penat tepat di depan tulisan Bnadara sambil menunggu adekku yang sedang dalam perjalanan menjemputku.

Aku menerawang kota ini, langitnya yang sedang disambangi mendung. Ada semacam rasa hampa yang tibatiba menghinggapiku, entah perasaan seperti apa atau mungkin perasaan sentimental ketika menyadari bahwa kota ini hampir saja menjadi asing bagiku.
Bandara Hasanuddin

Hampir tujuh tahun kota ini kutinggalkan sesaat setelah menyelesaikan kuliahku. Aku menerabas lautan menjadi perantau di pulau sebelah. Entah apa tujuanku namun ternyata, keputusan merantau membuatku menemukan takdir menetap di pulau jauh. Aku berjodoh dengan banyak hal di sana dan harus melepaskan semua kenangan di kota ini.

Kali ini, aku menginjakkan kaki di kota ini. Menyendiri di kerumuman manusia yang sedang beranjak dan datang di bandara. Aku menatap setiap sudut kota dan kemudian berpikir,sebenarnya apa yang sedang kukejar?  Toh pada akhirnya semua akan tiba di persinggahan terakhir.

Namun sekali lagi, aku sudah memiliki tanggungan yang harus kujaga dan semoga jadi jalan menyusuri jalan hidupku.

Bandara Makassar. 17 3 17

March 3, 2017

# OTS 3

Pekerjaan ini benar-benar membawaku melancong ke sudut Negeri ini. tanpa harus mengeluarkan sepersen dana pun, saya sudah menginjakkan kaki di beberapa tempat dimana seringkali orang lain harus mengumpulkan dana untuk sampai di sana.

bulan kedua tahun ini, saya kembali menjejak langkah di sebuah pulau yang dikenal sebagai tujuan para Turis.menikmati cuaca yang menyengat dan dinamika kehidupan yang lebih variatif. orang-orang yang dengan tampilan nyentrik tanpa harus terganggu pandangan orang lain.

Matahari mulai menanjak ketika Pesawat yang saya tumpangi akan mendarat di Bandara kota ini. saya menjumpai pemandangan yang indah ketika memandangi hamparan laut dari atas Pesawat. Bandara kota ini tepat berada dipinggir laut.

saya menumpang taxi ke arah bilangan ibu kota. sopirnya banyak bercerita tentang kota ini dan segala dinamikanya. saya menenjumpai suasana kota di jawa dari cara berbicara si sopir. ada kesamaan ntonasi suara penduduk kota ini dengan orang-orang di jawa. satu hal yang membuatku kikuk adalah sewa taxi yang menurutku terlalu mahal untuk ukuran jarak dari bandara ke kota apatahlagi taxi tersebut tidak menggunakan argo.

lima hari di kota ini membuatku bisa merasakan atmosfer kota dan penduduknya yang terlampau sangat berbeda dengan kultur di kampung halamanku. kota ini penuh dengan bau dupa setiap pagi. kota yang menurutku tidak terlalu terburu-buru seperti Jakarta.

untuk ukuran makanan, saya harus bisa memilah makanan yang saya konsumsi karena kota ini melegalkan segala macam makanan yang menurut keyakinan yang kuanut haram untuk dikonsumsi. terlalu mudah menemukan babi guling ataupun warung lain yang menyediakan aneka masakan dari daging babi.

Saya mengunjungi beberapa spot wisata yang selama ini hanya bisa kulihat dan kubaca di media. kawasan wisata di kota ini dipenuhi oleh turis asing bahkan seakan orang asli di kota ini yang menjadi minoritas. kesenjangan antara pendatang dan penduduk asli.

pantai di kota ini memang indah. air laut yang bening dan pasir yang terhampar sepanjang bibir pantai. satu hal yang paling penting adalah pengunjung sangat sadar akan pentingnya untuk membuang sampah di tempatnya sehingga sangat jarang melihat sampah berserakan.

keberadaan saya di kota ini bertepatan dengan cuaca yang amat sangat menyengat. seperti membakar tubuh dan melululantahkan ubun-ubun. 

Saya beranjak pergi dari kota ini jumat sore tepat saat Matahari menuju peraduannya. bahkan saya menyaksikan pemandangan yang sangat indah di ruang tunggu bandara. amat sangat jelas melihat sang Mentari perlahan-lahan menghilang dari pandangan mata. Matahari yang berbalik arah tepat di seberang lautan sehingga memandangi sunset dilatari hamparan laut, indah.

semoga suatu saat kembali ke kota ini berlibur bersama keluarga
Pulau Dewata

3 3 17

February 19, 2017

Jokowi dan Ahok, mundurlah!!!

Di awal tahun ini, saya menyimpan pengharapan semoga Jokowi mundur dari kursi presiden dan Ahok mundur dari pencalonan pilkada DKI kemudian mengikhlaskan dirinya di penjara atas tuduhan penistaan agama.

bagaimana tidak, mereka bagaikan tandem pemicu ribut-ribut di negeri ini. kubu yang kontra sedemikian keras mendelegitimasi Jokowi dari pucuk pimpinan tertinggi negeri ini sedangkan kita ketahui, keputusan Ahok maju kembali sebagai calon Gubernur DKI mendapat reaksi yang amat sangat keras dari sebagian umat Islam.

puncak gunung es menemui titik klimaks ketika Ahok offside berbicara tentang elemen agama Islam di depan warga Kepulauan Seribu. kekhilafan Ahok tersebut membuatnya harus menanggung konsekuensi maha dahsyat.

keinginan saya tersebut diperkuat dengan fenomena bahwa apapun yang tidak disenangi oleh kelompok oposisi selalu dinisbahkan kepada Jokowi. titik nadir kebencian atas nama kepentingan kelompok benar-benar sedang berada di puncak. Ahok yang masih melenggang bebas sedangkan statusnya sudah terdakwa pun dianggap sebagai kesalahan Jokowi.

sebelumnya saya berharap bahwa dengan berakhirnya pilkada DKI Jakarta serta merta akan menurunkan tensi urat leher mereka yang sedang berkelahi argumen di media namun ternyata harapanku sirna. perseteruan mereka seakan menjadi-jadi apatahlagi Pilkada mengharuskan digelar dua putaran setelah tidak ada calon yang berhasil meraup suara 50%+1.

salah satu harapan meredakan ketegangan di negeri ini adalah Jokowi mundur dan merelakan negeri ini di tangan mereka yang sedari dulu menginginkannya dan Ahok menjauh dari percaturan politik DKI Jakarta. tidak menjadi soal bagi mereka apakah Ahok akan dipenjara ataupun tidak sepanjang Ahok tidak lagi mencalonkan dirinya sebagai Gubernur, itu intinya. menurutku.

Februari 2017