March 6, 2014

Cerita tablet


Ini tentang cerita tablet dan fadel tadi malam. Bukan tablet obat namun tentang laptop mini seukuran papan. Dia amat sangat ingin memilikinya dan begini ceritanya.

Semalam aku menelepon ibuku. Seperti kebiasaanku menyicil rindu terhadapnya melalui telepon di malam hari. Beberapa saat setelah menelepon, giliran fadel yang bicara karena dia sedang nginap di rumah neneknya. Awalnya biasa-biasa saja dan seperti sebelum-sebelumnya dia sedikit enggan bercerita dan bahkan akan sangat malu ketika dia menginginkan sesuatu dan tadi malam gelagatnya seperti itu sehingga kecurigaanku semakin menjadi-jadi bahwa dia sedang menginginkan sesuatu. Setelah beberapa saat dia tak jua menyampaikan keinginannya maka tiba-tiba saja tantenya yang ngomong bahwa dia ingin dibelikan Ipad (maksudnya disini tablet karena dia menyebut merek china padahal kan Ipad itu tablet produksi apple). Aku sontak terperanjat dan langsung bertanya kok sampai Ipad (baca tablet). Seumur-umurku akau tidak pernah berniat membeli tablet atau bahkan menginginkannya setelah aku pikir-pikir bahwa tidak terlalu bermanfaat lalu kenapa fadel yang umurnya baru menginjakkan 4 tahun menginginkan barang yang menurutku tidak terlalu penting.

Aku kemudian bertanya lebih lanjut apa alasannya dia ingin dibelikan barang tersebut. Tantenya bercerita panjang lebar bahwa hampir semua anak seusianya di kampung mempunyai tablet (meski merek china sih). Teman sebayanya hampir setiap saat sibuk bermain tablet dengan berbagai games yang sudah di install. Kemudian fadel hanya melongo dan memperhatikan teman-temannya asyik menggeser barang yang menurutku sudah menjadi penyakit. Sesaat setelah itu,  Aku terpaku begitu lama bahwa sebegitu mengerikannya sebuah produk teknologi yang hampir-hampir menggerus nilai yang kupertahankan. tablet yang sejatinya barang yang harusnya dipakai oleh orang-orang bisnis yang butuh efisiensi kerja ternyata sudah dikomodifikasi dengan berbagai tawaran games di dalamnya untuk mempertahankan keuntungan mereka sehingga orang tua merasa sangat membutuhkan untuk membelikan anak-anaknya sebagai hiburan meski secara tidak langsung sadar ataupun tidak sadar mereka telah menyesatkan para anak-anak mereka dengan barang tersebut dan berbagai tawaran permainannya. Aku bahkan harus kembali mengutuk kapitalisme yang benar-benar sudah memasuki hal yang dulunya aku khawatirkan. Produk barang-barang mewah yang dikomodifikasi sistem tersebut dalam berbagai tawaran yang akhirnya menjerat semua kalangan bahkan sampai ke bocah-bocah.

Sedih juga rasanya mendengar cerita fadel yang dengan amat sangat mengharap meminjam tablet temannya meski terkadang temannya tidak meminjamkan namun aku bahkan lebih sedih lagi jika harus membelikannya karena jelas bahwa itu akan merusak karakternya di masa mendatang. Tidak semua harus dipenuhi nak dan talet itu harusnya dibeli bukan untuk dijadikan permainan, terlalu gila rasanya melakukan hal seperti itu. Biarkan barang itu hanya mengawang-awang di kepalaku sampai engkau mengerti dan aku yakin bahwa tiba waktu engkau mengerti dan tidak akan membelinya meski engkau berlimpah uang. Aku telah melalui masa sepertimu nak saat kakek nenekmu tak mampu membelikanku permainan-permainan seperti yang dimiliki oleh teman sebayaku bahkan jika engkau mau tahu, TV pun tidak ada di rumah sehingga ketika harus menonton TV, aku harus menutup muka tanda rasa malu karena terus menerus menumpang menonton di rumah tetangga. Namun apakah aku sedih akan hal tersebut? tidak sama sekali nak. Hal tersebut yang nantinya akan menguatkan kita dan menjadikan kita lebih peka akan sesuatu dan kuharap engkau pun begitu adanya. Tetaplah mengharap untuk dibelikan tablet dan tetaplah melihat teman-temanmu yang asyik mempermainkan tablet dengan perasaan iba namun tegarlah akan hal itu nak. Biarkan saja waktu yang memutar dan akan membuatmu berpikir kelak bahwa pilihan bapak ibumu tidak membelikanmu barang seperti itu adalah benar.  Karaktermu akan menjadi kuat dan menjadi tahu apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan.

Nak, tetaplah dengan masa kecilmu. Jangan mencampakkan kebahagiaan masa kecilmu dalam kotak yang bernama ipad Karena kelak engkau akan sangat menyesal. Salah satu penyesalan orang dewasa kalau engkau mau tahu adalah tidak menikmati kebahagiaan masa kecil karena aku baru sadar sekarang, masa yang paling bahagia dan menyenangkan ada masa-masa sepertimu sekarang.

engkau nampaknya sudah amat bahagia dengan sepedamu itu. berbahagialah tentang apa yang engkau miliki. biarkan tablet itu hanya di impianmu

Selamat menikmati masa bahagiamu…!!!

Jojoran 3/61
kamis  pagi
6'3'14

No comments: