September 30, 2016

OTS #1

Purwokerto, kota pertama yang kukunjungi dalam rangka tugas kantor. sebenarnya sih bulan lalu sudah dinas luar namun berhubung masih di daerah Jabodetabek jadi kesannya serasa tidak dinas.

semenjak mutasi 2 bulan lalu, saya harus siap keluar kota minimal sekali dalam sebulan. harus mempersiapkan kesehatan lahir dan batin demi pekerjaan.

Purwokerto sebuah kota yang terletak di jawa tengah merupakan bagian dari kota Banyumas. saya sudah sering melintasi kota ini setiap kali mudik ke Madiun namun tidak pernah mampir meski sekedar di stasiunnya alhasil ada sedikit rasa lega ketika ditugaskan ke sana dan mempunyai kesempatan mengitari sudut kota itu.

saya menginap di hotel Meotel yang terletak di pinggir kota. hotel yang masih baru di kota ini. masih tersisa aroma cat dan bagian samping masih dalam proses finishing. saya seminggu di kota ini dari tanggal 19- 23 September 2019.

sepintas kota Purwokerto hampir sama dengan Madiun. kota ini terbilang lumayan ramai dalam kategori kecamatan. ya Purwokerto cuma kota kecamatan bahkan bukan kabupaten namun ramai oleh Mahasiswa.

Terdapat banyak universitas di kota ini. Unsoed adalah universitas paling besar di kota ini. terletak di kawasan arah ke Baturraden. sayang sekali saya tidak sempat menikmati kawasan kampus tersebut padahal biasanya kalau menyambangi sebuah kota, saya selalu tertarik mengunjungi kampus-kampus apatahlagi kampus yang lumayan besar.

malam terakhir di kota ini, saya menyambangi daerah Baturraden. agak sedikit mirip jalanannya di daerah Batu, Malang. 

untuk menetap dan menua, kota ini lumayan recommended. tidak terlalu bising dan punya banyak ruang untuk bermesraan dengan semesta.

30 9 16

Penghujung September

Tidak ada, iya tidak ada sama sekali
hampa, mengisi setiap detik yang terlangkahi

di penghujung september kali ini
semua sama
hanya waktu yang terbuang sia-sia

30 9 16

September 26, 2016

Idul Adha

Entah sudah berapa kali aku melewatkan momen Idul Adha di kampung. Tidak lagi menyaksikan euforia masyarakat ketika menjelang pemotongan hewan qurban. masa yang dulu selalu meninggalkan kenangan yang tertawan di sudut hati.

Tahun lalu, Saya menikmati momen Idul Adha di kawasan Cibubur tepatnya di kota wisata. Rumah salah seorang kerabat isteri Saya. Tidak terlalu banyak hal yang membuatku harus mengingat momen Idul Adha tahun lalu. toh hanya mengikuti shalat Idul Adha kemudian kembali ke rumah dan berdiam diri di kamar.

Idul Adha kali ini kemungkinan akan kembali kuhabiskan di Ibu Kota. Saya tidak punya cukup waktu untuk mudik ke kampung halaman. Namun ada kesyukuran lain karena seminggu sebelum Idul Adha, Saya punya kesempatan pulang kampung bertepatan dengan tugas kantor di kota Provinsi.

Menelisik kembali momen Idul Adha membawaku menikmati masa kecil. Masa di mana begitu riangnya kami kumpulan bocah membantu para orang tua yang sedang sibuk di tempat pemotongan hewan qurban. Tugas kami biasanya mencuci daging qurban di sungai kemudian membagikan ke Masyarakat.

Hanya saja, di malam Idul Adha. Saya sedih melihat jagoan Saya yang meringkuk lenas karena demam. Dokter mengatakan bahwa dia diare akut.

Saya agak trauma setiap kali dia demam. Kenangan setahun silam dini hari sekitar jam 3 pagi, saat kami harus bergegas membawanya ke RSUD Pasar Minggu. Dia harus diopname selama 3 hari sebelum diizinkan pulang oleh Dokter.

Oh iya, doa-doa terbaik kupanjatkan di malam Idul Qurban, semoga kita semua bisa meneladani perjalanan tauhid Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail terhadap Tuhan dan orang tuanya.

Cilandak, 31 8 17
Saat takbir berkumandang sahut menyahut.

September 9, 2016

Ulang Tahun (Lagi)

Sejak kapan aku mulai peduli dengan yang namanya ulang tahun? selalu kupersetankan hal remeh temeh seperti itu sejak dulu. toh keniscayaan yang tidak bisa dihindari sampai pada akhirnya membawa kita ke lembah kefanaan.

Tapi tidak apalah untuk sekedar mengingat awal jejak memasuki gerbang dunia yang tengik. berapa puluh tahun yang lalu, di sebuah desa kecil dan terlahir dari seorang Ibu yang keren. aku berlumuran darah dan tangisan yang meraung-raung menyadari betapa mengerikannya menghadapi hidup ini. kata Ibu hari itu hari senin.

Sampai sekarang dengan berlipat angka umurmu. aku tak tahu harus berkata apa karena doa sudah terpanjatkan semua. hanya yang menjadi pembeda saat ini adalah aku sudah beristeri dengan seorang anak kecil yang ganteng. untuk yang lainnya mungkin tidak ada perubahan.

Aku masih belum mampu menentukan arah hidup yang hakiki. masih selalu terjebak dalam setiap tikungan yang absurd namun tak apalah, langkah harus tetap diayun.

Sudah tidak terlalu banyak harapan yang kusandarkan di dunia ini. hanya beberapa hal sederhana yang kuinginkan.

Normal bagi seorang suami menginginkan anak isterinya selalu dalam keadaan baik-baik saja. memberi nafkah dan menyediakan tempat berteduh. seperti itu mungkin keinginan sederhana yang sekarang kusimpan dalam diriku, tidak lebih.

hal lain mungkin adalah keinginan untuk menetap dan menua di kota kecil. tidak di Ibu kota. aku memang bukan orang yang terlalu ngotot dalam hidup untuk hal-hal yang sifatnya material. hanya sekedar ingin hidup bahagia dalam kesederhanaan bersama keluarga.

entah, semua itu keinginan yang sederhana atau bahkan terlalu muluk namun yang pasti hidupku sekarang hanya ingin berfokus pada keluarga.

angka-angka hidup yang kulewati semakin bertambah banyak. aku ingin sampai pada suatu titik dimana hidup itu kuartikan bukan melulu tentang hal-hal yang indrawi namun menyingkap semua hijab yang masih menutup hati.

ah, sudah. ini saja testimoni tentang pengulangan tanggal lahirku. sebenarnya aku sudah malas menulis rutinitas tiap tahun seperti ini namun sekedar untuk menyegarkan otakku tentang hal-hal yang kuinginkan.

Selamat ulang tahun buat saya.

Cipaku, 8 September 16