October 30, 2017

Obrolan Kamis Malam

Satu hal yang selalu saya kangeni bertemu dengan teman-teman dari Makes, Kelompok kajian berbahasa Inggris di Masjid Al Markaz Makassar, adalah sharing ilmu dan diskusi panjang tentang apa saja. kelompok kajian yang dikulturkan sebagai organisasi Egaliter membuat para anggotanya, baik yang senior maupun yang junior seakan tidak memiliki sekat seperti yang tercipta di beberapa organisasi yang feodalistik.

Kamis siang kemarin, saya iseng membuka beranda whatsapp dan melihat chat dari salah seorang senior di Makes. beliau menanyakan kabarku dan tempat tinggal sekarang. sesaat setelah kujawab chatting wa nya, beliau menjelaskan bahwa dirinya sedang ada di Bogor dan hendak berangkat ke Jakarta. beliau ingin bertemu denganku jika ada kesempatan.

Jelas saja saya mengiyakan ajakannya. meski agak sore karena saya pulang kantor jam lima. beliau menginap di apartemen Cosmo Terrace dan kami janjian di sana selanjutnya bersama-sama ke bilangan Jatibening karena ada sejawatnya yang tinggal di daerah tersebut.

Saya meninggalkan kantor tepat jam lima sore ketika tanda pulang sudah berbunyi. mengarungi jalanan yang dipadati kendaraan menuju bilangan Thamrin City. lumayan butuh perjuangan berlipat untuk sampai di daerah tersebut karena sore hari bertepatan dengan momen kaum urban pulang kantor.

Saya dan salah seorang senior yang datang bertandang ke Jakarta, kemudian bergegas menuju Jatibening. tempat kediaman sejawat yang sudah lama menetap di Ibu Kota. butuh dua jam perjalanan untuk sampai di Jatibening dari kawasan Thamrin City karena saya tersesat. seharusnya lewat Kalimalang namun saya memutar lewat Jatimakmur.

Kami bertiga menghabiskan malam di sebuah kedai roti bakar. saya yang notabene junior hanya diam dan sesekali menimpali jika ditanya. saya banyak menyimpan pesan tentang kehidupan yang diperbincangkan oleh kedua sesepuh Makes yang sudah lama tidak bersua.

Kak A, senior yang sudah lama menetap di Jakarta lebih mendominasi permbicaraan dengan arah memberikan saya motivasi sambil bernostalgia tentang apa yang dulu dia peroleh di Makes kemudian diaplikasikan dalam dunia nyata.

Dia sudah punya perusahaan dengan omzet milliar. menangani proyek dari pemerintah maupun swasta.

Awal merintis usaha di Jakarta, dia berkarir sebagai karyawan swasta sebelum memutuskan untuk resign dan mencoba peruntungan di dunia usaha. satu prinsip yang dia pegang selama berusaha adalah dia mengharamkan dirinya menggunakan pinjaman bank. awal mula merintis memang terlihat sangat berat namun dia tidak putus asa sampai akhirnya, dia berhasil membeli mobil tiga unit secara cash dan rumah pun dengan cash keras.

Selain kekagumanku atas prinsipnya yang tidak kompromistis terhadap maslaah riba dan semua yang dimiliki dibeli dengan cash dan selebihnya, nasehat yang dia berikan mungkin menurutku klise namun memang pantas diucapkan oleh orang yang sudah meneguk materi.

Saya yang notabene masih berkutat di  perusahaan finance sudah was-was mendengarkan ceritanya karena khawatir dia akan ofensif mempertanyakan keputusanku tetap bertahan di perusahaan finance yang sangat rawan tercampur dengan unsur ribawi, namun sampai akhirnya saya pamit pulang, tidak satu pun kata yang seperti kucemaskan.

Saya pamit tepat jam sebelas malam.

Cerita yang seharusnya sudah kutulis sejak Jum'at pertengahan oktober sehari setelah perbincangan kami di kedai roti bakar Jl. kalimalang bersama dua senior Makes.

October 28, 2017

OTS #9

Perjalan dinas kali ini nampaknya tidak terlalu memuaskan karena sekedar menggugurkan tugas kantor. Ada banyak pikiran yang mengoyak kepalaku membuat fokus perjalanan tidak terlalu baik.

Kota kali ini pernah Saya kunjungi enam tahun yang lalu meski hanya dua hari sehingga yang tersisa diingatanku hanyalah cuaca yang sangat panas dan lumayan membuat badan serasa mendidih.

Satu hal yang membuatku merasa senang karena saya berkesempatan transit di kota asal meski nampaaknya hanya sebentar saja.

Saya berangkat dari Soetta jam setengah sepuluh dengan pesawat Sriwijaya. Entah kendala apa sehingga pesawat harus delay beberapa saat kemudian transit di kota asal hanya ganti pesawat. Saat transit, hujan turun dengan derasnya mengguyur. Meski hanya sesaat namun tetap saja saya merasa sangat senang menginjakkan kaki di kotaku.

Saya berganti pesawat yang lebih kecil. Terbang menuju kota tujuan yang berada di bagian tenggara pulau yang sama dengan kota asalku. Ternyata pesawat hanya menempuh waktu 45 menit dengan ketinggian pesawat 2000 kaki.

Tiba di kota tujuan, senja sudah menjelang dan nampaknya hujan belum jua mengunjungi kota itu. Tanaman kering dan jalanan berdebu. Saya menyewa taxi liar di bandara menuju kota dengan sewa seratus ribu. Jarak dari bandara ke kota lumayan jauh dengan jarak tempuh 45 menit.

Sebelum mencari hotel tempat menginap, saya menuju kantor dan sudah ditunggu kacab. Kami bersalaman membuka acara secara seremonial kemudian berbincang lepas. Menjelang maghrib, saya ditemani staff di kantor cabang mencari hotel, beberapa hotel full karena nampaknya ada acara partai hingga akhirnya kami tiba di hotel zahra dan masih banyak kamar yang lowong. Hotel dengan konsep syariah yang benar-benar menerapkan segala sesuatu dengan prinsip syariah.

Malamnya, saya tidak terlalu berminat menjelajahi kota karena sudah letih. Sekedar keluar mencari makanan kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Esok hari, saya kemudian memulai aktivitas kantor untuk empat hari ke depan. Kota itu ternyata masih bersahabat dengan panas bahkan ketika di kantor, sepanjang waktu saya berkeringat karena ac sedang bermasalah. Hal tersebut membuatku tidak terlalu fokus menyelesaikan tugas.

Empat hari berjalan seperti biasa dan malam hari saya hanya keluar makan. Tidak ada momen yang istimewa di ots kali ini.

Jumat sore, saya bergegas ke bandara. Pesawat yang akan membawaku pulang ke rumah akan transit di kota asalku selama 17 jam. Lumayan lama yang membuatku berkesempatan tidur di rumah keluarga di kotaku. Mungkin hanya itu yang membuatku bahagia atas perjalanan kali ini.

16-20 Oktober 17

October 3, 2017

Tiga Oktober

tidak ada yang terlalu spesial di angka tiga Oktober sebelum Saya bertemu dengan Ibu dari anak-anak Saya. momen yang akan menjadi abadi setelah keputusan untuk menikah di tanggal tersebut meski seringkali Saya berujar bahwa Saya tidak pernah terlalu memperdulikan setiap momen yang Saya telah lalui entah itu ulang tahun, hari pernikahan atau momen apapun yang seringkali orang lain rayakan dengan euforia yang berlebihan.

Saya tidak tahu persis kenapa di momen tanggal tiga Oktober dua tahun yang lalu, dipilih oleh Mertua Saya tetapi yang jelas bahwa pada saat bertemu dengan keluarga besar Isteri, Saya hanya mengatakan bahwa untuk setahun ke depan, Saya belum bisa melangsungkan pernikahan karena masih terikat kontrak di Perusahaan tempat Saya bekerja.

Di momen dua tahun pernikahan Saya, ada kado yang kurang mengenakkan karena Damar demam lagi. Sedari kemarin siang, Damar sudah merasakan gejala demam namun belum terlalu parah sampai akhirnya tadi siang ketika Saya maupun Isteri Saya sudah di kantor, Saya dikabari bahwa Damar nampaknya harus dibawa periksa ke Dokter. Isteri Saya memberi pilihan apakah Saya yang izin pulang atau dia namun akhirnya Isteri Saya yang pulang duluan dan mengantar Damar ke Rumah Sakit. 

Saya seakan merasa sangat tidak berguna sebagai suami namun Saya benar-benar jengah berurusan dengan rumah sakit. Entah kenapa setiap kali Saya berdoa untuk tidak terlalu berinteraksi dengan urusan rumah sakit namun selalu saja ada yang mengharuskanku untuk itu. 

Setiba di rumah sore hari menjelang malam, kutatap wajah Isteri Saya yang nampaknya keletihan dan menanggung beban perasaan yang amat berat. Ingin kuucapkan selamat anniversary pernikahan namun kuurungkan. Saya tetap saja memandangnya dan merasa berdosa membiarkannya mengurus tetek bengek masalah anak. 

Terlintas di kepalaku bahwa dia lah yang pantas untuk apa saja tentang anak dan lebih pantas mendapat balasan suatu saat dari anak-anaknya. Saya hanya pelengkap tak berguna yang meracu tak jelas. Kenyataan ini menguatkan keyakinanku kenapa Kanjeng Nabi menyuruh seorang anak berbakti kepada Ibunya sebanyak tiga kali kemudian sekali berbakti kepada Bapaknya, jika ini dimaknai kontekstual. 

Menikah memang tidak mudah. Tidak seperti bayangan nirwana saat masih bujangan maupun tidak seindah lagu percintaan. Menikah adalah perjuangan untuk banyak hal. Berjuang mengalahkan ego demi keharmonisan rumah tangga.

Dua tahun berlalu masih sangat singkat untuk dijadikan tolak ukur tentang keberhasilan menghadirkan harmoni keluarga yang ada bahwa banyak hal remeh temeh yang masih menjadi batu sandungan. 

Perjalanan hari ke depan akan semakin menemui tantangannya. Saya sendiri sedang berjuang untuk melunakkan hati Saya atas setiap pilihan yang sudah digenggam tanpa harus kembali menganulirnya. Pernikahan ini akan terus berlangsung untuk waktu yang tak diketahui, Saya hanya butuh diri untuk berjuang dan membawa pernikahan ini ke cita-cita awal meski Saya sadari bahwa kehadiran seorang anak seringkali memutar arah pernikahan dan menjadikan anak sebagai sentrum perhatian yang butuh kasih sayang yang berlipat.

Untuk anakku Damar, Semoga cepat sembuh dari demammu nak dan tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Untuk Isteriku, selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-2.

3 Oktober 2017 21.30 wib