December 31, 2023

Menjelang Pukul 24.00 Wib

As I was writing this, the sound of firecrackers went off without a break. Understandably, it will soon be the turn of the year according to the Gregorian calendar. A moment that is often the joy of many people to celebrate.

At this old age, I still have questions about the turn of the year that is always enlivened with celebrations in various forms,

What exactly are they celebrating out there and what makes them so happy when the year number on the calendar changes?

It's a clichéd rhetorical question that might not be useful at all because people will still celebrate the turn of the year, which they think will bring better hope.That is why every turn of the year, there are so many resolutions recorded by some people to solidify their steps in the following year even though some of these hopes are only limited to hopes that will be stale at the end of the coming year.

While enjoying the sound of firecrackers, I watched a movie about how to elevate the dignity of a woman.

The movie tells the story of a policeman's daughter whose father died in an accident. Her mother passed away first, leaving her alone.

She was eventually taken in by an acquaintance of her father's who she called Uncle, a middle-aged man who grew up in a strict parental upbringing and thus had stubborn principles.

The uncle's character influences the way he educates the orphaned little princess. He aspired to make her an independent woman, hence the military-like parenting.

Fast forward, the daughter became a strong woman who was not dependent on others. She was amazed when her uncle gave a short lecture at the girls' school.

In the short lecture, her uncle advised the female students that there were three things that no one should touch on their bodies. The breasts, buttocks, and private parts.

Anyone who touches these three parts should not be tolerated, even the closest person. This principle should be held tightly by every woman to maintain her dignity.

It must be realized that women are one of the most vulnerable groups in society. This is inseparable from the past history that considers women as merchandise that can be exchanged at any time. In its development, women are no more than working in three areas of power in the home environment.

There is a false assumption that if you want to advance in any field, women must have favorable conditions or what is often referred to as privilege.

Often privilege is associated with wealth, power, and conditions that sensually facilitate the person who has it. Children born to wealthy parents are considered to have privilege, as well as children of officials and so on.

Privilege is defined as "a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group." This interpretation certainly has implications for the opposite condition so that people who are not destined to be in that condition are considered not to have privilege.

Let's assume it's true that privilege is beneficial. People who have it can easily get what they want. But even those who don't have it are lucky.

In the movie I watched, the princess had no privilege at all so she had only two choices, try to achieve success or stay in the condition she was in.

If someone who doesn't have privilege tries to achieve success, at least if they don't succeed, the initial condition remains the same so it's best to try as much as possible to climb the ladder of success without having to worry about what you don't have in the initial condition.

"Bila kau tidak dapat menghindari kematian hari ini, maka terimalah dengan penuh keberanian dan kebanggaan."

December 15, 2023

Overthinking dan Hidup Yang Akan Baik-Baik Saja

Seperti biasa di hari kamis pagi, saya sudah mulai scrolling harga tiket Bandung-Jakarta di aplikasi khusus travel langganan saya. Biasanya saya memilih tujuan ke akhir Lenteng Agung (LA) karena dekat dari rumah, tetapi terkadang saya memesan yang arah ke Depok karena pertimbangan harga yang jauh lebih murah.

Sesaat kemudian, saya melihat harga tiket tujuan Juanda Depok yang jauh lebih murah dari biasanya. Rutenya juga akan melewati LA sehingga saya bisa turun di LA tetapi dengan harga yang lebih murah.

Travel ini memiliki banyak rute sedangkan untuk rute ke Depok ada dua jalur. Pertama, rute Juanda-Depok dengan tujuan akhir Sawangan. Rute ini tidak akan melewati LA sedangkan rute kedua yaitu yang melewati LA dengan tujuan akhir Juanda-Depok. Aneh, tiket tujuan Juanda-Depok lebih murah dari pada tujuan LA sedangkan secara jarak, lebih dekat tujuan LA karena jalurnya melewati LA sebelum ke Juanda-Depok.

Alasan inilah yang membuat saya sering memesan tiket tujuan Juanda-Depok meskipun saya tetap akan tujuan di LA. Hal yang sama saya lakukan kemarin saat memesan tiket. Saya yakin bahwa toh travel juga akan melewati jalur LA.

Setengah jam sebelum travel berangkat pukul 18.30, saya sudah berada di pool travel. Ada pemandangan yang sedikit asing karena biasanya armada travel sudah banyak parkir di depan pool tetapi sore itu agak sepi. Bahkan calon penumpang yang berada di ruang tunggu juga hanya sedikit.

Saat print tiket di CS, saya baru mengetahui bahwa ada demo buruh di sepanjang tol yang menutup akses tol sehingga menyebabkan macet berkepanjangan. Mobil travel terjebak macet sehingga kemungkinan akan diberangkatkan lebih lama.

Setelah sekian menit, ada pengalihan rute dari yang sebelumnya melewati LA dialihkan hanya rute Juanda-Depok menuju Sawangan. Saya agak gelisah karena belum pernah melewati rute tersebut dan memikirkan bagaimana transportasi dari Juanda-Depok ke rumah. Pikiran tersebut muncul karena estimasi kedatangan di Depok sekitar jam 12 malam.

Pikiran tentang berbagai hal membuat saya gelisah sepanjang jalan tetapi kemudian saya berusaha tenang dan berdoa semoga semua berjalan baik-baik saja. Saya memilih menenangkan diri dan memejamkan mata di atas travel.

Terjadi benar saja, semua berjalan baik-baik saja. Setiba di depok, saya memilih turun di pertigaan Margonda-Juanda kemudian memesan gojek ke rumah. Hidup akan berjalan dengan aman-aman saja, pikiran yang yang membuat rumit hidup ini.

#15 Des 2023

December 2, 2023

Next Step

Setelah menjalani setahun sebagai seorang akademisi pemula, saya menghadapi berbagai dinamika yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, atau minimal saya membayangkan kondisinya seperti ini tetapi tidak semudah di bayangan. Realitasnya lebih kompleks dan tantangan yang jauh lebih berat, dalam banyak hal.

Minimal ada tiga tantangan yang sedang saya hadapi di awal sebagai seorang full time lecturer. Pertama adalah LDM dengan keluarga yang ternyata tidak mudah. Saya sangat salut dengan keluarga lain yang menjalani LDM selama bertahun-tahun tetapi tetap ikhlas dan mampu menjaga semuanya menjadi baik-baik saja.

Setahun menjalani LDM bukan pekerjaan mudah apalagi ketika menyadari bahwa anak saya sedang dalam proses pertumbuhan dan baru menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Saya menyadari bahwa saya mungkin bukan sosok ayah yang ideal tetapi seharusnya saya berada di sampingnya ketika dia sedang bertumbuh dan menjalani hari-hari sebagai seorang bocah.

Tantangan kedua adalah kondisi finansial yang semakin tidak menentu. Sebelum memutuskan pindah kerjaan, saya sudah menyadari bahwa pendapatan saya akan jauh berkurang dari sebelumnya dan pengeluaran yang semakin bertambah karena harus menyewa kos dan uang transpor setiap minggu. Awalnya, saya membayangkan bahwa akan ada kran rezeki yang tidak terduga dan menjadi penopang pengeluaran yang besar tetapi sampai saat ini, kran rezeki yang saya harapkan belum terbuka dan saya benar-benar sudah membayangkan hal yang terburuk.

Tantangan lain mengenai iklim kerja yang terjadi jauh dari kata ideal. Saya membayangkan iklim kerja sebagai seorang akademisi akan mencerminkan suasanya yang hangat dengan perbedebatan-perdebatan ide yang akan mengembangkan diri saya, namun ternyata apa yang saya jumpai sangat jauh dari harapan bahkan jauh lebih tidak sehat dengan kondisi di industri yang pernah saya jalani.

Namun demikian, keputusan sudah diambil dan langkah selanjutnya adalah menata hati untuk tetap konsisten dengan apa yang sudah dijalani. Mengeluh boleh tetapi kufur nikmat yang tidak boleh. Toh masih bisa bergerak meskipun sangat lambat.

Harapan saya saat ini dan akan selalu terucap dalam setiap doa-doa saya adalah semoga Sang Pemilik Semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pendidikan saya S3 tahun 2024 di luar negeri dengan jurusan yang linear serta kemudahan memperoleh beasiswa karena saya menyadari bahwa melanjutkan pendidikan S3 dengan biaya sendiri akan sangat berat.

Selain itu, saya selalu berharap pindah ke kota pelajar sebagai seorang dosen dan istri bisa mutasi ke kota yang sama sehingga tantangan menjalani LDM bisa diatasi. Tetapi detik ini, mari jalani hidup dengan riang gembira.

Desember 2023