December 31, 2023

Menjelang Pukul 24.00 Wib

As I was writing this, the sound of firecrackers went off without a break. Understandably, it will soon be the turn of the year according to the Gregorian calendar. A moment that is often the joy of many people to celebrate.

At this old age, I still have questions about the turn of the year that is always enlivened with celebrations in various forms,

What exactly are they celebrating out there and what makes them so happy when the year number on the calendar changes?

It's a clichéd rhetorical question that might not be useful at all because people will still celebrate the turn of the year, which they think will bring better hope.That is why every turn of the year, there are so many resolutions recorded by some people to solidify their steps in the following year even though some of these hopes are only limited to hopes that will be stale at the end of the coming year.

While enjoying the sound of firecrackers, I watched a movie about how to elevate the dignity of a woman.

The movie tells the story of a policeman's daughter whose father died in an accident. Her mother passed away first, leaving her alone.

She was eventually taken in by an acquaintance of her father's who she called Uncle, a middle-aged man who grew up in a strict parental upbringing and thus had stubborn principles.

The uncle's character influences the way he educates the orphaned little princess. He aspired to make her an independent woman, hence the military-like parenting.

Fast forward, the daughter became a strong woman who was not dependent on others. She was amazed when her uncle gave a short lecture at the girls' school.

In the short lecture, her uncle advised the female students that there were three things that no one should touch on their bodies. The breasts, buttocks, and private parts.

Anyone who touches these three parts should not be tolerated, even the closest person. This principle should be held tightly by every woman to maintain her dignity.

It must be realized that women are one of the most vulnerable groups in society. This is inseparable from the past history that considers women as merchandise that can be exchanged at any time. In its development, women are no more than working in three areas of power in the home environment.

There is a false assumption that if you want to advance in any field, women must have favorable conditions or what is often referred to as privilege.

Often privilege is associated with wealth, power, and conditions that sensually facilitate the person who has it. Children born to wealthy parents are considered to have privilege, as well as children of officials and so on.

Privilege is defined as "a special right, advantage, or immunity granted or available only to a particular person or group." This interpretation certainly has implications for the opposite condition so that people who are not destined to be in that condition are considered not to have privilege.

Let's assume it's true that privilege is beneficial. People who have it can easily get what they want. But even those who don't have it are lucky.

In the movie I watched, the princess had no privilege at all so she had only two choices, try to achieve success or stay in the condition she was in.

If someone who doesn't have privilege tries to achieve success, at least if they don't succeed, the initial condition remains the same so it's best to try as much as possible to climb the ladder of success without having to worry about what you don't have in the initial condition.

"Bila kau tidak dapat menghindari kematian hari ini, maka terimalah dengan penuh keberanian dan kebanggaan."

December 15, 2023

Overthinking dan Hidup Yang Akan Baik-Baik Saja

Seperti biasa di hari kamis pagi, saya sudah mulai scrolling harga tiket Bandung-Jakarta di aplikasi khusus travel langganan saya. Biasanya saya memilih tujuan ke akhir Lenteng Agung (LA) karena dekat dari rumah, tetapi terkadang saya memesan yang arah ke Depok karena pertimbangan harga yang jauh lebih murah.

Sesaat kemudian, saya melihat harga tiket tujuan Juanda Depok yang jauh lebih murah dari biasanya. Rutenya juga akan melewati LA sehingga saya bisa turun di LA tetapi dengan harga yang lebih murah.

Travel ini memiliki banyak rute sedangkan untuk rute ke Depok ada dua jalur. Pertama, rute Juanda-Depok dengan tujuan akhir Sawangan. Rute ini tidak akan melewati LA sedangkan rute kedua yaitu yang melewati LA dengan tujuan akhir Juanda-Depok. Aneh, tiket tujuan Juanda-Depok lebih murah dari pada tujuan LA sedangkan secara jarak, lebih dekat tujuan LA karena jalurnya melewati LA sebelum ke Juanda-Depok.

Alasan inilah yang membuat saya sering memesan tiket tujuan Juanda-Depok meskipun saya tetap akan tujuan di LA. Hal yang sama saya lakukan kemarin saat memesan tiket. Saya yakin bahwa toh travel juga akan melewati jalur LA.

Setengah jam sebelum travel berangkat pukul 18.30, saya sudah berada di pool travel. Ada pemandangan yang sedikit asing karena biasanya armada travel sudah banyak parkir di depan pool tetapi sore itu agak sepi. Bahkan calon penumpang yang berada di ruang tunggu juga hanya sedikit.

Saat print tiket di CS, saya baru mengetahui bahwa ada demo buruh di sepanjang tol yang menutup akses tol sehingga menyebabkan macet berkepanjangan. Mobil travel terjebak macet sehingga kemungkinan akan diberangkatkan lebih lama.

Setelah sekian menit, ada pengalihan rute dari yang sebelumnya melewati LA dialihkan hanya rute Juanda-Depok menuju Sawangan. Saya agak gelisah karena belum pernah melewati rute tersebut dan memikirkan bagaimana transportasi dari Juanda-Depok ke rumah. Pikiran tersebut muncul karena estimasi kedatangan di Depok sekitar jam 12 malam.

Pikiran tentang berbagai hal membuat saya gelisah sepanjang jalan tetapi kemudian saya berusaha tenang dan berdoa semoga semua berjalan baik-baik saja. Saya memilih menenangkan diri dan memejamkan mata di atas travel.

Terjadi benar saja, semua berjalan baik-baik saja. Setiba di depok, saya memilih turun di pertigaan Margonda-Juanda kemudian memesan gojek ke rumah. Hidup akan berjalan dengan aman-aman saja, pikiran yang yang membuat rumit hidup ini.

#15 Des 2023

December 2, 2023

Next Step

Setelah menjalani setahun sebagai seorang akademisi pemula, saya menghadapi berbagai dinamika yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, atau minimal saya membayangkan kondisinya seperti ini tetapi tidak semudah di bayangan. Realitasnya lebih kompleks dan tantangan yang jauh lebih berat, dalam banyak hal.

Minimal ada tiga tantangan yang sedang saya hadapi di awal sebagai seorang full time lecturer. Pertama adalah LDM dengan keluarga yang ternyata tidak mudah. Saya sangat salut dengan keluarga lain yang menjalani LDM selama bertahun-tahun tetapi tetap ikhlas dan mampu menjaga semuanya menjadi baik-baik saja.

Setahun menjalani LDM bukan pekerjaan mudah apalagi ketika menyadari bahwa anak saya sedang dalam proses pertumbuhan dan baru menginjakkan kaki di bangku sekolah dasar. Saya menyadari bahwa saya mungkin bukan sosok ayah yang ideal tetapi seharusnya saya berada di sampingnya ketika dia sedang bertumbuh dan menjalani hari-hari sebagai seorang bocah.

Tantangan kedua adalah kondisi finansial yang semakin tidak menentu. Sebelum memutuskan pindah kerjaan, saya sudah menyadari bahwa pendapatan saya akan jauh berkurang dari sebelumnya dan pengeluaran yang semakin bertambah karena harus menyewa kos dan uang transpor setiap minggu. Awalnya, saya membayangkan bahwa akan ada kran rezeki yang tidak terduga dan menjadi penopang pengeluaran yang besar tetapi sampai saat ini, kran rezeki yang saya harapkan belum terbuka dan saya benar-benar sudah membayangkan hal yang terburuk.

Tantangan lain mengenai iklim kerja yang terjadi jauh dari kata ideal. Saya membayangkan iklim kerja sebagai seorang akademisi akan mencerminkan suasanya yang hangat dengan perbedebatan-perdebatan ide yang akan mengembangkan diri saya, namun ternyata apa yang saya jumpai sangat jauh dari harapan bahkan jauh lebih tidak sehat dengan kondisi di industri yang pernah saya jalani.

Namun demikian, keputusan sudah diambil dan langkah selanjutnya adalah menata hati untuk tetap konsisten dengan apa yang sudah dijalani. Mengeluh boleh tetapi kufur nikmat yang tidak boleh. Toh masih bisa bergerak meskipun sangat lambat.

Harapan saya saat ini dan akan selalu terucap dalam setiap doa-doa saya adalah semoga Sang Pemilik Semesta memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan pendidikan saya S3 tahun 2024 di luar negeri dengan jurusan yang linear serta kemudahan memperoleh beasiswa karena saya menyadari bahwa melanjutkan pendidikan S3 dengan biaya sendiri akan sangat berat.

Selain itu, saya selalu berharap pindah ke kota pelajar sebagai seorang dosen dan istri bisa mutasi ke kota yang sama sehingga tantangan menjalani LDM bisa diatasi. Tetapi detik ini, mari jalani hidup dengan riang gembira.

Desember 2023

November 26, 2023

Finansial

Jauh sebelum memilih pindah bidang pekerjaan, saya sudah membayangkan kondisi yang akan terjadi yaitu kemungkinan akan sangat berpengaruh terhadap finansial saya dalam beberapa saat bahkan mungkin di tahun pertama saya memulai karir di bidang yang baru. Bayangan tersebut menjadi kenyataan dan sedang saya jalani. 

Finansial saya mulai goyah dengan pengeluaran yang jauh lebih besar daripada penghasilan. Pengorbanan ini sebagai salah satu dampak dari usaha saya untuk merawat idealisme yang masih tertancap di kepala saya. Ada yang harus dikorbankan dengan nilai yang dianggap benar meskipun di sisi yang lain, ada kekhawatiran tentang tanggung jawab.

Kondisi ini berat apalagi dijalani dengan melihat orang yang harus dibiayai tetapi saya selalu percaya bahwa tidak ada satupun kondisi yang konstan di dunia ini selama manusia terus bergerak untuk mengubah apa yang sedang dijalaninya.

26.11.2023

October 16, 2023

Ghibah (16)

Kehidupan menjadi seorang akademisi berlangsung seperti biasanya, tidak ada yang terlalu istimewa selain tantangan karena harus jauh dari keluarga dan setiap minggu pulang ke rumah. Dinamikanya lumayan menukik dengan berbagai kompleksitas yang harus dihadapi dengan hati yang lebih jernih.

Meskipun saya sudah mengetahui sebelum memutuskan untuk pindah, ternyata finansial menjadi tantangan utama. Saya punya beberapa tanggungan yang harus diselesaikan namun pendapatan jauh di bawah kebutuhan yang harus dikeluarkan. Saya mungkin terlalu naif tetapi pada akhirnya, kondisi ini harus dihadapi dengan menatap masa depan.

Masalah kedua mungkin datang dari diri saya yang nampaknya belum begitu nyaman dengan terlalu banyak tampil di forum. Saya harus menyelesaikan masalah ini segera agar tidak berlarut-larut karena memutuskan berada di tempat ini artinya harus selalu siap untuk menyampaikan ide ke orang lain.

Masalah lain tentang manajemen waktu saya yang amat sangat buruk. begitu banyak waktu yang saya sia-siakan sehingga tidak berdampak baik kepada pengembangan diri saya bahkan sebaliknya, mendegradasi level diri saya ke arah yang negatif.

Akhirnya tiba pada masalah iklim kerja yang tidak sehat. Beberapa rekan kerja yang saling menggunjing di antara mereka. Sebenarnya hal itu urusan pribadi mereka tetapi menjadi masalah bagi saya karena seringkali mereka mengajak-ajak saya untuk ikut dalam kubu mereka padahal saya sudah berkali-kali menyampaikan bahwa saya tidak akan pernah ikut dalam suasana saling menjelekkan.

Saya bebas menentukan sikap saya sendiri tanpa harus ikut dengan salah satu kubu mereka.

 #16 2023

October 1, 2023

Oktober

Tidak terasa, sebulan sama sekali saya tidak bertandang ke tempat ini. Selain alasan karena banyak tugas kampus, tentu juga karena alasan malas dan ide-ide yang tidak mencair. Akhirnya saya menyadari bahwa tidak semua target bisa dipenuhi. Akan ada deviasi yang terjadi ketika dalam perjalanannya, terjadi dinamika yang tidak sesuai dengan harapan.

Oktober kali ini juga menjadi momen saya mengalami sakit di Bandung. Sudah seminggu lebih saya merasa kurang enak badan, mulai dari badan serasa masuk angin, pegal-pegal, panas dalam dan pusing. Entahlah, namun manusiawi bahwa setiap orang akan melewati fase-fase yang tidak sesuai dengan harapan.

Setelah ini, mungkin saya akn mengevaluasi diri termasuk ambisi-ambisi yang terlalu tinggi membuat badan saya berontak dengan tidak kuasa mengejar apa yang ada di kepala saya. saya harus bisa menakar apa yang rasional untuk ditargetkan.

#1 2023

September 4, 2023

Pengalaman Sekolah (4)

Hari ini saya mendengar cerita dari istri saya tentang anak saya yang meninju perut temannya sehingga temannya menangis dan tidak berani masuk ke ruangan kelas. Saya yakin bahwa anak saya sebenarnya bercanda apalagi anak yang ditinju merupakan temannya di sekolah.

Dia susah untuk mengakrabi orang yang baru dikenalnya bahkan setahu saya, hanya ada satu teman yang selama ini bisa membuatnya tertawa yaitu anak tetangga kami. Setelah masuk sekolah beberapa lama, dia mulai akrab lagi dengan temannya yang dia tinju sehingga saya yakin bahwa dia hanya bercanda. Hanya saja badannya memang bongsor sehingga tentu ketika bercanda seperti itu, orang lain akan kesakitan apalagi teman yang ditinju itu badannya kecil.

Saya suruh dia minta maaf kepada temannya karena kebiasaan meminta maaf adalah hal yang mulia ketika kita bersalah kepada orang lain dan harus dibiasakan sedari dini.

#23 2023

September 1, 2023

Awal September (1)

Setelah melalui Agustus dengan berbagai dinamika kehidupan yang ada di dalamnya. Kini masuk di awal bulan yang merupakan penanda bahwa setahun umur saya kembali terlewati. Perjalanan waktu yang sudah terlewati begitu jauh tetapi masih banyak sekali detik demi detik yang terbuang sia-sia.

Saya tidak tahu pasti kenapa begitu sulit untuk melepaskan diri dari hal-hal yang sia-sia terlepas dari apa yang sudah saya lakukan. Saya dengan begitu keras melepaskan diri dari kemalasan dan ketidakbermanfaatan tetapi selalu berakhir pada kegagalan.

#1 2023

August 28, 2023

Rekan Baru (28)

Hari ini ada rekan baru, tidak hanya satu tetapi dua. Mereka berasal dari dua kampus yang berbeda. Sebenarnya sudah lama proses perekrutan dilakukan tetapi selalu tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sehingga molor sampai saat ini. Keduanya adalah ibu muda yang memang asli orang setempat.

Saya sudah sering bertemu dengan orang baru jadi seharusnya bukan persoalan besar untuk beradaptasi dengan rekan yang baru. 

#28 2023

August 26, 2023

Kembali ke Yogya (26)

Tiga hari ini saya sudah berada di Yogyakarta dalam rangka mengikuti kegiatan pelatihan LSP bersama beberapa kampus dari berbagai PTMA. Saya sebagai salah satu tim pendiri CLSP ditugaskan untuk mengikuti pelatihan dalam rangka mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk mempercepat terbentuknya lembaga sertifikasi.

Yogyakarta bukan kota yang asing bagi saya karena puluhan tahun silam ketika awal merantau di pulau ini, saya pernah tinggal beberapa saat di kota ini bersama kawan-kawan dari kampus yang sama waktu kuliah S1.

#26 2023

August 23, 2023

Canggung (23)

Dua hari terakhir, saya mengkoordinasi kegiatan kunjungan ke mitra yaitu ke perusahaan ekspor impor dan dinas terkait. Sebagai koordinator, tentunya saya bertanggung juga untuk membuka acara kegiatan pada saat  berada di lokasi.

Di sini letak masalahnya karena ternyata masih terlalu canggung untuk acara formal yang seharusnya profesi yang sekarang saya jalani sejalan dengan kegiatan-kegiatan formal. Aneh jika saya masih merasa canggung untuk berbicara di depan forum.

Ini yang kemudian membuat saya berfikir, apakah saya terlalu memaksakan untuk masuk ke bidang ini sementara saya tidak menakar level kemampuan saya.

#23 2023

August 17, 2023

Lomba Agustusan (17)

Setelah beberapa minggu dipersiapkan dengan matang, akhirnya kegiatan agustusan berjalan dengan baik meskipun terdapat beberapa kekurangan. Ada berbagai lomba yang diadakan dengan tujuan ikut meramaikan HUT RI dan dalam rangka Milad kampus.

Secara keseluruhan, acaranya berjalan dengan lancar dan lumayan meriah meskipun ada sebagian pegawai yang tidak sempat hadir sehingga peserta tidak terlalu banyak. Tetapi terlepas dari itu semua, setidaknya semua kegiatan sudah berjalan dengan lancar.

#17 2023

August 16, 2023

Musibah (16)

Hari ini cukup sibuk dengan berbagai kegiatan yang harus saya selesaikan. Hari ini pun saya dua kali ditabrak motor. Peristiwa yang membuat saya bertanya-tanya, apa pesan yang ingin disampaikan semesta kepada saya.

Setengah 6 pagi, saya sudah siap di kampus 1 menunggu rekan-rekan yang akan berangkat ke Jatinangor dalam rangka acara kampus.

#16 2023

August 15, 2023

Road Show Sekolah (15)

Saya selalu percaya bahwa jangkauan manusia hanya pada porsi bagaimana mereka mengoptimalkan usaha dan manusia tidak punya kuasa penuh untuk menentukan hasil. Inilah kenapa kita disuruh berdoa agar usaha yang sudah optimal dilakukan bisa dibarengi dengan hasil yang maksimal.

Pagi ini, saya dan salah seorang rekan mengadakan roadshow ke sekolah untuk tujuan promosi. Ini merupakan salah satu bentuk usaha yang kami lakukan karena tidak ada lagi jalan selain mengusahakan setiap peluang yang ada. Entah hasilnya seperti apa maka bukan lagi masuk dalam ranah kami.

#15 2023

August 14, 2023

Tim LSP (14)

Hari ini full saya harus duduk di dalam ruangan untuk menyelesaikan semua dokumen persiapan pembentukan LSP. Pekerjaan yang membutuhkan energi dan konsentrasi karena dikejar deadline sehingga dengan segenap energi yang ada, diselesikan dengan segera.

Sebenarnya pekerjaan ini merupakan kerja tim yang beranggotakan lima orang namun ada salah seorang yang sakit sehingga tidak bisa hadir.

Kami mulai tepat jam 8 pagi dan baru kelar tepat jam 4 sore. 

#14 2023

August 13, 2023

Pulang Lebih Awal (13)

Beberapa minggu terakhir, saya selalu berangkat minggu ke kota tempat bekerja padahal minggu-minggu sebelumnya, saya masih mendapat jatah libur di hari senin. Tetapi tidak jadi masalah karena sudah menjadi keputusan sehingga harus dijalani dengan segenap hati.

#13 2023

August 11, 2023

Flu (11)

Hari ini saya izin untuk pulang lebih awal dari kampus karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk tetap mengikuti kegiatan rapat. Memang sudah beberapa hari ini kondisi badan saya sedang menurun ditambah lagi dengan flu yang berat sehingga berdampak pada badan yang lemas.

Kemarin saya sudah cek kesehatan di klinik kampus dan hasilnya lumayan bagus. tensi darah, cek kolestrol, dan cek gula menunjukkan angka yang masih tergolong normal. Meskipun demikian, tetap saja saya harus istirahat untuk memulihkan kondisi yang sedang drop.

Saya akhirnya pulang lebih awal dan langsung balik ke Jakarta. 

#11 2023

August 7, 2023

Bertamu ke KNEKS (7)

Hari ini saya berkunjung ke kantor ekonomi syariah Indonesia dalam rangka melengkapi data penlitian saya. Kantornya berada di gedung Juanda kementerian keuangan di daerah Jakarta Pusat. Dengan modal surat permohonan dari kampus, saya berangkat lebih pagi karena jarak dari rumah ke kantor KNEKS cukup jauh.

Saya tiba di depan kantor KNEKS sebelum jam 8 sehingga saya memilih untuk istirahat sejenak. Sekitar setengah 9, saya memutuskan masuk ke kantornya dengan berbagai prosedur yang dialami. Menang tidak terlalu ketat tetapi ketika hendak naik ke lt 17, saya harus mengikuti berbagai prosedur yang sudah ditetapkan.

Saya berdiri di depan ruangan KNEKS dan salah seorang bapak keluar menanyakan maksud kedatangan saya. Setelah dipersilahkan masuk ruangan, saya menemui pak Csr yang sebelumnya direkomendasikan oleh salah seorang narasumber saya di kementerian perdagangan.

Dia sedang asik mengobrol dengan salah seorang rekannya sebelum saya mengatakan akan bertemu dengannya. Dengan nada sedikit agak kaget, dia menghampiri saya dan yang keluar dari mulutnya hanya kalimat pendek:

"Kan kita belum janjian"

Dalam hati saya berguman: oke, berarti dia tidak mau saya temui meskipun saya melihat sendiri bahwa dia sedang tidak mengerjakan apa-apa. 

Saya berdalih hanya ingin menyampaikan surat permohonan data kemudian pamit dengan kesan yang amat sangat tidak enak dengan pegawai ekonomi syariah. 

Entah...

#7 2023

August 6, 2023

Hitam Putih (6)

Dua minggu lalu ketika saya dan dua kawan sedang diskusi terkait konten youtube yang akan kami tayangkan, ada hal yang membuat saya sedikit agak kaget dalam proses diskusi yang berlangsung. Kekagetan tersebut lebih pada sebuah ketidaksepahaman pandangan yang mendasar, bukan hanya tentang hal-hal metodologis.

Jadi begini, saat itu kami diskusi terkait proyeksi kebijakan luar negeri Indonesia yang dikaitkan dengan polarisasi kekuatan global antara AS dan Tiongkok. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa satu dekade terakhir, Tiongkok bertransformasi menjadi salah satu kekuatan global yang berani menggoyang hegemoni AS.

Saat diskusi berlangsung, salah seorang kawan menyatakan pendapatnya bahwa sikap Indonesia ke depan akan lebih cenderung tergantung kepada Tiongkok dengan berbagai landasan berpikir dan alasan yang dia berikan. Saya mengamini pandangannya dan tidak ada persoalan dengan apa yang dia maksud dalam hal ini kemungkinan Indonesia condong ke Tiongkok.

Tibalah saatnya giliran saya mengajukan argumen. Saya berpendapat bahwa Indonesia akan mengambil sikap lain yaitu berusaha untuk tidak tergantung kepada salah satu dari dua kekuatan global. Saya yakin bahwa Indonesia sudah punya pondasi yang kuat untuk tidak terlalu bergantung kepada negara lain.

Yang saya maksudkan tidak tergantung bukan tidak menerima utang atau bukan tidak melakukan kerja sama tetapi yang saya maksud tidak tergantung adalah tidak mengikuti kepentingan kekuatan global. 

Saya kaget dari respon kawan saya bahwa dia mengatakan saya terlalu naif dan normatif. Dia memaksa saya untuk memilih apakah Indonesia akan tergantung kepada AS atau Tiongkok. Perdebatan panjang terjadi dan saya tetap berpendirian bahwa pilihannya bukan dua saja tetapi Indonesia bisa memilih pilihan lain.

Setelah itu, dia tetap ngotot dan memandang saya terlalu normatif dalam menjawab pertanyaan. Pada akhirnya saya berpikir bahwa tidak ada gunanya melanjutkan diskusi yang dibatasi dalam konteks pilihan. Saya akhirnya diam dan tidak terlalu semangat melanjutkan diskusi.

Entah kenapa, saya selalu tidak sepakat dengan orang yang melihat dunia sosial sebagai pilihan hitam putih, padahal manusia punya banyak instrumen untuk menentukan pilihannya atau bahkan membuat pilihan sendiri.

Hal yang sama terjadi pada pemilu periode sebelumnya. Orang yang bersusaha netral dianggap normatif dan selalu dipaksa untuk memilih salah satu pilihan.

Aneh dan menjemukan. Lebih baik tinggalkan jika ada diskusi seperti itu. 

#6 2023

August 5, 2023

Masalah Keluarga (5)

Saya semakin meyakini bahwa setiap orang memiliki kesunyian masing-masing apalagi ketika memutuskan untuk berkeluarga. Masalah akan semakin besar dan tidak akan pernah sirna sehingga pernikahan adalah perjuangan seumur hidup untuk saling berkompromi antara dua insan manusia. Keluarga yang kita lihat bahagia belum tentu sebagaimana adanya, selalu ada riak-riak yang mengiringi perjalanan mereka.

Istri saya bercerita tentang saudara sepupunya yang sedang memiliki permasalahan dalam pernikahannya sementara dari luar, mereka adalah keluarga yang bahagia

#5 2023

August 4, 2023

Ibu dan Kedua Anaknya (4)

Saat tiba di pool Pasteur, travel berhenti beberapa menit sebagai prosedur untuk mengangkut penumpang yang naik dari pool Pasteur. Setelah beberapa saat, mobil travel belum juga berangkat sementara semua penumpang yang naik dari pool Pasteur sudah di atas mobil.

Saya melihat si sopir membuka pintu baris ketiga kemudian bertanya kepada salah seorang ibu dengan dua orang anaknya. Dia memastikan kepada si ibu berapa tiket yang dibeli. Si ibu menjawab bahwa dia membeli dua tiket karena anaknya yang satu masih berumur dua tahun dan masih bisa dipangku.

Si sopir sedikit komplain karena ada satu kursi yang kosong. Mendengar komplain sopir, si ibu dengan legowo mengatakan bahwa jika memang nantinya bermasalah, dia akan membayar lagi kursi yang kosong di sampingnya. Si ibu menambahkan bahwa setiap minggu dia pergi pulang Bandung-Jakarta dengan skema membeli dua tiket dan anak satunya dipangku tetapi tidak pernah bermasalah.

Setelah itu, si sopir menerima argumen si ibu dan segera menuju tempat duduk sopir. Mobil kemudian berjalan di tengah kemacetan kota Bandung menuju pintu masuk tol.

Setelah momen tersebut, saya baru sadar bahwa ternyata si sopir tersebut baru pertama kali saya lihat. Sejak tujuh bulan rutin menggunakan jasa travel ini, baru kali ini saya melihatnya. Sebelumnya saya sangat mengenali sopir jurusan Surapati menuju Lenteng Agung.

#4 2023

August 3, 2023

Mengambil Sikap (3)

Ini tentang friksi antar rekan yang tak jua kelar. Saya yang tidak mempunyai masalah apa-apa berusaha untuk keluar dari polarisasi pertemanan yang terjadi. Sekuat apapun mereka mau menarik saya ke salah satu kubu maka sekuat itu pula saya menegaskan pendirian saya bahwa saya tidak akan pernah ikut dalam alur perseteruan mereka.

Kemarin saat hendak pulang, saya diminta masuk di salah satu WAG dan saya tegaskan untuk tidak ikut. Dia tetap mendesak apa alasan saya kemudian dengan lugas saya katakan bahwa sebisa mungkin saya ingin menghindari gibah. Saya tahu bahwa di antara mereka, setiap kali terjadi percakapan yang hangat, pasti akan selalu menyerempet ke arah saling bergibah dan ini saya dengar langsung dengan kuping saya.

Entah, saya tidak sedang sok suci bahwa bebas dari pergibahan tetapi sepanjang perjalanan hidup yang sudah saya lewati, saya merefleksikan bahwa menceritakan orang lain di belakangnya membutuhkan energi yang banyak bahkan ketika selesai bergibah, ada perasaan tidak tenang dalam hati. Hal itu yang kemudian ingin saya hindari apalagi dengan umur saya yang sudah tidak mudah.

Mungkin klise karena sering sekali dikutip tetapi benar apa yang dikatakan oleh mantan diplomat AS, Eleanor Roosevelt bahwa:

"Orang besar membicarakan ide, orang biasa membicarakan peristiwa, dan orang kerdil membicarakan orang lain"

Saya rasa quotes tersebut sudah menjadi panduan bagi saya untuk terus merefleksikan apa yang sudah dijalani dan di mana posisi saya saat ini, apakah masih sebagai orang kerdil atau sudah beranjak untuk membicarakan ide.

Tidak berada di salah satu kelompok memang akan menjadikan saya seperti terasing dan tidak mau bergaul tetapi saya selalu yakin dan percaya keputusan yang sudah saya ambil. Pun nantinya hal-hal terburuk terjadi apa saya maka itu konsekuensi dari pilihan sadar yang sudah saya putuskan untuk tidak menceritakan keburukan orang lain.

Memang secara naluriah, seseorang suka menceritakan orang lain apalagi jika ada konflik di antara mereka dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk melihat diri ke dalam. Tidak terjebak pada hal-hal kecil yang membuat kedaulatan diri saya semakin berkurang. Saya yakin semesta punya berbagai cara untuk menunjukkan saya jalan yang akan mengantarkan saya ke titik yang ideal.

#3 2023

August 2, 2023

Membuktikan Diri (2)

Bulan juli menjadi salah satu bulan produktif saya mempublikasikan tulisan-tulisan saya di media. Saya juga sudah tidak ragu untuk membagikan ke publik ide-ide yang sudah saya tulisan sebagai salah satu usaha untuk mencitrakan diri sebagai orang yang "sedikit" bisa menulis. 

Dalam takaran tertentu, saya rasa perasaan untuk mencitrakan diri sebagai penulis, masih lumrah karena akan terus mendorong saya untuk produktif dan terus menulis ide-ide yang melintas di kepala, namun di lain pihak, saya mencoba untuk menahan diri jika sudah dalam tataran ingin membuktikan diri kepada orang lain.

Ukurannya ketika saya memposting status tulisan, saya selalu mengecek siapa saja yang sudah membaca tulisan saya dan itu sudah sedikit melebihi batas. Harusnya tidak perlu untuk peduli siapa yang sudah membaca selama tulisan sudah dimuat di media, maka akan menemukan segmennya tersendiri.

Menulis adalah cara berbicara dengan diri sendiri ketika ada ide yang tidak bisa diartikulasikan dengan baik kepada orang lain. Menulis juga semacam cara untuk sedikit menundukkan hati agar tidak terlalu terganggu dengan hal-hal di luar diri sendiri.

Selain itu, menulis juga menjadi sarana aktualisasi sendiri sehingga minimal ada sedikit karya yang bisa dihasilkan dari oleh pikir karena ketika mandek berpikir, maka hidup menjadi seperti robot. Hanya berjalan tanpa arah yang jelas.

#2 2023

August 1, 2023

Target Menulis (1)

Juli sudah berlalu dengan berbagai dinamikanya dan pasang surut mood yang tidak bisa dikontrol dengan baik. Di akhir Juli kemarin, mendengar kabar meninggalnya seorang kerabat di kampung juga tetangga dekat. Umurnya masih terbilang mudah sekitar 45 tahun tetapi begitulah namanya ajal, tidak pernah menjadikan waktu sebagai salah satu indikator untuk mendatangi manusia. 

Juli juga menjadi momen di mana produktivitas saya dalam menerbitkan tulisan di media sedikit meningkat. Jika bulan-bulan sebelumnya, praktis saya hanya bisa menerbitkan satu tulisan maka di bulan Juli, frekuensinya meningkat dan saya rasa ini salah satu pencapaian terbaik bagi saya dan juga menjadi tolok ukur di bulan berikutnya dalam hal meningkatkan produktivitas menulis.

Sekarang memasuki Agustus dan saya akan tetap memaksa diri saya untuk menulis apa saja, tidak terbatas pada bidang ilmu yang sedang saya geluti. Menulis akan menjadi salah satu prioritas dalam keseharian saya selain tentunya karena saya punya keinginan untuk menerbitkan buku antologi dari tulisan-tulisan saya yang sudah pernah terbit di media.

Salah satu media favorit saya tentunya Kumparan.com karena proses kurasinya tidak terlalu lama jadi ketika submit tulisan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya sudah mendapat konfirmasi terkait layak tidaknya tulisan saya diterbitkan. 

Sementara Detik.com pun salah satu media yang akan menjadi tujuan saya menerbitkan tulisan. Tentu karena saya sudah sedikit bisa menerka model tulisan yang diinginkan oleh redaktur Detik.com. Persoalannya cuma, kurasinya yang membutuhkan waktu dua minggu sehingga cukup lama menunggu kepastian tulisan layak diterbitkan atau tidak.

Selain kedua media di atas, saya juga sangat berhasrat untuk menerbitkan tulisan di beberapa media lain yang belum bisa saya tembus, entahlah media apapun itu.

Agustus benar-benar akan menjadi pertaruhan diri menyalurkan energi yang besar untuk menulis dan melakukan riset karena saya juga sedang dalam proses riset kecil-kecilan tentang pengembangan UMKM usaha Sablon di wilayah Surapati. Tujuannya untuk menerbitkan buka riset yang mungkin sedikit membantu publikasi UMKM tersebut.

Lets do the best, min...!

#1 2023

July 31, 2023

Kematian (31)

Kematian selalu menjadi pelajaran paling ampuh untuk menurunkan semua ambisi yang membuncah di dalam hati. Berita kematian membuat kita tersadar bahwa semua yang sedang dijalani hanya merupakan kilatan cahaya yang nantinya tiba-tiba hilang begitu saja. Apalagi jika berita kematian dari orang yang lumayan dekat dengan kita dalam perjalanan waktu di masa lampau.

Pagi ini saya mendengar kabar kematian dari salah seorang tetangga depan rumah yang masih keluarga. Dia adalah seorang polisi yang lama bertugas di Poso. Dia memiliki istri namun belum dikaruniai seorang anak. Memang dia sudah lama menderita sakit diabetes dan bertarung dengan hidupnya.

Selama berinteraksi dengannya, dia merupakan pribadi yang baik dan tidak pernah ingin bermasalah dengan orang lain termasuk juga pribadi yang sabar. Kepergiannya kembali memberikan pelajaran bahwa hidup ini hanyalah perjalanan yang sangat singkat. 

Saya seharusnya sudah bisa memproyeksikan apa saja yang harus saya lakukan di dalam hidup yang singkat ini tanpa menghabiskan waktu untuk menyesali masa yang sudah lampau dan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi.

Kepergian akan selalu datang dan kita tidak pernah tahu dengan pasti kapan giliran kita menyusul ke kehidupan yang abadi. Saya hanya berharap semoga saja hidup saya tidak menyusahkan orang lain khususnya keluarga saya dan sebagai suami, saya selalu berdoa kepada Sang Maha Pemilik Rezeki agar saya diberikan rezeki yang cukup sebagai wasilah untuk mencukupi rezeki anak istri saya.

#31 Juli 2023

July 28, 2023

Khawatir Rezeki (28)

Senin kemarin, seperti biasa saya kembali ke Bandung untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tetapi ada yang berbeda dengan bawaan saya karena saya membaca begitu banyak makanan dengan asumsi bahwa nanti mengurangi biaya makanan saya di Bandung.

Pada perjalanannya, ternyata ada banyak acara di kampus sehingga saya mendapat makanan dan tidak harus mengeluarkan biaya makan sementara makanan yang saya bawa dari rumah ternyata tidak habis juga.

Akhirnya saat pulang ke Jakarta di akhir pekan, saya membawa pulang makanan yang sebelumnya saya rencanakan untuk dimakan di Bandung, bahkan ada makanan yang expired karena tanggal layak konsumsinya sudah lewat.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih bijaksana dalam menyikapi rezeki bahwa jangan sesekali khawatir apa yang akan dimakan esok hari karena sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Maha Pemberi Makan. Kita hanya perlu berusaha tanpa harus khawatir secara berlebihan.

#28 2023

July 27, 2023

Pulang Lebih Awal (27)

Hari ini saya pulang lebih awal. Biasanya saya mudik di akhir pekan tetapi karena awal pekan depan saya sudah harus masuk kampus, maka saya memutuskan untuk pulang lebih awal.

Di sepanjang perjalanan, saya merefleksikan perjalanan hidup saya tentang apa saja yang saya lalui. Waktu saya cukup banyak untuk melakukan sesuatu yang produktif namun ternyata masih belum optimal karena manajemen waktu yang kacau

#27 2023

July 23, 2023

Evaluasi Diri (23)

Saya tertohok ketika mendengar potongan diskusi Sabrang di salah satu akun youtube. Dia menekankan jangan sesekali merendahkan orang lain karena setiap orang punya kebenaran masing-masing. Manusia sering memandang orang lain dengan simbol yang melekat. Jika pejabat maka mereka hormat tetapi jika manusia yang tidak punya simbol fungsional yang mereka hormati maka mereka akan merendahkannya. 

Saya selalu berusaha untuk tidak merendahkan orang lain termasuk juga saya berusaha untuk tidak inferior di depan orang yang dianggap memiliki simbol duniawi yang layak dihormati misalnya orang kaya atau orang berpangkat. Saya akan selalu menempatkan semua manusia sesuai fungsinya.

Beberapa hari ini, saya mencoba untuk mengevaluasi diri saya termasuk cara saya berinteraksi dengan orang lain. Fase kehidupan yang sedang saya jalani sekarang lebih banyak di kampus sehingga ada beberapa orang yang sering saya temui.

Salah satu dari mereka ada rekan saya yang mungkin sebagian orang menganggapnya sulit tertebak. Saya juga pernah beberapa kali mengalami pengalaman yang menurut saya tidak terlalu baik yaitu sudah janjian dengan waktu yang sudah disepakati namun molor.

Hal yang ingin saya evaluasi adalah cara saya berinteraksi dengannya beberapa hari ini yang terlalu banyak bercanda. Beberapa kejadian kemarin mengingatkan saya bahwa dia sebenarnya sangat perasa dan menilai orang lain. Dia mengingatkan saya untuk tetap berada pada batas-batas yang seharusnya. Ada potongan cerita yang kemudian menyadarkan saya bahwa, "oke, saya sudah melewati beberapa titik batas yang seharusnya."

Setelah ini, saya akan kembali ke titik awal untuk menjalin relasi secara profesional dan tidak terlalu bercanda yang mungkin hanya akan merusak relasi pertemanan.

Ingatkan saya, Ya Allah.


#23 2023

July 22, 2023

PkM (22)

Hari yang cukup melelahkan dengan berbagai aktivitas yang harus dijalankan. Seminggu yang lalu, saya dan salah seorang rekan sudah merencanakan pelaksanaan PkM di salah satu komunitas sablon daerah Surapati. Kegiatan ini salah satu bentuk manifestasi dari tugas utama sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi.

Tentu ini merupakan pengalaman pertama saya melaksanakan PkM karena tahun lalu belum bergabung di kampus. Meskipun pengalaman pertama tetapi pengalaman saat kuliah S1 mengadakan berbagai kegiatan di tengah masyarakat sehingga paling tidak ada gambaran di kepala saya seperti apa kegiatan ini akan berlangsung.

Sebelumnya dijadwalkan akan diadakan setelah dhuhur namun saat konfirmasi kepada ketua komunitas, dia menyarankan untuk diadakan di pagi agar peserta bisa hadir. Alhasil waktu pelaksanaan diundur ke pagi hari. Sebenarnya secara pragmatis juga menguntung saya karena siang hari saya bisa langsung pulang ke Jakarta.

Kami tiba di lokasi sekitar 10 menit sebelum acara dimulai kemudian mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Pelaksanaan mundur 30 menit karena peserta dari pelaku komunitas terlambat datang.

Meskipun dengan peserta yang sangat minim, tidak mencapai 10 orang namun saya rasa bahwa acaranya cukup sukses. Saya pribadi belum terlalu maksimal tetapi semoga ini merupakan perjalanan awal untuk mematangkan diri karena memang tidak bisa instan. Saya terlalu terlambat untuk terjun di bidang ini sehingga harus sabar menunggu kematangan diri.

#22 2023

July 20, 2023

Identitas (20)

Kemarin saya ikut pengajian Asep Rahmat. Ada salah satu kisah yang beliau ceritakan yang sangat berbekas di memori saya. Beliau berkisah bahwa di tahun 2012 saat melaksanakan umrah, beliau menyempatkan ke Yordania. Saat sedang berada di ruang tunggu bandara Yordania, beliau duduk tidak jauh dari 4 orang arab yang merupakan satu keluarga. suami, istri dan kedua anaknya. Pakaiannya lengkap selayaknya orang arab.

Layaknya orang Indonesia yang suka menyapa orang lain meskipun tidak dikenal, beliau menyapa si bapak dengan sapaan standar, menanyakan kabar dan asal dari mana. keluarga tersebut ternyata berasal dari Ramallah, salah satu daerah yang selalu membara dengan konflik.

Si bapak tersebut yang lengkap dengan jubah orang arab pada umumnya kemudia menebak asal ust. Asep "dari Kuala Lumpur ya?" tebaknya. Tidak, saya dari Indonesia.

Mendengar kata Indonesia, si bapak yang duduk sekitar 4 kursi dari ust. Asep langsung berdiri dan memeluknya sambil mengusap kepala ust. Asep. Salah satu budaya orang Arab yang menunjukkan keakraban dan rasa sayang adalah mengusap kepala.

Terucap kalimat terima kasih dari mulut si bapak Arab sambil berkata bahwa Indonesia sudah begitu banyak mebantu Palestine mulai dari membangun sekolah, rumah sakit, fasilitas lain serta bantuan lainnya. 

Sepersekian menit, terdengar panggilan untuk boarding tujuan ke Kuala Lumput karena keluarga tersebut hendak ke Kuala Lumpur. Salah seorang anak menghampiri mereka mengingat bahwa pesawat sudah sebentar lagi akan berangkat.

Si bapak kemudian pamit dan sekilas mata ust. Asep melihat istri si bapak yang dari tadi duduk membaca kemudian bangkit berdiri, dan di sinilah satu hal yang snagat berkesan. Saat berdiri, kalung salib besar yang dikenakan oleh istri si bapak keluar dari jubahnya. Ust Asep juga baru menyadari bahwa bapaknyang tadi memeluknya menggunakan salib tetapi lebih kecil.

Ust Asep kemudian menyadari bahwa simbol pakaian syar'i yang kita kenal di Indonesia sebenarnya bukan murni identitas Islam tetapi identitas Arab karena kaum Nasrani Arab juga memakai pakaian yanv persis sama dengan orang Islam sementara mayoritas orang Indonesia menganggap bahwa pakaian seperti itu merupakan identitas Islam.

Kisah ust Asep juga mngafirmasi penelitian saya tentang konflik Palestina Israel bahwa konflik tersebut bukan karena faktor agama. Keluarga tadi yang merupakan orang Palestine-Nasrani pun merasa terbantu dengan Indonesia dan juga merasakan dampak invasi dari Israel.

 #20 203

July 19, 2023

Tahun Baru Islam (19)

Saya sudah begitu lama tidak menyadark bahwa saya sebenarnya tidak hafal kalender hijriyah. Sesuatu yang menurut saya fatal karena Islam mencakup semua hal dalam hidup saya termasuk sebagai identitas saya.

Penanggalan Hijriyah dimulai pada zaman khalifah Umar bin Khattab. Jika kalender Masehi patokannya pergantian Matahari maka kalender Hijriyah berdasarkan pergantian bulan.

1. Muharram merupakan bulan pertama yang bermakna bahwa bulan yang diharamkan untuk berperang.

2 Safar

3. Rabiul Awal

4. Rabiul Akhir

5. Jumadil Awal

6. Jumadil Akhir

7. Rajab

8. Sya'ban

9. Ramadan

10. Syawal

11. Dzulkaidah

12. Dzulhijjah

#19 2023

July 15, 2023

Musibah (15)

Hari yang cukup melelahkan, baik fisik maupun psikis. Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia karena salah seorang keluarga melangsungkan pernikahannya di sebuah gedung daerah jalan Gatot Subroto. Saya sudah membayangkan bahwa acara akan berlangsung dengan sangat meriah dan dihadiri oleh tamu penting karena kedua mempelai bekerja di perusahaan yang bonafide.

Tetapi selalu adalah kejadian yang di luar kuasa kita dan itulah fungsinya doa. Siapa sangka bahwa acara yang sudah dibayangkan akan berlangsung dengan keceriaan, tiba-tiba berubah menjadi kepanikan sesaat setelah ijab kabul. 

Gedung terbakar di lantai 7 sementara acara pernikahan di gelar di lantai 5. Kebakaran cukup besar dan sebagian dinding luar gedung terbakar habis. 

#15 2023

July 11, 2023

Manusia (11)

"Cintailah orang yang engkau cintai, seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu. Bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak, dia akan menjadi orang yang kau cintai." (Ali bin Abi Thalib)

Seingat saya, dulu waktu masih duduk di sekolah dasar, salah satu pelajaran yang saya masih ingat sampai sekarang tentang pesan bahwa perang tersebut manusia adalah melawan diri sendiri. Sekian lama saya memikirkan maksud dari kalimat tersebut karena saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya melawan diri sendiri dan apa yang harus dilawan dalam diri.

Seiring berjalan waktu, saya semakin tidak percaya bahwa perang terbesar yaitu melawan diri sendiri karena saya melihat kenyataan bahwa ada sistem besar yang membuat manusia lain sengsara. Sekelompok orang yang memiliki otoritas bersekongkol dengan orang yang menguasai sumber daya kemudian membuat sebuah aturan yang semakin menyengsarakan rakyat kecil. Kenyataan yang saya saksikan membuat saya meyakini bahwa mereka adalah musuh besar yang seharusnya dilawan, bukan diri sendiri.

Perjalanan hidup saya kemudian berlanjut dan usia yang semakin menua kemudian memberikan pelajaran bahwa memang ternyata melawan diri adalah perang terbesar dalam hidup seorang manusia. Ada begitu banyak musuh besar dalam diri yang harus dikalahkan dan ditundukkan agar tidak merusak kehidupan ini.

Kita selalu berada dalam medan perang berkepanjangan. Lengah sedikit maka kita akan dihantam nafsu yang selalu siap menerkam. Sadar diri sepanjang waktu menjadi senjata paling ampuh meskipun pada dasarnya, jarang sekali manusia yang selalu berada dalam keadaan sadar. Itulah kenapa Tuhan memberikan beberapa instrumen untuk menambal kondisi tidak sadar seperti doa atau istighfar.

Ada cerita seorang alim di sebagian besar perjalanan hidupnya namun tergelincir di ujung nafas sehingga dia dikenang sebagai manusia yang merugi. Di lain cerita, ada juga manusia yang berada dalam keadaan tidak sadar namun di ujung hidupnya, dia menyadari diri hakikat hidupnya sehingga menjadi manusia yang beruntung.

#11 2023

July 10, 2023

Kebebasan (10)

Di atas mobil travel menuju Bandung ketika malam sudah sangat larut, saat itu mobil 344 baru saja keluar dari rest area untuk cek point dan kembali melaju di jalan tol yang dipadati kendaraan. Sambil mendengarkan lagu andalan dari sang legenda, Broery Marantika, saya memejamkan mata sambil merefleksikan kehidupan saya enam bulan terakhir sejak memutuskan untuk pindah kerja ke Bandung. Keputusan tersebut memaksa saya menjalani LDM sehingga saya harus menyiapkan energi yang berkali lipat untuk bolak balik Jakarta-Bandung setiap akhir pekan dengan catatan jika tidak ada tugas tambahan di hari Sabtu.

Keputusan yang tentu saja memiliki sisi positif dan negatif tetapi di tulisan ini, saya tidak ingin curhat apa saja hal positif maupun hal negatif dari keputusan yang sudah saya ambil. Saya hanya ingin membagikan satu sisi dari hasil refleksi saya tentang apa yang sedang saya jalani sekarang.

Kebebasan...!!!

Menikah seringkali dimaknai oleh sebagian pihak sebagai kondisi yang membuat seseorang merelakan kebebasannya berkurang. Menikah dianggap menawan kebebasan yang selama ini dimiliki oleh orang yang tidak/belum menikah. Saya pun dalam beberapa kali kesempatan merasa bahwa ada hal-hal tertentu atau banyak hal yang membuat kebebasan kita berkurang ketika sudah menikah karena ada komitmen yang dijaga. Kondisi seperti itu merupakan konsekuensi dari keputusan-keputusan hidup yang memang harus dijalani.

Bahkan mungkin ada orang yang memutuskan bercerai karena kaget atau belum bersedia untuk mengkompromikan kebebasannya dengan komitmen yang sudah diputuskan. Sah-sah saja karena setiap orang punya preferensi masing-masing dan memiliki kapasitas pribadi menjalani hidupnya. Meskipun saya yakin bahwa di sisi lain, mereka kehilangan sesuatu yang bermakna.

Benarkah menikah mengurangi kebebasan seseorang?

Nah ini yang menjadi tanda tanya besar. Saya yang hidup sendiri di Bandung dan menyewa sebuah kamar kos tanpa pengawasan dari istri, seharusnya memiliki kebebasan yang tak terbatas. Saya bisa pulang ke kos jam berapa pun saya mau dan bisa ke mana saja tanpa ada kewajiban pulang lebih awal. Toh saya tidak melakukan itu bahkan saya merasa sangat bosan hidup dengan kebebasan yang baru. Saya tetap pulang ke kos lebih awal dan menghabiskan banyak waktu di kos sambil mengeja waktu dan menunggu akhir pekan untuk kembali ke rumah.

Ternyata semua kebebasan yang saya miliki sekarang hanyalah ilusi. Saya tetap merindukan hidup dalam pengawasan istri dan  menikmati teguran istri ketika pulang larut malam ke rumah. Kebebasan hanya persoalan perspektif. Orang yang tidak diawasi oleh siapa-siapa belum tentu merasa bebas, pun demikian sebaliknya bahwa orang yang diawasi oleh orang tua atau pasangannya, bisa jadi merasa sangat bebas. 

Argumen saya tersebut diafirmasi dengan kenyataan bahwa semakin menua seseorang maka semakin kecil lingkaran pertemanannya. Entah dia menikah atau memilih untuk tidak menikah, maka saya yakin bahwa tetap saja lingkaran pertemanannya akan mengecil dan membatasi ruang geraknya untuk melakukan kebebasan yang absolut. Orang yang memilih untuk hidup tanpa menikah, akan mendambakan hidup yang dibatasi, entah dari istri atau dari orang tua. Persoalannya ketika umur semakin bertambah, orang tua tidak lagi membatasi seketat ketika memiliki pasangan.

Orang yang memilih bercerai atau meninggalkan rumah orang tua dengan dalih ingin bebas, maka saya yakin bahwa semakin tidak bebas perasaannya. Dia akan kembali merindukan hidup yang berada dalam pengawasan entah dari orang tua atau dari pasangan.

Itulah kenapa saya mempercayai bahwa kesendirian itu tidak semata bermakna kebebasan tetapi ada makna lain yaitu kesepian. Orang yang memilih menyendiri tidak serta merta dianggap sebagai orang yang bebas tetapi bisa saja dia berperang dengan kesepiannya.

Kutipan kalimat Socrates yang sudah sangat mainstream dijadikan pilihan kalimat untuk mengajak seseorang menikah:

By all means, marry. If you get a good wife, you’ll become happy; if you get a bad one, you’ll become a philosopher.

#10 2023

July 9, 2023

Kota ini (9)

Saya sudah beberapa bulan menetap di kota ini dan entah sampai kapan saya akan tinggal di sini. Saya pun tidak inging terlalu berangan-angan akan masa depan yang misterius. Saya hanya bisa menjalani setiap hari demi hari ini meneguhkan hidup sebagai sebuah perjalanan menuai semua hikmah yang bertebaran di bumi ini.

Di kota ini, saya merasa belum menemukan fase menikmati kota ini dengan segala dinamikanya. Masih ada rasa seperti ingin menemukan kota yang lebih sederhana dan tidak berjalan dengan terburu-buru. Saya menganggap bahwa hidup sebenarnya berjalan dengan segala seninya.

Entah mengapa, mungkin juga karena di kota ini saya hidup sendiri dan jauh dari keluarga. Tidak ada anak istri yang ditemui ketika pulang dari kantor selain rasa hampa yang ada di kamar kos dan beberapa buku yang bertebaran.

Hidup memang selalu tidak sesuai dengan harapan.

#9 2023

July 8, 2023

Diskusi Politik (8)

Malam ini sebagaimana rutinitas malam minggu sebelumnya, saya memiliki jadwal diskusi buku dengan teman-teman dari Makassar secara online. Biasanya menggunakan media zoom namun kali ini, salah seorang teman yang sering memfasilitasi media zoom sedang berhalangan sehingga kami memutuskan untuk menggunakan google meet. 

Hanya ada empat orang teman yang meluangkan waktu hadir di diskusi malam ini termasuk saya. Tidak ada yang bersedia untuk membagikan hasil bacaannya sehingga untuk memantik diskusi, saya terpaksa menshare hasil bacaan saya tentang Agama, Demokrasi, dan Politik Kekerasan yang ditulis oleh prof Haedar. Sebenarnya saya belum selesai membaca semua isi buku namun karena tidak ada yang bersedia maka setidaknya hasil bacaan saya yang masih sedikit bisa menstimulasi teman-teman yang hadir untuk diskusi tentang tema yang saya ajukan.

Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan prof Haedar di media Republika pasca reformasi sampai saat ini, sehingga di beberapa tulisan tersebut, nuansa situasi politik Indonesia era orde baru masih sangat terasa seperti bahasan tentang dwifungsi ABRI dan analisis tentang arah reformasi yang baru saja lahir. Selain itu juga, prof Haedar mengidentifikasi situasi politik pasca reformasi termasuk polarisasi di antara golongan di tengah masyarakat dalam menyikapi reformasi.

Diskusinya berjalan lancar namun teman-teman yang hadir menanggapi dengan pertanyaan, tidak dengan referensi yang lain, sementara saya berharap bahwa diskusinya berjalan dengan baik dan peserta yang lain memberikan informasi atau pandangan yang bisa memperkaya khasanah keilmuan tentang tema besar yang sedang didiskusikan.

salah seorang teman bahkan menanyakan kepada saya bahwa apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa dalam sistem demokrasi yang memungkinkan semua orang bisa menyuarakan pendapatnya.

Saya menanggapi bahwa sebagai warga negara, kita punya porsi yang berada di dalam jangkauan kita misalnya mengkritisi kebijakan publik dengan menawarkan solusi atau juga tanpa solusi namun bisa memetakan persoalan yang ada.

# 8 2023

July 7, 2023

Tentang Mengajar (7)

Ini tentang keputusan hidup untuk menjalani sebuah profesi yang berhubungan dengan orang lain. Artinya bahwa ada tanggung jawab lebih yang harus diemban dalam menjalani profesi ini. Jika ada hal yang keliru maka dampaknya cukup besar.

Saya memilih menjadi seorang pengajar dengan beberapa pertimbangan salah satunya agar saya bisa terus memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan diri. Tetapi di sisi yang lain, ada kekhawatiran jika dalam proses pengajaran yang saya lakukan, ada misinformasi yang saya sampaikan dan tentu itu sangat berpengaruh terhadap anak didik.

#7 2023

July 6, 2023

Engagement (6)

Saya tidak memiliki keluarga inti di kota ini namun tidak demikian dengan istri saya, sebagian besar keluarga intinya berada di kota ini sehingga seringkali ketika ada acara, maka kami pasti akan diundang. Salah satu persoalan dalam hidup ini memang tentang relasi antara keluarga. Sebagian besar masalah yang kita alami biasanya melibatkan keluarga.

Minimal ada empat sumber masalah dalam sebuah rumah tangga yaitu dari suami, dari istri, dari keluarga pihak suami, dan dari keluarga pihak istri. Keempat sumber timbulnya masalah tersebut biasanya datang tanpa diduga dan levelnya tentu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas pihak yang sedang menghadapi masalah tersebut.

Tentu selain menjadi sumber masalah, keluarga juga seringkali menjadi tempat pulang dan tempat untuk melepaskan semua masalah dalam pekerjaan. Keluarga yang baik adalah keluarga yang mendoakan dan mendukung satu sama lain tanpa memaksakan ambisi-ambisinya karena yang menjalani tentu masing-masing pihak.

***

Beberapa hari yang lalu, salah seorang saudara sepupu istri saya lamaran di sebuah saung. Kami datang agak pagi karena jarak rumah dengan lokasi lamaran cukup jauh yang membutuhkan waktu perjalanan sekitar sejam. Kami tiba sesaat sebelum acara dimulai dan beberapa keluarga sudah berkumpul di tempat acara. Kami disalami oleh orang tua calon mempelai dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami. 

Tidak ada cerita menarik dari acara lamaran tersebut karena semua berjalan dengan lancar. 

#6 2023

July 5, 2023

Grup WA (5)

Tadi saya izin ke salah satu grup wa untuk left grup. Saya sudah yakin bahwa keputusan saya tersebut akan menyisakan tanda tanya besar kepada para anggota grup wa karena tidak ada sebab yang jelas tiba-tiba saya keluar dari grup tetapi itulah keputusan saya untuk mengurangi potensi dan celah bergibah. Biasnaya semakin banyak grup wa maka akan semakin besar kemungkinan untuk membicarakan orang lain yang mungkin tidak sejalan.

Grup wa sekarang semacam tempat nongkrong yang butuh dikalibrasi karena tidak semua tempat nongkrong itu sehat. Ada tempat nongkrong yang memang perlu untuk dipertahankan tetapi ada juga yang seharusnya dilepaskan saja demi kesehatan mental.

Saya menyadari bahwa usia saya sudah tidak muda lagi dengan satu putra yang sudah beranjak besar maka saya sebagai seorang ayah harus mampu untuk menyehatkan mental saya demi kebaikan putra saya yang nantinya akan mendapatkan percikan dari semesta atas apa yang saya lakukan.

Saya ingat belasan tahun lalu ketika menempuh pendidikan S1, komunitas diskusi bertebaran di kampus dan kita tinggal memilih masuk di komunitas yang mana sesuai dengan preferensi masing-masing. Komunitas atau organisasi tersebut memiliki visi dan misi yang tentunya menjadi penunjuk arah jalannya organisasi.

Tidak jarang antar organisasi perang argumen dengan berbagai instrumennya termasuk debat dan melalui tulisan dan sesekali dibumbui argumen yang keras. Hasilnya, banyak mencetak mahasiswa yang kritis dan memiliki perspektif yang luas.

Perkembangan teknologi kemudian membuat disrupsi yang di luar dugaan. Grup wa seakan menjadi komunitas baru namun konten dan isinya hanya candaan dan gibah serta fitnah. Tidak ada lagi debat ilmiah dan diskusi mendalam tentang apa pun sehingga tidak sehat untuk perkembangan mental seseorang.

#5 2023

July 4, 2023

Family Gathering (4)

Semakin dewasa seseorang maka seharusnya semakin mampu untuk menakar dirinya masing-masing tanpa harus mengikuti apa yang diinginkan oleh orang lain. Jika usia semakin menua namun kita tidak mampu membentuk karakter kita sendiri yang sesuai dengan siapa kita sebenarnya maka kita masih akan terus terombang-ambing di jalan yang gelap.

Di sebuah acara family gathering, saya mencoba untuk tetap menjadi diri saya sendiri tanpa memaksakan untuk akrab dengan orang lain, tetapi juga tidak sombong tanpa menyapa rekan sejawat. Apa yang saya maksud dengan memaksakan adalah ingin terlihat akrab dengan semua orang padahal tidak membuat nyaman.

Pernah di suatu masa, saya selalu ingin terlihat akrab dengan orang lain meskipun saya merasa orang tersebut tidak terlalu nyambung dengan saya jika mengobrol sesuatu. Ini yang saya maksud dengan memaksakan, sementara ketika memang tidak bisa akrab, minimal saling kenal dan tidak ada masalah yang terjadi.

Itulah yang saya lakukan kemarin di acara kampus yang dihadiri oleh karyawan serta keluarganya masing-masing. Saya tetap menyapa semua orang tetapi tidak berusaha untuk sok akrab karena saya memahami diri saya bukan orang supel yang gampang akrab dengan orang lain. Saya orang yang hanya bisa akrab dengan beberapa orang yang sefrekuensi dengan saya dan bisa saya ajak obrol hal-hal yang lebih filosofis.

Mungkin terlalu memaksakan untuk cocoklogi namun sejalan dengan apa yang dilantunkan oleh Immanuel Kant "Sapere Aude", Beranilah berpikir sendiri. Bahwa relevansinya ada pada sikap pribadi yang berasal dari permenungan diri tanpa terbawa arus oleh lingkungan sekitar. 

Kita tidak mudah digoyahkan oleh siapa dan/atau apapun selama kita mempunyai pendirian yang kokoh dengan sikap yang kita ambil sendiri selama tidak mengganggu privasi orang lain.

#4 2023

July 3, 2023

Pangandaran (3)

Akhirnya tiba di Pangandaran dengan perjalanan yang cukup melelahkan. Semalam keberangkatan delay sekitar dua jam yang awalnya kami harus berangkat jam 12 malam diundar menjadi jam 2 malam. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa karena pemberitahuan diumumkan di wa grup sekitar jam 9 malam. 

Ada lima bis dengan jumlah orang sekitar 250. Saya sendiri berada di bis 4 dengan beberapa karyawan dan keluarga karyawan. Ini adalah perjalanan pertama saya mengikuti acara family gathering sejak bergabung di kampus ini. Tentu ini juga menjadi ajang mengenal seluruh karyawan karena selama ini, saya hanya mengenal muka dan sama sekali tidak mengenal nama.

Rombongan bis berangkat ke Pangandaran sekitar jam 2 dan perjalanan cukup lancar sebelum tiba di sebuah daerah. Saya lupa nama daerahnya namun seingat saya, itu sekitar jam setengah lima subuh. Menurut keterangan sopir bahwa ada kecelakaan sehingga macet sekitar satu jam. Akhirnya kami harus salat subuh di mobil.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dan baru tiba di daerah Pangandaran untuk sarapan sekitar jam 11. Perjalanan dilanjutkan ke Citumang untuk acara rafting. Saya memilih untuk tidak ikut karena tidak membawa perlengkapan. Sekitar jam 4 sore, kami kemudian ke hotel di dekat pantai.

Tidak ada acara di malam hari karena waktu sudah mepet dan semua orang sudah capek dengan perjalanan yang tidak sesuai dengan prediksi. Kami hanya makan malam di sebuah restoran kemudian kembali ke hotel untuk istirahat.

Malam pertama di Pangandaran merasakan hawa pantai yang tidak terlalu panas. Daerah ini sudah menjadi tujuan wisata sejak dulu namun menjadi sangat populer ketika dipromosikan oleh mantan menteri, ibu Susi Pujiastuti.

#3 2023

July 2, 2023

Kembali Pulang (2)

Biasanya saya balik ke Bandung hari Senin sore namun kali ini, saya harus balik hari Minggu siang karena ada hajatan kampus, family gathering, yang akan diadakan dua hari di daerah Pangandaran. Jarak dari Bandung ke Pangandaran cukup jauh sekitar tujuh jam sehingga kami harus berangkat malam hari.

Saya memesan travel dengan keberangkatan jam setengah 12 siang agar tiba di Bandung tidak terlalu sore. Perjalanan ke Bandung cukup lancar dan tiba di Surapati tepat waktu namun ternyata, siang menjelang sore di Bandung, hujan turun dengan cukup deras membuat saya harus menunggu beberapa saat untuk balik ke kos.

Sekitar 20 menit menunggu hujan reda, akhirnya saya memutuskan untuk memesan ojek online ketika hujan sudah mulai reda dan hanya sisa-sisa gerimis. Perjalanan ke kos lancar sebelum tiba di depan mall Trans. Tiba-tiba hujan turun dengan amat sangat deras dan angin kencang. Saya menyadari bahwa ada laptop di tas sehingga memutuskan untuk meminjam jas hujan abang ojek. Saya hanya menutupi tas dengan jas hujan kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kos yang sudah dekat.

Tiba di depan kos, hujan masih sangat deras. Saya basah kuyup dan sepatu yang awalnya saya akan gunakan untuk acara family gathering tidak bisa digunakan karena basah, untungnya laptop tidak basah. 

Setelah membereskan baju yang basah dan mandi, saya memilih istirahat karena malam hari harus berangkat ke Pangandaran dengan bis. Saya sudah membayangkan bahkan akan membutuhkan energi yang tidak sedikit untuk menempuh perjalanan dengan bis apalagi dengan kondisi jalan yang jauh dan berbelok-belok.

#3 2023

July 1, 2023

Start Again (1)

Sekarang sudah memasuki bulan Juli artinya semester kedua di tahun ini. Melewati semester satu seperti mengeja waktu demi waktu yang berlalu tak berbekas. Ada beberapa hal yang tercapai namun sebagian besar meleset karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik bahkan terkesan menganggap bahwa waktu akan mentoleransi kebiasaan menunda, namun sayangnya waktu sama sekali tidak berbaik hati untuk hal-hal yang sia-sia.

Saya membayangkan bahwa sebagian waktu saya terbuang karena terlalu banyak memegang hp yang tak punya tujuan sama sekali. Semua terbuang begitu saja dengan waktu yang saya miliki sementara saya memiliki segudang target yang harus segera saya cicil. Target tidak bisa dikerjakan sekaligus dan harus dilakukan secara persisten.

Profesi yang sedang saya geluti sekarang membutuhkan energi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Jika itu tidak dilakukan maka saya akan mengalami kegagalan dan semua hal yang nantinya akan membuat saya menyesal di kemudian hari. Konsistensi harus dilatih dengan baik dan teratur jika ingin mencapai level yang diinginkan karena tidak bisa terjadi dalam sehari.

Ada beberapa target-target jangka pendek yang ingin saya wujudkan namun sampai sekarang masih amburadul. Konsisten membaca, setiap hari menulis, tidak terlalu banyak tidur di malam hari dan beberapa target kecil untuk mendukung pengembangan diri saya termasuk juga bagaimana menguatkan karakter saya tanpa harus terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Menguatkan karakter bukan berarti tidak peduli namun lebih pada fokus untuk mencapai target dan tidak terdistraksi dengan gangguan di sekitar kita.

Juli ini akan menjadi perjuangan panjang dan berat untuk mengembalikan diri ke jalur yang benar. Juli ini juga akan menjadikan pembuktian apa saya mampu melawan kesenangan diri yang fana untuk sesuatu yang besar nantinya karena terus terang, saya punya bayangan di suatu waktu, saya menjadi seorang yang profesional di bidang saya dengan kemampuan yang mumpuni dan bisa bermanfaat kepada orang lain.

Saya amat sangat ingin menjadi pembaca yang baik dan benar serta konsisten setiap hari. Saya pun ingin menghasilkan karya tulisan baik artikel media, buku tentang keilmuan saya maupun tulisan-tulisan reflektif tentang kehidupan yang telah dan sedang saya jalani.

Juli, I am gonna prove you that I can.

#1 2023

June 30, 2023

Memaksimalkan Waktu (30)

Libur semester ini seharusnya bisa saya maksimalkan untuk lebih produktif lagi karena tidak terbagi dengan energi untuk mengajar dan mempersiapkan bahan ajar. Saya punya beberapa target untuk saya capai di libur semester kali ini antara lain menulis lebih banyak dan membaca lebih giat lagi.

Kalau tidak sekarang maka waktu saya akan semakin terkuras untuk hal-hal yang tidak berguna. 

#30 2023

June 29, 2023

Nuansa Lebaran (29)

Sedari kemarin, saya berusaha untuk merecall semua rasa yang pernah menyeruak dari sanubari setiap kali lebaran tiba. Ada semacam rasa tenang yang menyelimuti jiwa ketika mendengar lantunan takbir saat maghrib menjelang ketika esok hari lebaran tiba. Namun usaha saya untuk menemukan rasa itu sia-sia belaka. Saya tidak menemukan apa-apa meskipun semua masjid saling sahut-sahutan mengumandangkan takbir.

Saya mengingat semua momen masa kecil ketika lebaran datang dan tiba-tiba saja kedamaian menghampiri. Hampir di setiap momen lebaran saat masih di kampung selalu menghadirkan suka cita dan rasa tenang tiada tara. Berkumpul bersama keluarga dan melepaskan semua penat kehidupan yang tak kunjung usai.

Merantau benar-benar menghilangkan semua rasa tenang yang saya rasakan di masa lampau.

#29 2023

June 28, 2023

Idul Adha (28)

Hari ini saya melaksanakan idul Adha karena mengikuti keputusan Muhammadiyah. Tahun ini memang menjadi tahun yang kembali memaksa umat Muslim berbeda perayaan hari raya lebaran baik idul fitri maupun idul Adha. Setelah beberapa tahun penetapan hari raya lebaran antara Muhammadiyah dan NU bersamaan namun tahun ini kembali harus berbeda.

Saya tidak ingin masuk dalam ranah metodologi penentuan hari raya antara kedua kelompok terbesar di Indonesia tersebut, di samping karena saya sama sekali tidak memiliki ilmu tentang penentuan hari raya, saya juga merasa bahwa para ulama memiliki otoritas dan keilmuan yang memadai dalam hal penentuan hari raya sehingga sebagai umat yang kekurangan ilmu, saya merasa hanya perlu untuk mengikuti salah satu dari kedua kelompok tersebut.

Saya sejak lahir berada dalam kultur Muhammadiyah yang tulen bahkan hampir seluruh keluarga besar saya merupakan pengikut Muhammadiyah dan sebagian dari mereka menjadi orang penting dalam struktur organisasi Muhammadiyah sehingga praktis sejak kecil, saya mengikuti semua ketentuan yang disepakati oleh organisasi.

Sejak merantau ke Jawa, saya tidak terlalu saklek memegang kultur dalam Muhammadiyah sehingga dalam beberapa kesempatan, saya masih sering ikut tahlilal meskipun masih ada batasan yang saya tidak lakukan seperti makan daging yang disediakan ketika acara tahlilal. 

Di kampung saya, tahlilal orang meninggal hanya dilakukan maksimal tiga hari setelah hari meninggalnya bahkan ada yang hanya sehari. Selain itu, tidak ada hidangan daging ketika acara tahlilal. Acaranya hanya ceramah dan pembacaan al-Quran.

***

Hari ini, saya dan keluarga harus menempuh jarak sekitar sekian kilometer untuk salat idul Adha karena tidak ada masjid dekat rumah yang melaksanakan hari ini. Mayoritas mengikuti ketentuan pemerintah dan NU yang akan melaksanakan idul Adha esok hari. 

Kami memutuskan untuk salat di area parkiran kantor PP Muhammadiyah di daerah Menteng dekat Tugu Tani. Sekitar 45 menit dari rumah kami dengan mengendarai motor. Jarak yang lumayan jauh memaksa kami untuk berangkat lebih awal. Sekitar jam 5.15, kami sudah berangkat dari rumah.

Jalanan tidak terlalu padat karena masih pagi buta sehingga cukup lancar untuk sampai di area parkiran PP Muhammadiyah. Setiba di sana, jamaah belum terlalu ramai sehingga kami masih mendapat space di dekat mimbar. 

Jamaah baru berdatangan ketika pelaksanaan salat hendak dimulai sehingga jalanan depan kantor ditutup untuk digunakan para jamaah yang tidak mendapat tempat di area parkir. Saya lihat beberapa wartawan sedang menyiapkan peralatannya untuk meliput pelaksanaan salat idul Adha.

#28 2023

June 26, 2023

Bincang Tengah Malam (26)

Tulisan ini merupakan gabungan dari olah pikir teman-teman ketika diskusi tengah malam dan saya tidak mengklaim sebagai refleksi pribadi saya.

Jika ingin melepaskan semua bias dan merunut ke belakang, maka yang disebut sumber Islam itu hanya satu yaitu Nabi Muhammad SAW. Menguji rantai riwayat atau referensi untuk memastikan bahwa ini dari Nabi.

Jika potensi kecerdasan Ulama sudah dimaksimalkan di situ tetapi kita masih meragukan maka kemungkinan yang bermasalah di kita karena Ulama sudah benar-benar mengeluarkan semua energinya untuk meriwayatkan dengan murni yang disodorkan kepada umat.

Proses periwayatan hadits tidak dilakukan secara serampangan tetapi melalui berbagai dengan sangat ketat oleh para Perawi jadi kita sebagai umat yang lahir belakang dan tidak punya akses yang cukup maka kita harus percaya pada apa yang ditawarkan oleh para Ulama.

#26 2023

June 25, 2023

Intel (25)

Malam sebelumnya, saya dan salah seorang teman diskusi tentang sepak terjang CIA dalam berbagai peristiwa politik di suatu negara termasuk keterlibatan CIA dalam peristiwa pembantaian PKI tahun 1965.

Sehari setelahnya, saya menonton film berjudul "Kandahar" yang dibintangi oleh Gerard Butler yang berperan sebagai agen CIA di Timur Tengah. Film tersebut berkisah seorang agen CIA yang punya peran sangat signifikan untuk melakukan riset pada posisi strategis musuh yang kemudian akan dihancurkan dari jarak jauh.

Dalam perjalanannya, keberadaan agen CIA disadari oleh pihak Iran dan kemudian melakukan pengejaran.

Film tersebut juga menggambarkan bahwa Muslim di Timur Tengah bukan kelompok yang tunggal artinya mereka tergabung dalam fraksi yang berbeda dan seringkali saling perang satu dengan yang lain.

#25 2023

June 24, 2023

Memeriksa Ujian (24)

Malam ini saya bedagang memeriksa ujian akhir mahasiswa. Ini pertama kalinya saya harus menilai mahasiswa sementara saya masih merasa belum begitu maksimal dalam proses pengajaran bahkan saya masih mencari strategi pedagogi yang cocok untuk saya terapkan dan sesuai dengan karakter mahasiswa yang saya hadapi setiap hari. 

Memeriksa hasil ujian tidak terlalu rumit karena sudah ada kunci jawaban namun yang lebih sulit ketika proses penilaian akhir. Variabel nilai akhir tidak hanya ditentukan oleh ujian mahasiswa namun harus dilihat secara komprehensif baik dari segi sikap, keaktifan, penguasaan materi di kelas dan semua aspek yang mendukung perkembangan mahasiswa.


#24 2023

June 23, 2023

Perpisahan (23)

Hari ini ada seorang rekan dosen yang memutuskan untuk pindah ke kampus lain di Pamulang. Kami melakukan perpisahan sederhana dengan merayakan sambil menikmati kopi di kafe Cozy dekat dari kawasan Surapati. 

Perpisahan seperti ini biasanya meninggalkan perasaan sentimental namun saya pribadi sudah kebal dengan momen seperti perayaan perpisahan karena selama sebelas tahun berkarir di perusahaan, sudah sering kali saya berpisah dengan rekan kerja atau bahkan saya yang kemudian harus mutasi maupun harus resign.

Itulah kenapa saya merasa biasa saja saat perpisahan kembali terjadi meskipun tentu ada perasaan sedikit menyayangkan karena rekan saya yang akan pindah kampus merupakan duet di ruang dosen dan teman diskusi, meskipun sebenarnya saya baru mengenalnya enam bulan terakhir tetapi karena dia yang paling sering di ruangan jadi setiap hari, saya selalu berinteraksi dengannya.

Selain itu, saya juga masih memikirkan alasan utamanya pindah kampus ke Pamulang sementara keluarganya di sini tetapi dia selalu menjelaskan kepada saya bahwa dia ingin bekerja sesuai dengan kompetensi yang dimiliki sementara di kampus kami, belum dibuka jurusan yang sesuai dengan kompetensinya.

Apatahlagi dia juga terbilang baru bergabung di kampus ini karena praktis baru sekitar 1,5 tahun. waktu yang masih sangat singkat meskipun secara de facto, dia sudah lama mengajar di kampus ini bahkan ketika kampus ini masih berstatus sekolah tinggi.

***

Saya sudah berjanji bahwa perpisahan tidak akan melarutkan perasaan saya karena sudah seringkali saya lewati bahkan menurut saya bahwa perpisahan paling berat tentu ketika meninggalkan kampung halaman jadi ketika hanya perpisahan di lingkungan pekerjaan, maka saya anggap hanya sebagai dinamika dalam pekerjaan dan tidak terlalu berdampak signifikan terhadap hidup saya.

#23 2023

June 22, 2023

Mengenali Diri (22)

Tadi siang ada perpisahan salah seorang rekan yang pindah homebase. Lazimnya di sebuah acara formal perpisahan, orang yang akan pergi memberikan kesan dan pesan selama bekerja dalam berbagai hal termasuk dengan rekan sejawat. Demikian juga tadi teman yang sedang perpisahan, dia menceritakan awal bergabung dan kesan awal yang didapatkan di tempat ini.

Selain itu, dia juga menceritakan kesan semua rekan-rekan yang hadir tadi. Saya sebagai orang yang paling baru bergabung dan baru mengenalnya enam bulan terakhir, tentu tidak sebanyak kesan yang dia dapatkan dari rekan yang lain. Namun demikian, dia menceritakan awal kedatangan saya dan duduk di ruangan pertama kali. Dia awalnya menganggap bahwa saya pribadi yang jaga imej dan mungkin sedikit agak segan mendekati saya.

Entah kenapa, ketika mendengar kesan awal dia mengenal saya. Memori saya kemudian merecall semua ingat terhadap kesan orang lain ketika pertama kali bertemu dengan saya dan sebagian besar hampir sama bahwa saya dianggap jaga imej dan agak sangar, mungkin karena bawaan muka layaknya orang timur. Tetapi dari situlah, saya kemudian mencoba untuk mengenali diri saya sendiri dari kaca mata orang lain. 

#22 2023

June 21, 2023

Serenity (21)

Dalam fase kehidupan yang dijalani, biasa kondisi paling tidak mendukung seringkali membawa hikmah yang besar terhadap diri sendiri karena di momen seperti itu, kita merefleksikan banyak hal dan mengevaluasi diri sendiri. Sementara ketika kita berada di dalam zona nyaman yang semua terlihat baik-baik saja dan menyenangkan, maka seringkali manusia lalai untuk merefleksikan diri dan perjalanan hidupnya.

Kondisi ini yang sedang saya alami sekarang di tempat yang baru. Saya selalu merefleksikan apa hikmah dari fase perjalanan hidup yang sedang saya jalani di saat semua terlihat tidak berpihak dan tidak menyenangkan. Saya meyakini bahwa pasti ada sisi dari hidup saya yang sedang dikuatkan oleh semesta dengan iklim pekerjaan yang tidak kondusif.

Sejauh ini, saya merasa bahwa saya sedang dibimbing oleh semesta untuk memperkuat karakter saya di tengah kondisi kerja yang saling mengklaim kebenaran dan saya nampaknya selalu ditarik ke dalam setiap sisi yang berlawanan. Di satu sisi, saya merasa bahwa tidak ada kepentingan apa-apa yang saya harapkan termasuk juga saya tidak punya masalah terhadap mereka yang saling berkonfrontasi sehingga tidak seharusnya saya berada di dalam satu titik koordinat.

Di titik inilah, saya harus menguatkan karakter untuk tetap berada di jalan yang saya yakini yaitu bersikap netral dan menjalankan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya tanpa harus terganggu dengan opini dan pandangan dari siapa pun. 

Bukan pekerjaan mudah tentunya karena setiap hari harus berinteraksi dengan dua kubu yang berhadap-hadapan namun di situlah tantangan utamanya, bagaimana saya mampu menenangkan diri saya di tengah kondisi seperti ini. 

"Serenity"

Seperti judul pada blog ini, mungkin ini momen paling pas untuk menemukan kondisi serenity dalam hidup saya dengan menikmati hiruk pikuk di sekitar saya. Hiruk pikuk yang saling mengklaim sisi kebenaran dan merusak kohesi di antara mereka. Memang biasanya ketika kita mempunyai masalah dengan seseorang atau pihak lain, maka gibah terasa sangat menyenangkan karena kita berusaha mengklaim diri benar dibandingkan dengan oposisi kita.

Nah saya tidak ingin masuk dalam pertarungan kondisi yang terjadi. Saya ingin menghabiskan waktu dengan baik dan dengan dunia saya sendiri. Sesekali menyendiri di kopi shop sambil menikmati secangkir kopi panas dan merefleksikan kehidupan ini.

Apa yang bukan merupakan urusan saya tidak harus saya campuri karena hanya akan menambah beban berat di pikiran. Biasanya dalam kondisi seperti ini, kita akan selalu berada pada dua lingkaran yang akan selalu tarik menarik. Netral bukan pilihan yang mudah karena akan selalu dianggap tidak memiliki kelompok namun itu yang akan saya lakukan karena saya memahami bahwa hidup itu punya banyak pilihan dan bukan hanya hitam putih.

#21 2023

June 20, 2023

Memahami Keamanan (20)

Konon di Jerman, sangat mudah ditemui tempat yang terpampang tulisan "Gewalt ist die Waffe der Wache" yang mungkin secara sederhana dapat diartikan bahwa kekerasan merupakan senjata bagi si lemah. Selain kekerasan, orang lemah biasanya membangun aliansi untuk memvalidasi diri mereka menjadi kuat meskipun pada dasarnya sangat rapuh.

Zaman sekarang, sangat mudah menjumpai orang yang melakukan kekerasan terhadap orang lain karena merasa punya power dan dominasi sehingga dengan mudahnya mampu melakukan tindakan kekerasan fisik. Kemudian setelah apa yang diandalkan sudah hilang, maka dia hanya bisa tertunduk sambil menyesali tindakannya.

Beberapa bulan yang lalu, media nasional dihiasi dengan berita tentang salah seorang anak pejabat Bea Cukai yang dengan arogannya melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain dan merasa bahwa dia tidak akan bisa dihukum karena menyadarkan kekuatannya kepada bapaknya. Alhasil, bukan hanya dia harus harus mendekam di jeruji penjara namun ayahnya juga harus menginap di balik jeruji karena terbukti mengumpulkan kekayaannya melalui tindakan korupsi.

Jika di perusahaan kita bertemu dengan pimpinan yang kerjanya suka memarahi bawahan maka dapat dipastikan bahwa pimpinan tersebut tidak percaya terhadap kemampuan dirinya sehingga menutupi kelemahannya dengan cara marah. Hal yang sama ketika berada di dunia pendidikan, jika seorang pendidik tidak memberikan ruang diskusi kepada anak didik dan selalu mengedepankan sikap memerintah, dapat dipastikan bahwa si pendidik tidak percaya akan kemampuannya.

Lihatlah masyarakat US yang dibebaskan untuk memiliki senjata dan seringkali terjadi tindakan kekerasan menggunakan senjata. Mereka sebenarnya lemah sehingga menyandarkan kekuatan pada senjata yang dimiliki.

Orang yang merasa mempunyai power untuk melakukan tindakan apa saja terhadap orang lain, sebenarnya orang yang lemah. Orang yang paling kuat adalah mereka yang memiliki kekuataan namun memilih untuk diam dan tidak terlihat.

Wibawa tidak dibangun dengan cara mengancam dapat merupakan cerminan dari kemampuan kita untuk memperlakukan orang lain sesuai porsinya.

Dalam studi ilmu HI, Nicollo Machievelli dan Thomas Hobbes menjadi dua tokoh penting yang tidak berpendapat bahwa perang adalah hal yang wajar bagi negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya. 

#18 2023

June 19, 2023

Stop Belanja (19)

Setelah tadi siang sepatu yang saya beli datang dengan harga yang lumayan mahal, saya merasa bahwa sepatu saya sudah lebih dari cukup bahkan sepatu yang saya punya lumayan bagus dengan harga yang mahal untuk ukuran saya. Saya kemudian membayangkan bahwa lima sepatu yang saya punya tidak akan digunakan sesering mungkin dan mungkin hanya dua yang akan sering saya fungsikan. 

Sepatu saya tadi datang ketika saya sedang asik membaca buku E.F Schumacher tentang "Small is Beautiful." Dia seorang ahli statistik dan ekonomi keturunan Inggris-Jerman. Tulisannya secara umum menjelaskan tentang kritik terhadap sistem ekonomi modern yang dipopulerkan oleh bangsa barat. Menurutnya bahwa sistem tersebut akan menghabiskan sumber daya alam dan merusakan nilai-nilai kehidupan. Sistem ekonomi tersebut juga melegalisasi ketamakan dan nilai uang di atas segalanya. 

Buku ini pula menjelaskan beberapa hal tentang kenapa kemakmuran universal tidak mengarahkan kepada perdamaian, bagaimana pertumbuhan malah merusak alih-alih membangun dan energi nuklir akan sangat merusak alih-alih membangun. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa small is beautiful mengajak kita untuk mengerem diri dari keinginan-keinginan yang tidak terkontrol.

***

Setelah kemarin memutuskan untuk mengurangi ketergantungan terhadap media sosial dan gaddet, hari ini saya kemudian berpikir bahwa mungkin ini waktunya untuk berhenti belanja baju dan sepatu. Saya memiliki beberapa potong baju dan celana yang jarang sekali saya pakai dan hanya tersusun rapi di lemari jadi mungkin untuk beberapa waktu yang tidak bisa saya tentukan, saya memutuskan untuk stop belanja baju dan sepatu kecuali memang mendesak dan diperlukan untuk hal-hal diluar perkiraan.

Saya tidak sedang ingin hidup minimalis sesuai dengan salah satu buku populer yang terpajang di pintu masuk gramedia namun saya hanya ingin menerapkan pola hidup saya sendiri tentang bagaimana mengurangi keinginan yang tidak perlu. Hidup yang tidak terkontrol adalah hidup yang akan merusak diri sendiri.

Kenikmatan membeli hanya berada pada euforia menunggu barang datang kemudian membukanya namun setelah semua sudah dimiliki maka jarang sekali rasa itu tetap, seringkali menguap begitu saja dan kembali ke hal normal, kemudian parahnya akan membuka market place dan mencari barang-barang lain yang belum dimiliki.

#19 2023

June 18, 2023

Detoks Media Sosial (18)

Hari ini tepat pada hari minggu (18/6/23), saya memutuskan untuk menghapus aplikasi instagram dari hp saya dan menguninstall aplikasi youtube. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan saya pada hp yang selalu menghabiskan sebagian waktu saya setiap hari. Media sosial menjadi distraksi paling masif dalam beberapa target dan pekerjaan yang akhir-akhir ini harus saya selesaikan. Selalu ada pemakluman ketika akan membuka media sosial atau menonton youtube. 

Saya tidak tahu apakah saya benar-benar bisa bertahan lama untuk tidak lagi membuka kembali media sosial namun setidaknya saya menjalankan usaha untuk mengurangi kebiasaan dan kecanduan gadget. Youtube sendiri sudah tidak aktif di hp saya dan mungkin saya masih akan menonton youtube namun melalui laptop dan saya akan memilih video yang mendukung perkembangan diri saya.

Saya sadar bahwa seminggu ini akan menjadi pertarungan paling berat dalam mengurangi ketergantungan terhadap gadget, jika saya kalah di minggu ini maka usaha saya akan sia-sia namun jika bisa menahan diri dan mengalahkan nafsu membuka akun media sosial, mungkin saya akan berhasil ke depan. Saya akan berusaha mengganti kebiasaan memegang gadget dengan membaca dan menulis.

Saya sudah merasakan dampak negatif berkepanjangan akibat kecanduan gadget seperti tidak bisa fokus, pekerjaan tertunda, produktifitas menurun, dan berbagai target lain yang jauh dari sasaran. Saya juga seringkali merasa cemas dan ada perasaan FOMO sehingga selalu kembali ke media sosial. Selain itu, ada rasa iri terhadap apa yang ditampilkan orang lain di media sosial seperti kekayaan yang menipu. Otak seperti distimulasi sehingga ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain.

Usaha saya ini semacam detoksifikasi gadget untuk mengkonstruksi ulang kesenangan saya yang semula terhadap gadget dan akan saya usahakan mengganti dengan hal-hal yang lebih produktif seperti menulis dan membaca.

Detoks ini akan saya lakukan secara bertahap yaitu seminggu awal, saya akan bergelut dengan keinginan untuk membuka media sosial, kemudian akan saya lanjutkan tiga minggu berikutnya dan tiga bulan sampai akhirnya otak saya tidak berpikiran lagi terhadap media sosial.

Saya akan menulis kembali minggu depan atas progress saya melakukan detoks media sosial.

#18 2023

June 17, 2023

Mental Seorang Pendidik (17)

Mental merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh semua orang dalam kehidupan ini. Mental merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan batik dan watak manusia. Kondisi mental yang baik ketika seseorang mampu menguasai diri dan menjaga batin tetap tenang, normal, dan tenteram. Kondisi seperti ini yang akan menjadi pendukung bagi seseorang dalam menjalani profesinya dengan baik. Kondisi mental yang baik khususnya sangat dibutuhkan pada profesi yang berhubungan dengan orang lain karena feedback yang diterima secara langsung.

Pengajar sebagai salah satu profesi yang menuntut untuk berinteraksi dengan baik sehingga membutuhkan mental yang baik. Jika seseorang pengajar tidak memiliki mental yang baik maka ketika akan masuk ruangan dan berdiri di depan forum, maka mereka tidak bisa menyampaikan materi pelajaran. Tentu berdiri di depan forum dan menyampaikan materi membutuhkan mental yang kuat dan kondisi batin yang tenang dan normal sehingga apa yang sudah dipersiapkan bisa tersampaikan dengan baik.

Jika seorang pendidik baru melangkah masuk ruangan dan sudah menunduk dengan rasa tidak percaya diri, maka yakinlah bahwa kelas tidak akan berlangsung dengan baik. Selain itu, ketika dalam proses belajar dan tidak mampu menguasai kelas dengan baik maka kelas akan berakhir dengan gagal. Dalam proses pengajaran, seringkali terjadi dinamika kelas yang tidak diperhitungkan sebelumnya sehingga pengajar yang memiliki mental yang kuat selalu punya trik untuk mengendalikan kelas.

Adanya banyak sekali faktor yang menentukan mental yang kuat bagi seorang pengajar. Faktor pertama tentu saja persoalan waktu. Pengajar pemula dan yang sudah berpengalaman pasti memiliki mental yang berbeda karena pengajar pemula belum mempunyai gambaran kelas yang harus dihadapi dan belum memiliki pengalaman yang akan diterapkan sementara pengajar yang berpengalaman sudah memiliki berbagai tips untuk mengatasi kelas. 

Selain waktu, persiapan yang matang juga menjadi faktor penentu seorang pengajar untuk memiliki mental dalam mengajar. Jika tidak mempersiapkan materi dengan baik maka pengajar tidak akan mampu mengatasi kelas dengan baik.

Saya sebagai pengajar pemula sudah merasakan berbagai hal mengenai kondisi yang saya sebutkan di atas. Suatu waktu saya menyiapkan dengan baik kelas maka mental saya akan kuat untuk menghandle kelas namun ketika saya menyadari bahwa persiapan saya minim dan tidak yakin atas materi yang akan saya sampaikan maka biasanya kelas tidak berjalan sebagaimana harapan saya.

#17 2023

June 16, 2023

Mengawas (16)

Seminggu ini saya full mengawas ujian akhir. Kegiatan ini tidak terlalu menguras energi namun tetap saja harus dijalani dengan baik karena merupakan bagian dari proses pekerjaan yang sedang saya jalani. Sekecil apapun bentuk proses yang menjadi bagian dari kita harus dituntaskan dengan baik agar tidak menjadi beban.

Mayoritas soal UAS menggunakan model esai sehingga para mahasiswa memiliki porsi untuk mengelaborasi lebih jauh lagi terkait jawaban mereka. Pilihan ganda memang sangat tidak ideal bagi rumpun ilmu yang memerlukan analisis lebih mendalam.

Saya beberapa kali memandang mereka yang sedang serius melihat soal ujian yang ada di depannya. Memori saya berputar ke beberapa tahun silam ketika saya berada di posisi seperti mereka. Bagaimana saya menyangka bahwa menjadi pendidik, membuat soal kemudian mengawasi adalah hal yang mudah sementara mahasiswa yang harus pusing mengerjakan soal ujian. 

Pikiran semacam itu membuat saya merasa bahwa mungkin saya yang paling tersiksa karena harus diuji dengan soal-soal yang membuat otak harus bekerja lebih ekstra lagi. Sebuah proses panjang yang menjemukan sekaligus tidak menyenangkan.

Saat ini ketika waktu berputar dan peran saya berada di posisi yang berbeda, saya berpikir kembali bahwa menjadi mahasiswa dan hanya sekadar mengerjakan soal ujian adalah perkara mudah, jika tidak lulus maka mengulang di tahun depan tanpa harus memikirkan hal lain seperti evaluasi dan segala macam pekerjaan tambahan.

Bukan persoalan mudah untuk menyusun soal karena harus disesuaikan dengan banyak hal dan tidak bisa dikreasi seenak jidat. Kemudian mengawas pun juga membutuhkan mental karena harus benar-benar mengetahui peserta ujian yang melakukan kecurangan. Step terakhir yaitu evaluasi juga membutuhkan energi yang besar, tidak hanya sekadar memeriksa dan mencocokkan dengan jawaban yang benar. Setelah itu, menilai menjadi pekerjaan yang melibatkan perasaan.

Begitulah, semua manusia dengan profesinya memiliki porsi tanggung jawab masing-masing.

#16 2023

June 15, 2023

Perang (15)

Sangat sulit untuk membayangkan dunia tanpa peperangan karena sejarah manusia adalah sejarah tentang peperangan. Sejarah tersebut memberikan kita pesan bahwa peperangan akan selalu menjadi ancaman nyata bagi eksistensi manusia. Ancaman yang sebenarnya diciptakan sendiri oleh para elit untuk melanggengkan kekuasaannya. 

Terlalu jauh menarik ke masa perang dunia, cukup pada dua tahun terakhir maka kita tidak lagi kaget mendengar bahwa peperangan masih terus berlangsung antar sesama makhluk yang bernama manusia. Mereka saling membunuh untuk menancapkan eksistensi mereka di bumi ini sementara jalan lain sangat terbuka lebar. Tetapi begitulah adanya bahwa perang memang sesuatu yang nampaknya niscaya terhadap keberadaan manusia.

Dalam diskursus ilmu hubungan internasional, dikenal dua paradigma klasik dalam menganalisis politik internasional yaitu liberalisme dan realisme. paradigma terakhir menempatkan perang sebagai hal yang lumrah dan bisa ditempuh untuk mempertahankan eksistensi negara termasuk mencapai kepentingan nasional suatu negara. Dari hal tersebut, bisa tergambar bahwa memang perang menjadi salah satu metode manusia untuk mencapai kepentingannya apapun bentuknya.

Berita tentang perang selalu saja menghiasi pemberitaan kompas tentang kondisi global. Hari ini saya membaca dua berita yang sangat erat kaitannya dengan perang. Berita pertama dari perang Ukraina-Rusia yang tak kunjung diselesaikan oleh masing-masing pihak. Di berita tersebut disebutkan bahwa duta besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, mengklaim kekuatan Rusia mulai memudar. Klaim Vasyl berangkat dari pernyataan Vladimir Putin yang mengkhawatirkan serangan balik dari Ukraina.

Apakah klaim dari Vasyl dapat divalidasi bahwa kekuatan Rusia memang sudah memudar? Tentu masih sangat prematur karena begitulah tugas dari para elit negara yang sedang berkonflik. Mereka akan melakukan serangan wacana untuk mendeligitimasi lawannya meskipun kondisi di lapangan tidak demikian adanya.

Berita kedua tentang seperempat ekspor senjata Israel mengalir ke Arab khususnya Maroko, UEA, Sudan, dan Bahrain. Saya tidak kaget ketika membaca berita ini karena sebelumnya, saya mengangkat topik ini pada penelitian tesis saya. Normalisasi Israel dengan keempat negara Arab tersebut sudah saya paparkan secara detail di tesis saya bahwa hakekatnya, implikasi dari normalisasi tersebut salah satunya terkait perjanjian dagang dan bantuan.

Peningkatan ekspor senjata Israel ke Arab dikhawatirkan akan mempengaruhi geopolitik Timur Tengah karena kawasan ini merupakan kawasan paling rawan perang. Selain itu, secara logika sederhana bahwa Israel mengekspor senjata ke negara Arab tentunya memiliki kalkulasi bidang keamanan bahwa tidak mungkin keempat negara Arab tersebut akan menyerang balik Israel dengan senjata yang dibeli dari mereka, kemungkinan besar dalam konstelasi yang melibatkan Israel, negara-negara yang menerima senjata dari Israel akan membantu Israel.

Perang yang terus berlangsung karena hasrat dari para elit politik namun mayoritas korban berasal dari masyarakat sipil.

#15 2023

June 14, 2023

Hidup Ini Seimbang (14)

Kemarin siang, saya dan dua orang rekan berdiskusi tentang hidup di ruang dosen. Kami mendiskusikan apa saja sampai pada salah seorang dari rekan saya berkomentar bahwa hidup itu tidak seperti yang dipikirkan bahwa ketika kita baik kepada seorang, maka tidak secara otomatis orang tersebut akan berbuat baik yang sama kepada kita. Dia menganalogikan ketika kita baik kepada seekor Singa, bisa saja Singa tersebut malah akan menerkam kita.

Saya mengamini pernyataannya namun kemudian saya bantah bahwa hidup ini seimbang. pernyataannya benar bahwa tidak semua kebaikan yang dilakukan kepada seseorang akan berbalik kepada kita melalui orang tersebut namun percayalah bahwa  hidup ini seimbang. Kebaikan tersebut akan berbalik kepada kota dalam bentuk yang lain atau dari orang lain.

Saya khawatir bahwa pernyataannya tersebut akan mendorong kita untuk melihat hidup positivistik padahal hidup manusia tidak seperti itu adanya. Ketika kita bertukar kebaikan dengan orang lain maka kebaikan kita tidak berkurang tidak sama sama bertambah. Beda halnya ketika kita bertukar barang makan kuantitasnya akan tentang sama.

Seringkali kita mendengar petuah tentang gaji bahwa ketika kita mendapatkan gaji yang terlalu besar dari yang seharusnya kita dapatkan, maka sebagian gaji itu akan keluar dengan berbagai cara, entah kita sakit, keluarga sakit, ada kebutuhan lain dan kondisi apapun yang kemudian menyeimbangkan apa yang sudah kita dapatkan.

Demikian halnya ketika kita memperoleh gaji yang jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya kita dapatkan maka seringkali kita mendapatkan penyeimbang dari hal lain misalnya dimudahkan dalam berbagai urusan atau dimudahkan memperoleh pendapatan dari tempat lain.

Hidup seimbang bisa diartikan sebagai hidup yang sesuai porsinya seperti yang seharusnya kita jalani. Ketika lapar maka makanlah secukupnya, istirahat ketika capek, bertanggung jawab ketika diberi amanah dan berbagai hal lain yang harus dilakukan sebagaimana adanya.

Yusuf Qardhawi menjelaskan tentang kesimbangan yang diartikan Sebagai tawazun bahwa keseimbangan merujuk pada dua jalan atau dua arah yang saling berhadapan atau bertentangan di mana salah satu dari dua arah tadi tidak bisa berpengaruh dengan dirinya dan mengabaikan yang lain. 

Beberapa arti mengenai tawazun antara lain adil, istiqomah, kebaikan dan mencerminkan keamanan. Pada dasarnya, keseimbangan berarti menempatkan sesuatu sesuai porsinya tanpa melebihkan atau mengurangi karena ketika terjadi ketidakseimbangan, maka hidup ini akan mengalami gejolak.

Ada begitu banyak teori tentang tips agar hidup seimbang termasuk manajemen waktu yang baik dan dan menyesuaikan waktu yang sibuk dengan waktu istirahat namun dalam konteks ini, yang saya ingin katakan tentang hidup yang seimbang bukan tentang hidup yang diatur sedemikian rupa tetapi hidup seimbang yang terjadi secara alamiah. Jika ada yang hidup maka ada yang mati, jika ada yang sakit maka ada yang sembuh, jika ada kerusakan maka ada yang akan memperbaiki, dan semua keadaan yang berjalan beriringan.

Setelah memahami apa itu hidup seimbang, maka tugas kita sebagai manusia yang sadar tentu mengambil posisi pada posisi yang positif. Kita menjadi kelompok yang memperbaiki alih-alih merusak, kita menjadi pihak yang memberi dari pada terus menerus menerima dan berbagai posisi positif lainnya yang seringkali dihindari oleh orang banyak.

Apa yang kita dapatkan dari posisi yang kita ambil tentu akan menjadikan kita manusia seutuhnya yang tidak melihat hidup secara kalkulatif. Kita menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini bermanfaat kepada semua makhluk. Jika semua orang akan mengambil posisi positif maka hidup akan berjalan dengan baik-baik saja.

#14 2023