October 22, 2013

Ngawi

Tidak pernah sedikitpun dipikiranku bahwa aku akan menghabiskan sebagian cerita hidupku di kota ini, kota yang berada tepat di perbatasan jawa tengah dan jawa timur. semua berjalan sesuai rencana bumi mengantarkan sampai di kota ini terdampar dalam kesendirian menenun impian. kota yang lumayan kecil diantara kota-kota besar di pulau ini. terhimpit di tengah dan kadang tidak dikenal pun seringkali hanya menjadi persinggahan ketika orang lalu lalang dari kota pahlawan ke kota gudeg. yah begitulah kira-kira kota kecil yang sekarang menjadi tempatku merangkai semua cerita indah hidupku, meski tidak semua indah namun aku harus menuliskan sebagai cerita yang indah dan kelak akan kukenang di masaku.

                                                                 
dekat perumahan prandon
kota ngawi telah menjadi kotaku sejak 8 bulan terakhir. tempatku mengais rejeki demi sebuah impian yang tetap kujaga di setiap langkahku mengukir kota ini. mungkin saja banyak orang yang hanya singgah namun tidak buatku, kota ini telah menjadi tempat kedua yang terindah setelah kampungku. tak ada yang dapat kubenci dari kota ini karena semua melebur dalam cintaku, kutahu bahwa semua bumi adalah bumi Tuhan dan tidak masalah aku harus terdampar dimana karena dimanapun aku berada maka aku akan mencintai bumi itu karena bumi adalah satu.

dikota ini pula, aku menjumpai banyak perbedaan dengan kebiasaan di kampungku. setiap orang yang akan makan di warung-warung akan mempersilahkan orang di dekatnya meskipun kutahu bahwa itu adalah bentuk basa-basi bahkan ketika berpasasan atau sekedar lewat di kerumunan orang maka setiap orang akan menebar senyuman. itu adalah kebiasaan yang amat sangat mudah ditemui di kotaku yang baru ini. entah sampai kapan aku akan mengukir langkah di kkota ini namun yang pasti bahwa setiap hari yang kulalui disini akan menjadi hari bahagia buatku meski hanya sekedar potongan cerita hidupku.

October 20, 2013

Temanku

Harusnya sudah lama kutulis tentang kawan yang satu ini. pertemanan kami yang sudah lama membuatku jarang menulis tentangnya karena kuyakin bahwa tulisan hanyalah goresan yang kan dijadikan memori yang nantinya kan usang dan seringkali menjadi candaan. kusadar bahwa pertemanan kami tidak seperti memori masa lalu yang harus diabadikan dalam tulisan karena sejatinya pertemanan ini tidak akan pernah menjadi kenangan dan ini akan terus berlanjut hingga nantinya saat masa menggiring kami menjadi tua dan harus belajar menjadi bijak. tulisan ini pun tidak kumaksudkan untuk meninggalkan pertemanan kami dan mencampakkannya dalam barisan katakata yang hanya kan dikenang, tulisan ini hanyalah berusaha untuk membagi cerita tentang kawan yang satu ini karena darinya, banyak pelajaran yang membuatku semakin banyak membaca hikmah semesta.

Saya memanggilnya dengan nama yang pada umumnya dikenal, begitulah nama akrab yang disematkan orangtua kepadanya. pertama kali mendengar namanya, aku menerka bahwa mungkin saja orang tuanya adalah nu tulen yang kemudian mengagumi pendiri nu. entah salah atau benar namun yang pasti bahwa di pertengahan babak persahabatan kami, kutahu bahwa memang mereka adalah nu meskipun tidak fanatik, aku sendiri yang berasal dari keluarga yang mayoritas mengikuti kelompok yang lain namun sama sekali tidak mempermasalahkan itu dan begitupun kawan yang satu ini bahkan seingatku, kami tidak pernah sekalipun berdebat masalah perbedaan yang tidak esensial, peredebatan kami sering kali pada tataran sosial ekonomi.

Kembali ke kawan ini. tidak salah memang kalau orang tuanya memberinya namanya seperti yang dikenal orang dan yang kuyakin diiringi dengan berbagai macam ekspektasi dari orang tuanya karena pada kenyataannya, kawan ini memang sangat baik bahkan teramat baik. mungkin saja nama tersebut telah menjadi doa baginya. banyak sekali episode pertemanan kami yang menunjukkan kepadaku bahwa kawan yang satu ini memang orang baik. kepeduliannya terhadap semua temannya adalah salah sau tanda bahwa dia akan selalu berusaha bermakna bagi teman-temannya.

Dalam proses pertemanan kami, sebagaimana dengan interakksi manusia yang lain, kami juga seringkali berselisih paham namun itu tidak cukup melebarkan jarak pertemanan kami bahkan sebaliknya kami semakin dekat sampai sekarang. setelah mengarungi masa bersama di kampus selama 5 tahun, kami berpisah jarak dan meramu mimpi dengagn jalan kami sendiri namun lagi-lagi itu tidak jua menjadikan kami jauh. hingga saat ini, kawan yang benar-benar sering kuingata adalah kawan yang satu ini. aku bahkan selalu mencoba untuk menghubunginya hanya sekedar menanyakan kabarnya. aku mengiringi langkahnya menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan beribu doa yang kurangkai demi kemudahan perjalanannya menenun mimpi di kota sana.

(Bersambung)

Mereka Adalah Rindu yang Tertinggal

Mereka adalah rindu yang tertinggal.
 tertinggal dalam katakata,
tertinggal dalam airmata
bahkan dalam senda gurau.
tertinggal dalam semua kenangan.

mereka adalah rindu yang abadi,
melekat dalam raga
sampai semua rasa menjadi rasa mereka.

mereka adalah kasih yang tak terbagi
tak terbeli bahkan tak sanggup dinilai

mereka adalah cinta
cinta masa keecil
cinta tak berubah
cinta yang mendamaikan

mereka adalah mimpi
yang terbawa menjadi nyata
dalam setiap sinar rembulan

mereka adalah ragaku
yang terjaga
meski kadang terlupa

puisi yang tertinggal

suatu waktu di tahun 2013
kota ngawi

October 6, 2013

Karena Sedih itu Senyum yang Tertunda

tulisan ini sejatinya adalah titipan. Saat semua inspirasi menulisku menguap dimakan rutinitas kerja yang menggila, dia menitipkan tulisan ini yang kemudian membuatku linglung harus menulis apa tentang titipannya. Tak ingin mengecewakannya, aku pun berusaha meramu setiap memoriku tentang pengalaman sedih yang pernah kulalui dan semua pengetahuanku tentang sedih meski kutahu hasilnya sangat nihil. Ini mungkin hasil dari ramuan otakku yang amat sangat minim.

Hidup ini indah. Tanpa harus ada alasan kenapa ada hidup ini jika tidak karena hidup itu sendiri indah. Segenap semesta berjuang demi hidup dan mempertahankan hidup mereka karena mereka yakin hidup itu menyenangkan, kenapa setiap makhluk khawatir tentang mati? Karena hidup itu sendiri menyenangkan.

Begitulah hidup, ketika setiap orang mengatakan bahwa hidup itu sedih, kenapa semua orang mempertahankan hidupnya. Sedih hanyalah butiran debu yang akan diterbangkan oleh angin kesabaran dan pada waktunya akan tergantikan dengan kebahagiaan meskipun tanpa disadari dan tidak kasat mata bahwa sedih itu sendiri adalah kebahagiaan yang tersembunyi. Semesta menawarkan kesedihan bukan untuk diratapi namun untuk dipelajari.

Itulah hidup. Menjadi cerita dalam setiap perjalanan seorang karena kita hanyalah lakon dari kisah hidup. Kita bukanlah penentu mutlak meski kita bisa berusaha menjadi apa yang kita inginkan dan itu hanyalah usaha bukan yang determinan dan kalau sudah seperti itu maka yang patut kita lakukan adalah bagaimana mendamaikan diri dengan keadaan hidup kita.

Perhatikan bagaimana semua makhluk hidup mempertahankan hidupnya, bagaimana semua dari mereka menjalani hidup mereka dengan tawa yang selalu tersungging dari sudut bibir yang memerah. Hidup ini indah dari sudut pandang orang yang bersyukur tentang apa saja.bahkan ketika masalah harus hinggap di hidupnya maka tak jua mereduksi makna keindahan hidup itu. Indah itu tidak selalu berarti mudah dan tidak selalu harus menyenangkan. Keindahan itu adalah bagaimana kita memaknai dengan hati, amat relatif memang namun begitulah semua yang dikenal dengan sebutan keindahan.

October 5, 2013

Berkhidmat

Kupilih hidupku untuk berkhidmat kepada kedua orang tuaku. aku sekarang mengerti  bahwa hidupku adalah penghidmatan kepada keduanya tanpa harus meletakkan kebenaran di kepalaku. Aku tahu caranya berkhidmat kepadanya untuk saat itu, bukan harus di sampingnya untuk selalu bersamanya namun pengkhidmatanku kepada mereka untuk saat ini bagaimana membantunya meringankan tugasnya menyekolahkan adikku. Aku belum yakin ini jawaban dari Sang Maha Kuasa atau pun dari olah pikirku namun sejak aku menyelesaikan pendidikanku, aku terus saja berpikir akan kuarahkan kemana hidupku, disaat sebagian besar teman-temanku mengejar cita-citanya, aku bahkan menghabiskan waktuku berbulan-bulan hanya memikirkan hidupku akan kuarahkan kemana bahkan doa yang sering aku panjatkan adalah Ya, Rabb, ajarkan aku  tentang diriku dan hidupku.

Aku harus mampu menunjukkan kepada diriku bahwa hidupku tidak sia-sia dengan berkhidmat kepada orang tua. Mungkin saja semua penghidmatan berbeda dan aku juga mengerti seperti apa penghidmatan terhadap orang tuaku untuk sampai saat ini.

Mungkin sudah terlalu banyak kutulis tentang hidup,  tentang apa yang harus kujalani dan semua tentang idealisme kehidupan yang masih menumpuk dalam bentuk teori di benakku. aku bahkan tak sanggup memecahkan kepalaku untuk mempertaruhkan prinsipku dan kutahu itu tidak perlu kulakukan karena aku hanya butuh penghidmatan kepada orang tuaku.

Kalau saja bukan untuk bekalku di masa depan, sudah kuhentikan diriku yang masih selalu saja menulis tanpa melakukan apa-apa. Hidup yang terlalu banyak diceritakan bahkan sering menjadi hampa karena persoalan hidup adalah bergerak dan berbuat baik, tak ada satupun elemen dari semesta ini yang diam terpaku, semua bergerak sesuai dengan jalannya.

Semoga saja tidak berhenti pada tulisan yang sangat sederhana ini. aku selalu saja khawatir menuliskan setiap niatku karena seringkali hanya menjadi cerita yang tiada habis tanpa ada wujud nyatanya. Aku bahkan harus berkali-kali memarahi diriku yang terlalu banyak menulis namun tetap saja diam mematung memandangi niatku yang tertuang dalam setiap tulisanku. Aku sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi. Niatku bukanlah hanya sebatas tulisan yang kemudian akan menguap menjadi cerita ketika namun harus ada hasil dari semua ini setidaknya harus ada langkah kecil untuk memulainya.

Gadis

Dia bukanlah perempuan yang tahu tentang dunia kampus yang pernah kulalui, dia bahkan tidak tahu tentang semua idealisme yang pernah kupelajari di dunia kampus seperti kebanyakan teman perempuanku yang juga gandrung ikut berdemo namun dia juga punya idealisme sendiri.

W. sejatinya dia kukenal saat aku bergabung dengan GP sejak Desember. dia bukanlah perempuan yang terlalu mencolok bahkan dandan apa adanya. akupun tidak begitu mengenal keluarganya saat masih bersamanya di GP hanya yang kutahu dia mempunyai seorang kakak.

Tak harus kujelaskan kenapa sekarang aku semakin dekat dengannya., mengenal silsilah keluarganya dan bahkan sering berinteraksi dengan ibunya. awalnya begitu saja terjadi, entah memang kami harus dekat seperti ini atau seperti apa namun tak ada penjelasan yang detail tentang kebersamaan kami. yah, itulah W.

Dia tidaklah seperti teman-teman perempuanku semasa kuliah yang penuh pikiran-pikiran idealis. dia tidak terlalu paham tentang feminisme, tentang gender atau tentang teori-teori membingungkan yang sering aku pelajari semasa kuliah dulu. dia bukanlah perempuan yang semasa kuliahnya ikut dalam aksi jalanan dan berteriak lantang tentang keadilan sebab dia mengejewantahkan sendiri keadilan itu dalam dirinya tanpa harus tahu tetek bengek teori -teori tentang itu semua. dia bukanlah aktivis kampus yang seringkali kujumpai dulu semasa kuliah karena baginya, kuliah adalah belajar dan mengemban amanah dari ibunya. akupun tak yakin kalau dia sering ikut diskusi-diskusi kampus dahulu karena baginya diskusi hanyalah perbincangan teori yang tidak semua orang bisa merepresentasikan dalam hidupnya hanya dia sudah melakukannya dari hal yang remeh.

Kebersamaan kami jarang sekali dibumbui dengan diskusi-diskusi tentang teori seperti yang kulakukan ketika aku bersama dengan teman-temanku sejak kuliah dulu. nampaknya dunia kami saat kuliah dulu sangat berbeda jauh tapi tidak untuk belajar tentang hidup, yah tentang itu. seringkali ketika kami bersama dan bercerita tentang semua, kami hanya  bercerita tentang hal yang kecil tanpa harus berbicara tentang negara dan bagaimana memperjuangkan rakyat. bagi kami, bagaimana memulai semuanya dari hal yang kecil. kami hanya bercerita tentang kejujuran, tentang keikhlasan, berbagi sedikit dengan sesama dan semua yang mungkin dianggap orang sebagai hal yang remeh temeh.

Terkadang kebersamaan kami dipenuhi dengan selisih paham pada akhirnya, dia akan menangis di depanku yang kemudian aku ternyata tidak tega membuatnya mengucurkan air mata. akupun harus merangkulnya, membenamkan kepalanya di dalam dadaku kemudian menghapus air matanya dengan sweater kesayanganku yang kemudian akhirnya kuhibur dia dengan berbagai macam cara karena sedihnya tak harus abadi. dia berhak bahagia atas hidupnya dan tak harus selalu meratapi apa yang belum dimilikinya. dia begitu tulus.

Dia tegar, selalu saja perempuanku itu bercerita, tentang bagaimana ia sangat menyayangi ibunya yang single parent mulai dia menginjakkan kaki di bangku SMP dan hingga sekarang, niatnya adalah membantu ibunya dan setidaknya mengurangi bebannya tanpa harus lagi menyusahkan ibunya yang sudah susah payah selama 10 tahun membesarkannya dengan sendiri. gadis itu, lebih kuat dari baja namun disisi lain, dia bisa selembut kapas. semua masalah tak dihiraukannya, hingga akhirnya kami dipertemukan dan seringkali bertukar masalah.

Gadis ini selalu saja tampil apa adanya. hal yang terpenting dan sangat bernilai dari dirinya adalah kepeduliaannya kepada temannya. teman baginya adalah bahagianya dan dia akan sangat merasa bersalah ketika tidak bisa menyenangkan teman-temannya. persoalan hidup baginya adalah persoalan berbagi kebahagiaan dan berbagi kepedulian terhadap siapapun. aku tahu itu dari beberapa episode kebersamaan kami saat sedang menyusuri setiap sudut kota madiun. jangan heran ketika dompetnya dipenuhi dengan uang recehan, uang koin tersebut adalah buat semua pengamen, pengemis bahkan siapapun yang datang kepadanya mengulurkan tangan untuk meminta sedikit rejeki Tuhan darinya dan dengan tulusnya dia menyodorkan uang koin tersebut.

Aku tidak pernah sama sekali mendengar dia berteori tentang hidup, tidak sama sekali bahkan akulah yang sering mengeluarkan beribu kata tentang hidup meski kutahu dia lebih tahu bagaimana hidup itu sebenarnya karena baginya hidup bukan bagaimana banyaknya teori kebijaksaan yang dihapal namun baginya hidup adalah bertindak tanpa harus bercerita tentang semua itu.

Dia kadang menangis,  namun menangis bukan karena lemah namun air matanya sebagai penghapus atas keletihan dirinya menghabiskan hari-harinya menjalankan makna hidupnya dan penghidmatan yang tulus terhadap takdir semesta yang diembannya. dialah wanita yang sering kujuluki pesekku dan sekalipun begitu dia sama sekali tidak pernah marah.

Entahlah, terkadang kubaca kisah tentang semua insan yang sedang dimadu kasih, saat masih terbuai oleh asmara, mereka sedang menuliskan hal terindah diantara mereka bahkan tak ada satupun noda yang terlihat diantara pasangan mereka hingga sampai mereka ke jenjang yang sebenarnya dan terkuak semua hal yang terpendam diantara mereka bahkan hal yang paling indahpun seakan sirna. aku sama sekali tak menginginkan hal seperti itu, aku menulis tentang si pesek secara objektif bukan karena aku dan dia sedang dibuai asmara. semoga saja nantinya cerita kami tetap yang terindah meski aku belum tahu seperti apa akhir dari cerita kami.

Mereka Adalah Guru

Mungkin iseng saja kali ini, aku ingin menulis semua pengalamanku tentang guru yang kutemui di kota ini. Sekedar untuk mengabadikan mereka yang kelak suatu saat nanti akan kukenang karena sejatinya mereka telah masuk dalam cerita hidupku bahkan dalam proses pendalamanku tentang hidup bahkan tentang kearifan yang ditawarkan oleh mereka. 

Di kota ini, setiap hari aku harus berinteraksi dengan mereka dari berbagai karakter yang ada dan kutahu setiap karakter tersebut menyajikan berbagai macam hikmah yang harus kuambil. Semua yang nantinya akan kutulis tentang semua guru yang kujumpai murni dari sudut pandangku dan meski sedikit bercerita dari sisi negatif mereka,  bukan berarti aku menjelek-jelekkan mereka namun sekedar menulis dari apa yang aku lihat dan rasakan.

here they are....!
Pak Ha*i S***nto ( Kepala Sekolah SMPN 1 Ngawi )
Beliau salah satu guru yang pertama kali kukenal. Masih segar dalam ingatanku ketika pertama kali menginjakkan kakiku di kota ini. Saat itu, bosku memberikan briefing bahwa ada beberapa sekolah pareto yang harus kukunjungi dan salah satu dari sekolah tersebut adalah SMPN 1 Ngawi alhasil, di hari-hari pertama aku berkunjung ke sekolah, aku lantas mengunjungi SMPN 1 Ngawi dan bertemu dengan beliau.  

Kesan pertama yang kurasakan dari beliau adalah friendly dan dengan semangatnya bercerita tentang banyak hal. Beliau bertutur panjang masalah politik ekonomi bahkan ketidaksukaannya terhadap Mahfud MD. Alasannya sangat tendensius karena Mahfud lah yang mengusulkan penghapusan sekolah RSBI dan SMPN 1 Ngawi terkena imbasnya, alhasil dana yang sangat besar ketika masih berstatus RSBI sekarang tidak ada lagi bahkan  berbagai aturan yang kaku mengikat sekolah tersebut saat RSBI dihapuskan dan inilah yang menjadi alasan utama Beliau kurang sepakat dengan Mahfud. Aku juga beberapa kali berkunjung ke rumahnya yang terletak di jalan lorong Ahmad Yani. isterinya juga adalah kepala sekolah karang tengah. beliau hanya mempunyai 2 anak yang semuanya telah berkeluarga dan berstatus PNS.

Pak K**no (Mantan direktur RSBI SMPN 1 Ngawi sekarang mutasi ke SMPN 5 )
Guru ini termasuk salah satu guru yang sangat tegas. aku bahkan harus mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya kemudian menimpali. beliau adalah orang yang amat sangat dipercaya oleh pak Hadi sebagai kaki tangannya. banyak guru maupun siswa yang respek terhadap beliau. sama seperti pak hadi, aku pun sudah sering bertandang ke rumahnya. beliau berbeda selera dengan pak hadi ketika bercerita, beliau lebih suka memberi motivasi dan sekali bercanda. isterinya juga seorang guru di SMPN 2 ngawi yang nantinya juga akan kucereitakan di sini. beliau punya anak 2, salah satu diantaranya sudah berkeluarga.

Pak Su**rto (guru MM)
Tidak banyak yang mungkin bisa kucerita tentang beliau selain karena beliau satu ruangan dengan pak k**no yang membuatku seringkali bertemu ketika liputan di SMPN 1 ngawi. namun meski demikian, aku juga sudah beberapa kali bertandang ke rumahnya yang terletak di dempel.

Pak P**no(KTU)
orang yang menerima setiap kiriman buku

Ibu Nur**ti(Guru English)
salah satu guru yang pertama kali kukunjungi rumahnya

Ibu Wal**i (Perpustakaan)
lumayan friendly dan membuatku betah berlama-lama di perpustakaan

Ibu L*s(Guru IPA)
baru akhir-akhir ini kukenal di kopsis

Ibu Art**i( guru IPA)
Isteri dari pak am*r, guru sma 2 ngawi. beliau pernah berkunjung ke kantor dan akupun sudah dua kali berkkunjung ke rumahnya yang terleltak di perumahan karang asri

Pak Sud**man (guru Fisika)
Orangnya lumayan kalem dan sedikit bicara. asli boyolali. aku pernah sekali bertandang ke rumahnya di perumahan.

Mas M*ri dan Mas Fe*y (Security sekolah)
Mereka seringkali menyambutku dengan ramah ketika tiba di gerbang SMPN 1 Ngawi

Pak Ach**d T (Kepala Sekolah SMPN 2 Ngawi)
Beliau tinggal di depan stasiun kereta api kedunggalar. rumahnya lumayan besar. salah satu kepala sekolah senior di kota ini dan lumayan dihormati karena memimpin SMPN 2 Ngawi yang terkenal sebagai SMPN terbesar di sini. seingatku, aku hanya beberapa kali berinteraksi dengan beliau termasuk ketika aku berkunjung ke rumahnya. beliau sebentar lagi akan purna tepatnya bulan november. aku bahkan belum bisa menilai kepribadiaan beliau karena kurangnya intensitas berkomunikasi dengannya.

Pak Si*ik W.(Guru IPS)
Beliau adalah guru yang juga pertama kali kukenal di kota ini. orangnya tinggi besar dan lumayan ramah. rumahnya terletak di jl Ahmad Dahlan. aku bahkan seringkali ke rumahnya meski hanya sekedar duduk kemudian pulang bahkan ketika aku penat melakukan liputan, seringkkali aku ke rumahnya dan tidur di teras rumahnya. isterinya sedang menempuh S3 di UK dan semua anak-anaknya sementara kuliah. dia mempunyai 1 motor vixion merah dan satu mobil. awalnya kukenal beliau bahwa dia tidak terlalu mengejar laba meski pada akhirnya harus kuralat pikirankku itu setelah beberapa hari ini beliau datang di kantor dan menanyakan yang fee untuk sekolah.

Pak B*di (Guru MM)
Beliau bukan asli dari kota ini namun berasal dari klaten. beliau mempunyai 2 rumah yang terletak di kedungprahu dan perumahan prandon. kedua rumahnya pernah kukunjungi. isterinya membuka usaha salon di rumah yang terletak di kedungprahu. awal berada di sini, aku keliru memberinya rabat yang pada akhirnya harus kuakali supaya beliau tidak marah. sekali waktu saat beliau order, barang yang diorder tak kunjung datang membuatku harus ke surabaya siang mengambil barang tersebut dan sorenya langsung balik ke kota ini.

Pak Bu*i (guru English)
orangnya lumayan kalem dan friendly. di umurnya yang ke 44 thn, dia belum jua menikah, aku sendiri tak tahu alasannya kenapa dia memilih membujang di umur yang seperti ini. di menyewa rumah di belakang perpustakaan daerah yang juga dekat dari sekolah tempat beliau mengajar.

Pak N*r (guru BIN)
beliau adalah salah satu guru senior di SMPN 2 ngawi dan sangat dekat dengan pak si*ik. aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya di desa cermei, Paron. beliau order begitu banyak pesanan namun ternyata tidak dipakai alhasil returku membengkak.

Pak Ma**ix (guru english)
Beliau kelihatan masih mudah. beliau yang mengumpulkan guru english dan order. rumahnya di grudo jalan pintas dari kota ke kantor

Ibu Ni**ng (guru PPkN)
seperti yang kuceritakan sebelumnya, beliau adalah isteri dari pak ka*no
Nb. beberapa tahun setelah saya pindah ke kota lain, saya mendengar kabar bahwa beliau meninggal karena kecelakaan lalu lintas di perempatan jalan dengan terminal. beliau hendak menuju sekolah untuk mengawas ujian.

Ibu E*y (Guru BIN)
beliau adalah guru BIN. isteri dari kepala sekolah SMPN 2 Paron. meski orangnya ramah ketika berinteraksi namun dia sama sekali tidak berusaha untuk membantuku sehingga buku BIN banyak yang retur

Ibu Ya*uk (guru IPA)
beliau bersaudara dengan salaah satu guru bhs inggris SMPN 4 ngawi. rumahnya terletak di perumahan prandon namun aku belum pernah bertandang ke sana. orangnya tidak berjilbab dengan potongan rambut yang sampai leher

ibu Fa**mah (guru IPA)
sama seperti ibu ya*uk, namun guru yang satu ini lumayan disegani oleh murid-muridnya dengan penampilan yang kelihatan garang. aku pernah sekali ke rumahnya namun tidak bertemu dengannya karena saat itu dia mantenan di rumah tetangga

Ibu Lu**k (guru english)
Ibu ini yang amat sangat friendly. aku paling betah berlama-lama bergosip dengan ibu ini. dengan perawakan yang gemuk dan muka yang selalu ceria membuatnya kelihatan ramah ditambah dengan senyuman yang selalu mengembang dari bibirnya

Ibu N*r (guru Biologi)
seingatku, akua sudah dua kali bertandang ke rumah ibu ini yang juga terletak di perumahan prandon. aku tidak tahu banyak tentangnya namun yang jelas dia amat ramah dan lumayan asyik diajak ngobrol

Ibu di*u (guru IPS)
ibu ini termasuk pula guru senior. aku baru sekali bertemu dengannya di aula sekolah kala itu aku akan mudik ke sulawesi. dia kelihatannya amat ramah karena pertama kali bertemu dengannya, dia sudah menceritakan banyak hal termasuk anaknya yg bekerja di makasssar

Ibu Sri mur*i (guru IPS)
Ibu ini lumayan garnag juga namun aku agak jarang berinteraksi dengannya, hanya beberapa kali saja itupun dnegan pembicaraan yang seperlunya saja.

Mas Wa*yu (keamanan sekolah)
Mas ini amat sangat low profile. terlihat dari wajahnya yang teduh, seringpula menjadi teman curhatku ketika penat berkeliling ke setiap sekolah. dia bahkan tidak pernah mengeluh meski dia baru sukuan di SMPN 2 Ngawi.

Pak D**to (KS SMPN 4 Ngawi )
Seingatku, baru 3 kali aku bersua dengannya dan dua diantaranya di rumahnya yang terletak di jl. Branjangan depan  BRI  kota ini. aku betah berlama-lama mengobrol dengannya karena dia amat friendly dan mendengarkan setiap apa yang aku sampaikan. wajahnya meneduhkan.

Pak pr**no
Guru yang satu ini rumahnya amat lumayan jauh. meeski begitu, aku harus sering ke rumahnya karena dia adalah salah satu DMU di sekolahnya alhasil jarak ke rumahnya selalu kutempuh setiap sore. dia hanya memiliki satu putra yang baru duduk di bangku SD.

Pak mud**ar
Aku kurang bisa mendiskripsikan bapak yang satu ini. dia baik dan sudah dua kali aku berkunjung ke rumahnya namun kita harus ingat semua janji kepadanya karena dia ingat akan janji-janji.rumahnya terletak di tungkul rejo kecamatan padas melalui jalan tengah sawah

Ibu S*i Wa**uni (Guru English)
Nah, ini dia ini ibu yang akhir-akhir ini sangat ramah kepadaku. setiap kali aku berkunjung ke rumahnya,  pasti disuguhi sesuatu. aku merasa tidak canggung ketika berhadapan dengan ibu y ang satu ini, bahkan seringkali kami berdua bercanda ria ketika bertemu baik di sekolah maupun di rumah

Ibu a*ti(Guru BIN)
Ibu ini sangat ramah denganku. aku masih berutang janji padanya yaitu payung namun berhubung dari perusahaan belum ada jadi aku belum sempat memberikan kepadanya.

Pak j*ko(guru Fisika)
aku amat sangat jarang berinteraksi dengan bapak ini namun kelihatannya dia lumayan baik dan tidak terlalu memusingkan sesuatu hal.

Pak R**diyanto KS(SMPN 5 Ngawi)
bapak ini dari awal sering kukunjungi rumahnya namun makin kesini aku semakin jarang berkunjung ke rumahnya.rumahnya terletak di jrubong.

Pak Ban*riyo
Awal mengenal beliau, saya agak sulit berkomunikasi dengannya karena terkadang ketika aku mencoba mencairkan suasana pembicaraan, selalu saja tidak berhasil karena dia hanya menempali dengan mukatarnya sambil memperhatikan gerik gerikku, namun itu tidak lama, semenjak aku sering bertandang ke rumahnya, aku tahu bahwa dia ikut muhammadiyah dan kuceritakan semua yang kutahu tentang Muhammadiyah dan kuceritakan bahwa keluarga besarku adalah muhammadiyah. sejak saat itu, pembicaraan kami sudah agak cair. sekarang beliau sedang menunaikan ibadah Haji. semoga saja ibadah Haji beliau diterima oelh Allah SWT dan beliau digolongkan kedalam Haji yang Mabrur. Amiiin...!!!!

Pak j*rot
Kesan pertama yang kulihat dari wajahnya adalah dia orang yang tegas. awalnya aku agak ragu untuk mencoba mengobrol banyak dengannya namun karena tugasku sebagai marketing mengharuskanku untuk berbicara apa saja kepada semua guru. beberapa kali aku  berkunjung ke rumahnya dan kuyakin bahwa dia orang yang baik. apatahlagi isterinya ayu dan anaknya yang masih kelas 2 SMA, semakin betahlah aku berlama-lama di rumahnya ketika berkunjung. hehehe.
Rumahnya terletak di karangasri jalan menuju Bojonegoro

Pak An**ai
Beliau ternyata orang sulawesi barat. dari pertama dia tahu bahwa aku dari sulawesi, dia begitu dekat denganku sampai akhirnya aku sangat sering ke rumahnya hanya memastikan dia sehat-sehat saja bahkan saat bulan Ramadhan, aku diundang buka di rumahnya. sekarang beliau telah pensiun dan aktif mengajar di SDIT.

Ibu He*i Pr**iwi (Guru IPA)
aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan beliau, hanya saja awal aku disini. dia isteri seorang polisi dan tinggal dekat dari kantor. hanya wajahnya yang cantik meskipun sudah paruh baya membuatku masih sering mengunjunginya,,hehe. yang ini hanya bercanda, aku sering mengunjunginya karena beliau berjanji ingin order buku dari saya meskipun sampai sekarang belum ada orderan darinya.

Ibu kr**tiana ( guru BIN)
Ibu inilah yang paling jarang berinteraksi dengannya. saat bertamu dan kutanyakan hal ihwal pembelian buku, dia selalu berkata silahkan tanya pak jarot dan saya akan manut sama beliau.

Pak L*luk (KS SMPN 1 Paron)
Beliau sedikkit kalem. aku bahkan harus berusaha mengunjungi rumahnya berkali-kali untuk mencairkan suasana saat mengobrol namun sampai sekarang, aku masih canggung ketika berhadapan dengannya bukan karena segan ataupun takut namun setiap kali kkupancing pembicaraan dengannya, aku merasa tak ada satupun segmen pembicaraanku yang berhasil memancing dirinya untuk menikmati oborolan kami. dia hanya menimpali satu dua kata. beliau tinggal di perumahan prandon.

Pak Irw**to (Guru MM sekaligus kurikulum SMPN 2 Paron)
Pertama kali aku bertemu beliau, aku merasa canggung karena lumayan tertutup dan hanya sekali mengulum senyum saat aku berusaha becanda namun saat dia mulai menanyakan asalku, aku dengan dengan jujur menceritakan semua tentang masa kecil walhasil dan mungkin ini yang disebut takdir semesta, ternyata beliau pertama kali diangkat sebagai guru di kampungku, saat itu aku masih sanagt kecil. beruntungnya lagi, beliau sangat terkesan dengan kampung saat masa tugasnya selama 5 tahun disana dan kutebak bahwa beliau tidak pernah mendapatkan kesan yang buruk hingga akhirnya beliau sangat dekat denganku sampai sekarang.

Pak Ha*y (KS SMPN 2 Paron)
Entah apa yang kupikirkan tentang beliau, karena awal aku disini, aku sering mengunjungi rumahnya hingga akhirnya dia mengorder barang dariku, namun entahlah saat buku datang dan ingin kukirim ke sekolahnya, tiba-tiba saja dia membatalkan lewat sms dengan alasan yang menurutku mengada-ada. saat kusambangi dia untuk  konfirmasi, katanya belum memesan buku sama sekali namun aku dapat informasi dari seorang guru bahwa dia mengorder dari yang lain. maaf pak karena itu kesan yang kudapat selama kita berinteraksi sampai sekarang.

Pak Ka*to (KS SMPN 1 Jogorogo)
Awalnya beliau adalah KS di SMPN 3 Ngrambe kemudian dimutasi pada bulan april. dia adalah salah satu KS yang sangat dekat denganku dan seringkali menyambutku dengan hangat ketika bertamu bahkan beberapa kali aku menyambangi rumahnya dan pastinya dia akan menyuguhiku dengan berbagai makanan. putranya yang bernama radit pun sangat dekat denganku.

suatu waktu di kota ngawi
di tahun 2013

Sebab Rindu Tak Harus Ditolak

Rindu selalu saja menyisakan gelisah. dia datang tanpa harus permisi kepada siapa objek yang tengah mengalami perasaan rindu. Kuyakin, semua orang yang dilanda perasaan rindu akan mencurahkan semua ingatannya terhadap yang dirindukan bahkan setiap helaan nafas pun akan menjadi berat karena rindu itu, yah begitulah adanya rindu itu. Sebab rindu tak harus di tolak karena dia datang dengan berbagai rasa yang mungkin saja tidak semua orang menikmatinya. 

Rindu yang ada ada sisa embun pagi semalam mengalun sepi dalam sebuah ruang kecil tak berdipan. Rindu itu nestapa tanpa ada apa-apa saat harus memuaskan rindu itu. Rindu itu kadang malam, pagi bahkan kadang pula senja karena rindu tak mengenal ruang dan waktu meski rindu tak harus ditolak.

Sang perindu adalah tersiksa, menguras setiap emosi yang mengendap dalam raga tanpa ada satu pun yang tercurah sebab dia jauh dan kabur, entah kapan waktu akan menawarkan kemurahannya untuk menggiring ke awan dan bercerita bahwa rindu itu sudah terlalu menyiksa bahkan lebih dari apapun. Sebab rindu tak harus ditolak

Bocah itu di penghujung pulau seberang. Jauh dari sebuah rumah panggung yang telah menjadi istana kerajaannya sejak lama. dia pergi jauh dan amat jauh sekali bahkan sampai di ujung penglihatan. Bocah itu meninggalkan semua orang yang dicintainya. Seorang perempuan tua yang beranjak sepuh namun tetap harus bergerak menjajal pasar demi menjajakan dagangannya. 

Begitu juga dengan seorang laki-laki yang juga sudah mulai menua namun tetap harus bangun di subuh yang gelap dan bersiap dengan semua peralatannya menuju ladang penghidupan. Bocah itu meninggalkan mereka hingga dia sampai di kota ini, kota yang amat jauh dan tak seorang pun yang mengiringinya bahkan hanya doa tulus dari kedua laki-laki dan perempuan tadi yang mulai menua. Ruang dan waktu telah membawa bocah itu kedalam rindu yang sesak meski dia juga sadar bahwa perpisahan bukanlah sebuah hal yang harus ditangisi karena seringkali mengajarkan cinta yang tulus. Yah benar, bocah itu meninggalkan kedua orang yang dicintainya karena cintanya demi sebuah cita-cita mulia dan bukan berarti dia lari dari kenyataan.

Bocah itu,  seringkali terpasung rindu, rindu yang tak pernah mengenal waktu. Namun dia bukanlah bocah yang rapuh, meski dia sadar bahwa begitu kerasnya jalan setapak yang sedang dijejaknya. Bocah itu, setiap mentari mulai keluar dari timur kota ini, dia harus mandi lebih awal, rutinitas yang hampir sama dilakoninya ketika dia masih sekolah namun kali ini tidak untuk sekolah namun demi hidup dan demi perut yang masih terus minta diisi. 

Bocah itu, seiring dengan pagi yang mulai berlalu, dia menyusuri sepanjang kota ini dengan sepeda motor yang mulai butut, tak peduli semua bahaya yang menanti, dia tegap dengan motornya sampai harus menempuh perjalanan berkilo-kilo jauhnya. Sama sekali tak diperdulikan akan hal itu karena dia yakin bahwa pagi akan selalu datang dengan berkahnya. Dia selalu berharap bahwa pergantian pagi akan membawanya ke hidup yang lebih ramah. yah, hanya pagi dan juga malam yang menemaninya bercerita, menuliskan semua keresahan dengan tetes hujan yang berlalu.

Pagi adalah tanda baginya bahwa perjalanan panjang akan dimulai dan senja adalah tanda baginya bahwa perjalanan kembali keperaduan dengan berbagai keringat yang tak pernah berhenti mengucur dari jidatnya yang mulai gosong karena mentari yang amat menyengat. ketika malam adalah istirahat bagi orang lain namun tidak buatnya, malam menjadi babak kedua perjalanannya untuk menyambangi setiap rumah kliennya. Ini adalah pertaruhan soal waktu bahwa ternyata waktu tidak lagi menjadi penghalang baginya untuk kemudian berjuang demi hidup dan berjuang demi dua orang yang  dicintainya di pulau seberang.

Hidup ini adalah pertaruhan bagi bocah itu. Dia tidak sepantasnya menyerah begitu saja pada hidup karena pengalaman masa lalu sebagai anak dari kaki gunung cukup membuatnya tegar. Dia seringkali bercerita kepada pagi bahwa harapan akan selalu terbit di timur langit bahkan saat senja menyapa, dia juga mengukir ceritanya bahwa semua kesulitan akan tenggelam bersama senja di saat malam akan datang. Semua semesta adalah teman baginya. Tak terlewat satupun karena manusia-manusia seringkali palsu dengan segala penampakannya.

Bocah itu memilih hidupnya sendiri. Di saat semua kawan-kawannya berlari menggapai asa yang menjulang tinggi di langit, dia memilih untuk berkhidmat kepada kedua orang tua yang dicintainya, entah dengan jalan apa dan bagaimana namun keputusan akan hal itu nampaknya tidak bisa lagi dibelokkan. Hidup memang adalah memilih seperti kata-kata para teoritikus dan bocah itu telah memilih untuk menghabiskan hidupnya untuk berkhidmat kepada kedua orang tua yang dicintainya. 

Selama pagi dan senja masih datang menyapanya maka selama itu pula, bocah itu tidak akan berhenti bermimpi membahagiakan kedua orang tua tersebut karena persoalan mimpi dan kenyataan hanyalah persoalan usaha dan waktu saja dan ketika Sang Pemilik Semesta telah berkenan maka mimpi itu dengan segera berubah menjadi kenyataan yang membahagiakan dan tanpa harus meletakkan prinsip-prinsip hidup yang diyakini.

Bocah itu terus saja berpeluh, mengayuh motor bututnya yang hampir saja tak mau diajak berkompromi. Peduli apa dia dengan keadaan seperti itu, hal yang terpikir olehnya adalah hidup ini indah sesulit apapun kondisi yang sedang dialami karena semua akan menjadi indah ketika sudah terlewati. Hidup hanyalah persoalan bagaimana mensyukuri semua yang ada tanpa  harus pasrah.

Bocah itu, dia tidak pernah menceritakan hal tersulit dalam hidupnya kepada ibunya, biarkan dirinya menjalani sendiri dan dia hanya akan mengabarkan kebahagiaannya kepada ibunya. temannya adalah pagi yang cerah, terkadang dia menumpahkan ceritanya kepada senja yang selalu menghampirinya bahkan ketika malam menjemput, nafasnya dihembuskan perlahan-lahan kemudian mencoba menutup mata dan berdoa tentang semua kebaikan, tentang cerita semesta sepanjang hari tadi.