August 31, 2015

Ibu Adalah Kasih yang Abadi

Tiga malam yang lalu, aku menelepon ibu. satu kesalahan yang kubuat dari beribu kesalahan yang ada. Ibu tidak seharusya mendengar apa yang menjadi susahku. hatinya sudah terlalu capai untuk hal-hal yang menyedihkan. begitulah apa yang kukisahkan kepadanya membuat dia lama terdiam, entah berpikir tentang apa.

Aku mungkin terlalu terbuka untuk hal yang menyedihkan kepadanya sehingga tak ayal, hanya butiran air mata yang menjadi jawaban atas semua apa yang kuutarakan, selain itu tidak ada. mungkin salah satu orang yang menjadi penyemangatku adalah dirinya dengan berbagai kedihannya yang ingin kurubah menjadi sebuah tawa.

Menggambarkan kasih ibu memang tidak ada habisnya. Ibu adalah jelmaan kasih sayang Tuhan yang benar nyata adanya ketika Tuhan itu sendiri masih bersembunyi dalam keimanan kita. Setiap orang akan mengatakan bahwa ibu mereka adalah yang terbaik, itu pernyataan yang memang benar adanya untuk dirinya meski aku sendiri selalu menarik kembali memori masa lalu yang membuatku jatuh cinta terhadap ibuku.

Entah mulai kapan aku merasakan cintanya namun pernah beberapa tahun silam entah itu aku sudah kuliah atau masih SMA, aku sudah berjanji untuk tidak merepotkan ibuku dalam hal apa saja. Aku ingin meringankan bebannya dalam menjalani hidup ini.

Tidak untuk mencoba membandingkan perasaanku terhadap bapak namun jujur kukatakan bahwa perasaanku lebih kuat kepada ibuku. Ini salah satu pernyataan paling jujur yang kutulis dan aku tahu pasti penyebab kenapa aku lebih dekat dengan ibu daripada bapak.

Kenangan mungkin adalah faktor dominan dalam membentuk masa sekarang begitupun kedekatanku kepada ibu. Aku sudah bisa mengingat saat ibu melahirkan adikku yang bungsu. Aku bahkan terbangun dan duduk di dekatnya saat-saat dia akan melahirkan. Dia meniup botol kosong dengan sekuat tenaga supaya bayinya keluar.

Mulai sejak itu, memoriku tentang perjalanan hidup ibu kusemai dan semakin mengakar di kepalaku. Pada setiap dua hari seminggu, dia harus bangun subuh dini hari untuk bersiap ke pasar. Entah setiap kenapa, setiap kali melihat wajahnya, yang tersisa di wajahku adalah butiran air mata.

Tulisan ini bukan yang terakhir untuk ibuku karena selalu saja ada tulisan untuknya ketika rinduku sedang membuncah untuknya

Jakarta Timur, 20915

August 28, 2015

Sejenak Bercerita

Kemarin mungkin perbincanganku paling sentimental di Kantor. Meski sebenarnya aku adalah pribadi yang termasuk introvert di kantor dan lebih memilih untuk tidak terlalu bicara hal-hal yang prinsipil namun ada saat dimana hasratku untuk mengutarakan apa yang menjadi nilai kehidupanku pun kuutarakan.

Kemarin, kasie teknik memanggil untuk berdiskusi masalah kontrak kerja. Memang sih ada sedikit makna dibalik nasehatnya bahwa seharusnya aku tidak terlalu kecewa dengan perpanjangan kontrak. Aku sedikit menangkap lirih dalam setiap kalimatnya bahwa mungkin saja dia khawatir jika aku beranggapan dia tidak mengusahakan supaya aku diangkat jadi karyawan. Dia mengatakan bahwa sudah berusaha maksimal untuk mendesak SDM supaya ada pengangkatan karyawan namun kebijakan manajemen tahun ini bahwa tidak ada pengangkatan.

Aku kemudian menjelaskan apa yang ada di kepalaku bahwa dalam hati yang paling dalam, mungkin kecewa ada sedikit namun untuk menyesali bahkan harus memendam perasaan kekecawaan yang mendalam mungkin tidak. aku sudah berikrar bahwa dalam bekera, aku sedapat mungkin untuk menunaikan tugasku tanpa harus terbebani dengan berbagai macam embel-embel entah itu pengangkatan atau bonus lainnya.

Mungkin terdengar klise ataupun sedikit hipokrit namun seperti itulah yang coba aku terapkan dalam bekerja dan bahkan dalam hidupku secara keseluruhan. aku tidak mau setiap hal yang material maupun hal-hal yang tidak prinsipil mereduksi kebahagiaanku atau bahkan merubah arah hidupku. Semua mungkin hanyalah ilusi yang akan terlewati dan menjadi coretan-coretan perjalanan hidup namun bukan menjadi aral yang berarti.

Aku tidak menampik bahwa aku masih butuh penghasilan untuk sekedar memenuhi kebutuhan biologisku maupun sebagai tanggung jawab terhadap keluargaku kelak namun setidaknya aku selalu mencoba supaya hal seperti itu tidak malah merendahkan derajatku sebagai manusia terlebih nilai-nilai yang sudah kusepakati untuk tetap kujunjung dalam keadaan bagaimanapun.

Hidup memang serba paradoks meski terkadang kita pun harus tegas sisi mana yang kita pilih. Untuk berjalan mengikuti semua arah jelas adalah sebuah hal yang mustahil, kita hanya butuh untuk mengambil keputusan jalan mana yang akan dijejak berdasarkan nilai kehidupan yang diyakini.

Rawamangun, 27 Agustus 2015

Khutbah Jum'at

Apa yg menyebabkan ibadah kita hampa dan tdk berdampak pada diri kita? 

Kalimat tersebut yang menjadi pembuka khutbah jumat tadi siang. khatib mengulas jawaban dari pertanyaan tersebut yang memang terkadang menyeruak di benak kita karena pada dasarnya, ibadah dalam hal ini adalah shalat seharusnya mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar 
Firman Allah SWT


اتْلُ مَآ أُو حِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى 
عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَاتَصْنَعُونَ {العنكبوت45}
artinya
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur'an) 
dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar(keutamaannya dari ibadatibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)
 

Khatib menjelaskan bahwa ternyata kita tdk peduli terhadap peringatan kematian adalah penyebab ibadah kita tidak berefek apa-apa kepada kehidupan kita sehari-hari. shalat dan ibadah lainnya hanya menjadi rutinitas harian yang kemudian berlalu begitu saja.

Sejatinya bahwa, saya pun masih sering bertanya-tanya selama ini, seperti apa shalat itu mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

28.08.15

August 27, 2015

Setahun

Harusnya tulisan ini kemarin sudah kugoreskan di blog ini karena sejatinya momen yang ingin kutuliskan sekarang terjadi kemarin. tanggal 26 agustus sebenarnya tidaklah berarti apa-apa di hidupku selama ini hanya saja ada satu momen dimana tanggal tersebut menandakan bahwa sudah setahun aku bekerja di kantor ini. benar-benar baru serasa seperti sebulan lamanya.

Aku sudah berdamai dengan semua elemen hidup termasuk waktu yang berjalan cepat sesuai sunnatullahnya. meski terkadang akupun seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi di dalam hidupku yang nampaknya berlangsung begitu cepat. semua seakan berlari dan hanya menyisakan sedikit jejak. aku tidak sedang bernostalgia namun setidaknya ada beberapa hal yang ingin kuceritakan dalam setahun pekerjaanku selama ini.

Masih terasa segar di ingatanku tahun lalu,  tanggal 25 Agustus 2014, aku mendapat panggilan kelulusan dari dua perusahaan finance dalam bidang yang sama. sejatinya aku memilih perusahaan yang bukan sekarang aku tempati bekerja karena pihak HRD nya sudah dari semalam meneleponku dan pagi harinya, saya sudah meluncur ke arah Jakarta Pusat untuk menandatangani kontrak kerja namun di daerah menteng tepatnya di depan taman Menteng, HRD perusahaan yang sekarang aku tempati bekerja tiba-tiba meneleponku dan memintaku datang ke kantor kebayoran untuk tanda tangan kontrak. Entah kenapa atau mungkin juga karena di kantor ini ada referensi temanku yang sudah bekerja lebih dulu maka kuputuskan untuk memilih kantor ini dan menandatangi kontrak kerja.

Kuingat dengan jelas, tertera di kontrak kerja bahwa aku tercatat sebagai karyawan kontrak per tanggal 26 Agustus 2014 s.d 26 Agustus 2015. itu berarti bahwa sudah setahun aku bekerja di kantor ini. Bekerja sebagai staff klaim dan surveyor yang lumayan menguras waktu dan tenaga namun menurutku bahwa hal yang terberat bukan masalah pikiran dimana harus bertemu dengan nasabah dengan berbagai macam karakter yang terkadang amat sangat menjengkelkan, mungkin pekerjaan ini pula sebagai pembelajar bagiku untuk lebih banyak bersabar karena seseorang tidak bisa teruji kesabarannya melainkan dia dalam kondisi marah dan tertekan.

So far, untuk masalah suasana kantor, aku tidak mempunyai masalah meski pada dasarnya, setiap kantor punya dinamika masing-masing namun aku sendiri tidak pernah terlalu larut dan hal yang diluar urusanku. Aku salah satu penganut keyakinan bahwa semua hal ditentukan oleh diri kita, sebaik apapun lingkungan kita jika kita mau menjadi tidak baik maka itu yang akan terjadi pada diri kita dan begitu pula sebaliknya. Aku bukanlah orang yang mencampuri hal-hal diluar urusanku dan aku pun tidak terganggu dengan setiap omongan lingkungan alhasil aku berjalan sesuai dengan apa yang sudah ada di kepalaku dan menurut prinsipku.

Aku tidak terlalu bergairah menceritakan dinamika kantorku karena menurutku berjalan baik-baik saja. Hanya ada beberapa teman karyawan yang dimutasi dan terakhir kepala cabang yang ikut pula dimutasi. 

Bertemu dengan berbagai karakter orang-orang disini mengajarkanku lebih banyak lagi kearifan yang sayang sekali jika aku lewatkan. mereka adalah penambah wawasan dalam mengerti hidup yang lebih kompleks.

Setapak lagi jejak yang kutinggalkan. aku tidak tahu kemana lagi arah langkah selanjutnya

Rawamangun, 270815

August 25, 2015

Tak Bermakna

dekapan malam dalam hening
meleburkan tragedi  yang tak kunjung padam
aku terdiam melaburkan rasa pening
dalam sisasisa rasa yang temaram

pagi tiba dengan segenap semangat
menjemput rasa yang dahaga akan rindu
ketika hati yang risau menjerit
kemudian berlari dalam diri yang syahdu

pudarlah ia yang dinanti
harapan hanya tinggal menjadi getir
dan senja akan tiba sebentar lagi
membawa semua semua kasih yang pudar

Pulogadung, 260815

August 24, 2015

Jiwa yang Menua

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan kawan si U "lagi-lagi" tentang kehidupan. U memang partner diskusi yang paling mumpuni masalah kehidupan. Semua kami bahwa dari A-Z tanpa terlewati. Bahkan terkadang kami menghabiskan berjam-jam mengobrol via telepon hanya membahas masalah kehidupan tanpa perlu embel-embel teori filsafat yang terlalu melangit.

Waktu itu kami membahas masalah kehidupan di kota. Saya dan U bersepakat bahwa lingkungan kota ikut mempengaruhi jiwa bahkan saya dan dia bersepakat lagi bahwa mungkin jiwa kami yang mulai "menua." Saya dan juga U sudah tidak terlalu suka dengan lingkungan yang terlalu ramai khas anak muda bahkan bunyi-bunyian yang keras memekakkan telinga. Kami bermimpi hidup di sebuah kota yang tenang tanpa harus berpacu dengan waktu.

Jika U ingin menetap dan hidup tenang di Makassar maka saya pun mungkin memilih Surabaya ataupun Malang sebagai kota untuk tempat tinggal menua, meskipun Surabaya termasuk kota yang terlalu padat. Satu hal yang ada di pikiranku bahwa aku tidak mau menua di Jakarta dengan berbagai macam dinamikanya yang sepertinya bakalan mematikan jiwaku. Aku tidak sanggup untuk terus berjibaku dengan kehidupan kota ini. biarkanlah orang mengatakan bahwa aku kalah dalam melawan ibukota ataupun aku pecundang namun setidaknya kamusku bukan kalah tetapi lebih mengalah untuk mencari keteduhan bumi yang membuatku lebih menikmati hidup tanpa harus banyak mengorbankan fisik ataupun pikiran yang kalut ditengah kondisi perkotaan yang sudah tidak bersahabat untuk menyalakan hati nurani.

Saya tidak menjustifikasi bahwa di kota ini sudah tidak ada lagi orang baik namun sebaliknya bahwa di tengah kondisi seperti ini, aku yakin dengan haqqul yakin bahwa terselip kekasih Tuhan di dalamnya meski untuk menemukan orang seperti itu butuh kerja keras yang tidak mudah. Aku memilih untuk mencari kota yang lebih tenang hanya dengan satu alasan bahwa aku ingin meresapi getaran jiwaku dan menghitung waktu berjalannya kehidupan karena menurutku, waktu di kota ini seperti sudah tidak berharga sama sekali. semua berjalan begitu cepat tanpa menyisakan sedikit ruang untuk bernafas.

Butuh berkali lipat ketahan fisik dan mental untuk tetap berada di kota ini dalam kondisi seperti ini bahkan saya tidak bisa membayangkan wajah kota ini 10 tahun kedepan. seperti apa suasana di jalanan maupun di kantor-kantor atau wajah manusia yang tetap memilih di kota ini.

Saya tidak mempunyai otoritas sebenarnya untuk memilih dimana saya akan tinggal selanjutnya karena kuasa Ilahi yang akan berjalan namun setidaknya saya punya rencana dan tetap berdoa kepadaNya semoga dia menempatkan saya dan "calon" isteri saya di salah satu kota di jawa timur sebagai impian kami untuk menjalani hidup dan mengerti kehidupan ini.

Mungkin Malang, Surabaya. semoga Ya Rabb..!!!

Malam saat lembur di kantor Rawamangun
24.08.15


Lika Liku Survei

Cerita tentang survei motor yang melelahkan. Tentang setiap pribadi manusia yang tak tertebak dari tampilan luarnya. Terkadang memang kita terlalu menjustifikasi orang dari pakaian luar padahal di dalamnnya menyimpan sejuta misteri. Aku mulai menerka bahwa mungkin saja, sekali lagi ini hanya hipotesa awal bahwa mungkin saja tampilan luar itu berkebalikan dengan hati yang tersimpan rapi di dalam diri.

08:00
Aku sudah bersiap dengan peralatan lengkap untuk melakukan survei kehilangan motor. Ada 6 lokasi survei yang akan kudatangi meski satu diantara lokasi tersebut adalah survei tutupan rumah. Aku terpaksa menjemput seseorang yang ngebet ikut survei meski kutahu bahwa ini adalah hari yang melelahkan namun dia tetap bersikeras untuk ikut.

Lokasi pertama yang kutuju adalah perumahan Graha Ifi di Jatiasih namun ternyata di dalam perjalan sekitar daerah kalimalang, seorang nasabah yang bernama Tony Priyanto Djayadi menelepon dan menanyakan jam berapa melakukan survei di rumahnya. Aku menjawab dengan tegas bahwa tidak bisa memastikan karena aku harus ke jatiasih sebelum ke rumahnya. 

Tak disangka, jawaban dari Tony begini " bisakah saya diprioritaskan karena saya bukan anak SD yang hanya duduk manis di rumah sedangkan saya pun punya banyak urusan yang lain." Aku sama sekali tidak menyangka dia bertanya seperti itu di lain sisi aku sudah janji dengan ibu Evi untuk ke rumahnya terlebih dahulu. Kemudian aku jelaskan lewat telepon dengan baik-baik bahwa aku sudah janjian lebih dahulu dengan ibu Evi namun tetap saja dia berkeras bahkan kemudian dengan tidak sopannya menutup telepon tanpa menunggu aku selesai bicara.

Tony, yang notabene sudah seorang bapak-bapak sangat mendahulukan egonya atau mungkin dia merasa jago karena bekerja di "Bappenas." Setelah kupikir, tidak apalah ke rumahnya terlebih dahulu. Setelah sampai di rumahnya, aku menemui Pak RT kemudian menuju ke rumah Tony. Dia menemuiku dengan muka datar dan aku pun tidak menunjukkan ekspresi berlebih. Terlihat memang di raut mukanya yang menampakkan sedikit keangkuhan. Setelah berbincang di  rumahnya, dia menceritakan bagaimana dia di kepolisian dan disuruh melengkapi kunci kontak namun dia tidak mau. Di akhir pembicaraan, aku menjelaskan bahwa sebelum proses pencairan, dia harus melengkapi surat blokir dan keterangan kehilangan namun sekali lagi dia menampakkan muka sinis. Aku hampir saja terbahak ketika aku menanyakan apakah dia membaca klausula polis dijawab dengan singkat " aku bukan sarjana hukum yang harus mengerti semua tentang klausula." Dalam hatiku, ternyata dia picik juga sedangkan dia merasa sudah high kelas dengan bekerja sebagai "PNS," ternyata pikirannya masih sebatas tentang pendikotomian masalah bidang kuliah.

Aku meninggalkan lokasi rumahnya dengan perasaan sedikit dongkol bertemu dengan nasabah seperti dia. Motor lalu kuarahkan ke rumah ibu yang berada di Tambun selatan. Seorang ibu yang bernama Yatinah. Aku menemui ibu yang amat kontras dengan sikap Tony. Keluarga yang kelihatannya sederhana namun aku disambut dengan sangat ramah. Hatiku kemudian adem lalu diantar ke lokasi toko ibu ponco tempat kehilangan motornya. Setiap perkataannya begitu menghargai sesama meski terlihat hidup sederhana sekali lagi tidak seperti bapak Tony yang mungkin merasa high kelas dan merasa ingin dihormati. 

Setelah menemui dua sosok manusia yang kontras, aku menuju aren jaya dimana kehilangan kendaraan motor berada di parkiran AlfaMart. Aku menemui monica dan mengecek kejadian kehilangan tersebut, menanyakan ke pegawai toko tentang kehilangan motor. Setelah itu, barulah aku menuju ke rumah ibu Evi di Jatirasa.

Sesampai di rumah ibu Evi, tidak banyak yang aku tanyakan karena sebelumnya sudah kutanyakan bagaimana mengasuransikan rumah. Sebelumnya memang ibu Evi juga sudah klaim motornya yang hilang dan pada saat klaim, dia sedikit merasa seperti di "ping-pong" kemudian aku jelaskan bahwa prosesnya memang seperti itu. Aku sedikit was-was tentang rumah yang diasuransikan oleh ibu Evi karena dia juga sedikit ngeyel masalah uang. Biasalah orang yang berduit akan ngeyel ketika urusannya dengan duit.

Aku kemudian beranjak ke daerah cakung ketika waktu ashar sudah tiba. Meski badan sudah tidak terlalu fit namun kurasa tanggung untuk tidak kesana. Tidak terlalu sudah menemukan lokasi klinik gigi di daerah cakung. proses survei nya pun sedikit lebih mudah karena pencurian kendaraan tertangkap oleh kamera CCTV klinik.

Kami baru pulang ketika waktu ashar sudah menua. Aku mengantar seseorang ke kosnya lalu kemudian pulang ke kosku memberi hak tubuhku untuk istirahat. Banyak hikmah yang kuperoleh hari ini tentang orang-orang yang merasa harus dihormati dan tentang orang-orang yang merasa harus menghormati orang lain. Alangkah kontrasnya hidup manusia. kita seharusnya tidak memandang orang lain dari tampilan luarnya karena seringkali menipu.

Rawamangun. 230815

Blog dan Masalah Internet Kantor

Mungkin kedepannya, blog ini tidak sesering selama ini kuisi dengan berbagai aktivitas atau pun kejadian yang kualami karena ada isu bahwa internet di kantorku sebentar lagi akan diputus. Berhubung karena selama ini, saya dimudahkan dengan adanya internet kantor untuk bercuap-cuap di blog maka dengan diputusnya internet, peluang untuk menuliskan semua langkah pun terbatas. Bahkan tadi sudah dalam proses percobaan tetapi entah kenapa sore ini, internetnya connect alhasil aku mencuri kesempatan untuk menulis ini.

Sebenarnya perubahan habit dan tetek bengek peraturan di kantorku bermula ketika pergantian kepala cabang. Harus disadari bahwa setiap kepala cabang mempunyai cara tersendiri dalam memimpin sehingga tidak mengherankan dengan kepala cabang yang baru, gaya kepemimpinananya mungkin sedikit saklek. Aku sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan setiap pergantian kepala cabang bahkan dengan kebijakan internet akan diputus pun sesuatu hal yang biasa saja karena idealnya, karyawan tidak semestinya menggunakan internet diluar kepentingan kantor sedangkan aku sendiri menyadari bahwa aku sering menggunakan internet kantor untuk menulis di blog.

Untuk blog ini, aku pun tidak berpikir untuk vakum mengisinya atau sekedar mengunjunginya karena aku masih punya smartphone meski sedikit kerepotan namun tak apalah, tetap saja bahwa blog ini akan menjadi catatan perjalanan panjang hidupku sampai kemanapun.

Begitulah kira-kira apa yang harus kujelaskan kali ini untuk setiap tamu di blogku. sekedar pemberitahuan jika nantinya ternyata blog ini tidak terlalu sering kujadikan media untuk kontemplasi ataupun belajar apa saja tentang hidup.

Ruang yang sekali lagi menjadi wadah pemungut serpihan jejak yang tercecer dimana saja saat kaki melangkah dalam dunia. Aku merasa bahwa hasratku sudah terbang jauh dan menjalani dunia dengan apa adanya. Jikalau saja tidak ada lagi orang yang kukasih, mungkin dunia ini akan kuinjak sampai hancur tanpa menyisakan apapun.

Ah, kok paragrap terakhir tidak nyambung dengan inti yang akan aku tulis yah. he.he

Rawamangun, 240815 

Waktu Sudah Berganti

Dulu, dulu sekali, saya sering menikmati cerita dari novel remaja dengan kisah yang termewek-mewek tentang percintaan anak remaja dengan lika-likunya. masih samar-samar di memoriku saat saya duduk di bangku SMP, seringkali saya meminjam dua atau tiga buku novel dan kubawa pulang bahkan terkadang dalam seminggu, saya bisa menghabiskan beberapa novel remaja yang dulu banyak tersedia di perpustakaan sekolah.

Kemarin saat melihat-lihat buku di Gramedia Ambassador, pandanganku tertuju kepada seorang ada perempuan yang menurut taksiranku masih SD atau mentok-mentoknya kelas 1 SMP. Saya sadar bahwa waktu memang sudah berganti.

Gadis yang menyadarkanku tentang umur
Aku terkadang merasa masih seperti dulu saat aku dengan bebasnya menerbangkan citaku di langit kemudian menikmati hidup dengan semauku tanpa ada beban. Terkadang pula aku tidak menyadari bahwa semestinya aku sudah menempatkan diriku sebagai manusia dimana manusia lain bisa mengambil hikmah dari kehidupan yang kujalani tanpa harus bertindak bodoh terhadap sesuatu namun apa daya, ingatanku masih tertinggal di masa lalu ataukah bahkan aku yang tidak pernah mau berganti masa.

Sadar diri tentang diri kini memang amat sangat dibutuhkan untuk hidup sekarang bukan hidup pada bayang-bayang masa lalu yang melenakan karena selama pikiran masih terbelenggu di masa lalu maka selama itu pula, kita akan tergerus dengan gelombang waktu yang tidak hentinya membawa jauh ke tengah lautan hidup. Sudah sepantasnyalah hidup dimaknai sesuai umur yang sudah diberikan tanpa harus meninggalkan memori di masa lalu ataupun menerbangkan angan-angan yang terlampau jauh ke masa depan karena hanya akan menyusahkan hidup yang sedang dijalani. Perjalanan hidup adalah misteri yang tidak perlu ditebak karena sejatinya dia akan terjawab dengan sendirinya ketika kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya di masa kini.

Ah, entahlah apa yang sedang terjadi, bagiku hidup adalah hidup itu sendiri yang melelahkan

suatu waktu di Mall Ambassador
23.08.15

August 21, 2015

Khutbah Jum'at

12:05
Khutbah jumat dimulai dan saya pun duduk dengan tenang memegang hp. Tangan saya gatal untuk menuliskan inti dari khutbah jumat kali ini dan saya harus bersepakat dengan khatib jumat kali ini. Meski terkesan memaparkan hal yang berhubungan dengan syariat namun penjelasannya yang amat toleran membuat saya menikmati khutbahnya.

Awal khutbah, sang khatib membuka dengan kalimat bahwa agama jadi penetram tetapi seringkali pula menjadi konflik. Dia menjelaskan bahwa jangankan antara umat beragama bahkan umat seagama pun seringkali berkonflik karena penafsiran yang tidak sama sehingga menurut khatib bahwa hal tersebut sangat konyol. Seringkali kita menemui orang yang sebenarnya masih sangat jauh dari kriteria menafsirkan Al-Quran namun sudah mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengannya.

Pada saat Nabi masih hidup pun, perbedaan tentang penafsiran seringkali terjadi terhadap sesuatu yang baru dan Nabi sama sekali tidak pernah menyalahkan orang yang berbeda penafsirannya apatahlagi kita yang hidup jauh setelah Nabi pastinya akan berbeda tafsiran tentang Al-Quran

Khatib mencontohkan tentang takbir di dalam shalat, bahwa menurut hadist harus sejajar dengan Allah dan muncullah perbedaan bahwa Allah di depan dan diatas.

inti dari jumat ini keren
210815

August 18, 2015

Lomba Cerpen Nasional

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng mengikuti sebuah lomba cerpen bertema bebas yang diadakan oleh Penerbit Rumah Kayu Indonesia. Syarat yang diajukan pun tidak rumit sehingga dengan iseng saya bisa mengikuti lomba tersebut sambil mengisi waktu senggang di kantor.

Tidak ada tendensi apa-apa saat saya memutuskan mengikuti lomba tersebut karena yang ada di benakku hanyalah bagaimana menguji nyali. saya terkadang mengabaikan beberapa lomba karya yang diadakan oleh lembaga lain karena beberapa persyaratan yang mungkin tidak terlalu menyulitkan namun saya tidak bisa memenuhinya seperti harus me "like" page facebook lembaga yang bersangkutan ataupun mem follow twitternya padahal saya sudah memutuskan untuk mendeactivekan secara permananen sosial media yang saya punya. 

Ada banyak pertimbangan kenapa saya memutuskan untuk tidak lagi mempunyai sosial media. mungkin yang pertama karena kejenuhan sejak 2008 sudah menghabiskan banyak waktu hanya sekedar untuk surfing di facebook. Alasan lain kenapa saya sampai pada keputusan untuk meniadakan sosmed karena saya sudah merasa sosial media sudah tidak berada lagi pada fungsinya secara ideal dimana menjalin silaturrahim namun seringkali sosmed diisi dengan berbagai macam keluhan, umpatan, berita buruk atau informasi lainnya yang benar-benar sudah mulai mengganggu konstalasi kehidupan. saya muak dengan orang yang memposting kemesraan di sosmed, menceritakan masalah keluarga di beranda, memposting kelahiran dan masih banyak lagi privasi yang menurut saya tidak harus dibagikan melalui sosmed.

Terlepas dari permasalahan sosmed, penerbit rumah kayu yang mengadakan lomba tanpa persyaratan me "like" fanpage facebook membuat saya antusias untuk mengirimkan naskah cerpen. Pada pengumuman pertama, ternyata draff cerpen saya lolos verifikasi kemudian pada pengumuman kedua, cerpen saya sudah tidak tercantum lagi namun saya sama sekali tidak kecewa karena niat awal saya mengikuti lomba tersebut hanyalah menyebarkan karya saya yang mungkin sudah lama tersimpan rapi di dalam folder komputer.

Cerpen yang saya ikutkan di lomba tersebut pun pernah saya posting disini. untuk setiap hal yang berhubungan dengan apa saja ingin saya tulis maka saya lebih suka menggoreskan di blog karena sejatinya, blog lebih sedikit punya prestise daripada sosial media lainnya.

Sertifikat Lomba


Rawamangun, 180815

August 16, 2015

Kenduri Cinta

Serasa mimpi ataukah memang saya sedang hidup dalam mimpi karena hidup bukan realitas hanya sebuah mimpi panjang yang nantinya akan menemui realitas pertama yaitu ajal namun lupakan dulu persoalan mengenai hidup.

Saya ingin bercerita bahwa dua minggu terakhir, saya amat rutin mengikuti kenduri cinta, kyai kanjeng asuhan Cak nun. Mungkin saya sudah bisa dikategorikan sebagai jamaah youtube katena setiap ada kesempatan lowong di kantor, saya selalu menyempatkan menonton video-video Kyai kanjeng. Sejak saat itu, saya berniat mengikuti pengajian Kyai Kanjeng jika diadakan di sini. Gayung bersambut, ternyata kenduri cinta rutin diadakan jumat malam kedua tiap bulan, alhasil keinginanku tersebut tercapai kemarin malam.

Sepulang kerja, saya meluncur ke bilangan kuningan menjemput teman dekat yang juga berniat ikut menemani saya mengikuti acara Kyai Kanjeng. Berhubung karena dia mendapat tiket gratis menonton acara HUT FKM UI yang bertema " Sekarang atau 50 tahun lagi" maka sebelumnya kami beranjak ke Gedung kesenian Jakarta yang berlokasi di Jln Pasar Baru tempat diadakannya acara FKM UI.

Sesampai di sana, acaranya tidak semeriah dengan yang ada di kepala saya. Mungkin ekspektasi saya tentang acara serupa mengambil standar acara yang sering diadakan oleh mahasiswa Makassar yang ternyata berbeda. Bahkan acara tersebut saya anggap sepi dan terlalu elitis. Alumni FKM UI yang datang mayoritas yang sudah berumur. Item acaranya mungkin sedikit serupa dengan acara inaugurasi yang setiap tahun diadakan di fakultas saya namun perbedaannya mungkin spirit yang membedakan.

Kemudian untuk masalah teknis acara, ada hal lain yang mungkin terlalu monoton dan membosankan. Awal acara mungkin dibuka dengan lumayan baik oleh dua Mahasiswa FKM UI yang menyanyikan lagu duet ditambah dengan MC nya yang sedikit lucu dan tidak garing-garing amat. Item acara berikutnya yang membuat saya serasa ingin cepat beranjak, mulai dari tari-tarian yang menceritakan seorang perempuan yang dulunya tomboy berlagak laki-laki kemudian sadar dan kembali menjadi feminim. durasi waktunya terlalu lama membuat penonton bosan.

Item berikutnya malah makin membosankan lagi. acara  teater dari kelompok Teater Trotoar Mahasiswa FKM UI. Untuk spriritnya memang amat sangat gamblang diceritakan dimana mereka mencoba untuk mengangkat tema masalah bidang ilmu FKM yang masih berada di bayang-bayang kedokteran. Sekali lagi durasi waktu yang terlalu lama membuat teater tersebut amat sangat garing dan lumayan membosankan alhasil teaternya belum kelar kemudian saya dan pacar saya beranjak ke Taman Ismail Marzuki mengikuti acara kyai kanjeng.

Saya dan teman dekat saya menyempatkan makan di warung pinggir jalan. Lumayan untuk mengisi perut sebelum nimbrung di acara kenduri cinta. Setelah itu, kami memasuki area TIM yang ternyata acaranya diadakan di samping parkiran. Orang sudah banyak yang lesehan sambil menikmati aneka jajanan. Kami mengambil posisi di tengah-tengah. setelah itu, ustadz Widjayanto membawakan tauziyah dan lebih banyak melontarkan banyolan sehingga membuat jamaah kenduri cinta tidak mengantuk. Setelaah itu, berturut-turut beberapa pengisi acara yang benar-benar membuat mata terpejam bahkan salah satu pemateri yang bernama andri... sepertinya ingin mengimbangi ustadz widjayanto malahan garing dan terlalu lama sehingga 2 kali diinterupsi oleh moderator.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 24:00 WIB, pemateri selanjutnya Sabrang dan ustadz subkhi.  Entah kenapa ketika Sabrang (Noe Letto) yang membawakan materi, semua hadirin kembali melek dan sama sekali tidak mengantuk. Ada satu pelajaran yang paling utama dari materi sabrang bahwa segala sesuatunya jangan dilihat benar salah, sebelum menjustifikasi sesuatu maka harus dilihat secara komprehensif. dia lalu bercerita ketika mengikuti muktamar NU. Salah seorang peserta dari Madura mengobrol dengannya dan memperdengarkan lagu Indonesia raya yang sudah dirubah liriknya. "16 agustus tahun 45, besoknya hari kemerdekaan Indonesia" Sambil melagukan lirik tersebut, semua hadirin tertawa dengan melihat lagak Sabrang. Dia kemudian melanjutkan hikmah dari kejadian tersebut bahwa seandainya saja sabrang buru-buru menilai orang madura tersebut salah dalam lagu maka kemungkinan sebelum selesai liriknya, dia sudah menyalahkan namun sabrang mencoba untuk mendengarkan secara keseluruhan ternyata orang madura tersebut tidak salah. itulah pentingnya melihat kasus secara komprehensif.

Saya memutuskan untuk beranjak pulang sebelum sabrang selesai memaparkan materinya karena pacar saya sudah tidak tahan ngantuk apalagi Cak Nun ternyata tidak hadir.

Banyak hikmah yang diperoleh dari acara tersebut bahwa yang namanya kharisma tidak bisa dipelajari mungkin ketulusan hati saja yang bisa kita asah. Terlihat dari beberapa pemateri di kenduri cinta, hanya ustadz Widjayanto dan Sabrang yang membuat orang mendengarkan materi sedangkan yang lainnya hanya sebagai selingan meski mereka berusaha untuk mengimbangi namun tetap saja tidak bisa karena ketulusan hati yang utama. saya selalu percaya sesuatu yang disampaikan dari dalam hati akan didengarkan dengan hati oleh yang mendengarkan.

jakarta, 15 Agustus 2015

August 14, 2015

Khutbah Jumat

Layaknya antitesa dari khutbah jumat minggu lalu, khutbah Jumat kali ini sedikit lebih mencerahkan. Sang Khatib nampaknya lebih banyak mengeksplorasi tentang penyucian jiwa dan tidak terlalu menyalahkan pemerintah dalam setiap masalah.

Khatib juga ternyata adalah seorang penulis buku yang membahas tentang spritualis.

August 13, 2015

Pergantian Kepala Cabang

Mutasi adalah sesuatu yang normal dalam dunia perusahaan. Banyak alasan yang dijadikan landasan bagi perusahaan untuk melakukan mutasi. tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut seperti sebuah keniscayaan jadi tidak ada yang luar biasa seperti mutasi yang terjadi pada kepala cabang di kantorku dan digantikan oleh kepala cabang dari K Gading.

Setiap pemimpin punya ciri khas masing-masing dalam memimpin bawahannya jadi bagi saya tidak ada sama sekali terhadap setiap karakter kepemimpinan, itu jika saya melihat hanya personal bagi diri saya namun lain halnya ketika saya harus memperhatikan teman sejawat. tentunya bahwa karakter kepemimpinan akan berpengaruh bagi mereka terutama dari segi penghasilan. 

AF, kepala Cabang yang baru di kantor saya pindahan dari cabang terdekat. Sekilas pribadinya yang tenang dan tidak terlalu banyak cerita meski pada rapat kemarin, dia mendeklarasikan dirinya sebagai pribadi yang temperamen namun entahlah apa maksud dari perkataannya tersebut karena sepengetahuan saya, hanya orang lain yang bisa menilai diri kita maka mungkin dalam perjalanan nantinya, baru bisa dinilai seperti apa dan bagaimana cara memimpinnya.

Menarik untuk menuliskan kembali pembahasan hasil rapat kemarin dengan pak AF. Mencoba untuk menyederhanakan pikirannya bahwa dia adalah orang yang terukur dalam hidup dalam artian kontekstual dan menjalani segalanya sesuai dengan apa yang ada tanpa terlalu banyak gerakan tambahan. 

Mungkin hipotesa saya masih terlalu prematur untuk membuktikannya namun rentang waktu seminggu sudah sedikit membuktikan bahwa dia orangnya pendiam dan sedikit tenang bahkan tidak terlalu mengurusi hal-hal yang bahasannya hanya lelucon.

Dia akan duduk tenang di ruangannya ketika tidak ada yang perlu dikerjakan dan bahkan ketika saya meminta tandatangan maka dia tidak terlalu banyak bertanya tentang klaim tersebut. Begitulah analisa awal bagi kepala cabang yang baru.

Sekali lagi bagi saya bahwa tidak ada hal yang mampu mengganggu konstelasi hidupku karena saya sedang berusaha untuk menentukan satu arah dalam hidup yaitu Ilahi. Selain daripadaNya, semua saya anggap hanya lelucon belaka yang hanya perlu ditertawakan.

Rawamangun. 130815

August 12, 2015

Hidup Memang Paradoks

Saya tidak sedang mencoba untuk menulis contoh hidup yang paradoks menurut Sudjiwo Tedjo misalnya demontrasi dibutuhkan supaya angkutan Kopaja mendapatkan penghasilan. Sebenarnya hidup ini memang adalah paradoks yang tidak akan pernah terhitung jadi setiap hal akan mendapatkan sisi yang berbeda. 

Hari sabtu kemarin, kantor saya mengadakan lomba mancing sebagai bagian dari acara pelepasan kepala cabang yang dimutasi ke kebayoran. saya baru mengerti seperti apa mancing di perkotaan. Ternyata untuk memancing ikan di kota ini, orang harus membeli ikan kira-kira seharga 25 ribu untuk sekilo kemudian ikan tersebut dilepas di empang lalu kemudian ikan-ikan dipancing kembali. Ketika ikat tidak bisa diangkat dari empang dengan cara dipancing dalam durasi waktu yang ditentukan oleh pemilik empang maka ikan tersebut diambil oleh pemilik empang. 

Hal yang lucu karena sepertinya kegiatan memancing di kota hanya memuaskan hasrat sensasi memancing atau dalam artian, orang kota hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang pemancing sedangkan di desa, kegiatan memancing biasanya dilakukan di laut ataupun di sungai dan dijadikan sebagai profesi bukan hiburan.

Sama halnya ketika orang kota ingin merasakan suasana pedesaan maka mereka harus membayar mahal untuk berkunjung ke daerah wisata yang di design seperti suasana pedesaan sedang orang desa sendiri setiap harinya merasakan suasana seperti itu. maka berbahagialah orang yang tinggal di desa karena tidak perlu membayar mahal untuk mengisi kehampaan jiwa mereka merasakan alam seperti yang mayoritas orang kota lakukan.

Hidup memang paradoks. saling tindih antara fenomena yang satu dengan yang lainnya. Di satu sisi orang mendapatkan duka namun disisi lain, ada orang yang bersuka atas duka orang lain. itu yang terlihat secara indrawi meski pada dasarnya, hal yang indrawi seringkali menipu. Ketika melihat orang berduka namun sebenarnya hatinya tetap tenang. hidup hakekatnya seperti itu. perpindahan dari satu kondisi ke kondisi  yang lain.

Jakarta, 120815

August 11, 2015

Tragedi Kehidupan

Tragedi hidup ini, Tuhanku
menimpaku saat ini dalam perjalanan waktu yang semakin menyempit
menyesakkan

apa-apa yang ada di alam pikirku adalah realitas semu
saat terjadi di mataku
dan oleh tanganku sendiri
bahwa memang hidup ada pertempuran melawan diri

aku kalah
dalam beberapa babak
sekali lagi kumulai
berdiri dan menantang
namun entah besok atau lusa
akankah akan terulang atau aku memenangkan laga
namun yang kutahu
selama raga masih dikandung
perang melawan diri akan terus berlangsung

Rawamangun. 110815

August 10, 2015

Surat Maafku

Aku memilih untuk menjauh darimu untuk sementara waktu demi menjaga sebuah kesucian niat. Aku tahu memang berat melepas interaksi kita bahkan perhatianmu sekecil pun seakan menjadi kerinduan yang paling dalam di setiap langkah.

Aku pasti merindukan chat darimu yang menanyakan setiap hal yang remeh temeh tentangku, apakah aku lembur? Apakah sudah makan? Apakah sudah shalat subuh? Dan sederet perhatianmu yang membuatku harus mengelus dada disaat aku memutuskan untuk tidak menjalin komunikasi denganmu.

Mungkin engkau akan menganggapku pria paling egois karena disetiap perjumpaan kita, aku yang selalu memulai nista yang membuatku jera menemuimu. Engkau mungkin merasa dipermainkan.

Namun aku yakin ketika engkau diberi kesempatan menjadi seorang lelaki yang mencintai  wanita maka engkau akan merasakan betapa sangat sulitnya mengendalikan syahwat karena terkadang cinta dan syahwat itu tidak bisa dibedakan.

Aku memilih untuk tidak menjumpaimu dalam beberapa waktu semata-mata pilihan terakhir untuk menjaga diriku dari murka Tuhanku. Biarlah cemohaan menyerangku ketika hatiku kian tenang

Untukmu gadis yang tidak akan kuhubungi beberapa saat. Biarkanlah hatimu tenang dalam keheningan sejenak karena  seperti itu pula yang sedang kulakukan. Aku ingin merawat hatiku yang sedang terpenjara oleh syahwatku

Surat ini mungkin tidak akan sampai kepadamu namun semoga saja engkau merasakan melalui resapan perasaan kita yang menyatu.

kos rawamangun. 100815

Langkah

satu langkah usai
kembali mengayun langkah lain
sering kukatakan
tetaplah melangkah sepanjang kaki kita tidak menginjakkan kaki orang lain

langkah adalah penanda sejauh mana kita hidup
memberikan jiwa pesan yang dalam,
bahwa jejakmu adalah riwayatmu

tinggalkanlah jejak langkah yang sesuai arah
luruskan setiap langkah yang belok

Tinggalkanlah

Dalam setiap hal yang tersisa maupun terlupa
seharusnya dibiarkan layu
atau tinggalkan saja
karena berjalan itu maju
bukan mundur

August 9, 2015

Bekerja di Hari Libur yang Semestinya

Saya terkadang merasa sok mengartikan setiap detail kejadian yang saya alami, merasa tahu hikmah yang ada namun biarkanlah daripada tidak ada pelajaran yang saya dapatkan dari kehidupan. Saya mengakui sedang dalam proses untuk belajar apa saja dari kehidupan karena membaca teks book hanyalah memenuhi ruang kosong dalam kepala yang kemudian membasi lalu tidak berarti apa-apa.

Kemarin saya acara perpisahan dengan bos di daerah Depok. Sore hari baru bisa ketemu dengan teman dekat saya di sebuah taman kota tepatnya taman menteng. Setengah jam kami menikmati pola kehidupan di taman tersebut, ada yang asyik main bola, bocah yang bersepatu roda ria, beberapa pasang kekasih yang duduk di bangku taman dan kesibukan lainnya, tiba-tiba win ditelpon bosnya untuk mengantar surat ke kantor Lemhanas. Saya kemudian mengantarnya ke warnet lalu menuju ke kantor Lemhanas.

Malamnya saya kemudian mereka-reka hidup ini, kok ya kayak cerita yang diskenariokan, bahwa win disuruh ke kantor Lemhanas setelah bersama saya..? Bagaimana jadinya seandainya dia disuruh siang hari saat saya masih di Depok..? Dia harus jalan kaki ke warnet kemudian naik taxi ke kantor Lemhanas. Kan repot bahkan ongkos lebih banyak.. memang Tuhan punya rencana di hidup ini. Semoga saja bukan karena Tuhan mempermudah sehingga saya berpikir begini, semoga dalam setiap kejadian susah maupun senang.

Hidup memang adalah perkiraan sepersekian dari apa yang ada dipikiran dan selalu kita merasa sok paling menderita meski pada akhirnya cerita Tuhanlah yang akan berjalan. Saya selalu mengulangi dalam hati bahwa hidup akan berjalan sesuai sunnahtullah dan kita tidak perlu mengkhawatirkan terlalu banyak terhadap setiap detail esok hari sepanjang kaki kita masih berpijak pada jalan yang lurus dan tidak mengingkari apa yang sudah digariskan.

Setelah itu, kita hanya butuh berjalan terus dan sesekali menepi jika penat kemudian jangan merasa paling menderita ketika ada kerikil di setiap tikungan karena hidup memang adalah lika-liku kemudian pada akhirnya ketika kita sudah sampai pada ujung jalan dan menengok ke setiap langkah yang telah dilalui, kita akan menertawakan semua tanpa sebab dan tanpa kecuali.

Ah, saya mungkin sok tau lagi.
#sudahlah 

PERPISAHAN

Saya sudah sering menulis tentang perpisahan yang selalu menyakitkan. Entah sudah berapa kali saya bercerita banyak tentang perpisahan dan saya meyakini bahwa hidup itu adalah pertemuan untuk berpisah. setiap detail dalam kehidupan kita akan dipertemukan dengan hal yang baru namun secara bersamaan pun kita kehilangan bagian-bagian yang lain.

tepat setahun yang lalu, saya masuk di kantor ini dan terdaftar sebagai salah satu staff yang mengharuskan saya duduk manis di kantor mengerjakan tetek bengek adminstrasi di kantor ini. tepat setahun yang lalu pula saat pertama kali ke kantor ini, saya bertemu dengan kacab. kesan pertama saat itu masih biasa saja karena toh saya belum ngeh kalau dia seorang kacab. baru kemudian di hari kedua, saya memperkenalkan diri dan saat itu, babe Muslim, sapaan akrab beliau, hanya berbicara sedikit hal kepada saya. kalimat yang saya ingat saat itu adalah " engkau harus punya gelar AAAIK." itu saja kata-kata pertama yang masih tersimpan dalam memoriku dalam interaksi pertamaku dengannya.

kemudian hari berlalu dengan normal, saya mulai memahami setiap karakter manusia di kantor ini termasuk beliau. saya mungkin tidak akan terlalu banyak untuk kembali menulis apa saja tentangnya karena dulu saya sudah menulis banyak hikmah yang beliau tawarkan padaku. banyak hal memang yang tidak bisa saya rinci satu persatu, saya merasa dihargai karena beliau mempercayakan pekerjaan yang dibebankan kepada saya meskipun masih baru namun beliau tidak perlu mengintimidasi masalah pekerjaan. 

dalam beberapa masalah pun, beliau tidak pernah terikat pada hal yang materiil bahkan beliau mengajarkanku bagaimana memperlakukan uang bahwa uang itu tidak boleh dilihat dengan nafsu karena tidak akan ada puasnya maka ambillah secukupnya kemudian berbagi dengan setiap orang.

tidak terasa waktu kemudian berlari mengejar esok hari dan meninggalkan hari yang berlalu kemudian sampailah pada saat ini ketika babe Muslim dimutasi ke cabang kebayoran. kemarin adalah pelepasan beliau di Jagakarsa. seingat saya, sudah terlalu lama saya tidak sentimental dalam menghadapi setiap perpisahan entah dengan siapapun juga namun saya sama sekali tidak mengerti, hari kemarin semua perasaan sesak saya tumpah ruah, tibalah ketika saya harus bersalaman dengan babe Muslim, saya tidak sanggup menahan onak dan kata-kata pun hanya sampai di tenggorokanku kemudian yang kulakukan hanya merangkulnya.

ah. mungkin hati saya tahu siapa yang harus ditangisi ketika berpisah karena tidak semua orang ditangisi dalam perpisahan bahkan ada yang dirayakan dalam kebahagiaan namun babe Muslim pantas untuk ditangisi dengan segala kebaikannya.

Jagakarsa, 080815

August 7, 2015

KHUTBAH JUMAT

saya memutuskan untuk shalat jumat di lorong dekat warteg Enggal. berhubung saya berniat membeli makan di warteg Enggal setelah Jumatan maka saya shalat di Mesjid Nurul meski jaraknya lumayan jauh dari kantor.

Saya harus mengelus dada ketika mendengar khutbah Jumat di mesjid Nurul. entah mungkin saya yang tidak bisa mengambil pelajaran dari khutbah jumat tersebut namun terus terang, khutbah jumat ini benar-benar adalah salah satu khutbah jumat yang amat sangat tidak kusepakati bahkan seandainya saya gegabah, mungkin saya sudah mencari mesjid lain untuk shalat jumat.

pembukaan khutbah dimulai dengan mengajak masyarakat untuk puasa shawal dimana bulan syawal tinggal 8 hari lagi kemudian Khatib menjelaskan keutamaan Puasa tersebut setelah itu, khatib membicarakan masalah konflik Tolikara yang terjadi bertepatan dengan 1 syawal 1436 H ketika umat Islam melaksanakan shalat Ied. nada yang meninggi ditambah dengan dalil-dalil memperlihatkan bahwa sang khatib sedangkan menanamkan kebencian terhadap umat lain terutama Nasrani. khatib kemudian ngalor kidul mejelaskan dan mencocok-cocokkan dalil yang mengatakan bahwa kita lebih baik berdiri 40 tahun daripada berjalan di depan orang shalat. 

di pertengahan Khutbahnya, khatib mengeluarkan HP dan membacakan surat yang masih menjadi perdebatan keasliannya bahwa tidak boleh mendirikan rumah ibadah di Tolikara selain gereja Gidi. dia dengan menggebu-gebu mengajak jamaah untuk memerangi orang kafir. saya membayangkan khatib tersebut berangkat ke daerah konflik di Timur Tengah dan apa yang akan dia lalukan.

khatib kemudian mengatakan bahwa hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum syetan. dia mengatakan bahwa dia tidak bisa memotong tangan pencuri dan menerapkan hukum Islam lainnya. kemudian melanjutkan bahwa di Indonesia, dia sudah bayar pajak, namun tidak ada yang dia dapatkan di negeri ini. katanya dia tidak bisa memotong tangan orang yang mencuri. dia membanding dengan pemerintahan khilafah , yang entah negara mana referensinya, bahwa dibawah hukum khilafah, orang akan sejahtera dan tidak ada pencuri. rumah dibuka begitu saja dan umat agama lain aman dibawah lindungan pemerintahan khilafah.

masih banyak lagi yang dia sampaikan namun saya tidak bisa mengingat setiap detail khutbahnya karena sudah tidak sepakat. pada intinya bahwa dia benar-benar adalah penganut paham keagamaan "Radikal." dia ingin hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum Khilafah. 

entah kenapa, saya sekarang memasuki fase tidak terlalu suka dengan paradigma yang radikal bahkan menjurus fasis entah apapun itu agama atau pahamnya. kita seakan masih terkurung dalam dogma agama yang membuat kita harus membenci manusia atas nama agama meski pada dasarnya bahwa Tuhan sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menumbuhkan sifat kebencian dalam hati.

atau mungkin kita ingin terlihat seperti para pejuang agama yang rela mati demi kesucian agama tetapi seringkali kita melupakan atau bahkan memang tidak mencari atau sebenarnya apa yang sedang kita perjuangkan. atas nama dogma agama, semua dilakukan begitu saja demi iming-iming syurga dan sekarang, saya sampai pada keyakinan bahwa syurga dan neraka adalah ilusi karena tujuan kita adalah bertemu dan menyatu dengan Tuhan. syurga dan neraka selalu kita korelasikan dengan kenikmatan dunia dan seringkali kita melupakan pertemuan dengan Ilahi.

saya suka dengan analogi ketika kita merantau dan ingin pulang kampung, satu hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah bertemu dengan orang tua yang kita kasihi tanpa memikirkan lagi apa yang akan diperoleh ketika di kampung. begitu pula seharusnya ketika menuju Tuhan, sejatinya yang ada dipikiran adalah pertemuan denganNya bukan malah syurga dan neraka karena Dia melebihi dari apa saja.

entahlah, semoga saya tidak sok tahu
saya hanya tidak sepakat dengan khutbah tadi
kesannya terlalu provokatif
"Astagfirullah"

Rawamangun, 070815

August 6, 2015

Sore Kemarin

Pertemanan bagi saya adalah salah satu unsur yang penting dalam kehidupan saya namun jenis pertemanan pun bervariasi sehingga jika dianggap sebagai seseorang yang memilah-milah teman maka mungkin iya. Saya sebenarnya cepat akrab dengan setiap orang namun dalam perjalanan waktu pertemanan yang dijalani, ada ukuran-ukuran yang saya terapkan sehingga jika pada akhirnya, kuputuskan untuk tidak terlalu dekat dengan beberapa teman lama karena ada ketidaksesuaian dengan ukuran yang saya terapkan namun ada juga teman yang akan kuakrabi bahkan ada teman yang mungkin intensitas pertemuan yang membuat saya mau tidak mau akan selalu bergurau meski pada kenyataannya dia sudah tidak masuk dalam ukuran yang saya terapkan.

Salah seorang teman kuliah berangkat ke Norwegia melanjutkan pendidikannya. dia hanya transit di bandara Soetta selama 3 jam. saya berangkat ke sana pukul 17:30 dari terminal Rawamangun. Damri berjalan begitu pelan karena bertepatan dengan jam pulang kantor yang berarti bahwa jalan-jalan protokol di Jakarta pastinya amat sangat padat. 

Pintu Tol Cengkareng
Perjalanan sore kemarin bertemu dengan teman di Bandara memberikanku ruang untuk memperhatikan pola kehidupan di kota ini. Dulu saat masih belum bekerja, saya menyelami jiwa para kaum di kota ini saat tergesa-gesa pada pagi hari berangkat ke kantor dalam kepadatan lalu lintas kemudian saat pulang kantor dengan cucuran keringat berdesak-desakan dalam kereta, busway dan kendaraan umum lainnya. Saya selalu berpikir apa yang ada dalam pikiran mereka menjalani rutinitas seperti itu. namun kemudian setelah bekerja dalam bergabung dengan pola seperti itu, saya sepertinya tidak punya lagi waktu memperhatikan pola-pola seperti itu karena saya menjadi bagian dalam mereka. namun sore kemarin, pola kehidupan di kota ini kembali menjadi perhatianku.

Saya menyelami pikiran mereka ketika sedang tergesa-gesa menunggu angkutan, dengan masker hijau, headseat terpasang di telinga dan tas ransel yang posisinya diletakkan di depan untuk mengantisipasi copet dan wajah yang datar. Saya mencoba mereka pikiran mereka yang sudah sampai di kantor meski tubuh mereka masih berada dalam kemacetan begitupun ketika sore mejelang, dalam kepadatan pun, pikiran mereka sudah melesat sampai di rumah bercengkerama dengan keluarga namun masih saja jasad mereka masih berjibaku dengan macet.

Saya sampai di Bandara terminal 2 sekitar pukul 18:20 WIB. Saya selalu mengarahkan pandangan kepada mereka yang akan berpisah di bandara, ada pasangan muda-mudi yang dengan eratnya berpelukan tanpa tidak memikirkan lagi orang disampingnya, bagi mereka, perpisahan adalah sembilu yang mencabik luka. si wanita menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang pria dengan mata terpejam seakan tidak ingin berpisah. Ada sekumpulan keluarga yang saling mengusap air mata dan banyak pemandangan yang sentimental bagi mereka yang sedang ingin melepas kepergian sanak saudara.

Sampailah saya bertemu dengan kawan yang akan melancong ke norwegia sebagai seorang mahasiswa S2. Saya mengamati dalam-dalam wajahnya namun yang kutemukan adalah wajah yang tulus meski masih ada sisa haru di sudut matanya. Dia bercerita bahwa saat akan berpisah dengan orang tuanya di Bandara Hasanuddin, derai air mata dari kedua orang tuanya sudah tidak tertahankan lagi. Dari situ saya menyimpulkan bahwa energi kesedihannya sudah habis untuk keluarganya.

Aneka ragam perasaan saat berpisah yang kutemui kemarin mengajarkanku betapa sebuah perpisahan adalah airmata bahkan perpisahan seperti itu adalah perpisahan semu yang masih menyisakan 50-50 kesempatan untuk bertemu kembali. bagaimana jika perpisahan maut yang memisahkan ketika sudah tidak ada lagi harapan untuk bertemu.? Entah, hidup memang adalah pertemuan untuk berpisah, selalu begitu.

Rawamangun, 060815


August 4, 2015

Aku Sedang Ateis

"Ketika aku sedang mencemaskan masa depanku maka saat itu aku sedang atheis." 

Pernyataan ini murni kurangkai sendiri dan kujadikan sebagai status BBM pagi ini. Sebenarnya kata-kata itu adalah klimaks dari kecemasan-kecemasanku tentang apa yang akan terjadi pada diriku esok lusa. aku merasa bahwa unsur Tuhan menghilang dari dalam diriku ketika semua pikiran tersebut kembali berseliweran dalam relung kepalaku kemudian terlintas dari pikiranku tentang kata-kata tersebut. 

Beberapa waktu yang lalu, Sudjiwo Tedjo pun pernah berkata bahwa "paling gampang menghina Tuhan, ketika khawatir makan apa besok maka engkau telah menghina Tuhan." memang benar bahwa hidup selalu paradoks antara senang dan susah dan itu sunnatullah maka seseorang yang mengerti hidup tersebut maka bolak balik keadaan tersebut adalah pola dari Tuhan dan menikmatinya sedangkan orang yang hanya ingin senang dalam hidupnya, mungkin termasuk aku,  adalah orang yang belum memahami tentang pola kehidupan ini.

Sebelum terlalu jauh ngalor kidul, sebenarnya tulisan ini adalah antitesa dari tulisanku kemarin yang mereduksi kebesaran Tuhan dalam hidupku karena terlalu cemas dengan apa yang akan menimpaku esok lusa dan bahkan masa depanku. betapa aku begitu risau dengan setiap hal yang akan kulalui sedangkan semua itu hanyalah ilusi dari buah pikiran yang sebenarnya semu. Aku selalu alpa menghadirkan Tuhan dalam diriku tentang keyakinan bahwa Dia yang melebihi segala tidak akan pernah membiarkan semua yang ada dalam genggamannya menanggung cobaan diluar kemampuannya.

Semalam aku memikirkan kecemasan-kecemasan tersebut, meski pada pagi harinya aku memutuskan untuk meneguhkan hati bahwa semua kekhawatiran hanyalah ilusi fiktif yang dimunculkan oleh nafsu dengan berbagai alasannya dan pada akhirnya semua tidak terbukti.

Dalam perenunganku semalam, ada beberapa faktor yang memunculkan kecemasan tentang masa depanku. pertama ketika aku cemas pada saat menikah nanti, kemungkinan aku tidak punya penghasilan yang terlalu banyak maka kecemasan itu berdasarkan alasan karena ada kekhawatiran dalam hatiku bagaimana aku memberikan nafkah kepada keluarga, alasan berikutnya adalah bagaimana bisa seorang pria yang juga sebagai seorang suami tidak punya pekerjaan disisi yang lain istrinya yang banting tulang mencari nafkah kemudian berikutnya aku masih memikirkan pandangan orang lain tentang aku yang kemudian harus menganggur dan menumpang hidup pada istri.

Begitulah semua energi negatif yang merasuk dalam pikiranku membuatku mereduksi kebesaran Tuhan. Aku masih terus belajar bagaimana memahami kekuasaannya yang sublim sehingga tidak harus dikorelasikan dengan logika manusia yang terbatas hanya pada pengamatan empiris.

Demikianlah usahaku kembali menemukan Tuhan dalam diriku

Jakarta Timur, 040815

August 3, 2015

KECEMASAN YANG SEMAKIN NYATA

Dua bulan lagi, jika semesta meridhai, aku akan melakukan perubahan dalam hidupku. titik balik dari setiap apa yang hendak kujalani karena sejatinya apa yang akan kuhadapi adalah menentukan seorang partner hidup yang akan menjadi siapa dan apa saja di setiap langkah hidupku berikutnya. seorang yang akan menjadi teman diskusi, musuh bertengkar, teman tidur dan apa saja yang akan kulakukan.

periode dalam hidupku yang sebenarnya bagian dari drama semesta meski jujur dan amat kusadari bahwa drama hidup yang harus kujalani dengan serius. aku harus menjadi seorang pemimpin sekaligus temannya dan satu hal bahwa tujuan hidup kami seharusnya sudah menyatu menjadi tujuan yang satu karena hidup kami akan menyatu.

kecemasan melanda hatiku menghadapi momen tersebut. ada banyak alasan yang membuat hatiku goyah dan keder. selain karena ketakutan konvensial menjadi seorang pemimpin dalam keluarga juga karena ketakutan tidak bisa menafkahi anak isteri, terlebih lagi adanya kenyataan mengenai karirku di kantor yang kemungkinan belum diangkat menjadi karyawan tetap. semua menyatu dalam kecemasan yang tak terkira bahkan ketika aku membayangkan kenyataan suatu nanti, isteriku harus bangun subuh hari kemudian bersiap ke kantor dan disisi lain aku masih berpikir kerja apa hari ini sedangkan aku sebagai kepala keluarga yang harusnya banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. aku tidak bisa menahan ironi kehidupan seperti itu.

entah seperti apa drama hidup yang kembali harus kujalani. aku sebenarnya tidak menuntut hal yang lebih kepada Sang Pemilik Skenario, hanya saja bahwa aku bekerja tetap di pekerjaan yang halal dan toyyib jangan sampai terjadi kenyataan aku menumpang hidup pada isteriku.

berbagai kecemasan-kecemasan yang tidak kunjung hilang dari kepalaku. selama menjadi manusia dalam derajat paling rendah dalam meyakini Tuhanku maka ketakutan dan kecemasan seperti itu akan selalu ada dalam diriku.

Kantor Rawamangun. 030815

August 2, 2015

move on

Tak ada artinya menyimpan luka
jika saja semakin membunuhmu
kuburlah ia di masa lalu

August 1, 2015

Tentang Agustus Yang Menyapa

Tidak ada yang spesial dari datangnya bulan agustus selain euforia masyarakat yang sebentar lagi menyambut hari kemerdekaan. Bagi saya pun bulan ini akan menjadi seperti biasa layaknya pengulangan bulan sebelumnya. Namun Setidaknya di akhir bulan ini, saya menunggu kepastian dari kantor tentang status karyawanku. Entah akan tetap dperpanjang, dipermanenkan atau bahkan diputus kontrak. 

Layaknya manusia biasa, saya tetap cemas saja menunggu status di kantor ini apatahlagi ada rencana besar dalam kehidupan saya yang akan saya wujudkan dua bulan kedepannya. Itu saja yang membuat sedikit kecemasan selalu menghantui saya dalam setiap kesendirian meski di lain waktu saya hati saya tenang, saya kemudian tidak mengkorelasikan rencana saya tersebut dengan pekerjaan karena sejatinya semua akan berjalan sesuai takdirnya.

Sebenarnya bagiku, semua hal tersebut tidak masalah sama sekali hanya saja bahwa rencana saya akan sedikit membebani saya dengan keputusan di kantorku. Bagaimanapun saya adalah lelaki dan bertanggung jawab terhadap keluarga meski sering kuakui bahwa rejeki tidak akan pernah tertukar namun tetap saja bahwa kecemasan meliputi segenap ragaku.

Entahlah apa yang akan menjadi sebuah wujud nyata dari semesta namun setidaknya semua telah saya bicarakan secara terbuka dengan calon partner hidup saya dan dengan amat legowo, dia tidak mempermasalahkan apapun tentang keputusan pekerjaanku.

Ah, saya akan biarkan semesta ini yang mengaturlah, biarlah saya seperti debu yang akan terbang kemana saja sesuka angin dan biar pula saya menjadi air yang rela dibawa kemana saja oleh arah sungai karena sejatinya saya tidak punya kekuatan apa-apa sekarang selain keteguhan hati untuk berdamai dengan hidup yang hanyalah sebuah banyolan nyata.
 
Jakarta, 1 Agustus 2015