Akhir maret yang sedih
Mengisahkan pilu yang tersisa, diselingi sesekali
senyum sumringah dari kami
Seperti tak tersentuh dan tibatiba saja april menjemput
mengurangi waktu perjalanan
Selalu saja seperti itu dan tak terasa
Mengapa?
Karena bunga yang tumbuh di taman sekitar rumah belum
mekar
Belum sepenuhnya menikmati maret yang basah
Ah, april menjelang
Dengan huru hara janji manis dari para pejabat
Di setiap sudut kota penuh dengan potret mereka yang
kelihatannya suci tak ketinggalan kata sebagai pemanis buatan meski setahuku
bahwa selalu saja yang namanya pemanis tidak baik buat kesehatan
Itulah sebabnya aku tidak terlalu menyukai kedatangan
april hingga sampai tanggal 9 kemudian, aku memilih untuk diam, nantilah
setelah huru hara tanggal 9 negeri ini, aku kembali beraktivitas
Sakit kepalaku sering kambuh melihat mereka yang narsis
memajang foto di setiap sudut kota, di pinggir kali, di lampu merah, di
warung-warung, bahkan di toilet umum.
Huh, mereka mengotori negeri ini dengan janji yang tak
ditepati.
Mereka mengundang artis dangdut nan seksi kemudian
disaksikan anak kecil di kota ini
Mereka mengibuli kami orang-orang kecil
Mereka menyesakkan.
tidak memilih bukan berarti acuh ataupun makar dan sebagainya. tidak memilih sebagai sikap politik melawan ketidakberesan dari perkara-perkara negera yang tidak terselesaikan kemudian mereka secara berkala dalam 5 tahun selalu berjanji dan selalu saja janji itu terealisasikan dengan bentuk kebalikannya
31’3’14
Menjelang
akhir maret
Menuju
tanggal 9 april yang menipu

No comments:
Post a Comment