March 28, 2014

Cerita Tentang Bapak

Kulihat sore itu bapak pulang dari sawah. Dengan celana pendek warna kecokelatan yang penuh dengan lumpur dan cangkul yang dipanggul. Kulitnya terbakar di sengat matahari seharian. Kulihat di wajahnya sendu menyelimuti dalam kesedihan. Panen padi kali ini gagal karena hama yang menggila. Entah berapa kali bapak berkeluh dengan kerja keras yang tidak membawa hasil. Entah berapa kali beliau kupandangi sehabis shalat maghrib, beliau menghisap sebatang rokok dengan segelas kopi di samping sambil pandangan hampa. Namun sesering itu pula kulihat wajah yang tegar ketika berada di depan anak-anaknya.

Di pagi yang masih gelap. Kuintip bapak dari dinding kamarku yang terbuat dari anyaman bambu. Kulihat beliau mempersiapkan semua peralatan sambil berkomat kamit sebelum berangkat ke sawah. Tak lupa sebatang rokok sebagai tanda memulai hari ini di sawah. aku tahu benar-benar hari yang melelahkan saat masa tanam mulai tiba. Namun kali ini, masa tanam terancam gagal karena kampung kami kekeringan. Tidak ada cukup air yang mengalir di irigasi untuk mengairi sawah bapak, seketika berkecamuklah pikiran bapak tentang hari esok akan makan apa namun selalu saja beliau berkeyakinan bahwa Tuhan selalu membuka rezekiNya tanpa disangka-sangka dan bapak selalu yakin akan hal itu.

Kali ini kulihat bapak sedang duduk melepas penat di bawah pohon mangga samping pematang sawah. aku membawakan makan siang buatan ibu. Beliau mengibas-ngibaskan topinya dan tak lupa asap rokok mengepul dari mulutnya. Kulihat beliau nanar memandang langit dengan wajah yang amat sendu. Bapak adalah orang yang tegar dan tanpa sekalipun raut muka putus asa tergambar di wajahnya. Semua adalah tentang menikmati perannya dan menikmati kerja keras. Tentang bagaimana menjalani hidup dengan sempurna tanpa ada kata penyesalan keluar dari mulutnya
Tentang bapak, tentang sawah dan tentang kecintaan akan bau tanah yang selalu menemani setiap hari. Memperhatikan wajah bapak di setiap momen waktu seperti menyaksikan hidup yang sebenarnya. Menikmati sebuah peran hidup sebagai petani dan mensyukurinya. Mungkin saja bapak sudah mengerti tentang hidup yang semua memiliki peran dan tidak boleh ada satupun yang mengeluh akan peran hidup yang telah dibebankan kepadanya. Bapak mengerti bahwa Tuhan telah memberinya peran sebagai petani dan bapak menikmati itu dengan ridha. Beliau sadar bahwa menikmati hidup dengan ridha akan mendatangkan keridhaan Tuhan dalam setiap bentuk apapun.

Bapak mengerti bahwa ada orang yang tidak perlu bekerja keras untuk kemudian makan setiap harinya dan bapak pun mengerti bahwa ada orang yang harus banting tulang untuk makan dan bapak mengerti beliau adalah salah satunya.

Aku masih sangat ingat tentang sebuah kalimat yang diucapkan bapak kepadaku selagi aku masih bocah, “Tuhan lebih melihat hati daripada tindakan nak.”. begitulah yang dikatakan bapak kepadaku suatu waktu di masa silam yang saat itu sama sekali tidak kumengerti namun baru kusadari seiring dengan perjalanan waktu sampai saat ini.

Bapak mencintai bau tanah maka beliau sangat menikmati peran hidupnya sebagai petani.

Jojoran 3/61
28’3’14

No comments: