Kulihat
sore itu bapak pulang dari sawah. Dengan celana pendek warna kecokelatan yang
penuh dengan lumpur dan cangkul yang dipanggul. Kulitnya terbakar di sengat
matahari seharian. Kulihat di wajahnya sendu menyelimuti dalam kesedihan. Panen
padi kali ini gagal karena hama yang menggila. Entah berapa kali bapak berkeluh
dengan kerja keras yang tidak membawa hasil. Entah berapa kali beliau
kupandangi sehabis shalat maghrib, beliau menghisap sebatang rokok dengan
segelas kopi di samping sambil pandangan hampa. Namun sesering itu pula kulihat
wajah yang tegar ketika berada di depan anak-anaknya.
Di pagi
yang masih gelap. Kuintip bapak dari dinding kamarku yang terbuat dari anyaman bambu.
Kulihat beliau mempersiapkan semua peralatan sambil berkomat kamit sebelum
berangkat ke sawah. Tak lupa sebatang rokok sebagai tanda memulai hari ini di
sawah. aku tahu benar-benar hari yang melelahkan saat masa tanam mulai tiba. Namun
kali ini, masa tanam terancam gagal karena kampung kami kekeringan. Tidak ada
cukup air yang mengalir di irigasi untuk mengairi sawah bapak, seketika
berkecamuklah pikiran bapak tentang hari esok akan makan apa namun selalu saja
beliau berkeyakinan bahwa Tuhan selalu membuka rezekiNya tanpa disangka-sangka
dan bapak selalu yakin akan hal itu.
Kali
ini kulihat bapak sedang duduk melepas penat di bawah pohon mangga samping
pematang sawah. aku membawakan makan siang buatan ibu. Beliau mengibas-ngibaskan
topinya dan tak lupa asap rokok mengepul dari mulutnya. Kulihat beliau nanar
memandang langit dengan wajah yang amat sendu. Bapak adalah orang yang tegar
dan tanpa sekalipun raut muka putus asa tergambar di wajahnya. Semua adalah
tentang menikmati perannya dan menikmati kerja keras. Tentang bagaimana
menjalani hidup dengan sempurna tanpa ada kata penyesalan keluar dari mulutnya
Tentang
bapak, tentang sawah dan tentang kecintaan akan bau tanah yang selalu menemani
setiap hari. Memperhatikan wajah bapak di setiap momen waktu seperti
menyaksikan hidup yang sebenarnya. Menikmati sebuah peran hidup sebagai petani
dan mensyukurinya. Mungkin saja bapak sudah mengerti tentang hidup yang semua
memiliki peran dan tidak boleh ada satupun yang mengeluh akan peran hidup yang
telah dibebankan kepadanya. Bapak mengerti bahwa Tuhan telah memberinya peran
sebagai petani dan bapak menikmati itu dengan ridha. Beliau sadar bahwa
menikmati hidup dengan ridha akan mendatangkan keridhaan Tuhan dalam setiap
bentuk apapun.
Bapak
mengerti bahwa ada orang yang tidak perlu bekerja keras untuk kemudian makan
setiap harinya dan bapak pun mengerti bahwa ada orang yang harus banting tulang
untuk makan dan bapak mengerti beliau adalah salah satunya.
Aku masih
sangat ingat tentang sebuah kalimat yang diucapkan bapak kepadaku selagi aku
masih bocah, “Tuhan lebih melihat hati daripada tindakan nak.”. begitulah yang
dikatakan bapak kepadaku suatu waktu di masa silam yang saat itu sama sekali
tidak kumengerti namun baru kusadari seiring dengan perjalanan waktu sampai
saat ini.
Bapak
mencintai bau tanah maka beliau sangat menikmati peran hidupnya sebagai petani.
Jojoran 3/61
28’3’14

No comments:
Post a Comment